June 26, 2014

Antologi Rasa, Yang Rasanya.....

Antologi Rasa by Ika Natassa
My rating: 1 of 5 stars

Kenapa saya malas baca teenlit, chicklit, atau metropop karya penulis Indonesia? Jawabannya adalah karena saya merasa tidak bisa menghubungkan apa yang mereka alami dengan apa yang saya alami dalam kehidupan saya. Tokoh-tokoh dalam banyak novel semacam itu biasanya adalah orang-orang super kaya, dengan kehidupan hedonisme tingkat tinggi, yang tidak bisa dibayangkan oleh rakyat jelata seperti saya.

Orang-orang seperti ini hobinya pipis di Singapur, kalau saya bilang. Mereka biasa mengeluarkan uang jutaan, seperti lagi ngasih uang receh ke tukang parkir. Nggak pakai mikir. Gajinya delapan digit, tapi suka menghina-hina diri sebagai kacung yang menderita luar biasa di bawah tekanan atasannya. Maaf, saya memang nggak paham pekerjaan mereka seperti apa, tapi saya sama sekali tidak bisa bersimpati. Kalau memang merasa jadi kacung, ya sudah keluar saja. Uang puluhan juta yang kalian terima itu setara dengan gaji saya selama hampir 10 bulanan. Kalian dengan mudahnya keluar dan membuka usaha baru. Bersyukurlah.

Belum lagi orang-orang di novel ini biasanya lupa cara ngomong pakai bahasa Indonesia. Ngomong sama teman sendiri hampir selalu pakai bahasa Inggris. Yah, saya sebagai orang yang paham bahasa asing, terkadang juga suka ngomong pakai bahasa jepang sama temen-temen saya yang satu frekuensi. Tapi nggak setiap saat. Dan biasanya ngomong pakai bahasa itu adalah semacam kode, ketika kami tidak ingin pembicaraan itu diketahui orang lain. Cuma, ketika bahasa asing itu begitu berlebihan intensitasnya, dan dibawa masuk ke dalam novel Indonesia, yang semua tokohnya orang Indonesia, maaf, saya tidak suka. Bagi saya, bahasa menunjukkan kepribadian dan juga kebanggaan terhadap negara kita, sebuah elemen penting yang menyatukan bangsa.

Yak, semua hal di atas adalah penyebab yang membuat saya tidak menyukai novel "Antologi Rasa" karya Ika Natassa. Ini adalah novel pertama Ika yang saya baca, dan saya tidak suka dengan ceritanya.


June 26, 2014

Antologi Rasa, Yang Rasanya.....

Antologi Rasa by Ika Natassa
My rating: 1 of 5 stars

Kenapa saya malas baca teenlit, chicklit, atau metropop karya penulis Indonesia? Jawabannya adalah karena saya merasa tidak bisa menghubungkan apa yang mereka alami dengan apa yang saya alami dalam kehidupan saya. Tokoh-tokoh dalam banyak novel semacam itu biasanya adalah orang-orang super kaya, dengan kehidupan hedonisme tingkat tinggi, yang tidak bisa dibayangkan oleh rakyat jelata seperti saya.

Orang-orang seperti ini hobinya pipis di Singapur, kalau saya bilang. Mereka biasa mengeluarkan uang jutaan, seperti lagi ngasih uang receh ke tukang parkir. Nggak pakai mikir. Gajinya delapan digit, tapi suka menghina-hina diri sebagai kacung yang menderita luar biasa di bawah tekanan atasannya. Maaf, saya memang nggak paham pekerjaan mereka seperti apa, tapi saya sama sekali tidak bisa bersimpati. Kalau memang merasa jadi kacung, ya sudah keluar saja. Uang puluhan juta yang kalian terima itu setara dengan gaji saya selama hampir 10 bulanan. Kalian dengan mudahnya keluar dan membuka usaha baru. Bersyukurlah.

Belum lagi orang-orang di novel ini biasanya lupa cara ngomong pakai bahasa Indonesia. Ngomong sama teman sendiri hampir selalu pakai bahasa Inggris. Yah, saya sebagai orang yang paham bahasa asing, terkadang juga suka ngomong pakai bahasa jepang sama temen-temen saya yang satu frekuensi. Tapi nggak setiap saat. Dan biasanya ngomong pakai bahasa itu adalah semacam kode, ketika kami tidak ingin pembicaraan itu diketahui orang lain. Cuma, ketika bahasa asing itu begitu berlebihan intensitasnya, dan dibawa masuk ke dalam novel Indonesia, yang semua tokohnya orang Indonesia, maaf, saya tidak suka. Bagi saya, bahasa menunjukkan kepribadian dan juga kebanggaan terhadap negara kita, sebuah elemen penting yang menyatukan bangsa.

Yak, semua hal di atas adalah penyebab yang membuat saya tidak menyukai novel "Antologi Rasa" karya Ika Natassa. Ini adalah novel pertama Ika yang saya baca, dan saya tidak suka dengan ceritanya.