November 28, 2012

Roald Dahl Dan Tongkat Dari Masa Lalu

Boy: Tales of Childhood by Roald Dahl
My rating: 5 of 5 stars

All grown-ups were children first... But few of them remember it...


Ini adalah kali kedua saya menggunakan kutipan di atas. Kutipan dari buku favorit saya, Le Petit Prince, atau The Little Prince. Ya, semua orang dewasa memang anak-anak dulunya. Namun hanya sebagian saja yang mengingatnya. Mungkin karena bagi orang-orang dewasa ini, "dulu" itu ada yang berarti hanya beberapa tahun saja, tapi ada juga yang berjarak hingga jutaan tahun cahaya. Sangat jauh, sangat absurd, dan sangat pantas untuk dilupakan.


Kalau menurut Dunia Sophie, anak-anak adalah seorang filsuf yang alami yang diciptakan oleh alam. Mereka tumbuh dengan rasa penasaran, dan selalu mempertanyakan segala sesuatunya. Berbagai hal baru yang mereka temui, sebiasa apapun itu, adalah hal yang menarik buat mereka. Mereka memandang bumi dengan kaca pembesar, sehingga hal-hal yang biasa terlihat berbeda dan luar biasa.


Berbeda dengan orang dewasa. Kewajiban, pekerjaan tuntutan sosial, norma, dan segala macam hal formal lainnya membuat mereka menjadi sosok yang membosankan. Memandang dunia hanya dengan satu kaca mata, yaitu rutinitas. Terkadang bahkan mereka nggak tau apa yang sedang mereka lakukan. Duduk diam termenung di pinggir pantai sambil menekuri nasib.


Seperti yang dulu pernah saya lihat di sebuah pantai di Yokohama. Sekumpulan sarariman (Englishnya sih salary man atau pegawai lah gampangnya) berjas hitam, berkemeja putih, berdasi hitam, sedang duduk sendirian di pinggiran pantai Yokohama ketika waktu makan siang tiba. Mata mereka menatap ke arah lautan, sambil sesekali menyantap bekal atau membaca surat kabar. Sunyi. Tanpa percakapan. Semua saling terbalut dalam kesendirian mereka. Dalam rutinitas. Dalam kebosanan. Saya saja yang melihatnya sampai bosan sendiri. Hohohooo..


Jadi buat saya, orang dewasa yang masih mengingat dengan jelas kekanak-kanakannya adalah orang dewasa yang luar biasa. Karena mereka mampu mengingat setiap detail perasaan itu, membawanya hingga dewasa, dan menceritakannya kembali. Orang-orang dewasa yang seperti itu biasanya adalah orang-orang yang menyenangkan, pandai, dan juga imajinatif. Ya, seperti Opa Roald Dahl ini... :)


Di buku "Boy Tales of Childhood" ini, Opa Dahl menceritakan kisahnya ketika masih menjadi bocah ingusan. Kisah di buku memoar ini terbagi menjadi 5 bab utama, yang pertama Papa and Mama, lalu Kindergarten, Llandaff Cathedral School (age 7-9), St Peter's (age 9-13), Repton and Shell (age 13-20).


Di bab pertama, Opa Dahl bercerita tentang ayahnya yang "kabur" dari Norwegia untuk mencari peruntungan di Eropa Barat, hingga akhirnya tiba di Inggris dan berhasil di sana. Lalu tentang keluarga besar mereka, karena si ayah sebelum menikah dengan Mama-nya opa pernah punya istri (yang kemudian meninggal) dan mereka sudah punya dua anak. Lalu dari Mama, lahirlah empat orang anak lagi.


Sedihnya, si Papa meninggal dunia ketika Opa Dahl masih 3 tahun, jadi Mama harus merawat keluarga buesarr mereka seorang diri. Hebatnya, Mama nggak pulang ke Norwegia, padahal di sana ada keluarganya yang akan bantu dia urus semua anaknya. Ia bersikeras untuk tinggal di Inggris, karena mendiang suaminya berpesan bahwa anak-anaknya harus bersekolah di sekolah Inggris, karena pendidikannya yang terbaik di Eropa. Dan Papa pasti menangis di alam kubur sana kalau tahu anak lelakinya diperlakukan seperti itu... :'(



November 25, 2012

Wonder: Make a Better Place For You And For Me

Wonder by R.J. Palacio
My rating: 4 of 5 stars

Saya selalu menganggap bahwa anak-anak yang memiliki perbedaan seperti Augie adalah anak-anak istimewa, yang dikirimkan langsung dari surga untuk menghiasi dunia. Memang, banyak di antara mereka yang mungkin tidak sedap dipandang secara fisik. Namun, jika kita melihat langsung ke mata mereka, maka yang terpancar di sana adalah kesejukan dan kejujuran yang tak kan kau dapati dimanapun.

Sejak dulu, saya memang memiliki ketertarikan pada anak-anak berkebutuhan khusus. Mungkin, karena sejak kecil saya sudah cukup "akrab" dengan dunia mereka. Wajar saja, soalnya ibu saya bekerja sebagai guru di salah satu sekolah luar biasa. Sekolah ibu saya menampung siswa tuna rungu dan tuna grahita. Jadi, saya sering bertemu dengan murid-murid ibu yang tidak bisa berbicara, dan mereka yang sering dianggap sebagai orang "idiot" di masyarakat.

Bahasa isyarat pun bukan hal yang aneh dan ajaib bagi saya, karena saya sudah sering melihat ibu saya "berbicara" dengan bahasa itu dengan murid-muridnya. Saya pun jadi sedikit bisa berbahasa isyarat (meskipun hanya alfabetnya dan sedikit sekali kata-katanya xp).

Begitupun dengan anak-anak berwajah "Mongolia" yang sering menjadi ciri bagi anak-anak tuna grahita. Meskipun memang tidak semuanya berwajah seperti itu. Bagi saya, mereka memiliki mata yang sangat jernih dan senyum yang sangat indah (terutama anak-anaknya). Dan meskipun beranjak dewasa, mereka akan selamanya berada di dunia anak-anak yang penuh kepolosan dan kejujuran. IMHO.

Saya pun berpikir, orang tua yang memiliki anak-anak seperti ini adalah orang-orang pilihan. Memiliki anak seperti itu bukanlah sebuah dosa ataupun hukuman, seperti yang mungkin dipikirkan oleh banyak orang. Karena memiliki anak seperti itu membutuhkan kesabaran khusus, dan harus mencurahkan lebih banyak perhatian dari anak normal. Jika tetap sabar dan tawakkal dalam menghadapinya, maka sudah pasti surga-lah balasannya. Namun tak sedikit orang tua yang merasa malu, bahkan tak menganggap anaknya itu.

Para Penyihir Caprona

The Magicians of Caprona by Diana Wynne Jones
My rating: 5 of 5 stars

Suasana di Caprona sedang mencekam dan terancam perang. Padahal sebelumnya, kota yang dilindungi oleh Malaikat Caprona, yang dibantu oleh dua klan penyihir terbesar di Caprona ini, Casa Montana dan Casa Petrocchi, berada dalam kedamaian.

Tampaknya ada sebuah kekuatan dari luar yang berusaha untuk menguasai Caprona. Bukan kekuatan biasa. Karena ini di dunia Chrestomanci, pasti ada campur tangan penyihir di dalamnya. Soalnya, mantra yang dibuat oleh Casa Montana dan Casa Petrocchi mulai meluntur. Jadi, pasti ada enchanter yang sangat kuat yang berusaha untuk mengobrak-abrik Caprona.

Sebelumnya, mari kita berkenalan dengan Casa Montana dan Casa Petrocchi. Dua keluarga ini telah ada sejak 700 tahun yang lalu, dan membantu Duke pertama Caprona untuk membangun kota ini. Dari dua keluarga inilah lahir sihir-sihir terbaik di dunia. Dan kau akan sangat beruntung jika mendapatkan mantra dari kedua rumah ini.

Sayangnya, dua keluarga ini bermusuhan. Penyebabnya terjadi sekitar dua abad yang lalu, ketika Ricardo Petrocchi mengirimkan surat makian pada Francesco Montana, karena ia merasa bahwa Duke Caprona memesan sihir lebih banyak dari Casa Montana.

Francesco marah besar menerima surat dari Ricardo. Anehnya, ia justru mengundang seluruh keluarga Petrocchi untuk berpesta di rumahnya. Tapi jangan salah! Francesco bukanlah seorang pemaaf. Dia justru ingin memberi pembalasan pada keluarga Petrocchi.

November 28, 2012

Roald Dahl Dan Tongkat Dari Masa Lalu

Boy: Tales of Childhood by Roald Dahl
My rating: 5 of 5 stars

All grown-ups were children first... But few of them remember it...


Ini adalah kali kedua saya menggunakan kutipan di atas. Kutipan dari buku favorit saya, Le Petit Prince, atau The Little Prince. Ya, semua orang dewasa memang anak-anak dulunya. Namun hanya sebagian saja yang mengingatnya. Mungkin karena bagi orang-orang dewasa ini, "dulu" itu ada yang berarti hanya beberapa tahun saja, tapi ada juga yang berjarak hingga jutaan tahun cahaya. Sangat jauh, sangat absurd, dan sangat pantas untuk dilupakan.


Kalau menurut Dunia Sophie, anak-anak adalah seorang filsuf yang alami yang diciptakan oleh alam. Mereka tumbuh dengan rasa penasaran, dan selalu mempertanyakan segala sesuatunya. Berbagai hal baru yang mereka temui, sebiasa apapun itu, adalah hal yang menarik buat mereka. Mereka memandang bumi dengan kaca pembesar, sehingga hal-hal yang biasa terlihat berbeda dan luar biasa.


Berbeda dengan orang dewasa. Kewajiban, pekerjaan tuntutan sosial, norma, dan segala macam hal formal lainnya membuat mereka menjadi sosok yang membosankan. Memandang dunia hanya dengan satu kaca mata, yaitu rutinitas. Terkadang bahkan mereka nggak tau apa yang sedang mereka lakukan. Duduk diam termenung di pinggir pantai sambil menekuri nasib.


Seperti yang dulu pernah saya lihat di sebuah pantai di Yokohama. Sekumpulan sarariman (Englishnya sih salary man atau pegawai lah gampangnya) berjas hitam, berkemeja putih, berdasi hitam, sedang duduk sendirian di pinggiran pantai Yokohama ketika waktu makan siang tiba. Mata mereka menatap ke arah lautan, sambil sesekali menyantap bekal atau membaca surat kabar. Sunyi. Tanpa percakapan. Semua saling terbalut dalam kesendirian mereka. Dalam rutinitas. Dalam kebosanan. Saya saja yang melihatnya sampai bosan sendiri. Hohohooo..


Jadi buat saya, orang dewasa yang masih mengingat dengan jelas kekanak-kanakannya adalah orang dewasa yang luar biasa. Karena mereka mampu mengingat setiap detail perasaan itu, membawanya hingga dewasa, dan menceritakannya kembali. Orang-orang dewasa yang seperti itu biasanya adalah orang-orang yang menyenangkan, pandai, dan juga imajinatif. Ya, seperti Opa Roald Dahl ini... :)


Di buku "Boy Tales of Childhood" ini, Opa Dahl menceritakan kisahnya ketika masih menjadi bocah ingusan. Kisah di buku memoar ini terbagi menjadi 5 bab utama, yang pertama Papa and Mama, lalu Kindergarten, Llandaff Cathedral School (age 7-9), St Peter's (age 9-13), Repton and Shell (age 13-20).


Di bab pertama, Opa Dahl bercerita tentang ayahnya yang "kabur" dari Norwegia untuk mencari peruntungan di Eropa Barat, hingga akhirnya tiba di Inggris dan berhasil di sana. Lalu tentang keluarga besar mereka, karena si ayah sebelum menikah dengan Mama-nya opa pernah punya istri (yang kemudian meninggal) dan mereka sudah punya dua anak. Lalu dari Mama, lahirlah empat orang anak lagi.


Sedihnya, si Papa meninggal dunia ketika Opa Dahl masih 3 tahun, jadi Mama harus merawat keluarga buesarr mereka seorang diri. Hebatnya, Mama nggak pulang ke Norwegia, padahal di sana ada keluarganya yang akan bantu dia urus semua anaknya. Ia bersikeras untuk tinggal di Inggris, karena mendiang suaminya berpesan bahwa anak-anaknya harus bersekolah di sekolah Inggris, karena pendidikannya yang terbaik di Eropa. Dan Papa pasti menangis di alam kubur sana kalau tahu anak lelakinya diperlakukan seperti itu... :'(



November 25, 2012

Wonder: Make a Better Place For You And For Me

Wonder by R.J. Palacio
My rating: 4 of 5 stars

Saya selalu menganggap bahwa anak-anak yang memiliki perbedaan seperti Augie adalah anak-anak istimewa, yang dikirimkan langsung dari surga untuk menghiasi dunia. Memang, banyak di antara mereka yang mungkin tidak sedap dipandang secara fisik. Namun, jika kita melihat langsung ke mata mereka, maka yang terpancar di sana adalah kesejukan dan kejujuran yang tak kan kau dapati dimanapun.

Sejak dulu, saya memang memiliki ketertarikan pada anak-anak berkebutuhan khusus. Mungkin, karena sejak kecil saya sudah cukup "akrab" dengan dunia mereka. Wajar saja, soalnya ibu saya bekerja sebagai guru di salah satu sekolah luar biasa. Sekolah ibu saya menampung siswa tuna rungu dan tuna grahita. Jadi, saya sering bertemu dengan murid-murid ibu yang tidak bisa berbicara, dan mereka yang sering dianggap sebagai orang "idiot" di masyarakat.

Bahasa isyarat pun bukan hal yang aneh dan ajaib bagi saya, karena saya sudah sering melihat ibu saya "berbicara" dengan bahasa itu dengan murid-muridnya. Saya pun jadi sedikit bisa berbahasa isyarat (meskipun hanya alfabetnya dan sedikit sekali kata-katanya xp).

Begitupun dengan anak-anak berwajah "Mongolia" yang sering menjadi ciri bagi anak-anak tuna grahita. Meskipun memang tidak semuanya berwajah seperti itu. Bagi saya, mereka memiliki mata yang sangat jernih dan senyum yang sangat indah (terutama anak-anaknya). Dan meskipun beranjak dewasa, mereka akan selamanya berada di dunia anak-anak yang penuh kepolosan dan kejujuran. IMHO.

Saya pun berpikir, orang tua yang memiliki anak-anak seperti ini adalah orang-orang pilihan. Memiliki anak seperti itu bukanlah sebuah dosa ataupun hukuman, seperti yang mungkin dipikirkan oleh banyak orang. Karena memiliki anak seperti itu membutuhkan kesabaran khusus, dan harus mencurahkan lebih banyak perhatian dari anak normal. Jika tetap sabar dan tawakkal dalam menghadapinya, maka sudah pasti surga-lah balasannya. Namun tak sedikit orang tua yang merasa malu, bahkan tak menganggap anaknya itu.

Para Penyihir Caprona

The Magicians of Caprona by Diana Wynne Jones
My rating: 5 of 5 stars

Suasana di Caprona sedang mencekam dan terancam perang. Padahal sebelumnya, kota yang dilindungi oleh Malaikat Caprona, yang dibantu oleh dua klan penyihir terbesar di Caprona ini, Casa Montana dan Casa Petrocchi, berada dalam kedamaian.

Tampaknya ada sebuah kekuatan dari luar yang berusaha untuk menguasai Caprona. Bukan kekuatan biasa. Karena ini di dunia Chrestomanci, pasti ada campur tangan penyihir di dalamnya. Soalnya, mantra yang dibuat oleh Casa Montana dan Casa Petrocchi mulai meluntur. Jadi, pasti ada enchanter yang sangat kuat yang berusaha untuk mengobrak-abrik Caprona.

Sebelumnya, mari kita berkenalan dengan Casa Montana dan Casa Petrocchi. Dua keluarga ini telah ada sejak 700 tahun yang lalu, dan membantu Duke pertama Caprona untuk membangun kota ini. Dari dua keluarga inilah lahir sihir-sihir terbaik di dunia. Dan kau akan sangat beruntung jika mendapatkan mantra dari kedua rumah ini.

Sayangnya, dua keluarga ini bermusuhan. Penyebabnya terjadi sekitar dua abad yang lalu, ketika Ricardo Petrocchi mengirimkan surat makian pada Francesco Montana, karena ia merasa bahwa Duke Caprona memesan sihir lebih banyak dari Casa Montana.

Francesco marah besar menerima surat dari Ricardo. Anehnya, ia justru mengundang seluruh keluarga Petrocchi untuk berpesta di rumahnya. Tapi jangan salah! Francesco bukanlah seorang pemaaf. Dia justru ingin memberi pembalasan pada keluarga Petrocchi.