November 30, 2013

My Girl: Seorang Ayah, Gadis Kecil, dan Kenangan akan Perempuan yang Dicintai


Judul: My Girl
Jumlah volume: 1-5 (selesai)
Penulis: Sahara Mizu

Bagaimanakah seorang anak dapat mengubah kehidupan seseorang?

Bagi Kazama Masamune, seorang anak benar-benar mengubah kehidupannya. Ia, yang awalnya hanya seorang lelaki lajang berusia 23 tahun, bekerja sebagai seorang karyawan biasa, dengan kehidupan yang biasa, tiba-tiba dikejutkan dengan hadirnya seorang anak perempuan berusia 4 tahun, yang mengaku anaknya.

Koharu namanya. Ia adalah putri dari Tsukamoto Youko, kekasih Masamune sekitar lima tahun yang lalu, ketika dia masih duduk di bangku kelas 3 SMA, dan Youko adalah mahasiswi yang empat tahun lebih tua darinya. Iya, perbedaan usia mereka memang cukup jauh, tapi Masamune sangat mencintai Youko, dan percaya mereka akan terus berhubungan meskipun ia sudah lulus SMA.

Hingga pada suatu hari, ketika Masamune akan lulus SMA, Youko berkata bahwa ia akan pergi belajar dan bahkan mungkin sekaligus bekerja di Amerika. Masamune sangat sedih, dan bertekad untuk menyurati Youko. Dia memang melakukannya, menyurati Youko dengan tekun, meskipun tidak pernah ada balasan dari wanita yang dicintainya itu. Akhirnya, ia pun menyerah dan berhenti mengirimkan surat. Youko pasti telah melupakannya, dan hidup enak di luar negeri sana.

Lalu di hari itu... Koharu hadir di hadapannya. Pertemuan mereka tidak disengaja, ketika Koharu yang sangat sedih karena kehilangan ibunya kabur dari rumah...

Ya. Youko telah tiada. Wanita yang sangat dicintai Masamune itu meninggal dunia. Setelah bertahun-tahun tidak mendapatkan kabar dari Youko, ia tidak pernah menyangka bahwa dengan cara inilah mereka akan dipertemukan lagi. Ditambah lagi, Youko ternyata telah memiliki seorang putri, dengan dirinya, yang entah merupakan anugerah ataukah musibah bagi Masamune.

Tentu saja kehadiran Koharu tidak langsung diakui oleh Masamune. Siapa juga yang akan percaya jika tiba-tiba ada seorang anak berusia 4 tahun yang mengaku bahwa sebagai anak?

Tapi surat-surat Youko--yang mengiris hati--membuat Masamune yakin kalau gadis kecil itu memang putrinya. Surat-surat Youko yang tersimpan rapi, dan tak pernah dikirimkannya ketika masih hidup. Surat-surat Youko yang menandakan kalau iapun masih mencintai Masamune dan begitu merindukannya. Surat-surat yang mengubah pendirian Masamune, hingga ia pun memutuskan untuk membesarkan Koharu. Dan, inilah kisah mereka...


"My Girl" adalah manga karya Sahara Mizu, mangaka Jepang yang baru-baru ini menjadi favorit saya. Saya sangat suka dengan komiknya yang berjudul "Bus Hashiru". Ceritanya sederhana, berkisar kisah-kisah cinta yang berhubungan dengan bus dan tempat pemberhentiannya. Cerita-ceritanya sederhana, sangat manis, dan menghangatkan jiwa.

Namun, saya tidak begitu suka dengan "Watashitachi no Shiawase na Jikan", atau Our Happy Time, yang merupakan versi manga dari novel karya penulis Korea, Gong Ji-young. Novelnya ini juga sudah difilmkan dengan judul "Maundy Thursday", dan saya sukaaa sama filmnya... >____________<

Oke, jadi OOT. Kembali ke manga "My Girl". Hhmm... saya cukup suka dengan kisah yang ini, karena buat saya cerita yang melibatkan hubungan ayah dan anak perempuan itu tuh manis bangeett... #langsungdiabet. Apalagi Masamune masih muda, dan pasti sulit untuk membesarkan seorang anak kecil sendirian. Lebih-lebih dia nggak pernah menikah sebelumnya, dan perempuan yang jadi ibu anaknya sudah meninggal dunia. Di tengah masyarakat Jepang yang kibishii alias kejam itu, pasti sulit sekali bagi Masamune untuk membesarkan Koharu sendirian. Walaupun sebenarnya nggak sendirian-sendirian amat sih, karena ibunya Youko, alias neneknya Koharu, masih secara rutin membantu Masamune. Begitupun dengan kedua orang tua Masamune, yang akhirnya menerima Koharu, meski pada awalnya ibu Masamune merasa sangat kecewa dan menolak cucunya. Tapi ya, siapa sih yang bisa menolak pesona seorang gadis kecil berusia empat tahun?

Apalagi Koharu ini dewasa banget, nggak kayak bocah usia empat tahun. Yah, karena Youko itu kan single mother, jadi Koharu harus bersikap baik agar mereka nggak ngatain ibunya. Dan sekarang dia tinggal berdua sama ayahnya, yang nggak dipanggil papa, tapi Masamune-kun (ikut Youko yang manggil dengan nama itu), jadi dia pun tidak boleh bersikap buruk, karena ayahnya yang pasti akan kena cibiran dari orang-orang.



Tapi.... saya pikir alur komiknya terlalu cepat. Sangat cepat bahkan. Koharu yang tadinya masih TK, tau-tau sudah mau masuk SD saja. Lalu Koharu akhirnya masuk SD, dan diceritakan kalau dia ingin masuk SMP ibunya (ini pas masih kelas 1 SD), setelah lihat foto Youko pakai seragam SMP, karena dia ingin bisa pakai seragam yang sama dengan ibu tersayangnya itu. Tapi, SMP ini adalah sekolah elit, jadi Koharu harus siap-siap dari sekarang (iya, dari kelas 1 SD). Akhirnya, Koharu ikut ujian persiapan untuk masuk bimbel biar bisa masuk ke SMP itu. Masih kelas satu lho bboookkk!! Dan udah disuruh persiapan buat masuk SMP??!! Meskipun akhirnya Koharu baru ikut ketika dia kelas 2 SD, tapi tetep aja... Gue aja dulu pas masih kelas satu mikirnya cuma maen doang, lha ini? Anak kelas satu udah disuruh masup bimbel buat persiapan SMP! ARIENAI!!

Nah, buat saya, alur yang terlalu cepat ini cukup mengganggu kenikmatan membaca, karena tahun-tahun pertama kehidupan Masamune dan Koharu jadi tidak dijabarkan secara detail. Padahal menurut saya, bagian itu justru paling penting, karena masing-masing mengalami perubahan hidup yang sangat drastis. Masamune yang tiba-tiba harus ngurusin anak, dan Koharu yang tiba-tiba hidup tanpa ibunya. Sedewasa apapun Koharu, mengurus anak tetaplah bukan perkara mudah. Dan saya ingin tahu bagaimana perubahan hidup Masamune dan Koharu secara perlahan, bukan dengan cara yang terlalu cepat seperti itu.

Yang berikutnya rada-rada spoiler, jadi kalau nggak mau tau, diskip aja yaa... xp

=====

Belum lagi, saya tidak suka dengan akhirnya, yang melibatkan perempuan lain yang nantinya mungkin akan menjadi ibu baru Koharu. Saya tidak suka dengan perempuan itu, karena menurut saya justru Koharu-lah yang harus berkorban lebih banyak. Misalnya ketika si cewek baru ini memberikan hadiah pernak-pernik kucing hitam ke Koharu, untuk menggantikan aksesoris serba lady bug yang selalu dipakai Koharu. Lady bug ini punya peranan penting bagi mereka, dan merupakan binatang kesukaan Youko.

Dari situ saya mulai nggak sreg sama nih cewek. Siape lo deh, dateng-dateng langsung berharap Koharu melupakan ibunya (meski dengan cara yang sangat halus)?

(≧Д≦)ノ (≧Д≦)ノ(≧Д≦)ノ(≧Д≦)ノ(≧Д≦)ノ(≧Д≦)ノ

Arrggghh!! Kenapa nggak dengan cewek yang sebelumnya aja? Yang menurut saya jauh lebih dewasa. Sikapnya juga unik dan agak-agak mirip sama Youko.

=====

Versi agak spoiler selesai ┏((= ̄(エ) ̄=))┛

Oh iya, satu hal lagi yang kurang dieksplor adalah tentang Youko. Sebagai perempuan yang dicintai oleh Masamune dan orang yang melahirkan Koharu, saya pikir Youko seharusnya mendapat tempat lebih di dalam cerita. Saya jadi ingat bagaimana Honda Tooru, yang sering sekali bercerita tentang ibunya yang sudah tiada, di manga Fruits Basket (favorit saya inih.. >__<). Penjabaran Takaya Natsuki sensei dalam menggambarkan karakter Honda Kyoko benar-benar luar biasa, sehingga terasa sangat hidup. Bahkan ada beberapa chapter tersindiri yang khusus bercerita tentang dia. Belum lagi kisah dia dan bapaknya Tooru yang bikin saya nangis bombay... TT____TT Kyoko begitu hidup, sehingga saya pun merasa karakternya adalah sesuatu yang sangat penting, hingga Tooru begitu mengidolakannya.

Sayangnya, di "My Girl" ini, menurut saya porsi Youko sangat kurang. Padahal, Masamune dan Koharu sudah berjanji untuk saling bercerita tentang Youko ketika mereka merasa rindu dengannya. Masamune akan bercerita tentang Youko selama ia pacaran dengannya, dan Koharu akan bercerita tentang hidupnya bersama ibunya (meski seharusnya nggak terlalu banyak, karena dia masih sangat kecil dan seharusnya belum bisa mengingat terlalu banyak hal tentang ibunya). Saya kan ingin tahu bagaimana Masamune dan Youko bisa jadian, masa-masa kehamilan Youko dan ketika ia membesarkan Koharu sendirian, terus kenapa ikatan di antara mereka sangat kuat, sampai-sampai meskipun sudah 5 tahun berlalu, Masamune masih nggak bisa mupon juga...

Dorama
Foto: wiki.d-addicts.com

Sekarang, kita beralih ke doramanya. Saya pikir, saya lebih suka doramanya daripada manganya. Disini, Masamune terlihat lebih manusiawi.

Berbeda dengan komiknya, dimana Masamune memiliki pekerjaan tetap, di doramanya Masamune diceritakan sebagai seorang freeter atau orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap, dan hanya bekerja sambilan. Masamune kerja sambilan di sebuah studio foto, meskipun sebenarnya dia nggak tahu mau jadi apa. Iya, dia suka sama fotografi (berkat kenangannya dengan Youko juga), tapi dia nggak punya hasrat ataupun cita-cita buat jadi fotografer terkenal. Hidupnya ya begitu-begitu aja. Datar... Nggak jelas... Hingga Koharu hadir ke kehidupannya.



Gambar: arashigeneration.tumblr.com
Sama seperti komiknya, Koharu disini juga bersikap sangat dewasa, dan selalu bicara dengan bahasa Jepang yang sopan. Koharu-nya lucu banget, saya sampai geregetan pengen gendong-peluk-cium bocah satu ini.. >_____< Oh iya, akting nangisnya Ishii Momoka disini jempolan banget. Saya sampe ikutan nangis ketika lihat dia nangis... (┳Д┳)(T▽T) o(╥﹏╥)o o(;△;)o (;*△*;) (´╥﹏╥)

Selain itu, disinipun lebih banyak karakter pendukungnya. Misalnya saja guru Hoikuen (tempat penitipan anak sih sebenernya, tapi jadi TK juga) Koharu, yang awalnya nyebeliiinnn bangetttt. Gurunya ini galak banget ke Masamune, sampai bilang kalau dia nggak pantas jadi ayah (yee, siape lo lagii... ( ꒪Д꒪)ノ) Soalnya, Masamune sering lembur kerja, jadi telat mulu jemput Koharu. Belum lagi karena Masamune ninggalin Koharu sendirian di rumah, abis jemput Koharu dia balik lagi ke kantor dan baru pulang tengah malem, Koharu jadi suka ngantuk di sekolah. Pokoknya bener-bener ayah abal-abal deh si Masamune ini... Tapi memang sangat wajar dan manusiawi, karena dia kan nggak pernah ngurus anak kecil sebelumnya. Nah, aspek ini yang kurang saya dapat di komiknya. Di manganya, Masamune bisa meng-handle semua hal, jadi nggak terasa terlalu butuh orang lain, dan nggak begitu banyak percikan-percikan hidup... #tsaahh

Terus, karakter lain yang saya suka adalah Ooya-san (induk semang) Masamune beserta istrinya. Jadi Masamune ini memang ngekos, di sebuah rumah tua yang indah. Alasan kenapa Masamune tinggal disana juga karena Youko, karena dia ingin tinggal di tempat itu. Nah, si Ooya-san ini galak banget, dan nggak suka sama anak kecil. Makanya, pada awalnya Masamune menyembunyikan kehadiran Koharu, hingga suatu malam penghuni rumah itu mendengar suara anak kecil nyanyi malam-malam, dan mengira itu adalah hantu! Padahal itu adalah Koharu yang nyanyi sambil melihat bulan purnama, dan mengenang ibunya... #banjir (┳Д┳)(T▽T) o(╥﹏╥)o o(;△;)o (;*△*;) (´╥﹏╥)

Gara-gara itu, Koharu jadi ketauan sama istrinya Ooya-san, tapi dia nggak mau bilang ke suaminya. Berkat istri Ooya-san inilah Koharu jadi ada teman ketika Masamune harus lembur sampai tengah malam.

Sayangnya, di doramanya nggak ada Shu. Shu, teman tapi musuh Koharu, adalah satu-satunya orang yang bisa bikin Koharu lepas kendali. Koharu biasanya kan dewasa banget pembawaannya, tapi begitu ada Shu, dia jadi lepas, bahkan bisa marah. Mungkin memang sulit menemukan anak cowok berkarakter kuat dan aneh kayak Shu, makanya tokoh ini ditiadakan.

Begitupun dengan Kana dan keluarganya. Saya suka sekali dengan mereka di manganya, tapi di doramanya tidak ada. Selain itu, di doramanya Kana sangat menyebalkan, hingga saya merasa dia nggak pantes berteman dengan Koharu. Huh!! ((( ̄へ ̄井)


Gambar: arashigeneration.tumblr.com
Kazama Masamune, yang diperankan oleh Aiba Masaki benar-benar oke banget. Aiba cocok buanged jadi papah muda disini. Chemistry-nya sama Koharu juga dapet banget, cocwit banget ngeliat mereka berdua gandengan tangan, ngobrol, dsb. Ketika gendong Koharu juga... Kawaaaiiii!!! (,,>______<,,) Jadi pengen... #eh #abaikan

Satu lagi yang buat saya suka sama doramanya. Di dorama-nya ini, perkembangan Aiba eh Masamune juga terlihat jelas. Bagaimana dia yang sebelumnya adalah seorang lelaki biasa-biasa aja yang nggak punya tujuan hidup dan nggak bisa diandalkan, jadi seorang lelaki yang tegar, dewasa, dan tahu apa yang diinginkan. Meskipun dia seringkali menghadapi kebingungan, seputar pengasuhan anak, tapi dia terus belajar, hingga akhirnya dia menjadi lebih dewasa secara bertahap di setiap episodenya.

Gambar: arashigeneration.tumblr.com
Jadi, itulah sebabnya saya lebih suka dengan doramanya daripada manganya (tumbeeen lhooo....). Lagu temanya yang dinyanyikan oleh Arashi juga suka bangeett... Cocok banget sama doramanya. Kyakyakyaa~~

Arigatou no omoi wo tsutaetai yo
Sotto kimi no moto e
Tooku hanarete shimattemo
Omoide ni michita mirai e

Ingin kusampaikan perasaan terima kasih ini
Perlahan-lahan kepadamu
Meskipun jarak memisahkan kita
Ada masa depan yang dibangun dari kenangan itu

Me wo tojireba
Kimi to sugoshita ano kisetsu ga omoiukabu
Futari no kioku tsunaideiku
Kyou mo sotto chiisana nukumori atsumete

Ketika kututup mataku
Aku mengenang musim yang kulalui bersamamu
Mengikat kenangan di antara kita
Mengumpulkan kembali kehangatan lembut itu, kini
 
(╥﹏╥)(╥﹏╥)(╥﹏╥)(╥﹏╥)
Gambar: arashigeneration.tumblr.com
Btw, ada gosip kalau Aiba katanya akan mau menikah, dengan salah satu aktris Jepang favorit saya, Mizukawa Asami. Semoga kabar itu benar... mereka segera nikah, lalu punya anak. Biar menghapuskan shoushika, alias fenomena berkurangnya anak, di Jepang.

Bahkan menurut saya, seharusnya itu mas-mas Johnny's buruan pada disuruh nikah aja semua. Sayang-sayang amat, om-om cakep pada masih lajang semua XD. Di SMAP aja cuma Kimutaku yang udah nikah. Di V6 pun baru satu. Di Kat-tun baru Akanishi Jin. Di Arashi belum ada, padahal mereka sudah 30-an sekarang. Buruanlah kalian pada menikah, supaya memberikan kontribusi pada kemajuan Jepang. Kekkon shiro!! Kodomo tsukure! Shoushika kese! Ahahaaaiii...

Gambar: arashigeneration.tumblr.com


Review ini sebenarnya mau diikutkan dalam event baca bareng BBI bulan ini, yaitu komik atau novel grafis. Tapi karena saya nggak keburu bikin kemarin, jadilah hari ini buatnya xp Maapkeun sayah ya...

Saya memang jarang banget bikin review manga di blog ini, karena rada malas dan sayang juga. Tapi mungkin ke depannya nanti saya akan mencoba untuk membuat review manga-manga yang sudah saya baca, apalagi manga-manga favorit yang membawa perubahan dalam kehidupan saya... #tsaahh

 

November 12, 2013

Montase: Di Antara Sakura yang Berguguran

Montase by Windry Ramadhina
My rating: 3 of 5 stars

Suatu hari saya mengikuti sebuah training motivasi bersama teman-teman saya. Disana kami diminta untuk menuliskan cita-cita di atas kertas, lalu melipat kertas itu menjadi pesawat dan menerbangkannya. Ada yang menuliskan dengan begitu cepat dan dengan mantap melipat pesawat kertasnya, lalu menerbangkannya ke angkasa. Sementara yang lainnya tampak bingung, berpikir lama, dan tampak ragu-ragu ketika menerbangkan pesawatnya.

Jika Anda diminta untuk melakukan hal serupa, yang manakah diri Anda? Apakah Anda dapat dengan mudah menuliskan cita-cita dan impian dalam hidup, lalu menerbangkannya diiringi jutaan doa ke angkasa? Ataukah Anda ragu-ragu bahkan harus mengubek-ubek isi otak terlebih dahulu sebelum dapat menuliskannya ke atas kertas, lalu melipatnya menjadi pesawat, dan menerbangkannya dengan perasaan gamang?

Haru mungkin tipe yang pertama, yang dengan mantap menuliskan cita-citanya di atas kertas, melipatnya menjadi pesawat, lalu menerbangkannya dengan penuh harapan. Wanita Jepang ini memang tampaknya tahu betul apa yang ia inginkan. Mimpinya. Cita-citanya. Meskipun impian itu tidak selalu sejalan dengan keinginannya, tapi itu tidak menjadi masalah bagi gadis itu. Baginya, asal impian besarnya bisa terpenuhi, maka sudah tak ada lagi penyesalan di dalam hidupnya.

Sedangkan Rayyi, tokoh utama dalam cerita ini, mungkin tipe yang kedua. Bukan berarti Rayyi ini pemuda galau yang tidak tahu ingin menjadi apa di masa depan dan menyerahkan segalanya kepada nasib. Bukan seperti itu. Rayyi tahu apa yang diinginkannya. Tahu apa yang disukainya. Namun keadaan membuatnya harus melepaskan impiannya dan membuatnya mengikuti apa yang diinginkan ayahnya.

Rayyi ini anak seorang produser film ternama di Indonesia. Ia diharapkan untuk mengikuti jejak ayahnya, membuat film box office yang mainstream, laris, disukai banyak orang, menghasilkan uang banyak, nggak peduli film itu punya makna atau tidak. Sementara Rayyi ingin menjadi pembuat film dokumenter, yang notabene bukanlah genre populer dan akan dicintai oleh banyak orang.

Kehadiran Haru, gadis kepala angin yang mirip boneka kokeshi dan gemar makan onigiri serta teriak-teriak "kawaii" ini membuka mata Rayyi, akan apa yang sebenarnya paling penting di dunia ini. Namun, saat kesadaran itu hadir ke dalam dirinya, apakah Rayyi masih punya waktu dan kesempatan untuk mewujudkannya? Ataukah ia harus mengorbankan hal penting dalam hidupnya terlebih dahulu demi mencapai impiannya?

Jawabannya silakan dibaca sendiri di dalam novel "Montase" karya Windry Ramadhina ini. Menurut saya, kisahnya manis dan cukup romantis, meski tidak membuat saya menangis. Penggambaran tokohnya sangat baik, begitupun dengan pengembangan karakter mereka. Rayyi si mahasiswa semester enam IKJ yang berantakan; Haru si mahasiswi dari Jepang yang ceroboh dan suka salah masuk kelas bahkan salah lihat jadwal; Samuel Hardi--dosen matkul dokumenter Rayyi dan Haru--yang sinis, pede jaya, tapi jenius; sahabat-sahabat Rayyi yang unik; hingga ayah Rayyi yang dingin dan ambisius.

Sayangnya, ada beberapa hal yang bikin saya kurang sreg dengan novel ini.

Pertama, soal Haru. Haru diceritakan sebagai mahasiswi dari Jepang yang pergi ke IKJ sebagai seorang pertukaran pelajar. Biasanya sih ya, mahasiswa asing datang ke Indonesia itu buat belajar bahasa Indonesia, bukan untuk ikut mata kuliah di Indonesianya. Makanya, saya bertanya-tanya seberapa jago bahasa Indonesianya si Haru sampai sanggup ikut mata kuliah-mata kuliah yang ada, yang notabene pakai bahasa Indonesia. Soalnya tidak dijelaskan sebelumnya soal dimana Haru belajar bahasa Indonesia, dan kenapa dia memilih untuk pertukaran pelajar di Indonesia, karena menurut saya alasan "di kampus saya tidak ada peminatan dokumenter" itu adalah hal aneh.

Kedua, mengenai bahasa dan tanda baca. Entah kenapa, beberapa percakapan yang dilakukan antara Rayyi dan sahabatnya di novel ini menurut saya masih agak kaku. Begitupun dengan sisipan anak kalimat yang hanya menggunakan tanda "-" satu dan bukannya dua. Setahu saya, kalau mau menyisipkan itu seharusnya dengan menggunakan tanda strip panjang, yang kalau di Microsoft Word itu dibuat dengan mengetik tanda "-" dua kali lalu diapit dengan kata yang bersangkutan lalu ketik spasi. Jujur saja, ini cukup mengganggu saya, karena ada banyaakk sekali kalimat yang seperti ini.

Ketiga, soal latar. Ketika Haru dan Rayyi ke Japan Foundation untuk menonton film dokumenter Jepang, ada adegan ketika Haru membelikan minum dari mesin penjual minuman di lobi Gedung Summitmas. Hhhmm... Setau saya sih nggak ada barang begituan di Summitmas, soalnya saya udah sering banget ke JF. Dan ketika saya konfirmasi ke teman saya yang kerja di sana, dia bilang "Hahaha ngaco.. dia pasti berhalusinasi. Mungkin terlalu ngefans sama JF kali" xp. Yah, itu mungkin improvisasi Windry kali ya, tapi buat orang yang sudah sering ke tempat itu, pasti merasa aneh dengan fakta ini. Hehehe...

Lalu soal kereta ekspres yang dinaiki Haru dan Rayyi dari Cikini. Agak aneh aja disebut dengan "kereta ekspres" soalnya penyebutan itu adanya pas jaman saya kuliah dulu, dimana si kereta cuma berhenti di stasiun-stasiun tertentu saja dan ekonomi masih merajai rel. Nah, karena novel ini terbit tahun 2012, harusnya disebutnya sudah Commuter Line lah ya, alias comline atau comel. Sudah begitu, pertama disebutkan naik dari Cikini, tapi lalu setelahnya latarnya jadi Gondangdia, jadi yang mana dong yang benar? Kalau kosan mereka dekat IKJ sih, harusnya ya dari Cikini dong ya, bukan Gondangdia.

Ketiga, soal bahasa Jepang. Bahasa Jepang yang digunakan di novel ini sudah cukup bagus dan benar penggunaannya, walaupun ada beberapa juga yang salah dan agak aneh. Seperti kata-kata "Hai, desu yo" di halaman 185 yang menurut saya tidak tepat. Yang lebih tepat seharusnya, "Hai, sou nan desu yo," karena di kata yang pertama itu tidak jelas Haru memberikan penekanan terhadap apa. Tidak ada subyeknya disana.

Lalu kata "raifu" yang menurut saya juga agak tidak tepat. Saya pikir orang Jepang lebih senang pakai kata "jinsei" meskipun keduanya memiliki arti kata kehidupan. Yang satu kata serapan bahasa Inggris, yang satunya dari bahasa Jepang asli. Tapi mungkin Haru ingin Rayyi mengerti sepatah dua patah kata yang dia ucapkan, makanya sengaja pakai versi Inggrisnya kali ya...

Bahasa Jepang Rayyi juga yang bikin saya merasakan ganjalan lainnya. Di awal diceritakan kalau Rayyi menggunakan bahasa Jepang seadanya, ketika ia berkunjung ke Jepang demi menemukan Haru. Tapi di akhir cerita, Rayyi dapat ngobrol panjang lebar dengan orang tua Haru, pakai bahasa Jepang!! Sugoi da ne!! Demo, muri jan!! Masa Rayyi dapat begitu cepatnya menguasai bahasa Jepang? Terus, Rayyi belajar bahasa Jepangnya dimana? Soalnya kok saya dapat kesan Rayyi langsung cao ke Jepang begitu dapat surat dari Haru? Lagian, emang Rayyi sempet belajar bahasa Jepang ya? Dia kan "disiksa" Samuel Hardi siang dan malam di rumah produksi filmnya....

Huehehe.. maaf ya... saya emang tipe pembaca perfeksionis yang suka rewel bin bawel X) Terutama karena ada hal yang saya tahu banget disini. Kalau soal film dan sebagainya, saya pasrah deh, soalnya saya nggak ngerti. Hahahaa

Oh iya, ketika membaca deskripsi Rayyi mengenai Haru, saya jadi ingat sama Aoi Miyazaki di film "Tada Kimi Wo Aishiteru". Soalnya dijelaskan kalau Haru itu berbadan kecil, lincah, dan juga ceroboh, mirip sama Aoi di film itu yang imuutt banget. Jadi, setiap kali Haru muncul, yang kebayang di kepala saya ya si Aoi itu deh. Kalo Rayyi-nya... siapa ya? Nggak ada bayangan!! Hahahaa X)

Omong-omong, tadinya saya sempet curiga, jangan-jangan novel ini nanti mirip-mirip sama film itu lagi xD. Alhamdulillah nggak, meskipun akhirnya mereka harus menghadapi hal yang tragis sebelum mencapai impian juga sih. Fffiuuhh...

Saya memilih buku ini secara acak saja, tanpa tahu ceritanya seperti apa (Yeah, jangan pernah mengandalkan sinopsis di belakang cover untuk buku-buku Gagas). Saya kaget aja gituh ketika buku yang saya baca ternyata ada hubungannya sama Jepang-jepangan, karena sebenarnya saya lagi nggak mood untuk baca buku kayak gitu... Hwahahaa... Lalu, ketika saya masuk halaman pertama, awalnya saya pikir Haru itu cowok dan Rayyi itu cewek xp (Ya kali gitu namanya Haruto atau Haruo terus panggilannya Haru... lagian saya punya temen cewek namanya Rayi... So don't blame me, okay! xp) Ternyata Windry pakai sudut pandang cowok, jadi saya kecele deh... xD

Tiga bintang untuk sakura yang mekar sempurna lalu beguguran ditelan angin. Filosofi orang Jepang mengenai sakura memang seperti yang disampaikan Windry di novel ini. Sakura yang hanya mekar sempurna sementara saja, lalu gugur seolah menari-nari karena tertiup angin. Keindahan yang tidak abadi, tapi begitu berharga untuk dinikmati...


November 30, 2013

My Girl: Seorang Ayah, Gadis Kecil, dan Kenangan akan Perempuan yang Dicintai


Judul: My Girl
Jumlah volume: 1-5 (selesai)
Penulis: Sahara Mizu

Bagaimanakah seorang anak dapat mengubah kehidupan seseorang?

Bagi Kazama Masamune, seorang anak benar-benar mengubah kehidupannya. Ia, yang awalnya hanya seorang lelaki lajang berusia 23 tahun, bekerja sebagai seorang karyawan biasa, dengan kehidupan yang biasa, tiba-tiba dikejutkan dengan hadirnya seorang anak perempuan berusia 4 tahun, yang mengaku anaknya.

Koharu namanya. Ia adalah putri dari Tsukamoto Youko, kekasih Masamune sekitar lima tahun yang lalu, ketika dia masih duduk di bangku kelas 3 SMA, dan Youko adalah mahasiswi yang empat tahun lebih tua darinya. Iya, perbedaan usia mereka memang cukup jauh, tapi Masamune sangat mencintai Youko, dan percaya mereka akan terus berhubungan meskipun ia sudah lulus SMA.

Hingga pada suatu hari, ketika Masamune akan lulus SMA, Youko berkata bahwa ia akan pergi belajar dan bahkan mungkin sekaligus bekerja di Amerika. Masamune sangat sedih, dan bertekad untuk menyurati Youko. Dia memang melakukannya, menyurati Youko dengan tekun, meskipun tidak pernah ada balasan dari wanita yang dicintainya itu. Akhirnya, ia pun menyerah dan berhenti mengirimkan surat. Youko pasti telah melupakannya, dan hidup enak di luar negeri sana.

Lalu di hari itu... Koharu hadir di hadapannya. Pertemuan mereka tidak disengaja, ketika Koharu yang sangat sedih karena kehilangan ibunya kabur dari rumah...

Ya. Youko telah tiada. Wanita yang sangat dicintai Masamune itu meninggal dunia. Setelah bertahun-tahun tidak mendapatkan kabar dari Youko, ia tidak pernah menyangka bahwa dengan cara inilah mereka akan dipertemukan lagi. Ditambah lagi, Youko ternyata telah memiliki seorang putri, dengan dirinya, yang entah merupakan anugerah ataukah musibah bagi Masamune.

Tentu saja kehadiran Koharu tidak langsung diakui oleh Masamune. Siapa juga yang akan percaya jika tiba-tiba ada seorang anak berusia 4 tahun yang mengaku bahwa sebagai anak?

Tapi surat-surat Youko--yang mengiris hati--membuat Masamune yakin kalau gadis kecil itu memang putrinya. Surat-surat Youko yang tersimpan rapi, dan tak pernah dikirimkannya ketika masih hidup. Surat-surat Youko yang menandakan kalau iapun masih mencintai Masamune dan begitu merindukannya. Surat-surat yang mengubah pendirian Masamune, hingga ia pun memutuskan untuk membesarkan Koharu. Dan, inilah kisah mereka...


"My Girl" adalah manga karya Sahara Mizu, mangaka Jepang yang baru-baru ini menjadi favorit saya. Saya sangat suka dengan komiknya yang berjudul "Bus Hashiru". Ceritanya sederhana, berkisar kisah-kisah cinta yang berhubungan dengan bus dan tempat pemberhentiannya. Cerita-ceritanya sederhana, sangat manis, dan menghangatkan jiwa.

Namun, saya tidak begitu suka dengan "Watashitachi no Shiawase na Jikan", atau Our Happy Time, yang merupakan versi manga dari novel karya penulis Korea, Gong Ji-young. Novelnya ini juga sudah difilmkan dengan judul "Maundy Thursday", dan saya sukaaa sama filmnya... >____________<

Oke, jadi OOT. Kembali ke manga "My Girl". Hhmm... saya cukup suka dengan kisah yang ini, karena buat saya cerita yang melibatkan hubungan ayah dan anak perempuan itu tuh manis bangeett... #langsungdiabet. Apalagi Masamune masih muda, dan pasti sulit untuk membesarkan seorang anak kecil sendirian. Lebih-lebih dia nggak pernah menikah sebelumnya, dan perempuan yang jadi ibu anaknya sudah meninggal dunia. Di tengah masyarakat Jepang yang kibishii alias kejam itu, pasti sulit sekali bagi Masamune untuk membesarkan Koharu sendirian. Walaupun sebenarnya nggak sendirian-sendirian amat sih, karena ibunya Youko, alias neneknya Koharu, masih secara rutin membantu Masamune. Begitupun dengan kedua orang tua Masamune, yang akhirnya menerima Koharu, meski pada awalnya ibu Masamune merasa sangat kecewa dan menolak cucunya. Tapi ya, siapa sih yang bisa menolak pesona seorang gadis kecil berusia empat tahun?

Apalagi Koharu ini dewasa banget, nggak kayak bocah usia empat tahun. Yah, karena Youko itu kan single mother, jadi Koharu harus bersikap baik agar mereka nggak ngatain ibunya. Dan sekarang dia tinggal berdua sama ayahnya, yang nggak dipanggil papa, tapi Masamune-kun (ikut Youko yang manggil dengan nama itu), jadi dia pun tidak boleh bersikap buruk, karena ayahnya yang pasti akan kena cibiran dari orang-orang.



Tapi.... saya pikir alur komiknya terlalu cepat. Sangat cepat bahkan. Koharu yang tadinya masih TK, tau-tau sudah mau masuk SD saja. Lalu Koharu akhirnya masuk SD, dan diceritakan kalau dia ingin masuk SMP ibunya (ini pas masih kelas 1 SD), setelah lihat foto Youko pakai seragam SMP, karena dia ingin bisa pakai seragam yang sama dengan ibu tersayangnya itu. Tapi, SMP ini adalah sekolah elit, jadi Koharu harus siap-siap dari sekarang (iya, dari kelas 1 SD). Akhirnya, Koharu ikut ujian persiapan untuk masuk bimbel biar bisa masuk ke SMP itu. Masih kelas satu lho bboookkk!! Dan udah disuruh persiapan buat masuk SMP??!! Meskipun akhirnya Koharu baru ikut ketika dia kelas 2 SD, tapi tetep aja... Gue aja dulu pas masih kelas satu mikirnya cuma maen doang, lha ini? Anak kelas satu udah disuruh masup bimbel buat persiapan SMP! ARIENAI!!

Nah, buat saya, alur yang terlalu cepat ini cukup mengganggu kenikmatan membaca, karena tahun-tahun pertama kehidupan Masamune dan Koharu jadi tidak dijabarkan secara detail. Padahal menurut saya, bagian itu justru paling penting, karena masing-masing mengalami perubahan hidup yang sangat drastis. Masamune yang tiba-tiba harus ngurusin anak, dan Koharu yang tiba-tiba hidup tanpa ibunya. Sedewasa apapun Koharu, mengurus anak tetaplah bukan perkara mudah. Dan saya ingin tahu bagaimana perubahan hidup Masamune dan Koharu secara perlahan, bukan dengan cara yang terlalu cepat seperti itu.

Yang berikutnya rada-rada spoiler, jadi kalau nggak mau tau, diskip aja yaa... xp

=====

Belum lagi, saya tidak suka dengan akhirnya, yang melibatkan perempuan lain yang nantinya mungkin akan menjadi ibu baru Koharu. Saya tidak suka dengan perempuan itu, karena menurut saya justru Koharu-lah yang harus berkorban lebih banyak. Misalnya ketika si cewek baru ini memberikan hadiah pernak-pernik kucing hitam ke Koharu, untuk menggantikan aksesoris serba lady bug yang selalu dipakai Koharu. Lady bug ini punya peranan penting bagi mereka, dan merupakan binatang kesukaan Youko.

Dari situ saya mulai nggak sreg sama nih cewek. Siape lo deh, dateng-dateng langsung berharap Koharu melupakan ibunya (meski dengan cara yang sangat halus)?

(≧Д≦)ノ (≧Д≦)ノ(≧Д≦)ノ(≧Д≦)ノ(≧Д≦)ノ(≧Д≦)ノ

Arrggghh!! Kenapa nggak dengan cewek yang sebelumnya aja? Yang menurut saya jauh lebih dewasa. Sikapnya juga unik dan agak-agak mirip sama Youko.

=====

Versi agak spoiler selesai ┏((= ̄(エ) ̄=))┛

Oh iya, satu hal lagi yang kurang dieksplor adalah tentang Youko. Sebagai perempuan yang dicintai oleh Masamune dan orang yang melahirkan Koharu, saya pikir Youko seharusnya mendapat tempat lebih di dalam cerita. Saya jadi ingat bagaimana Honda Tooru, yang sering sekali bercerita tentang ibunya yang sudah tiada, di manga Fruits Basket (favorit saya inih.. >__<). Penjabaran Takaya Natsuki sensei dalam menggambarkan karakter Honda Kyoko benar-benar luar biasa, sehingga terasa sangat hidup. Bahkan ada beberapa chapter tersindiri yang khusus bercerita tentang dia. Belum lagi kisah dia dan bapaknya Tooru yang bikin saya nangis bombay... TT____TT Kyoko begitu hidup, sehingga saya pun merasa karakternya adalah sesuatu yang sangat penting, hingga Tooru begitu mengidolakannya.

Sayangnya, di "My Girl" ini, menurut saya porsi Youko sangat kurang. Padahal, Masamune dan Koharu sudah berjanji untuk saling bercerita tentang Youko ketika mereka merasa rindu dengannya. Masamune akan bercerita tentang Youko selama ia pacaran dengannya, dan Koharu akan bercerita tentang hidupnya bersama ibunya (meski seharusnya nggak terlalu banyak, karena dia masih sangat kecil dan seharusnya belum bisa mengingat terlalu banyak hal tentang ibunya). Saya kan ingin tahu bagaimana Masamune dan Youko bisa jadian, masa-masa kehamilan Youko dan ketika ia membesarkan Koharu sendirian, terus kenapa ikatan di antara mereka sangat kuat, sampai-sampai meskipun sudah 5 tahun berlalu, Masamune masih nggak bisa mupon juga...

Dorama
Foto: wiki.d-addicts.com

Sekarang, kita beralih ke doramanya. Saya pikir, saya lebih suka doramanya daripada manganya. Disini, Masamune terlihat lebih manusiawi.

Berbeda dengan komiknya, dimana Masamune memiliki pekerjaan tetap, di doramanya Masamune diceritakan sebagai seorang freeter atau orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap, dan hanya bekerja sambilan. Masamune kerja sambilan di sebuah studio foto, meskipun sebenarnya dia nggak tahu mau jadi apa. Iya, dia suka sama fotografi (berkat kenangannya dengan Youko juga), tapi dia nggak punya hasrat ataupun cita-cita buat jadi fotografer terkenal. Hidupnya ya begitu-begitu aja. Datar... Nggak jelas... Hingga Koharu hadir ke kehidupannya.



Gambar: arashigeneration.tumblr.com
Sama seperti komiknya, Koharu disini juga bersikap sangat dewasa, dan selalu bicara dengan bahasa Jepang yang sopan. Koharu-nya lucu banget, saya sampai geregetan pengen gendong-peluk-cium bocah satu ini.. >_____< Oh iya, akting nangisnya Ishii Momoka disini jempolan banget. Saya sampe ikutan nangis ketika lihat dia nangis... (┳Д┳)(T▽T) o(╥﹏╥)o o(;△;)o (;*△*;) (´╥﹏╥)

Selain itu, disinipun lebih banyak karakter pendukungnya. Misalnya saja guru Hoikuen (tempat penitipan anak sih sebenernya, tapi jadi TK juga) Koharu, yang awalnya nyebeliiinnn bangetttt. Gurunya ini galak banget ke Masamune, sampai bilang kalau dia nggak pantas jadi ayah (yee, siape lo lagii... ( ꒪Д꒪)ノ) Soalnya, Masamune sering lembur kerja, jadi telat mulu jemput Koharu. Belum lagi karena Masamune ninggalin Koharu sendirian di rumah, abis jemput Koharu dia balik lagi ke kantor dan baru pulang tengah malem, Koharu jadi suka ngantuk di sekolah. Pokoknya bener-bener ayah abal-abal deh si Masamune ini... Tapi memang sangat wajar dan manusiawi, karena dia kan nggak pernah ngurus anak kecil sebelumnya. Nah, aspek ini yang kurang saya dapat di komiknya. Di manganya, Masamune bisa meng-handle semua hal, jadi nggak terasa terlalu butuh orang lain, dan nggak begitu banyak percikan-percikan hidup... #tsaahh

Terus, karakter lain yang saya suka adalah Ooya-san (induk semang) Masamune beserta istrinya. Jadi Masamune ini memang ngekos, di sebuah rumah tua yang indah. Alasan kenapa Masamune tinggal disana juga karena Youko, karena dia ingin tinggal di tempat itu. Nah, si Ooya-san ini galak banget, dan nggak suka sama anak kecil. Makanya, pada awalnya Masamune menyembunyikan kehadiran Koharu, hingga suatu malam penghuni rumah itu mendengar suara anak kecil nyanyi malam-malam, dan mengira itu adalah hantu! Padahal itu adalah Koharu yang nyanyi sambil melihat bulan purnama, dan mengenang ibunya... #banjir (┳Д┳)(T▽T) o(╥﹏╥)o o(;△;)o (;*△*;) (´╥﹏╥)

Gara-gara itu, Koharu jadi ketauan sama istrinya Ooya-san, tapi dia nggak mau bilang ke suaminya. Berkat istri Ooya-san inilah Koharu jadi ada teman ketika Masamune harus lembur sampai tengah malam.

Sayangnya, di doramanya nggak ada Shu. Shu, teman tapi musuh Koharu, adalah satu-satunya orang yang bisa bikin Koharu lepas kendali. Koharu biasanya kan dewasa banget pembawaannya, tapi begitu ada Shu, dia jadi lepas, bahkan bisa marah. Mungkin memang sulit menemukan anak cowok berkarakter kuat dan aneh kayak Shu, makanya tokoh ini ditiadakan.

Begitupun dengan Kana dan keluarganya. Saya suka sekali dengan mereka di manganya, tapi di doramanya tidak ada. Selain itu, di doramanya Kana sangat menyebalkan, hingga saya merasa dia nggak pantes berteman dengan Koharu. Huh!! ((( ̄へ ̄井)


Gambar: arashigeneration.tumblr.com
Kazama Masamune, yang diperankan oleh Aiba Masaki benar-benar oke banget. Aiba cocok buanged jadi papah muda disini. Chemistry-nya sama Koharu juga dapet banget, cocwit banget ngeliat mereka berdua gandengan tangan, ngobrol, dsb. Ketika gendong Koharu juga... Kawaaaiiii!!! (,,>______<,,) Jadi pengen... #eh #abaikan

Satu lagi yang buat saya suka sama doramanya. Di dorama-nya ini, perkembangan Aiba eh Masamune juga terlihat jelas. Bagaimana dia yang sebelumnya adalah seorang lelaki biasa-biasa aja yang nggak punya tujuan hidup dan nggak bisa diandalkan, jadi seorang lelaki yang tegar, dewasa, dan tahu apa yang diinginkan. Meskipun dia seringkali menghadapi kebingungan, seputar pengasuhan anak, tapi dia terus belajar, hingga akhirnya dia menjadi lebih dewasa secara bertahap di setiap episodenya.

Gambar: arashigeneration.tumblr.com
Jadi, itulah sebabnya saya lebih suka dengan doramanya daripada manganya (tumbeeen lhooo....). Lagu temanya yang dinyanyikan oleh Arashi juga suka bangeett... Cocok banget sama doramanya. Kyakyakyaa~~

Arigatou no omoi wo tsutaetai yo
Sotto kimi no moto e
Tooku hanarete shimattemo
Omoide ni michita mirai e

Ingin kusampaikan perasaan terima kasih ini
Perlahan-lahan kepadamu
Meskipun jarak memisahkan kita
Ada masa depan yang dibangun dari kenangan itu

Me wo tojireba
Kimi to sugoshita ano kisetsu ga omoiukabu
Futari no kioku tsunaideiku
Kyou mo sotto chiisana nukumori atsumete

Ketika kututup mataku
Aku mengenang musim yang kulalui bersamamu
Mengikat kenangan di antara kita
Mengumpulkan kembali kehangatan lembut itu, kini
 
(╥﹏╥)(╥﹏╥)(╥﹏╥)(╥﹏╥)
Gambar: arashigeneration.tumblr.com
Btw, ada gosip kalau Aiba katanya akan mau menikah, dengan salah satu aktris Jepang favorit saya, Mizukawa Asami. Semoga kabar itu benar... mereka segera nikah, lalu punya anak. Biar menghapuskan shoushika, alias fenomena berkurangnya anak, di Jepang.

Bahkan menurut saya, seharusnya itu mas-mas Johnny's buruan pada disuruh nikah aja semua. Sayang-sayang amat, om-om cakep pada masih lajang semua XD. Di SMAP aja cuma Kimutaku yang udah nikah. Di V6 pun baru satu. Di Kat-tun baru Akanishi Jin. Di Arashi belum ada, padahal mereka sudah 30-an sekarang. Buruanlah kalian pada menikah, supaya memberikan kontribusi pada kemajuan Jepang. Kekkon shiro!! Kodomo tsukure! Shoushika kese! Ahahaaaiii...

Gambar: arashigeneration.tumblr.com


Review ini sebenarnya mau diikutkan dalam event baca bareng BBI bulan ini, yaitu komik atau novel grafis. Tapi karena saya nggak keburu bikin kemarin, jadilah hari ini buatnya xp Maapkeun sayah ya...

Saya memang jarang banget bikin review manga di blog ini, karena rada malas dan sayang juga. Tapi mungkin ke depannya nanti saya akan mencoba untuk membuat review manga-manga yang sudah saya baca, apalagi manga-manga favorit yang membawa perubahan dalam kehidupan saya... #tsaahh

 

November 12, 2013

Montase: Di Antara Sakura yang Berguguran

Montase by Windry Ramadhina
My rating: 3 of 5 stars

Suatu hari saya mengikuti sebuah training motivasi bersama teman-teman saya. Disana kami diminta untuk menuliskan cita-cita di atas kertas, lalu melipat kertas itu menjadi pesawat dan menerbangkannya. Ada yang menuliskan dengan begitu cepat dan dengan mantap melipat pesawat kertasnya, lalu menerbangkannya ke angkasa. Sementara yang lainnya tampak bingung, berpikir lama, dan tampak ragu-ragu ketika menerbangkan pesawatnya.

Jika Anda diminta untuk melakukan hal serupa, yang manakah diri Anda? Apakah Anda dapat dengan mudah menuliskan cita-cita dan impian dalam hidup, lalu menerbangkannya diiringi jutaan doa ke angkasa? Ataukah Anda ragu-ragu bahkan harus mengubek-ubek isi otak terlebih dahulu sebelum dapat menuliskannya ke atas kertas, lalu melipatnya menjadi pesawat, dan menerbangkannya dengan perasaan gamang?

Haru mungkin tipe yang pertama, yang dengan mantap menuliskan cita-citanya di atas kertas, melipatnya menjadi pesawat, lalu menerbangkannya dengan penuh harapan. Wanita Jepang ini memang tampaknya tahu betul apa yang ia inginkan. Mimpinya. Cita-citanya. Meskipun impian itu tidak selalu sejalan dengan keinginannya, tapi itu tidak menjadi masalah bagi gadis itu. Baginya, asal impian besarnya bisa terpenuhi, maka sudah tak ada lagi penyesalan di dalam hidupnya.

Sedangkan Rayyi, tokoh utama dalam cerita ini, mungkin tipe yang kedua. Bukan berarti Rayyi ini pemuda galau yang tidak tahu ingin menjadi apa di masa depan dan menyerahkan segalanya kepada nasib. Bukan seperti itu. Rayyi tahu apa yang diinginkannya. Tahu apa yang disukainya. Namun keadaan membuatnya harus melepaskan impiannya dan membuatnya mengikuti apa yang diinginkan ayahnya.

Rayyi ini anak seorang produser film ternama di Indonesia. Ia diharapkan untuk mengikuti jejak ayahnya, membuat film box office yang mainstream, laris, disukai banyak orang, menghasilkan uang banyak, nggak peduli film itu punya makna atau tidak. Sementara Rayyi ingin menjadi pembuat film dokumenter, yang notabene bukanlah genre populer dan akan dicintai oleh banyak orang.

Kehadiran Haru, gadis kepala angin yang mirip boneka kokeshi dan gemar makan onigiri serta teriak-teriak "kawaii" ini membuka mata Rayyi, akan apa yang sebenarnya paling penting di dunia ini. Namun, saat kesadaran itu hadir ke dalam dirinya, apakah Rayyi masih punya waktu dan kesempatan untuk mewujudkannya? Ataukah ia harus mengorbankan hal penting dalam hidupnya terlebih dahulu demi mencapai impiannya?

Jawabannya silakan dibaca sendiri di dalam novel "Montase" karya Windry Ramadhina ini. Menurut saya, kisahnya manis dan cukup romantis, meski tidak membuat saya menangis. Penggambaran tokohnya sangat baik, begitupun dengan pengembangan karakter mereka. Rayyi si mahasiswa semester enam IKJ yang berantakan; Haru si mahasiswi dari Jepang yang ceroboh dan suka salah masuk kelas bahkan salah lihat jadwal; Samuel Hardi--dosen matkul dokumenter Rayyi dan Haru--yang sinis, pede jaya, tapi jenius; sahabat-sahabat Rayyi yang unik; hingga ayah Rayyi yang dingin dan ambisius.

Sayangnya, ada beberapa hal yang bikin saya kurang sreg dengan novel ini.

Pertama, soal Haru. Haru diceritakan sebagai mahasiswi dari Jepang yang pergi ke IKJ sebagai seorang pertukaran pelajar. Biasanya sih ya, mahasiswa asing datang ke Indonesia itu buat belajar bahasa Indonesia, bukan untuk ikut mata kuliah di Indonesianya. Makanya, saya bertanya-tanya seberapa jago bahasa Indonesianya si Haru sampai sanggup ikut mata kuliah-mata kuliah yang ada, yang notabene pakai bahasa Indonesia. Soalnya tidak dijelaskan sebelumnya soal dimana Haru belajar bahasa Indonesia, dan kenapa dia memilih untuk pertukaran pelajar di Indonesia, karena menurut saya alasan "di kampus saya tidak ada peminatan dokumenter" itu adalah hal aneh.

Kedua, mengenai bahasa dan tanda baca. Entah kenapa, beberapa percakapan yang dilakukan antara Rayyi dan sahabatnya di novel ini menurut saya masih agak kaku. Begitupun dengan sisipan anak kalimat yang hanya menggunakan tanda "-" satu dan bukannya dua. Setahu saya, kalau mau menyisipkan itu seharusnya dengan menggunakan tanda strip panjang, yang kalau di Microsoft Word itu dibuat dengan mengetik tanda "-" dua kali lalu diapit dengan kata yang bersangkutan lalu ketik spasi. Jujur saja, ini cukup mengganggu saya, karena ada banyaakk sekali kalimat yang seperti ini.

Ketiga, soal latar. Ketika Haru dan Rayyi ke Japan Foundation untuk menonton film dokumenter Jepang, ada adegan ketika Haru membelikan minum dari mesin penjual minuman di lobi Gedung Summitmas. Hhhmm... Setau saya sih nggak ada barang begituan di Summitmas, soalnya saya udah sering banget ke JF. Dan ketika saya konfirmasi ke teman saya yang kerja di sana, dia bilang "Hahaha ngaco.. dia pasti berhalusinasi. Mungkin terlalu ngefans sama JF kali" xp. Yah, itu mungkin improvisasi Windry kali ya, tapi buat orang yang sudah sering ke tempat itu, pasti merasa aneh dengan fakta ini. Hehehe...

Lalu soal kereta ekspres yang dinaiki Haru dan Rayyi dari Cikini. Agak aneh aja disebut dengan "kereta ekspres" soalnya penyebutan itu adanya pas jaman saya kuliah dulu, dimana si kereta cuma berhenti di stasiun-stasiun tertentu saja dan ekonomi masih merajai rel. Nah, karena novel ini terbit tahun 2012, harusnya disebutnya sudah Commuter Line lah ya, alias comline atau comel. Sudah begitu, pertama disebutkan naik dari Cikini, tapi lalu setelahnya latarnya jadi Gondangdia, jadi yang mana dong yang benar? Kalau kosan mereka dekat IKJ sih, harusnya ya dari Cikini dong ya, bukan Gondangdia.

Ketiga, soal bahasa Jepang. Bahasa Jepang yang digunakan di novel ini sudah cukup bagus dan benar penggunaannya, walaupun ada beberapa juga yang salah dan agak aneh. Seperti kata-kata "Hai, desu yo" di halaman 185 yang menurut saya tidak tepat. Yang lebih tepat seharusnya, "Hai, sou nan desu yo," karena di kata yang pertama itu tidak jelas Haru memberikan penekanan terhadap apa. Tidak ada subyeknya disana.

Lalu kata "raifu" yang menurut saya juga agak tidak tepat. Saya pikir orang Jepang lebih senang pakai kata "jinsei" meskipun keduanya memiliki arti kata kehidupan. Yang satu kata serapan bahasa Inggris, yang satunya dari bahasa Jepang asli. Tapi mungkin Haru ingin Rayyi mengerti sepatah dua patah kata yang dia ucapkan, makanya sengaja pakai versi Inggrisnya kali ya...

Bahasa Jepang Rayyi juga yang bikin saya merasakan ganjalan lainnya. Di awal diceritakan kalau Rayyi menggunakan bahasa Jepang seadanya, ketika ia berkunjung ke Jepang demi menemukan Haru. Tapi di akhir cerita, Rayyi dapat ngobrol panjang lebar dengan orang tua Haru, pakai bahasa Jepang!! Sugoi da ne!! Demo, muri jan!! Masa Rayyi dapat begitu cepatnya menguasai bahasa Jepang? Terus, Rayyi belajar bahasa Jepangnya dimana? Soalnya kok saya dapat kesan Rayyi langsung cao ke Jepang begitu dapat surat dari Haru? Lagian, emang Rayyi sempet belajar bahasa Jepang ya? Dia kan "disiksa" Samuel Hardi siang dan malam di rumah produksi filmnya....

Huehehe.. maaf ya... saya emang tipe pembaca perfeksionis yang suka rewel bin bawel X) Terutama karena ada hal yang saya tahu banget disini. Kalau soal film dan sebagainya, saya pasrah deh, soalnya saya nggak ngerti. Hahahaa

Oh iya, ketika membaca deskripsi Rayyi mengenai Haru, saya jadi ingat sama Aoi Miyazaki di film "Tada Kimi Wo Aishiteru". Soalnya dijelaskan kalau Haru itu berbadan kecil, lincah, dan juga ceroboh, mirip sama Aoi di film itu yang imuutt banget. Jadi, setiap kali Haru muncul, yang kebayang di kepala saya ya si Aoi itu deh. Kalo Rayyi-nya... siapa ya? Nggak ada bayangan!! Hahahaa X)

Omong-omong, tadinya saya sempet curiga, jangan-jangan novel ini nanti mirip-mirip sama film itu lagi xD. Alhamdulillah nggak, meskipun akhirnya mereka harus menghadapi hal yang tragis sebelum mencapai impian juga sih. Fffiuuhh...

Saya memilih buku ini secara acak saja, tanpa tahu ceritanya seperti apa (Yeah, jangan pernah mengandalkan sinopsis di belakang cover untuk buku-buku Gagas). Saya kaget aja gituh ketika buku yang saya baca ternyata ada hubungannya sama Jepang-jepangan, karena sebenarnya saya lagi nggak mood untuk baca buku kayak gitu... Hwahahaa... Lalu, ketika saya masuk halaman pertama, awalnya saya pikir Haru itu cowok dan Rayyi itu cewek xp (Ya kali gitu namanya Haruto atau Haruo terus panggilannya Haru... lagian saya punya temen cewek namanya Rayi... So don't blame me, okay! xp) Ternyata Windry pakai sudut pandang cowok, jadi saya kecele deh... xD

Tiga bintang untuk sakura yang mekar sempurna lalu beguguran ditelan angin. Filosofi orang Jepang mengenai sakura memang seperti yang disampaikan Windry di novel ini. Sakura yang hanya mekar sempurna sementara saja, lalu gugur seolah menari-nari karena tertiup angin. Keindahan yang tidak abadi, tapi begitu berharga untuk dinikmati...