February 28, 2013

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels


Jalan Raya Pos, Jalan Daendels by Pramoedya Ananta Toer
My rating: 4 of 5 stars

Penulis adalah orang yang peka terhadap perubahan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya

Beberapa tahun yang lalu, di suatu kelas sastra, saya mendengarkan dosen saya mengatakan kata-kata itu. Ketika itu, bahasan kami tentang sosiologi sastra. Memang tepat jika dikatakan demikian, karena melalui jejak torehan tinta para penulis, kita banyak mengetahui hal-hal yang terjadi di masa lalu. Meskipun memang, sebuah karya sastra tidak bisa dijadikan patokan seutuhnya dalam menggambarkan suatu masyarakat pada waktu karya itu dibuat. Butuh fakta-fakta utama lainnya, sehingga karya itu nantinya akan dapat digunakan sebagai sebuah data pendukung.

Itu jugalah yang saya rasakan setelah membaca karya Pram yang satu ini, "Jalan Raya Pos, Jalan Daendels". Padahal, saya tahu kalo ini adalah non fiksi (meskipun awalnya dikirain fiksi -,-) dan ada data-data konkret yang digunakan ketika menulis buku ini (ngelongok dapus), tapi tetap saja mau tak mau saya memikirkan hal di atas. Agak nggak nyambung memang, pikiran saya ini...

Melaui bukunya ini, Pram menceritakan bagaimana proses pembuatan jalan raya dari Anyer ke Panarukan dengan panjang mencapai 1000 km, hanya dalam setahun saja. Semuanya tentu saja berkat yang mulia Mr. Herman Willem Daendels, Sang Tuan Besar Guntur, wong londo bertangan besi yang kejam setengah mati, yang memerintahkan pembangunan jalan itu untuk menghindari serangan Inggris dan India yang ingin mengambil alih wilayah Belanda, di tahun 1808.

Lalu, ingatan saya pun melayang ke kelas-kelas sejarah ketika saya masih imut-imut dulu. Tentu kita semua, anak-anak yang bersekolah di Indonesia, sudah hapal betul jika ditanya siapa pembuat jalan terpanjang dari Anyer ke Panarukan. Atau jika terdengar nama Daendels, yang terbayang tentunya adalah jalan itu. Tapi, berapa banyak dari kita yang tahu seberapa panjangnya jalan itu, berapa banyak tenaga kerja yang digunakan, dan berapa banyak korban yang harus jatuh akibat pembuatan jalan itu? Saya pikir tidak banyak yang tahu. Setidaknya, ketika saya masih imut-imut dulu, saya benar-benar nggak ada gambaran kalo Anyer-Panarukan itu ternyata nggak jauh tapi jjjaaauuuuhhh buannggeeettttt. Yah, mungkin kesalahan memang bukan pada guru dan buku sejarah, tapi pada saya aja yang mungkin, ini mungkin lho, nggak nyimak pelajaran di kelas. Tapi, dengan bangga saya mengatakan kalau sejak dulu saya sudah menyimpan ketertarikan pada sejarah, hingga ketika masih imut-imut dulu (jangan eneg ya.. xp) saya sering tuh baca buku pelajaran sejarah kayak lagi baca buku cerita aja. Soalnya, emang bener buku cerita juga, sih....

"Jasmerah! Jangan sekali-sekali melupakan sejarah!"

Itulah yang dikatakan Bung Karno dulu. Kata-kata yang sederhana, tapi sulit dipraktikkan. Kenyataannya, bangsa kita saat ini bukan hanya melupakan sejarah, tapi juga mengaburkan sejarah. Dan membaca buku Pram ini semakin meyakinkan saya kalau banyak sekali fakta yang ditutup-tutupi dari negeri ini.... Saya seolah melihat sisi baru dari bangsa ini, yang nggak saya kenali sebelumnya...

Sejarah itu milik penguasa!

Seru teman saya, mahasiswa program studi sejarah di kampus sore itu. Saat itu saya yang masih imut-imut (ya, dibandingin sama temen-temen saya di prodi sejarah yang pikirannya udah pada ribet... xp) sebenarnya agak nggak terima. Bagaimana mungkin sejarah yang saya ketahui selama ini, banyak yang di antaranya hanya merupakan rekaan dari rezim yang bersangkutan saja? Lalu, dimana kebenaran hakiki itu berada?

Jawaban itu seolah dipaparkan satu per satu oleh Pram di hadapan saya melalui buku kecilnya ini. Saya yang dulu terlalu naif, kini sadar sepenuhnya, kalau sejarah memang milik orang yang berkuasa. Mereka akan memilih sendiri mana yang boleh diceritakan dan mana yang harus disimpan rapat-rapat, bahkan kalau perlu dimusnahkan. Nggak hanya di negara ini, tapi juga di berbagai tempat di belahan dunia. Selama membaca buku ini, tak bisa dihindarkan, kalau saya memiliki banyak pertanyaan serta perasaan yang berkecamuk di dalam diri saya....

Mengapa baru kali ini saya tahu bahwa pernah ada genosida di Indonesia? Mengapa warga dunia tampak begitu peduli dengan genosida di Jerman oleh Hitler itu, genosida di Vietnam, di Afrika, tapi kenapa genosida di nusantara tak pernah terekspos sebelumnya? Berapa banyak warga pribumi yang tewas karena tingkah polah para penjajah? Ratusan ribu, jutaan, puluhan juta? Jika Daendels meminta dikirimkan 1.000 pekerja setiap harinya kepada penguasa pribumi dan hanya sedikit dari mereka yang selamat, berapa jumlah pekerja pribumi yang dibutuhkan selama setahun? Berapa orang dari mereka yang selamat, jika pemandangan tubuh manusia bergeletakan tanpa nyawa di suatu desa, tanpa ada yang sanggup menyolatkan dan menguburkan (mengingat itu fardhu kifayah bagi Muslim), menjadi pemandangan yang biasa?

Berapakah jumlah rakyat kecil Pribumi yang tewas, baik di Bandaneira, proyek Jalan Raya Pos, dan Cultuurstelsel? Yang di Bandaneira tak pernah disebutkan angka. Yang di Jalan Raya Pos, menurut sumber Inggris hanya berapa tahun setelah kejadian; 12.000. Yang di Grobogan 3.000 sementara ada yang menyebut 5.000. Tak pernah ada komisi resmi yang menyelidiki. Nyawa rakyat kecil Pribumi nampaknya hanya baik jadi sumber kebesaran barat. (Hal. 22)


Semuanya pakai ilmu kirologi. Kira-kira saja. Yang meninggal selama pembuatan Jalan Raya Pos kira-kira 12.000. Yang meninggal di Maluku, kira-kira 40.000. Yang meninggal di Kalimantan akibat dibantai Jepang, nggak ada datanya, dan nggak ada yang berusaha untuk mencari datanya. Ya memang, rakyat kecil itu nggak ada artinya. Kalau mereka mati, masih ada banyak yang bisa menggantikan. Toh salah satu anugerah bumi nusantara ini, selain tanahnya yang subur, rakyatnya juga melimpah ruah. Jadi, untuk apa merepotkan diri dengan kejadian yang sudah lama terjadi. Toh, sekarang masih banyak hal yang perlu dipikirkan, bukan?

Kenapa orang yang mengaku dirinya sebagai penganut "Kebebasan, Persamaan, dan Persaudaraan" itu justru menjadi orang yang paling bertindak kejam kepada manusia? Apa hanya karena warna kulit kami yang berbeda? Bahasa kami yang berbeda? Budaya kami yang berbeda? Inikah potret kebebasan dan kemerdekaan yang begitu diagung-agungkan oleh Barat itu?

Sejujurnya saya memang menganggap bahwa hasil pemikiran Barat, yang dikagumi banyak orang itu, semuanya omong kosong belaka. Mereka menawarkan kebebasan, tapi siapa coba yang dulu berlayar dengan kapal dan persenjataan lengkap (padahal ngakunya pedagang) dan mengusir kaum pribumi? Mereka mengagung-agungkan kesetaraan, padahal di Afrika Selatan sekarang inipun, masih kental sekali politik apartheidnya. Ya, nggak usah jauh-jauh juga sih. Ke Papua aja sana, buat tau gimana bedanya antara orang asing dan pribumi? Toh, semua yang mereka ungkapkan semuanya memiliki standar ganda.

“You don't have to burn books to destroy a culture. Just get people to stop reading them.”


Mungkin kata-kata Ray Bradbury di atas cocok untuk mengungkapkan apa yang terjadi di negeri ini saat ini. Belum 100 tahun negara ini merdeka, tapi tampaknya kita telah melupakan semua semangat kepahlawanan yang diwariskan oleh kakek, nenek, dan buyut kita dulu. Kita, saya, terlalu terlena dengan berbagai kemudahan yang ada sekarang, hingga mempelajari sejarah negeri ini telah menjadi prioritas yang kesekian di negeri yang dipenuhi kelabilan dan kegalaluan ini...

Selepas membaca buku ini, mau tak mau saya teringat beberapa orang teman yang sepertinya begitu benci dengan negara ini, hingga kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu berupa kata-kata sinis yang menyudutkan negerinya sendiri. Sadarkah mereka kalau tanah yang ditinggali sekarang ini dibayar dari darah orang-orang terdahulu? Sadarkah mereka menghirup udara kebebasan dari negeri yang mereka hina ini? Sadarkah mereka kalau negara barat dengan segala keagungan pemikiran yang mereka kagumi itu dulunya adalah bangsa penindas yang hidup dari darah dan keringat saudara setanah airnya sendiri?? Pernahkah mereka melakukan upaya untuk mengenal negeri ini dengan lebih dekat lagi? Mencari apa yang tersembunyi di dalam tanah dan airnya, mengulik apa yang dulu pernah menjadi kejayaan dan keruntuhan negeri ini?

Indonesia adalah negara tempat saya lahir. Tempat saya hidup, tumbuh, belajar, dan mungkin akan menjadi tempat persemayaman terakhir saya. Indonesia adalah ibu pertiwi, tempat saya pulang. Tempat anak-anak bangsa di bawah NKRI merasakan dan mengambil segala sumber dayanya. Tapi, ternyata masih begitu sedikit hal yang kita ketahui dari negara ini....

Sejujurnya, setelah membaca karya Pram, saya merasa sedang dilucuti. Saya merasa benar-benar bodoh karena nggak tahu apa-apa tentang negara yang sudah saya tinggali sepanjang hidup saya ini. Dan Pram, melalui bukunya ini, seolah bertindak seperti seorang kakek bijaksana yang mengajarkan saya apa yang terjadi di negara ini di zaman penjajahan dulu. Saya diajak berkelana dari Anyer hingga Panarukan. Saya seolah merasakan perang yang dulu berkobar demi mengusir penjajah. Turut merasakan kekesalan ketika ada penguasa pribumi yang memihak mereka demi perutnya sendiri. Merasa marah ketika Daendels dengan kejamnya menyuruh pekerja pribumi untuk membelah gunung hanya dengan peralatan minim, hingga nyawa mereka berterbangan satu per satu tanpa ada harganya (dan memang nggak berharga dari dirinya). Dan merasa bangga ketika pribumi melakukan pemberontakan yang membuat penjajah kalang kabut. Bener, deh. Kalau saya pegang stabilo selama baca buku ini, pasti hanya tersisa sedikit kertas putih di bukunya, karena saya sangat ingin menyerap dan mengingat semua informasi yang ada di sana....

Lalu yang masih menjadi misteri bagi saya adalah, bagaimana bisa Daendels menjadi Gubernur Jenderal pada masa itu?

Ah, ternyata pengetahuan saya memang masih begitu ceteknya....

View all my reviews

February 20, 2013

The Fault in Our Stars


The Fault In Our Stars - Salahkan Bintang-Bintang by John Green
My rating: 4 of 5 stars

Perkenalkan, nama mereka adalah Hazel Grace Lancaster dan Augustus Waters. Usia mereka masih sangat muda, baru menginjak 17 tahun. Tapi mereka telah merasakan banyak hal, terutama rasa sakit, lebih banyak daripada yang pernah kita bayangkan.

Ya, ini adalah kisah cinta. Kisah cinta yang setiap orang berharap akan bisa berakhir dan dikenang selamanya. Tapi, tentu saja itu tidak mungkin. Tak ada satupun hal yang abadi di dunia ini. Begitupun dengan mereka berdua, apalagi kisah cinta mereka. Waktu hanyalah sekumpulan bilangan, yang terangkai dalam detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dan seterusnya. Bagi mereka berdua, waktu adalah hal yang sangat penting, tidak seperti kau dan aku, yang dengan mudahnya menyia-nyiakan waktu. Mereka sadar bahwa waktu mereka terbatas, meskipun sebenarnya tidak ada jaminan juga bagi kita, untuk memiliki waktu lebih banyak bagi mereka.

Ah, aku lupa. Aku belum bercerita bahwa Hazel terkena kanker. Kanker tiroid yang telah menyebar ke paru-parunya. Ia tidak bisa menarik napas dengan lega setelah bangun tidur di pagi hari yang sejuk, sepertiku. Ia tidak bisa lagi merasakan bagaimana udara segar masuk dari hidungmu dan memenuhi paru-parumu. Paru-paru Hazel terlalu payah untuk melakukan itu semua. Kanker telah membuat hidupnya berubah. Ia juga harus menerima kenyataan, bahwa ia tidak bisa disembuhkan. Hidupnya bisa diperpanjang, tapi penyakitnya tak bisa disembuhkan. Ia bagai sesosok granat berjalan, yang kita tak akan pernah tahu kapan akan meledaknya.

Meskipun demikian, Hazel itu sosok yang cerdas dan yang jelas tidak menyebalkan. Beda dengan sebagian besar tokoh utama wanita yang kukenal. Meski dia bukan menjadi tokoh wanita favoritku (saat ini masih dipegang oleh Lisbeth Salander dan Hermione Granger), tapi aku menghargainya karena dia (dan utamanya John Green) tidak menjual rasa sakit itu untuk memperoleh simpati. Hazel, dengan kata-katanya yang cerdas tapi cukup sinis dan sarkastis, cukup membuatku menyukainya.

Selanjutnya, mari kuperkenalkan kalian pada Augustus, atau Gus. Dia tampan. Jago main basket. Fisiknya sempurna. Atau setidaknya dulu begitu. Sebelum osteosarkoma mengambil sebelah kakinya. Tapi tampaknya ia tidak terlalu keberatan dengan itu, atau setidaknya aku merasakan begitu. Gus menikmati hidupnya, meski ia pernah kehilangan orang yang dicintainya karena penyakit itu.

Gus adalah sosok yang menyenangkan. Sosok lelaki populer yang mampu memeriahkan suasana dengan guyonannya, atau cukup dengan ia berada di sana. Gus sama cerdasnya dengan Hazel, dan aku suka sekali dengan percakapan-percakapan mereka yang benar-benar tak tampak seperti remaja usia 17 tahun. Terlebih lagi, aku suka dengan cara Gus memanggil Hazel dengan Hazel Grace. Panggilan itu membuat Hazel terlihat lebih istimewa. Belum lagi olok-olokannya terhadap rokok yang benar-benar cerdas. Gus mampu menguras airmataku dengan segala hal tentang dirinya itu.... Tak heran banyak yang mencintainya, karena Gus memang benar-benar pantas dicintai... :') #nangismewek

Sebelum mengakhiri kisah mereka, rasanya tidak adil kalau aku tidak menceritakan tentang sebuah buku yang sangat penting bagi cerita ini. Buku itu menjadi obsesi Hazel, dan kemudian Gus. Buku itu berjudul "Kemalangan Luar Biasa", ditulis oleh seorang lelaki bernama Peter Van Houten. Kenapa Hazel terobsesi dengan buku itu? Karena Anna, tokoh utama buku itu, sama seperti Hazel. Ia menderita kanker.

Sayangnya, Peter seolah sengaja membiarkan kisah di buku itu menggantung begitu saja. Hazel tidak terima dan begitu penasaran dengan akhir ceritanya. Ia memang telah menyiapkan diri bahwa Anna mungkin memang telah meninggal atau terlalu sakit hingga tak bisa melanjutkan kisahnya. Tapi, ia ingin tahu kelanjutan hidup tokoh-tokoh lainnya. Ia ingin tahu apa yang terjadi pada ibu Anna, pada pria Belanda yang jadi kekasih ibu Anna, pada hamster piaraan Anna, dan pada orang-orang di sekitar Anna...

Kurasa Hazel menjadi terobsesi karena ia hanya ingin memastikan, bahwa satu kematian tidak akan menambah buruk dunia ini. Ia ingin memastikan, bahwa kehidupan orang-orang tercintanya akan tetap berjalan seperti semestinya, meskipun ia telah tiada nanti. Ia hanya tidak ingin, kematian membuat kehidupan orang lain rusak....

Hhhhuuuuuuuufffttt......

Sungguh, sulit bagiku untuk menceritakan kembali kisah ini. Sudah terlalu banyak orang yang melakukannya, dan aku tak bisa melakukannya sebaik mereka. Lagipula, entah kenapa ada sesuatu yang masih mengganjal di dadaku, yang membuatku butuh waktu cukup lama untuk bisa menulis review ini... Kurasa itu salah satu tanda bahwa John Green telah dengan pandai mampu membolak-balikkan emosiku....

Terlepas dari cover yang memang tidak sesuai dengan isi cerita, pilihan judul yang agak aneh, dan terjemahan yang mungkin terasa datar dan tidak menggebu-gebu (entah karena proses penerjemahannya, atau memang gaya bertutur John Green yang memang seperti itu...), kisah ini mampu memberikan pandangan baru bagiku tentang arti menjadi orang sakit dan juga, tentang kehidupan itu sendiri....

================

Review ini diikutkan dalam:

Juga dalam FYE children literature di blog Bacaan Bzee yang sekarang sedang berada di Fun Months 1. Kupikir buku ini baru boleh dibaca oleh mereka yang di atas 16 tahun. Dialognya sangat dewasa (bukan dalam hal kata-katanya, tapi kedalaman dialognya), begitupun dengan ceritanya. Oh iya, TFiOS ini juga sudah meraih banyak penghargaan di antaranya Goodreads Choice Award 2012 lalu untuk kategori "Best Young Adult Fiction".



View all my reviews

February 13, 2013

Hotter Potter Meme: Februari

Februari tiba... Dan inilah Meme Hotter Potter pertama saya di event ini...


Gambar dari sini

Yup. I'm a Dramione shipper (akhirnya ngaku juga). Sejujurnya nih ya, saya memang agak-agak nggak suka dengan pemasangan karakter di Harry Potter (tolong jangan serang saya... #ngumpetdibalikhagrid). Soalnya, kayaknya biasa-biasa aja gitu. Semua tokoh baik berpasangan dengan mereka yang baik. I want something different. Dan tampaknya dua karakter yang benar-benar bertolak belakang ini bakalan oke banget kalau disatukan. Bukannya saya nggak suka Ron, lho... I do love Ron, very much. Tapi ya itu, saya ngerasa kalau hidup nggak selalu isinya orang jahat dan orang baik. Orang jahat pun pasti punya sisi baik, dan juga sebaliknya.

Oke, saya mungkin lupa kalau Draco Malfoy is a real jerk. Dan saya pun sempat bertanya-tanya, kenapa saya sampe kepikiran buat ngejodohin Hermione sama Draco, setelah sadar betapa nyebelinnya si Draco di buku pertama. Bukannya saya nggak sadar kalo si Draco ini nyebelin banget sampe ke ubun-ubun, sampe saya pengen ngejampi-jampi dia atau ngejorogin dia dari atas menara Hogwarts.... But, i can't help it. Salahkan Tom Felton yang terlalu ganteng. Kenapa harus dia yang jadi Draco Malfoy, hah?? Kenapaaa??!! (#`Д´)ノ #nyalahinorang



Mereka cocok kaann... Iya, kaaann?? Iya kaaann??!! #maksa (Gambar dari sini)
Sebenarnya sekarang sih udah nggak seheboh dulu nge-fans sama Dramione-nya (eh, tapi berkat meme ini jadi rada-rada heboh lagi sih... xD). Tapi nggak separah ketika di akhir tahun 2011 lalu.... 

Ketika itu, saya baru resign dari tempat kerja saya. Di saat-saat sepi dan senggang itulah, Draco dan Hermione yang setia menemani saya... :"> Dengan rajinnya setiap hari saya 'main' ke situs-situs fanfic, terus ngebacain kisah-kisah mereka (iya, telat emang baru baca sekarang... terus kenapa? Masalah? #judes) 

Dan.... Rasanya lucu aja gitu baca kisah cinta mereka, yang benar-benar dari dua kutub yang berbeda itu. Draco yang egois, tajir melintir, narsis, manipulatif, tapi juga cerdas bersanding dengan Hermione yang jenius, baik hati, pandai, rajin membantu, dan punya nilai moral tinggi. Rasanya, percikan-percikan di antara mereka bakalan lebih terasa. Lagian nih, ya... Fanfic-nya Dramione jauh lebih banyak lho dibanding Romione. Coba deh maen-maen ke fanfiction.net dan disitu kalian akan menemukan kalau fanfic Dramione dua kali lebih banyak! Belom lagi ada beberapa site khusus yang memang sengaja mendedikasikan diri mereka untuk kedua pasangan itu... (#tsaahh bahasa gw.. xD)

(Nyomot dari sini)

Jadi, jangan salahkan saya kalau saya ingin mereka berdua bersatu yaa... Hehehe

Oke, setelah Dramione, pasangan kedua yang saya mau adalaaahhh....


 
Drarry!!! Hoahahahaaaa.....

Eh, tapi saya nggak mau mereka jadian atau punya hubungan romantis ya. I'm not a yaoi fans. Saya ingin mereka berteman aja. Ya, pastinya emang nggak mungkin sampe nempel banget kayak sama Ron... Tapi seenggaknya mereka bisa saling kenal lebih dekat, dan menjalin hubungan lebih dalam lagi... #eeaaa #ambigu

Saya maunya mereka tuh jadi kayak gini...

   

Lha, kenapa isi meme saya ada hubungannya sama Draco Malfoy semua ya?

Hhhmmm... Kenapa ya? Saya sendiri rada bingung nih. Soalnya, ketika baca bukunya saya sendiri pun ngerasa sebel banget sama si Malfoy sekeluarga ini. Cuma, ya... sulit memang menemukan karakter sekuat dan sekonsisten Draco Malfoy (dalam hal nyebelinnya). Lalu alasan lainnya, sesungguhnya saya menantikan sebuah akhir yang indah untuk Malfoy. Saya berharap hingga buku ketujuh, tante Rowling akan berbaik hati dan memberikan sedikit keberanian untuk Malfoy. I mean, nggak mungkin dong ada orang kayak Draco Malfoy yang isinya jeleknya doang.... Soalnya, kita kan selalu punya sisi gelap dan sisi terang dalam diri kita. Layaknya dua sisi mata uang, semuanya selalu saling bersisian.. Jadi, kenapa yang digambarin dari si Malfoy ini cuma jelek-jeleknya doaaanggggg??!!!  #hebohsendiri #misuhmisuh

Yah, karena saya cuma pembaca, jadi apa boleh buat. Saya hanya bisa manut tante Rowling. Makanya, saya cari pelarian yang lain dehh... Hoahahahaa...

If he did so, the whole story would be different, huh? xD


Makasih buat Melisa di Surgabukuku, yang udah ngadain event seru ini. Saya jadi sadar, kalo saya bukan penggemar Dramione sendirian... :') #terharu Soalnya, temen-temen saya yang diajakin ngobrol soal Dramione, pasti nggak ada yang setuju. Mereka nolak mentah-mentah dan mengatakan kalau Draco nggak cocok sama Hermione. Aih... Pilunya hatiku ini...
´╥ 



P.S Oh iya, fyi, saya juga pernah sebel banget sama James Potter, dan mikir kenapa Snape nggak sama Lily aja setelah nonton sebuah fanvid di yutub tentang Snape dan Lily. Sayangnya, sekarang itu fanvid udah nggak ada lagi... Padahal bagus dan dalem bangett... TT^TT


February 11, 2013

What’s in a Name Reading Challenge 2013: Januari

What’s in a Name Reading Challenge 2013
Tahun lalu, saya ikut juga challenge seperti ini yang sebelumnya di-host oleh Mbak Fanda. Kali ini, Ren di Ren’s Little Corner-lah yang punya challenge ini. Tantangannya adalah harus membaca buku-buku yang ada nama orangnya di judulnya. Saya ambil level 2: What’s in a Name yang berarti saya harus baca 10 buku yang ada nama orang di judulnya. Dan inilah apdetan saya:

Januari 
1.     Mark Sparks in the Dark (Jacqueline Wilson) 
2.  Harry Potter dan Batu Bertuah (J.K. Rowling) 
3.  Danny the Champion of the World (Roald Dahl)  
4. Lizzie Zipmouth (Jacqueline Wilson) 

Januari ini saya berhasil baca empat buku. Bulan Februari berapa buku, yaa...?

February 8, 2013

Rectoverso: Cinta adalah Tempat untuk Pulang


Rectoverso: 11 Cerita Pendek DEE by Dee
My rating: 3 of 5 stars

Akhirnya, bagai sungai yang mendamba samudra,
Kutahu pasti ke mana kan kubermuara
Semoga ada waktu
Sayangku, kupercaya alam pun berbahasa
Ada makna di balik semua pertanda
Firasat ini...
Rasa rindukah ataukah tanda bahaya?
Aku tak peduli
Kuterus berlari...


Sebelas cerpen. Sebelas lagu. Sebelas interpretasi. Sebelas hal yang menjadi satu, dalam sebuah buku kumpulan cerpen, lagu, dan foto. Dari sebelas itu, hanya beberapa saja yang saya benar-benar mengerti. Salah satunya cerpen "Firasat" yang entah kenapa meninggalan jejak lebih dalam buat saya.

Orang-orang bilang, disini Dee bercerita tentang cinta. Dan memang itu kenyataannya. Dan seperti cinta, karya Dee inipun tak mudah untuk saya mengerti. Ah, memang siapa yang bisa mengerti cinta? Bukankah seorang tokoh legendaris pernah berkata, "Sejak dahulu, begitulah cinta... Deritanya tiada akhir..." (yang tau quote ini darimana, berarti satu angkatan sama saya xD)

Entah kenapa setelah membaca buku Dee ini, saya jadi ingin menuliskan review dengan kata-kata yang indah dan puitis. Padahal, saya ini bukan penikmat puisi. Bagi saya, sebagian besar puisi hanya bisa dipahami oleh sang penulis dan Tuhan saja. Begitupun dengan kata-kata indah yang telah dirangkai Dee di dalam cerpen ini. Tapi toh, saya masih terkagum-kagum dengan keindahan bahasa yang digunakan Dee (meski saya nggak ngerti). Itukah kesamaan puisi dengan lukisan? Terkadang, semakin abstrak dan absurd karya itu, semakin orang terpukau karenanya... (versi pengamat sotoy nan amatir)

Satu hal yang saya pahami dari kumpulan cerpen ini. Cinta memang bukan hal yang mudah dipahami, tapi cinta adalah tentang menemukan muara yang membuat diri kita merasa nyaman berada di sana. Menemukan jalan pulang. Jalan menuju tempat yang membuat kita berada di tempat yang paling nyaman. Karena ada banyak cara untuk mencintai, dan yang terbaik adalah melakukannya dengan cara yang ternyaman bagi kita. Ada yang melakukannya dengan merelakan, membiarkan masing-masing berada di posisi nyamannya, atau hanya dengan menatap saja. Semuanya adalah bentuk cinta, semuanya adalah bentuk yang akan membuat kita menuju rumah.

Mereka yang kehilangan cinta akan merasa tidak memiliki tempat untuk pulang, dan menjadi terluntang-lantung karenanya. Tapi ada juga yang memiliki cinta itu, tapi masih tidak merasa di rumah. Adapula yang telah kehilangan orang yang dicintainya, tapi tetap merasakan bahwa mereka tidak kehilangan tempat pulang (bukan karena nggak cinta, tapi karena ada kekuatan besar lainnya bernama 'kepasrahan' dan 'penerimaan'). Dan saya pun berharap, suatu saat cinta--seperti apapun bentuknya nanti--akan membawa saya pulang ke tempat yang nyaman....

View all my reviews

February 5, 2013

Something Borrowed: Pilih Sahabat atau Cinta?


Cinta yang Terpendam by Emily Giffin
My rating: 2 of 5 stars

Tidak semua orang memiliki sahabat. Dan tidak semua orang memiliki sahabat dari kecil, dan separuh lebih hidupnya dihabiskan dengan sahabatnya itu. Seperti Rachel dan Darcy. Mereka telah bersahabat dari kecil, hingga kini menginjak usia 30 tahun.

Rachel lebih tua beberapa bulan dari Darcy, jadi dialah yang lebih dulu menginjak usia 30. Beberapa tahun sebelumnya, ia membayangkan bahwa di ulang tahunnya yang ke-30, ia sudah menikah dengan pangeran pujaan hatinya, dan memiliki beberapa orang anak. Tapi, kenyataan memang nggak seindah itu. Rachel masih single, tak punya pacar, tak punya gebetan, tak punya pekerjaan yang disukainya, dan yah bisa dibilang nasib sedang nggak memihaknya.

Sekarang kita pindah ke Darcy, sahabat sejati Rachel. Di usianya yang menjelang 30, Darcy sudah punya tunangan dan akan segera menikah. Lelaki yang akan dinikahinya bernama Dexter, seorang esmud muda, tampan, dan punya kedudukan bagus di pekerjaannya. Darcy juga punya pekerjaan yang menyenangkan, berkat kemampuan personalnya yang memang lebih. Dan Darcy lebih cantik, lebih ramping, dan lebih bahagia dari Rachel....

Hingga terjadilah kejadian itu...

Di ulang tahunnya yang ke-30, Rachel tidur dengan tunangan Darcy. Rachel-nya agak mabuk sih... Tapi Dex nggak, yang bikin Rachel jadi ketar ketir. Rachel merasa bersalah pada Darcy, karena telah mengkhianati sahabatnya, meskipun berkat Rachel-lah Darcy jadi kenalan, jadian, terus tunangan sama Dex. Karena Dexter adalah teman Rachel ketika kuliah dulu....

Tapi, memangnya Darcy bener-bener sahabatnya sejatinya Rachel? Kalo iya, kok dulu dia ngerebut cowok yang disukai Rachel? Terus, kenapa Darcy sengaja milih universitas yang dipilih Rachel (bukan karena mau terus sama sahabatnya itu, tapi ingin membuktikan kalau dia juga bisa)? Kenapa juga setelah lebih dari 20 tahun mereka bersahabat, Rachel selalu merasa menjadi pihak yang dirugikan, kalah, dan menangis sendirian di pojokan? Kenapa? Bukankah sahabat itu harusnya tetap setia meskipun dalam suka dan duka? Terus, kenapa Rachel tau banyak hal tentang Darcy, tapi Darcy nyaris nggak tau apa-apa tentang hal-hal yang Rachel sukai?

Hufft... Baca buku ini benar-benar menguras emosi saya. Awalnya, saya sempat simpati sama Rachel, si tokoh utama yang merasa dirinya nggak punya kelebihan apa-apa, nggak secantik Darcy, nggak selangsing Darcy, dan apa-apa selalu kalah dari Darcy. Tapi, lama-lama saya jadi kesel juga sama si Rachel ini. Soalnya, perlakuan nggak adil yang diterima dia dari sahabatnya itu seakan jadi pembenaran atas perselingkuhannya dengan tunangan sahabatnya.

Darcy. Cewek yang memiliki segalanya. Tubuh langsing, wajah cantik, punya pekerjaan yang enak dan bergaji besar padahal dia nggak pinter-pinter amat, dan punya tunangan yang super tampan. Kelakuan si Darcy ini juga sama nyebelinnya sama Rachel. Darcy itu seolah nggak bisa melakukan apapun tanpa bantuan Rachel. Jenis bantuan yang diminta Darcy bukan jenis bantuan pada sahabat, tapi lebih mirip ke pembantu. Dan Rachel, dengan begonya juga menuruti kemauan Darcy... Wajar aja. Soalnya, siapa sih yang bisa menolak kemauan Darcy? Darcy kan nggak pernah tau gimana rasanya berbagi, berkorban, dan mengalah. Lagiian, hey! Dia kan pusat tata surya, jadi semua planet harus tunduk berputar mengelilinginya...

Lalu, Dexter. Si eksekutif muda super tampan yang jadi tunangan Darcy, tapi demen sama Rachel juga. Dexter itu teman kuliah Rachel di sekolah hukum dulu (Iya, Rachel itu otaknya emang pinter, tapi dia itu super bego untuk hal-hal lainnya). Buat saya, Dexter adalah lelaki nggak punya pendirian yang nggak bisa dipercaya. Dia suka sama Rachel, tapi nggak mau pisah dari Darcy juga. Benar-benar tipe cowok yang nggak bisa ngambil keputusan, yang bikin saya pengen teriak pake TOA super gede di kupingnya.... -____-

Selain tiga tokoh di atas, ada juga tokoh-tokoh lainnya seperti Ethan, Hillary, dan Claire yang turut mengisi keseharian hidup Rachel dan Darcy. Saya sih heran banget, si Rachel kok masih mau-maunya gitu sahabatan sama Darcy. Bukan, bukan karena si Darcy ini kelakuannya buruk banget (yah, itu juga salah satunya sih xp), tapi karena udah jelas-jelas Darcy ini nggak cocok jadi sahabatnya Rachel...

Seperti kata Ethan, persahabatan Rachel dan Darcy itu bersifat dekstruktif. Tanpa disadari, mereka saling menghancurkan satu sama lain. Hhmm.. Darcy sadar sih kayaknya, Rachel aja yang terlalu bego untuk memahaminya... -__- (Tuh kan! Udah berapa kali saya ngeluarin kata b*go itu di review ini?! O.o) Abisan, si Rachel itu bener-bener ngeselin banget sih. Apa salahnya coba sekali-sekali menolak dengan tegas permintaan Darcy? Emangnya terus bumi bakal kiamat gituh?

Sebenarnya, persahabatan mereka berdua ini mengingatkan saya dengan orang-orang yang pernah dekat dengan saya dulu. Jadi, sebenarnya saya itu tipenya lebih mirip ke Rachel. Pendiam, nggak suka debat, lebih milih ngalah daripada ribut (kecuali kalo lagi berantem sama adek sendiri xp), dan juga pendengar yang baik. Yah, pokoknya plegmatis banget deh...

Dulu, saya pernah punya teman yang sangat dekat dengan saya. Kami sering kemana-mana bersama. Saya selalu dengerin curhatan dia. Saya selalu dengerin keluhan dia. Saya dengerin kisah dia dengan gebetannya. Loh? Terus giliran saya kapan dongg?? Itu dia. Saking dominannya dia, saya sampai nggak punya waktu untuk cerita tentang diri saya. Tentang keadaan di rumah saya. Tentang cowok yang saya suka waktu itu. Tentang banyak hal. Alhamdulillah kami 'dipisahkan' oleh waktu dan keadaan, dan sekarang saya pun bersyukur karenanya...

Lalu, saya ketemu lagi dengan orang yang setipe dengan teman saya dulu itu. Dia juga sering curhat sama saya. Cerita tentang pacarnya, tentang pekerjaannya, tentang banyak hal. Tapi, lagi-lagi saya nggak punya waktu untuk cerita tentang diri saya. Hhmm.. Bukan nggak punya waktu juga sebenarnya, tapi karena saya yakin banget kalopun saya cerita, dia nggak bakal naruh perhatian penuh ke saya. Sudah pernah saya buktikan, dan saya nggak mau mengulanginya lagi.

Satu lagi hal yang nggak saya suka dari dirinya... Dia kerap memaksakan keinginannya ke saya. Padahal saya nggak mau dan saya sudah pernah bilang. Padahal, apa yang dia coba jejalkan itu sebenarnya adalah obsesinya yang nggak kesampaian, dan puka obsesi saya. Hingga suatu hari, alhamdulillah lagi-lagi Allah masih baik sama saya, jadi saya dipisahkan dari dia. Awalnya dia masih rutin mengontak dan menelepon saya, tapi saya sedikit demi sedikit membatasi pertemanan kami...

Terus, Tuhan nggak baik dong sama Rachel?

Sebenarnya sih, menurut saya Rachel punya kesempatan untuk menjauh dari Darcy, ketika dia keluar dari kampung halamannya untuk kuliah di NYC. Tapi, kemudian Darcy datang menyusul Rachel, dan kembali mengganggu hidup Rachel. Saya sendiri nggak yakin harus bersikap kayak gimana sih ya, kalo 'sahabat' yang udah saya tinggalkan terus ujug-ujug dateng, minta bantuan, dan ngerepotin saya lagi. Apalagi, mereka satu kampung halaman, dan keluarga mereka saling mengenal... Tapi, kalau saya jadi Rachel, mungkin juga saya akan mengambil tindakan revolusioner: pergi ke tempat dimana nggak ada Darcy di sana.

Serius deh.. Rachel kan udah idup selama 30 tahun, dan beberapa tahun di New York jauh dari sahabatnya. Harusnya dia udah bisa memilih-milih sendiri lah, mana orang yang pantas jadi sahabat dan mana yang nggak.... Toh, ada berjuta alasan yang bisa dikarang supaya dia bisa jauh-jauh dari Darcy. Toh, Rachel jadi jago berbohong setelah selingkuh sama Dexter...

Terus, bagian perselingkuhan Rachel dan Dexter juga bikin saya muak. Soalnya, seburuk apapun Darcy sebagai seorang sahabat, dia tetap aja nggak pantas mendapat perlakuan seperti itu. Darcy memang pantas ditampar oleh Rachel, tapi bukan ditusuk dari belakang kayak gitu.

Lagian, kok saya pikir, hubungan antara Rachel dan Dex itu bukan cinta ya? Itu cuma nafsu yang mengatasnamakan cinta, seperti "serigala berbulu tangkis" eh "serigala berbulu domba" itu lho.. Soalnya, si Dex kan udah tunangan sama Darcy selama tujuh tahun ya. Berarti, dia kenal sama Darcy lebih lama lagi dong.. Katakan dua tahun. Berarti lagi, dia kenal sama Rachel-nya juga udah lebih lama lagi dong? Soalnya, yang dikenal sama Dex duluan kan emang Rachel, bukannya Darcy...

Okelah kalau misalnya Dex suka sama Rachel, tapi kenapa harus nunggu selama itu buat menyadari kalau dia cinta sama sahabat tunangannya? Si Rachel juga.. Kemana aja dia tahun-tahun yang lalu, sampe berani bilang kalau dia cinta mati sama Dex, padahal beberapa bulan lagi dia dan sahabatnya akan nikah? Apa coba namanya kalo bukan nafsu, hah?! #ganyante

Udah gitu, si Dex juga nggak bisa memutuskan mau sama yang mana lagi... Dan si Rachel juga nggak tegas dan berani dalam hubungan mereka yang seperti itu. Haduuhh... Benar-benar bikin esmosi jiwa deh. Jadi, siapa yang akan dipilih Dex? Apa yang akan dipilih Rachel, persahabatan atau percintaan?

Dari segi penulisan, novel "Cinta yang Terpendam" alias "Something Borrowed" ini ditulis dengan bagus. Ringan dan mengalir. Banyak kata-kata indah bertebaran di dalamnya, yang bakalan jadi kutipan oke, seandainya saya suka sama karakter-karakternya... xp Tapi, apa boleh buat. Temanya nggak bisa saya terima. Bukan jenis yang saya suka. Saya emang nggak suka sama tema selingkuh-selingkuhan gitu. Heran aja dengan betapa gampangnya manusia bilang "Aku cinta kamu" di saat ini, tapi nggak berapa lama kemudian melupakan ikrar itu dan berpaling ke yang lainnya. Orang setampan, secantik, sesukses, atau sekaya apapun nggak ada artinya kalau dia nggak bisa menjalin komitmen...

Dan, kalo baru pacaran aja udah maen selingkuh-selingkuhan, gimana kalo nikah coba? Saya sih percaya, hubungan yang didasarkan pada kebohongan nggak akan bertahan lama, karena bau busuk itu selalu tercium di manapun ia disembunyikan...

Terakhir, saya mau ngomong sama Rachel:
"Hei, Rach. Sekali-sekali, berhenti deh ngeliat kehidupan orang dari kacamatamu. Karena apapun yang kau lihat nggak akan terlihat adil. Dan nggak akan pernah jadi seperti itu..." #sambiljoroginrachelkelaut

Hhhmm... Buku ini ternyata masih ada lanjutannya, yang diambil dari sudut pandang Darcy? Kayak gimana ya ceritanya? Jadi penasaran... Jadi, meskipun ini pertama kalinya saya baca bukunya Emily Giffin, tapi saya masih tetap menyimpan keinginan untuk baca kelanjutannya. Yah, semoga aja nggak mengecewakan saya.. Huehehee

Oh iya, makasih buat Oky dan Esensi, karena berkat merekalah buku ini ada di tangan saya buat saya baca. Maaf ya, soalnya bukunya ternyata nggak sesuai sama selera saya. Moga-moga nggak kapok ngasih buku lagi.. Huehehee... #ditimpukbuku #narikegirangan #monolog

P.S. Buku ini saya baca di bulan Januari, tapi baru sempet bikin ripiunya sekarang. Jadi, masih bisa masuk itungan challenge-nya Ren di Ren's Little Corner ini duumzzz...



February 4, 2013

Ingin Muffin Asmara? Ke toko Bliss saja...


Bliss by Kathryn Littlewood
My rating: 2 of 5 stars

Di sebuah kota kecil bernama Calamity Falls, hiduplah sebuah keluarga yang mengelola sebuah toko roti yang mungil. Bliss Bakery namanya. Diambil dari nama keluarga mereka, Bliss. Toko roti dan kue ini adalah toko satu-satunya yang ada di kota itu, dan mereka mengemban tugas suci untuk mengatasi kelaparan warga kota setiap harinya... Jadi, tugasnya si Bliss Bakery ini seperti tukang bubur dan tukang nasi uduk di deket kantor saya, yang memenuhi hajat hidup orang banyak ya.. xD

Segala jenis muffin, cake, ataupun cookie yang lezat bisa kau dapatkan disini? Muffin apa yang kau suka? Rasa wortel dedak seperti Mr. Bastable? Atau muffin blueberry yang lezat dan segar di mulut? Atau mungkin kau lebih suka cheese cake yang lembut dan cookies cokelat yang renyah?

Atau jangan-jangan kau sudah bosan dengan semua kue 'biasa' di atas dan ingin mencoba sesuatu yang berbeda? Misalnya, kau ingin mencicipi segigit muffin asmara yang terbuat dari labu hijau dan telur Burung Cinta Bertopeng, roti berbahan halilintar yang akan menyembuhkanmu dari sengatan petir, atau ingin memberikan temanmu cookies kebenaran--agar dia ta berbohong lagi--yang terbuat dari nafas tidur lembut seseorang yang tak pernah berbohong?

Meskipun terdengar aneh, tapi percayalah bahwa keluarga Bliss sanggup membuat makanan-makanan di atas. Mereka bahkan bisa membuat cheesecake labu yang mampu menyembuhkan flu babi!

Ya, keluarga Bliss memang keluarga yang ajaib. Keluarga yang terdiri dari Albert dan Purdy, serta keempat anak mereka: Thyme, Rosemary, Sage, dan Parsley, ini telah mengelola toko kue kecil di sebuah kota kecil di Amerika, berkat bantuan sebuah buku resep kuno yang diwariskan turun temurun di keluarga itu.

Suatu hari, Albert dan Purdy harus pergi ke kota sebelah, yang penduduknya sedang terserang flu musim panas. Mereka menyerahkan tanggung jawab toko pada Rose, sang putri tertua, yang memang paling rajin membantu orang tua mereka. Soalnya, si sulung Ty yang teramat tampan, terlalu sibuk dengan urusan remaja ngga pentingnya, sedangkan Sage terlalu heboh hingga tak mungkin diserahi tanggung jawab itu. Lalu Leigh? Dia masih 3 tahun, jadi mana mungkin bisa membantu?

Rose, seperti layaknya anak seusianya, selalu merasa minder dengan dirinya. Ia merasa kalalu dirinya tak semenawan kakak lelakinya, ataupun seimut adik perempuannya. Oh iya, jadi si Sage itu cowok sedangkan Parsley alias Leigh itu cewek. Namanya agak aneh sih ya, jadi nggak ketauan jenis kelaminnya deh... ^^; (kecuali si Rose). Tapi, saya suka sama nama-nama unik anak keluarga Bliss ini.

Okay, balik ke Rose. Rose itu merasa dirinya nggak cantik, padahal dia punya bakat bikin roti (nggak nyambung ya? bodo.. xp). Ya, singkatnya... Kedua orang tua Rose memberikan sebuah kunci kecil kepada Rose. Kunci itu menyimpan apa yang dilindungi oleh keluarga itu selama bertahun-tahun, sebuah buku resep bernama "Bliss Cookery Booke".

Selama membantu orang tuanya di dapur, Rose sebenarnya yakin bahwa mereka menggunakan sihir ataupun hal ajaib lainnya selama membuat kue. Tetapi, kedua orang tua Rose tak pernah mengakuinya. Padahal, Rose melihat sendiri bagaimana Purdy sang ibu mengambil halilintar dan memasukkannya ke dalam botol kaca ketika ia masih berusia sepuluh tahun. Kini, setelah diberi tanggung jawab untuk menjaga buku resep itu, Rose makin yain kalau keluarganya memang menambahkan sihir untuk resep-resep mereka. Sayangnya, kedua orang tua Rose nggak mengizinkan Rose membuka buku itu, apalagi mempraktikkannya. Mereka memberi Rose kunci itu, hanya untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang tidak diinginkan menimpa toko mereka. Jadi, Rose bisa menyelamatkan harta keluarga itu.

Setelah kedua orang tua Rose pergi, rumah keluarga Bliss tiba-tiba kedatangan seorang tamu. Dia adalah Lily, wanita cantik nan menawan, yang mengaku sebagai bibi mereka. Dalam sekejap, Lily mampu memikat Ty dan Sage. Ia juga sangat pandai memasak dan membuatkan mereka masakan luar biasa serta membantu Rose menjalankan toko roti itu.

Namun, benarkah Lily memang bibi mereka? Lantas, mengapa ia tiba-tiba datang ketika orang tua mereka nggak ada di rumah? Kenapa juga orang tua mereka tak pernah cerita tentang orang yang mengaku sebagai saudara jauh itu? Dan kenapa juga Rose tak sanggup cerita kepada orang tua mereka (melalui telepon) tentang kedatangan Lily? Dan mengapa Ty serta Sage tampak sangat terpikat sementara Rose tidak? Apa Lily menggunakan semacam sihir, atau memang seperti itulah fitrahnya seorang remaja lelaki yang sedang puber? Temukan jawabannya di buku ini.. :D

Awal melihat buku ini, saya langsung terpikat dengan sampulnya yang tampak 'magis'. Apalagi ada tambahan warna biru-biru di halamannya, yang bikin buku ini semakin menarik. Ditambah lagi dengan ide cerita yang tampak unik, cerita fantasi-sihir-pake-makanan-enak... Gimana saya nggak tergoda coba? #lapiler

Sayangnya, ternyata jalinan cerita yang ada di dalamnya nggak mampu memikat saya sebagaimana covernya telah memikat relung terdalam di hati saya... #tsaahh Saya nggak terlalu suka dengan tokoh-tokohnya. Rose terlalu rendah diri, hanya karena merasa dirinya nggak semenarik saudara-saudaranya. Oh, come on! Kalau keluarganya dia menawan semua, mana mungkin kau jelek sendirian nak! Memangnya kau ugly duckling ya? O.o

Lalu si kakak lelaki Rose juga menyebalkan. Entah karena si orang tua mereka yang terlalu banyak mengandalkan Rose atau memang si Ty ini anak yang manja, yang jelas menurut saya si Ty ini benar-benar ngga bisa diandalkan banget. Yah, selain ketampanannya yang bikin cewek klemar klemer.. -__- Udah gitu, dia dengan gampangnya tergoda sama Bibi Lily yang menawan sampai nggak menaruh curiga sama sekali sama cewek itu.

Tapi, lebih dari semuanya, saya paling sebel sama orang tuanya Rose. Kalau mereka memang menggunakan sihir di dapur, ya kenapa si anak-anaknya nggak dikasih tau coba? Okelah Sage sama Leigh emang masih kecil, tapi Ty yang udah 15 tahun kan udah bisa dikasih tanggung jawab. Begitupun dengan Rose, yang memang sudah terlihat dewasa. Apa salahnya memberikan pengertian kepada anak mereka tentang bisnis yang mereka jalankan. Tentang buku resep yang harus dilindungi itu, atau tentang anggota keluarga mana yang patut dipercaya dan mana yang nggak. Apa karena si Albert dan Purdy ini benar-benar menganggap anak-anak mereka masih bocah semua ya? Yang jelas, saya langsung merasa nggak simpati dengan mereka berdua setelah kata-kata yang diucapkan oleh sang ibu kepada Rose di akhir cerita. Seriously, yang kanak-kanak itu sebenarnya mereka deh! -,-

Oh iya, bagian Albert dan Purdy harus nyembuhin flu di kota sebelah selama seminggu itu kayaknya berlebihan banget deh. Kan cuma kota sebelah, tiga hari juga udah cukup. Apalagi ini cuma bikin croissant doang, bukan bikin dapur umum, apalagi jadi petugas palang merah... O.o Weird...

Saya hanya bisa menikmati buku ini separuhnya saja, sampai Ty dan Rose berusaha untuk mengembalikan keadaan yang telah mereka buat (setelah bikin muffin asmara dan cookies kebenaran) kembali seperti semula. Bagian Ty merayu cewek-cewek sekelasnya yang tersihir muffin asmara itu benar-benar lucu. Setelahnya, alurnya terasa sangat lambat dan bertele-tele. Dan jujur, saya sangat bosan membaca bagian tentang betapa-menakjubkannya-bibi-lily-dan-betapa-nggak-bergunanya-Rose.

Sebenarnya saya kasihan sama Rose, karena dia harus disadarkan bahwa dia istimewa, justru melalui anggota keluarga yang baru dikenalnya. Buat saya pribadi, saya merasa orang tua Rose telah gagal. Yah, itu pendapat sotoy saya aja sih... xp

Hufft, buku kedua dari penulis baru yang saya baca di tahun 2013 ini tampaknya belum mampu memuaskan saya. Teman saya bilang, saya terlalu berekspektasi dan membandingkannya dengan Harry Potter. Well, saya tidak pernah membandingkan buku yang saya baca dengan buku yang lainnya, apalagi ketika temanya benar-benar berbeda. Buktinya, saya bisa menikmati kisah-kisah fantasi karya pengarang lainnya tanpa harus terbayang-bayang dengan Harry Potter di benak saya. Lagipula, pada awalnya saya sendiri cukup menaruh harapan pada buku ini. Namun sayangnya, ternyata tidak memenuhi ekspektasi saya. 

Ya, buku ini tampaknya--mulai dai gaya bercerita dan segala macamnya (kecuali covernya)--memang nggak cocok buat saya, jadi saya nggak bisa menikmatinya seperti teman saya itu.... Meskipun begitu, melihat sinopsisnya di Goodreads, tampaknya saya masih menyimpan harapan untuk buku keduanya, deh. Tapi, kali ini pinjam aja lah... xp

Buku ini diikutkan dalam event FYE di blog Bacaan Bzee. Mengingat perkembangan ceritanya, sepertinya buu ini masuk ke bildungromans juga, jadi masih masuk ke kategori FMs 1. Oh iya, menilik dari ceritanya, tampaknya buku ini bisa dibaca oleh anak-anak di atas usia 12 tahun. Cuman, ati-ati aja biar nggak ikutan galau kaya Rose xD



Nah, karena ini pertama kalinya saya baca bukunya Kathryn Littlewood, jadi dia masuk ke dalam challenge saya yang ini...


Dan yang terakhir... Ternyata buku ini juga masuk ke challenge yang ini, karena Bliss adalah nama keluarga mereka! Yuhuu...


February 28, 2013

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels


Jalan Raya Pos, Jalan Daendels by Pramoedya Ananta Toer
My rating: 4 of 5 stars

Penulis adalah orang yang peka terhadap perubahan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya

Beberapa tahun yang lalu, di suatu kelas sastra, saya mendengarkan dosen saya mengatakan kata-kata itu. Ketika itu, bahasan kami tentang sosiologi sastra. Memang tepat jika dikatakan demikian, karena melalui jejak torehan tinta para penulis, kita banyak mengetahui hal-hal yang terjadi di masa lalu. Meskipun memang, sebuah karya sastra tidak bisa dijadikan patokan seutuhnya dalam menggambarkan suatu masyarakat pada waktu karya itu dibuat. Butuh fakta-fakta utama lainnya, sehingga karya itu nantinya akan dapat digunakan sebagai sebuah data pendukung.

Itu jugalah yang saya rasakan setelah membaca karya Pram yang satu ini, "Jalan Raya Pos, Jalan Daendels". Padahal, saya tahu kalo ini adalah non fiksi (meskipun awalnya dikirain fiksi -,-) dan ada data-data konkret yang digunakan ketika menulis buku ini (ngelongok dapus), tapi tetap saja mau tak mau saya memikirkan hal di atas. Agak nggak nyambung memang, pikiran saya ini...

Melaui bukunya ini, Pram menceritakan bagaimana proses pembuatan jalan raya dari Anyer ke Panarukan dengan panjang mencapai 1000 km, hanya dalam setahun saja. Semuanya tentu saja berkat yang mulia Mr. Herman Willem Daendels, Sang Tuan Besar Guntur, wong londo bertangan besi yang kejam setengah mati, yang memerintahkan pembangunan jalan itu untuk menghindari serangan Inggris dan India yang ingin mengambil alih wilayah Belanda, di tahun 1808.

Lalu, ingatan saya pun melayang ke kelas-kelas sejarah ketika saya masih imut-imut dulu. Tentu kita semua, anak-anak yang bersekolah di Indonesia, sudah hapal betul jika ditanya siapa pembuat jalan terpanjang dari Anyer ke Panarukan. Atau jika terdengar nama Daendels, yang terbayang tentunya adalah jalan itu. Tapi, berapa banyak dari kita yang tahu seberapa panjangnya jalan itu, berapa banyak tenaga kerja yang digunakan, dan berapa banyak korban yang harus jatuh akibat pembuatan jalan itu? Saya pikir tidak banyak yang tahu. Setidaknya, ketika saya masih imut-imut dulu, saya benar-benar nggak ada gambaran kalo Anyer-Panarukan itu ternyata nggak jauh tapi jjjaaauuuuhhh buannggeeettttt. Yah, mungkin kesalahan memang bukan pada guru dan buku sejarah, tapi pada saya aja yang mungkin, ini mungkin lho, nggak nyimak pelajaran di kelas. Tapi, dengan bangga saya mengatakan kalau sejak dulu saya sudah menyimpan ketertarikan pada sejarah, hingga ketika masih imut-imut dulu (jangan eneg ya.. xp) saya sering tuh baca buku pelajaran sejarah kayak lagi baca buku cerita aja. Soalnya, emang bener buku cerita juga, sih....

"Jasmerah! Jangan sekali-sekali melupakan sejarah!"

Itulah yang dikatakan Bung Karno dulu. Kata-kata yang sederhana, tapi sulit dipraktikkan. Kenyataannya, bangsa kita saat ini bukan hanya melupakan sejarah, tapi juga mengaburkan sejarah. Dan membaca buku Pram ini semakin meyakinkan saya kalau banyak sekali fakta yang ditutup-tutupi dari negeri ini.... Saya seolah melihat sisi baru dari bangsa ini, yang nggak saya kenali sebelumnya...

Sejarah itu milik penguasa!

Seru teman saya, mahasiswa program studi sejarah di kampus sore itu. Saat itu saya yang masih imut-imut (ya, dibandingin sama temen-temen saya di prodi sejarah yang pikirannya udah pada ribet... xp) sebenarnya agak nggak terima. Bagaimana mungkin sejarah yang saya ketahui selama ini, banyak yang di antaranya hanya merupakan rekaan dari rezim yang bersangkutan saja? Lalu, dimana kebenaran hakiki itu berada?

Jawaban itu seolah dipaparkan satu per satu oleh Pram di hadapan saya melalui buku kecilnya ini. Saya yang dulu terlalu naif, kini sadar sepenuhnya, kalau sejarah memang milik orang yang berkuasa. Mereka akan memilih sendiri mana yang boleh diceritakan dan mana yang harus disimpan rapat-rapat, bahkan kalau perlu dimusnahkan. Nggak hanya di negara ini, tapi juga di berbagai tempat di belahan dunia. Selama membaca buku ini, tak bisa dihindarkan, kalau saya memiliki banyak pertanyaan serta perasaan yang berkecamuk di dalam diri saya....

Mengapa baru kali ini saya tahu bahwa pernah ada genosida di Indonesia? Mengapa warga dunia tampak begitu peduli dengan genosida di Jerman oleh Hitler itu, genosida di Vietnam, di Afrika, tapi kenapa genosida di nusantara tak pernah terekspos sebelumnya? Berapa banyak warga pribumi yang tewas karena tingkah polah para penjajah? Ratusan ribu, jutaan, puluhan juta? Jika Daendels meminta dikirimkan 1.000 pekerja setiap harinya kepada penguasa pribumi dan hanya sedikit dari mereka yang selamat, berapa jumlah pekerja pribumi yang dibutuhkan selama setahun? Berapa orang dari mereka yang selamat, jika pemandangan tubuh manusia bergeletakan tanpa nyawa di suatu desa, tanpa ada yang sanggup menyolatkan dan menguburkan (mengingat itu fardhu kifayah bagi Muslim), menjadi pemandangan yang biasa?

Berapakah jumlah rakyat kecil Pribumi yang tewas, baik di Bandaneira, proyek Jalan Raya Pos, dan Cultuurstelsel? Yang di Bandaneira tak pernah disebutkan angka. Yang di Jalan Raya Pos, menurut sumber Inggris hanya berapa tahun setelah kejadian; 12.000. Yang di Grobogan 3.000 sementara ada yang menyebut 5.000. Tak pernah ada komisi resmi yang menyelidiki. Nyawa rakyat kecil Pribumi nampaknya hanya baik jadi sumber kebesaran barat. (Hal. 22)


Semuanya pakai ilmu kirologi. Kira-kira saja. Yang meninggal selama pembuatan Jalan Raya Pos kira-kira 12.000. Yang meninggal di Maluku, kira-kira 40.000. Yang meninggal di Kalimantan akibat dibantai Jepang, nggak ada datanya, dan nggak ada yang berusaha untuk mencari datanya. Ya memang, rakyat kecil itu nggak ada artinya. Kalau mereka mati, masih ada banyak yang bisa menggantikan. Toh salah satu anugerah bumi nusantara ini, selain tanahnya yang subur, rakyatnya juga melimpah ruah. Jadi, untuk apa merepotkan diri dengan kejadian yang sudah lama terjadi. Toh, sekarang masih banyak hal yang perlu dipikirkan, bukan?

Kenapa orang yang mengaku dirinya sebagai penganut "Kebebasan, Persamaan, dan Persaudaraan" itu justru menjadi orang yang paling bertindak kejam kepada manusia? Apa hanya karena warna kulit kami yang berbeda? Bahasa kami yang berbeda? Budaya kami yang berbeda? Inikah potret kebebasan dan kemerdekaan yang begitu diagung-agungkan oleh Barat itu?

Sejujurnya saya memang menganggap bahwa hasil pemikiran Barat, yang dikagumi banyak orang itu, semuanya omong kosong belaka. Mereka menawarkan kebebasan, tapi siapa coba yang dulu berlayar dengan kapal dan persenjataan lengkap (padahal ngakunya pedagang) dan mengusir kaum pribumi? Mereka mengagung-agungkan kesetaraan, padahal di Afrika Selatan sekarang inipun, masih kental sekali politik apartheidnya. Ya, nggak usah jauh-jauh juga sih. Ke Papua aja sana, buat tau gimana bedanya antara orang asing dan pribumi? Toh, semua yang mereka ungkapkan semuanya memiliki standar ganda.

“You don't have to burn books to destroy a culture. Just get people to stop reading them.”


Mungkin kata-kata Ray Bradbury di atas cocok untuk mengungkapkan apa yang terjadi di negeri ini saat ini. Belum 100 tahun negara ini merdeka, tapi tampaknya kita telah melupakan semua semangat kepahlawanan yang diwariskan oleh kakek, nenek, dan buyut kita dulu. Kita, saya, terlalu terlena dengan berbagai kemudahan yang ada sekarang, hingga mempelajari sejarah negeri ini telah menjadi prioritas yang kesekian di negeri yang dipenuhi kelabilan dan kegalaluan ini...

Selepas membaca buku ini, mau tak mau saya teringat beberapa orang teman yang sepertinya begitu benci dengan negara ini, hingga kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu berupa kata-kata sinis yang menyudutkan negerinya sendiri. Sadarkah mereka kalau tanah yang ditinggali sekarang ini dibayar dari darah orang-orang terdahulu? Sadarkah mereka menghirup udara kebebasan dari negeri yang mereka hina ini? Sadarkah mereka kalau negara barat dengan segala keagungan pemikiran yang mereka kagumi itu dulunya adalah bangsa penindas yang hidup dari darah dan keringat saudara setanah airnya sendiri?? Pernahkah mereka melakukan upaya untuk mengenal negeri ini dengan lebih dekat lagi? Mencari apa yang tersembunyi di dalam tanah dan airnya, mengulik apa yang dulu pernah menjadi kejayaan dan keruntuhan negeri ini?

Indonesia adalah negara tempat saya lahir. Tempat saya hidup, tumbuh, belajar, dan mungkin akan menjadi tempat persemayaman terakhir saya. Indonesia adalah ibu pertiwi, tempat saya pulang. Tempat anak-anak bangsa di bawah NKRI merasakan dan mengambil segala sumber dayanya. Tapi, ternyata masih begitu sedikit hal yang kita ketahui dari negara ini....

Sejujurnya, setelah membaca karya Pram, saya merasa sedang dilucuti. Saya merasa benar-benar bodoh karena nggak tahu apa-apa tentang negara yang sudah saya tinggali sepanjang hidup saya ini. Dan Pram, melalui bukunya ini, seolah bertindak seperti seorang kakek bijaksana yang mengajarkan saya apa yang terjadi di negara ini di zaman penjajahan dulu. Saya diajak berkelana dari Anyer hingga Panarukan. Saya seolah merasakan perang yang dulu berkobar demi mengusir penjajah. Turut merasakan kekesalan ketika ada penguasa pribumi yang memihak mereka demi perutnya sendiri. Merasa marah ketika Daendels dengan kejamnya menyuruh pekerja pribumi untuk membelah gunung hanya dengan peralatan minim, hingga nyawa mereka berterbangan satu per satu tanpa ada harganya (dan memang nggak berharga dari dirinya). Dan merasa bangga ketika pribumi melakukan pemberontakan yang membuat penjajah kalang kabut. Bener, deh. Kalau saya pegang stabilo selama baca buku ini, pasti hanya tersisa sedikit kertas putih di bukunya, karena saya sangat ingin menyerap dan mengingat semua informasi yang ada di sana....

Lalu yang masih menjadi misteri bagi saya adalah, bagaimana bisa Daendels menjadi Gubernur Jenderal pada masa itu?

Ah, ternyata pengetahuan saya memang masih begitu ceteknya....

View all my reviews

February 20, 2013

The Fault in Our Stars


The Fault In Our Stars - Salahkan Bintang-Bintang by John Green
My rating: 4 of 5 stars

Perkenalkan, nama mereka adalah Hazel Grace Lancaster dan Augustus Waters. Usia mereka masih sangat muda, baru menginjak 17 tahun. Tapi mereka telah merasakan banyak hal, terutama rasa sakit, lebih banyak daripada yang pernah kita bayangkan.

Ya, ini adalah kisah cinta. Kisah cinta yang setiap orang berharap akan bisa berakhir dan dikenang selamanya. Tapi, tentu saja itu tidak mungkin. Tak ada satupun hal yang abadi di dunia ini. Begitupun dengan mereka berdua, apalagi kisah cinta mereka. Waktu hanyalah sekumpulan bilangan, yang terangkai dalam detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dan seterusnya. Bagi mereka berdua, waktu adalah hal yang sangat penting, tidak seperti kau dan aku, yang dengan mudahnya menyia-nyiakan waktu. Mereka sadar bahwa waktu mereka terbatas, meskipun sebenarnya tidak ada jaminan juga bagi kita, untuk memiliki waktu lebih banyak bagi mereka.

Ah, aku lupa. Aku belum bercerita bahwa Hazel terkena kanker. Kanker tiroid yang telah menyebar ke paru-parunya. Ia tidak bisa menarik napas dengan lega setelah bangun tidur di pagi hari yang sejuk, sepertiku. Ia tidak bisa lagi merasakan bagaimana udara segar masuk dari hidungmu dan memenuhi paru-parumu. Paru-paru Hazel terlalu payah untuk melakukan itu semua. Kanker telah membuat hidupnya berubah. Ia juga harus menerima kenyataan, bahwa ia tidak bisa disembuhkan. Hidupnya bisa diperpanjang, tapi penyakitnya tak bisa disembuhkan. Ia bagai sesosok granat berjalan, yang kita tak akan pernah tahu kapan akan meledaknya.

Meskipun demikian, Hazel itu sosok yang cerdas dan yang jelas tidak menyebalkan. Beda dengan sebagian besar tokoh utama wanita yang kukenal. Meski dia bukan menjadi tokoh wanita favoritku (saat ini masih dipegang oleh Lisbeth Salander dan Hermione Granger), tapi aku menghargainya karena dia (dan utamanya John Green) tidak menjual rasa sakit itu untuk memperoleh simpati. Hazel, dengan kata-katanya yang cerdas tapi cukup sinis dan sarkastis, cukup membuatku menyukainya.

Selanjutnya, mari kuperkenalkan kalian pada Augustus, atau Gus. Dia tampan. Jago main basket. Fisiknya sempurna. Atau setidaknya dulu begitu. Sebelum osteosarkoma mengambil sebelah kakinya. Tapi tampaknya ia tidak terlalu keberatan dengan itu, atau setidaknya aku merasakan begitu. Gus menikmati hidupnya, meski ia pernah kehilangan orang yang dicintainya karena penyakit itu.

Gus adalah sosok yang menyenangkan. Sosok lelaki populer yang mampu memeriahkan suasana dengan guyonannya, atau cukup dengan ia berada di sana. Gus sama cerdasnya dengan Hazel, dan aku suka sekali dengan percakapan-percakapan mereka yang benar-benar tak tampak seperti remaja usia 17 tahun. Terlebih lagi, aku suka dengan cara Gus memanggil Hazel dengan Hazel Grace. Panggilan itu membuat Hazel terlihat lebih istimewa. Belum lagi olok-olokannya terhadap rokok yang benar-benar cerdas. Gus mampu menguras airmataku dengan segala hal tentang dirinya itu.... Tak heran banyak yang mencintainya, karena Gus memang benar-benar pantas dicintai... :') #nangismewek

Sebelum mengakhiri kisah mereka, rasanya tidak adil kalau aku tidak menceritakan tentang sebuah buku yang sangat penting bagi cerita ini. Buku itu menjadi obsesi Hazel, dan kemudian Gus. Buku itu berjudul "Kemalangan Luar Biasa", ditulis oleh seorang lelaki bernama Peter Van Houten. Kenapa Hazel terobsesi dengan buku itu? Karena Anna, tokoh utama buku itu, sama seperti Hazel. Ia menderita kanker.

Sayangnya, Peter seolah sengaja membiarkan kisah di buku itu menggantung begitu saja. Hazel tidak terima dan begitu penasaran dengan akhir ceritanya. Ia memang telah menyiapkan diri bahwa Anna mungkin memang telah meninggal atau terlalu sakit hingga tak bisa melanjutkan kisahnya. Tapi, ia ingin tahu kelanjutan hidup tokoh-tokoh lainnya. Ia ingin tahu apa yang terjadi pada ibu Anna, pada pria Belanda yang jadi kekasih ibu Anna, pada hamster piaraan Anna, dan pada orang-orang di sekitar Anna...

Kurasa Hazel menjadi terobsesi karena ia hanya ingin memastikan, bahwa satu kematian tidak akan menambah buruk dunia ini. Ia ingin memastikan, bahwa kehidupan orang-orang tercintanya akan tetap berjalan seperti semestinya, meskipun ia telah tiada nanti. Ia hanya tidak ingin, kematian membuat kehidupan orang lain rusak....

Hhhhuuuuuuuufffttt......

Sungguh, sulit bagiku untuk menceritakan kembali kisah ini. Sudah terlalu banyak orang yang melakukannya, dan aku tak bisa melakukannya sebaik mereka. Lagipula, entah kenapa ada sesuatu yang masih mengganjal di dadaku, yang membuatku butuh waktu cukup lama untuk bisa menulis review ini... Kurasa itu salah satu tanda bahwa John Green telah dengan pandai mampu membolak-balikkan emosiku....

Terlepas dari cover yang memang tidak sesuai dengan isi cerita, pilihan judul yang agak aneh, dan terjemahan yang mungkin terasa datar dan tidak menggebu-gebu (entah karena proses penerjemahannya, atau memang gaya bertutur John Green yang memang seperti itu...), kisah ini mampu memberikan pandangan baru bagiku tentang arti menjadi orang sakit dan juga, tentang kehidupan itu sendiri....

================

Review ini diikutkan dalam:

Juga dalam FYE children literature di blog Bacaan Bzee yang sekarang sedang berada di Fun Months 1. Kupikir buku ini baru boleh dibaca oleh mereka yang di atas 16 tahun. Dialognya sangat dewasa (bukan dalam hal kata-katanya, tapi kedalaman dialognya), begitupun dengan ceritanya. Oh iya, TFiOS ini juga sudah meraih banyak penghargaan di antaranya Goodreads Choice Award 2012 lalu untuk kategori "Best Young Adult Fiction".



View all my reviews

February 13, 2013

Hotter Potter Meme: Februari

Februari tiba... Dan inilah Meme Hotter Potter pertama saya di event ini...


Gambar dari sini

Yup. I'm a Dramione shipper (akhirnya ngaku juga). Sejujurnya nih ya, saya memang agak-agak nggak suka dengan pemasangan karakter di Harry Potter (tolong jangan serang saya... #ngumpetdibalikhagrid). Soalnya, kayaknya biasa-biasa aja gitu. Semua tokoh baik berpasangan dengan mereka yang baik. I want something different. Dan tampaknya dua karakter yang benar-benar bertolak belakang ini bakalan oke banget kalau disatukan. Bukannya saya nggak suka Ron, lho... I do love Ron, very much. Tapi ya itu, saya ngerasa kalau hidup nggak selalu isinya orang jahat dan orang baik. Orang jahat pun pasti punya sisi baik, dan juga sebaliknya.

Oke, saya mungkin lupa kalau Draco Malfoy is a real jerk. Dan saya pun sempat bertanya-tanya, kenapa saya sampe kepikiran buat ngejodohin Hermione sama Draco, setelah sadar betapa nyebelinnya si Draco di buku pertama. Bukannya saya nggak sadar kalo si Draco ini nyebelin banget sampe ke ubun-ubun, sampe saya pengen ngejampi-jampi dia atau ngejorogin dia dari atas menara Hogwarts.... But, i can't help it. Salahkan Tom Felton yang terlalu ganteng. Kenapa harus dia yang jadi Draco Malfoy, hah?? Kenapaaa??!! (#`Д´)ノ #nyalahinorang



Mereka cocok kaann... Iya, kaaann?? Iya kaaann??!! #maksa (Gambar dari sini)
Sebenarnya sekarang sih udah nggak seheboh dulu nge-fans sama Dramione-nya (eh, tapi berkat meme ini jadi rada-rada heboh lagi sih... xD). Tapi nggak separah ketika di akhir tahun 2011 lalu.... 

Ketika itu, saya baru resign dari tempat kerja saya. Di saat-saat sepi dan senggang itulah, Draco dan Hermione yang setia menemani saya... :"> Dengan rajinnya setiap hari saya 'main' ke situs-situs fanfic, terus ngebacain kisah-kisah mereka (iya, telat emang baru baca sekarang... terus kenapa? Masalah? #judes) 

Dan.... Rasanya lucu aja gitu baca kisah cinta mereka, yang benar-benar dari dua kutub yang berbeda itu. Draco yang egois, tajir melintir, narsis, manipulatif, tapi juga cerdas bersanding dengan Hermione yang jenius, baik hati, pandai, rajin membantu, dan punya nilai moral tinggi. Rasanya, percikan-percikan di antara mereka bakalan lebih terasa. Lagian nih, ya... Fanfic-nya Dramione jauh lebih banyak lho dibanding Romione. Coba deh maen-maen ke fanfiction.net dan disitu kalian akan menemukan kalau fanfic Dramione dua kali lebih banyak! Belom lagi ada beberapa site khusus yang memang sengaja mendedikasikan diri mereka untuk kedua pasangan itu... (#tsaahh bahasa gw.. xD)

(Nyomot dari sini)

Jadi, jangan salahkan saya kalau saya ingin mereka berdua bersatu yaa... Hehehe

Oke, setelah Dramione, pasangan kedua yang saya mau adalaaahhh....


 
Drarry!!! Hoahahahaaaa.....

Eh, tapi saya nggak mau mereka jadian atau punya hubungan romantis ya. I'm not a yaoi fans. Saya ingin mereka berteman aja. Ya, pastinya emang nggak mungkin sampe nempel banget kayak sama Ron... Tapi seenggaknya mereka bisa saling kenal lebih dekat, dan menjalin hubungan lebih dalam lagi... #eeaaa #ambigu

Saya maunya mereka tuh jadi kayak gini...

   

Lha, kenapa isi meme saya ada hubungannya sama Draco Malfoy semua ya?

Hhhmmm... Kenapa ya? Saya sendiri rada bingung nih. Soalnya, ketika baca bukunya saya sendiri pun ngerasa sebel banget sama si Malfoy sekeluarga ini. Cuma, ya... sulit memang menemukan karakter sekuat dan sekonsisten Draco Malfoy (dalam hal nyebelinnya). Lalu alasan lainnya, sesungguhnya saya menantikan sebuah akhir yang indah untuk Malfoy. Saya berharap hingga buku ketujuh, tante Rowling akan berbaik hati dan memberikan sedikit keberanian untuk Malfoy. I mean, nggak mungkin dong ada orang kayak Draco Malfoy yang isinya jeleknya doang.... Soalnya, kita kan selalu punya sisi gelap dan sisi terang dalam diri kita. Layaknya dua sisi mata uang, semuanya selalu saling bersisian.. Jadi, kenapa yang digambarin dari si Malfoy ini cuma jelek-jeleknya doaaanggggg??!!!  #hebohsendiri #misuhmisuh

Yah, karena saya cuma pembaca, jadi apa boleh buat. Saya hanya bisa manut tante Rowling. Makanya, saya cari pelarian yang lain dehh... Hoahahahaa...

If he did so, the whole story would be different, huh? xD


Makasih buat Melisa di Surgabukuku, yang udah ngadain event seru ini. Saya jadi sadar, kalo saya bukan penggemar Dramione sendirian... :') #terharu Soalnya, temen-temen saya yang diajakin ngobrol soal Dramione, pasti nggak ada yang setuju. Mereka nolak mentah-mentah dan mengatakan kalau Draco nggak cocok sama Hermione. Aih... Pilunya hatiku ini...
´╥ 



P.S Oh iya, fyi, saya juga pernah sebel banget sama James Potter, dan mikir kenapa Snape nggak sama Lily aja setelah nonton sebuah fanvid di yutub tentang Snape dan Lily. Sayangnya, sekarang itu fanvid udah nggak ada lagi... Padahal bagus dan dalem bangett... TT^TT


February 11, 2013

What’s in a Name Reading Challenge 2013: Januari

What’s in a Name Reading Challenge 2013
Tahun lalu, saya ikut juga challenge seperti ini yang sebelumnya di-host oleh Mbak Fanda. Kali ini, Ren di Ren’s Little Corner-lah yang punya challenge ini. Tantangannya adalah harus membaca buku-buku yang ada nama orangnya di judulnya. Saya ambil level 2: What’s in a Name yang berarti saya harus baca 10 buku yang ada nama orang di judulnya. Dan inilah apdetan saya:

Januari 
1.     Mark Sparks in the Dark (Jacqueline Wilson) 
2.  Harry Potter dan Batu Bertuah (J.K. Rowling) 
3.  Danny the Champion of the World (Roald Dahl)  
4. Lizzie Zipmouth (Jacqueline Wilson) 

Januari ini saya berhasil baca empat buku. Bulan Februari berapa buku, yaa...?

February 8, 2013

Rectoverso: Cinta adalah Tempat untuk Pulang


Rectoverso: 11 Cerita Pendek DEE by Dee
My rating: 3 of 5 stars

Akhirnya, bagai sungai yang mendamba samudra,
Kutahu pasti ke mana kan kubermuara
Semoga ada waktu
Sayangku, kupercaya alam pun berbahasa
Ada makna di balik semua pertanda
Firasat ini...
Rasa rindukah ataukah tanda bahaya?
Aku tak peduli
Kuterus berlari...


Sebelas cerpen. Sebelas lagu. Sebelas interpretasi. Sebelas hal yang menjadi satu, dalam sebuah buku kumpulan cerpen, lagu, dan foto. Dari sebelas itu, hanya beberapa saja yang saya benar-benar mengerti. Salah satunya cerpen "Firasat" yang entah kenapa meninggalan jejak lebih dalam buat saya.

Orang-orang bilang, disini Dee bercerita tentang cinta. Dan memang itu kenyataannya. Dan seperti cinta, karya Dee inipun tak mudah untuk saya mengerti. Ah, memang siapa yang bisa mengerti cinta? Bukankah seorang tokoh legendaris pernah berkata, "Sejak dahulu, begitulah cinta... Deritanya tiada akhir..." (yang tau quote ini darimana, berarti satu angkatan sama saya xD)

Entah kenapa setelah membaca buku Dee ini, saya jadi ingin menuliskan review dengan kata-kata yang indah dan puitis. Padahal, saya ini bukan penikmat puisi. Bagi saya, sebagian besar puisi hanya bisa dipahami oleh sang penulis dan Tuhan saja. Begitupun dengan kata-kata indah yang telah dirangkai Dee di dalam cerpen ini. Tapi toh, saya masih terkagum-kagum dengan keindahan bahasa yang digunakan Dee (meski saya nggak ngerti). Itukah kesamaan puisi dengan lukisan? Terkadang, semakin abstrak dan absurd karya itu, semakin orang terpukau karenanya... (versi pengamat sotoy nan amatir)

Satu hal yang saya pahami dari kumpulan cerpen ini. Cinta memang bukan hal yang mudah dipahami, tapi cinta adalah tentang menemukan muara yang membuat diri kita merasa nyaman berada di sana. Menemukan jalan pulang. Jalan menuju tempat yang membuat kita berada di tempat yang paling nyaman. Karena ada banyak cara untuk mencintai, dan yang terbaik adalah melakukannya dengan cara yang ternyaman bagi kita. Ada yang melakukannya dengan merelakan, membiarkan masing-masing berada di posisi nyamannya, atau hanya dengan menatap saja. Semuanya adalah bentuk cinta, semuanya adalah bentuk yang akan membuat kita menuju rumah.

Mereka yang kehilangan cinta akan merasa tidak memiliki tempat untuk pulang, dan menjadi terluntang-lantung karenanya. Tapi ada juga yang memiliki cinta itu, tapi masih tidak merasa di rumah. Adapula yang telah kehilangan orang yang dicintainya, tapi tetap merasakan bahwa mereka tidak kehilangan tempat pulang (bukan karena nggak cinta, tapi karena ada kekuatan besar lainnya bernama 'kepasrahan' dan 'penerimaan'). Dan saya pun berharap, suatu saat cinta--seperti apapun bentuknya nanti--akan membawa saya pulang ke tempat yang nyaman....

View all my reviews

February 5, 2013

Something Borrowed: Pilih Sahabat atau Cinta?


Cinta yang Terpendam by Emily Giffin
My rating: 2 of 5 stars

Tidak semua orang memiliki sahabat. Dan tidak semua orang memiliki sahabat dari kecil, dan separuh lebih hidupnya dihabiskan dengan sahabatnya itu. Seperti Rachel dan Darcy. Mereka telah bersahabat dari kecil, hingga kini menginjak usia 30 tahun.

Rachel lebih tua beberapa bulan dari Darcy, jadi dialah yang lebih dulu menginjak usia 30. Beberapa tahun sebelumnya, ia membayangkan bahwa di ulang tahunnya yang ke-30, ia sudah menikah dengan pangeran pujaan hatinya, dan memiliki beberapa orang anak. Tapi, kenyataan memang nggak seindah itu. Rachel masih single, tak punya pacar, tak punya gebetan, tak punya pekerjaan yang disukainya, dan yah bisa dibilang nasib sedang nggak memihaknya.

Sekarang kita pindah ke Darcy, sahabat sejati Rachel. Di usianya yang menjelang 30, Darcy sudah punya tunangan dan akan segera menikah. Lelaki yang akan dinikahinya bernama Dexter, seorang esmud muda, tampan, dan punya kedudukan bagus di pekerjaannya. Darcy juga punya pekerjaan yang menyenangkan, berkat kemampuan personalnya yang memang lebih. Dan Darcy lebih cantik, lebih ramping, dan lebih bahagia dari Rachel....

Hingga terjadilah kejadian itu...

Di ulang tahunnya yang ke-30, Rachel tidur dengan tunangan Darcy. Rachel-nya agak mabuk sih... Tapi Dex nggak, yang bikin Rachel jadi ketar ketir. Rachel merasa bersalah pada Darcy, karena telah mengkhianati sahabatnya, meskipun berkat Rachel-lah Darcy jadi kenalan, jadian, terus tunangan sama Dex. Karena Dexter adalah teman Rachel ketika kuliah dulu....

Tapi, memangnya Darcy bener-bener sahabatnya sejatinya Rachel? Kalo iya, kok dulu dia ngerebut cowok yang disukai Rachel? Terus, kenapa Darcy sengaja milih universitas yang dipilih Rachel (bukan karena mau terus sama sahabatnya itu, tapi ingin membuktikan kalau dia juga bisa)? Kenapa juga setelah lebih dari 20 tahun mereka bersahabat, Rachel selalu merasa menjadi pihak yang dirugikan, kalah, dan menangis sendirian di pojokan? Kenapa? Bukankah sahabat itu harusnya tetap setia meskipun dalam suka dan duka? Terus, kenapa Rachel tau banyak hal tentang Darcy, tapi Darcy nyaris nggak tau apa-apa tentang hal-hal yang Rachel sukai?

Hufft... Baca buku ini benar-benar menguras emosi saya. Awalnya, saya sempat simpati sama Rachel, si tokoh utama yang merasa dirinya nggak punya kelebihan apa-apa, nggak secantik Darcy, nggak selangsing Darcy, dan apa-apa selalu kalah dari Darcy. Tapi, lama-lama saya jadi kesel juga sama si Rachel ini. Soalnya, perlakuan nggak adil yang diterima dia dari sahabatnya itu seakan jadi pembenaran atas perselingkuhannya dengan tunangan sahabatnya.

Darcy. Cewek yang memiliki segalanya. Tubuh langsing, wajah cantik, punya pekerjaan yang enak dan bergaji besar padahal dia nggak pinter-pinter amat, dan punya tunangan yang super tampan. Kelakuan si Darcy ini juga sama nyebelinnya sama Rachel. Darcy itu seolah nggak bisa melakukan apapun tanpa bantuan Rachel. Jenis bantuan yang diminta Darcy bukan jenis bantuan pada sahabat, tapi lebih mirip ke pembantu. Dan Rachel, dengan begonya juga menuruti kemauan Darcy... Wajar aja. Soalnya, siapa sih yang bisa menolak kemauan Darcy? Darcy kan nggak pernah tau gimana rasanya berbagi, berkorban, dan mengalah. Lagiian, hey! Dia kan pusat tata surya, jadi semua planet harus tunduk berputar mengelilinginya...

Lalu, Dexter. Si eksekutif muda super tampan yang jadi tunangan Darcy, tapi demen sama Rachel juga. Dexter itu teman kuliah Rachel di sekolah hukum dulu (Iya, Rachel itu otaknya emang pinter, tapi dia itu super bego untuk hal-hal lainnya). Buat saya, Dexter adalah lelaki nggak punya pendirian yang nggak bisa dipercaya. Dia suka sama Rachel, tapi nggak mau pisah dari Darcy juga. Benar-benar tipe cowok yang nggak bisa ngambil keputusan, yang bikin saya pengen teriak pake TOA super gede di kupingnya.... -____-

Selain tiga tokoh di atas, ada juga tokoh-tokoh lainnya seperti Ethan, Hillary, dan Claire yang turut mengisi keseharian hidup Rachel dan Darcy. Saya sih heran banget, si Rachel kok masih mau-maunya gitu sahabatan sama Darcy. Bukan, bukan karena si Darcy ini kelakuannya buruk banget (yah, itu juga salah satunya sih xp), tapi karena udah jelas-jelas Darcy ini nggak cocok jadi sahabatnya Rachel...

Seperti kata Ethan, persahabatan Rachel dan Darcy itu bersifat dekstruktif. Tanpa disadari, mereka saling menghancurkan satu sama lain. Hhmm.. Darcy sadar sih kayaknya, Rachel aja yang terlalu bego untuk memahaminya... -__- (Tuh kan! Udah berapa kali saya ngeluarin kata b*go itu di review ini?! O.o) Abisan, si Rachel itu bener-bener ngeselin banget sih. Apa salahnya coba sekali-sekali menolak dengan tegas permintaan Darcy? Emangnya terus bumi bakal kiamat gituh?

Sebenarnya, persahabatan mereka berdua ini mengingatkan saya dengan orang-orang yang pernah dekat dengan saya dulu. Jadi, sebenarnya saya itu tipenya lebih mirip ke Rachel. Pendiam, nggak suka debat, lebih milih ngalah daripada ribut (kecuali kalo lagi berantem sama adek sendiri xp), dan juga pendengar yang baik. Yah, pokoknya plegmatis banget deh...

Dulu, saya pernah punya teman yang sangat dekat dengan saya. Kami sering kemana-mana bersama. Saya selalu dengerin curhatan dia. Saya selalu dengerin keluhan dia. Saya dengerin kisah dia dengan gebetannya. Loh? Terus giliran saya kapan dongg?? Itu dia. Saking dominannya dia, saya sampai nggak punya waktu untuk cerita tentang diri saya. Tentang keadaan di rumah saya. Tentang cowok yang saya suka waktu itu. Tentang banyak hal. Alhamdulillah kami 'dipisahkan' oleh waktu dan keadaan, dan sekarang saya pun bersyukur karenanya...

Lalu, saya ketemu lagi dengan orang yang setipe dengan teman saya dulu itu. Dia juga sering curhat sama saya. Cerita tentang pacarnya, tentang pekerjaannya, tentang banyak hal. Tapi, lagi-lagi saya nggak punya waktu untuk cerita tentang diri saya. Hhmm.. Bukan nggak punya waktu juga sebenarnya, tapi karena saya yakin banget kalopun saya cerita, dia nggak bakal naruh perhatian penuh ke saya. Sudah pernah saya buktikan, dan saya nggak mau mengulanginya lagi.

Satu lagi hal yang nggak saya suka dari dirinya... Dia kerap memaksakan keinginannya ke saya. Padahal saya nggak mau dan saya sudah pernah bilang. Padahal, apa yang dia coba jejalkan itu sebenarnya adalah obsesinya yang nggak kesampaian, dan puka obsesi saya. Hingga suatu hari, alhamdulillah lagi-lagi Allah masih baik sama saya, jadi saya dipisahkan dari dia. Awalnya dia masih rutin mengontak dan menelepon saya, tapi saya sedikit demi sedikit membatasi pertemanan kami...

Terus, Tuhan nggak baik dong sama Rachel?

Sebenarnya sih, menurut saya Rachel punya kesempatan untuk menjauh dari Darcy, ketika dia keluar dari kampung halamannya untuk kuliah di NYC. Tapi, kemudian Darcy datang menyusul Rachel, dan kembali mengganggu hidup Rachel. Saya sendiri nggak yakin harus bersikap kayak gimana sih ya, kalo 'sahabat' yang udah saya tinggalkan terus ujug-ujug dateng, minta bantuan, dan ngerepotin saya lagi. Apalagi, mereka satu kampung halaman, dan keluarga mereka saling mengenal... Tapi, kalau saya jadi Rachel, mungkin juga saya akan mengambil tindakan revolusioner: pergi ke tempat dimana nggak ada Darcy di sana.

Serius deh.. Rachel kan udah idup selama 30 tahun, dan beberapa tahun di New York jauh dari sahabatnya. Harusnya dia udah bisa memilih-milih sendiri lah, mana orang yang pantas jadi sahabat dan mana yang nggak.... Toh, ada berjuta alasan yang bisa dikarang supaya dia bisa jauh-jauh dari Darcy. Toh, Rachel jadi jago berbohong setelah selingkuh sama Dexter...

Terus, bagian perselingkuhan Rachel dan Dexter juga bikin saya muak. Soalnya, seburuk apapun Darcy sebagai seorang sahabat, dia tetap aja nggak pantas mendapat perlakuan seperti itu. Darcy memang pantas ditampar oleh Rachel, tapi bukan ditusuk dari belakang kayak gitu.

Lagian, kok saya pikir, hubungan antara Rachel dan Dex itu bukan cinta ya? Itu cuma nafsu yang mengatasnamakan cinta, seperti "serigala berbulu tangkis" eh "serigala berbulu domba" itu lho.. Soalnya, si Dex kan udah tunangan sama Darcy selama tujuh tahun ya. Berarti, dia kenal sama Darcy lebih lama lagi dong.. Katakan dua tahun. Berarti lagi, dia kenal sama Rachel-nya juga udah lebih lama lagi dong? Soalnya, yang dikenal sama Dex duluan kan emang Rachel, bukannya Darcy...

Okelah kalau misalnya Dex suka sama Rachel, tapi kenapa harus nunggu selama itu buat menyadari kalau dia cinta sama sahabat tunangannya? Si Rachel juga.. Kemana aja dia tahun-tahun yang lalu, sampe berani bilang kalau dia cinta mati sama Dex, padahal beberapa bulan lagi dia dan sahabatnya akan nikah? Apa coba namanya kalo bukan nafsu, hah?! #ganyante

Udah gitu, si Dex juga nggak bisa memutuskan mau sama yang mana lagi... Dan si Rachel juga nggak tegas dan berani dalam hubungan mereka yang seperti itu. Haduuhh... Benar-benar bikin esmosi jiwa deh. Jadi, siapa yang akan dipilih Dex? Apa yang akan dipilih Rachel, persahabatan atau percintaan?

Dari segi penulisan, novel "Cinta yang Terpendam" alias "Something Borrowed" ini ditulis dengan bagus. Ringan dan mengalir. Banyak kata-kata indah bertebaran di dalamnya, yang bakalan jadi kutipan oke, seandainya saya suka sama karakter-karakternya... xp Tapi, apa boleh buat. Temanya nggak bisa saya terima. Bukan jenis yang saya suka. Saya emang nggak suka sama tema selingkuh-selingkuhan gitu. Heran aja dengan betapa gampangnya manusia bilang "Aku cinta kamu" di saat ini, tapi nggak berapa lama kemudian melupakan ikrar itu dan berpaling ke yang lainnya. Orang setampan, secantik, sesukses, atau sekaya apapun nggak ada artinya kalau dia nggak bisa menjalin komitmen...

Dan, kalo baru pacaran aja udah maen selingkuh-selingkuhan, gimana kalo nikah coba? Saya sih percaya, hubungan yang didasarkan pada kebohongan nggak akan bertahan lama, karena bau busuk itu selalu tercium di manapun ia disembunyikan...

Terakhir, saya mau ngomong sama Rachel:
"Hei, Rach. Sekali-sekali, berhenti deh ngeliat kehidupan orang dari kacamatamu. Karena apapun yang kau lihat nggak akan terlihat adil. Dan nggak akan pernah jadi seperti itu..." #sambiljoroginrachelkelaut

Hhhmm... Buku ini ternyata masih ada lanjutannya, yang diambil dari sudut pandang Darcy? Kayak gimana ya ceritanya? Jadi penasaran... Jadi, meskipun ini pertama kalinya saya baca bukunya Emily Giffin, tapi saya masih tetap menyimpan keinginan untuk baca kelanjutannya. Yah, semoga aja nggak mengecewakan saya.. Huehehee

Oh iya, makasih buat Oky dan Esensi, karena berkat merekalah buku ini ada di tangan saya buat saya baca. Maaf ya, soalnya bukunya ternyata nggak sesuai sama selera saya. Moga-moga nggak kapok ngasih buku lagi.. Huehehee... #ditimpukbuku #narikegirangan #monolog

P.S. Buku ini saya baca di bulan Januari, tapi baru sempet bikin ripiunya sekarang. Jadi, masih bisa masuk itungan challenge-nya Ren di Ren's Little Corner ini duumzzz...



February 4, 2013

Ingin Muffin Asmara? Ke toko Bliss saja...


Bliss by Kathryn Littlewood
My rating: 2 of 5 stars

Di sebuah kota kecil bernama Calamity Falls, hiduplah sebuah keluarga yang mengelola sebuah toko roti yang mungil. Bliss Bakery namanya. Diambil dari nama keluarga mereka, Bliss. Toko roti dan kue ini adalah toko satu-satunya yang ada di kota itu, dan mereka mengemban tugas suci untuk mengatasi kelaparan warga kota setiap harinya... Jadi, tugasnya si Bliss Bakery ini seperti tukang bubur dan tukang nasi uduk di deket kantor saya, yang memenuhi hajat hidup orang banyak ya.. xD

Segala jenis muffin, cake, ataupun cookie yang lezat bisa kau dapatkan disini? Muffin apa yang kau suka? Rasa wortel dedak seperti Mr. Bastable? Atau muffin blueberry yang lezat dan segar di mulut? Atau mungkin kau lebih suka cheese cake yang lembut dan cookies cokelat yang renyah?

Atau jangan-jangan kau sudah bosan dengan semua kue 'biasa' di atas dan ingin mencoba sesuatu yang berbeda? Misalnya, kau ingin mencicipi segigit muffin asmara yang terbuat dari labu hijau dan telur Burung Cinta Bertopeng, roti berbahan halilintar yang akan menyembuhkanmu dari sengatan petir, atau ingin memberikan temanmu cookies kebenaran--agar dia ta berbohong lagi--yang terbuat dari nafas tidur lembut seseorang yang tak pernah berbohong?

Meskipun terdengar aneh, tapi percayalah bahwa keluarga Bliss sanggup membuat makanan-makanan di atas. Mereka bahkan bisa membuat cheesecake labu yang mampu menyembuhkan flu babi!

Ya, keluarga Bliss memang keluarga yang ajaib. Keluarga yang terdiri dari Albert dan Purdy, serta keempat anak mereka: Thyme, Rosemary, Sage, dan Parsley, ini telah mengelola toko kue kecil di sebuah kota kecil di Amerika, berkat bantuan sebuah buku resep kuno yang diwariskan turun temurun di keluarga itu.

Suatu hari, Albert dan Purdy harus pergi ke kota sebelah, yang penduduknya sedang terserang flu musim panas. Mereka menyerahkan tanggung jawab toko pada Rose, sang putri tertua, yang memang paling rajin membantu orang tua mereka. Soalnya, si sulung Ty yang teramat tampan, terlalu sibuk dengan urusan remaja ngga pentingnya, sedangkan Sage terlalu heboh hingga tak mungkin diserahi tanggung jawab itu. Lalu Leigh? Dia masih 3 tahun, jadi mana mungkin bisa membantu?

Rose, seperti layaknya anak seusianya, selalu merasa minder dengan dirinya. Ia merasa kalalu dirinya tak semenawan kakak lelakinya, ataupun seimut adik perempuannya. Oh iya, jadi si Sage itu cowok sedangkan Parsley alias Leigh itu cewek. Namanya agak aneh sih ya, jadi nggak ketauan jenis kelaminnya deh... ^^; (kecuali si Rose). Tapi, saya suka sama nama-nama unik anak keluarga Bliss ini.

Okay, balik ke Rose. Rose itu merasa dirinya nggak cantik, padahal dia punya bakat bikin roti (nggak nyambung ya? bodo.. xp). Ya, singkatnya... Kedua orang tua Rose memberikan sebuah kunci kecil kepada Rose. Kunci itu menyimpan apa yang dilindungi oleh keluarga itu selama bertahun-tahun, sebuah buku resep bernama "Bliss Cookery Booke".

Selama membantu orang tuanya di dapur, Rose sebenarnya yakin bahwa mereka menggunakan sihir ataupun hal ajaib lainnya selama membuat kue. Tetapi, kedua orang tua Rose tak pernah mengakuinya. Padahal, Rose melihat sendiri bagaimana Purdy sang ibu mengambil halilintar dan memasukkannya ke dalam botol kaca ketika ia masih berusia sepuluh tahun. Kini, setelah diberi tanggung jawab untuk menjaga buku resep itu, Rose makin yain kalau keluarganya memang menambahkan sihir untuk resep-resep mereka. Sayangnya, kedua orang tua Rose nggak mengizinkan Rose membuka buku itu, apalagi mempraktikkannya. Mereka memberi Rose kunci itu, hanya untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang tidak diinginkan menimpa toko mereka. Jadi, Rose bisa menyelamatkan harta keluarga itu.

Setelah kedua orang tua Rose pergi, rumah keluarga Bliss tiba-tiba kedatangan seorang tamu. Dia adalah Lily, wanita cantik nan menawan, yang mengaku sebagai bibi mereka. Dalam sekejap, Lily mampu memikat Ty dan Sage. Ia juga sangat pandai memasak dan membuatkan mereka masakan luar biasa serta membantu Rose menjalankan toko roti itu.

Namun, benarkah Lily memang bibi mereka? Lantas, mengapa ia tiba-tiba datang ketika orang tua mereka nggak ada di rumah? Kenapa juga orang tua mereka tak pernah cerita tentang orang yang mengaku sebagai saudara jauh itu? Dan kenapa juga Rose tak sanggup cerita kepada orang tua mereka (melalui telepon) tentang kedatangan Lily? Dan mengapa Ty serta Sage tampak sangat terpikat sementara Rose tidak? Apa Lily menggunakan semacam sihir, atau memang seperti itulah fitrahnya seorang remaja lelaki yang sedang puber? Temukan jawabannya di buku ini.. :D

Awal melihat buku ini, saya langsung terpikat dengan sampulnya yang tampak 'magis'. Apalagi ada tambahan warna biru-biru di halamannya, yang bikin buku ini semakin menarik. Ditambah lagi dengan ide cerita yang tampak unik, cerita fantasi-sihir-pake-makanan-enak... Gimana saya nggak tergoda coba? #lapiler

Sayangnya, ternyata jalinan cerita yang ada di dalamnya nggak mampu memikat saya sebagaimana covernya telah memikat relung terdalam di hati saya... #tsaahh Saya nggak terlalu suka dengan tokoh-tokohnya. Rose terlalu rendah diri, hanya karena merasa dirinya nggak semenarik saudara-saudaranya. Oh, come on! Kalau keluarganya dia menawan semua, mana mungkin kau jelek sendirian nak! Memangnya kau ugly duckling ya? O.o

Lalu si kakak lelaki Rose juga menyebalkan. Entah karena si orang tua mereka yang terlalu banyak mengandalkan Rose atau memang si Ty ini anak yang manja, yang jelas menurut saya si Ty ini benar-benar ngga bisa diandalkan banget. Yah, selain ketampanannya yang bikin cewek klemar klemer.. -__- Udah gitu, dia dengan gampangnya tergoda sama Bibi Lily yang menawan sampai nggak menaruh curiga sama sekali sama cewek itu.

Tapi, lebih dari semuanya, saya paling sebel sama orang tuanya Rose. Kalau mereka memang menggunakan sihir di dapur, ya kenapa si anak-anaknya nggak dikasih tau coba? Okelah Sage sama Leigh emang masih kecil, tapi Ty yang udah 15 tahun kan udah bisa dikasih tanggung jawab. Begitupun dengan Rose, yang memang sudah terlihat dewasa. Apa salahnya memberikan pengertian kepada anak mereka tentang bisnis yang mereka jalankan. Tentang buku resep yang harus dilindungi itu, atau tentang anggota keluarga mana yang patut dipercaya dan mana yang nggak. Apa karena si Albert dan Purdy ini benar-benar menganggap anak-anak mereka masih bocah semua ya? Yang jelas, saya langsung merasa nggak simpati dengan mereka berdua setelah kata-kata yang diucapkan oleh sang ibu kepada Rose di akhir cerita. Seriously, yang kanak-kanak itu sebenarnya mereka deh! -,-

Oh iya, bagian Albert dan Purdy harus nyembuhin flu di kota sebelah selama seminggu itu kayaknya berlebihan banget deh. Kan cuma kota sebelah, tiga hari juga udah cukup. Apalagi ini cuma bikin croissant doang, bukan bikin dapur umum, apalagi jadi petugas palang merah... O.o Weird...

Saya hanya bisa menikmati buku ini separuhnya saja, sampai Ty dan Rose berusaha untuk mengembalikan keadaan yang telah mereka buat (setelah bikin muffin asmara dan cookies kebenaran) kembali seperti semula. Bagian Ty merayu cewek-cewek sekelasnya yang tersihir muffin asmara itu benar-benar lucu. Setelahnya, alurnya terasa sangat lambat dan bertele-tele. Dan jujur, saya sangat bosan membaca bagian tentang betapa-menakjubkannya-bibi-lily-dan-betapa-nggak-bergunanya-Rose.

Sebenarnya saya kasihan sama Rose, karena dia harus disadarkan bahwa dia istimewa, justru melalui anggota keluarga yang baru dikenalnya. Buat saya pribadi, saya merasa orang tua Rose telah gagal. Yah, itu pendapat sotoy saya aja sih... xp

Hufft, buku kedua dari penulis baru yang saya baca di tahun 2013 ini tampaknya belum mampu memuaskan saya. Teman saya bilang, saya terlalu berekspektasi dan membandingkannya dengan Harry Potter. Well, saya tidak pernah membandingkan buku yang saya baca dengan buku yang lainnya, apalagi ketika temanya benar-benar berbeda. Buktinya, saya bisa menikmati kisah-kisah fantasi karya pengarang lainnya tanpa harus terbayang-bayang dengan Harry Potter di benak saya. Lagipula, pada awalnya saya sendiri cukup menaruh harapan pada buku ini. Namun sayangnya, ternyata tidak memenuhi ekspektasi saya. 

Ya, buku ini tampaknya--mulai dai gaya bercerita dan segala macamnya (kecuali covernya)--memang nggak cocok buat saya, jadi saya nggak bisa menikmatinya seperti teman saya itu.... Meskipun begitu, melihat sinopsisnya di Goodreads, tampaknya saya masih menyimpan harapan untuk buku keduanya, deh. Tapi, kali ini pinjam aja lah... xp

Buku ini diikutkan dalam event FYE di blog Bacaan Bzee. Mengingat perkembangan ceritanya, sepertinya buu ini masuk ke bildungromans juga, jadi masih masuk ke kategori FMs 1. Oh iya, menilik dari ceritanya, tampaknya buku ini bisa dibaca oleh anak-anak di atas usia 12 tahun. Cuman, ati-ati aja biar nggak ikutan galau kaya Rose xD



Nah, karena ini pertama kalinya saya baca bukunya Kathryn Littlewood, jadi dia masuk ke dalam challenge saya yang ini...


Dan yang terakhir... Ternyata buku ini juga masuk ke challenge yang ini, karena Bliss adalah nama keluarga mereka! Yuhuu...