July 17, 2013

Ingin Jadi Pembuat Kembang Api Sejati? Ini Dia Caranya...

Putri Si Pembuat Kembang Api (The Firework Maker's Daughter)Putri Si Pembuat Kembang Api by Philip Pullman
My rating: 5 of 5 stars

Apa yang paling dibutuhkan untuk membuat kembang api terbaik di dunia?

Bunga garam?
YA!

Bubuk awan?
YA!

Minyak kalajengking?
YAA!!

Bambu?
BISA JADIII!!

Pake santen??
TIDDAAAAAAAAKKKK!!!!!!!!

Ya, kira-kira apa ya yang dibutuhkan untuk membuat kembang api yang paling bagus di dunia? Bukan hanya berwujud bunga-bunga api yang meledak di angkasa, tapi kalau bisa, mereka seakan menari-nari dan juga tampak hidup seperti makhluk bernyawa. Untuk membuat kembang api terbaik di dunia, tentunya si pembuat kembang api juga adalah orang yang hebat dan punya keahlian. Lila merasa sudah punya semuanya, meskipun si ayah (namanya Lalchand) bilang kalau Lila belum pantas jadi seorang pembuat kembang api sejati.

Sebenernya si Lalchand ini bohong. Soalnya Lila kan dari kecil sampe gede udah terbiasa ngeliat bapaknya bikin kembang api. Ikut mbantuin juga. Dia bahkan menciptakan beberapa varian kembang api baru, misalnya aja Setan Jumpalitan dan Naga Meletup. Cuma, si ayah ini nggak mau kalau putri semata wayangnya mengikuti jejaknya. Seorang anak perempuan kan harusnya anggun, bukannya bau campuran benda-benda kimia. Punya kulit yang halus dan mulus, bukannya bopel-bopel gara-gara kena api.

Tapi, coba lihat Lila?

Kulitnya tidak halus dan mulus. Penampilannya juga jauh dari anggun. Belum lagi sifatnya yang sama sekali nggak seperti anak perempuan. Siapa yang mau sama dia nanti?

Oleh karena itu, Lalchand nggak mau memberi tahu Lila, apa rahasia terakhir supaya bisa jadi pembuat kembang api sejati. Dia khawatir putrinya nggak akan menjadi seperti wanita yang seharusnya (yang kayak gimana tuh, pop?) dan jadi pembuat kembang api seperti dirinya, yang sebenernya udah telat sih, karena udah jelas-jelas passion-nya si Lila itu adalah membuat kembang api.

Lila nggak hilang akal. Dia akhirnya minta bantuan temannya, seorang anak lelaki bernama Chulak, yang mengurus gajah putih milik raja bernama Hamlet. Singkatnya, Chulak menemukan rahasia terakhir yang bisa membuat Lila menjadi pembuat kembang api yang sesungguhnya.

Jadi, apa rahasia itu?

Harus melakukan perjalanan?
YAA!!

Ke dasar Samudera Atlantik?
TIDAAKK!!

Ke Gunung Merapi??
YAAA!!!

Sendirian??
BISA JADII!!!

Ketemu Razvani??
YAAA!!

Bawa sayur lodeh??
TIIDDDAAAAAKKKK!!!!

*ngos-ngosan* *minum aer Danau Zamrud dulu*

Ya, jadi Lila harus ke Gunung Merapi, masuk ke dalam Gua Angkara Api, demi bertemu Razvani. Razvani akan memberikan benda yang dibutuhkan Lila untuk bisa menjadi pembuat kembang api sejati. Sayangnya, Lila bertindak gegabah, karena terlalu bernafsu ingin membuktikan kepada ayahnya bahwa ia pasti bisa menemukan benda itu. Dia melupakan benda yang paling penting, benda yang akan menyelamatkan nyawanya.

Akhirnya, Chulak dan Hamlet mengejar Lila, demi mengantarkan benda penting itu. Oh iya, Hamlet itu sebenarnya bisa bicara bahasa manusia, tapi yang tahu hanya Chulak dan Lila aja. Udah gitu, Chulak sengaja bikin tubuh Hamlet dicoret-coret, karena orang-orang percaya kalau gajah putih itu bawa keberuntungan. Tentu saja Chulak nggak membiarkannya dengan gratis, meskipun dia bukan pemilik Hamlet, dia meminta bayaran atas setiap tulisan yang ditorehkan di tubuh Hamlet.

Nah, sanggupkah Chulak dan Hamlet membawa benda penting itu tepat pada waktunya? Mana si Lila jalannya cepet banget lagi... Padahal dia sempat dihadang Rambashi dan komplotannya (plus si Chang yang epik... xDD) Tapi, si Lila tau-tau udah nyampe aja di tempat Razvani dan mengikuti ujiannya. Ujian yang nggak mudah, karena Lila nggak memiliki tiga bekal. Apa lagi tiga bekal itu? Sayur lodehkah? Rendang sapikah? Atau... apa??

Eh, satu lagi. Gara-gara mau menyelamatkan anaknya, si Lalchand ikut membantu Chulak dan Hamlet kabur dari rumah pejabat. Sayangnya, ada seorang pembantu yang melihatnya dan melaporkan Lalchand ke raja. Akibatnya, dia akan dihukum mati! Bisa nggak tuh mereka menyelamatkan Lalchand, sementara nyawa Lila sendiri dalam bahaya!!!

Hahahaa, sebuah cerita anak yang sangat menghibur dan bikin saya ketawa ngakak. Disampaikan dengan sangat apik dan menarik, dibalut nuansa filosofis yang cukup kental, juga humor yang segar. Saya jauh lebih suka ini daripada si springheeled jack. Tokoh-tokohnya lucu-lucu!!! (*≧▽≦) Favorit saya si Rambashi, Chulak, Hamlet, dan tentunya Chang dan Lottus Blossom!!! xDD

Sisi filosofisnya memang nggak akan bisa dimengerti anak-anak, tapi saya pikir nggak masalah kalau mereka nggak ngerti. Jadi, menurut saya anak-anak dari berbagai usia bisa baca. Nggak papa nggak ngerti, soalnya saya yang udah dewasa aja juga nggak ngerti. *bangga* Tenang aja, semuanya itu hanya ilusi, jadi nggak usah dipikirin.

Saya selalu takjub sama buku-buku anak yang bisa dinikmati oleh orang dewasa, dan buku ini jelas salah satu contohnya. Buku kedua dalam dua minggu ini yang saya kasih bintang lima. Menang tiga dari Bintang Toedjoeh yang terpercaya... └(★o★)┐

Jadi, siapkah menjadi pembuat kembang api terbaik di dunia?

Kemudian, terdengar sayup-sayup lagu Sisakan Mangga Terakhir Untukku yang dibawakan Rambashi Melody Boys... Diiringi letupan kembang api jutaan warna yang menghiasi angkasa yang gelap gulita....

Peace, love, and gahol dari "Chang Cinta Lotus Blossom Penuh XXX".

P.S. Saya nggak tahu latarnya ini dimana. Kayaknya negeri antah berantah, karena meskipun si Lila dan Lalchand ini tampak seperti orang China, tapi sepertinya Chulak itu dari India, dan si Hamlet mungkin dari Thailand (bisa juga dari India sih). Pokoknya negeri campur aduk deh. Hahahaaa



Seraphina


SeraphinaSeraphina by Rachel Hartman
My rating: 5 of 5 stars

Di sebuah negeri bernama Goredd, manusia dan naga hidup bersama secara berdampingan. Meskipun hidup bersama, bukan berarti mereka saling menyukai satu sama lain. Kenyataannya, banyak juga yang membenci kehidupan yang harus dijalani oleh spesies yang saling berbeda itu.

Naga di Goredd berbeda dengan biasanya. Mereka bisa berubah menjadi manusia, atau lebih tepatnya bisa mengambil wujud manusia. Naga-naga semacam ini diberi nama saarantras, atau biasa disingkat dengan saar. Dulu, naga dan manusia berperang, hingga akhirnya 40 tahun yang lalu, dibentuklah sebuah perjanjian damai.

Sayangnya, meskipun perjanjian damai sudah dibuat, tidak semua orang senang dengan perjanjian itu. Ditambah lagi, tensi itu semakin meninggi ketika Pangeran Rufus, ditemukan tewas. Tentu saja banyak tersangka yang bisa diajukan, karena mungkin tidak sedikit yang mengincar nyawa seorang pangeran. Namun kondisi Pangeran Rufus ketika meninggal membuat semua orang yakin, bahwa hanya nagalah yang melakukannya. Jasad Pangeran Rufus ditemukan tanpa kepala, satu hal yang biasa dilakukan naga ketika membunuh musuhnya.

Sekarang, mari kita beralih ke tokoh utama di buku ini. Dia adalah Seraphina, seorang gadis berusia 16 tahun, yang memiliki kemampuan musik luar biasa. Seraphina memiliki seorang guru bernama Orma. Dia adalah "seorang" naga. Naga yang dikatakan tidak memiliki jiwa. Naga yang selalu dianggap kejam dan dingin, tapi juga cerdas luar biasa. Setidaknya, Orma memang cerdas luar biasa, karena dia adalah salah satu ilmuwan ternama di Goredd. Orma adalah guru yang sangat disayangi dan dihormati oleh Seraphina. Apalagi, Orma juga adalah salah satu anggota keluarganya yang penting. Orma adalah pamannya.

Paman? Jadi, Seraphina itu naga?

Jawabannya, bisa ya bisa tidak. Sebabnya, karena Seraphina adalah blasteran. Ia separuh naga dan separuh manusia. Ayah Seraphina adalah manusia biasa, berprofesi sebagai seorang pengacara kerajaan, dan memiliki posisi yang cukup tinggi di masyarakat. Sementara ibu Seraphina adalah seorang naga, yang meninggal ketika dirinya lahir. Tentu saja tidak ada yang boleh tahu kalau Seraphina adalah kaum blasteran. Bagi kedua spesies itu, menikah antarspesies adalah hal yang sangat hina dan juga rendah. Keselamatan Phina sendiri bisa terancam jika orang-orang tahu siapa dirinya yang sesungguhnya, apalagi di tengah krisis akibat meninggalnya Pangeran Rufus ini.

Seraphina memiliki bakat alami dalam bermain musik, sebuah bakat yang diturunkannya dari ibunya. Bakat yang sangat dicintainya, meskipun ayahnya sempat membenci bakat itu. Bakat itulah yang membuatnya mendapatkan tempat sebagai musisi istana, di bawah Viridius, sang komposer istana yang sudah tua. Posisi itu jugalah yang membuatnya menjadi guru pribadi sang putri mahkota, Putri Glisselda.

Glisselda adalah pewaris tahta kedua Goredd, setelah ibunya, Putri Dionne. Selda adalah gadis yang ceria dan juga aktif, tapi juga bisa menunjukkan kewibawaannya sebagai seorang putri mahkota saat dibutuhkan. Selda telah ditunangkan dengan sepupunya, Pangeran Lucian Kiggs, yang bertanggung jawab atas keamanan kerajaan. Pangeran Lucian adalah anak haram. Ibunya diusir dari istana karena menikah dengan rakyat jelata.

Pangeran Lucian tertarik pada Phina, yang dianggapnya sangat cerdas tetapi juga misterius. Phina tahu banyak soal naga, dan ia tidak merasa canggung berada di dekat mereka. Tentu saja, karena dia sendiri separuh naga! Lucian beberapa kali menyelamatkan Phina, dan mereka pun jadi bersahabat (hhmm, bertiga juga sih sama Selda). Banyak aspek di antara mereka berdua yang sangat cocok, mulai dari ketertarikan mereka akan filsafat, ibu yang sama-sama sudah meninggal, dan mereka berdua sama-sama cerdas.

Namun, tentu saja Phina tidak bisa berkata jujur mengenai identitas dirinya itu. Ia tidak mungkin bilang ke Lucian (yang dipanggil Kiggs oleh Phina) kalau dia punya sisik di lengan kiri dan juga di daerah pinggang. Ia tidak mungkin mengatakan kalau ayahnya menikah dengan naga, dan Orma adalah pamannya. Ia juga tidak mungkin bercerita kalau dia memiliki taman berisi makhluk-makhluk aneh di dalam otaknya, yang harus ia jaga setiap hari. Apalagi makhluk-makhluk aneh itu terkadang berulah, yang membuatnya kehilangan kesadaran seketika. Makhluk-makhluk itu adalah salah satu warisan ibunya, bersama visi yang terkadang menyerangnya begitu saja.

Goredd sebentar lagi merayakan 40 tahun perjanjian damai antara manusia dan naga. Ardmagar Comonot, sang jenderal pemimpin naga, akan berkunjung ke Goredd. Namun, kondisi keamanan di Goredd justru semakin buruk. Kebencian terhadap naga semakin menjadi-jadi, pertama dengan kematian Pangeran Rufus yang diduga dibunuh oleh naga, ditambah lagi dengan para ksatria ahli dracomachia (seni bela diri khusus untuk melawan naga) yang diasingkan yang mengaku melihat naga liar. Belum lagi campur tangan Putra St. Ogdo yang kerap main hakim sendiri terhadap naga, dan juga pihak yang dicurigai Kiggs adalah pembunuh sebenarnya pamannya.

Siapa yang membunuh Pangeran Rufus? Benarkah seekor naga, atau justru kelompok lain yang ingin memecah belah mereka? Siapakah makhluk-makhluk penghuni taman Seraphina? Jika mereka makhluk fiktif, kenapa pada suatu hari Phina bertemu salah satu dari mereka di dunia nyata? Siapa kulit baru bernama Basind yang disuruh tinggal bersama Orma? Benarkah naga tidak punya jiwa? Kalau tidak punya, kenapa ibu Phina bisa jatuh cinta kepada manusia, dan kenapa Orma memiliki keterikatan yang dalam terhadap Phina? Dan, benarkah hubungan Phina dan Kiggs hanya hubungan persahabatan belaka?

Ya, silakan cari sendiri jawabannya. Saya sendiri bingung mau cerita apa. Susah rasanya mau meresensi buku yang kita suka. Sempat saya diemin dulu beberapa hari karena saya bingung harus merangkai kata dari mana. Saya sendiri sebenarnya cukup kaget pada diri saya, karena memberikan bintang 5 untuk buku ini. Saya suka cerita fantasi, tapi terlalu banyak cerita fantasi di luar sana, sehingga tidak sedikit yang temanya serupa. Cerita fantasi yang membahas naga pun tidak sedikit, dan saya pikir saya mungkin akan bosan kalau ceritanya tentang naga lagi.

Iya sih, saya tahu rating di Goodreads-nya memang bagus. Tapi saya bukan orang yang percaya rating, karena setiap buku memiliki kesan yang berbeda bagi setiap orang yang membaca. Makanya, saya merasa takjub ketika saya menyukai buku ini.

Bisa dibilang hampir semua tokoh yang ada di buku ini telah menarik minat saya. Dimulai dari Seraphina, si tokoh utama yang separuh naga dan separuh manusia. Awalnya sih biasa aja, karena si Phina ini kok kayaknya datar banget ya, jadi orang. Saya sempat khawatir nggak akan suka sama dia, karena saya punya kecenderungan untuk nggak suka sama tokoh utama wanita dalam buku-buku YA yang saya baca. Tapi untungnya Phina berbeda, dan meskipun butuh waktu cukup lama, ternyata saya menyukainya.

Saya juga suka sama Orma, guru naga Phina, yang juga merupakan paman kandungnya. Orma ini orangnya cool banget, mungkin sama kayak semua naga lainnya. Dia sangat cerdas dan selalu mengandalkan rasionya. Sama seperti naga pada umumnya, dia sangat suka matematika dan aljabar. Dia mengajarkan banyak hal pada Phina. Dia juga sangat sayang pada Phina, dan menunjukkannya seperti bagaimana seharusnya naga bersikap. Dia juga sangat sayang pada kakak perempuannya, Linn, yang tidak lain adalah ibu Phina. Perasaan sayang Orma yang kaku-kaku datar-datar gimana itu yang bikin saya suka.

Tokoh selanjutnya yang saya suka adalah Pangeran Lucian Kiggs, atau biasa dipanggil Kiggs sama Phina (ini si pangeran sendiri yang minta dipanggil begitu). Dia ini sangat cerdas, punya insting yang bagus, dan juga tampan (kkyaaaa... eeeaaa). Dedikasinya sangat tinggi pada pekerjaannya, yaitu sebagai Ketua Garda Ratu. Dia memiliki hubungan emosional dengan Pangeran Rufus, pamannya. Makanya dia adalah orang yang paling sedih ketika tahu pamannya meninggal dibunuh orang atau makhluk misterius. Di antara banyak orang, tampaknya Seraphina adalah salah satu orang yang paling tahu banyak tentang Kiggs, mungkin karena persamaan di antara mereka. Kiggs ini sosok yang adorable deh di mata saya, dan kayaknya bakal masuk ke dalam "Book Boyfriend" tahun ini, karena perasaannya dan juga dedikasinya. Aaahh.... Kiggs....

Yang terakhir adalah Abdo. Sosok misterius dari taman Seraphina. Abdo ini masih kecil, tapi dia sudah paham banyak hal. Sifatnya dia, perhatiannya dia, dan kenyataan bahwa dia.... *piiip* *ilang sinyal* bikin saya suka banget sama dia. (*´▽`*♥ Jadi pengen pesen adek cowok satu yang kayak Abdo. Kyaaa~~~

Tumben-tumbenan lho, saya bisa suka sama banyak tokoh di satu buku. Ini entah mood saya yang lagi bagus atau gimana ya? Kok kayaknya emang nggak ada tokoh yang bener-bener nyebelin atau bener-bener jahat banget di buku ini. Ada sih, tapi perannya nggak terlalu signifikan dan orangnya juga udah matek.

Sama seperti beberapa orang, saya merasa kalau di awal itu alurnya sangaatt lambat... Sampai-sampai saya butuh waktu lama hanya untuk baca sekitar 100-an halaman. Banyak deskripsi dan narasi, yang sebenarnya memang sangat penting untuk kelangsungan cerita, tapi cukup bikin mandeg juga. Setelah lewat 150-an halaman, baru deh ceritanya mulai seru dan mulai nggak bisa lepas. Saya bahkan sampe bela-belain begadang, saking penasarannya. Mana paginya harus saur, dan besoknya kerja lagi (iya, salah saya emang nggak nyari waktu tepat buat begadang (; ̄д ̄)). Tapi yang namanya penasaran, nggak bisa berenti, ya mau gimana lagi...

Saya menutup buku dengan perasaan puas. Tapi kemudian saya tersadar, kalau..... LANJUTANNYA MASIH LAMAA!!!!! #kagaknyanteamatdahgua

Saya harus nunggu setahun lagi, karena baru akan terbit tahun 2014 mendatang... (┳Д┳) *nangis kejer lalu cari doraemon pinjem mesin waktu* Itupun versi englishnya, versi Indonesianya pasti mundur beberapa bulan. Saya kan penasaran sama lanjutannya. Penasaran sama hubungan Kiggs dan Seraphina (yang sempet bikin saya heboh sendiri di akhir cerita), dan terutama penasaran banget sama si Jannoula, makhluk dari taman Seraphina yang paling aneh dan misterius.

Semoga aja tahun depan saya dapat buntelan lagi dari Gramedia (Ini murni ngarep. Pake banget). Pokoknya harus diterbitin lho, lanjutannya! *ngancem*

Oh iya, sebelum saya lupa, saya harusnya ucapin terima kasih dulu ke Mbak Yudith, dari Gramedia, yang udah berbaik hati memberikan buntelan ini ke anak-anak BBI. Juga Mas Dion yang jadi humasnya, hingga anak BBI bisa mendapatkan asupan buku-buku gratis bergizi. Sering-sering aja ya, Mbak... Kami menerima segala jenis buntelan buku dengan tangan terbuka.... huehehee *nggak tau malu*








July 4, 2013

Mio Anakku, Sang Pangeran dari Negeri nun Jauh


My rating: 4 of 5 stars

Di zaman dahulu kala, tapi tidak terlalu dahulu, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Mio. Mio adalah putra mahkotadari Negeri Nun Jauh. Sebuah negeri yang tidak akan bisa kau bayangkan dimana letaknya, karena sangat jauh dan tak akan bisa kau jangkau. Pangeran Mio hidup bahagia bersama ayahnya sang raja... Tapi itu sekarang, karena sebelumnya Pangeran Mio hidup menderita, meski tidak terlalu merana, dan jauh dari ayahnya.

Mari kita mundur sejenak. Sebelum ini, belum ada orang yang bernama Pangeran Mio. Yang ada hanyalah Bo Vilhelm Olsson atau yang biasa dipanggil Bosse. Bosse tinggal dengan kedua orang tua angkatnya yang jahat, Tante Edla dan Paman Sixten. Kalau mereka jahat kepada Bosse, kenapa mereka mau repot-repot mengambil Bosse dari panti asuhan, ya? Orang dewasa memang aneh... Ketika seorang anak kecil sudah tidak lucu lagi, mereka berhenti menyayanginya....

Untungnya Bosse tidak lama-lama menderita di rumah orang tua angkatnya itu, karena Bosse tiba-tiba pergi ke sebuah negeri yang aneh. Anehnya lagi, di negeri itu ternyata ia adalah pangeran dan ayahnya adalah seorang raja!! Tante Edla memang salah besar karena menganggap ayah Bosse adalah gelandangan. Dia pasti malu dan membungkuk kalau tahu kalau ayah Bosse, Ayahku sang Raja, adalah seorang raja! Ahaa!!

Karena kita telah tiba di Negeri nun Jauh, maka mari kita tinggalkan nama Bosse. Bosse sudah hilang, yang ada hanyalah Mio, sang pangeran dari Negeri nun Jauh. Mio sempat merasa sedih, karena harus berpisah dari sahabatnya, Benka, karena Mio (alias Bosse) menghilang tiba-tiba. Benka pasti sedih. Begitupun dengan Mio yang merindukan Benka. Untung saja di sana Mio bertemu seorang teman baru. Namanya Jum-Jum, dia anak penjaga kebun istana. Jum-Jum mirip Benka, atau setidaknya begitulah yang ada di mata Mio. Mio dan Jum-Jum senang bermain dan tertawa keras-keras. Dan kini, tidak ada lagi yang memarahi Mio karena tertawa keras-keras. Ayahku sang Raja sangat senang mendengar tawa Mio, tidak seperti Tante Edla dan Paman Sixten yang senang memarahi Mio kalau ia tertawa keras-keras.

"Aku suka suara kicau burung," katanya. "Aku suka musik dari pohon-pohon poplar perakku. Tetapi yang paling aku sukai adalah mendengar suara tawa anakku di Taman Mawar ini."


Baik sekali ya, ayahnya Mio. Dia memang sangat senang bisa bertemu lagi dengan putranya, setelah 9 tahun terpisah. 9 tahun penantian panjang tanpa kejelasan. Karenanya, raja sangat senang mendengar tawa Mio, senang bermain dengannya, senang melihatnya. Ayahku sang Raja bahagia karena putranya telah kembali ke sisinya....

Karena itu, ia sangat sedih ketika Mio harus pergi melawan Kesatria Kato. Seorang lelaki yang sangat jahat yang telah memberikan teror mengerikan di Negeri nun Jauh yang indah. Kesatria Kato telah menculik adik-adik Nonno, seorang anak gembala baik hati, yang telah membuatkan suling indah untuk Mio dan Jum-Jum. Kesatria Kato juga telah menculik adik perempuan Jiri, sehingga Jiri dan keluarganya bersedih hati. Kesatria Kato juga telah menculik anak kuda yang indah dari Hutan Kemilau Bulan, hingga seratus kuda putih bersurai indah menangis darah karenanya. Kesatria Kato juga telah menculik anak perempuan ibu penenun, yang tinggal di sebuah pondok cantik bak di negeri dongeng, yang di sekelilingnya dipenuhi bunga-bunga apel putih yang bersinar di bawah sinar bulan, sehingga ia menenun dalam kesedihan dan keputusasaan.

Mio harus pergi melawan Kesatria Kato. Sang raja sudah tahu itu. Jum-Jum juga tahu. Semua orang di Negeri nun Jauh tahu. Semua sudah diramalkan sejak lama. Hanya Mio yang tidak tahu, karena memang banyak sekali hal yang tidak tahu dari tempat tinggal barunya itu. Ia tidak tahu kalau Miramis, kudanya yang cantik, bisa terbang. Ia tidak tahu kalau Roti Penghilang Lapar rasanya sangat lezat. Ia juga tidak tahu kalau air di Sumur Pelepas Dahaga adalah air yang paling segar yang pernah ia minum. Dan tentu saja ia tak tahu kalau Sumur yang Berbisik pada Malam Hari mampu mendongeng dengan indah dan menggugah perasaannya.

Mio harus pergi melawan Kesatria Kato, meskipun ia merasa takut dan tidak memiliki kekuatan apa-apa. Nasib Negeri nun Jauh ada di tangannya. Nasib negeri yang dicintainya, orang-orang yang dicintainya, dan tentu juga nasibnya sendiri....

Mio tidak sendiri. Ada Jum-Jum di sampingnya. Ada Miramis yang selalu setia mengikutinya. Ada suling buatan Nonno yang berkali-kali membantunya. Ada sendok ajaib milik adik perempuan Jiri yang diculik Kesatria Kato. Ada jubah milik adik Nonno yang diculik Kesatria Kato, yang kemudian ditenun lagi oleh ibu penenun di hutan apel. Dan yang terpenting, ada ayah Mio, sang raja yang selalu mendukung anaknya, dengan ucapan.... "Mio anakku....".

:")

Dongeng yang sangat indah. Saya suka sekali dengan cara Astrid Lindgren menyampaikan kisahnya. Saya suka sekali dengan Mio, Jum-Jum, Nonno, Jiri, Miramis, Ayahku sang Raja, dan semuanya. Tidak ada karakter yang benar-benar saya benci, kecuali mungkin Tante Edla dan Paman Sixten. Saya bahkan pada akhirnya cukup bersimpati pada Kesatria Kato yang jahat luar biasa itu.

Petualangan Mio disampaikan dengan sederhana, tetapi tidak merusak keseruan ceritanya. Meskipun bagi beberapa orang dongeng ini tampak kelam, tapi bagi saya dongeng ini sangat indah. Mungkin ini buku yang bagus untuk menjelaskan kepada anak-anak, kalau di dunia ini tidak hanya ada kesenangan dan kebahagiaan saja, tetapi juga kesedihan, duka, bahkan kematian. Semuanya adalah proses hidup, yang pasti akan dirasakan oleh setiap manusia. Melihat tema ceritanya, mungkin ada baiknya buku ini dibaca oleh anak-anak di atas 9 tahun, sesuai usia Mio, karena walaupun disampaikan dengan sederhana, tetapi saya pikir anak yang sudah lebih tua akan lebih mudah memahami berbagai perasaan yang dialami oleh Mio. 


 

Eclair


Éclair: Pagi Terakhir di Rusia by Prisca Primasari
My rating: 3 of 5 stars

Oke, padahal saya belum membuat review dari dua dorama dan dua anime yang sudah saya tonton, tapi sekarang saya mau buat review buku ini dulu (ups, curhat...).

"Eclair: Pagi Terakhir di Rusia" adalah buku Prisca Primasari pertama yang saya baca. Sejujurnya nih, jujur nih ya... saya jangan ditabok, ya... Saya itu jarang banget baca buku karya penulis Indonesia. Apalagi kalau genrenya romance-romance gitu, biasanya nggak akan saya lirik. Tapi bukan berarti saya meremehkan karya penulis Indonesia lho ya, soalnya saya suka sama Tere Liye dan punya hampir semua bukunya (iya, kalo udah suka emang jadi setia ngoleksi bukunya). Hhhmmm ya, selain karena saya nggak gitu suka romance, saya juga jarang (bahkan hampir nggak pernah) beli bukunya Gagas. Selain lebih mahal (menurut saya), saya juga bukan orang yang gampang tergoda dengan iming-iming cover cantik. Apalagi dengan sinopsis ga jelas dan terkesan "cheesy" yang ada di belakang bukunya. Jadi makanya, ketika teman saya menawarkan saya untuk membaca bukunya, saya langsung mengiyakan.

Baiklah, sekarang masuk ke ceritanya. Buku ini berkisah tentang hubungan lima orang bernama Sergei, Katya, Stepanych, Lhiver, dan Kay. Sergei dan Stepanych adalah kakak adik, begitupun dengan Lhiver dan Kay. Sementara itu Katya adalah satu-satunya perempuan, dan juga tunangannya Sergei. Persahabatan dan hubungan perasaan yang mendalam di antara mereka bermula dari sepotong eclair, kue Prancis yang mirip kue sus itu...

Seiring berjalannya waktu, persahabatan mereka semakin erat, hingga mereka sendiri pun yakin bahwa tidak akan ada yang sanggup memisahkan hubungan itu. Namun, semuanya berubah ketika dua tahun yang lalu, ada sebuah tragedi besar yang membuat hubungan mereka tercerai berai. Lhiver jadi membenci empat sahabatnya, dan memutuskan untuk pergi jauh dari mereka. Katya tenggelam dalam perasaan bersalah hingga membenci eclair, yang dulunya adalah kue favoritnya dan yang memperkenalkannya pada sahabat-sahabatnya. Kay melarikan diri pada dunia fotografi yang menjadi hobinya, dan bepergian ke seluruh dunia. Hanya Sergei yang tetap terlihat tegar, meski sebenarnya ada luka yang masih selalu basah di dalam hatinya. Sedangkan Stepanych adalah orang yang paling merasa bersalah, hingga penyakit semakin menggerogoti tubuhnya, menghilangkan kesadarannya, dan hanya ada satu hal yang paling diinginkannya di dunia ini, yaitu bertemu dengan Kay dan Lhiver....

Katya kemudian memutuskan untuk membawa Kay dan Lhiver menemui Stepanych, karena ia sadar waktu Stepanych tidak akan lama lagi. Meskipun ketika itu hanya tinggal 2 minggu saja menjelang pernikahannya, Katya yang memang seorang gadis keras kepala dan berpendirian kuat sudah bertekad untuk membujuk Kay dan Lhiver untuk pulang ke Rusia, tak peduli seberapa pun bencinya mereka pada dirinya.

Katya pun berangkat ke New York, tempat tinggal Kay bersama istrinya, Claudine. Usaha membawa Kay pulang tidak mudah, karena ternyata Kay sedang tersangkut kasus berat yang menyebabkannya harus dipenjara. Katya harus berkejaran dengan waktu untuk membuktikan bahwa Kay tidak bersalah. Untungnya Katya, dibantu oleh Claudine, berhasil menuntaskan misi mereka, sehingga Katya bisa beranjak ke PR selanjutnya yang lebih sulit, yaitu membujuk Lhiver pulang.

Lhiver tinggal di Surabaya, menghabiskan waktu sebagai seorang dosen sastra dan juga pengajar bahasa Prancis di universitas disana. Lhiver ini suka banget sama kesusateraan, sampe bikin saya pengen ngobrol sama dia. Pasti seru deh. Hahahaa... Nah, si Lhiver inilah yang hingga kini masih menyalahkan kakak dan sahabat-sahabatnya atas tragedi yang menimpa dirinya dua tahun yang lalu. Padahal ketika tragedi itu terjadi, rasa sakit itu bukan hanya milik Lhiver. Jika Lhiver hanya merasakan sakit dan dengan mudahnya menyalahkan orang lain, maka mereka yang dituduh olehnya merasakan perasaan yang jauh lebih besar dan menyakitkan, yang bernama perasaan bersalah dan juga menyesal. Iya, saya nggak suka dengan sikapnya Lhiver yang menyalahkan orang lain atas tragedi, yang bahkan kita sendiri nggak punya kuasa atasnya.

Jadi, sanggupkah Katya membujuk Lhiver untuk pulang ke Rusia, mendatangi pernikahannya dengan Sergei, dan yang terpenting bertemu dengan Stepanych untuk terakhir kalinya? Akankah persahabatan mereka yang sempat retak kembali bersatu?

Silakan baca sendiri untuk menemukan jawabannya. Kalau saya sendiri sih cukup suka dengan cerita ini, buktinya saya sanggup menghabiskannya dalam waktu beberapa jam saja. Suatu hal yang cukup emejing, karena akhir-akhir ini saya kalo baca lama banget. Baca buku di atas 200 halaman dalam sehari itu hanya tinggal mimpi, padahal dulu saya sanggup baca Harry Potter dan Orde Phoenix hanya dalam sehari saja. Tapi sekarang... beuuhh... Lammaaa!! Banyak terganggu oleh internet, hape, sama anime dan dorama yang terus merayu saya agar lebih memperhatikan mereka daripada tumpukan buku di rumah. Hohoho.... Lha, jadi curhat lagi kan... (一。一;;)

Bahasa yang digunakan Prisca sangat enak untuk dibaca. Plotnya lancar meskipun alurnya yang maju mundur kadang bikin saya bingung. Satu lagi yang juga bikin saya bingung adalah ketika menghitung usia mereka, karena yang disebutkan dengan jelas hanya Sergei saja, yang usianya sudah 36 tahun, beda 11 tahun dari Katya. Aduh, om-om ganteng dan cool, luluh deh hati saya... kyakyakyaa~~ #ups

Sentuhan misteri dan referensi kepada musik juga sastra dalam buku ini patut menjadi nilai tambah, karena turut memperkaya tema cerita. Terutama sih sastranya, yang jadi terlihat kalau Prisca banyak membaca karya kesusasteraan dunia.

Satu hal yang bikin saya nggak sreg dan ngerasa agak-agak maksa itu adalah latar belakang Katya, yang nyawanya terancam karena dikejar-kejar oleh muridnya Rasputin. Kalau dikejar-kejar atau diincer sama KGB karena Bapaknya dulu adalah mata-mata Rusia yang berkhianat (macem bapaknya Lisbeth Salander di "The Girl With The Dragon Tattoo"), atau diincer sama musuhnya Rusia karena bapaknya intel, sih saya malah lebih paham dan bisa nerima. Apalagi menurut saya di bagian itu rada-rada maksa biar nyambung ke dalam cerita. Soalnya, hidup Katya setelah itu baik-baik aja tuh, nggak keliatan mendapatkan gangguan yang berarti dari kelompok itu. Ya emang sih si Sergei tajir melintir sampe bisa nyewa body guard atau mata-mata, atau hal lainnya buat melindungi tunangannya, tapi tetep aja kok rasanya aneh yaa...

Lalu, sekarang saya mau cerita soal Stepanych. Adik Sergei yang ahli patisserie ini menurut saya nasibnya paling ngenes. Dia adalah orang yang paling ceria dan penghidup suasana di antara mereka berlima. Namun, dia juga yang paling merasa bersalah atas kejadian dua tahun yang lalu, hingga ia jadi merusak tubuhnya sendiri. Saya suka bagian cerita ketika Stepanych berkunjung ke tetangganya yang aneh dan senang menutup diri. Saya juga suka hubungan kakak adik antara Stepanych dan Sergei yang cocwiit itu.

Oh iya, ada satu hal lagi yang agak bikin saya terganggu. Hal itu adalah.... penggunaan kata tampan yang terlalu banyak ketika menjelaskan tokoh-tokohnya. Kayaknya jadi mikir: "Mesti ya, dijelasin kalo si Lhiver tampan, si Sergei tampan, Stepanych tampan, Kay juga tampan.". Jadi seolah-olah didikte kalau mereka semua wajahnya tampan, padahal menurut saya sih penjelasan dengan rambut mereka seperti apa, mata mereka gimana, wajah mereka gimana, sudah cukup. Hhhmm, bukan berarti Prisca nggak menjelaskan itu semua, dijelaskan kok. Jadi, maka dari itu menurut saya kata-kata tampan itu nggak perlu. Lagian ya, tokoh dalam novel romance mana ada sih yang nggak tampan? Apalagi mereka semua orang bule, Rusia pun, yang bagi orang Indonesia ya tampan semua.

Yah, terlepas dari itu semua, cara Prisca meramu novelnya ini cukup apik dan semanis eclair, tapi juga sepahit coklat.... #tsaahh





July 17, 2013

Ingin Jadi Pembuat Kembang Api Sejati? Ini Dia Caranya...

Putri Si Pembuat Kembang Api (The Firework Maker's Daughter)Putri Si Pembuat Kembang Api by Philip Pullman
My rating: 5 of 5 stars

Apa yang paling dibutuhkan untuk membuat kembang api terbaik di dunia?

Bunga garam?
YA!

Bubuk awan?
YA!

Minyak kalajengking?
YAA!!

Bambu?
BISA JADIII!!

Pake santen??
TIDDAAAAAAAAKKKK!!!!!!!!

Ya, kira-kira apa ya yang dibutuhkan untuk membuat kembang api yang paling bagus di dunia? Bukan hanya berwujud bunga-bunga api yang meledak di angkasa, tapi kalau bisa, mereka seakan menari-nari dan juga tampak hidup seperti makhluk bernyawa. Untuk membuat kembang api terbaik di dunia, tentunya si pembuat kembang api juga adalah orang yang hebat dan punya keahlian. Lila merasa sudah punya semuanya, meskipun si ayah (namanya Lalchand) bilang kalau Lila belum pantas jadi seorang pembuat kembang api sejati.

Sebenernya si Lalchand ini bohong. Soalnya Lila kan dari kecil sampe gede udah terbiasa ngeliat bapaknya bikin kembang api. Ikut mbantuin juga. Dia bahkan menciptakan beberapa varian kembang api baru, misalnya aja Setan Jumpalitan dan Naga Meletup. Cuma, si ayah ini nggak mau kalau putri semata wayangnya mengikuti jejaknya. Seorang anak perempuan kan harusnya anggun, bukannya bau campuran benda-benda kimia. Punya kulit yang halus dan mulus, bukannya bopel-bopel gara-gara kena api.

Tapi, coba lihat Lila?

Kulitnya tidak halus dan mulus. Penampilannya juga jauh dari anggun. Belum lagi sifatnya yang sama sekali nggak seperti anak perempuan. Siapa yang mau sama dia nanti?

Oleh karena itu, Lalchand nggak mau memberi tahu Lila, apa rahasia terakhir supaya bisa jadi pembuat kembang api sejati. Dia khawatir putrinya nggak akan menjadi seperti wanita yang seharusnya (yang kayak gimana tuh, pop?) dan jadi pembuat kembang api seperti dirinya, yang sebenernya udah telat sih, karena udah jelas-jelas passion-nya si Lila itu adalah membuat kembang api.

Lila nggak hilang akal. Dia akhirnya minta bantuan temannya, seorang anak lelaki bernama Chulak, yang mengurus gajah putih milik raja bernama Hamlet. Singkatnya, Chulak menemukan rahasia terakhir yang bisa membuat Lila menjadi pembuat kembang api yang sesungguhnya.

Jadi, apa rahasia itu?

Harus melakukan perjalanan?
YAA!!

Ke dasar Samudera Atlantik?
TIDAAKK!!

Ke Gunung Merapi??
YAAA!!!

Sendirian??
BISA JADII!!!

Ketemu Razvani??
YAAA!!

Bawa sayur lodeh??
TIIDDDAAAAAKKKK!!!!

*ngos-ngosan* *minum aer Danau Zamrud dulu*

Ya, jadi Lila harus ke Gunung Merapi, masuk ke dalam Gua Angkara Api, demi bertemu Razvani. Razvani akan memberikan benda yang dibutuhkan Lila untuk bisa menjadi pembuat kembang api sejati. Sayangnya, Lila bertindak gegabah, karena terlalu bernafsu ingin membuktikan kepada ayahnya bahwa ia pasti bisa menemukan benda itu. Dia melupakan benda yang paling penting, benda yang akan menyelamatkan nyawanya.

Akhirnya, Chulak dan Hamlet mengejar Lila, demi mengantarkan benda penting itu. Oh iya, Hamlet itu sebenarnya bisa bicara bahasa manusia, tapi yang tahu hanya Chulak dan Lila aja. Udah gitu, Chulak sengaja bikin tubuh Hamlet dicoret-coret, karena orang-orang percaya kalau gajah putih itu bawa keberuntungan. Tentu saja Chulak nggak membiarkannya dengan gratis, meskipun dia bukan pemilik Hamlet, dia meminta bayaran atas setiap tulisan yang ditorehkan di tubuh Hamlet.

Nah, sanggupkah Chulak dan Hamlet membawa benda penting itu tepat pada waktunya? Mana si Lila jalannya cepet banget lagi... Padahal dia sempat dihadang Rambashi dan komplotannya (plus si Chang yang epik... xDD) Tapi, si Lila tau-tau udah nyampe aja di tempat Razvani dan mengikuti ujiannya. Ujian yang nggak mudah, karena Lila nggak memiliki tiga bekal. Apa lagi tiga bekal itu? Sayur lodehkah? Rendang sapikah? Atau... apa??

Eh, satu lagi. Gara-gara mau menyelamatkan anaknya, si Lalchand ikut membantu Chulak dan Hamlet kabur dari rumah pejabat. Sayangnya, ada seorang pembantu yang melihatnya dan melaporkan Lalchand ke raja. Akibatnya, dia akan dihukum mati! Bisa nggak tuh mereka menyelamatkan Lalchand, sementara nyawa Lila sendiri dalam bahaya!!!

Hahahaa, sebuah cerita anak yang sangat menghibur dan bikin saya ketawa ngakak. Disampaikan dengan sangat apik dan menarik, dibalut nuansa filosofis yang cukup kental, juga humor yang segar. Saya jauh lebih suka ini daripada si springheeled jack. Tokoh-tokohnya lucu-lucu!!! (*≧▽≦) Favorit saya si Rambashi, Chulak, Hamlet, dan tentunya Chang dan Lottus Blossom!!! xDD

Sisi filosofisnya memang nggak akan bisa dimengerti anak-anak, tapi saya pikir nggak masalah kalau mereka nggak ngerti. Jadi, menurut saya anak-anak dari berbagai usia bisa baca. Nggak papa nggak ngerti, soalnya saya yang udah dewasa aja juga nggak ngerti. *bangga* Tenang aja, semuanya itu hanya ilusi, jadi nggak usah dipikirin.

Saya selalu takjub sama buku-buku anak yang bisa dinikmati oleh orang dewasa, dan buku ini jelas salah satu contohnya. Buku kedua dalam dua minggu ini yang saya kasih bintang lima. Menang tiga dari Bintang Toedjoeh yang terpercaya... └(★o★)┐

Jadi, siapkah menjadi pembuat kembang api terbaik di dunia?

Kemudian, terdengar sayup-sayup lagu Sisakan Mangga Terakhir Untukku yang dibawakan Rambashi Melody Boys... Diiringi letupan kembang api jutaan warna yang menghiasi angkasa yang gelap gulita....

Peace, love, and gahol dari "Chang Cinta Lotus Blossom Penuh XXX".

P.S. Saya nggak tahu latarnya ini dimana. Kayaknya negeri antah berantah, karena meskipun si Lila dan Lalchand ini tampak seperti orang China, tapi sepertinya Chulak itu dari India, dan si Hamlet mungkin dari Thailand (bisa juga dari India sih). Pokoknya negeri campur aduk deh. Hahahaaa



Seraphina


SeraphinaSeraphina by Rachel Hartman
My rating: 5 of 5 stars

Di sebuah negeri bernama Goredd, manusia dan naga hidup bersama secara berdampingan. Meskipun hidup bersama, bukan berarti mereka saling menyukai satu sama lain. Kenyataannya, banyak juga yang membenci kehidupan yang harus dijalani oleh spesies yang saling berbeda itu.

Naga di Goredd berbeda dengan biasanya. Mereka bisa berubah menjadi manusia, atau lebih tepatnya bisa mengambil wujud manusia. Naga-naga semacam ini diberi nama saarantras, atau biasa disingkat dengan saar. Dulu, naga dan manusia berperang, hingga akhirnya 40 tahun yang lalu, dibentuklah sebuah perjanjian damai.

Sayangnya, meskipun perjanjian damai sudah dibuat, tidak semua orang senang dengan perjanjian itu. Ditambah lagi, tensi itu semakin meninggi ketika Pangeran Rufus, ditemukan tewas. Tentu saja banyak tersangka yang bisa diajukan, karena mungkin tidak sedikit yang mengincar nyawa seorang pangeran. Namun kondisi Pangeran Rufus ketika meninggal membuat semua orang yakin, bahwa hanya nagalah yang melakukannya. Jasad Pangeran Rufus ditemukan tanpa kepala, satu hal yang biasa dilakukan naga ketika membunuh musuhnya.

Sekarang, mari kita beralih ke tokoh utama di buku ini. Dia adalah Seraphina, seorang gadis berusia 16 tahun, yang memiliki kemampuan musik luar biasa. Seraphina memiliki seorang guru bernama Orma. Dia adalah "seorang" naga. Naga yang dikatakan tidak memiliki jiwa. Naga yang selalu dianggap kejam dan dingin, tapi juga cerdas luar biasa. Setidaknya, Orma memang cerdas luar biasa, karena dia adalah salah satu ilmuwan ternama di Goredd. Orma adalah guru yang sangat disayangi dan dihormati oleh Seraphina. Apalagi, Orma juga adalah salah satu anggota keluarganya yang penting. Orma adalah pamannya.

Paman? Jadi, Seraphina itu naga?

Jawabannya, bisa ya bisa tidak. Sebabnya, karena Seraphina adalah blasteran. Ia separuh naga dan separuh manusia. Ayah Seraphina adalah manusia biasa, berprofesi sebagai seorang pengacara kerajaan, dan memiliki posisi yang cukup tinggi di masyarakat. Sementara ibu Seraphina adalah seorang naga, yang meninggal ketika dirinya lahir. Tentu saja tidak ada yang boleh tahu kalau Seraphina adalah kaum blasteran. Bagi kedua spesies itu, menikah antarspesies adalah hal yang sangat hina dan juga rendah. Keselamatan Phina sendiri bisa terancam jika orang-orang tahu siapa dirinya yang sesungguhnya, apalagi di tengah krisis akibat meninggalnya Pangeran Rufus ini.

Seraphina memiliki bakat alami dalam bermain musik, sebuah bakat yang diturunkannya dari ibunya. Bakat yang sangat dicintainya, meskipun ayahnya sempat membenci bakat itu. Bakat itulah yang membuatnya mendapatkan tempat sebagai musisi istana, di bawah Viridius, sang komposer istana yang sudah tua. Posisi itu jugalah yang membuatnya menjadi guru pribadi sang putri mahkota, Putri Glisselda.

Glisselda adalah pewaris tahta kedua Goredd, setelah ibunya, Putri Dionne. Selda adalah gadis yang ceria dan juga aktif, tapi juga bisa menunjukkan kewibawaannya sebagai seorang putri mahkota saat dibutuhkan. Selda telah ditunangkan dengan sepupunya, Pangeran Lucian Kiggs, yang bertanggung jawab atas keamanan kerajaan. Pangeran Lucian adalah anak haram. Ibunya diusir dari istana karena menikah dengan rakyat jelata.

Pangeran Lucian tertarik pada Phina, yang dianggapnya sangat cerdas tetapi juga misterius. Phina tahu banyak soal naga, dan ia tidak merasa canggung berada di dekat mereka. Tentu saja, karena dia sendiri separuh naga! Lucian beberapa kali menyelamatkan Phina, dan mereka pun jadi bersahabat (hhmm, bertiga juga sih sama Selda). Banyak aspek di antara mereka berdua yang sangat cocok, mulai dari ketertarikan mereka akan filsafat, ibu yang sama-sama sudah meninggal, dan mereka berdua sama-sama cerdas.

Namun, tentu saja Phina tidak bisa berkata jujur mengenai identitas dirinya itu. Ia tidak mungkin bilang ke Lucian (yang dipanggil Kiggs oleh Phina) kalau dia punya sisik di lengan kiri dan juga di daerah pinggang. Ia tidak mungkin mengatakan kalau ayahnya menikah dengan naga, dan Orma adalah pamannya. Ia juga tidak mungkin bercerita kalau dia memiliki taman berisi makhluk-makhluk aneh di dalam otaknya, yang harus ia jaga setiap hari. Apalagi makhluk-makhluk aneh itu terkadang berulah, yang membuatnya kehilangan kesadaran seketika. Makhluk-makhluk itu adalah salah satu warisan ibunya, bersama visi yang terkadang menyerangnya begitu saja.

Goredd sebentar lagi merayakan 40 tahun perjanjian damai antara manusia dan naga. Ardmagar Comonot, sang jenderal pemimpin naga, akan berkunjung ke Goredd. Namun, kondisi keamanan di Goredd justru semakin buruk. Kebencian terhadap naga semakin menjadi-jadi, pertama dengan kematian Pangeran Rufus yang diduga dibunuh oleh naga, ditambah lagi dengan para ksatria ahli dracomachia (seni bela diri khusus untuk melawan naga) yang diasingkan yang mengaku melihat naga liar. Belum lagi campur tangan Putra St. Ogdo yang kerap main hakim sendiri terhadap naga, dan juga pihak yang dicurigai Kiggs adalah pembunuh sebenarnya pamannya.

Siapa yang membunuh Pangeran Rufus? Benarkah seekor naga, atau justru kelompok lain yang ingin memecah belah mereka? Siapakah makhluk-makhluk penghuni taman Seraphina? Jika mereka makhluk fiktif, kenapa pada suatu hari Phina bertemu salah satu dari mereka di dunia nyata? Siapa kulit baru bernama Basind yang disuruh tinggal bersama Orma? Benarkah naga tidak punya jiwa? Kalau tidak punya, kenapa ibu Phina bisa jatuh cinta kepada manusia, dan kenapa Orma memiliki keterikatan yang dalam terhadap Phina? Dan, benarkah hubungan Phina dan Kiggs hanya hubungan persahabatan belaka?

Ya, silakan cari sendiri jawabannya. Saya sendiri bingung mau cerita apa. Susah rasanya mau meresensi buku yang kita suka. Sempat saya diemin dulu beberapa hari karena saya bingung harus merangkai kata dari mana. Saya sendiri sebenarnya cukup kaget pada diri saya, karena memberikan bintang 5 untuk buku ini. Saya suka cerita fantasi, tapi terlalu banyak cerita fantasi di luar sana, sehingga tidak sedikit yang temanya serupa. Cerita fantasi yang membahas naga pun tidak sedikit, dan saya pikir saya mungkin akan bosan kalau ceritanya tentang naga lagi.

Iya sih, saya tahu rating di Goodreads-nya memang bagus. Tapi saya bukan orang yang percaya rating, karena setiap buku memiliki kesan yang berbeda bagi setiap orang yang membaca. Makanya, saya merasa takjub ketika saya menyukai buku ini.

Bisa dibilang hampir semua tokoh yang ada di buku ini telah menarik minat saya. Dimulai dari Seraphina, si tokoh utama yang separuh naga dan separuh manusia. Awalnya sih biasa aja, karena si Phina ini kok kayaknya datar banget ya, jadi orang. Saya sempat khawatir nggak akan suka sama dia, karena saya punya kecenderungan untuk nggak suka sama tokoh utama wanita dalam buku-buku YA yang saya baca. Tapi untungnya Phina berbeda, dan meskipun butuh waktu cukup lama, ternyata saya menyukainya.

Saya juga suka sama Orma, guru naga Phina, yang juga merupakan paman kandungnya. Orma ini orangnya cool banget, mungkin sama kayak semua naga lainnya. Dia sangat cerdas dan selalu mengandalkan rasionya. Sama seperti naga pada umumnya, dia sangat suka matematika dan aljabar. Dia mengajarkan banyak hal pada Phina. Dia juga sangat sayang pada Phina, dan menunjukkannya seperti bagaimana seharusnya naga bersikap. Dia juga sangat sayang pada kakak perempuannya, Linn, yang tidak lain adalah ibu Phina. Perasaan sayang Orma yang kaku-kaku datar-datar gimana itu yang bikin saya suka.

Tokoh selanjutnya yang saya suka adalah Pangeran Lucian Kiggs, atau biasa dipanggil Kiggs sama Phina (ini si pangeran sendiri yang minta dipanggil begitu). Dia ini sangat cerdas, punya insting yang bagus, dan juga tampan (kkyaaaa... eeeaaa). Dedikasinya sangat tinggi pada pekerjaannya, yaitu sebagai Ketua Garda Ratu. Dia memiliki hubungan emosional dengan Pangeran Rufus, pamannya. Makanya dia adalah orang yang paling sedih ketika tahu pamannya meninggal dibunuh orang atau makhluk misterius. Di antara banyak orang, tampaknya Seraphina adalah salah satu orang yang paling tahu banyak tentang Kiggs, mungkin karena persamaan di antara mereka. Kiggs ini sosok yang adorable deh di mata saya, dan kayaknya bakal masuk ke dalam "Book Boyfriend" tahun ini, karena perasaannya dan juga dedikasinya. Aaahh.... Kiggs....

Yang terakhir adalah Abdo. Sosok misterius dari taman Seraphina. Abdo ini masih kecil, tapi dia sudah paham banyak hal. Sifatnya dia, perhatiannya dia, dan kenyataan bahwa dia.... *piiip* *ilang sinyal* bikin saya suka banget sama dia. (*´▽`*♥ Jadi pengen pesen adek cowok satu yang kayak Abdo. Kyaaa~~~

Tumben-tumbenan lho, saya bisa suka sama banyak tokoh di satu buku. Ini entah mood saya yang lagi bagus atau gimana ya? Kok kayaknya emang nggak ada tokoh yang bener-bener nyebelin atau bener-bener jahat banget di buku ini. Ada sih, tapi perannya nggak terlalu signifikan dan orangnya juga udah matek.

Sama seperti beberapa orang, saya merasa kalau di awal itu alurnya sangaatt lambat... Sampai-sampai saya butuh waktu lama hanya untuk baca sekitar 100-an halaman. Banyak deskripsi dan narasi, yang sebenarnya memang sangat penting untuk kelangsungan cerita, tapi cukup bikin mandeg juga. Setelah lewat 150-an halaman, baru deh ceritanya mulai seru dan mulai nggak bisa lepas. Saya bahkan sampe bela-belain begadang, saking penasarannya. Mana paginya harus saur, dan besoknya kerja lagi (iya, salah saya emang nggak nyari waktu tepat buat begadang (; ̄д ̄)). Tapi yang namanya penasaran, nggak bisa berenti, ya mau gimana lagi...

Saya menutup buku dengan perasaan puas. Tapi kemudian saya tersadar, kalau..... LANJUTANNYA MASIH LAMAA!!!!! #kagaknyanteamatdahgua

Saya harus nunggu setahun lagi, karena baru akan terbit tahun 2014 mendatang... (┳Д┳) *nangis kejer lalu cari doraemon pinjem mesin waktu* Itupun versi englishnya, versi Indonesianya pasti mundur beberapa bulan. Saya kan penasaran sama lanjutannya. Penasaran sama hubungan Kiggs dan Seraphina (yang sempet bikin saya heboh sendiri di akhir cerita), dan terutama penasaran banget sama si Jannoula, makhluk dari taman Seraphina yang paling aneh dan misterius.

Semoga aja tahun depan saya dapat buntelan lagi dari Gramedia (Ini murni ngarep. Pake banget). Pokoknya harus diterbitin lho, lanjutannya! *ngancem*

Oh iya, sebelum saya lupa, saya harusnya ucapin terima kasih dulu ke Mbak Yudith, dari Gramedia, yang udah berbaik hati memberikan buntelan ini ke anak-anak BBI. Juga Mas Dion yang jadi humasnya, hingga anak BBI bisa mendapatkan asupan buku-buku gratis bergizi. Sering-sering aja ya, Mbak... Kami menerima segala jenis buntelan buku dengan tangan terbuka.... huehehee *nggak tau malu*








July 4, 2013

Mio Anakku, Sang Pangeran dari Negeri nun Jauh


My rating: 4 of 5 stars

Di zaman dahulu kala, tapi tidak terlalu dahulu, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Mio. Mio adalah putra mahkotadari Negeri Nun Jauh. Sebuah negeri yang tidak akan bisa kau bayangkan dimana letaknya, karena sangat jauh dan tak akan bisa kau jangkau. Pangeran Mio hidup bahagia bersama ayahnya sang raja... Tapi itu sekarang, karena sebelumnya Pangeran Mio hidup menderita, meski tidak terlalu merana, dan jauh dari ayahnya.

Mari kita mundur sejenak. Sebelum ini, belum ada orang yang bernama Pangeran Mio. Yang ada hanyalah Bo Vilhelm Olsson atau yang biasa dipanggil Bosse. Bosse tinggal dengan kedua orang tua angkatnya yang jahat, Tante Edla dan Paman Sixten. Kalau mereka jahat kepada Bosse, kenapa mereka mau repot-repot mengambil Bosse dari panti asuhan, ya? Orang dewasa memang aneh... Ketika seorang anak kecil sudah tidak lucu lagi, mereka berhenti menyayanginya....

Untungnya Bosse tidak lama-lama menderita di rumah orang tua angkatnya itu, karena Bosse tiba-tiba pergi ke sebuah negeri yang aneh. Anehnya lagi, di negeri itu ternyata ia adalah pangeran dan ayahnya adalah seorang raja!! Tante Edla memang salah besar karena menganggap ayah Bosse adalah gelandangan. Dia pasti malu dan membungkuk kalau tahu kalau ayah Bosse, Ayahku sang Raja, adalah seorang raja! Ahaa!!

Karena kita telah tiba di Negeri nun Jauh, maka mari kita tinggalkan nama Bosse. Bosse sudah hilang, yang ada hanyalah Mio, sang pangeran dari Negeri nun Jauh. Mio sempat merasa sedih, karena harus berpisah dari sahabatnya, Benka, karena Mio (alias Bosse) menghilang tiba-tiba. Benka pasti sedih. Begitupun dengan Mio yang merindukan Benka. Untung saja di sana Mio bertemu seorang teman baru. Namanya Jum-Jum, dia anak penjaga kebun istana. Jum-Jum mirip Benka, atau setidaknya begitulah yang ada di mata Mio. Mio dan Jum-Jum senang bermain dan tertawa keras-keras. Dan kini, tidak ada lagi yang memarahi Mio karena tertawa keras-keras. Ayahku sang Raja sangat senang mendengar tawa Mio, tidak seperti Tante Edla dan Paman Sixten yang senang memarahi Mio kalau ia tertawa keras-keras.

"Aku suka suara kicau burung," katanya. "Aku suka musik dari pohon-pohon poplar perakku. Tetapi yang paling aku sukai adalah mendengar suara tawa anakku di Taman Mawar ini."


Baik sekali ya, ayahnya Mio. Dia memang sangat senang bisa bertemu lagi dengan putranya, setelah 9 tahun terpisah. 9 tahun penantian panjang tanpa kejelasan. Karenanya, raja sangat senang mendengar tawa Mio, senang bermain dengannya, senang melihatnya. Ayahku sang Raja bahagia karena putranya telah kembali ke sisinya....

Karena itu, ia sangat sedih ketika Mio harus pergi melawan Kesatria Kato. Seorang lelaki yang sangat jahat yang telah memberikan teror mengerikan di Negeri nun Jauh yang indah. Kesatria Kato telah menculik adik-adik Nonno, seorang anak gembala baik hati, yang telah membuatkan suling indah untuk Mio dan Jum-Jum. Kesatria Kato juga telah menculik adik perempuan Jiri, sehingga Jiri dan keluarganya bersedih hati. Kesatria Kato juga telah menculik anak kuda yang indah dari Hutan Kemilau Bulan, hingga seratus kuda putih bersurai indah menangis darah karenanya. Kesatria Kato juga telah menculik anak perempuan ibu penenun, yang tinggal di sebuah pondok cantik bak di negeri dongeng, yang di sekelilingnya dipenuhi bunga-bunga apel putih yang bersinar di bawah sinar bulan, sehingga ia menenun dalam kesedihan dan keputusasaan.

Mio harus pergi melawan Kesatria Kato. Sang raja sudah tahu itu. Jum-Jum juga tahu. Semua orang di Negeri nun Jauh tahu. Semua sudah diramalkan sejak lama. Hanya Mio yang tidak tahu, karena memang banyak sekali hal yang tidak tahu dari tempat tinggal barunya itu. Ia tidak tahu kalau Miramis, kudanya yang cantik, bisa terbang. Ia tidak tahu kalau Roti Penghilang Lapar rasanya sangat lezat. Ia juga tidak tahu kalau air di Sumur Pelepas Dahaga adalah air yang paling segar yang pernah ia minum. Dan tentu saja ia tak tahu kalau Sumur yang Berbisik pada Malam Hari mampu mendongeng dengan indah dan menggugah perasaannya.

Mio harus pergi melawan Kesatria Kato, meskipun ia merasa takut dan tidak memiliki kekuatan apa-apa. Nasib Negeri nun Jauh ada di tangannya. Nasib negeri yang dicintainya, orang-orang yang dicintainya, dan tentu juga nasibnya sendiri....

Mio tidak sendiri. Ada Jum-Jum di sampingnya. Ada Miramis yang selalu setia mengikutinya. Ada suling buatan Nonno yang berkali-kali membantunya. Ada sendok ajaib milik adik perempuan Jiri yang diculik Kesatria Kato. Ada jubah milik adik Nonno yang diculik Kesatria Kato, yang kemudian ditenun lagi oleh ibu penenun di hutan apel. Dan yang terpenting, ada ayah Mio, sang raja yang selalu mendukung anaknya, dengan ucapan.... "Mio anakku....".

:")

Dongeng yang sangat indah. Saya suka sekali dengan cara Astrid Lindgren menyampaikan kisahnya. Saya suka sekali dengan Mio, Jum-Jum, Nonno, Jiri, Miramis, Ayahku sang Raja, dan semuanya. Tidak ada karakter yang benar-benar saya benci, kecuali mungkin Tante Edla dan Paman Sixten. Saya bahkan pada akhirnya cukup bersimpati pada Kesatria Kato yang jahat luar biasa itu.

Petualangan Mio disampaikan dengan sederhana, tetapi tidak merusak keseruan ceritanya. Meskipun bagi beberapa orang dongeng ini tampak kelam, tapi bagi saya dongeng ini sangat indah. Mungkin ini buku yang bagus untuk menjelaskan kepada anak-anak, kalau di dunia ini tidak hanya ada kesenangan dan kebahagiaan saja, tetapi juga kesedihan, duka, bahkan kematian. Semuanya adalah proses hidup, yang pasti akan dirasakan oleh setiap manusia. Melihat tema ceritanya, mungkin ada baiknya buku ini dibaca oleh anak-anak di atas 9 tahun, sesuai usia Mio, karena walaupun disampaikan dengan sederhana, tetapi saya pikir anak yang sudah lebih tua akan lebih mudah memahami berbagai perasaan yang dialami oleh Mio. 


 

Eclair


Éclair: Pagi Terakhir di Rusia by Prisca Primasari
My rating: 3 of 5 stars

Oke, padahal saya belum membuat review dari dua dorama dan dua anime yang sudah saya tonton, tapi sekarang saya mau buat review buku ini dulu (ups, curhat...).

"Eclair: Pagi Terakhir di Rusia" adalah buku Prisca Primasari pertama yang saya baca. Sejujurnya nih, jujur nih ya... saya jangan ditabok, ya... Saya itu jarang banget baca buku karya penulis Indonesia. Apalagi kalau genrenya romance-romance gitu, biasanya nggak akan saya lirik. Tapi bukan berarti saya meremehkan karya penulis Indonesia lho ya, soalnya saya suka sama Tere Liye dan punya hampir semua bukunya (iya, kalo udah suka emang jadi setia ngoleksi bukunya). Hhhmmm ya, selain karena saya nggak gitu suka romance, saya juga jarang (bahkan hampir nggak pernah) beli bukunya Gagas. Selain lebih mahal (menurut saya), saya juga bukan orang yang gampang tergoda dengan iming-iming cover cantik. Apalagi dengan sinopsis ga jelas dan terkesan "cheesy" yang ada di belakang bukunya. Jadi makanya, ketika teman saya menawarkan saya untuk membaca bukunya, saya langsung mengiyakan.

Baiklah, sekarang masuk ke ceritanya. Buku ini berkisah tentang hubungan lima orang bernama Sergei, Katya, Stepanych, Lhiver, dan Kay. Sergei dan Stepanych adalah kakak adik, begitupun dengan Lhiver dan Kay. Sementara itu Katya adalah satu-satunya perempuan, dan juga tunangannya Sergei. Persahabatan dan hubungan perasaan yang mendalam di antara mereka bermula dari sepotong eclair, kue Prancis yang mirip kue sus itu...

Seiring berjalannya waktu, persahabatan mereka semakin erat, hingga mereka sendiri pun yakin bahwa tidak akan ada yang sanggup memisahkan hubungan itu. Namun, semuanya berubah ketika dua tahun yang lalu, ada sebuah tragedi besar yang membuat hubungan mereka tercerai berai. Lhiver jadi membenci empat sahabatnya, dan memutuskan untuk pergi jauh dari mereka. Katya tenggelam dalam perasaan bersalah hingga membenci eclair, yang dulunya adalah kue favoritnya dan yang memperkenalkannya pada sahabat-sahabatnya. Kay melarikan diri pada dunia fotografi yang menjadi hobinya, dan bepergian ke seluruh dunia. Hanya Sergei yang tetap terlihat tegar, meski sebenarnya ada luka yang masih selalu basah di dalam hatinya. Sedangkan Stepanych adalah orang yang paling merasa bersalah, hingga penyakit semakin menggerogoti tubuhnya, menghilangkan kesadarannya, dan hanya ada satu hal yang paling diinginkannya di dunia ini, yaitu bertemu dengan Kay dan Lhiver....

Katya kemudian memutuskan untuk membawa Kay dan Lhiver menemui Stepanych, karena ia sadar waktu Stepanych tidak akan lama lagi. Meskipun ketika itu hanya tinggal 2 minggu saja menjelang pernikahannya, Katya yang memang seorang gadis keras kepala dan berpendirian kuat sudah bertekad untuk membujuk Kay dan Lhiver untuk pulang ke Rusia, tak peduli seberapa pun bencinya mereka pada dirinya.

Katya pun berangkat ke New York, tempat tinggal Kay bersama istrinya, Claudine. Usaha membawa Kay pulang tidak mudah, karena ternyata Kay sedang tersangkut kasus berat yang menyebabkannya harus dipenjara. Katya harus berkejaran dengan waktu untuk membuktikan bahwa Kay tidak bersalah. Untungnya Katya, dibantu oleh Claudine, berhasil menuntaskan misi mereka, sehingga Katya bisa beranjak ke PR selanjutnya yang lebih sulit, yaitu membujuk Lhiver pulang.

Lhiver tinggal di Surabaya, menghabiskan waktu sebagai seorang dosen sastra dan juga pengajar bahasa Prancis di universitas disana. Lhiver ini suka banget sama kesusateraan, sampe bikin saya pengen ngobrol sama dia. Pasti seru deh. Hahahaa... Nah, si Lhiver inilah yang hingga kini masih menyalahkan kakak dan sahabat-sahabatnya atas tragedi yang menimpa dirinya dua tahun yang lalu. Padahal ketika tragedi itu terjadi, rasa sakit itu bukan hanya milik Lhiver. Jika Lhiver hanya merasakan sakit dan dengan mudahnya menyalahkan orang lain, maka mereka yang dituduh olehnya merasakan perasaan yang jauh lebih besar dan menyakitkan, yang bernama perasaan bersalah dan juga menyesal. Iya, saya nggak suka dengan sikapnya Lhiver yang menyalahkan orang lain atas tragedi, yang bahkan kita sendiri nggak punya kuasa atasnya.

Jadi, sanggupkah Katya membujuk Lhiver untuk pulang ke Rusia, mendatangi pernikahannya dengan Sergei, dan yang terpenting bertemu dengan Stepanych untuk terakhir kalinya? Akankah persahabatan mereka yang sempat retak kembali bersatu?

Silakan baca sendiri untuk menemukan jawabannya. Kalau saya sendiri sih cukup suka dengan cerita ini, buktinya saya sanggup menghabiskannya dalam waktu beberapa jam saja. Suatu hal yang cukup emejing, karena akhir-akhir ini saya kalo baca lama banget. Baca buku di atas 200 halaman dalam sehari itu hanya tinggal mimpi, padahal dulu saya sanggup baca Harry Potter dan Orde Phoenix hanya dalam sehari saja. Tapi sekarang... beuuhh... Lammaaa!! Banyak terganggu oleh internet, hape, sama anime dan dorama yang terus merayu saya agar lebih memperhatikan mereka daripada tumpukan buku di rumah. Hohoho.... Lha, jadi curhat lagi kan... (一。一;;)

Bahasa yang digunakan Prisca sangat enak untuk dibaca. Plotnya lancar meskipun alurnya yang maju mundur kadang bikin saya bingung. Satu lagi yang juga bikin saya bingung adalah ketika menghitung usia mereka, karena yang disebutkan dengan jelas hanya Sergei saja, yang usianya sudah 36 tahun, beda 11 tahun dari Katya. Aduh, om-om ganteng dan cool, luluh deh hati saya... kyakyakyaa~~ #ups

Sentuhan misteri dan referensi kepada musik juga sastra dalam buku ini patut menjadi nilai tambah, karena turut memperkaya tema cerita. Terutama sih sastranya, yang jadi terlihat kalau Prisca banyak membaca karya kesusasteraan dunia.

Satu hal yang bikin saya nggak sreg dan ngerasa agak-agak maksa itu adalah latar belakang Katya, yang nyawanya terancam karena dikejar-kejar oleh muridnya Rasputin. Kalau dikejar-kejar atau diincer sama KGB karena Bapaknya dulu adalah mata-mata Rusia yang berkhianat (macem bapaknya Lisbeth Salander di "The Girl With The Dragon Tattoo"), atau diincer sama musuhnya Rusia karena bapaknya intel, sih saya malah lebih paham dan bisa nerima. Apalagi menurut saya di bagian itu rada-rada maksa biar nyambung ke dalam cerita. Soalnya, hidup Katya setelah itu baik-baik aja tuh, nggak keliatan mendapatkan gangguan yang berarti dari kelompok itu. Ya emang sih si Sergei tajir melintir sampe bisa nyewa body guard atau mata-mata, atau hal lainnya buat melindungi tunangannya, tapi tetep aja kok rasanya aneh yaa...

Lalu, sekarang saya mau cerita soal Stepanych. Adik Sergei yang ahli patisserie ini menurut saya nasibnya paling ngenes. Dia adalah orang yang paling ceria dan penghidup suasana di antara mereka berlima. Namun, dia juga yang paling merasa bersalah atas kejadian dua tahun yang lalu, hingga ia jadi merusak tubuhnya sendiri. Saya suka bagian cerita ketika Stepanych berkunjung ke tetangganya yang aneh dan senang menutup diri. Saya juga suka hubungan kakak adik antara Stepanych dan Sergei yang cocwiit itu.

Oh iya, ada satu hal lagi yang agak bikin saya terganggu. Hal itu adalah.... penggunaan kata tampan yang terlalu banyak ketika menjelaskan tokoh-tokohnya. Kayaknya jadi mikir: "Mesti ya, dijelasin kalo si Lhiver tampan, si Sergei tampan, Stepanych tampan, Kay juga tampan.". Jadi seolah-olah didikte kalau mereka semua wajahnya tampan, padahal menurut saya sih penjelasan dengan rambut mereka seperti apa, mata mereka gimana, wajah mereka gimana, sudah cukup. Hhhmm, bukan berarti Prisca nggak menjelaskan itu semua, dijelaskan kok. Jadi, maka dari itu menurut saya kata-kata tampan itu nggak perlu. Lagian ya, tokoh dalam novel romance mana ada sih yang nggak tampan? Apalagi mereka semua orang bule, Rusia pun, yang bagi orang Indonesia ya tampan semua.

Yah, terlepas dari itu semua, cara Prisca meramu novelnya ini cukup apik dan semanis eclair, tapi juga sepahit coklat.... #tsaahh