November 12, 2013

Montase: Di Antara Sakura yang Berguguran

Montase by Windry Ramadhina
My rating: 3 of 5 stars

Suatu hari saya mengikuti sebuah training motivasi bersama teman-teman saya. Disana kami diminta untuk menuliskan cita-cita di atas kertas, lalu melipat kertas itu menjadi pesawat dan menerbangkannya. Ada yang menuliskan dengan begitu cepat dan dengan mantap melipat pesawat kertasnya, lalu menerbangkannya ke angkasa. Sementara yang lainnya tampak bingung, berpikir lama, dan tampak ragu-ragu ketika menerbangkan pesawatnya.

Jika Anda diminta untuk melakukan hal serupa, yang manakah diri Anda? Apakah Anda dapat dengan mudah menuliskan cita-cita dan impian dalam hidup, lalu menerbangkannya diiringi jutaan doa ke angkasa? Ataukah Anda ragu-ragu bahkan harus mengubek-ubek isi otak terlebih dahulu sebelum dapat menuliskannya ke atas kertas, lalu melipatnya menjadi pesawat, dan menerbangkannya dengan perasaan gamang?

Haru mungkin tipe yang pertama, yang dengan mantap menuliskan cita-citanya di atas kertas, melipatnya menjadi pesawat, lalu menerbangkannya dengan penuh harapan. Wanita Jepang ini memang tampaknya tahu betul apa yang ia inginkan. Mimpinya. Cita-citanya. Meskipun impian itu tidak selalu sejalan dengan keinginannya, tapi itu tidak menjadi masalah bagi gadis itu. Baginya, asal impian besarnya bisa terpenuhi, maka sudah tak ada lagi penyesalan di dalam hidupnya.

Sedangkan Rayyi, tokoh utama dalam cerita ini, mungkin tipe yang kedua. Bukan berarti Rayyi ini pemuda galau yang tidak tahu ingin menjadi apa di masa depan dan menyerahkan segalanya kepada nasib. Bukan seperti itu. Rayyi tahu apa yang diinginkannya. Tahu apa yang disukainya. Namun keadaan membuatnya harus melepaskan impiannya dan membuatnya mengikuti apa yang diinginkan ayahnya.

Rayyi ini anak seorang produser film ternama di Indonesia. Ia diharapkan untuk mengikuti jejak ayahnya, membuat film box office yang mainstream, laris, disukai banyak orang, menghasilkan uang banyak, nggak peduli film itu punya makna atau tidak. Sementara Rayyi ingin menjadi pembuat film dokumenter, yang notabene bukanlah genre populer dan akan dicintai oleh banyak orang.

Kehadiran Haru, gadis kepala angin yang mirip boneka kokeshi dan gemar makan onigiri serta teriak-teriak "kawaii" ini membuka mata Rayyi, akan apa yang sebenarnya paling penting di dunia ini. Namun, saat kesadaran itu hadir ke dalam dirinya, apakah Rayyi masih punya waktu dan kesempatan untuk mewujudkannya? Ataukah ia harus mengorbankan hal penting dalam hidupnya terlebih dahulu demi mencapai impiannya?

Jawabannya silakan dibaca sendiri di dalam novel "Montase" karya Windry Ramadhina ini. Menurut saya, kisahnya manis dan cukup romantis, meski tidak membuat saya menangis. Penggambaran tokohnya sangat baik, begitupun dengan pengembangan karakter mereka. Rayyi si mahasiswa semester enam IKJ yang berantakan; Haru si mahasiswi dari Jepang yang ceroboh dan suka salah masuk kelas bahkan salah lihat jadwal; Samuel Hardi--dosen matkul dokumenter Rayyi dan Haru--yang sinis, pede jaya, tapi jenius; sahabat-sahabat Rayyi yang unik; hingga ayah Rayyi yang dingin dan ambisius.

Sayangnya, ada beberapa hal yang bikin saya kurang sreg dengan novel ini.

Pertama, soal Haru. Haru diceritakan sebagai mahasiswi dari Jepang yang pergi ke IKJ sebagai seorang pertukaran pelajar. Biasanya sih ya, mahasiswa asing datang ke Indonesia itu buat belajar bahasa Indonesia, bukan untuk ikut mata kuliah di Indonesianya. Makanya, saya bertanya-tanya seberapa jago bahasa Indonesianya si Haru sampai sanggup ikut mata kuliah-mata kuliah yang ada, yang notabene pakai bahasa Indonesia. Soalnya tidak dijelaskan sebelumnya soal dimana Haru belajar bahasa Indonesia, dan kenapa dia memilih untuk pertukaran pelajar di Indonesia, karena menurut saya alasan "di kampus saya tidak ada peminatan dokumenter" itu adalah hal aneh.

Kedua, mengenai bahasa dan tanda baca. Entah kenapa, beberapa percakapan yang dilakukan antara Rayyi dan sahabatnya di novel ini menurut saya masih agak kaku. Begitupun dengan sisipan anak kalimat yang hanya menggunakan tanda "-" satu dan bukannya dua. Setahu saya, kalau mau menyisipkan itu seharusnya dengan menggunakan tanda strip panjang, yang kalau di Microsoft Word itu dibuat dengan mengetik tanda "-" dua kali lalu diapit dengan kata yang bersangkutan lalu ketik spasi. Jujur saja, ini cukup mengganggu saya, karena ada banyaakk sekali kalimat yang seperti ini.

Ketiga, soal latar. Ketika Haru dan Rayyi ke Japan Foundation untuk menonton film dokumenter Jepang, ada adegan ketika Haru membelikan minum dari mesin penjual minuman di lobi Gedung Summitmas. Hhhmm... Setau saya sih nggak ada barang begituan di Summitmas, soalnya saya udah sering banget ke JF. Dan ketika saya konfirmasi ke teman saya yang kerja di sana, dia bilang "Hahaha ngaco.. dia pasti berhalusinasi. Mungkin terlalu ngefans sama JF kali" xp. Yah, itu mungkin improvisasi Windry kali ya, tapi buat orang yang sudah sering ke tempat itu, pasti merasa aneh dengan fakta ini. Hehehe...

Lalu soal kereta ekspres yang dinaiki Haru dan Rayyi dari Cikini. Agak aneh aja disebut dengan "kereta ekspres" soalnya penyebutan itu adanya pas jaman saya kuliah dulu, dimana si kereta cuma berhenti di stasiun-stasiun tertentu saja dan ekonomi masih merajai rel. Nah, karena novel ini terbit tahun 2012, harusnya disebutnya sudah Commuter Line lah ya, alias comline atau comel. Sudah begitu, pertama disebutkan naik dari Cikini, tapi lalu setelahnya latarnya jadi Gondangdia, jadi yang mana dong yang benar? Kalau kosan mereka dekat IKJ sih, harusnya ya dari Cikini dong ya, bukan Gondangdia.

Ketiga, soal bahasa Jepang. Bahasa Jepang yang digunakan di novel ini sudah cukup bagus dan benar penggunaannya, walaupun ada beberapa juga yang salah dan agak aneh. Seperti kata-kata "Hai, desu yo" di halaman 185 yang menurut saya tidak tepat. Yang lebih tepat seharusnya, "Hai, sou nan desu yo," karena di kata yang pertama itu tidak jelas Haru memberikan penekanan terhadap apa. Tidak ada subyeknya disana.

Lalu kata "raifu" yang menurut saya juga agak tidak tepat. Saya pikir orang Jepang lebih senang pakai kata "jinsei" meskipun keduanya memiliki arti kata kehidupan. Yang satu kata serapan bahasa Inggris, yang satunya dari bahasa Jepang asli. Tapi mungkin Haru ingin Rayyi mengerti sepatah dua patah kata yang dia ucapkan, makanya sengaja pakai versi Inggrisnya kali ya...

Bahasa Jepang Rayyi juga yang bikin saya merasakan ganjalan lainnya. Di awal diceritakan kalau Rayyi menggunakan bahasa Jepang seadanya, ketika ia berkunjung ke Jepang demi menemukan Haru. Tapi di akhir cerita, Rayyi dapat ngobrol panjang lebar dengan orang tua Haru, pakai bahasa Jepang!! Sugoi da ne!! Demo, muri jan!! Masa Rayyi dapat begitu cepatnya menguasai bahasa Jepang? Terus, Rayyi belajar bahasa Jepangnya dimana? Soalnya kok saya dapat kesan Rayyi langsung cao ke Jepang begitu dapat surat dari Haru? Lagian, emang Rayyi sempet belajar bahasa Jepang ya? Dia kan "disiksa" Samuel Hardi siang dan malam di rumah produksi filmnya....

Huehehe.. maaf ya... saya emang tipe pembaca perfeksionis yang suka rewel bin bawel X) Terutama karena ada hal yang saya tahu banget disini. Kalau soal film dan sebagainya, saya pasrah deh, soalnya saya nggak ngerti. Hahahaa

Oh iya, ketika membaca deskripsi Rayyi mengenai Haru, saya jadi ingat sama Aoi Miyazaki di film "Tada Kimi Wo Aishiteru". Soalnya dijelaskan kalau Haru itu berbadan kecil, lincah, dan juga ceroboh, mirip sama Aoi di film itu yang imuutt banget. Jadi, setiap kali Haru muncul, yang kebayang di kepala saya ya si Aoi itu deh. Kalo Rayyi-nya... siapa ya? Nggak ada bayangan!! Hahahaa X)

Omong-omong, tadinya saya sempet curiga, jangan-jangan novel ini nanti mirip-mirip sama film itu lagi xD. Alhamdulillah nggak, meskipun akhirnya mereka harus menghadapi hal yang tragis sebelum mencapai impian juga sih. Fffiuuhh...

Saya memilih buku ini secara acak saja, tanpa tahu ceritanya seperti apa (Yeah, jangan pernah mengandalkan sinopsis di belakang cover untuk buku-buku Gagas). Saya kaget aja gituh ketika buku yang saya baca ternyata ada hubungannya sama Jepang-jepangan, karena sebenarnya saya lagi nggak mood untuk baca buku kayak gitu... Hwahahaa... Lalu, ketika saya masuk halaman pertama, awalnya saya pikir Haru itu cowok dan Rayyi itu cewek xp (Ya kali gitu namanya Haruto atau Haruo terus panggilannya Haru... lagian saya punya temen cewek namanya Rayi... So don't blame me, okay! xp) Ternyata Windry pakai sudut pandang cowok, jadi saya kecele deh... xD

Tiga bintang untuk sakura yang mekar sempurna lalu beguguran ditelan angin. Filosofi orang Jepang mengenai sakura memang seperti yang disampaikan Windry di novel ini. Sakura yang hanya mekar sempurna sementara saja, lalu gugur seolah menari-nari karena tertiup angin. Keindahan yang tidak abadi, tapi begitu berharga untuk dinikmati...


No comments:

Post a Comment

November 12, 2013

Montase: Di Antara Sakura yang Berguguran

Montase by Windry Ramadhina
My rating: 3 of 5 stars

Suatu hari saya mengikuti sebuah training motivasi bersama teman-teman saya. Disana kami diminta untuk menuliskan cita-cita di atas kertas, lalu melipat kertas itu menjadi pesawat dan menerbangkannya. Ada yang menuliskan dengan begitu cepat dan dengan mantap melipat pesawat kertasnya, lalu menerbangkannya ke angkasa. Sementara yang lainnya tampak bingung, berpikir lama, dan tampak ragu-ragu ketika menerbangkan pesawatnya.

Jika Anda diminta untuk melakukan hal serupa, yang manakah diri Anda? Apakah Anda dapat dengan mudah menuliskan cita-cita dan impian dalam hidup, lalu menerbangkannya diiringi jutaan doa ke angkasa? Ataukah Anda ragu-ragu bahkan harus mengubek-ubek isi otak terlebih dahulu sebelum dapat menuliskannya ke atas kertas, lalu melipatnya menjadi pesawat, dan menerbangkannya dengan perasaan gamang?

Haru mungkin tipe yang pertama, yang dengan mantap menuliskan cita-citanya di atas kertas, melipatnya menjadi pesawat, lalu menerbangkannya dengan penuh harapan. Wanita Jepang ini memang tampaknya tahu betul apa yang ia inginkan. Mimpinya. Cita-citanya. Meskipun impian itu tidak selalu sejalan dengan keinginannya, tapi itu tidak menjadi masalah bagi gadis itu. Baginya, asal impian besarnya bisa terpenuhi, maka sudah tak ada lagi penyesalan di dalam hidupnya.

Sedangkan Rayyi, tokoh utama dalam cerita ini, mungkin tipe yang kedua. Bukan berarti Rayyi ini pemuda galau yang tidak tahu ingin menjadi apa di masa depan dan menyerahkan segalanya kepada nasib. Bukan seperti itu. Rayyi tahu apa yang diinginkannya. Tahu apa yang disukainya. Namun keadaan membuatnya harus melepaskan impiannya dan membuatnya mengikuti apa yang diinginkan ayahnya.

Rayyi ini anak seorang produser film ternama di Indonesia. Ia diharapkan untuk mengikuti jejak ayahnya, membuat film box office yang mainstream, laris, disukai banyak orang, menghasilkan uang banyak, nggak peduli film itu punya makna atau tidak. Sementara Rayyi ingin menjadi pembuat film dokumenter, yang notabene bukanlah genre populer dan akan dicintai oleh banyak orang.

Kehadiran Haru, gadis kepala angin yang mirip boneka kokeshi dan gemar makan onigiri serta teriak-teriak "kawaii" ini membuka mata Rayyi, akan apa yang sebenarnya paling penting di dunia ini. Namun, saat kesadaran itu hadir ke dalam dirinya, apakah Rayyi masih punya waktu dan kesempatan untuk mewujudkannya? Ataukah ia harus mengorbankan hal penting dalam hidupnya terlebih dahulu demi mencapai impiannya?

Jawabannya silakan dibaca sendiri di dalam novel "Montase" karya Windry Ramadhina ini. Menurut saya, kisahnya manis dan cukup romantis, meski tidak membuat saya menangis. Penggambaran tokohnya sangat baik, begitupun dengan pengembangan karakter mereka. Rayyi si mahasiswa semester enam IKJ yang berantakan; Haru si mahasiswi dari Jepang yang ceroboh dan suka salah masuk kelas bahkan salah lihat jadwal; Samuel Hardi--dosen matkul dokumenter Rayyi dan Haru--yang sinis, pede jaya, tapi jenius; sahabat-sahabat Rayyi yang unik; hingga ayah Rayyi yang dingin dan ambisius.

Sayangnya, ada beberapa hal yang bikin saya kurang sreg dengan novel ini.

Pertama, soal Haru. Haru diceritakan sebagai mahasiswi dari Jepang yang pergi ke IKJ sebagai seorang pertukaran pelajar. Biasanya sih ya, mahasiswa asing datang ke Indonesia itu buat belajar bahasa Indonesia, bukan untuk ikut mata kuliah di Indonesianya. Makanya, saya bertanya-tanya seberapa jago bahasa Indonesianya si Haru sampai sanggup ikut mata kuliah-mata kuliah yang ada, yang notabene pakai bahasa Indonesia. Soalnya tidak dijelaskan sebelumnya soal dimana Haru belajar bahasa Indonesia, dan kenapa dia memilih untuk pertukaran pelajar di Indonesia, karena menurut saya alasan "di kampus saya tidak ada peminatan dokumenter" itu adalah hal aneh.

Kedua, mengenai bahasa dan tanda baca. Entah kenapa, beberapa percakapan yang dilakukan antara Rayyi dan sahabatnya di novel ini menurut saya masih agak kaku. Begitupun dengan sisipan anak kalimat yang hanya menggunakan tanda "-" satu dan bukannya dua. Setahu saya, kalau mau menyisipkan itu seharusnya dengan menggunakan tanda strip panjang, yang kalau di Microsoft Word itu dibuat dengan mengetik tanda "-" dua kali lalu diapit dengan kata yang bersangkutan lalu ketik spasi. Jujur saja, ini cukup mengganggu saya, karena ada banyaakk sekali kalimat yang seperti ini.

Ketiga, soal latar. Ketika Haru dan Rayyi ke Japan Foundation untuk menonton film dokumenter Jepang, ada adegan ketika Haru membelikan minum dari mesin penjual minuman di lobi Gedung Summitmas. Hhhmm... Setau saya sih nggak ada barang begituan di Summitmas, soalnya saya udah sering banget ke JF. Dan ketika saya konfirmasi ke teman saya yang kerja di sana, dia bilang "Hahaha ngaco.. dia pasti berhalusinasi. Mungkin terlalu ngefans sama JF kali" xp. Yah, itu mungkin improvisasi Windry kali ya, tapi buat orang yang sudah sering ke tempat itu, pasti merasa aneh dengan fakta ini. Hehehe...

Lalu soal kereta ekspres yang dinaiki Haru dan Rayyi dari Cikini. Agak aneh aja disebut dengan "kereta ekspres" soalnya penyebutan itu adanya pas jaman saya kuliah dulu, dimana si kereta cuma berhenti di stasiun-stasiun tertentu saja dan ekonomi masih merajai rel. Nah, karena novel ini terbit tahun 2012, harusnya disebutnya sudah Commuter Line lah ya, alias comline atau comel. Sudah begitu, pertama disebutkan naik dari Cikini, tapi lalu setelahnya latarnya jadi Gondangdia, jadi yang mana dong yang benar? Kalau kosan mereka dekat IKJ sih, harusnya ya dari Cikini dong ya, bukan Gondangdia.

Ketiga, soal bahasa Jepang. Bahasa Jepang yang digunakan di novel ini sudah cukup bagus dan benar penggunaannya, walaupun ada beberapa juga yang salah dan agak aneh. Seperti kata-kata "Hai, desu yo" di halaman 185 yang menurut saya tidak tepat. Yang lebih tepat seharusnya, "Hai, sou nan desu yo," karena di kata yang pertama itu tidak jelas Haru memberikan penekanan terhadap apa. Tidak ada subyeknya disana.

Lalu kata "raifu" yang menurut saya juga agak tidak tepat. Saya pikir orang Jepang lebih senang pakai kata "jinsei" meskipun keduanya memiliki arti kata kehidupan. Yang satu kata serapan bahasa Inggris, yang satunya dari bahasa Jepang asli. Tapi mungkin Haru ingin Rayyi mengerti sepatah dua patah kata yang dia ucapkan, makanya sengaja pakai versi Inggrisnya kali ya...

Bahasa Jepang Rayyi juga yang bikin saya merasakan ganjalan lainnya. Di awal diceritakan kalau Rayyi menggunakan bahasa Jepang seadanya, ketika ia berkunjung ke Jepang demi menemukan Haru. Tapi di akhir cerita, Rayyi dapat ngobrol panjang lebar dengan orang tua Haru, pakai bahasa Jepang!! Sugoi da ne!! Demo, muri jan!! Masa Rayyi dapat begitu cepatnya menguasai bahasa Jepang? Terus, Rayyi belajar bahasa Jepangnya dimana? Soalnya kok saya dapat kesan Rayyi langsung cao ke Jepang begitu dapat surat dari Haru? Lagian, emang Rayyi sempet belajar bahasa Jepang ya? Dia kan "disiksa" Samuel Hardi siang dan malam di rumah produksi filmnya....

Huehehe.. maaf ya... saya emang tipe pembaca perfeksionis yang suka rewel bin bawel X) Terutama karena ada hal yang saya tahu banget disini. Kalau soal film dan sebagainya, saya pasrah deh, soalnya saya nggak ngerti. Hahahaa

Oh iya, ketika membaca deskripsi Rayyi mengenai Haru, saya jadi ingat sama Aoi Miyazaki di film "Tada Kimi Wo Aishiteru". Soalnya dijelaskan kalau Haru itu berbadan kecil, lincah, dan juga ceroboh, mirip sama Aoi di film itu yang imuutt banget. Jadi, setiap kali Haru muncul, yang kebayang di kepala saya ya si Aoi itu deh. Kalo Rayyi-nya... siapa ya? Nggak ada bayangan!! Hahahaa X)

Omong-omong, tadinya saya sempet curiga, jangan-jangan novel ini nanti mirip-mirip sama film itu lagi xD. Alhamdulillah nggak, meskipun akhirnya mereka harus menghadapi hal yang tragis sebelum mencapai impian juga sih. Fffiuuhh...

Saya memilih buku ini secara acak saja, tanpa tahu ceritanya seperti apa (Yeah, jangan pernah mengandalkan sinopsis di belakang cover untuk buku-buku Gagas). Saya kaget aja gituh ketika buku yang saya baca ternyata ada hubungannya sama Jepang-jepangan, karena sebenarnya saya lagi nggak mood untuk baca buku kayak gitu... Hwahahaa... Lalu, ketika saya masuk halaman pertama, awalnya saya pikir Haru itu cowok dan Rayyi itu cewek xp (Ya kali gitu namanya Haruto atau Haruo terus panggilannya Haru... lagian saya punya temen cewek namanya Rayi... So don't blame me, okay! xp) Ternyata Windry pakai sudut pandang cowok, jadi saya kecele deh... xD

Tiga bintang untuk sakura yang mekar sempurna lalu beguguran ditelan angin. Filosofi orang Jepang mengenai sakura memang seperti yang disampaikan Windry di novel ini. Sakura yang hanya mekar sempurna sementara saja, lalu gugur seolah menari-nari karena tertiup angin. Keindahan yang tidak abadi, tapi begitu berharga untuk dinikmati...


No comments:

Post a Comment