March 21, 2013

Surga di Balik Pintu Harmonika


Pintu Harmonika by Clara Ng
My rating: 4 of 5 stars

Ketika mendengar kata surga, otak saya langsung berkelana dan mulai berimajinasi ke tempat terindah yang saya impi-impikan. Saya membayangkan diri saya sedang duduk di antara hamparan padang bunga yang maha luas. Bunga-bunga tercantik di dunia dengan beraneka warna, berada di sekeliling saya, dengan sejuta keharuman yang menyesakkan dada (dalam arti yang baik tentunya).

Di kejauhan, ada sebuah gunung salju yang tinggi menjulang, dengan latar langit biru cerah yang membentang tak terbatas. Di antara padang bunga itu, tak jauh dari tempat saya berada, ada sungai yang mengalir. Airnya sangat jernih, dan ada bebatuan di dasarnya. Di "surga saya", tidak hanya ada satu sungai yang mengalir. Ada sungai-sungai lainnya, yang memiliki rasa beraneka rupa. Sungai rasa madu, rasa susu, sampai rasa pocari sweat (eh, tapi saya nggak gitu doyan sih... Mendingan rasa Mogu-mogu aja... #loh xp).

Tentunya saya nggak sendirian di "surga saya" itu. Karena kalau sendirian, bukan surga namanya. Di sana, saya dikelilingi oleh orang-orang yang saya cintai. Keluarga saya, sahabat-sahabat saya, dan juga kucing-kucing saya yang sudah meninggal. Saya bebas berlari, bermain, juga membaca. Kalau lapar, tinggal kedip, dan voila terhidanglah aneka makanan yang saya suka. Tidak ada kesedihan. Tidak ada penderitaan. Tidak ada duka cita. Hanya kebahagiaan yang abadi yang ada di sana.

Itu adalah surga yang ada di dalam bayangan saya. Di bayangan orang lain, tentu saja berbeda. Saya pernah dengar, kalau bagi orang Arab, surga itu berupa pegunungan yang hijau dengan pepohonan. Ya... kayak yang di puncak itulah... (makanya mereka demen ke sana xp). Lalu bagi orang Mongol yang nggak punya laut, surga mungkin berbentuk lautan yang sangat biru, berkarpet pasir putih yang lembut, ditambah pohon kelapa yang berjajar. Bagi orang barat juga, sih ya... Soalnya kan kata "paradise" sering diasosiasikan dengan lautan biru yang tenang.

Yah, intinya, bagi setiap orang, surga mungkin memiliki bentuk yang berbeda-beda. Tapi, semua pasti setuju kalo denger kata "surga" yang diinget pasti yang indah-indah. Yang cantik-cantik. Kalo yang jelek-jelek, buruk-buruk, nggak menyenangkan, udah pasti deh punyanya si neraka.

Terus, apa hubungannya surga dengan novel "Pintu Harmonika" ini?

Hubungannya ada, dong. Soalnya ini adalah novel tentang Surga. Surga dengan "S" besar. Tiga tokoh utama di novel ini bercerita tentang Surga. Siapa sajakah mereka? Berikut liputan lengkapnya.... #pegangmik #natapkamera

Penghuni Surga yang pertama namanya adalah Rizal. Nama lengkapnya Rizal Zaigham Harahap. Kalo di Twitter dikenal dengan @rizal_bruce_lee. Nggak kenal? Berarti kalian nggak gaul. Soalnya, si Rizal ini seleb Twit dan seleb dunia maya. Fansnya... beuh. Bejibun. Bahkan mereka sampe bikin geng sendiri yang dikasi nama "Rizal's Angels", soalnya si Rizal ini emang cakep. Gimana nggak cakep, orang bapaknya itu tukang kelontong paling cakep se-Jabodetabek. Huehehe...

Menurut saya, Rizal ini pribadi yang unik. Dia adalah fenomena di kalangan remaja. #tsaahh (ikutan Rizal) Sebagai seorang abg labil, jelas kalo stok pedenya dia itu nggak abis-abis. Dia juga humoris, ganteng, dan katanya sih #anti #pencitraan. Hobinya Rizal itu ngegym sama jalan-jalan ke luar negeri sama bokap semata wayangnya (eh?). Pokoknya kalo baca blognya dia, pasti mupeng abis deh. Hoahaha...

Kisah si Rizal ini bener-bener bikin saya senyum-senyum sendiri. Lucu banget. Gaya ngomongnya dia ceplas-ceplos, tapi cerdas. Oh iya, saya belom ceritain soal arti Surga bagi Rizal. Bagi si Rizal, Surga itu tempat dia bisa ngetwit dan ngeblog dengan hati senang dan hati riang. Dia bisa lepas sejenak dari rutinitas membantu bokapnya di toko kelontong mereka. Biarpun si Rizal ini keliatannya happy-happy aja, tapi sebetulnya dia ini lumayan peka. Dia yang pertama sadar kalo ada apa-apa sama si Juni (penghuni Surga lainnya). Kisahnya Rizal juga bikin saya terharu, terutama ketika dia cerita tentang ibunya. Saya kasih bocoran sedikit, ya.. Ibunya Rizal ini meninggal dunia, tepat sebelum mereka pindah ke ruko baru mereka. Bagi ibunya Rizal, ruko itu adalah impian mereka sekeluarga. Sayang, belum sempat 'mencicipi' beliau sudah dipanggil Yang Mahakuasa... Hiks :'(

Penghuni Surga selanjutnya namanya Juni Shahnaz. Bapaknya punya toko sablon, persis di sebelah toko kelontongnya Om Firdaus, bapaknya Rizal, si om-penjual-toko-kelontong-paling-ganteng-sejadebotabek. Juni ini puinter buangett. Tampangnya juga culun. Itu sebabnya dia suka dibully di sekolahnya. Untungnya ada Bruce Lee yang mengambil wujud Rizal (boong... yg bener Rizal doang yg ngarep bisa kayak Bruce Lee... xp), yang membantu Juni.

Jadi, si Suhu Rizal ini ngajarin Juni bela diri. Dia nggak suka ngeliat Juni diem aja digencet sama kakak kelasnya. Juni harus ngelawan. Juni pun melawan, tapi ironisnya, perlawanan dia itu justru menjadi bumerang di masa berikutnya, hingga berujung pada diskorsnya gadis-abg-baru-puber itu.

Keadaan semakin keruh karena bisnis toko sablon bapaknya Juni, Om Niko, lagi nggak bagus. Dan bisa dibilang, Juni-lah salah satu penyebab bisnis bapaknya jadi nggak lancar. Udah gitu, namanya juga ABG, Juni lagi 'seneng-senengnya' jadi pemberontak. Yah, bukannya seneng juga sih, tapi namanya juga abg, pasti suka galau-galau gimanaa gituh... Si Juni ini sedang dalam kebingungan, dalam rangka mencari jati dirinya yang sesungguhnya. Dan, Surga-lah tempat ia bisa merenungkan makna kehidupannya. #assiikk

Oh iya, si Juni ini demen banget baca kisah-kisah detektif. Mulai dari "Detektif Conan", kasus-kasus serial "Detektif Cilik Hawkeye Collins" dan "Amy Adams" (yang dua belakang saya nggak kenal.. hehehe), dsb. Klo lagi di Surga, doi demennya baca buku-buku begituan. Biasanya ditemenin sama si David, bocah cilik tetangga, yang juga gemar sama cerita-cerita detektif.

Nah, sekarang mari kita kenalan sama penghuni Surga yang terakhir. Namanya David Hadijaja (tapi di halaman depan ditulisnya David Hadidjaja..) alias David Edogawa. David ini paling kecil di antara mereka bertiga. Sama kayak Juni, dia demen banget baca cerita detektif. Kalo udah ketemu sama Juni di Surga, mereka pasti duduk anteng diem, masing-masing baca komik. Sementara si Suhu alias Master Rizal asik bercengkrama dengan para fansnya di dunia maya.

Si David ini tinggal sama ibunya, Imelda, di sebuah toko kue, yang masih masuk jajaran ruko itu. Letak rumahnya David sebelahan sama Juni. Jadi urutannya, ruko kelontong, ruko sablon, sama ruko bakery. Tante Imel ini single mother. Dia ditinggal lari sama bapaknya David, pas David masih di dalam kandungan. Si bapaknya David yang tukang judi, kabur sama cewek lain, setelah sebelumnya mencuri uang milik ortunya sendiri, yang nggak lain dan nggak bukan adalah mertuanya Imel. Jadilah Tante Imel harus menanggung hidupnya sendiri, dan jabang bayi yang ada di perutnya...

Untungnya, Tante Imel ini jago bikin kue. Dia pun bikin usaha kue sendiri. Kuenya Tante Imel itu unik, soalnya bentuknya malaikat. Malaikat yang lagi senyum. Kue itu pernah menolong Rizal dulu, pas lagi kangen sama mamanya.

Kisah David ini yang paling misterius. Sesuai sama David yang suka hal-hal berbau misteri. Jadi, pada suatu hari, ketika David terbaring sakit di rumahnya, dia mendengar bunyi keras di atap rumahnya. Dia pun melihat sekelebatan bayangan hitam misterius muncul di hadapannya. Kejadian itu kemudian berujung pada ditemukannya sebuah sayap hitam yang agak besar, dan berpendar indah.

Misteri itu sempat membuat David bingung. Apalagi, tepat di saat itu, dia melihat dua 'kakak'-nya, Rizal sama Juni, mengendap-endap di luar rumah pada pagi-pagi buta! Mau ngapain mereka? Lagi menjalankan misi apa? Kok dia nggak diajak? Dia kan bukan anak kecil lagi! Dia udah gede!! Misteri kehidupan David semakin rumit ketika Tante Imel terlihat semakin layu, lemah, dan nggak bergairah. Seakan-akan mamanya itu menyusut dalam sekejap! Apa mungkin papanya David yang tukang judi itu kembali dan ingin merenggut kebahagiaan mereka?

Yakyakyak... Sebelum saya berpanjang lebar, mendingan diudahin aja ceritanya. Sekarang saya mau bahas dikit-dikit (ya ampyun, masih belom selesai juga? sabar yaa... xp)...

"Pintu Harmonika" ini ceritanya sederhana banget. Tema ceritanya sih, utamanya menyorot ke kehidupan anak-anak dan remaja. Dimulai dari Rizal (yang menurut penerawangan saya duduk di kelas 2 SMA.. eh, maksudnya kelas 11), terus si Juni yang masih SMP, sama si David yang masih esde. Ketiga anak ini disatukan oleh Surga, sebuah suaka kecil di tengah kehidupan mereka. Surga itu penting banget keberadaannya bagi mereka bertiga, sampe mereka rela melakukan hal nekat, supaya tempat itu nggak direnggut dari mereka.

Gaya bercerita novel ini dibagi jadi tiga bagian dengan tiga sudut pandang, yaitu dari sudut pandang Rizal, Juni, sama David. Ada prolog sama epilog juga buat memberi gambaran permasalahan awal dan penyelesaiannya. Dari masing-masing sudut pandang, kita bisa tau sifat mereka kayak gimana, juga orang-orang di sekitar mereka. Saya paling suka sudut pandang Rizal, si ababil yang eksis luar biasa di dunia maya. Hihihiii

Dari segi bahasa, saya suka banget gaya penulisan Clara Ng dan Icha Rahmanti. Bahasanya teratur, diksinya juga oke. Yang agak mengganggu mungkin lumayan banyak pake kosakata Inggris kali, ya... Tapi, mungkin emang ABG sekarang gitu kali, ya? Demen pake kata-kata berbau Inggris. Malah si David yang di kepala saya bahasa Indonesianya buagus banget dan nggak kayak tulisan anak SD.

Satu hal yang mengganggu dari novel ini adalah banyaknya typo dan ketidak konsistenan kata. Misalnya di awal, kata maghrib ditulis dengan huruf kecil. Eh, dua halaman setelahnya ditulis dengan huruf besar. Terus, peletakan tanda bacanya juga nggak tepat. Masa di akhir kalimat dikasih spasi dulu baru titik .(ya, kayak begitu... setelah titik ada yang langsung nempel sama kalimat yang baru) Selain itu, masalah pemenggalan kata juga ada beberapa yang nggak tepat. Belum di akhir baris, tapi udah ada tanda sambung (-) untuk memenggal kalimat. Jumlah itu semakin banyak di akhir-akhir buku, bikin saya rada-rada nggak khusyuk bacanya, padahal itu merupakan inti cerita. Heehe.. bawel, yak saya? xp

Terus, satu typo yang fatal typo adalah mengenai nama David. Di halaman 13 tertulis kalo namanya "David Christian Hadidjaja" tapi di bab-bab bagian kisah David, namanya tertulis "David Christian Hadijaja". Saya sempet bingung tuh. Itu namanya si David dipanggilnya "Jaja" kayak Jaja Miharja apa "Yaya"? Yang manapun itu, semuanya terdengar aneh di telinga saya. Yah, mungkin penerbitnya lagi dikejar deadline, dan harus segera nerbitin buku ini kali, ya... Jadinya banyak typo deh. Tapi, sayang banget sebenernya kalo buku sebagus ini banyak typo-nya. Buat orang kayak saya yang "rewel" dengan tanda baca dsb., lumayan mengganggu... Hehehe...

Makanya, saya nggak mau baca buku yang nggak ada editornya, soalnya yang ada nanti saya malah bawel ngomentarin kesalahannya, bukan isi ceritanya... xp

Btw, novel ini katanya sih diangkat dari naskah film. Sutradaranya Luna Maya, Sigi Wimala, sama Ilya Sigma. Tapi belom tau kapan diputernya. Hhmm... Saya penasaran sih sama filmnya, pengen liat perwujudan orang-orang aslinya. Terutama penasaran banget sama Om Firdaus, Rizal, sama David. Tapi, kenapa Luna Maya ya sutradaranya? Ah, ya sudahlah.. Kita tunggu saja nanti tanggal mainnya....

Sekian

Dan terima kasih.... 

Eh, tunggu sebentar. Karena ini mau diikutkan ke review FYE di blognya Bzee, jadi saya mau kasih penerawangan, buku ini cocok dibaca untuk kalangan apa saja. Meskipun kata Luna Maya di sampul belakangnya, buku ini cocok dibaca semua umur, tapi kalo menurut saya sih, minimal dibaca usia 8 tahun ke atas kali ya.... Soalnya bahasanya agak-agak ribet kalo mau dibaca sendiri. Apalagi dia pake tiga sudut pandang yang berbeda gitu. Saya nggak yakin sih kalo anak-anak yang terlalu kecil bisa ngerti dengan perubahan sudut pandang ini.

Oh iya, ini pertama kalinya saya baca Clara Ng sama Icha Rahmanti. Jadi, saya dapetnya dua dong?? #uhuk #ngarep 



Satu lagi... Saya belom ngasih tau ya, dimana Surga mereka? Kuncinya, ada di balik Pintu Harmonika. Selamat berjuang para detektif kebanggaan bangsa.... 〜( ̄▽ ̄〜) (〜 ̄▽ ̄)〜


Pixie di Istana


Princess Katie's Kittens: Pixie di Istana by Julie Sykes
My rating: 3 of 5 stars

Princess Katie menemukan enam ekor anak kucing ketika ia sedang berkuda bersama Nona Blaze. Anak kucing itu rupanya dibuang oleh pemilik mereka di hutan dekat Istana Bintang Cahaya, tempat tinggal Katie. Katie, yang senang dengan binatang, memutuskan untuk merawat keenam anak kucing itu. Apalagi, ia sudah jatuh hati sama Pixie, anak kucing pertama, sekaligus tertua, di antara anak-anak kucing itu.

Kok tau kalo tertua? Iya dong, kan Pixie yang cerita... xp

Sayangnya, karena ketika itu Katie sedang membawa Misty, kudanya, mereka nggak bisa bawa kardus berisi anak kucing itu. Tapi, Nona Blaze sudah berjanji pada Katie, untuk membawa anak-anak kucing itu ke istana. Katie sendiri nggak bisa kembali ke hutan, meskipun sangat ingin. Yah, maklumin dong, dia kan putri raja. Jadi jadwalnya padat, meskipun dia masih kecil. Habis ini saja, dia harus latihan dansa untuk ulang tahun ibunya. Terus di sore harinya, ada acara minum teh. Jadi, Katie meminta tolong Nona Blaze, dan sahabatnya Becky, anak pelayan istana, untuk menyelamatkan anak-anak kucing itu.

Nona Blaze dan Becky menjalankan tugas dengan baik. Tapi, tunggu dulu.... Kok anak kucingnya hanya ada lima? Pixie nggak ada!! Kemana Pixiee??!!

Mampukah Katie menemukan Pixie? Apa yang dilakukan Pixie di luar sana? Dia pasti kelaparan dan kedinginan, di tengah udara malam yang dingin ini... Sanggupkah Pixie bertahan?

Oke, ini pertama kalinya saya baca tulisannya Julie Sykes. Ceritanya lumayan, meskipun sebenarnya kisah putri bangsawan, terutama yang di masa kini, nggak terlalu menarik minat saya. Soalnya saya males baca tentang kesibukan mereka yang harus berkuda lah, latihan dansa lah, pesta minum teh sama siapa lah. Jadinya, yah... Saya malas. Hehee..

Ngomong-ngomong, di dalamnya juga ada ilustrasinya, meskipun menurut saya nggak terlalu bagus. Entah kenapa, ilustrasinya mengingatkan saya ke cerita Lima Sekawan, alias jadul... xp

Tapi, cerita tentang Pixie-nya lumayan menyentuh. Jadi ingat sama saudara saya, yang nggak nangis nonton film sedih, tapi nangis kejer kalo nonton film hewan. Ya, saya sebelas dua belas sama dia deh... Meskipun perasaan saya lebih peka daripada dia sih kayaknya... xp



Ditilik dari segi cerita, buku ini boleh dibaca oleh anak-anak dari usia 6-10 tahun. Khususnya sih buat anak wanita. Soalnya ini kan cerita tentang Princess. Kalo anak cowok, mungkin nggak terlalu tertarik kayaknya.

 


March 16, 2013

1st Late Blogoversary Giveaway


Halo... halo... halo....

Selamat sore semuanya. Eh, lupa belom salam. Assalamualaikuummm~~

Terima kasih ya sudah mampir ke blog saya ini. Nggak nyangka, baru setahun bikin blog, pengunjungnya sudah hampir 25 ribu euy. Senangnya.... >v<

Nah, untuk merayakan rasa syukur itu, saya mau buat giveaway. Yuhuu....

Seharusnya sih giveaway ini diadain bulan Januari kemarin, bertepatan dengan setahunnya blog saya ini. Tapi, mau gimana lagi.... Rasanya awal tahun kemarin saya lagi riweuh banget ngurusin banyak hal. Terus, salah satu alasan khususnya sih, saya belum nemuin buku yang tepat buat dikasihin di giveaway ini.... Saya udah keliling-keliling, cari inspirasi, tapi kok kayaknya belum ada buku yang cocok gituh... T__T Eh, tanpa disadari, Maret pun tiba dan giveaway yang udah diniatkan dari akhir tahun lalu itu pun nggak terlaksana... #curcol #yangsabaryaaa

Hingga akhirnya, saya menemukan buku ini!!!

Ya, buku yang saya pilih adalah buku "Titik Nol" karya Agustinus Wibowo. Masih baru, ada tanda tangannya lagi. WOW! Tapi, ada nama sayanya. Yah, anggap aja itu kenang-kenangan dari saya.... XD

Ngomong-ngomong, kenapa sih saya milih buku ini?

Hhmm... Jujur saja, sejak awal buat giveaway ini, saya ingin banget ngasih buku yang bertemakan perjalanan. Bukan travelling yang biasa, tapi sebuah perjalanan yang mampu mengubah hidup kita. Soalnya, kita semua kan pengembara di semesta kehidupan ini, jadi buku yang seperti itu tampaknya sesuai dengan apa yang saya mau.

Lagipula, kalau melihat nama blog ini, "Edensordreamer", terlihat kan darimana inspirasi saya? Ya, tentu saja buku "Edensor" karya Andrea Hirata. Ditambah buku "Sang Pemimpi" juga, tentunya. Kenapa saya pakai nama itu? Pertama, karena saya bingung blog saya mau dinamain apa X). Kedua, karena nama ini sudah pernah saya pakai sebelumnya, dan menggambarkan mimpi saya. Iya, mimpi saya. Saya tuh dari kecil udah mimpi, pengen bisa ke Eropa. Mengelilingi negara-negara yang ada di sana, belajar, dan juga merasakan banyak hal di benua itu. Kebetulan saat membuat blog ini, saya lagi ngebet-ngebetnya pengen banget kesana, jadilah blog ini dinamai itu deh... XD

Lalu, kenapa saya nggak ngasih buku Andrea Hirata aja?

Hhmm... Sempat terpikir sebenarnya. Tapi, entah kenapa saya menginginkan sebuah buku perjalanan yang berbeda. Saya sudah terpikir untuk memilih buku Gusweng lainnya seperti "Selimut Debu" ataupun "Garis Batas". Eh, seolah mengerti apa yang saya inginkan, Gusweng menerbitkan buku baru!! (siape gue.. xD) Langsung deh saya terinspirasi untuk memberikan buku ini saja. Huehehehee... Dan sekarang, aku sudah tidak galau lagi...

Mau? Mau?? Mau???
 
Caranya gampang. Semuanya boleh ikutan. Isi aja rafflecopter yang udah saya sediain di bagian bawah blog ini. Sebelumnya, pertanyaannya saya bocorin dulu, deh. Nih dia:

Di antara buku-buku yang udah kalian baca, buku mana sih yang latar tempatnya paling menakjubkan dan bikin kalian membayangkan diri bisa pergi ke sana, atau bermimpi bisa ke sana suatu saat nanti? Dijelaskan ya... Soalnya saya jawaban yang paling bagus akan dapat buku "Titik Nol" karya Agustinus Wibowo. Ada tanda tangannya lagi. Tapi, ada nama saya di situnya. Cuekin aja, ya.... xDD Anggep aja itu kenang-kenangan dari saya nantinya. Wahahahaa...

Eh, tapi hadiahnya nggak cuma itu aja. Ada lagi satu buku "Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan di Mata Orang-orang Terdekat" karya A. Makmur Makka, dkk. Kenapa saya mau kasih buku ini? Soalnya, memang dari awal saya niat buku ini mau saya berikan ke orang lain. Bukan karena nggak suka. Saya suka banget malahan. Cuma, kok kayaknya sayang aja gitu kalo buku sebagus ini cuma dibaca sama saya aja. Dan jujur, berkat buku ini pulalah blog saya jadi ramai dikunjungi orang. Nggak nyangka baru setahun buat blog, pengunjungnya sudah sampai 20 ribu orang!!! Dan itu berkat buku ini, dan film "Habibie & Ainun". Padahal, film itu bukan dari buku ini, tapi nggak nyangka banyak yang datang ke blog saya karena mencari buku-buku tentang ibu Ainun. Makasih Ibu... TT___TT

Hadiah terakhir adalah "Madre" karya Dee Lestari. Soalnya, sesungguhnya saya udah baca bukunya dan adik saya sudah punya. Tapi, rejeki memang nggak kemana, saya dapat lagi buku ini. Jadi, sepertinya lebih bermanfaat kalau diberikan kepada orang lain... :)



So, silakan isi Rafflecopter di bawah ini yaa.... Giveaway ini berlangsung sampe 31 Maret 2013. Ajak teman-temanmu untuk ikutan juga yaa... :D




NB: Hhhuaa.... Kok saya baru sadar kalo salah ngetik yaa?? Maksudnya hadiahnya "Titik Nol" ya sodara-sodara... -_____- Maafkeun saya karena kecerobohan ini, mungkin karena saya belom selesai baca "Garis Batas" makanya kepikiran terus. #alesan

Thanks berat buat Mbak Desti yang udah ngingetin. Haduh haduh haduuhh..... #jedotjedotinpalaketembok

Oke, sekarang udah nggak ada masalah lagi. Insya Allah udah bener semuanya. Semoga nggak ada masalah lainnya dengan rafflecopternya. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, ya... n(_ _)n

Oh iya, ada yang ketinggalan. Ada tiga pemenang yang masing-masing akan dapat satu buku. Tapi, yang dapat "Titik Nol" adalah yang jawabannya paling saya sukai :)

March 14, 2013

The Hardy Boys: Memburu Emas Terpendam


Memburu Emas Terpendam by Franklin W. Dixon
My rating: 2 of 5 stars

Inilah buku petualangan Hardy Bersaudara yang saya baca. Bercerita tentang kakak beradik, Frank dan Joe, yang membantu ayah mereka, seorang detektif terkenal bernama Fenton Hardy, dalam mengungkapkan kasus perampokan dan perburuan emas.

Dari awal, pembaca sudah disuguhi oleh alur yang sangat cepat. Dimulai dari Frank dan Joe yang sedang berkemah dengan teman-temannya, terus ujug-ujug disuruh nyamperin bapake di Lucky Lode. Setelah itu mereka ketemu seorang lelaki tua bernama Mike Onslow, yang terluka karena kena peluru nyasar. Kebetulan! Soalnya, Hardy bersaudara ini disuruh oleh ayah mereka untuk mengawasi si Onslow.

Mike Onslow ternyata dulunya adalah penambang emas, bersama tiga orang temannya. Ketika mereka berhasil mendapatkan emas di tambang yang mereka gali, ternyata seorang penjahat bernama Black Pepper (yummy... #eh xp) ingin merebut emas mereka. Jadilah, salah seorang teman Onslow bernama Bart Dawson disuruh untuk membawa kabur emas itu dengan pesawat mereka, hingga mencapai tempat yang aman. Ketika emas itu sudah ada di luar jangkauan Burakku peppaa (pake logat jepang ceritanya #ups), emas itu akan dibagi rata berempat. Sayangnya, Dawson kemudian hilang tanpa jejak. Entah pesawat yang dibawanya mengalami kecelakaan dan dia mati dalam prosesnya, atau emas itu justru dibawa sendiri oleh Dawson untuk kepentingannya....

Tugas Frank dan Joe-lah untuk mencari tahu itu, sekaligus membantu ayah mereka, menemukan penjahat bernama Al Besar yang telah mencuri uang milik Bob Dodge. Ayah Frank dan Joe ternyata terluka dalam pengejaran Al Besar, jadi dia harus bed rest deh. Dan, dimulailah petualangan Frank dan Joe mendaki gunung lewati lembah dengan sungai es, demi menangkap Al Besar dan komplotannya.

Berhasilkah mereka? Apakah hubungan Al Besar dengan emas milik Mike Onslow?

Seperti yang saya bilang, alurnya cepet banget di awal-awal. Bat-bet-bat-bet. Dari hutan pindah ke bandara, dari bandara mereka diculik masuk ke rumah komplotan penjahat, dari situ mereka kabur naik taksi, eh taksinya punya penjahat juga. Akhirnya bisa kabur dari taksi penjahat, bisa naik pesawat sampe tempat si bokap, terus diancam pas mau naik helikopter, terus sampai di Lucky Lode, terus tiba-tiba mereka bisa nguping pembicaraan komplotan Al Besar, terlibat perkelahian satu lawan satu melawan salah satu penjahat paling berbahaya, dan yah... banyak petualangan yang menantang adrenalin lainnya.

Terus, kenapa ada "yah"-nya?

Hhmm... Kenapa ya? Mungkin karena saya nggak terlalu menikmati petualangan si Frank dan Joe ini. Saya ngerasanya kok, aneh banget gitu. Dua bocah ingusan (yah, yang satu udah 17 tahun sih...) melawan penjahat paling berbahaya di wilayah itu hanya dengan kekuatan mereka berdua. Ciyus ini loh...

Saya juga merasa tindakan mereka sangat gegabah untuk ukuran detektif. Mereka lebih mementingkan menangkap penjahat, dibandingkan keselamatan diri mereka sendiri, dan juga orang-orang terdekat mereka. Entah berapa kali si Frank dan Joe ini hampir mati gara-gara tindakan mereka itu. Dan itu nggak cantik untuk ukuran cerita detektif, menurut saya. Harusnya kan mereka lebih berhati-hati, apalagi mereka sudah tahu betapa berbahayanya gerombolan penjahat yang mereka kejar kali ini. Pede banget kalo mereka menganggap diri mereka bisa berhasil meringkus bos penjahat cuma berdua aja. Padahal pak pulisi sama bapake aja gagal gituh...

So, yeah... I didn't enjoy this story... I still prefer "Lima Sekawan" than this "Hardy Boys". Soalnya di "Lima Sekawan" masih alurnya itu masih jelas, ada deskripsi-deskripsi latar, waktu, suasana, yang bikin saya mampu membayangkannya. Sedangkan di "Hardy Boys" ini, mungkin karena alurnya terlalu cepat, jadi setiap tempat cuma digambarkan sekenanya saja. Nggak detail. Padahal detail itulah yang menurut saya turut membangun cerita. Misalnya kalo di "Lima Sekawan", saya selalu ngiler sama makanan-makanan mereka, meskipun itu hanya roti dan keju aja. Tapi di "Hardy Boys" ini, saya nggak merasa ngiler sama sekali tuh, padahal mereka berhasil nangkep ikan segede gaban buat makan malem.

Lalu, kalau di "Lima Sekawan", saya bisa membayangkan desa-desa ataupun tempat misterius yang mereka kunjungi, dan suasana misterius itu terbangun dengan baik, satu hal yang agak luput saya rasakan di cerita ini. Eh, maap. Saya jadi bandingin sama "Lima Sekawan" deh. Ya, daripada sama "Lima Sekawin" ga nyambung ntar... #eh Maksud saya sih, soalnya dua cerita ini sama-sama cerita detektip remaja gituh. Kan nggak mungkin dibandingin sama Sherlock Holmes dong?

Oke, oke... Mungkin emang seharusnya nggak dibanding-bandingin kali ya, soalnya kan ini dua cerita yang berbeda. Tapi, mau gimana lagi dong?? Kan emang udah dari sononya manusia, doyan mbanding-mbandingin dua hal yang dia ketahui. Ya udah deh, mungkin emang sayanya aja yang nggak bisa nikmatin cerita jenis beginian. Meskipun saya doyan banget sama cerita detektip-detektipan, yang satu ini kayaknya pengecualian. Heuheuu...

So, dua anak cukup eh dua bintang cukup buat buku ini...


Oh iya, karena review ini mau saya ikutkan ke FYE-nya Bacaan Bzee, jadi saya mau menerawang dulu. Oke, menurut penerawangan saya, buku ini sebaiknya dibaca oleh anak-anak di atas 14 tahun, karena jalan cerita petualangannya yang lebih hardcore dibanding Lima Sekawan. Takutnya, ditiru anak-anak aja getoh.


Ini pertama kalinya saya baca karyanya Franklin W. Dixon. I don't really like it though...


Dan karena ada namanya terjembreng jelas di cover, jadi masuk juga ke challenge ini...



March 7, 2013

Pesan-pesan Cinta


The Final Note: Pesan-Pesan Cinta by Kevin Alan Milne
My rating: 3 of 5 stars

Apa yang paling dibutuhkan dalam sebuah pernikahan?

Pertanyaan itulah yang bermain di benak saya setelah membaca "Pesan-pesan Cinta". Pertanyaan yang tidak saya ketahui jawabannya, karena saya belum merasakannya. Namun, bukan berarti saya tidak memiliki pendapat sendiri, mengenai apa yang paling dibutuhkan dalam sebuah pernikahan.... Berdasarkan apa yang saya lihat, perhatikan, dan alami, menurut saya, yang paling dibutuhkan dalam pernikahan adalah: komitmen.

Komitmen dalam menepati janji di hadapan Tuhan. Komitmen dalam menjalankan kewajiban sebagai seorang suami/istri. Komitmen dalam melaksanakan impian dan tujuan dari rumah tangga itu. Dan komitmen-komitmen lainnya yang telah disepakati bersama pasangan.

Menurut saya (lagi), jika salah satu di antara komitmen itu tidak terpenuhi, maka rumah tangga itu akan guncang. Akan rapuh... Dan, itulah yang terjadi pada rumah tangga Ethan dan Annaliese Bright.

Pertemuan singkat Ethan dan Anna di Wina, sudah cukup untuk membuat kedua insan ini jatuh cinta. Ketika itu, Ethan adalah seorang mahasiswa S2, dan Anna, yang baru saja lulus kuliah, sedang berjalan-jalan di Eropa bersama temannya. Ethan sangat menyukai musik, sedangkan Anna bercita-cita menjadi ilustrator buku anak. Dua orang seniman, bertemu di kota yang menjadi pusat seni. Sempurna, bukan?

Hubungan mereka pun berkembang, hingga akhirnya mereka menikah. Menikah, tidak seperti kisah dongeng, bukanlah akhir yang membahagiakan dari kisah cinta mereka, tapi justru menjadi awal, tempat segala hal teruji....

Awal pernikahan, semuanya masih tampak indah. Meskipun belum punya rumah dan uang melimpah, mereka masih merasa bahagia. Walaupun menurut saya, bibit-bibit "ketidakberesan" Ethan mulai terlihat. Ia mulai melupakan mimpinya sebagai penulis lagu, dari hal yang sederhana saja, yaitu lalai membuatkan lagu untuk Anna di hari peringatan pernikahan mereka.... Hanya Anna yang masih konsisten dalam mengejar mimpinya...

Lalu, tempat tinggal mereka terbakar. Anna juga mengalami keguguran. Kehidupan mereka kembali ke titik nol, dan mereka harus memulainya lagi dari awal. Hingga akhirnya Ethan mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan pembuat jingle iklan yang cukup besar....

Kehidupan mereka mulai membaik. Anna mulai mencoba untuk hamil, dan gagal. Mencoba lagi, lalu gagal lagi. Hingga akhirnya mereka berhasil dan Anna melahirkan sepasang bayi kembar. Sayangnya, hanya satu yang bertahan hidup. Dialah Hope, bayi mungil yang menjadi tumpuan harapan mereka.

Kebutuhan hidup yang semakin tinggi membuat Ethan menjadi seorang yang gila kerja. Ia mulai melupakan Anna, dan parahnya, putri mereka. Ethan melupakan janji-janji yang dulu pernah diucapkannya di hari pernikahan. Janji-janji kepada Anna, kepada Grandpa Bright, kepada ayahnya, dan kepada banyak orang, yang dulu pernah dicatatnya di sebuah kertas. Ethan semakin melihat segala sesuatunya dari sisi materi. Ia memang masih memiliki komitmen untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Tapi ia melupakan komitmennya untuk membuat mereka tetap bahagia.

Hingga akhirnya, peristiwa itu mengubah segalanya....

Anna kecelakaan. Ia mengalami koma, dan sangat sedikit harapan hidup yang tersisa untuknya. Ironisnya, kecelakaan itu terjadi ketika Anna ingin membelikan gitar sebagai hadiah ulang tahun untuk Hope. Gitar yang seharusnya dibeli oleh Ethan, tapi ia kembali lalai untuk melakukannya.

Peristiwa itu mulai menyadarkan Ethan mengenai apa yang seharusnya menjadi prioritasnya. Apa yang paling penting bagi dirinya. Apalagi, ia pun hampir saja kehilangan harapannya, kehilangan Hope-nya, ketika ia terlalu sibuk dengan Anna yang sedang terbujur di RS, dan (lagi-lagi) melalaikan kewajibannya pada putri semata wayangnya.

Sepertinya saya sebel sama Ethan, ya?

Sejujurnya, memang iya. Di buku ini, Ethan-lah yang banyak melupakan janji-janji dalam perkawinan mereka. Sementara Anna, tetap memenuhi janjinya untuk melukis di setiap hari ulang tahun perkawinan mereka, di tahun pertama saja Ethan sudah lupa untuk membuatkan lagu buat Anna. Ethan juga jarang memainkan gitar untuk Anna, padahal ia telah berjanji untuk melakukannya seminggu sekali. Sementara Anna tak pernah lalai untuk memberikan "Surat Cinta Sejati" kepada Ethan, setiap kali Ethan memainkan gitar untuknya. Ditambah lagi, Ethan-lah yang lebih dahulu melupakan mimpinya, melupakan impian yang dibangun oleh keluarga kecil mereka....

Ya, memang wajar sih. Beban Ethan sebagai seorang kepala keluarga membuatnya harus berpikir panjang untuk masa depan. Apalagi, kelihatannya Ethan ini orangnya perfeksionis banget, jadi semuanya harus berjalan sesuai keinginannya. Misalnya, sebelum menikah, paling nggak dia harus udah kerja dulu. Sebelum punya anak, paling nggak harus punya pekerjaan yang lebih mapan lagi (karena kerja sebelumnya 'cuma' jadi guru musik aja), gaji yang lebih besar. Sayangnya, sifat perfeksionis Ethan ini hanya bersandar pada materi saja, sebuah landasan yang memang penting, tapi menurut saya cukup rapuh.

Melihat sifat Ethan ini mengingatkan saya pada sebuah pembicaraan dengan beberapa orang teman lelaki saya. Ketika itu, pembicaraan kami tentang gaji dan pekerjaan. Teman-teman saya yang lelaki ternyata memang lebih berorientasi pada materi dibandingkan passion. Saya masih ingat bagaimana seorang teman saya pindah kerja dari posisinya yang sebenarnya cukup dia sukai, ke perusahaan lain yang menawarkan gaji lebih besar. Sayangnya, dia nggak bahagia setelah pindah, dan nggak bisa move on dari tempat kerja lamanya....

Ngomong-ngomong, saya jadi ingat sebuah manga yang saya baca beberapa tahun yang lalu. Manga berjudul Orenji Yane no Chiisana Ie (Rumah kecil beratap oranye) itu bercerita tentang seorang lelaki yang ditinggal pergi istrinya. Istrinya pergi dari rumahnya, tepat ketika sang suami naik jabatan dan bisa membeli rumah idaman mereka. Sang istri sudah nggak tahan, karena suaminya nggak pernah di rumah dan memperhatikan kebutuhan ia dan anak-anaknya....

Sekali lagi, saya nggak menyalahkan kaum adam yang berpikiran seperti itu, karena dalam sistem masyarakat kita, lelaki seperti itulah yang dituntut. Lelaki yang memiliki pekerjaan di perusahaan besar, dengan gaji yang digitnya nggak sanggup dihitung tangan (lebay), dsb. Lelaki seperti itulah yang dinilai pantas, baik oleh masyarakat ataupun oleh calon mertua. Ya, secara tidak sadar, masyarakat kita memang masyarakat yang materialistis. Akui saja itu.

Sementara sebagai seorang wanita, istri, dan ibu, tentu saja Anna bahagia suaminya mendapatkan pekerjaan yang bagus. Ia sanggup bersabar, kehilangan suaminya sebentar saja, asalkan kehidupan mereka bisa lebih membaik. Mereka bisa memiliki rumah yang diidam-idamkan, dengan halaman yang luas, tempat Hope bisa bermain, dan tidak kekurangan materi. Sekali lagi materi.

Ah, tapi orang-orang yang mengatakan "uang tidak bisa membeli kebahagiaan" itu sebagian besar adalah orang-orang yang sudah pernah punya uang banyak, sehingga merasakan hal itu. Coba saja tanyakan kepada mereka yang nggak punya uang, tentu saja mereka akan menjawab berbeda.

Beberapa kali saya sempat kesal setengah mati sama Ethan, yang mengucapkan kata-kata tajam ke Anna. Saya juga merasa sedih, karena lelaki manis yang dulu sering bermain gitar dengan asyiknya di jalan-jalan kota Wina itu telah menghilang. Sama seperti Anna, Grandpa Bright, dan Hope.... saya merasa telah kehilangan Ethan.

Namun saya masih menganggap Ethan sangat beruntung, karena ia masih mendapatkan kesempatan untuk meminta maaf kepada Anna. Ethan masih diberi waktu untuk merenungkan apa yang telah ia perbuat pada keluarganya. Ia juga diberi kesempatan terakhir untuk membuat Anna bahagia...

Coba saja bayangkan, berapa banyak orang di luar sana yang kehilangan pasangan atau orang mereka cintai begitu saja. Tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal, terima kasih, ataupun maaf. Dan tentu banyak orang seperti Ethan yang akan menyesali perbuatannya seumur hidupnya, dan berharap agar sang waktu berbaik hati hingga berkenan untuk mengembalikan hidup mereka ke masa ketika semuanya masih berjalan dengan semestinya.

Ya, tapi rasanya saya hanya bisa ngomong saja, karena sesungguhnya hal itu belum teruji pada diri saya. Saya belum memiliki pasangan, dan saya belum merasakan beratnya ketika dua sifat, dua pikiran, dan dua kepentingan saling berbenturan. Sepertinya memang benar, butuh cadangan maaf yang besar untuk semuanya. Bukan hanya untuk orang yang kita sakiti, tapi juga untuk diri kita sendiri, dan orang lain di sekitar kita....

Did you really search the world to find the true love?
Did you ever ask the girl if that would be enough?
And do you ever thank the Lord, for all He's given you?
Well I do

And just last night,
Before I went to bed,
I knelt to pray,
And this is what I said....
Take my life if you'd like,
Because I found what I came to find.
Or leave me here for a while,
Cuz I found heaven... in her smile

March 2, 2013

Harry Potter dan Kamar Rahasia


Harry Potter and the Chamber of Secrets (Harry Potter, #2)Harry Potter and the Chamber of Secrets by J.K. Rowling
My rating: 3 of 5 stars

Meskipun ini buku kedua, tapi ini adalah buku Harry Potter pertama yang saya baca. Ya, ceritanya panjang dan udah saya jelasin di ripiu pertama. Silakan dibaca bagi yang mau... xp #sokterkenal

Hhhmm... Gimana ya buku kedua ini? Kok setelah saya baca, kesannya jadi beda ya? Kok kayaknya terlalu banyak 'bolong' di awal yang dulu nggak saya sadar, tapi sekarang jadi masalah buat gw... (Kalo buat lo nggak sih ya udah... xp)

Yah, seperti yang kita ketahui bersama, di buku kedua ini dek Harry nggak bisa pergi ke Hogwarts dengan cara yang biasa. Jadi, dia pake cara yang luar biasa. Super!! Ajaib!! Nyeleneh!!

Udah pada tau dong semuanya?

Yeah, dia naek pesawat terbang. Eh, naek mobil terbang. Punya siapa lagi kalo bukan keluarga Weasley. Dan untuk pertama kalinya pembaca diajak untuk mengenal keluarga Weasley secara utuh. Rumah mereka yang acak adul tapi sangat hangat, the Burrow. Orang tua Ron, Arthur dan Molly, yang baik hati dan ramah. Dan, kehidupan di the Burrow itu sangat mengasyikkan. Paling mengasyikkan di sepanjang idupnya Harry Potter yang cuma kenal lemari keluarga Dursley atau kamar yang sempit di loteng (?). Yah, pokoknya ke tempat yang mengenaskan itulah...

Heran, kok bisa orang kayak keluarga Dursley ini nggak ketangkep hukum? Atau minimal ketauan sama tetangga-tetangganya kalo mereka memperlakukan Harry kayak budak. Di zaman gini, gitu loh?? Mana tuh pelindung hak-hak anak, kok nggak ada yang tau? Ah, ya sudahlah. Harry Potter kan emang bukan siapa-siapa di dunia Muggle. Dia baru siapa-siapa di dunia sihir. Lupa saya... Hahaha

Hhhmm... Di buku ini saya nggak tahan sama kelakuannya Gilderoy Lockhart, yang bikin saya pengen skip semua dialognya dia. Sumpe ya, ni orang nggak ketulungan narsisnya. Om-om populer yang berasa paling ganteng sedunia, sampe-sampe saya pengen nyemplungin dia ke danau di depan Hogwarts itu (apa deh namanya?).

Di buku kedua ini untuk pertama kalinya pembaca disuguhi wujud aslinya si tuan tanpa hidung. Yah, meskipun pas dia masih sekolah di sonoh sih... Jadi, pasti banyak berubahnya dengan yang sekarang. Yang pasti, sekarang dia tambah jahat. Hwahahahaaa

Oh iya, di buku ini juga untuk pertama kalinya saya dibuat sadar dengan kehadiran Ginny. Saya nggak nyangka, si anak perempuan yang eksistensinya nggak begitu disadari (oleh saya) ini, ternyata memiliki peranan besar di kemudian hari. But i don't think i like Ginny in this book... Hhhmm... Dan sesungguhnya dia tetep nggak jadi tokoh cewek favorit saya di serinya Harry Potter sih. Saya masih tetep berharap Harry bakal jadi sama Hermione atau paling nggak sama Luna.. Hehehehe #kabursebelumdigetokpensharryginny

Saya nggak inget sih, ini udah keberapa kalinya saya baca buku yang kedua ini. Apa jangan-jangan, saya emang baru baca sekali doang ya?? Lupa....

Aduh, saya terserang penyakit malasbikinripiusitis nih. Jadi, sudah saja sampai disini. Nanti kalo ada waktu kita boleh numpang panjangain ripiu lagi... Ciao~



Sebelum ditutup, untuk memenuhi syarat FYE di blognya Bacaan Bzee (xp), menurut saya buku ini cocok untuk dibaca anak-anak usia 8-15 tahun. Tapi orang dewasa pun bisa menikmatinya. Dan menurut saya, buku anak yang bagus itu adalah buku yang nggak hanya bisa dinikmati oleh anak-anak, tetapi juga oleh orang dewasa... ^___^

Egrang, Kucing, dan Stabilitas Negara?


The King's Stilts by Dr. Seuss
My rating: 5 of 5 stars

Pada zaman dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Binn. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja bernama Birtram, yang sangat multitasking. Misalnya aja, dia bisa menandatangani dokumen-dokumen penting sambil menggosok tubuhnya ketika mandi, atau (lagi-lagi) menandatangi dokumen penting sambil mengoleskan mentega ke rotinya. Aha! Hebat sekali, bukan? :D

Binn itu bukanlah kerajaan biasa, karena kerajaan ini dikelilingi oleh pepohonan besar bernama Dike Tree. Dike Trees memegang peranan penting bagi kerajaan ini, karena merekalah yang menghalangi air laut masuk ke dalam Binn. Ya, maklum aja, soalnya Binn itu letaknya lebih rendah dari lautan. Jadi, kalo nggak ada Dike Trees, maka WUSSHHH! kerajaan itu akan tersapu bersih dari peta.

Begitu pentingnya Dike Trees, sampe-sampe raja mengerahkan sepasukan meong, yang jumlahnya nggak tanggung-tanggung: SERIBU EKOR!! Lima ratus untuk giliran jaga pagi, dan lima ratus lainnya untuk jaga malam.

description
Patrol Cat siap beraksi (Gambar: 4us2be.com)


Tapi, kenapa butuh meong sebanyak itu?

Soalnya, Dike Trees ini pohon yang sangat lezat. Seenggaknya bagi sekawanan burung bernama Nizzards. Mereka doyan banget gerogotin akar Dike Trees yang maknyus rasanya ini. Jadi, para meong adalah serdadu yang sangat penting bagi Kerajaan Binn. Mereka adalah pasukan elit, yang memiliki tugas suci untuk menjaga keamanan, kenyamanan, dan ketentraman Binn. Mereka bahkan punya lencana sendiri yang bertuliskan "PC" alias Patrol Cat.

Pokoknya, saking pentingnya kucing-kucing ini, mereka tuh pasti mendapatkan yang terbaik dari kerajaan. Makanan terbaik, tempat tidur terbaik, dan segala yang terbaik-terbaik... Ngiri? Silakan daftar untuk jadi "PC", semoga sukses... xp

description
Dare to join us? U may dream... (Gambar: thesundaytimes.co.uk)


Dari tadi cerita tentang raja, puun, sama kucing aja. Terus, apa dong peranan egrang di cerita ini?

Ehem. Begini lho... Jadi, si paduka maharaja itu hobinya maen egrang. Sounds childish? Ya, raja pun kan butuh hiburan. Daripada dia maen judi atau ngetrek, kan maen egrang lebih positif toh? xD Jadi yah, si paduka ini hobinya maen egrang di kala senggang di tengah padang ilalang bareng dayang-dayang yang maen layang-layang... (Hhuu... ngelawak aje lo, Tik. Yang serius napah! #ditoyoregrang)

Eh, saya serius! Si paduka ini hobi maen egrang. Dan dia sangat berkomitmen sama egrangnya. Artinya, kalo dia lagi maen ya maen dengan sungguh-sungguh, tapi kalo lagi kerja juga kerja dengan sungguh-sungguh...

Namun ternyata.... Nggak semua orang suka dengan hobi si paduka ini. Ada seorang jahat bernama Lord Droon yang menganggap hobi sang raja ini sangat kekanak-kanakan, dan diapun merencanakan sebuah konspirasi bessaarrr untuk melenyapkan egrang kesayangan paduka. Dia menyuruh bocah pelayan kesayangan raja, Eric, untuk menyembunyikan egrang itu.

Dan... apa yang terjadi? Paduka menjadi sedih, lemah, lesu, nggak bersemangat lagi. Dia sedih. Dia stress. Dia depresi.

Dan siapa sangka kalau sepasang egrang ternyata dapat mempengaruhi stabilitas suatu negara??? Dapatkah sang paduka menemukan kembali egrangnya dan membuat kerajaan itu kembali aman sentosa gemah ripah loh jinawi seperti dahulu kala? Silakan baca sendiri bukunya... :D

Suka dengan buku ini. Emang bukan Dr. Seuss namanya kalo nggak punya ide yang aneh. Dari sepasang egrang aja, bisa lahir cerita tentang kerajaan yang lucu begini. Hahahaaaa... Apalagi pake ada cerita tentang kucing-kucingnya lagi... Gimana saya nggak jatuh cinta coba?? O(^ω^)O

Apalagi ilustrasinya juga oke. Nggak pake warna-warna cerah yang jadi khasnya Dr. Seuss, tapi cuma pake warna hitam, putih, sama merah aja. Pokoknya, suka deh.. HIHIHI...

Kalo dari segi umur, cocok buat dibaca anak-anak umur 5-8 tahun kali ya? Soalnya ceritanya sederhana, tapi ada makna yang cukup dalam juga, misalnya, kalo punya benda berharga (seperti egrang) mestinya disimpen di dalam lemari besi yang kuncinya ada sekitar 17 lapis, biar orang rese kayak Lord Droon nggak bisa mencurinya dari kita... xD



March 21, 2013

Surga di Balik Pintu Harmonika


Pintu Harmonika by Clara Ng
My rating: 4 of 5 stars

Ketika mendengar kata surga, otak saya langsung berkelana dan mulai berimajinasi ke tempat terindah yang saya impi-impikan. Saya membayangkan diri saya sedang duduk di antara hamparan padang bunga yang maha luas. Bunga-bunga tercantik di dunia dengan beraneka warna, berada di sekeliling saya, dengan sejuta keharuman yang menyesakkan dada (dalam arti yang baik tentunya).

Di kejauhan, ada sebuah gunung salju yang tinggi menjulang, dengan latar langit biru cerah yang membentang tak terbatas. Di antara padang bunga itu, tak jauh dari tempat saya berada, ada sungai yang mengalir. Airnya sangat jernih, dan ada bebatuan di dasarnya. Di "surga saya", tidak hanya ada satu sungai yang mengalir. Ada sungai-sungai lainnya, yang memiliki rasa beraneka rupa. Sungai rasa madu, rasa susu, sampai rasa pocari sweat (eh, tapi saya nggak gitu doyan sih... Mendingan rasa Mogu-mogu aja... #loh xp).

Tentunya saya nggak sendirian di "surga saya" itu. Karena kalau sendirian, bukan surga namanya. Di sana, saya dikelilingi oleh orang-orang yang saya cintai. Keluarga saya, sahabat-sahabat saya, dan juga kucing-kucing saya yang sudah meninggal. Saya bebas berlari, bermain, juga membaca. Kalau lapar, tinggal kedip, dan voila terhidanglah aneka makanan yang saya suka. Tidak ada kesedihan. Tidak ada penderitaan. Tidak ada duka cita. Hanya kebahagiaan yang abadi yang ada di sana.

Itu adalah surga yang ada di dalam bayangan saya. Di bayangan orang lain, tentu saja berbeda. Saya pernah dengar, kalau bagi orang Arab, surga itu berupa pegunungan yang hijau dengan pepohonan. Ya... kayak yang di puncak itulah... (makanya mereka demen ke sana xp). Lalu bagi orang Mongol yang nggak punya laut, surga mungkin berbentuk lautan yang sangat biru, berkarpet pasir putih yang lembut, ditambah pohon kelapa yang berjajar. Bagi orang barat juga, sih ya... Soalnya kan kata "paradise" sering diasosiasikan dengan lautan biru yang tenang.

Yah, intinya, bagi setiap orang, surga mungkin memiliki bentuk yang berbeda-beda. Tapi, semua pasti setuju kalo denger kata "surga" yang diinget pasti yang indah-indah. Yang cantik-cantik. Kalo yang jelek-jelek, buruk-buruk, nggak menyenangkan, udah pasti deh punyanya si neraka.

Terus, apa hubungannya surga dengan novel "Pintu Harmonika" ini?

Hubungannya ada, dong. Soalnya ini adalah novel tentang Surga. Surga dengan "S" besar. Tiga tokoh utama di novel ini bercerita tentang Surga. Siapa sajakah mereka? Berikut liputan lengkapnya.... #pegangmik #natapkamera

Penghuni Surga yang pertama namanya adalah Rizal. Nama lengkapnya Rizal Zaigham Harahap. Kalo di Twitter dikenal dengan @rizal_bruce_lee. Nggak kenal? Berarti kalian nggak gaul. Soalnya, si Rizal ini seleb Twit dan seleb dunia maya. Fansnya... beuh. Bejibun. Bahkan mereka sampe bikin geng sendiri yang dikasi nama "Rizal's Angels", soalnya si Rizal ini emang cakep. Gimana nggak cakep, orang bapaknya itu tukang kelontong paling cakep se-Jabodetabek. Huehehe...

Menurut saya, Rizal ini pribadi yang unik. Dia adalah fenomena di kalangan remaja. #tsaahh (ikutan Rizal) Sebagai seorang abg labil, jelas kalo stok pedenya dia itu nggak abis-abis. Dia juga humoris, ganteng, dan katanya sih #anti #pencitraan. Hobinya Rizal itu ngegym sama jalan-jalan ke luar negeri sama bokap semata wayangnya (eh?). Pokoknya kalo baca blognya dia, pasti mupeng abis deh. Hoahaha...

Kisah si Rizal ini bener-bener bikin saya senyum-senyum sendiri. Lucu banget. Gaya ngomongnya dia ceplas-ceplos, tapi cerdas. Oh iya, saya belom ceritain soal arti Surga bagi Rizal. Bagi si Rizal, Surga itu tempat dia bisa ngetwit dan ngeblog dengan hati senang dan hati riang. Dia bisa lepas sejenak dari rutinitas membantu bokapnya di toko kelontong mereka. Biarpun si Rizal ini keliatannya happy-happy aja, tapi sebetulnya dia ini lumayan peka. Dia yang pertama sadar kalo ada apa-apa sama si Juni (penghuni Surga lainnya). Kisahnya Rizal juga bikin saya terharu, terutama ketika dia cerita tentang ibunya. Saya kasih bocoran sedikit, ya.. Ibunya Rizal ini meninggal dunia, tepat sebelum mereka pindah ke ruko baru mereka. Bagi ibunya Rizal, ruko itu adalah impian mereka sekeluarga. Sayang, belum sempat 'mencicipi' beliau sudah dipanggil Yang Mahakuasa... Hiks :'(

Penghuni Surga selanjutnya namanya Juni Shahnaz. Bapaknya punya toko sablon, persis di sebelah toko kelontongnya Om Firdaus, bapaknya Rizal, si om-penjual-toko-kelontong-paling-ganteng-sejadebotabek. Juni ini puinter buangett. Tampangnya juga culun. Itu sebabnya dia suka dibully di sekolahnya. Untungnya ada Bruce Lee yang mengambil wujud Rizal (boong... yg bener Rizal doang yg ngarep bisa kayak Bruce Lee... xp), yang membantu Juni.

Jadi, si Suhu Rizal ini ngajarin Juni bela diri. Dia nggak suka ngeliat Juni diem aja digencet sama kakak kelasnya. Juni harus ngelawan. Juni pun melawan, tapi ironisnya, perlawanan dia itu justru menjadi bumerang di masa berikutnya, hingga berujung pada diskorsnya gadis-abg-baru-puber itu.

Keadaan semakin keruh karena bisnis toko sablon bapaknya Juni, Om Niko, lagi nggak bagus. Dan bisa dibilang, Juni-lah salah satu penyebab bisnis bapaknya jadi nggak lancar. Udah gitu, namanya juga ABG, Juni lagi 'seneng-senengnya' jadi pemberontak. Yah, bukannya seneng juga sih, tapi namanya juga abg, pasti suka galau-galau gimanaa gituh... Si Juni ini sedang dalam kebingungan, dalam rangka mencari jati dirinya yang sesungguhnya. Dan, Surga-lah tempat ia bisa merenungkan makna kehidupannya. #assiikk

Oh iya, si Juni ini demen banget baca kisah-kisah detektif. Mulai dari "Detektif Conan", kasus-kasus serial "Detektif Cilik Hawkeye Collins" dan "Amy Adams" (yang dua belakang saya nggak kenal.. hehehe), dsb. Klo lagi di Surga, doi demennya baca buku-buku begituan. Biasanya ditemenin sama si David, bocah cilik tetangga, yang juga gemar sama cerita-cerita detektif.

Nah, sekarang mari kita kenalan sama penghuni Surga yang terakhir. Namanya David Hadijaja (tapi di halaman depan ditulisnya David Hadidjaja..) alias David Edogawa. David ini paling kecil di antara mereka bertiga. Sama kayak Juni, dia demen banget baca cerita detektif. Kalo udah ketemu sama Juni di Surga, mereka pasti duduk anteng diem, masing-masing baca komik. Sementara si Suhu alias Master Rizal asik bercengkrama dengan para fansnya di dunia maya.

Si David ini tinggal sama ibunya, Imelda, di sebuah toko kue, yang masih masuk jajaran ruko itu. Letak rumahnya David sebelahan sama Juni. Jadi urutannya, ruko kelontong, ruko sablon, sama ruko bakery. Tante Imel ini single mother. Dia ditinggal lari sama bapaknya David, pas David masih di dalam kandungan. Si bapaknya David yang tukang judi, kabur sama cewek lain, setelah sebelumnya mencuri uang milik ortunya sendiri, yang nggak lain dan nggak bukan adalah mertuanya Imel. Jadilah Tante Imel harus menanggung hidupnya sendiri, dan jabang bayi yang ada di perutnya...

Untungnya, Tante Imel ini jago bikin kue. Dia pun bikin usaha kue sendiri. Kuenya Tante Imel itu unik, soalnya bentuknya malaikat. Malaikat yang lagi senyum. Kue itu pernah menolong Rizal dulu, pas lagi kangen sama mamanya.

Kisah David ini yang paling misterius. Sesuai sama David yang suka hal-hal berbau misteri. Jadi, pada suatu hari, ketika David terbaring sakit di rumahnya, dia mendengar bunyi keras di atap rumahnya. Dia pun melihat sekelebatan bayangan hitam misterius muncul di hadapannya. Kejadian itu kemudian berujung pada ditemukannya sebuah sayap hitam yang agak besar, dan berpendar indah.

Misteri itu sempat membuat David bingung. Apalagi, tepat di saat itu, dia melihat dua 'kakak'-nya, Rizal sama Juni, mengendap-endap di luar rumah pada pagi-pagi buta! Mau ngapain mereka? Lagi menjalankan misi apa? Kok dia nggak diajak? Dia kan bukan anak kecil lagi! Dia udah gede!! Misteri kehidupan David semakin rumit ketika Tante Imel terlihat semakin layu, lemah, dan nggak bergairah. Seakan-akan mamanya itu menyusut dalam sekejap! Apa mungkin papanya David yang tukang judi itu kembali dan ingin merenggut kebahagiaan mereka?

Yakyakyak... Sebelum saya berpanjang lebar, mendingan diudahin aja ceritanya. Sekarang saya mau bahas dikit-dikit (ya ampyun, masih belom selesai juga? sabar yaa... xp)...

"Pintu Harmonika" ini ceritanya sederhana banget. Tema ceritanya sih, utamanya menyorot ke kehidupan anak-anak dan remaja. Dimulai dari Rizal (yang menurut penerawangan saya duduk di kelas 2 SMA.. eh, maksudnya kelas 11), terus si Juni yang masih SMP, sama si David yang masih esde. Ketiga anak ini disatukan oleh Surga, sebuah suaka kecil di tengah kehidupan mereka. Surga itu penting banget keberadaannya bagi mereka bertiga, sampe mereka rela melakukan hal nekat, supaya tempat itu nggak direnggut dari mereka.

Gaya bercerita novel ini dibagi jadi tiga bagian dengan tiga sudut pandang, yaitu dari sudut pandang Rizal, Juni, sama David. Ada prolog sama epilog juga buat memberi gambaran permasalahan awal dan penyelesaiannya. Dari masing-masing sudut pandang, kita bisa tau sifat mereka kayak gimana, juga orang-orang di sekitar mereka. Saya paling suka sudut pandang Rizal, si ababil yang eksis luar biasa di dunia maya. Hihihiii

Dari segi bahasa, saya suka banget gaya penulisan Clara Ng dan Icha Rahmanti. Bahasanya teratur, diksinya juga oke. Yang agak mengganggu mungkin lumayan banyak pake kosakata Inggris kali, ya... Tapi, mungkin emang ABG sekarang gitu kali, ya? Demen pake kata-kata berbau Inggris. Malah si David yang di kepala saya bahasa Indonesianya buagus banget dan nggak kayak tulisan anak SD.

Satu hal yang mengganggu dari novel ini adalah banyaknya typo dan ketidak konsistenan kata. Misalnya di awal, kata maghrib ditulis dengan huruf kecil. Eh, dua halaman setelahnya ditulis dengan huruf besar. Terus, peletakan tanda bacanya juga nggak tepat. Masa di akhir kalimat dikasih spasi dulu baru titik .(ya, kayak begitu... setelah titik ada yang langsung nempel sama kalimat yang baru) Selain itu, masalah pemenggalan kata juga ada beberapa yang nggak tepat. Belum di akhir baris, tapi udah ada tanda sambung (-) untuk memenggal kalimat. Jumlah itu semakin banyak di akhir-akhir buku, bikin saya rada-rada nggak khusyuk bacanya, padahal itu merupakan inti cerita. Heehe.. bawel, yak saya? xp

Terus, satu typo yang fatal typo adalah mengenai nama David. Di halaman 13 tertulis kalo namanya "David Christian Hadidjaja" tapi di bab-bab bagian kisah David, namanya tertulis "David Christian Hadijaja". Saya sempet bingung tuh. Itu namanya si David dipanggilnya "Jaja" kayak Jaja Miharja apa "Yaya"? Yang manapun itu, semuanya terdengar aneh di telinga saya. Yah, mungkin penerbitnya lagi dikejar deadline, dan harus segera nerbitin buku ini kali, ya... Jadinya banyak typo deh. Tapi, sayang banget sebenernya kalo buku sebagus ini banyak typo-nya. Buat orang kayak saya yang "rewel" dengan tanda baca dsb., lumayan mengganggu... Hehehe...

Makanya, saya nggak mau baca buku yang nggak ada editornya, soalnya yang ada nanti saya malah bawel ngomentarin kesalahannya, bukan isi ceritanya... xp

Btw, novel ini katanya sih diangkat dari naskah film. Sutradaranya Luna Maya, Sigi Wimala, sama Ilya Sigma. Tapi belom tau kapan diputernya. Hhmm... Saya penasaran sih sama filmnya, pengen liat perwujudan orang-orang aslinya. Terutama penasaran banget sama Om Firdaus, Rizal, sama David. Tapi, kenapa Luna Maya ya sutradaranya? Ah, ya sudahlah.. Kita tunggu saja nanti tanggal mainnya....

Sekian

Dan terima kasih.... 

Eh, tunggu sebentar. Karena ini mau diikutkan ke review FYE di blognya Bzee, jadi saya mau kasih penerawangan, buku ini cocok dibaca untuk kalangan apa saja. Meskipun kata Luna Maya di sampul belakangnya, buku ini cocok dibaca semua umur, tapi kalo menurut saya sih, minimal dibaca usia 8 tahun ke atas kali ya.... Soalnya bahasanya agak-agak ribet kalo mau dibaca sendiri. Apalagi dia pake tiga sudut pandang yang berbeda gitu. Saya nggak yakin sih kalo anak-anak yang terlalu kecil bisa ngerti dengan perubahan sudut pandang ini.

Oh iya, ini pertama kalinya saya baca Clara Ng sama Icha Rahmanti. Jadi, saya dapetnya dua dong?? #uhuk #ngarep 



Satu lagi... Saya belom ngasih tau ya, dimana Surga mereka? Kuncinya, ada di balik Pintu Harmonika. Selamat berjuang para detektif kebanggaan bangsa.... 〜( ̄▽ ̄〜) (〜 ̄▽ ̄)〜


Pixie di Istana


Princess Katie's Kittens: Pixie di Istana by Julie Sykes
My rating: 3 of 5 stars

Princess Katie menemukan enam ekor anak kucing ketika ia sedang berkuda bersama Nona Blaze. Anak kucing itu rupanya dibuang oleh pemilik mereka di hutan dekat Istana Bintang Cahaya, tempat tinggal Katie. Katie, yang senang dengan binatang, memutuskan untuk merawat keenam anak kucing itu. Apalagi, ia sudah jatuh hati sama Pixie, anak kucing pertama, sekaligus tertua, di antara anak-anak kucing itu.

Kok tau kalo tertua? Iya dong, kan Pixie yang cerita... xp

Sayangnya, karena ketika itu Katie sedang membawa Misty, kudanya, mereka nggak bisa bawa kardus berisi anak kucing itu. Tapi, Nona Blaze sudah berjanji pada Katie, untuk membawa anak-anak kucing itu ke istana. Katie sendiri nggak bisa kembali ke hutan, meskipun sangat ingin. Yah, maklumin dong, dia kan putri raja. Jadi jadwalnya padat, meskipun dia masih kecil. Habis ini saja, dia harus latihan dansa untuk ulang tahun ibunya. Terus di sore harinya, ada acara minum teh. Jadi, Katie meminta tolong Nona Blaze, dan sahabatnya Becky, anak pelayan istana, untuk menyelamatkan anak-anak kucing itu.

Nona Blaze dan Becky menjalankan tugas dengan baik. Tapi, tunggu dulu.... Kok anak kucingnya hanya ada lima? Pixie nggak ada!! Kemana Pixiee??!!

Mampukah Katie menemukan Pixie? Apa yang dilakukan Pixie di luar sana? Dia pasti kelaparan dan kedinginan, di tengah udara malam yang dingin ini... Sanggupkah Pixie bertahan?

Oke, ini pertama kalinya saya baca tulisannya Julie Sykes. Ceritanya lumayan, meskipun sebenarnya kisah putri bangsawan, terutama yang di masa kini, nggak terlalu menarik minat saya. Soalnya saya males baca tentang kesibukan mereka yang harus berkuda lah, latihan dansa lah, pesta minum teh sama siapa lah. Jadinya, yah... Saya malas. Hehee..

Ngomong-ngomong, di dalamnya juga ada ilustrasinya, meskipun menurut saya nggak terlalu bagus. Entah kenapa, ilustrasinya mengingatkan saya ke cerita Lima Sekawan, alias jadul... xp

Tapi, cerita tentang Pixie-nya lumayan menyentuh. Jadi ingat sama saudara saya, yang nggak nangis nonton film sedih, tapi nangis kejer kalo nonton film hewan. Ya, saya sebelas dua belas sama dia deh... Meskipun perasaan saya lebih peka daripada dia sih kayaknya... xp



Ditilik dari segi cerita, buku ini boleh dibaca oleh anak-anak dari usia 6-10 tahun. Khususnya sih buat anak wanita. Soalnya ini kan cerita tentang Princess. Kalo anak cowok, mungkin nggak terlalu tertarik kayaknya.

 


March 16, 2013

1st Late Blogoversary Giveaway


Halo... halo... halo....

Selamat sore semuanya. Eh, lupa belom salam. Assalamualaikuummm~~

Terima kasih ya sudah mampir ke blog saya ini. Nggak nyangka, baru setahun bikin blog, pengunjungnya sudah hampir 25 ribu euy. Senangnya.... >v<

Nah, untuk merayakan rasa syukur itu, saya mau buat giveaway. Yuhuu....

Seharusnya sih giveaway ini diadain bulan Januari kemarin, bertepatan dengan setahunnya blog saya ini. Tapi, mau gimana lagi.... Rasanya awal tahun kemarin saya lagi riweuh banget ngurusin banyak hal. Terus, salah satu alasan khususnya sih, saya belum nemuin buku yang tepat buat dikasihin di giveaway ini.... Saya udah keliling-keliling, cari inspirasi, tapi kok kayaknya belum ada buku yang cocok gituh... T__T Eh, tanpa disadari, Maret pun tiba dan giveaway yang udah diniatkan dari akhir tahun lalu itu pun nggak terlaksana... #curcol #yangsabaryaaa

Hingga akhirnya, saya menemukan buku ini!!!

Ya, buku yang saya pilih adalah buku "Titik Nol" karya Agustinus Wibowo. Masih baru, ada tanda tangannya lagi. WOW! Tapi, ada nama sayanya. Yah, anggap aja itu kenang-kenangan dari saya.... XD

Ngomong-ngomong, kenapa sih saya milih buku ini?

Hhmm... Jujur saja, sejak awal buat giveaway ini, saya ingin banget ngasih buku yang bertemakan perjalanan. Bukan travelling yang biasa, tapi sebuah perjalanan yang mampu mengubah hidup kita. Soalnya, kita semua kan pengembara di semesta kehidupan ini, jadi buku yang seperti itu tampaknya sesuai dengan apa yang saya mau.

Lagipula, kalau melihat nama blog ini, "Edensordreamer", terlihat kan darimana inspirasi saya? Ya, tentu saja buku "Edensor" karya Andrea Hirata. Ditambah buku "Sang Pemimpi" juga, tentunya. Kenapa saya pakai nama itu? Pertama, karena saya bingung blog saya mau dinamain apa X). Kedua, karena nama ini sudah pernah saya pakai sebelumnya, dan menggambarkan mimpi saya. Iya, mimpi saya. Saya tuh dari kecil udah mimpi, pengen bisa ke Eropa. Mengelilingi negara-negara yang ada di sana, belajar, dan juga merasakan banyak hal di benua itu. Kebetulan saat membuat blog ini, saya lagi ngebet-ngebetnya pengen banget kesana, jadilah blog ini dinamai itu deh... XD

Lalu, kenapa saya nggak ngasih buku Andrea Hirata aja?

Hhmm... Sempat terpikir sebenarnya. Tapi, entah kenapa saya menginginkan sebuah buku perjalanan yang berbeda. Saya sudah terpikir untuk memilih buku Gusweng lainnya seperti "Selimut Debu" ataupun "Garis Batas". Eh, seolah mengerti apa yang saya inginkan, Gusweng menerbitkan buku baru!! (siape gue.. xD) Langsung deh saya terinspirasi untuk memberikan buku ini saja. Huehehehee... Dan sekarang, aku sudah tidak galau lagi...

Mau? Mau?? Mau???
 
Caranya gampang. Semuanya boleh ikutan. Isi aja rafflecopter yang udah saya sediain di bagian bawah blog ini. Sebelumnya, pertanyaannya saya bocorin dulu, deh. Nih dia:

Di antara buku-buku yang udah kalian baca, buku mana sih yang latar tempatnya paling menakjubkan dan bikin kalian membayangkan diri bisa pergi ke sana, atau bermimpi bisa ke sana suatu saat nanti? Dijelaskan ya... Soalnya saya jawaban yang paling bagus akan dapat buku "Titik Nol" karya Agustinus Wibowo. Ada tanda tangannya lagi. Tapi, ada nama saya di situnya. Cuekin aja, ya.... xDD Anggep aja itu kenang-kenangan dari saya nantinya. Wahahahaa...

Eh, tapi hadiahnya nggak cuma itu aja. Ada lagi satu buku "Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan di Mata Orang-orang Terdekat" karya A. Makmur Makka, dkk. Kenapa saya mau kasih buku ini? Soalnya, memang dari awal saya niat buku ini mau saya berikan ke orang lain. Bukan karena nggak suka. Saya suka banget malahan. Cuma, kok kayaknya sayang aja gitu kalo buku sebagus ini cuma dibaca sama saya aja. Dan jujur, berkat buku ini pulalah blog saya jadi ramai dikunjungi orang. Nggak nyangka baru setahun buat blog, pengunjungnya sudah sampai 20 ribu orang!!! Dan itu berkat buku ini, dan film "Habibie & Ainun". Padahal, film itu bukan dari buku ini, tapi nggak nyangka banyak yang datang ke blog saya karena mencari buku-buku tentang ibu Ainun. Makasih Ibu... TT___TT

Hadiah terakhir adalah "Madre" karya Dee Lestari. Soalnya, sesungguhnya saya udah baca bukunya dan adik saya sudah punya. Tapi, rejeki memang nggak kemana, saya dapat lagi buku ini. Jadi, sepertinya lebih bermanfaat kalau diberikan kepada orang lain... :)



So, silakan isi Rafflecopter di bawah ini yaa.... Giveaway ini berlangsung sampe 31 Maret 2013. Ajak teman-temanmu untuk ikutan juga yaa... :D




NB: Hhhuaa.... Kok saya baru sadar kalo salah ngetik yaa?? Maksudnya hadiahnya "Titik Nol" ya sodara-sodara... -_____- Maafkeun saya karena kecerobohan ini, mungkin karena saya belom selesai baca "Garis Batas" makanya kepikiran terus. #alesan

Thanks berat buat Mbak Desti yang udah ngingetin. Haduh haduh haduuhh..... #jedotjedotinpalaketembok

Oke, sekarang udah nggak ada masalah lagi. Insya Allah udah bener semuanya. Semoga nggak ada masalah lainnya dengan rafflecopternya. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, ya... n(_ _)n

Oh iya, ada yang ketinggalan. Ada tiga pemenang yang masing-masing akan dapat satu buku. Tapi, yang dapat "Titik Nol" adalah yang jawabannya paling saya sukai :)

March 14, 2013

The Hardy Boys: Memburu Emas Terpendam


Memburu Emas Terpendam by Franklin W. Dixon
My rating: 2 of 5 stars

Inilah buku petualangan Hardy Bersaudara yang saya baca. Bercerita tentang kakak beradik, Frank dan Joe, yang membantu ayah mereka, seorang detektif terkenal bernama Fenton Hardy, dalam mengungkapkan kasus perampokan dan perburuan emas.

Dari awal, pembaca sudah disuguhi oleh alur yang sangat cepat. Dimulai dari Frank dan Joe yang sedang berkemah dengan teman-temannya, terus ujug-ujug disuruh nyamperin bapake di Lucky Lode. Setelah itu mereka ketemu seorang lelaki tua bernama Mike Onslow, yang terluka karena kena peluru nyasar. Kebetulan! Soalnya, Hardy bersaudara ini disuruh oleh ayah mereka untuk mengawasi si Onslow.

Mike Onslow ternyata dulunya adalah penambang emas, bersama tiga orang temannya. Ketika mereka berhasil mendapatkan emas di tambang yang mereka gali, ternyata seorang penjahat bernama Black Pepper (yummy... #eh xp) ingin merebut emas mereka. Jadilah, salah seorang teman Onslow bernama Bart Dawson disuruh untuk membawa kabur emas itu dengan pesawat mereka, hingga mencapai tempat yang aman. Ketika emas itu sudah ada di luar jangkauan Burakku peppaa (pake logat jepang ceritanya #ups), emas itu akan dibagi rata berempat. Sayangnya, Dawson kemudian hilang tanpa jejak. Entah pesawat yang dibawanya mengalami kecelakaan dan dia mati dalam prosesnya, atau emas itu justru dibawa sendiri oleh Dawson untuk kepentingannya....

Tugas Frank dan Joe-lah untuk mencari tahu itu, sekaligus membantu ayah mereka, menemukan penjahat bernama Al Besar yang telah mencuri uang milik Bob Dodge. Ayah Frank dan Joe ternyata terluka dalam pengejaran Al Besar, jadi dia harus bed rest deh. Dan, dimulailah petualangan Frank dan Joe mendaki gunung lewati lembah dengan sungai es, demi menangkap Al Besar dan komplotannya.

Berhasilkah mereka? Apakah hubungan Al Besar dengan emas milik Mike Onslow?

Seperti yang saya bilang, alurnya cepet banget di awal-awal. Bat-bet-bat-bet. Dari hutan pindah ke bandara, dari bandara mereka diculik masuk ke rumah komplotan penjahat, dari situ mereka kabur naik taksi, eh taksinya punya penjahat juga. Akhirnya bisa kabur dari taksi penjahat, bisa naik pesawat sampe tempat si bokap, terus diancam pas mau naik helikopter, terus sampai di Lucky Lode, terus tiba-tiba mereka bisa nguping pembicaraan komplotan Al Besar, terlibat perkelahian satu lawan satu melawan salah satu penjahat paling berbahaya, dan yah... banyak petualangan yang menantang adrenalin lainnya.

Terus, kenapa ada "yah"-nya?

Hhmm... Kenapa ya? Mungkin karena saya nggak terlalu menikmati petualangan si Frank dan Joe ini. Saya ngerasanya kok, aneh banget gitu. Dua bocah ingusan (yah, yang satu udah 17 tahun sih...) melawan penjahat paling berbahaya di wilayah itu hanya dengan kekuatan mereka berdua. Ciyus ini loh...

Saya juga merasa tindakan mereka sangat gegabah untuk ukuran detektif. Mereka lebih mementingkan menangkap penjahat, dibandingkan keselamatan diri mereka sendiri, dan juga orang-orang terdekat mereka. Entah berapa kali si Frank dan Joe ini hampir mati gara-gara tindakan mereka itu. Dan itu nggak cantik untuk ukuran cerita detektif, menurut saya. Harusnya kan mereka lebih berhati-hati, apalagi mereka sudah tahu betapa berbahayanya gerombolan penjahat yang mereka kejar kali ini. Pede banget kalo mereka menganggap diri mereka bisa berhasil meringkus bos penjahat cuma berdua aja. Padahal pak pulisi sama bapake aja gagal gituh...

So, yeah... I didn't enjoy this story... I still prefer "Lima Sekawan" than this "Hardy Boys". Soalnya di "Lima Sekawan" masih alurnya itu masih jelas, ada deskripsi-deskripsi latar, waktu, suasana, yang bikin saya mampu membayangkannya. Sedangkan di "Hardy Boys" ini, mungkin karena alurnya terlalu cepat, jadi setiap tempat cuma digambarkan sekenanya saja. Nggak detail. Padahal detail itulah yang menurut saya turut membangun cerita. Misalnya kalo di "Lima Sekawan", saya selalu ngiler sama makanan-makanan mereka, meskipun itu hanya roti dan keju aja. Tapi di "Hardy Boys" ini, saya nggak merasa ngiler sama sekali tuh, padahal mereka berhasil nangkep ikan segede gaban buat makan malem.

Lalu, kalau di "Lima Sekawan", saya bisa membayangkan desa-desa ataupun tempat misterius yang mereka kunjungi, dan suasana misterius itu terbangun dengan baik, satu hal yang agak luput saya rasakan di cerita ini. Eh, maap. Saya jadi bandingin sama "Lima Sekawan" deh. Ya, daripada sama "Lima Sekawin" ga nyambung ntar... #eh Maksud saya sih, soalnya dua cerita ini sama-sama cerita detektip remaja gituh. Kan nggak mungkin dibandingin sama Sherlock Holmes dong?

Oke, oke... Mungkin emang seharusnya nggak dibanding-bandingin kali ya, soalnya kan ini dua cerita yang berbeda. Tapi, mau gimana lagi dong?? Kan emang udah dari sononya manusia, doyan mbanding-mbandingin dua hal yang dia ketahui. Ya udah deh, mungkin emang sayanya aja yang nggak bisa nikmatin cerita jenis beginian. Meskipun saya doyan banget sama cerita detektip-detektipan, yang satu ini kayaknya pengecualian. Heuheuu...

So, dua anak cukup eh dua bintang cukup buat buku ini...


Oh iya, karena review ini mau saya ikutkan ke FYE-nya Bacaan Bzee, jadi saya mau menerawang dulu. Oke, menurut penerawangan saya, buku ini sebaiknya dibaca oleh anak-anak di atas 14 tahun, karena jalan cerita petualangannya yang lebih hardcore dibanding Lima Sekawan. Takutnya, ditiru anak-anak aja getoh.


Ini pertama kalinya saya baca karyanya Franklin W. Dixon. I don't really like it though...


Dan karena ada namanya terjembreng jelas di cover, jadi masuk juga ke challenge ini...



March 7, 2013

Pesan-pesan Cinta


The Final Note: Pesan-Pesan Cinta by Kevin Alan Milne
My rating: 3 of 5 stars

Apa yang paling dibutuhkan dalam sebuah pernikahan?

Pertanyaan itulah yang bermain di benak saya setelah membaca "Pesan-pesan Cinta". Pertanyaan yang tidak saya ketahui jawabannya, karena saya belum merasakannya. Namun, bukan berarti saya tidak memiliki pendapat sendiri, mengenai apa yang paling dibutuhkan dalam sebuah pernikahan.... Berdasarkan apa yang saya lihat, perhatikan, dan alami, menurut saya, yang paling dibutuhkan dalam pernikahan adalah: komitmen.

Komitmen dalam menepati janji di hadapan Tuhan. Komitmen dalam menjalankan kewajiban sebagai seorang suami/istri. Komitmen dalam melaksanakan impian dan tujuan dari rumah tangga itu. Dan komitmen-komitmen lainnya yang telah disepakati bersama pasangan.

Menurut saya (lagi), jika salah satu di antara komitmen itu tidak terpenuhi, maka rumah tangga itu akan guncang. Akan rapuh... Dan, itulah yang terjadi pada rumah tangga Ethan dan Annaliese Bright.

Pertemuan singkat Ethan dan Anna di Wina, sudah cukup untuk membuat kedua insan ini jatuh cinta. Ketika itu, Ethan adalah seorang mahasiswa S2, dan Anna, yang baru saja lulus kuliah, sedang berjalan-jalan di Eropa bersama temannya. Ethan sangat menyukai musik, sedangkan Anna bercita-cita menjadi ilustrator buku anak. Dua orang seniman, bertemu di kota yang menjadi pusat seni. Sempurna, bukan?

Hubungan mereka pun berkembang, hingga akhirnya mereka menikah. Menikah, tidak seperti kisah dongeng, bukanlah akhir yang membahagiakan dari kisah cinta mereka, tapi justru menjadi awal, tempat segala hal teruji....

Awal pernikahan, semuanya masih tampak indah. Meskipun belum punya rumah dan uang melimpah, mereka masih merasa bahagia. Walaupun menurut saya, bibit-bibit "ketidakberesan" Ethan mulai terlihat. Ia mulai melupakan mimpinya sebagai penulis lagu, dari hal yang sederhana saja, yaitu lalai membuatkan lagu untuk Anna di hari peringatan pernikahan mereka.... Hanya Anna yang masih konsisten dalam mengejar mimpinya...

Lalu, tempat tinggal mereka terbakar. Anna juga mengalami keguguran. Kehidupan mereka kembali ke titik nol, dan mereka harus memulainya lagi dari awal. Hingga akhirnya Ethan mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan pembuat jingle iklan yang cukup besar....

Kehidupan mereka mulai membaik. Anna mulai mencoba untuk hamil, dan gagal. Mencoba lagi, lalu gagal lagi. Hingga akhirnya mereka berhasil dan Anna melahirkan sepasang bayi kembar. Sayangnya, hanya satu yang bertahan hidup. Dialah Hope, bayi mungil yang menjadi tumpuan harapan mereka.

Kebutuhan hidup yang semakin tinggi membuat Ethan menjadi seorang yang gila kerja. Ia mulai melupakan Anna, dan parahnya, putri mereka. Ethan melupakan janji-janji yang dulu pernah diucapkannya di hari pernikahan. Janji-janji kepada Anna, kepada Grandpa Bright, kepada ayahnya, dan kepada banyak orang, yang dulu pernah dicatatnya di sebuah kertas. Ethan semakin melihat segala sesuatunya dari sisi materi. Ia memang masih memiliki komitmen untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Tapi ia melupakan komitmennya untuk membuat mereka tetap bahagia.

Hingga akhirnya, peristiwa itu mengubah segalanya....

Anna kecelakaan. Ia mengalami koma, dan sangat sedikit harapan hidup yang tersisa untuknya. Ironisnya, kecelakaan itu terjadi ketika Anna ingin membelikan gitar sebagai hadiah ulang tahun untuk Hope. Gitar yang seharusnya dibeli oleh Ethan, tapi ia kembali lalai untuk melakukannya.

Peristiwa itu mulai menyadarkan Ethan mengenai apa yang seharusnya menjadi prioritasnya. Apa yang paling penting bagi dirinya. Apalagi, ia pun hampir saja kehilangan harapannya, kehilangan Hope-nya, ketika ia terlalu sibuk dengan Anna yang sedang terbujur di RS, dan (lagi-lagi) melalaikan kewajibannya pada putri semata wayangnya.

Sepertinya saya sebel sama Ethan, ya?

Sejujurnya, memang iya. Di buku ini, Ethan-lah yang banyak melupakan janji-janji dalam perkawinan mereka. Sementara Anna, tetap memenuhi janjinya untuk melukis di setiap hari ulang tahun perkawinan mereka, di tahun pertama saja Ethan sudah lupa untuk membuatkan lagu buat Anna. Ethan juga jarang memainkan gitar untuk Anna, padahal ia telah berjanji untuk melakukannya seminggu sekali. Sementara Anna tak pernah lalai untuk memberikan "Surat Cinta Sejati" kepada Ethan, setiap kali Ethan memainkan gitar untuknya. Ditambah lagi, Ethan-lah yang lebih dahulu melupakan mimpinya, melupakan impian yang dibangun oleh keluarga kecil mereka....

Ya, memang wajar sih. Beban Ethan sebagai seorang kepala keluarga membuatnya harus berpikir panjang untuk masa depan. Apalagi, kelihatannya Ethan ini orangnya perfeksionis banget, jadi semuanya harus berjalan sesuai keinginannya. Misalnya, sebelum menikah, paling nggak dia harus udah kerja dulu. Sebelum punya anak, paling nggak harus punya pekerjaan yang lebih mapan lagi (karena kerja sebelumnya 'cuma' jadi guru musik aja), gaji yang lebih besar. Sayangnya, sifat perfeksionis Ethan ini hanya bersandar pada materi saja, sebuah landasan yang memang penting, tapi menurut saya cukup rapuh.

Melihat sifat Ethan ini mengingatkan saya pada sebuah pembicaraan dengan beberapa orang teman lelaki saya. Ketika itu, pembicaraan kami tentang gaji dan pekerjaan. Teman-teman saya yang lelaki ternyata memang lebih berorientasi pada materi dibandingkan passion. Saya masih ingat bagaimana seorang teman saya pindah kerja dari posisinya yang sebenarnya cukup dia sukai, ke perusahaan lain yang menawarkan gaji lebih besar. Sayangnya, dia nggak bahagia setelah pindah, dan nggak bisa move on dari tempat kerja lamanya....

Ngomong-ngomong, saya jadi ingat sebuah manga yang saya baca beberapa tahun yang lalu. Manga berjudul Orenji Yane no Chiisana Ie (Rumah kecil beratap oranye) itu bercerita tentang seorang lelaki yang ditinggal pergi istrinya. Istrinya pergi dari rumahnya, tepat ketika sang suami naik jabatan dan bisa membeli rumah idaman mereka. Sang istri sudah nggak tahan, karena suaminya nggak pernah di rumah dan memperhatikan kebutuhan ia dan anak-anaknya....

Sekali lagi, saya nggak menyalahkan kaum adam yang berpikiran seperti itu, karena dalam sistem masyarakat kita, lelaki seperti itulah yang dituntut. Lelaki yang memiliki pekerjaan di perusahaan besar, dengan gaji yang digitnya nggak sanggup dihitung tangan (lebay), dsb. Lelaki seperti itulah yang dinilai pantas, baik oleh masyarakat ataupun oleh calon mertua. Ya, secara tidak sadar, masyarakat kita memang masyarakat yang materialistis. Akui saja itu.

Sementara sebagai seorang wanita, istri, dan ibu, tentu saja Anna bahagia suaminya mendapatkan pekerjaan yang bagus. Ia sanggup bersabar, kehilangan suaminya sebentar saja, asalkan kehidupan mereka bisa lebih membaik. Mereka bisa memiliki rumah yang diidam-idamkan, dengan halaman yang luas, tempat Hope bisa bermain, dan tidak kekurangan materi. Sekali lagi materi.

Ah, tapi orang-orang yang mengatakan "uang tidak bisa membeli kebahagiaan" itu sebagian besar adalah orang-orang yang sudah pernah punya uang banyak, sehingga merasakan hal itu. Coba saja tanyakan kepada mereka yang nggak punya uang, tentu saja mereka akan menjawab berbeda.

Beberapa kali saya sempat kesal setengah mati sama Ethan, yang mengucapkan kata-kata tajam ke Anna. Saya juga merasa sedih, karena lelaki manis yang dulu sering bermain gitar dengan asyiknya di jalan-jalan kota Wina itu telah menghilang. Sama seperti Anna, Grandpa Bright, dan Hope.... saya merasa telah kehilangan Ethan.

Namun saya masih menganggap Ethan sangat beruntung, karena ia masih mendapatkan kesempatan untuk meminta maaf kepada Anna. Ethan masih diberi waktu untuk merenungkan apa yang telah ia perbuat pada keluarganya. Ia juga diberi kesempatan terakhir untuk membuat Anna bahagia...

Coba saja bayangkan, berapa banyak orang di luar sana yang kehilangan pasangan atau orang mereka cintai begitu saja. Tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal, terima kasih, ataupun maaf. Dan tentu banyak orang seperti Ethan yang akan menyesali perbuatannya seumur hidupnya, dan berharap agar sang waktu berbaik hati hingga berkenan untuk mengembalikan hidup mereka ke masa ketika semuanya masih berjalan dengan semestinya.

Ya, tapi rasanya saya hanya bisa ngomong saja, karena sesungguhnya hal itu belum teruji pada diri saya. Saya belum memiliki pasangan, dan saya belum merasakan beratnya ketika dua sifat, dua pikiran, dan dua kepentingan saling berbenturan. Sepertinya memang benar, butuh cadangan maaf yang besar untuk semuanya. Bukan hanya untuk orang yang kita sakiti, tapi juga untuk diri kita sendiri, dan orang lain di sekitar kita....

Did you really search the world to find the true love?
Did you ever ask the girl if that would be enough?
And do you ever thank the Lord, for all He's given you?
Well I do

And just last night,
Before I went to bed,
I knelt to pray,
And this is what I said....
Take my life if you'd like,
Because I found what I came to find.
Or leave me here for a while,
Cuz I found heaven... in her smile

March 2, 2013

Harry Potter dan Kamar Rahasia


Harry Potter and the Chamber of Secrets (Harry Potter, #2)Harry Potter and the Chamber of Secrets by J.K. Rowling
My rating: 3 of 5 stars

Meskipun ini buku kedua, tapi ini adalah buku Harry Potter pertama yang saya baca. Ya, ceritanya panjang dan udah saya jelasin di ripiu pertama. Silakan dibaca bagi yang mau... xp #sokterkenal

Hhhmm... Gimana ya buku kedua ini? Kok setelah saya baca, kesannya jadi beda ya? Kok kayaknya terlalu banyak 'bolong' di awal yang dulu nggak saya sadar, tapi sekarang jadi masalah buat gw... (Kalo buat lo nggak sih ya udah... xp)

Yah, seperti yang kita ketahui bersama, di buku kedua ini dek Harry nggak bisa pergi ke Hogwarts dengan cara yang biasa. Jadi, dia pake cara yang luar biasa. Super!! Ajaib!! Nyeleneh!!

Udah pada tau dong semuanya?

Yeah, dia naek pesawat terbang. Eh, naek mobil terbang. Punya siapa lagi kalo bukan keluarga Weasley. Dan untuk pertama kalinya pembaca diajak untuk mengenal keluarga Weasley secara utuh. Rumah mereka yang acak adul tapi sangat hangat, the Burrow. Orang tua Ron, Arthur dan Molly, yang baik hati dan ramah. Dan, kehidupan di the Burrow itu sangat mengasyikkan. Paling mengasyikkan di sepanjang idupnya Harry Potter yang cuma kenal lemari keluarga Dursley atau kamar yang sempit di loteng (?). Yah, pokoknya ke tempat yang mengenaskan itulah...

Heran, kok bisa orang kayak keluarga Dursley ini nggak ketangkep hukum? Atau minimal ketauan sama tetangga-tetangganya kalo mereka memperlakukan Harry kayak budak. Di zaman gini, gitu loh?? Mana tuh pelindung hak-hak anak, kok nggak ada yang tau? Ah, ya sudahlah. Harry Potter kan emang bukan siapa-siapa di dunia Muggle. Dia baru siapa-siapa di dunia sihir. Lupa saya... Hahaha

Hhhmm... Di buku ini saya nggak tahan sama kelakuannya Gilderoy Lockhart, yang bikin saya pengen skip semua dialognya dia. Sumpe ya, ni orang nggak ketulungan narsisnya. Om-om populer yang berasa paling ganteng sedunia, sampe-sampe saya pengen nyemplungin dia ke danau di depan Hogwarts itu (apa deh namanya?).

Di buku kedua ini untuk pertama kalinya pembaca disuguhi wujud aslinya si tuan tanpa hidung. Yah, meskipun pas dia masih sekolah di sonoh sih... Jadi, pasti banyak berubahnya dengan yang sekarang. Yang pasti, sekarang dia tambah jahat. Hwahahahaaa

Oh iya, di buku ini juga untuk pertama kalinya saya dibuat sadar dengan kehadiran Ginny. Saya nggak nyangka, si anak perempuan yang eksistensinya nggak begitu disadari (oleh saya) ini, ternyata memiliki peranan besar di kemudian hari. But i don't think i like Ginny in this book... Hhhmm... Dan sesungguhnya dia tetep nggak jadi tokoh cewek favorit saya di serinya Harry Potter sih. Saya masih tetep berharap Harry bakal jadi sama Hermione atau paling nggak sama Luna.. Hehehehe #kabursebelumdigetokpensharryginny

Saya nggak inget sih, ini udah keberapa kalinya saya baca buku yang kedua ini. Apa jangan-jangan, saya emang baru baca sekali doang ya?? Lupa....

Aduh, saya terserang penyakit malasbikinripiusitis nih. Jadi, sudah saja sampai disini. Nanti kalo ada waktu kita boleh numpang panjangain ripiu lagi... Ciao~



Sebelum ditutup, untuk memenuhi syarat FYE di blognya Bacaan Bzee (xp), menurut saya buku ini cocok untuk dibaca anak-anak usia 8-15 tahun. Tapi orang dewasa pun bisa menikmatinya. Dan menurut saya, buku anak yang bagus itu adalah buku yang nggak hanya bisa dinikmati oleh anak-anak, tetapi juga oleh orang dewasa... ^___^

Egrang, Kucing, dan Stabilitas Negara?


The King's Stilts by Dr. Seuss
My rating: 5 of 5 stars

Pada zaman dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Binn. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja bernama Birtram, yang sangat multitasking. Misalnya aja, dia bisa menandatangani dokumen-dokumen penting sambil menggosok tubuhnya ketika mandi, atau (lagi-lagi) menandatangi dokumen penting sambil mengoleskan mentega ke rotinya. Aha! Hebat sekali, bukan? :D

Binn itu bukanlah kerajaan biasa, karena kerajaan ini dikelilingi oleh pepohonan besar bernama Dike Tree. Dike Trees memegang peranan penting bagi kerajaan ini, karena merekalah yang menghalangi air laut masuk ke dalam Binn. Ya, maklum aja, soalnya Binn itu letaknya lebih rendah dari lautan. Jadi, kalo nggak ada Dike Trees, maka WUSSHHH! kerajaan itu akan tersapu bersih dari peta.

Begitu pentingnya Dike Trees, sampe-sampe raja mengerahkan sepasukan meong, yang jumlahnya nggak tanggung-tanggung: SERIBU EKOR!! Lima ratus untuk giliran jaga pagi, dan lima ratus lainnya untuk jaga malam.

description
Patrol Cat siap beraksi (Gambar: 4us2be.com)


Tapi, kenapa butuh meong sebanyak itu?

Soalnya, Dike Trees ini pohon yang sangat lezat. Seenggaknya bagi sekawanan burung bernama Nizzards. Mereka doyan banget gerogotin akar Dike Trees yang maknyus rasanya ini. Jadi, para meong adalah serdadu yang sangat penting bagi Kerajaan Binn. Mereka adalah pasukan elit, yang memiliki tugas suci untuk menjaga keamanan, kenyamanan, dan ketentraman Binn. Mereka bahkan punya lencana sendiri yang bertuliskan "PC" alias Patrol Cat.

Pokoknya, saking pentingnya kucing-kucing ini, mereka tuh pasti mendapatkan yang terbaik dari kerajaan. Makanan terbaik, tempat tidur terbaik, dan segala yang terbaik-terbaik... Ngiri? Silakan daftar untuk jadi "PC", semoga sukses... xp

description
Dare to join us? U may dream... (Gambar: thesundaytimes.co.uk)


Dari tadi cerita tentang raja, puun, sama kucing aja. Terus, apa dong peranan egrang di cerita ini?

Ehem. Begini lho... Jadi, si paduka maharaja itu hobinya maen egrang. Sounds childish? Ya, raja pun kan butuh hiburan. Daripada dia maen judi atau ngetrek, kan maen egrang lebih positif toh? xD Jadi yah, si paduka ini hobinya maen egrang di kala senggang di tengah padang ilalang bareng dayang-dayang yang maen layang-layang... (Hhuu... ngelawak aje lo, Tik. Yang serius napah! #ditoyoregrang)

Eh, saya serius! Si paduka ini hobi maen egrang. Dan dia sangat berkomitmen sama egrangnya. Artinya, kalo dia lagi maen ya maen dengan sungguh-sungguh, tapi kalo lagi kerja juga kerja dengan sungguh-sungguh...

Namun ternyata.... Nggak semua orang suka dengan hobi si paduka ini. Ada seorang jahat bernama Lord Droon yang menganggap hobi sang raja ini sangat kekanak-kanakan, dan diapun merencanakan sebuah konspirasi bessaarrr untuk melenyapkan egrang kesayangan paduka. Dia menyuruh bocah pelayan kesayangan raja, Eric, untuk menyembunyikan egrang itu.

Dan... apa yang terjadi? Paduka menjadi sedih, lemah, lesu, nggak bersemangat lagi. Dia sedih. Dia stress. Dia depresi.

Dan siapa sangka kalau sepasang egrang ternyata dapat mempengaruhi stabilitas suatu negara??? Dapatkah sang paduka menemukan kembali egrangnya dan membuat kerajaan itu kembali aman sentosa gemah ripah loh jinawi seperti dahulu kala? Silakan baca sendiri bukunya... :D

Suka dengan buku ini. Emang bukan Dr. Seuss namanya kalo nggak punya ide yang aneh. Dari sepasang egrang aja, bisa lahir cerita tentang kerajaan yang lucu begini. Hahahaaaa... Apalagi pake ada cerita tentang kucing-kucingnya lagi... Gimana saya nggak jatuh cinta coba?? O(^ω^)O

Apalagi ilustrasinya juga oke. Nggak pake warna-warna cerah yang jadi khasnya Dr. Seuss, tapi cuma pake warna hitam, putih, sama merah aja. Pokoknya, suka deh.. HIHIHI...

Kalo dari segi umur, cocok buat dibaca anak-anak umur 5-8 tahun kali ya? Soalnya ceritanya sederhana, tapi ada makna yang cukup dalam juga, misalnya, kalo punya benda berharga (seperti egrang) mestinya disimpen di dalam lemari besi yang kuncinya ada sekitar 17 lapis, biar orang rese kayak Lord Droon nggak bisa mencurinya dari kita... xD