June 28, 2013

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck: Sejak Dahulu Memang Begitulah Cinta....


"Jika hati kau diberi-Nya nikmat pula dengan cinta sebagaimana hatiku, marilah kita pelihara nikmat itu sebaik-baiknya, kita jaga dan kita pupuk, kita pelihara supaya jangan dicabut Tuhan kembali. Cinta adalah iradat Tuhan, dikirimnya ke dunia supaya tumbuh. Kalau dia terletak di atas tanah yang lekang dan tandus, tumbuhnya akan menyiksa orang lain. Kalau dia datang kepada hati yang keruh dan kepada budi yang rendah, dia akan membawa kerusakan. Tetapi jika dia hinggap kepada hati yang suci, dia akan mewariskan kemuliaan, keikhlasan dan taat kepada Ilahi."

Cinta adalah sesuatu hal yang suci. Ia adalah fitrah yang dianugerahkan Tuhan untuk segenap umat manusia. Ia adalah rasa yang akan membuat hati kita berbunga-bunga dalam sekejap atau serasa dilanda badai dalam sekejap pula. Cinta itu membawa kenikmatan, tetapi di saat yang sama juga menyakitkan. Itulah yang ingin disampaikan Hamka dalam bukunya "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck".

Buku ini berkisah tentang dua insan, Zainuddin dan Hayati, yang harus menempuh jalan panjang demi mencapai cinta mereka. Cinta yang suci, cinta yang tulus, cinta yang tidak berdasarkan nafsu ataupun harta, tetapi cinta yang murni yang didasarkan kepada cinta kepada sang Maha Pencipta dan pemilik segala cinta.

Sekarang, izinkan saya bercerita tentang kisah mereka...

Cerita dimulai dari kisah ayah Zainuddin, Pandekar Sutan, yang dibuang ke Mengkasar setelah tidak sengaja membunuh pamannya, ketika ia berusaha mempertahankan haknya atas harta warisan ibunya. Di Mengkasar, sang ayah menikah dengan wanita Bugis terhormat bernama Habibah. Meskipun Habibah berasal dari keluarga bangsawan, tetapi pernikahan mereka tidak disukai oleh banyak orang, sehingga mereka memutuskan tali persaudaraan dengan keluarga Habibah.

Lalu kemudian, lahirlah Zainuddin. Pandekar Sutan yang hatinya dulu sempat terluka, kini mulai mengecap bahagia. Sayang, kebahagiaan itu tak berlangsung lama, karena Habibah meninggal dunia ketika sang putra masih sangat membutuhkan dirinya. Kehilangan istri tercinta membuat Pandekar Sutan tak dapat hidup bahagia. Ia pun menyusul sang istri ketika Zainuddin beranjak besar. Tinggallah Zainuddin seorang diri, yang kini dirawat oleh ibu angkatnya, Mak Base.

Meskipun menjadi orang buangan, kerinduan akan kampung halaman tetap mengisi hati ayah Zainuddin. Ia kerap bercerita kepada putra semata wayangnya tentang kampung halamannya yang indah, tanahnya yang subur, gunungnya yang menjulang tinggi, yang membuat Zainuddin turut merasakan kerinduan yang sama.

Itulah sebabnya, ketika beranjak dewasa, Zainuddin memutuskan untuk pergi ke tanah Minang, ke kampung halaman ayahnya untuk menuntut ilmu dan mengenal secara langsung tanah nenek moyangnya. Diiringi tangis dan rasa berat hati Mak Base, karena ia tidak tahan harus berpisah dengan anak kesayangannya dan merasa bahwa mereka tak akan bisa bertemu lagi karena ia sudah cukup tua. Namun, hati Zainuddin telah mantap, dan tak ada yang bisa dilakukan Mak Base lagi selain merestui putra angkatnya itu.

Kehidupan baru Zainuddin di dusun Batipuh, kampung halaman ayahnya sama sekali tidak mudah. Meskipun ia memiliki darah Minang, tetapi ia sama sekali tidak dianggap sebagai orang Minang. Masa lalu ayahnya sebagai orang terbuang, sekaligus kenyataan bahwa ayahnya menikah dengan orang Bugis, membuat orang-orang menganggap ia adalah orang Bugis. Padahal, di Bugis sendiri ia tidak dianggap sebagai orang Bugis, tetapi sebagai orang Minang. Cara manusia mengkotak-kotakkan seseorang berdasarkan tempat lahirnya memang sering kali tidak manusiawi, dan itulah yang dialami oleh Zainuddin.

Untungnya ia bertemu Hayati, di sebuah siang ketika hujan lebat mengguyur bumi Batipuh. Hayati adalah seorang gadis cantik, kembang desa yang memiliki perangai lemah lembut. Zainuddin yang ketika itu membawa payung kemudian meminjamkan payungnya kepada gadis itu. Hubungan mereka pun dimulai. Berawal dari surat yang dikirimkan Zainuddin kepada Hayati. Tak butuh lama bagi keduanya untuk jatuh cinta, dan perasaan mereka makin menguat setiap harinya. Sayangnya, keluarga Hayati mendengar hal itu, dan paman Hayati meminta Zainuddin untuk meninggalkan Batipuh, atas nama adat yang terhormat, mengatakan bahwa itu demi kebaikan mereka berdua dan karena mereka berdua sebenarnya tidak berjodoh (memangnya siapa dia? seenaknya bilang orang nggak berjodoh?).

Zainuddin pun pindah ke Padang Panjang dengan hati hancur. Untungnya Hayati sempat menemuinya, dan mengungkapkan perasaannya, perasaan cintanya yang tulus dan murni, yang membuat Zainuddin mampu menjalani harinya di perantauan. Korespondensi mereka masih terus berlanjut, dan perasaan mereka tampaknya terus menguat setiap harinya, hingga akhirnya Hayati mendapatkan izin untuk pergi ke Padang Panjang, menginap di rumah sahabatnya, Khadijah.

Khadijah bisa jadi adalah tokoh yang paling saya benci di novel ini. Bukan hanya menertawakan cinta suci Hayati kepada Zainuddin, ia juga mempengaruhi Hayati agar berpikir dan bertindak seperti dirinya, seorang gadis kota dengan gaya hidup hedon dan tidak peduli lagi dengan tata krama. Bujukan Khadijah agar Hayati, yang tidak paham mode, mengganti pakaiannnya berhasil, dan bertemulah Hayati dan Zainuddin di acara pacuan kuda dan pasar malam, sebuah festival yang ramai dan meriah di daerah itu. Zainuddin tidak merasa senang, tapi justru terkejut dan kecewa, karena pakaian gadis itu kini terlalu banyak menampilkan bentuk tubuh, ketat, dan sama sekali tidak sesuai dengan adat Minang maupun ajaran agama mereka. Ditambah lagi, Khadijah dan teman-temannya menertawakan Zainuddin, yang membuat Hayati semakin meragukan rasa cintanya kepada pemuda itu.

Keraguan Hayati itu semakin besar ketika Khadijah semakin menghasutnya. Mengatakan kalau Zainuddin bukan jodohnya (lagi-lagi mereka bermain Tuhan-tuhanan), bahwa Zainuddin tidak pantas dengan Hayati, bahwa Zainuddin lelaki yang membosankan yang hanya tahu ilmu agama (memang apa lagi bekal yang paling penting untuk menikah selain itu?), bahwa ia tidak pantas dengan Hayati (Ha! Tau apa dia soal perasaan Hayati, dan siapa lelaki yang pantas atau tidak pantas untuknya?). Bagian ini benar-benar menguras emosi saya, karena Hamka begitu pandai menampilkan sosok Khadijah sebagai seorang perempuan yang menyebalkan, materialistis, hedonis, tidak agamis, dan juga narsis. Apalagi si Khadijah ini punya misi untuk mencomblangkan kakaknya, Aziz, dengan Hayati.

Aziz ini berbeda 180 derajat dengan Zainuddin. Sifatnya nggak beda jauh dengan adiknya, ditambah lagi Aziz ini senang main perempuan, dan bukan tipe lelaki yang setia. Tidak terhitung berapa banyak wanita yang didekatinya, tapi tanpa ada niat serius. Dia memang tidak berniat untuk menikah, tetapi melihat Hayati yang cantik jelita, dia tergoda juga.

Singkatnya, Aziz meminta kepada keluarga Hayati untuk menikahinya. Dia membawa berbagai barang yang menunjukkan posisinya sebagai orang berada. Di lain pihak, Zainuddin sedang merasa sedih karena ia baru saja mendapat surat bahwa ibu angkatnya di Mengkasar meninggal dunia, dan meninggalkan warisan yang jumlahnya tidak sedikit. Uang itu sebenarnya dulu adalah uang warisan dari ayah Zainuddin, yang dengan cerdas digunakan Mak Base untuk berbisnis, sehingga jumlahnya pun berlipat-lipat.

Zainuddin yang merasa bahwa perasaan cintanya kepada Hayati semakin besar, akhirnya memutuskan untuk memberanikan diri mengirimkan surat pinangan kepada keluarga Hayati. Namun Zainuddin tidak menyebutkan kalau ia sudah menjadi orang kaya sekarang.

Ya, tentu kita sudah tahu jawabannya. Keluarga Hayati tentu saja memilih Aziz, yang asal usulnya jelas, hartanya juga jelas, meskipun iman dan perilakunya tidak jelas. Yang bikin sakit hati, Hayati sendirilah yang memutuskan untuk memilih Aziz, meskipun dia diberi tahu kalau Zainuddin juga meminangnya. Jadilah Hayati menikah dengan Aziz, meninggalkan Zainuddin yang menderita patah hati begitu dalam, hingga sakit berbulan-bulan dan hampir mati karenanya.

"Minangkabau negeri beradat, seakan-akan hanya di sana saja adat yang ada di dunia ini, di negeri lain tidak. Padahal kalau memang negeri Minangkabau beradat, belum patut orang seperti dia hendak ditolak dengan jalan yang begitu saja. Permintaan bisa terkabul dan bisa tidak, tetapi tidak ada hak bagi yang menolak buat menyindir pula kepada orang yang ditolaknya. Apalagi pintu yang dilaluinya bukan pintu "belakang" tetapi pintu muka, tiba tampak muka, berjalan tampak punggung." (Hal. 115)

Untungnya ada Bang Muluk, anak dari induk semang tempat Zainuddin tinggal, yang baik hati dan mampu membawanya kepada alam kesadaran. Kesadaran bahwa ia tidak pantas merasa menderita sendirian seperti ini, karena Hayati tentunya sedang berbahagia dengan suaminya yang kaya dan sama sekali tidak mengingatnya. Ia juga tidak pantas untuk merasa bahwa dunia sudah kiamat hanya karena seorang wanita, apalagi jika cintanya memang tulus maka ini adalah takdir yang telah dipilihkan Tuhan untuknya. Serasa ditampar oleh kata-kata Bang Muluk itu, Zainuddin pun memutuskan untuk pindah ke Pulau Jawa. Terlalu sulit baginya berada di tempat itu, sementara bayangan Hayati ada dimana-mana. Bersama Bang Muluk, sahabat sejatinya yang juga menjadi kakak baginya, mereka pun pindah ke Pulau Jawa dan mengadu nasib disana.

"Bukan begitu jalan yang ditempuh budiman. Jika hatinya dikecewakan, dia selalu mencari usaha menunjukkan di hadapan perempuan itu, bahwa dia tidak mati lantaran dibunuhnya. Dia masih hidup, dan masih sanggup tegak. Dia akan tunjukkan di hadapannya dan di hadapan suaminya bahwa jika maksudnya terhalang di sini, pada pasal lain dia tidak terhalang." (Hal. 151)

Nah, disinilah keadaan sedikit demi sedikit mulai berbalik. Sebenarnya saya mau cerita lebih banyak lagi, kalau bisa sampai akhir ceritanya malahan. Tapi kalau begitu, nanti jadinya tidak seru dong? Jadi, saya kasih bocoran sedikit aja ya....

Zainuddin jadi sukses di Jakarta. Ia sukses sebagai penulis yang dikagumi dan dipuja banyak orang. Tapi lalu ia pindah ke Surabaya karena ingin membangun bisnisnya sendiri di bidang penerbitan. Sementara itu, Aziz dipindahkan ke Pulau Jawa, tepatnya di Surabaya. Dan... untuk sekali lagi takdir kembali mempertemukan mereka, tapi kini dalam bentuk yang berbeda... karena Hayati mulai sadar seperti apa suaminya, dan sedikit demi sedikit, uang yang dimiliki Aziz tidak sanggup membiayai gaya hidupnya yang hedon itu....

Apa yang akan dilakukan Zainuddin? Maukah ia menolong Aziz dan Hayati yang dulu telah menyakitinya? Akankah Hayati kembali kepadanya dan mungkinkah mereka diberi kesempatan untuk menyambungkan kembali tali cinta yang dulu terputus? Lalu, apa hubungan ini semua dengan Kapal Van Der Wijck yang menjadi judul cerita?

Karya klasik Indonesia karangan Hamka ini cukup membuat saya sesak napas. Kisahnya yang seputar kemalangan hidup dan cinta yang tak sampai berbalut kepasrahan dan takdir kepada Sang Pencipta membuat saya menahan napas berkali-kali. Emosi saya naik turun dibuatnya, terutama di bagian pertengahan ketika Zainuddin diusir dari Batipuh, ketika Khadijah mengata-ngatai Zainuddin di depan Hayati, ketika Zainuddin menerima surat penolakan dari mamak Hayati karena mereka bangsa beradat dan tidak mau menerima pinangan Zainuddin, juga di akhir ketika keadaan Hayati dan Aziz semakin buruk, dan Hayati harus menuai apa yang dulu pernah dilakukannya kepada Zainuddin.

Akhir ceritanya sendiri mengenaskan, dan mungkin banyak yang merasa tidak puas dan sebal dengan perilaku Zainuddin di akhir. Namun entah kenapa saya bisa menerimanya, karena apa yang dilakukan Zainuddin itu memang sudah seharusnya begitu. Saya memang menyesalkan tindakannya yang terlalu emosional yang membawa mereka kepada tragedi, tapi saya merasa bahwa Zainuddin memang harus melakukannya, karena itu adalah yang terbaik bagi mereka berdua. Kabarnya, buku ini akan difilmkan di tahun 2013 ini, jadi mari kita tunggu saja.

Ketika cinta suci kedua orang manusia dipisahkan oleh hal-hal yang bersifat fana, memang pastilah tragedi akhirnya. Zainuddin dan Hayati adalah contohnya. Ketika atas nama adat mereka menghinakan orang lain, atas nama kepandaian mereka menganggap orang lain bodoh, atas nama harta mereka menginjak-injak orang lain, dan memisahkan dua insan yang ingin meraih ridho-Nya dengan pernikahan, maka tragedi adalah akhir yang pasti.

Dan benarlah kata Ti Pat Kai kalau, "Sejak dahulu memang begitulah cinta... deritanya tiada akhir....".



Judul: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Penulis: Hamka
Penerbit: PT. Bulan Bintang
ISBN: 978-418-055-6

June 25, 2013

Bagaimana Saya Menulis Review?

Sumber: thingsaboutbooks.tumblr.com

Terinspirasi dari blognya Aul di The Black in Book tentang bagaimana dia menulis reviewnya, maka kali ini pun saya memberanikan diri untuk sharing curhat, bagaimana saya menulis review. Beda orang memang beda cara menulis reviewnya, dan dengan tau kebiasaan orang, kita jadi bisa melihat apakah review yang sudah kita tulis cukup efektif atau tidak.

Membaca buku
Biasanya, setelah membaca sebuah buku, saya akan langsung menulis reviewnya. Pokoknya nggak lama-lama deh. Soalnya, kalo lama-lama, saya pasti jadi males. Maklum, saya ini orangnya angot-angotan, beda banget sama temen-temen saya di BBI yang pada rajin-rajin.... *jadi malu* *ngumpet di perpus*

Selain karena kalau kelamaan saya jadi males, saya juga tidak biasa mengendapkan ide-ide tulisan saya. Jadi ketika ada mood buat nulis, ya harus disalurkan, karena kalo nggak, bisa-bisa nggak ditulis beneran deh itu ripiu.

Sekarang saya cerita dulu bagaimana saya biasanya membaca buku. Kalau dulu, waktu masih kuliah, saya bisa baca satu buku dengan tebal standar (kira-kira 300-400-an halaman) dalam satu hari. Tapi sekarang, kecepatan baca saya jatuh drastis. Selain karena sudah bekerja, banyak juga gangguan-gangguan lain yang bikin kecepatan baca saya menurun. Kalau sekarang-sekarang ini sih jujur aja banyak terganggu oleh hp dan hasrat untuk menyelesaikan anime yang lagi saya tonton. Hasilnya, baca bukunya jadi tersendat-sendat deh.

Dulu sebelum gabung BBI dan masih jarang banget bikin review, biasanya saya kalo baca ya udah dibaca aja. Nggak pernah bikin catatan atau apapun juga. Tapi, itu dulu. Sekarang saya selalu buat catatan dari buku-buku yang saya baca. Biasanya sih cuma daftar halaman yang mau dilihat ulang, tapi kalau bukunya terlalu banyak typo misalnya, maka saya akan memberi penjelasan tentang kesalahan tata bahasanya atau bahkan emosi saya ketika terlalu banyak ngeliat typo itu. Hehehe...

Buku apa saja yang direview?
Hhhmm... sekarang ini saya sih mau membiasakan diri untuk membuat review semua buku yang saya baca, mulai dari novel, buku-buku non fiksi, bahkan manga. Cuma, biasanya nggak semua buku yang saya review itu saya masukkan ke blog ini. Cuma buku-buku tertentu saja, yang saya pikir lebih baik dimasukkan ke blog. Kalau manga, biasanya saya nggak pernah masukin reviewnya ke blog, terutama kalau bersambung. Makanya, meskipun rating di Goodreads saya banyak banget baca manga, tapi kalau di blog hampir nggak ada tuh review manga. Paling cuma yang paling saya suka atau berkesan saja, kayak manga ini.

Oh iya, alasan lain kenapa saya nggak masukin manga ke blog ya karena  kalo manga biasanya bukan  review yang saya tulis, tapi cuma nulis komentar saja selesai baca, yang paling panjangnya nggak sampai satu paragraf... :D Makanya, yang kayak gitu-gitu biasanya cukup tersimpan di gutrits aja, nggak perlu diumbar-umbar di blog.... #lhaaa


Sumber: thingsaboutbooks.tumblr.com

Proses review
Buat yang sering baca review saya, pasti tau deh kalau review saya isinya kebanyakan curhatan.... xD Bukannya nggak mau bersikap objektif sih, tapi karena emang nggak bisa aja. Hahahaa Kata teman-teman saya, tulisan saya memang biasanya meletup-letup, jadi perasaan saya ketika nulis tuh ketauan banget kayak gimana.

Alasan lainnya, bagi saya setiap buku itu punya rasa yang spesial. Punya kenangan yang unik, bahkan justru membangkitkan kenangan-kenangan indah di dalam hidup saya... #tsaahh Eh, tapi ada juga sih yang kenangan buruk, cuma kalau yang itu biasanya nggak perlu terlalu diceritakan ke banyak orang, cukup saya sendiri yang tahu. Hehehee

Itu sebabnya ketika saya review buku "Howl's Moving Castle" saya justru cerita gimana saya pergi ke Studio Ghibli, atau ketika saya review buku "Wuthering Heights" saya justru cerita tentang lagu yang entah kenapa bikin saya inget sama buku itu (meskipun orang lain nggak... :p), atau curhat tentang kucing kantor yang mati yang justru lebih detail dari cerita bukunya di review "ParaNorman". Ya, meskipun ada risiko bakalan dihajar sama pembaca, tapi bagi saya sangat penting untuk memasukkan perasaan saya sejujur-jujurnya, ketika saya sedang mereview sebuah buku. Dan menurut saya, justru hal itulah yang akan menjadi ciri khas saya ketika menulis review.

Berbeda dengan Aul yang selalu buat notes dulu di bukunya sebelum menulis review, saya biasanya nulis notesnya ya di "Notes" Window. Kadang juga langsung diketik di Goodreads untuk kemudian dicopas ke blog (saya memang pemalas xD), soalnya kalau langsung dari gutrits saya kan nggak perlu nulis ulang pengarangnya, penerbitnya, isbn-nya, penerjemahnya, dsb. Iya, iya, saya memang pemalas. Maklumin aja ya... xDD

Soal panjang review, biasanya saya kalau nulis review suka puanjaanggg, apalagi dulu tuh. Maklum deh, soalnya banyakan isinya curhat. Selain itu, kalau bukunya saya suka banget, biasanya saya jadi pengen cerita soal segala hal yang ada di buku itu, dan saya itu kalau nulis maunya detaiiillll.... susah banget untuk membuang bagian-bagian yang nggak penting, karena buat saya semuanya penting. Alasan lainnya juga karena saya jaraaangg banget baca ulang review yang sudah saya tulis. Dulu tuh saya kena sindrom malu-baca-ulang-apa-yang-udah-ditulis, jadi biasanya yang udah naik ya biarin aja begitu. Hehehee

Kalau sekarang, saya berusaha untuk memperingkas review saya, supaya menggunakan bahasa dan kata-kata yang lebih efektif. Curhat? Ya tetep dong, itu nggak boleh dilepaskan dari review, karena seperti yang saya bilang sebelumnya, setiap buku itu memberikan "rasa" yang berbeda bagi diri saya. Jadi, curhat adalah bagian yang penting dari review saya. Oh iya, saya juga mulai belajar untuk sembuh dari sindrom di atas dan membaca ulang lagi apa yang sudah saya tulis.

Reviewnya pake bahasa apa?
Kalau di blog, saya selalu review pake bahasa Indonesia, dong. Soalnya, saya itu nggak yakin dengan kemampuan bahasa Inggris saya. Hehehee... Selain itu, pembaca saya juga sebagian besar adalah orang Indonesia, dan yang terpenting saya senang menulis dengan bahasa Indonesia. Rasanya segala perasaan saya lebih mudah tumpah ruah kalau pakai bahasa ibu saya ini (eh, bahasanya ibu saya Jawa sih... #terusss?? #bilangwow?).

Beda blog beda gutrits. Kalau di gutrits, bahasanya macem-macem. Ada juga yang pake english, meskipun nggak panjang-panjang, dan ada juga yang pake bahasa Jepang. Hehehee... Yah, biar bahasa yang dipelajari jaman kuliah dulu nggak menguap menuju langit yang luas. Hahaa...

Kadang ini juga nih yg bikin ripiu panjang (Sumber: thingsaboutbooks.tumblr.com)

Kapan nulis review?
Biasanya saya nulis review buku nggak lama setelah baca bukunya. Kalau setelah membaca saya merasa terlalu emosi, maka biasanya saya diamkan dulu bukunya, baru deh besokannya ditulis. Yang jelas, nggak boleh lama-lama. Nggak boleh lebih dari tiga hari, karena kalau sudah lebih dari itu, maka biasanya bukunya nggak akan saya review.

Mengenai waktu menulis review, biasanya sih saya nulisnya malem-malem di rumah. Nunggu waktu yang tenang dan inspirasi lagi mengumpul. Kalau di kantor agak nggak bisa, karena bawaannya takut kerjaan nggak beres (eh tapi ini ditulisnya pas jam kerja sih... xp soalnya curhat jadi nggak papa). Jadi di rumah, di dalam kamar, sendirian, adalah saat-saat yang terbaik untuk menulis. Lebih baik lagi kalau seluruh anggota keluarga sudah tidur, jadi lebih resep (aseekk) nulis reviewnya.

Oke, sekian sharing saya mengenai penulisan review. Semoga aja semua yang saya ingin tulis udah masuk disini xD. Sekarang, share juga dong bagaimana caramu menulis review?

June 3, 2013

Never Let Me Go: Tak Ada Manusia Jika Tak Ada Jiwa


Never Let Me Go by Kazuo Ishiguro
My rating: 3 of 5 stars

Lahir, menjadi bayi, lalu berkembang menjadi balita, anak-anak, remaja, dewasa, jatuh cinta, menikah, punya anak, tua, lalu mati adalah tahapan yang dialami oleh setiap manusia, atau yah sebagian besar manusia. Namun tidak dengan siswa Hailsham. Tahapan hidup mereka dipotong, hingga hanya menjadi anak-anak, remaja, menjelang dewasa, lalu mati. Kenapa? Karena mereka semua adalah manusia yang dikloning untuk keegoisan manusia normal. Jadi keberadaan mereka hanya untuk kelangsungan manusia normal, yaitu menyediakan organ untuk mereka.

Ya, mereka adalah donor-donor hidup yang dirawat sejak kecil agar tumbuh dengan jantung, ginjal, hati, paru-paru, mata, dan organ-organ lain yang sehat, agar mereka bisa menjadi donor yang baik. Donor yang menyediakan mata yang mampu melihat dengan sempurna, jantung yang mampu berdegup kencang dan memompa darah dengan baik, ginjal yang sehat, dan sebagainya.

Jadi, jalan hidup mereka telah ditetapkan sejak awal mereka diciptakan. Mereka akan menyuplai segala hal yang dibutuhkan oleh manusia-manusia normal yang sakit, di tengah masyarakat yang juga sakit.

Novel ini bercerita tentang tiga orang: Kathy, Tommy, dan Ruth. Ketiganya siswa Hailsham, yang telah saya sebutkan di atas. Hailsham adalah sebuah sekolah khusus yang siswanya adalah hasil kloningan, tidak terkecuali tiga orang di atas.

Mereka tumbuh besar bersama sejak di Hailsham hingga menjelang dewasa. Kathy dan Tommy khususnya berteman baik, dan tampaknya hanya Kathy seorang yang paling memahami Tommy di dunia ini. Tommy adalah seorang anak lelaki temperamental. Ia mudah marah, khususnya setelah ada sebuah kejadian yang menyakiti hatinya. Emosinya gampang naik, dan hanya Kathy yang mampu meredakannya.

Ruth dan Kathy bersahabat, meskipun entahlah... saya tidak terlalu bisa memahami apalagi menyukai Ruth. Ruth bisa dikatakan seorang gadis yang ambisius. Dia senang menjadi pusat perhatian dan disenangi banyak orang. Sejak di Hailsham dia telah menjadi "pemimpin" dan semua anak perempuan ingin masuk ke dalam "geng" Ruth.

Sementara Kathy adalah seorang gadis yang pintar dan perasa. Ruth-lah yang pertama kali mengajak Kathy untuk berteman. Mungkin karena ia melihat Kathy sebagai satu-satunya orang yang sanggup untuk menyainginya dalam banyak hal. Kathy juga menaruh perhatian pada hal-hal kecil, khususnya seputar Tommy. Seperti ketika emosi Tommy tampak mulai stabil setelah berbicara dengan Miss Lucy, guardian mereka.
Guardian adalah semacam pembimbing yang akan mengajari mereka tentang banyak hal, kecuali satu hal penting: yaitu bahwa tidak ada masa depan bagi mereka (mereka tak bisa pergi ke Amerika untuk menjadi aktor, atau bekerja di Supermarket, atau cita-cita lainnya), kecuali bahwa masa depan mereka sudah ditakdirkan untuk berakhir di ruang operasi. Mati dengan dua atau tiga anggota tubuh yang tidak lengkap....

Seperti kata Miss Lucy, mereka tahu tapi tidak tahu. Sejak awal mereka sepertinya sudah tahu bahwa mereka memang berbeda, tapi mereka tidak tahu dengan jelas masa depan seperti apa yang akan menanti mereka. Setelah lulus dari Hailsham, mereka akan tinggal selama beberapa tahun di semacam asrama lainnya (kali ini tidak harus siswa Hailsham, tapi campur dengan siswa dari sekolah-sekolah lainnya). Setelah itu, mereka akan menjalani pelatihan sebagai perawat, sebelum akhirnya mereka akan dipanggil untuk melakukan donasi pertama.

Kathy, Tommy, dan Ruth bersama-sama tinggal di Cottage bersama siswa lainnya. Ketika itu, Tommy dan Ruth sudah berpacaran. Kathy bertindak sebagai sahabat yang baik bagi mereka berdua. Akrab dengan Ruth, dan kerap berbagi rahasia bersama. Begitupun dengan Tommy. Hingga akhirnya suatu insiden menyebabkan hubungan mereka renggang, dan Kathy memutuskan untuk memulai pelatihan perawat lebih cepat dari biasanya.

Lalu beberapa tahun kemudian, Kathy bertemu Ruth. Ruth telah menyelesaikan donasi pertamanya, dan kondisinya tidak bagus. Kathy memutuskan untuk menjadi perawat Ruth. Tanpa disangka, Ruth membawanya kepada Tommy. Tommy yang disayanginya. Tommy yang dicintainya....

Kini, mungkinkah hubungan mereka yang dulu renggang kembali menyatu? Bisakah tindakan buruk yang dulu dilakukan oleh salah satu dari mereka dimaafkan? Mungkinkah ada akhir yang bahagia bagi mereka, jika hidup mereka dirampas begitu saja dari mereka?

Sesungguhnya, sangat sulit bagi saya untuk menulis resensi buku ini. Ketika membaca, saya merasakan sejuta perasaan (sebagian besarnya kesal sama umat manusia yang menciptakan kloningan-kloningan seperti Kathy, Tommy, dan Ruth)... Tapi sesudah membacanya saya justru terdiam, bingung, dan merasa kalau semuanya sangatlah konyol.

Saya bahkan tidak tahu apa saya menyukai buku ini, atau tidak. Saya tidak bisa memutuskan. Di satu sisi saya berpikir bahwa tidak mungkin umat manusia tega melalukan hal itu. Tapi di sisi lain saya juga tahu, bahwa manusia bisa menjadi makhluk yang paling jahat dan paling kejam di muka bumi.

Perlakuan mereka kepada siswa kloningan ini benar-benar sangat tidak manusiawi. Ya, wajar saja... karena tidak ada "manusia normal" yang menganggap mereka manusia. Padahal, mereka memiliki sebagian besar sifat "manusia normal". Mereka tumbuh. Mereka bertambah besar, bertambah tinggi. Mereka bernafas. Mereka makan. Mereka bisa buang air. Mereka berbicara. Dan yang terpenting... segala sifat yang berhubungan dengan perasaan juga ada pada mereka. Lihat saja Tommy yang marah besar bahkan mengamuk ketika ada sesuatu yang membuatnya marah. Lihat saja Ruth yang selalu ingin mendominasi dan diperhatikan. Atau lihatlah Kathy yang selalu mengalah demi sahabat-sahabatnya. Apa semua hal itu mungkin dilakukan bila mereka tidak memiliki jiwa?? Apa mungkin raga mereka bisa melakukan itu semua jika tak ada jiwa, tak ada akal, tak ada hati di dalamnya??

Mau nggak mau saya jadi kesal sendiri sama "manusia normal" dan keegoisan mereka. Memang sih ini berada di sebuah dunia distopia yang berbeda dengan dunia kita. Ya, bisa juga dianggap dunia paralel kalau mau. Sulit. Sungguh sulit untuk menggambarkan isi buku ini. Saya berpikir, mungkin di dunia itu sudah tidak ada PBB yang sibuk mengurusi HAM, atau aktivis kemanusiaan lainnya yang lantang berbicara soal layak atau tidaknya donasi terpaksa seperti itu. Yang jelas sih di masa mereka ini, semua agama pasti sudah mati. Soalnya, mana mungkin ada agama, jika praktik-praktik seperti itu ada bahkan dilegalkan. Apalagi kita tahu bersama, bahwa kloning masih menjadi kontroversi, khususnya dalam agama Islam. Ditambah lagi kalau manusia hasil kloningan diperlakukan seperti di novel ini....

Banyak hal-hal yang tidak jelas di bukunya digambarkan dengan lebih jelas di filmnya. Seperti penjelasan di awal bagaimana kemajuan di dunia kedokteran semakin canggih, hingga angka harapan hidup manusia mampu mencapai di atas seratus tahun. Lalu banyak hal-hal yang disampaikan secara tersirat disampaikan dengan jelas di filmnya. Namun ada banyak aspek film yang menurut saya sangat berbeda dengan bukunya. Seperti ketika mereka pergi bersama ke Norfolk untuk melihat "kemungkinan" Ruth, lalu alasan kenapa Kathy memutuskan untuk pergi dari Cottage dan memulai pelatihan lebih dulu, pertemuan kembali Ruth dan Kathy, serta saat-saat keputusan terakhir Ruth. Yang bikin saya meringis adalah betapa tampak nyatanya "manusia normal" menjadikan mereka semata-mata sebagai alat untuk memperpanjang hidup mereka. Alat. Bukan manusia. Meskipun akhirnya mereka mati, dan tentu hanya makhluk yang hidup saja yang bisa mati dengan cara seperti itu...

Ah, sudahlah. Saya hanya berharap dunia ini tidak menjadi seperti itu pada nantinya. Saya hanya berharap agar manusia masih terus memiliki hati nurani, yang selalu menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. Meskipun manusia itu memang jahat, kejam, dan egois, tapi saya berharap mereka bisa bijak dalam mengambil keputusan, agar bumi ini tidak semakin rusak karenanya....

Ini adalah pertama kalinya saya baca novel karya Kazuo Ishiguro, warga negara Inggris keturunan Jepang dan kelahiran Jepang, yang menurut daftar The Times masuk ke dalam "The 50 greatest British writers since 1945". Sepertinya saya merasa perlu memberi penekanan terhadap "British writers", karena meskipun Om Kazuo ini kelahiran Jepang, tapi dia adalah orang Inggris. Jadi, otomatis karya yang dilahirkannya termasuk ke dalam kesusasteraan Inggris, bukan kesusasteraan Jepang.
Saya melihat ada beberapa orang yang menganggap karya Kazuo Ishiguro termasuk ke dalam kesusasteraan Jepang, padahal menurut saya tidak begitu. Ada syarat penting bagi sebuah karya untuk bisa masuk ke dalam kesusasteraan sebuah negara, salah satunya adalah syarat bahasa. Selanjutnya adalah masalah kewarganegaraan. Kazuo Ishiguro ini sudah jadi warga negara Inggris, jadi saya sangat ragu apakah karyanya diakui sebagai kesusasteraan Jepang.

Saya jadi ingat ketika skripsi dulu, saya berniat untuk membahas buku dwilogi "Samurai" karya Takashi Matsuoka. Takashi Matsuoka sendiri adalah warga negara Amerika Serikat yang tinggal di Hawaii, tapi keturunan Jepang. Dosen pembimbing saya waktu itu melarang saya, karena masih ada perdebatan apakah karya yang dihasilkannya bisa masuk ke dalam kesusasteraan Jepang atau tidak. Padahal dia adalah keturunan Jepang, dan karya yang dihasilkannya pun berhubungan dengan sejarah Jepang (meskipun ditulisnya dalam bahasa Inggris, dan sepertinya itu salah satu kendala terbesarnya...). Jadi, saya nggak jadi membahas karya beliau deh, padahal saya sangat suka dengan dua novelnya itu. Saya membahas karya sastrawan Jepang lainnya, yang memang sudah nggak diragukan lagi bahwa karyanya diakui oleh orang Jepang.

Oh iya, selain itu saya pikir permasalahan lainnya adalah... Setiap negara memiliki periodisasi kesusasteraan sendiri. Seperti di Indonesia misalnya, ada sastrawan angkatan pujangga baru, pujangga lama, balai pustaka, dsb. Begitupun dengan Jepang. Mereka punya kesusasteraan zaman Nara, Heian, Edo, hingga kontemporer. Dan akan menjadi permasalahan tersendiri Om Kazuo ini akan masuk ke periode yang mana, sementara bisa dikatakan ia hanyalah keturunan Jepang dan bukan warga negara Jepang.

Jadi, karena Kazuo Ishiguro sudah masuk ke dalam jajaran "Greatest British Writers", tentu salah jika memasukkan karyanya ke dalam kesusasteraan Jepang. Kenapa saya membahas ini? Karena saya rasa kita banyak mengalami kebingungan mengenai hal ini, dan mungkin juga tidak sedikit yang menganggap karya Kazuo Ishiguro masuk ke dalam kesusasteraan Jepang, dan bukan Eropa. Di luar negeri tampaknya kasusnya memang lebih membingungkan, karena tidak sedikit penulis-penulis keturunan (misalnya keturunan India yang tinggal di Inggris, keturunan Jepang yang tinggal di Amerika Serikat, dsb.) yang juga seorang sastrawan dan menghasilkan karya di sana. Jadilah kita bingung harus memasukkan karya Salman Rushdie ke dalam kesusasteraan Inggris atau India, Chitra Banerjee Divakaruni ke dalam kesusasteraan Amerika atau India, dsb. Apalagi jika syarat yang paling utama, yaitu bahasa telah terpenuhi. Dalam artian, mereka menulis dengan bahasa yang diakui oleh negara itu, dan tentu saja mereka juga harus diakui oleh para sastrawan di negaranya bahwa mereka memang masuk ke dalam golongan mereka.... Wallahua'lam :)

Review ini masuk ke:


June 28, 2013

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck: Sejak Dahulu Memang Begitulah Cinta....


"Jika hati kau diberi-Nya nikmat pula dengan cinta sebagaimana hatiku, marilah kita pelihara nikmat itu sebaik-baiknya, kita jaga dan kita pupuk, kita pelihara supaya jangan dicabut Tuhan kembali. Cinta adalah iradat Tuhan, dikirimnya ke dunia supaya tumbuh. Kalau dia terletak di atas tanah yang lekang dan tandus, tumbuhnya akan menyiksa orang lain. Kalau dia datang kepada hati yang keruh dan kepada budi yang rendah, dia akan membawa kerusakan. Tetapi jika dia hinggap kepada hati yang suci, dia akan mewariskan kemuliaan, keikhlasan dan taat kepada Ilahi."

Cinta adalah sesuatu hal yang suci. Ia adalah fitrah yang dianugerahkan Tuhan untuk segenap umat manusia. Ia adalah rasa yang akan membuat hati kita berbunga-bunga dalam sekejap atau serasa dilanda badai dalam sekejap pula. Cinta itu membawa kenikmatan, tetapi di saat yang sama juga menyakitkan. Itulah yang ingin disampaikan Hamka dalam bukunya "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck".

Buku ini berkisah tentang dua insan, Zainuddin dan Hayati, yang harus menempuh jalan panjang demi mencapai cinta mereka. Cinta yang suci, cinta yang tulus, cinta yang tidak berdasarkan nafsu ataupun harta, tetapi cinta yang murni yang didasarkan kepada cinta kepada sang Maha Pencipta dan pemilik segala cinta.

Sekarang, izinkan saya bercerita tentang kisah mereka...

Cerita dimulai dari kisah ayah Zainuddin, Pandekar Sutan, yang dibuang ke Mengkasar setelah tidak sengaja membunuh pamannya, ketika ia berusaha mempertahankan haknya atas harta warisan ibunya. Di Mengkasar, sang ayah menikah dengan wanita Bugis terhormat bernama Habibah. Meskipun Habibah berasal dari keluarga bangsawan, tetapi pernikahan mereka tidak disukai oleh banyak orang, sehingga mereka memutuskan tali persaudaraan dengan keluarga Habibah.

Lalu kemudian, lahirlah Zainuddin. Pandekar Sutan yang hatinya dulu sempat terluka, kini mulai mengecap bahagia. Sayang, kebahagiaan itu tak berlangsung lama, karena Habibah meninggal dunia ketika sang putra masih sangat membutuhkan dirinya. Kehilangan istri tercinta membuat Pandekar Sutan tak dapat hidup bahagia. Ia pun menyusul sang istri ketika Zainuddin beranjak besar. Tinggallah Zainuddin seorang diri, yang kini dirawat oleh ibu angkatnya, Mak Base.

Meskipun menjadi orang buangan, kerinduan akan kampung halaman tetap mengisi hati ayah Zainuddin. Ia kerap bercerita kepada putra semata wayangnya tentang kampung halamannya yang indah, tanahnya yang subur, gunungnya yang menjulang tinggi, yang membuat Zainuddin turut merasakan kerinduan yang sama.

Itulah sebabnya, ketika beranjak dewasa, Zainuddin memutuskan untuk pergi ke tanah Minang, ke kampung halaman ayahnya untuk menuntut ilmu dan mengenal secara langsung tanah nenek moyangnya. Diiringi tangis dan rasa berat hati Mak Base, karena ia tidak tahan harus berpisah dengan anak kesayangannya dan merasa bahwa mereka tak akan bisa bertemu lagi karena ia sudah cukup tua. Namun, hati Zainuddin telah mantap, dan tak ada yang bisa dilakukan Mak Base lagi selain merestui putra angkatnya itu.

Kehidupan baru Zainuddin di dusun Batipuh, kampung halaman ayahnya sama sekali tidak mudah. Meskipun ia memiliki darah Minang, tetapi ia sama sekali tidak dianggap sebagai orang Minang. Masa lalu ayahnya sebagai orang terbuang, sekaligus kenyataan bahwa ayahnya menikah dengan orang Bugis, membuat orang-orang menganggap ia adalah orang Bugis. Padahal, di Bugis sendiri ia tidak dianggap sebagai orang Bugis, tetapi sebagai orang Minang. Cara manusia mengkotak-kotakkan seseorang berdasarkan tempat lahirnya memang sering kali tidak manusiawi, dan itulah yang dialami oleh Zainuddin.

Untungnya ia bertemu Hayati, di sebuah siang ketika hujan lebat mengguyur bumi Batipuh. Hayati adalah seorang gadis cantik, kembang desa yang memiliki perangai lemah lembut. Zainuddin yang ketika itu membawa payung kemudian meminjamkan payungnya kepada gadis itu. Hubungan mereka pun dimulai. Berawal dari surat yang dikirimkan Zainuddin kepada Hayati. Tak butuh lama bagi keduanya untuk jatuh cinta, dan perasaan mereka makin menguat setiap harinya. Sayangnya, keluarga Hayati mendengar hal itu, dan paman Hayati meminta Zainuddin untuk meninggalkan Batipuh, atas nama adat yang terhormat, mengatakan bahwa itu demi kebaikan mereka berdua dan karena mereka berdua sebenarnya tidak berjodoh (memangnya siapa dia? seenaknya bilang orang nggak berjodoh?).

Zainuddin pun pindah ke Padang Panjang dengan hati hancur. Untungnya Hayati sempat menemuinya, dan mengungkapkan perasaannya, perasaan cintanya yang tulus dan murni, yang membuat Zainuddin mampu menjalani harinya di perantauan. Korespondensi mereka masih terus berlanjut, dan perasaan mereka tampaknya terus menguat setiap harinya, hingga akhirnya Hayati mendapatkan izin untuk pergi ke Padang Panjang, menginap di rumah sahabatnya, Khadijah.

Khadijah bisa jadi adalah tokoh yang paling saya benci di novel ini. Bukan hanya menertawakan cinta suci Hayati kepada Zainuddin, ia juga mempengaruhi Hayati agar berpikir dan bertindak seperti dirinya, seorang gadis kota dengan gaya hidup hedon dan tidak peduli lagi dengan tata krama. Bujukan Khadijah agar Hayati, yang tidak paham mode, mengganti pakaiannnya berhasil, dan bertemulah Hayati dan Zainuddin di acara pacuan kuda dan pasar malam, sebuah festival yang ramai dan meriah di daerah itu. Zainuddin tidak merasa senang, tapi justru terkejut dan kecewa, karena pakaian gadis itu kini terlalu banyak menampilkan bentuk tubuh, ketat, dan sama sekali tidak sesuai dengan adat Minang maupun ajaran agama mereka. Ditambah lagi, Khadijah dan teman-temannya menertawakan Zainuddin, yang membuat Hayati semakin meragukan rasa cintanya kepada pemuda itu.

Keraguan Hayati itu semakin besar ketika Khadijah semakin menghasutnya. Mengatakan kalau Zainuddin bukan jodohnya (lagi-lagi mereka bermain Tuhan-tuhanan), bahwa Zainuddin tidak pantas dengan Hayati, bahwa Zainuddin lelaki yang membosankan yang hanya tahu ilmu agama (memang apa lagi bekal yang paling penting untuk menikah selain itu?), bahwa ia tidak pantas dengan Hayati (Ha! Tau apa dia soal perasaan Hayati, dan siapa lelaki yang pantas atau tidak pantas untuknya?). Bagian ini benar-benar menguras emosi saya, karena Hamka begitu pandai menampilkan sosok Khadijah sebagai seorang perempuan yang menyebalkan, materialistis, hedonis, tidak agamis, dan juga narsis. Apalagi si Khadijah ini punya misi untuk mencomblangkan kakaknya, Aziz, dengan Hayati.

Aziz ini berbeda 180 derajat dengan Zainuddin. Sifatnya nggak beda jauh dengan adiknya, ditambah lagi Aziz ini senang main perempuan, dan bukan tipe lelaki yang setia. Tidak terhitung berapa banyak wanita yang didekatinya, tapi tanpa ada niat serius. Dia memang tidak berniat untuk menikah, tetapi melihat Hayati yang cantik jelita, dia tergoda juga.

Singkatnya, Aziz meminta kepada keluarga Hayati untuk menikahinya. Dia membawa berbagai barang yang menunjukkan posisinya sebagai orang berada. Di lain pihak, Zainuddin sedang merasa sedih karena ia baru saja mendapat surat bahwa ibu angkatnya di Mengkasar meninggal dunia, dan meninggalkan warisan yang jumlahnya tidak sedikit. Uang itu sebenarnya dulu adalah uang warisan dari ayah Zainuddin, yang dengan cerdas digunakan Mak Base untuk berbisnis, sehingga jumlahnya pun berlipat-lipat.

Zainuddin yang merasa bahwa perasaan cintanya kepada Hayati semakin besar, akhirnya memutuskan untuk memberanikan diri mengirimkan surat pinangan kepada keluarga Hayati. Namun Zainuddin tidak menyebutkan kalau ia sudah menjadi orang kaya sekarang.

Ya, tentu kita sudah tahu jawabannya. Keluarga Hayati tentu saja memilih Aziz, yang asal usulnya jelas, hartanya juga jelas, meskipun iman dan perilakunya tidak jelas. Yang bikin sakit hati, Hayati sendirilah yang memutuskan untuk memilih Aziz, meskipun dia diberi tahu kalau Zainuddin juga meminangnya. Jadilah Hayati menikah dengan Aziz, meninggalkan Zainuddin yang menderita patah hati begitu dalam, hingga sakit berbulan-bulan dan hampir mati karenanya.

"Minangkabau negeri beradat, seakan-akan hanya di sana saja adat yang ada di dunia ini, di negeri lain tidak. Padahal kalau memang negeri Minangkabau beradat, belum patut orang seperti dia hendak ditolak dengan jalan yang begitu saja. Permintaan bisa terkabul dan bisa tidak, tetapi tidak ada hak bagi yang menolak buat menyindir pula kepada orang yang ditolaknya. Apalagi pintu yang dilaluinya bukan pintu "belakang" tetapi pintu muka, tiba tampak muka, berjalan tampak punggung." (Hal. 115)

Untungnya ada Bang Muluk, anak dari induk semang tempat Zainuddin tinggal, yang baik hati dan mampu membawanya kepada alam kesadaran. Kesadaran bahwa ia tidak pantas merasa menderita sendirian seperti ini, karena Hayati tentunya sedang berbahagia dengan suaminya yang kaya dan sama sekali tidak mengingatnya. Ia juga tidak pantas untuk merasa bahwa dunia sudah kiamat hanya karena seorang wanita, apalagi jika cintanya memang tulus maka ini adalah takdir yang telah dipilihkan Tuhan untuknya. Serasa ditampar oleh kata-kata Bang Muluk itu, Zainuddin pun memutuskan untuk pindah ke Pulau Jawa. Terlalu sulit baginya berada di tempat itu, sementara bayangan Hayati ada dimana-mana. Bersama Bang Muluk, sahabat sejatinya yang juga menjadi kakak baginya, mereka pun pindah ke Pulau Jawa dan mengadu nasib disana.

"Bukan begitu jalan yang ditempuh budiman. Jika hatinya dikecewakan, dia selalu mencari usaha menunjukkan di hadapan perempuan itu, bahwa dia tidak mati lantaran dibunuhnya. Dia masih hidup, dan masih sanggup tegak. Dia akan tunjukkan di hadapannya dan di hadapan suaminya bahwa jika maksudnya terhalang di sini, pada pasal lain dia tidak terhalang." (Hal. 151)

Nah, disinilah keadaan sedikit demi sedikit mulai berbalik. Sebenarnya saya mau cerita lebih banyak lagi, kalau bisa sampai akhir ceritanya malahan. Tapi kalau begitu, nanti jadinya tidak seru dong? Jadi, saya kasih bocoran sedikit aja ya....

Zainuddin jadi sukses di Jakarta. Ia sukses sebagai penulis yang dikagumi dan dipuja banyak orang. Tapi lalu ia pindah ke Surabaya karena ingin membangun bisnisnya sendiri di bidang penerbitan. Sementara itu, Aziz dipindahkan ke Pulau Jawa, tepatnya di Surabaya. Dan... untuk sekali lagi takdir kembali mempertemukan mereka, tapi kini dalam bentuk yang berbeda... karena Hayati mulai sadar seperti apa suaminya, dan sedikit demi sedikit, uang yang dimiliki Aziz tidak sanggup membiayai gaya hidupnya yang hedon itu....

Apa yang akan dilakukan Zainuddin? Maukah ia menolong Aziz dan Hayati yang dulu telah menyakitinya? Akankah Hayati kembali kepadanya dan mungkinkah mereka diberi kesempatan untuk menyambungkan kembali tali cinta yang dulu terputus? Lalu, apa hubungan ini semua dengan Kapal Van Der Wijck yang menjadi judul cerita?

Karya klasik Indonesia karangan Hamka ini cukup membuat saya sesak napas. Kisahnya yang seputar kemalangan hidup dan cinta yang tak sampai berbalut kepasrahan dan takdir kepada Sang Pencipta membuat saya menahan napas berkali-kali. Emosi saya naik turun dibuatnya, terutama di bagian pertengahan ketika Zainuddin diusir dari Batipuh, ketika Khadijah mengata-ngatai Zainuddin di depan Hayati, ketika Zainuddin menerima surat penolakan dari mamak Hayati karena mereka bangsa beradat dan tidak mau menerima pinangan Zainuddin, juga di akhir ketika keadaan Hayati dan Aziz semakin buruk, dan Hayati harus menuai apa yang dulu pernah dilakukannya kepada Zainuddin.

Akhir ceritanya sendiri mengenaskan, dan mungkin banyak yang merasa tidak puas dan sebal dengan perilaku Zainuddin di akhir. Namun entah kenapa saya bisa menerimanya, karena apa yang dilakukan Zainuddin itu memang sudah seharusnya begitu. Saya memang menyesalkan tindakannya yang terlalu emosional yang membawa mereka kepada tragedi, tapi saya merasa bahwa Zainuddin memang harus melakukannya, karena itu adalah yang terbaik bagi mereka berdua. Kabarnya, buku ini akan difilmkan di tahun 2013 ini, jadi mari kita tunggu saja.

Ketika cinta suci kedua orang manusia dipisahkan oleh hal-hal yang bersifat fana, memang pastilah tragedi akhirnya. Zainuddin dan Hayati adalah contohnya. Ketika atas nama adat mereka menghinakan orang lain, atas nama kepandaian mereka menganggap orang lain bodoh, atas nama harta mereka menginjak-injak orang lain, dan memisahkan dua insan yang ingin meraih ridho-Nya dengan pernikahan, maka tragedi adalah akhir yang pasti.

Dan benarlah kata Ti Pat Kai kalau, "Sejak dahulu memang begitulah cinta... deritanya tiada akhir....".



Judul: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Penulis: Hamka
Penerbit: PT. Bulan Bintang
ISBN: 978-418-055-6

June 25, 2013

Bagaimana Saya Menulis Review?

Sumber: thingsaboutbooks.tumblr.com

Terinspirasi dari blognya Aul di The Black in Book tentang bagaimana dia menulis reviewnya, maka kali ini pun saya memberanikan diri untuk sharing curhat, bagaimana saya menulis review. Beda orang memang beda cara menulis reviewnya, dan dengan tau kebiasaan orang, kita jadi bisa melihat apakah review yang sudah kita tulis cukup efektif atau tidak.

Membaca buku
Biasanya, setelah membaca sebuah buku, saya akan langsung menulis reviewnya. Pokoknya nggak lama-lama deh. Soalnya, kalo lama-lama, saya pasti jadi males. Maklum, saya ini orangnya angot-angotan, beda banget sama temen-temen saya di BBI yang pada rajin-rajin.... *jadi malu* *ngumpet di perpus*

Selain karena kalau kelamaan saya jadi males, saya juga tidak biasa mengendapkan ide-ide tulisan saya. Jadi ketika ada mood buat nulis, ya harus disalurkan, karena kalo nggak, bisa-bisa nggak ditulis beneran deh itu ripiu.

Sekarang saya cerita dulu bagaimana saya biasanya membaca buku. Kalau dulu, waktu masih kuliah, saya bisa baca satu buku dengan tebal standar (kira-kira 300-400-an halaman) dalam satu hari. Tapi sekarang, kecepatan baca saya jatuh drastis. Selain karena sudah bekerja, banyak juga gangguan-gangguan lain yang bikin kecepatan baca saya menurun. Kalau sekarang-sekarang ini sih jujur aja banyak terganggu oleh hp dan hasrat untuk menyelesaikan anime yang lagi saya tonton. Hasilnya, baca bukunya jadi tersendat-sendat deh.

Dulu sebelum gabung BBI dan masih jarang banget bikin review, biasanya saya kalo baca ya udah dibaca aja. Nggak pernah bikin catatan atau apapun juga. Tapi, itu dulu. Sekarang saya selalu buat catatan dari buku-buku yang saya baca. Biasanya sih cuma daftar halaman yang mau dilihat ulang, tapi kalau bukunya terlalu banyak typo misalnya, maka saya akan memberi penjelasan tentang kesalahan tata bahasanya atau bahkan emosi saya ketika terlalu banyak ngeliat typo itu. Hehehe...

Buku apa saja yang direview?
Hhhmm... sekarang ini saya sih mau membiasakan diri untuk membuat review semua buku yang saya baca, mulai dari novel, buku-buku non fiksi, bahkan manga. Cuma, biasanya nggak semua buku yang saya review itu saya masukkan ke blog ini. Cuma buku-buku tertentu saja, yang saya pikir lebih baik dimasukkan ke blog. Kalau manga, biasanya saya nggak pernah masukin reviewnya ke blog, terutama kalau bersambung. Makanya, meskipun rating di Goodreads saya banyak banget baca manga, tapi kalau di blog hampir nggak ada tuh review manga. Paling cuma yang paling saya suka atau berkesan saja, kayak manga ini.

Oh iya, alasan lain kenapa saya nggak masukin manga ke blog ya karena  kalo manga biasanya bukan  review yang saya tulis, tapi cuma nulis komentar saja selesai baca, yang paling panjangnya nggak sampai satu paragraf... :D Makanya, yang kayak gitu-gitu biasanya cukup tersimpan di gutrits aja, nggak perlu diumbar-umbar di blog.... #lhaaa


Sumber: thingsaboutbooks.tumblr.com

Proses review
Buat yang sering baca review saya, pasti tau deh kalau review saya isinya kebanyakan curhatan.... xD Bukannya nggak mau bersikap objektif sih, tapi karena emang nggak bisa aja. Hahahaa Kata teman-teman saya, tulisan saya memang biasanya meletup-letup, jadi perasaan saya ketika nulis tuh ketauan banget kayak gimana.

Alasan lainnya, bagi saya setiap buku itu punya rasa yang spesial. Punya kenangan yang unik, bahkan justru membangkitkan kenangan-kenangan indah di dalam hidup saya... #tsaahh Eh, tapi ada juga sih yang kenangan buruk, cuma kalau yang itu biasanya nggak perlu terlalu diceritakan ke banyak orang, cukup saya sendiri yang tahu. Hehehee

Itu sebabnya ketika saya review buku "Howl's Moving Castle" saya justru cerita gimana saya pergi ke Studio Ghibli, atau ketika saya review buku "Wuthering Heights" saya justru cerita tentang lagu yang entah kenapa bikin saya inget sama buku itu (meskipun orang lain nggak... :p), atau curhat tentang kucing kantor yang mati yang justru lebih detail dari cerita bukunya di review "ParaNorman". Ya, meskipun ada risiko bakalan dihajar sama pembaca, tapi bagi saya sangat penting untuk memasukkan perasaan saya sejujur-jujurnya, ketika saya sedang mereview sebuah buku. Dan menurut saya, justru hal itulah yang akan menjadi ciri khas saya ketika menulis review.

Berbeda dengan Aul yang selalu buat notes dulu di bukunya sebelum menulis review, saya biasanya nulis notesnya ya di "Notes" Window. Kadang juga langsung diketik di Goodreads untuk kemudian dicopas ke blog (saya memang pemalas xD), soalnya kalau langsung dari gutrits saya kan nggak perlu nulis ulang pengarangnya, penerbitnya, isbn-nya, penerjemahnya, dsb. Iya, iya, saya memang pemalas. Maklumin aja ya... xDD

Soal panjang review, biasanya saya kalau nulis review suka puanjaanggg, apalagi dulu tuh. Maklum deh, soalnya banyakan isinya curhat. Selain itu, kalau bukunya saya suka banget, biasanya saya jadi pengen cerita soal segala hal yang ada di buku itu, dan saya itu kalau nulis maunya detaiiillll.... susah banget untuk membuang bagian-bagian yang nggak penting, karena buat saya semuanya penting. Alasan lainnya juga karena saya jaraaangg banget baca ulang review yang sudah saya tulis. Dulu tuh saya kena sindrom malu-baca-ulang-apa-yang-udah-ditulis, jadi biasanya yang udah naik ya biarin aja begitu. Hehehee

Kalau sekarang, saya berusaha untuk memperingkas review saya, supaya menggunakan bahasa dan kata-kata yang lebih efektif. Curhat? Ya tetep dong, itu nggak boleh dilepaskan dari review, karena seperti yang saya bilang sebelumnya, setiap buku itu memberikan "rasa" yang berbeda bagi diri saya. Jadi, curhat adalah bagian yang penting dari review saya. Oh iya, saya juga mulai belajar untuk sembuh dari sindrom di atas dan membaca ulang lagi apa yang sudah saya tulis.

Reviewnya pake bahasa apa?
Kalau di blog, saya selalu review pake bahasa Indonesia, dong. Soalnya, saya itu nggak yakin dengan kemampuan bahasa Inggris saya. Hehehee... Selain itu, pembaca saya juga sebagian besar adalah orang Indonesia, dan yang terpenting saya senang menulis dengan bahasa Indonesia. Rasanya segala perasaan saya lebih mudah tumpah ruah kalau pakai bahasa ibu saya ini (eh, bahasanya ibu saya Jawa sih... #terusss?? #bilangwow?).

Beda blog beda gutrits. Kalau di gutrits, bahasanya macem-macem. Ada juga yang pake english, meskipun nggak panjang-panjang, dan ada juga yang pake bahasa Jepang. Hehehee... Yah, biar bahasa yang dipelajari jaman kuliah dulu nggak menguap menuju langit yang luas. Hahaa...

Kadang ini juga nih yg bikin ripiu panjang (Sumber: thingsaboutbooks.tumblr.com)

Kapan nulis review?
Biasanya saya nulis review buku nggak lama setelah baca bukunya. Kalau setelah membaca saya merasa terlalu emosi, maka biasanya saya diamkan dulu bukunya, baru deh besokannya ditulis. Yang jelas, nggak boleh lama-lama. Nggak boleh lebih dari tiga hari, karena kalau sudah lebih dari itu, maka biasanya bukunya nggak akan saya review.

Mengenai waktu menulis review, biasanya sih saya nulisnya malem-malem di rumah. Nunggu waktu yang tenang dan inspirasi lagi mengumpul. Kalau di kantor agak nggak bisa, karena bawaannya takut kerjaan nggak beres (eh tapi ini ditulisnya pas jam kerja sih... xp soalnya curhat jadi nggak papa). Jadi di rumah, di dalam kamar, sendirian, adalah saat-saat yang terbaik untuk menulis. Lebih baik lagi kalau seluruh anggota keluarga sudah tidur, jadi lebih resep (aseekk) nulis reviewnya.

Oke, sekian sharing saya mengenai penulisan review. Semoga aja semua yang saya ingin tulis udah masuk disini xD. Sekarang, share juga dong bagaimana caramu menulis review?

June 3, 2013

Never Let Me Go: Tak Ada Manusia Jika Tak Ada Jiwa


Never Let Me Go by Kazuo Ishiguro
My rating: 3 of 5 stars

Lahir, menjadi bayi, lalu berkembang menjadi balita, anak-anak, remaja, dewasa, jatuh cinta, menikah, punya anak, tua, lalu mati adalah tahapan yang dialami oleh setiap manusia, atau yah sebagian besar manusia. Namun tidak dengan siswa Hailsham. Tahapan hidup mereka dipotong, hingga hanya menjadi anak-anak, remaja, menjelang dewasa, lalu mati. Kenapa? Karena mereka semua adalah manusia yang dikloning untuk keegoisan manusia normal. Jadi keberadaan mereka hanya untuk kelangsungan manusia normal, yaitu menyediakan organ untuk mereka.

Ya, mereka adalah donor-donor hidup yang dirawat sejak kecil agar tumbuh dengan jantung, ginjal, hati, paru-paru, mata, dan organ-organ lain yang sehat, agar mereka bisa menjadi donor yang baik. Donor yang menyediakan mata yang mampu melihat dengan sempurna, jantung yang mampu berdegup kencang dan memompa darah dengan baik, ginjal yang sehat, dan sebagainya.

Jadi, jalan hidup mereka telah ditetapkan sejak awal mereka diciptakan. Mereka akan menyuplai segala hal yang dibutuhkan oleh manusia-manusia normal yang sakit, di tengah masyarakat yang juga sakit.

Novel ini bercerita tentang tiga orang: Kathy, Tommy, dan Ruth. Ketiganya siswa Hailsham, yang telah saya sebutkan di atas. Hailsham adalah sebuah sekolah khusus yang siswanya adalah hasil kloningan, tidak terkecuali tiga orang di atas.

Mereka tumbuh besar bersama sejak di Hailsham hingga menjelang dewasa. Kathy dan Tommy khususnya berteman baik, dan tampaknya hanya Kathy seorang yang paling memahami Tommy di dunia ini. Tommy adalah seorang anak lelaki temperamental. Ia mudah marah, khususnya setelah ada sebuah kejadian yang menyakiti hatinya. Emosinya gampang naik, dan hanya Kathy yang mampu meredakannya.

Ruth dan Kathy bersahabat, meskipun entahlah... saya tidak terlalu bisa memahami apalagi menyukai Ruth. Ruth bisa dikatakan seorang gadis yang ambisius. Dia senang menjadi pusat perhatian dan disenangi banyak orang. Sejak di Hailsham dia telah menjadi "pemimpin" dan semua anak perempuan ingin masuk ke dalam "geng" Ruth.

Sementara Kathy adalah seorang gadis yang pintar dan perasa. Ruth-lah yang pertama kali mengajak Kathy untuk berteman. Mungkin karena ia melihat Kathy sebagai satu-satunya orang yang sanggup untuk menyainginya dalam banyak hal. Kathy juga menaruh perhatian pada hal-hal kecil, khususnya seputar Tommy. Seperti ketika emosi Tommy tampak mulai stabil setelah berbicara dengan Miss Lucy, guardian mereka.
Guardian adalah semacam pembimbing yang akan mengajari mereka tentang banyak hal, kecuali satu hal penting: yaitu bahwa tidak ada masa depan bagi mereka (mereka tak bisa pergi ke Amerika untuk menjadi aktor, atau bekerja di Supermarket, atau cita-cita lainnya), kecuali bahwa masa depan mereka sudah ditakdirkan untuk berakhir di ruang operasi. Mati dengan dua atau tiga anggota tubuh yang tidak lengkap....

Seperti kata Miss Lucy, mereka tahu tapi tidak tahu. Sejak awal mereka sepertinya sudah tahu bahwa mereka memang berbeda, tapi mereka tidak tahu dengan jelas masa depan seperti apa yang akan menanti mereka. Setelah lulus dari Hailsham, mereka akan tinggal selama beberapa tahun di semacam asrama lainnya (kali ini tidak harus siswa Hailsham, tapi campur dengan siswa dari sekolah-sekolah lainnya). Setelah itu, mereka akan menjalani pelatihan sebagai perawat, sebelum akhirnya mereka akan dipanggil untuk melakukan donasi pertama.

Kathy, Tommy, dan Ruth bersama-sama tinggal di Cottage bersama siswa lainnya. Ketika itu, Tommy dan Ruth sudah berpacaran. Kathy bertindak sebagai sahabat yang baik bagi mereka berdua. Akrab dengan Ruth, dan kerap berbagi rahasia bersama. Begitupun dengan Tommy. Hingga akhirnya suatu insiden menyebabkan hubungan mereka renggang, dan Kathy memutuskan untuk memulai pelatihan perawat lebih cepat dari biasanya.

Lalu beberapa tahun kemudian, Kathy bertemu Ruth. Ruth telah menyelesaikan donasi pertamanya, dan kondisinya tidak bagus. Kathy memutuskan untuk menjadi perawat Ruth. Tanpa disangka, Ruth membawanya kepada Tommy. Tommy yang disayanginya. Tommy yang dicintainya....

Kini, mungkinkah hubungan mereka yang dulu renggang kembali menyatu? Bisakah tindakan buruk yang dulu dilakukan oleh salah satu dari mereka dimaafkan? Mungkinkah ada akhir yang bahagia bagi mereka, jika hidup mereka dirampas begitu saja dari mereka?

Sesungguhnya, sangat sulit bagi saya untuk menulis resensi buku ini. Ketika membaca, saya merasakan sejuta perasaan (sebagian besarnya kesal sama umat manusia yang menciptakan kloningan-kloningan seperti Kathy, Tommy, dan Ruth)... Tapi sesudah membacanya saya justru terdiam, bingung, dan merasa kalau semuanya sangatlah konyol.

Saya bahkan tidak tahu apa saya menyukai buku ini, atau tidak. Saya tidak bisa memutuskan. Di satu sisi saya berpikir bahwa tidak mungkin umat manusia tega melalukan hal itu. Tapi di sisi lain saya juga tahu, bahwa manusia bisa menjadi makhluk yang paling jahat dan paling kejam di muka bumi.

Perlakuan mereka kepada siswa kloningan ini benar-benar sangat tidak manusiawi. Ya, wajar saja... karena tidak ada "manusia normal" yang menganggap mereka manusia. Padahal, mereka memiliki sebagian besar sifat "manusia normal". Mereka tumbuh. Mereka bertambah besar, bertambah tinggi. Mereka bernafas. Mereka makan. Mereka bisa buang air. Mereka berbicara. Dan yang terpenting... segala sifat yang berhubungan dengan perasaan juga ada pada mereka. Lihat saja Tommy yang marah besar bahkan mengamuk ketika ada sesuatu yang membuatnya marah. Lihat saja Ruth yang selalu ingin mendominasi dan diperhatikan. Atau lihatlah Kathy yang selalu mengalah demi sahabat-sahabatnya. Apa semua hal itu mungkin dilakukan bila mereka tidak memiliki jiwa?? Apa mungkin raga mereka bisa melakukan itu semua jika tak ada jiwa, tak ada akal, tak ada hati di dalamnya??

Mau nggak mau saya jadi kesal sendiri sama "manusia normal" dan keegoisan mereka. Memang sih ini berada di sebuah dunia distopia yang berbeda dengan dunia kita. Ya, bisa juga dianggap dunia paralel kalau mau. Sulit. Sungguh sulit untuk menggambarkan isi buku ini. Saya berpikir, mungkin di dunia itu sudah tidak ada PBB yang sibuk mengurusi HAM, atau aktivis kemanusiaan lainnya yang lantang berbicara soal layak atau tidaknya donasi terpaksa seperti itu. Yang jelas sih di masa mereka ini, semua agama pasti sudah mati. Soalnya, mana mungkin ada agama, jika praktik-praktik seperti itu ada bahkan dilegalkan. Apalagi kita tahu bersama, bahwa kloning masih menjadi kontroversi, khususnya dalam agama Islam. Ditambah lagi kalau manusia hasil kloningan diperlakukan seperti di novel ini....

Banyak hal-hal yang tidak jelas di bukunya digambarkan dengan lebih jelas di filmnya. Seperti penjelasan di awal bagaimana kemajuan di dunia kedokteran semakin canggih, hingga angka harapan hidup manusia mampu mencapai di atas seratus tahun. Lalu banyak hal-hal yang disampaikan secara tersirat disampaikan dengan jelas di filmnya. Namun ada banyak aspek film yang menurut saya sangat berbeda dengan bukunya. Seperti ketika mereka pergi bersama ke Norfolk untuk melihat "kemungkinan" Ruth, lalu alasan kenapa Kathy memutuskan untuk pergi dari Cottage dan memulai pelatihan lebih dulu, pertemuan kembali Ruth dan Kathy, serta saat-saat keputusan terakhir Ruth. Yang bikin saya meringis adalah betapa tampak nyatanya "manusia normal" menjadikan mereka semata-mata sebagai alat untuk memperpanjang hidup mereka. Alat. Bukan manusia. Meskipun akhirnya mereka mati, dan tentu hanya makhluk yang hidup saja yang bisa mati dengan cara seperti itu...

Ah, sudahlah. Saya hanya berharap dunia ini tidak menjadi seperti itu pada nantinya. Saya hanya berharap agar manusia masih terus memiliki hati nurani, yang selalu menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. Meskipun manusia itu memang jahat, kejam, dan egois, tapi saya berharap mereka bisa bijak dalam mengambil keputusan, agar bumi ini tidak semakin rusak karenanya....

Ini adalah pertama kalinya saya baca novel karya Kazuo Ishiguro, warga negara Inggris keturunan Jepang dan kelahiran Jepang, yang menurut daftar The Times masuk ke dalam "The 50 greatest British writers since 1945". Sepertinya saya merasa perlu memberi penekanan terhadap "British writers", karena meskipun Om Kazuo ini kelahiran Jepang, tapi dia adalah orang Inggris. Jadi, otomatis karya yang dilahirkannya termasuk ke dalam kesusasteraan Inggris, bukan kesusasteraan Jepang.
Saya melihat ada beberapa orang yang menganggap karya Kazuo Ishiguro termasuk ke dalam kesusasteraan Jepang, padahal menurut saya tidak begitu. Ada syarat penting bagi sebuah karya untuk bisa masuk ke dalam kesusasteraan sebuah negara, salah satunya adalah syarat bahasa. Selanjutnya adalah masalah kewarganegaraan. Kazuo Ishiguro ini sudah jadi warga negara Inggris, jadi saya sangat ragu apakah karyanya diakui sebagai kesusasteraan Jepang.

Saya jadi ingat ketika skripsi dulu, saya berniat untuk membahas buku dwilogi "Samurai" karya Takashi Matsuoka. Takashi Matsuoka sendiri adalah warga negara Amerika Serikat yang tinggal di Hawaii, tapi keturunan Jepang. Dosen pembimbing saya waktu itu melarang saya, karena masih ada perdebatan apakah karya yang dihasilkannya bisa masuk ke dalam kesusasteraan Jepang atau tidak. Padahal dia adalah keturunan Jepang, dan karya yang dihasilkannya pun berhubungan dengan sejarah Jepang (meskipun ditulisnya dalam bahasa Inggris, dan sepertinya itu salah satu kendala terbesarnya...). Jadi, saya nggak jadi membahas karya beliau deh, padahal saya sangat suka dengan dua novelnya itu. Saya membahas karya sastrawan Jepang lainnya, yang memang sudah nggak diragukan lagi bahwa karyanya diakui oleh orang Jepang.

Oh iya, selain itu saya pikir permasalahan lainnya adalah... Setiap negara memiliki periodisasi kesusasteraan sendiri. Seperti di Indonesia misalnya, ada sastrawan angkatan pujangga baru, pujangga lama, balai pustaka, dsb. Begitupun dengan Jepang. Mereka punya kesusasteraan zaman Nara, Heian, Edo, hingga kontemporer. Dan akan menjadi permasalahan tersendiri Om Kazuo ini akan masuk ke periode yang mana, sementara bisa dikatakan ia hanyalah keturunan Jepang dan bukan warga negara Jepang.

Jadi, karena Kazuo Ishiguro sudah masuk ke dalam jajaran "Greatest British Writers", tentu salah jika memasukkan karyanya ke dalam kesusasteraan Jepang. Kenapa saya membahas ini? Karena saya rasa kita banyak mengalami kebingungan mengenai hal ini, dan mungkin juga tidak sedikit yang menganggap karya Kazuo Ishiguro masuk ke dalam kesusasteraan Jepang, dan bukan Eropa. Di luar negeri tampaknya kasusnya memang lebih membingungkan, karena tidak sedikit penulis-penulis keturunan (misalnya keturunan India yang tinggal di Inggris, keturunan Jepang yang tinggal di Amerika Serikat, dsb.) yang juga seorang sastrawan dan menghasilkan karya di sana. Jadilah kita bingung harus memasukkan karya Salman Rushdie ke dalam kesusasteraan Inggris atau India, Chitra Banerjee Divakaruni ke dalam kesusasteraan Amerika atau India, dsb. Apalagi jika syarat yang paling utama, yaitu bahasa telah terpenuhi. Dalam artian, mereka menulis dengan bahasa yang diakui oleh negara itu, dan tentu saja mereka juga harus diakui oleh para sastrawan di negaranya bahwa mereka memang masuk ke dalam golongan mereka.... Wallahua'lam :)

Review ini masuk ke: