Posts

Mencari Keping Kebahagiaan di Tanah Lada

Image
Di Tanah Lada by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie My rating: 2 of 5 stars Salah satu gaya bercerita yang tidak terlalu saya sukai adalah gaya bercerita dari sudut pandang orang pertama. Apalagi jika kemudian si penulis terlalu berlebihan dalam mengeksplor isi hati si tokoh utamanya, sehingga membuat saya gregetan dan ingin melempar bukunya. Ini misalnya seperti ketika saya membaca Mockingjay atau novel-novel Metropop yang terlalu cantik-tampan-jelita atau terlalu bling-bling. Namun, saya tidak memiliki masalah jika meskipun si penulis bercerita dengan sudut pandang orang pertama tapi dia berlaku sebagai pengamat sekitarnya, seperti dalam tetralogi Laskar Pelangi. Buku ini sebenarnya ada di kategori kedua. Meskipun Salva adalah penutur cerita, tapi perasaannya tidak mendominasi isi cerita. Hanya pikirannya saja yang bermain di sini. Itu adalah nilai lebih, karena saya melihat Ava adalah seorang pengamat yang sangat baik. Sayangnya, dalam berbagai kesempatan, saya kehilangan jej

Saat-saat Kritis Ketika Membaca Critical Eleven

Image
Critical Eleven by Ika Natassa My rating: 2 of 5 stars Seperti yang pernah saya sampaikan dalam review saya untuk novel "Sunset Bersama Rosie", saya tidak suka buku yang sengaja mendramatisir tragedi untuk dijadikan sebuah kisah yang menyayat-nyayat hati. Buku ini salah satunya. Meskipun kalau mau dibandingkan, sesungguhnya penderitaan si tokoh utama perempuan, Anya, tidaklah seberat dan setragis penderitaan Rosie. Awalnya saya bertanya-tanya, apa yang membuat rumah tangga Ale dan Anya jadi berantakan begitu. Setelah mengetahui penyebabnya, saya merasa bersimpati kepada Anya dan bisa merasakan kemarahannya kepada Ale. Namun, ketika luka Anya itu dibumbui sedemikan rupa sehingga kehilangan rasa aslinya, saya merasa muak. Saya justru tidak bisa lagi bersimpati kepada penderitaan Anya, karena meskipun saya belum pernah merasakan apa yang dialaminya, tapi saya bisa jamin bukan dia satu-satunya perempuan di dunia ini yang pernah merasakan hal itu! Saya adalah

Ketika Cinta Direkayasa

Image
Not A Perfect Wedding by Asri Tahir My rating: 1 of 5 stars Jadi akhir-akhir ini kerjaan gue adalah ngebukain iJak terus donlotin novel-novel yang sejak pertama kali gue unduh aplikasi ini selalu ada di laman paling atas. Gue pikir, mungkin itu adalah novel-novel yang paling banyak dipinjem sama orang-orang. Soalnya rata-rata udah nggak ada stok dan antreannya bejibun. Novel-novel itu adalah "Critical Eleven", "In a Blue Moon", "Not a Perfect Wedding", "Stay with Me Tonight", dll. Gue sempet menggumam, "Gile! Itu novel apaan sih, nongol di tempat teratas mulu?! Novel enggris ya?" Ternyata eh ternyata, semuanya novel endonesah sodara-sodara! Gue pun kembali tersadar kalau sekarang menjuduli novel karya orang Indonesia dengan judul Bahasa Inggris sudahlah menjadi sebuah fenomena. Nah, karena saban ari tiap buka iJak gue disuguhin sama begituan, ya gue penasaran lah jadinya. Mana novel-novel yang mau gue pinjem rata-rata

Margaretta Gauthier

Image
Margaretta Gauthier by Alexandre Dumas-fils My rating: 4 of 5 stars Bagi sebagian orang, novel roman klasik tidak menarik, karena narasi yang panjang, sedikit percakapan, dan plot yang lambat. Tapi sepertinya saya justru cocok dengan cerita-cerita semacam itu. Beberapa roman klasik yang sangat saya sukai, pernah saya rekomendasikan kepada teman-teman saya, tapi ternyata mereka tidak menyukainya. Dan sekarang, sekali lagi, sebuah roman klasik telah mengikat hati saya. Membawa saya kepada lonjakan perasaan dan membuat saya menitikkan air mata. Kali ini kisah Margaretta yang membuat saya merasa iba. Kehidupannya yang miskin membawanya kepada jurang kenistaan. Demi mendapatkan sehelai pakaian dan sepotong roti, ia harus menjual kehormatannya. Padahal hanya kehidupan sederhana yang diidamkannya. Ia hanya mengharapkan atap untuk tempat berlindung, sehelai pakaian untuk melindungi tubuhnya, dan sepotong roti di pagi dan petang untuk mengganjal perutnya. Tapi tak ada yang mau memberik

Ketika Takdir Merasuki Kenangan

Image
Memory and Destiny by Yunisa KD My rating: 1 of 5 stars Jadi gini, waktu si Maroon yang waktu itu baru sepuluh tahun, masih imut-imut najong, minta sama orang tuanya buat maen di kuburan di Enggris sonoh. Di sono, Maroon yang lagi tergila-gila sama "Phantom of the Opera" ketemu sama om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler lagi duduk melow galow di kuburan. Mereka bertatapan mata, bertukar senyum, terus pisah deh. Abis itu si Maroon balik pulang ke ibu pertiwi (ternyata doski orang endonesah cuy) sama orang tuanya dan eh si Maroon ketemu lagi sama si om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler di pesawat. Mungkin takdir. Sesampainya di tanah ibu pertiwi, si Maroon masuk ke sekolah Indonesia. Tapi, dia yang udah kelamaan di Enggris bahasa Endonesahnya jadi kaco balo. Sayangnya, nggak ada yang bisa bantuin dia karena mama pergi papa pergi. Ada tali ku gantung diri, talinya putus digigit tikus. Kata pak camat

Antologi Rasa, Yang Rasanya.....

Image
Antologi Rasa by Ika Natassa My rating: 1 of 5 stars Kenapa saya malas baca teenlit, chicklit, atau metropop karya penulis Indonesia? Jawabannya adalah karena saya merasa tidak bisa menghubungkan apa yang mereka alami dengan apa yang saya alami dalam kehidupan saya. Tokoh-tokoh dalam banyak novel semacam itu biasanya adalah orang-orang super kaya, dengan kehidupan hedonisme tingkat tinggi, yang tidak bisa dibayangkan oleh rakyat jelata seperti saya. Orang-orang seperti ini hobinya pipis di Singapur, kalau saya bilang. Mereka biasa mengeluarkan uang jutaan, seperti lagi ngasih uang receh ke tukang parkir. Nggak pakai mikir. Gajinya delapan digit, tapi suka menghina-hina diri sebagai kacung yang menderita luar biasa di bawah tekanan atasannya. Maaf, saya memang nggak paham pekerjaan mereka seperti apa, tapi saya sama sekali tidak bisa bersimpati. Kalau memang merasa jadi kacung, ya sudah keluar saja. Uang puluhan juta yang kalian terima itu setara dengan gaji saya selama hampir

Lola Rose: Ketika Seorang Anak Dituntut untuk Bersikap Lebih dari Seharusnya

Image
Lola Rose by Jacqueline Wilson My rating: 4 of 5 stars Beberapa waktu yang lalu, ketika membeli martabak telur dengan ibu saya, saya bertemu dengan seorang anak lelaki yang mengatai kami "An**ng". Awalnya dia hanya ingin bermain, meskipun memang terlihat kalau dia cukup aktif dan rada caper. Saya sempat meladeni di awal, tapi ketika ia mulai mengucapkan kata-kata kasar itu, dan mulai ingin memukuli kami, saya pun menyingkir. Sang ibu yang ada di dekat sana segera mendekat dan menyentil mulut si anak. Menjadi orang tua memang tidak mudah, apalagi seorang anak tidak lahirkan dengan buku panduan (hal yang sering dikeluhkan orang tua, untuk menggambarkan sulitnya mengasuh anak). Namun kalau dibalik, bukankah tidak semua orang tua juga memiliki kelayakan sebagai orang tua? Apakah ketika mereka mengucapkan akad, atau janji pernikahan, atau apapun itu, mereka telah mengantongi sertifikat atau ijazah yang menyatakan bahwa "Anda sudah layak menjadi orang tua, sekarang