November 19, 2016

Saat-saat Kritis Ketika Membaca Critical Eleven


My rating: 2 of 5 stars

Seperti yang pernah saya sampaikan dalam review saya untuk novel "Sunset Bersama Rosie", saya tidak suka buku yang sengaja mendramatisir tragedi untuk dijadikan sebuah kisah yang menyayat-nyayat hati. Buku ini salah satunya. Meskipun kalau mau dibandingkan, sesungguhnya penderitaan si tokoh utama perempuan, Anya, tidaklah seberat dan setragis penderitaan Rosie.

Awalnya saya bertanya-tanya, apa yang membuat rumah tangga Ale dan Anya jadi berantakan begitu. Setelah mengetahui penyebabnya, saya merasa bersimpati kepada Anya dan bisa merasakan kemarahannya kepada Ale. Namun, ketika luka Anya itu dibumbui sedemikan rupa sehingga kehilangan rasa aslinya, saya merasa muak. Saya justru tidak bisa lagi bersimpati kepada penderitaan Anya, karena meskipun saya belum pernah merasakan apa yang dialaminya, tapi saya bisa jamin bukan dia satu-satunya perempuan di dunia ini yang pernah merasakan hal itu!

Saya adalah seorang yang buruk dalam berkomunikasi. Saya sulit sekali menyampaikan apa yang saya pikirkan dan saya rasakan dalam kata-kata. Dulu lebih buruk, tapi sekarang sudah jauh lebih bisa mengungkapkan kekesalan, kemarahan, dan kejengkelan hati saya--yang dulu biasanya selalu saya telan sendiri. Saya pernah bertanya-tanya kepada diri saya, bagaimana kalau ketika saya menikah nanti, saya memiliki permasalahan dengan suami saya, dan saya tidak bisa menyampaikannya? Apakah saya akan mendiamkannya saja hingga permasalahan hilang dengan sendirinya (yang jelas nggak mungkin bakal hilang sendiri)? Ataukah saya akan berharap sang suami akan sadar dengan kesalahannya sendiri, yang tentu saja merupakan hal yang sulit, sesulit mengumpulkan tujuh bola naga. Apalagi belum tentu kesalahan itu murni berasal dari sang suami. Bagaimana kalau justru sayalah sumber masalahnya?


Ah, berkonflik itu adalah hal yang sulit bagi saya si plegmatis introvert. Namun, saya sadar kalau kunci hubungan yang baik adalah komunikasi. Dan saya bersyukur sekali bisa bertemu dengan orang-orang yang bisa memancing saya untuk bisa berkomunikasi dengan lebih baik, sehingga semoga itu bisa menjadi modal saya ketika saya sudah menemukan pendamping hidup nanti.

Nah, si Anya ini, mengalami kemunduran seperti saya jaman dulu (sulit berkomunikasi, menghindari masalah, bahkan berharap masalah akan "abrakadabra" beres dengan sendirinya), setelah trauma yang dialaminya. Tentu itu wajar, jika ia ingin mengambil jarak dengan suaminya agar dapat berpikir dengan jernih. Tapi jika proses itu berlangsung hingga enam bulan, tanpa memberikan Ale kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka? Saya rasa itu sangat berlebihan. Apalagi ketika otak melankolis dan mental victim Anya menyalahkan dirinya yang jatuh cinta pada Ale hanya dalam seminggu saja. Ya, terus kenapa kalau seminggu lalu jatuh cinta? Toh mereka berpacaran dulu selama setahun sebelum akhirnya menikah, dan kehidupan pernikahan mereka sangat bahagia dan baik-baik saja dalam 3-4 tahun pertama. Mungkin ketika orang terlalu sedih, dia akan mengambil alasan apapun untuk membuat dirinya lebih tenang. Ya, oke. Saya bisa menerima.

Selain tragedi yang terlalu didramatisir, saya juga tidak suka dengan dualisme yang ditampilkan tokoh Ale dan Anya. Di satu sisi penulis menyampaikan betapa religiusnya mereka, yang maunya makan makanan halal, menyempatkan sholat di sela-sela kencan, berdoa kepada Tuhan hingga meratap-ratap, tapi di sisi lain mereka minum wine, memelihara anjing hingga ke kamar tidur, dan marah serta menggugat Tuhan. Tentu saja wajar jika seorang manusia merasa bersedih atas musibah yang dialaminya, tapi apakah pantas kita menggugat Sang Maha Pencipta karena kebodohan kita yang tidak bisa memahami rahasia takdir-Nya? Jadi, wajar saja jika hidup mereka menjadi kacau, karena ada kesan mereka baru kembali kepada Tuhan ketika musibah menghampiri. Itupun bukan untuk bertaubat, memohon, menghamba, dan merasa kecil di hadapan-Nya karena selama ini menjadi manusia yang penuh dosa, tapi justru untuk menggugat, mencari pembenaran, dan merasa diri tidak pantas ditimpa musibah semacam itu. Padahal, apalah kita merasa diri tidak pantas ditimpa musibah, padahal tingkat kesolehan kita pun tidak sampai seujung kuku orang sholeh jaman dahulu, apalagi kalau mau disejajarkan dengan Nabi dan Rasul! Sungguh egois, tidak tahu diri, dan sangat tidak bersyukur!

Jadi, itulah kesan saya setelah membaca novel Ika Natassa ini. Novel keduanya yang saya baca, yang saya kasih satu bintang lebih banyak dari novel sebelumnya. Dorongan saya untuk membaca novel ini bisa dibilang cukup impulsif. Saya gatal melihat novel ini selalu muncul ketika saya membuka iJak dan melihat antreannya yang lebih panjang dari antre sembako. Ketika melihat ada perpustakaan digital yang masih menyediakan buku ini, tanpa pikir panjang langsung saja saya unduh. Saya merasa, gaya bercerita Ika di sini jauh lebih baik daripada "Antologi Rasa" yang dalam beberapa halaman saja sudah membuat saya jera. Novel ini masih berkutat dengan gaya hidup hedon dan tokoh-tokohnya yang sering sekali pakai bahasa Inggris dalam percakapan sehari-harinya, meskipun sama-sama orang Indonesia. Yah, walaupun itu tidak menggambarkan Indonesia secara umum dan hanya menampilkan potret orang-orang menengah ke atas di negeri ini, tapi sudahlah. Saya sudah kenyang mengomentari gaya bahasa Ika di novelnya sebelumnya. Di dua novel Ika yang sudah saya baca ini, dua-duanya memiliki gaya bercerita yang sama, diceritakan sesuai isi kepala per tokohnya. Untungnya di sini hanya dua, jadi saya tidak sakit kepala. Sesungguhnya, saya tidak terlalu suka dengan gaya bercerita seperti ini, tapi karena kali ini saya merasa kalimat-kalimat dan pilihan kata Ika begitu lancar dan cukup bisa dinikmati, saya bisa menerimanya.

Apakah setelah ini saya akan membaca karya Ika Natassa lagi? Entahlah. Setelah dua buku ini, saya merasa dunia kami terlalu berbeda dan saya tidak terlalu bisa menikmati karyanya. Jadi, mungkin tidak kali ya....

No comments:

Post a Comment

November 19, 2016

Saat-saat Kritis Ketika Membaca Critical Eleven


My rating: 2 of 5 stars

Seperti yang pernah saya sampaikan dalam review saya untuk novel "Sunset Bersama Rosie", saya tidak suka buku yang sengaja mendramatisir tragedi untuk dijadikan sebuah kisah yang menyayat-nyayat hati. Buku ini salah satunya. Meskipun kalau mau dibandingkan, sesungguhnya penderitaan si tokoh utama perempuan, Anya, tidaklah seberat dan setragis penderitaan Rosie.

Awalnya saya bertanya-tanya, apa yang membuat rumah tangga Ale dan Anya jadi berantakan begitu. Setelah mengetahui penyebabnya, saya merasa bersimpati kepada Anya dan bisa merasakan kemarahannya kepada Ale. Namun, ketika luka Anya itu dibumbui sedemikan rupa sehingga kehilangan rasa aslinya, saya merasa muak. Saya justru tidak bisa lagi bersimpati kepada penderitaan Anya, karena meskipun saya belum pernah merasakan apa yang dialaminya, tapi saya bisa jamin bukan dia satu-satunya perempuan di dunia ini yang pernah merasakan hal itu!

Saya adalah seorang yang buruk dalam berkomunikasi. Saya sulit sekali menyampaikan apa yang saya pikirkan dan saya rasakan dalam kata-kata. Dulu lebih buruk, tapi sekarang sudah jauh lebih bisa mengungkapkan kekesalan, kemarahan, dan kejengkelan hati saya--yang dulu biasanya selalu saya telan sendiri. Saya pernah bertanya-tanya kepada diri saya, bagaimana kalau ketika saya menikah nanti, saya memiliki permasalahan dengan suami saya, dan saya tidak bisa menyampaikannya? Apakah saya akan mendiamkannya saja hingga permasalahan hilang dengan sendirinya (yang jelas nggak mungkin bakal hilang sendiri)? Ataukah saya akan berharap sang suami akan sadar dengan kesalahannya sendiri, yang tentu saja merupakan hal yang sulit, sesulit mengumpulkan tujuh bola naga. Apalagi belum tentu kesalahan itu murni berasal dari sang suami. Bagaimana kalau justru sayalah sumber masalahnya?


Ah, berkonflik itu adalah hal yang sulit bagi saya si plegmatis introvert. Namun, saya sadar kalau kunci hubungan yang baik adalah komunikasi. Dan saya bersyukur sekali bisa bertemu dengan orang-orang yang bisa memancing saya untuk bisa berkomunikasi dengan lebih baik, sehingga semoga itu bisa menjadi modal saya ketika saya sudah menemukan pendamping hidup nanti.

Nah, si Anya ini, mengalami kemunduran seperti saya jaman dulu (sulit berkomunikasi, menghindari masalah, bahkan berharap masalah akan "abrakadabra" beres dengan sendirinya), setelah trauma yang dialaminya. Tentu itu wajar, jika ia ingin mengambil jarak dengan suaminya agar dapat berpikir dengan jernih. Tapi jika proses itu berlangsung hingga enam bulan, tanpa memberikan Ale kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka? Saya rasa itu sangat berlebihan. Apalagi ketika otak melankolis dan mental victim Anya menyalahkan dirinya yang jatuh cinta pada Ale hanya dalam seminggu saja. Ya, terus kenapa kalau seminggu lalu jatuh cinta? Toh mereka berpacaran dulu selama setahun sebelum akhirnya menikah, dan kehidupan pernikahan mereka sangat bahagia dan baik-baik saja dalam 3-4 tahun pertama. Mungkin ketika orang terlalu sedih, dia akan mengambil alasan apapun untuk membuat dirinya lebih tenang. Ya, oke. Saya bisa menerima.

Selain tragedi yang terlalu didramatisir, saya juga tidak suka dengan dualisme yang ditampilkan tokoh Ale dan Anya. Di satu sisi penulis menyampaikan betapa religiusnya mereka, yang maunya makan makanan halal, menyempatkan sholat di sela-sela kencan, berdoa kepada Tuhan hingga meratap-ratap, tapi di sisi lain mereka minum wine, memelihara anjing hingga ke kamar tidur, dan marah serta menggugat Tuhan. Tentu saja wajar jika seorang manusia merasa bersedih atas musibah yang dialaminya, tapi apakah pantas kita menggugat Sang Maha Pencipta karena kebodohan kita yang tidak bisa memahami rahasia takdir-Nya? Jadi, wajar saja jika hidup mereka menjadi kacau, karena ada kesan mereka baru kembali kepada Tuhan ketika musibah menghampiri. Itupun bukan untuk bertaubat, memohon, menghamba, dan merasa kecil di hadapan-Nya karena selama ini menjadi manusia yang penuh dosa, tapi justru untuk menggugat, mencari pembenaran, dan merasa diri tidak pantas ditimpa musibah semacam itu. Padahal, apalah kita merasa diri tidak pantas ditimpa musibah, padahal tingkat kesolehan kita pun tidak sampai seujung kuku orang sholeh jaman dahulu, apalagi kalau mau disejajarkan dengan Nabi dan Rasul! Sungguh egois, tidak tahu diri, dan sangat tidak bersyukur!

Jadi, itulah kesan saya setelah membaca novel Ika Natassa ini. Novel keduanya yang saya baca, yang saya kasih satu bintang lebih banyak dari novel sebelumnya. Dorongan saya untuk membaca novel ini bisa dibilang cukup impulsif. Saya gatal melihat novel ini selalu muncul ketika saya membuka iJak dan melihat antreannya yang lebih panjang dari antre sembako. Ketika melihat ada perpustakaan digital yang masih menyediakan buku ini, tanpa pikir panjang langsung saja saya unduh. Saya merasa, gaya bercerita Ika di sini jauh lebih baik daripada "Antologi Rasa" yang dalam beberapa halaman saja sudah membuat saya jera. Novel ini masih berkutat dengan gaya hidup hedon dan tokoh-tokohnya yang sering sekali pakai bahasa Inggris dalam percakapan sehari-harinya, meskipun sama-sama orang Indonesia. Yah, walaupun itu tidak menggambarkan Indonesia secara umum dan hanya menampilkan potret orang-orang menengah ke atas di negeri ini, tapi sudahlah. Saya sudah kenyang mengomentari gaya bahasa Ika di novelnya sebelumnya. Di dua novel Ika yang sudah saya baca ini, dua-duanya memiliki gaya bercerita yang sama, diceritakan sesuai isi kepala per tokohnya. Untungnya di sini hanya dua, jadi saya tidak sakit kepala. Sesungguhnya, saya tidak terlalu suka dengan gaya bercerita seperti ini, tapi karena kali ini saya merasa kalimat-kalimat dan pilihan kata Ika begitu lancar dan cukup bisa dinikmati, saya bisa menerimanya.

Apakah setelah ini saya akan membaca karya Ika Natassa lagi? Entahlah. Setelah dua buku ini, saya merasa dunia kami terlalu berbeda dan saya tidak terlalu bisa menikmati karyanya. Jadi, mungkin tidak kali ya....

No comments:

Post a Comment