May 26, 2014

Lola Rose: Ketika Seorang Anak Dituntut untuk Bersikap Lebih dari Seharusnya


Lola Rose by Jacqueline Wilson
My rating: 4 of 5 stars

Beberapa waktu yang lalu, ketika membeli martabak telur dengan ibu saya, saya bertemu dengan seorang anak lelaki yang mengatai kami "An**ng". Awalnya dia hanya ingin bermain, meskipun memang terlihat kalau dia cukup aktif dan rada caper. Saya sempat meladeni di awal, tapi ketika ia mulai mengucapkan kata-kata kasar itu, dan mulai ingin memukuli kami, saya pun menyingkir. Sang ibu yang ada di dekat sana segera mendekat dan menyentil mulut si anak.

Menjadi orang tua memang tidak mudah, apalagi seorang anak tidak lahirkan dengan buku panduan (hal yang sering dikeluhkan orang tua, untuk menggambarkan sulitnya mengasuh anak). Namun kalau dibalik, bukankah tidak semua orang tua juga memiliki kelayakan sebagai orang tua? Apakah ketika mereka mengucapkan akad, atau janji pernikahan, atau apapun itu, mereka telah mengantongi sertifikat atau ijazah yang menyatakan bahwa "Anda sudah layak menjadi orang tua, sekarang Anda boleh menikah"?

Sedih rasanya, ketika melihat orang tua yang menelantarkan anaknya. Padahal, anak adalah titipan dari Tuhan, yang nanti akan dimintai pertanggungjawabannya. Memang banyak orang yang hanya siap untuk bereproduksi, tapi tidak siap menjadi orang tua. Bagi saya, dua kata itu beda sekali maknanya. Melahirkan anak mungkin lebih mudah daripada menjadi orang tua, karena menjadi orang tua membawa konsekuensi seumur hidup. Menjadi orang tua tidak hanya berarti harus menyiapkan materi, tapi juga mental, dan ilmu. Ironis sekali melihat ibu yang dengan mudah membuang bayinya, ayah yang begitu ringan tangan kepada anaknya, atau orang tua yang menghancurkan masa depan anaknya.

Sayangnya, jika orang tua bisa "memaksa" anaknya agar menjadi seperti keinginannya, anak tidak bisa memilih ingin memiliki orang tua yang seperti apa. Mereka tidak bisa memilih ingin memiliki ibu yang pandai memasak dan baik hati bak ibu peri. Mereka juga tidak bisa menghindar dari takdir jika memiliki ayah yang pemabuk, tukang marah, dan ringan tangan.

May 26, 2014

Lola Rose: Ketika Seorang Anak Dituntut untuk Bersikap Lebih dari Seharusnya


Lola Rose by Jacqueline Wilson
My rating: 4 of 5 stars

Beberapa waktu yang lalu, ketika membeli martabak telur dengan ibu saya, saya bertemu dengan seorang anak lelaki yang mengatai kami "An**ng". Awalnya dia hanya ingin bermain, meskipun memang terlihat kalau dia cukup aktif dan rada caper. Saya sempat meladeni di awal, tapi ketika ia mulai mengucapkan kata-kata kasar itu, dan mulai ingin memukuli kami, saya pun menyingkir. Sang ibu yang ada di dekat sana segera mendekat dan menyentil mulut si anak.

Menjadi orang tua memang tidak mudah, apalagi seorang anak tidak lahirkan dengan buku panduan (hal yang sering dikeluhkan orang tua, untuk menggambarkan sulitnya mengasuh anak). Namun kalau dibalik, bukankah tidak semua orang tua juga memiliki kelayakan sebagai orang tua? Apakah ketika mereka mengucapkan akad, atau janji pernikahan, atau apapun itu, mereka telah mengantongi sertifikat atau ijazah yang menyatakan bahwa "Anda sudah layak menjadi orang tua, sekarang Anda boleh menikah"?

Sedih rasanya, ketika melihat orang tua yang menelantarkan anaknya. Padahal, anak adalah titipan dari Tuhan, yang nanti akan dimintai pertanggungjawabannya. Memang banyak orang yang hanya siap untuk bereproduksi, tapi tidak siap menjadi orang tua. Bagi saya, dua kata itu beda sekali maknanya. Melahirkan anak mungkin lebih mudah daripada menjadi orang tua, karena menjadi orang tua membawa konsekuensi seumur hidup. Menjadi orang tua tidak hanya berarti harus menyiapkan materi, tapi juga mental, dan ilmu. Ironis sekali melihat ibu yang dengan mudah membuang bayinya, ayah yang begitu ringan tangan kepada anaknya, atau orang tua yang menghancurkan masa depan anaknya.

Sayangnya, jika orang tua bisa "memaksa" anaknya agar menjadi seperti keinginannya, anak tidak bisa memilih ingin memiliki orang tua yang seperti apa. Mereka tidak bisa memilih ingin memiliki ibu yang pandai memasak dan baik hati bak ibu peri. Mereka juga tidak bisa menghindar dari takdir jika memiliki ayah yang pemabuk, tukang marah, dan ringan tangan.