Katarsis
Katarsis by
Sejujurnya saya nggak suka sama cerita-cerita yang terlalu mengekspos suatu tema tertentu tanpa adanya benang merah yang jelas. Misalnya cerita-cerita yang terlalu mengekspos tragedi yang bertujuan untuk menguras air mata pembacanya (saja), tapi secara plot dan logika banyak yang bolong. Juga seperti buku ini, yang hanya mengumbar kesadisan dan kegilaan tokoh-tokohnya yang psikopat, tapi banyak hal yang ditolak oleh logika saya.
Sebenarnya saya nggak banyak membaca novel di genre ini, karena memang nggak terlalu cocok sama selera saya. Tapi ada dua anime bagus yang saya tonton di tahun ini (2016), yang berasal dari genre yang sama, yang kata orang-orang termasuk genre psychology thriller. Yang pertama adalah "Boku Dake ga Inai Machi" dan yang kedua adalah "Subete ga F ni Naru". Kedua anime itu sanggup membuat saya ketakutan setengah mati (khususnya yang pertama), juga membuat saya ngeri-ngeri ngilu dengan jalan ceritanya. Kalau film dari genre yang sama, saya suka dengan "Battle Royale" yang menurut saya akan tetap jadi legenda (meski saya belum baca versi komik atau novelnya). Untuk dorama, ada dorama karya Higashino Keigo yang benar-benar menguras emosi sekaligus menimbulkan perasaan mencekam ke penontonnya.
Kembali ke "Katarsis". Buat saya, buku ini nggak bisa membangkitkan rasa takut dan cemas saya. Buku ini hanya mengekspos kesadisan dan kegilaan para pelakunya, tapi ada banyak hal membingungkan yang nggak terjawab (mungkin saya miss bacanya karena nggak tahan sama detail-detail sadisnya).
Nah, review selanjutnya mungkin mengandung spoiler (tapi saya berusaha buat nggak spoiler-spoiler amat).... Beberapa hal membingungkan itu misalnya, bagaimana cara omnya Tara kabur dari RS setelah bangun dari koma? Kok dia nggak dicariin polisi sebagai saksi kunci? Kenapa si psikopat tua nggak memastikan semuanya mati sebelum membiarkan polisi menemukan keluarga itu? Kenapa dia membiarkan yang satu koma dan yang satunya hidup? Meski yang hidup ada di luar perkiraan dia, tapi seorang psikopat bukan biasanya memastikan bagaimana akhir korbannya? Lalu, kok bisa si Tara yang lagi di bawah bahaya teror pembunuhan, nerima begitu aja minuman dari mas-mas ganteng yang hapal banget dia lari lima putaran GBK tanpa curiga sedikit pun?
Hal-hal di atas membuat saya bertanya-tanya dan jadi nggak bisa menikmati jalan ceritanya. Hal lainnya, sisi psikologis tokoh utama kurang dikupas sampai dalam, bikin kisah psychology thriller ini jadi nanggung. Jadi, apanya yang mengaduk-aduk perasaan? Kayaknya cuma mengaduk rasa takut dan tegang aja, itupun karena tokoh-tokohnya gila.
Katanya ada teori yang mengatakan kalau ada anak yang psikopat dari lahir. Tapi buat saya, saya tetap percaya kalau anak terlahir bagaikan kertas putih yang bersih dan orang tuanyalah yang menentukan si anak itu akan menjadi apa. Manusia itu seperti dua sisi mata uang, setiap orang punya potensi kebaikan dan keburukan. Jadi sesungguhnya saya merasa sangat terganggu jika seorang anak digambarkan membenci kedua orang tuanya sejak bayi tanpa alasan yang jelas. Hhmm, sebenarnya ada sih alasan yang samar, tapi sayangnya nggak diperdalam oleh penulisnya. Makanya, saya bilang nanggung dan hanya mengekspos kekejaman dan kesadisan saja.
Jadi, saya setuju dengan review salah seorang Goodreaders yang mengatakan kalau tokoh psikopat B lebih memiliki karakter dengan penggalian masa lalunya yang lebih mendalam. Kalau si A dan C itu digambarkan sebagai psikopat dari lahir, maka si B jadi psikopat karena pengalaman masa lalunya. Banyak yah psikopatnya, saya sendiri sampe bingung gimana mau kasih reviewnya tanpa memberikan spoiler. Jadi, sebelum saya mengeluarkan hal-hal yang seharusnya tidak dikeluarkan, biarkanlah review absurd ini berhenti sampai di sini. Biarlah ia menjadi rahasia, hingga saatnya tiba (waktu Anda baca sendiri). Buat saya, cukup dua bintang saja karena cerita ini nggak sesuai dengan selera saya.
*Review pertama: 21 September 2016
**Edisi revisi: 16 September 2017
***Baru sadar ternyata belum pernah dipost di blog. Kebetulan serinya tayang di Netflix ya, jadi inget lagi sama buku ini. Nggak baca ulang, hanya post ulang.

Comments
Post a Comment