November 23, 2016

Mencari Keping Kebahagiaan di Tanah Lada


Di Tanah Lada by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
My rating: 2 of 5 stars

Salah satu gaya bercerita yang tidak terlalu saya sukai adalah gaya bercerita dari sudut pandang orang pertama. Apalagi jika kemudian si penulis terlalu berlebihan dalam mengeksplor isi hati si tokoh utamanya, sehingga membuat saya gregetan dan ingin melempar bukunya. Ini misalnya seperti ketika saya membaca Mockingjay atau novel-novel Metropop yang terlalu cantik-tampan-jelita atau terlalu bling-bling. Namun, saya tidak memiliki masalah jika meskipun si penulis bercerita dengan sudut pandang orang pertama tapi dia berlaku sebagai pengamat sekitarnya, seperti dalam tetralogi Laskar Pelangi.

Buku ini sebenarnya ada di kategori kedua. Meskipun Salva adalah penutur cerita, tapi perasaannya tidak mendominasi isi cerita. Hanya pikirannya saja yang bermain di sini. Itu adalah nilai lebih, karena saya melihat Ava adalah seorang pengamat yang sangat baik. Sayangnya, dalam berbagai kesempatan, saya kehilangan jejak bahwa Ava adalah seorang anak kecil berusia enam tahun yang begitu dimanja ibunya (karena dia tidak bisa makan dan mandi sendiri), tapi saya justru merasa sedang berhadapan dengan orang yang sudah lebih besar dari Ava.

Walaupun saya sempat merasakan kesulitan dalam menyelami karakter Ava, tapi sesungguhnya saya menyukai cerita ini. Karakter favorit saya adalah P dan Mas Alri. Saya tidak bisa menyukai Ava secara penuh, karena kesulitan untuk menyelami karakternya itu. Saya juga tidak terlalu menyukai Ibu Ava, yang begitu tabah (?) menerima penganiayaan dari suaminya, bahkan sejak sebelum Ava lahir. Entah apa yang ada di benak perempuan itu sehingga mempertahankan pernikahannya selama itu? Sedangkan sejak awal mengandung Ava, sudah jelas sekali bahwa suaminya tidak menginginkan anak mereka dan menganggap Ava bukan anaknya. Itu bisa terlihat dari si suami yang mau menamai anaknya Saliva karena menganggapnya tidak berguna. Jelas sekali kan, kalau tidak ada cinta bahkan kepada si jabang bayi yang baru lahir itu? Dan setelah beberapa tahun berjalan, seharusnya si Mama semakin memahami itu. Tapi ia memilih untuk bertahan. Apa yang menyebabkannya mempertahankan pernikahan yang sudah tidak punya masa depan dan sudah hampir tidak mungkin diperbaiki itu?


November 19, 2016

Saat-saat Kritis Ketika Membaca Critical Eleven


My rating: 2 of 5 stars

Seperti yang pernah saya sampaikan dalam review saya untuk novel "Sunset Bersama Rosie", saya tidak suka buku yang sengaja mendramatisir tragedi untuk dijadikan sebuah kisah yang menyayat-nyayat hati. Buku ini salah satunya. Meskipun kalau mau dibandingkan, sesungguhnya penderitaan si tokoh utama perempuan, Anya, tidaklah seberat dan setragis penderitaan Rosie.

Awalnya saya bertanya-tanya, apa yang membuat rumah tangga Ale dan Anya jadi berantakan begitu. Setelah mengetahui penyebabnya, saya merasa bersimpati kepada Anya dan bisa merasakan kemarahannya kepada Ale. Namun, ketika luka Anya itu dibumbui sedemikan rupa sehingga kehilangan rasa aslinya, saya merasa muak. Saya justru tidak bisa lagi bersimpati kepada penderitaan Anya, karena meskipun saya belum pernah merasakan apa yang dialaminya, tapi saya bisa jamin bukan dia satu-satunya perempuan di dunia ini yang pernah merasakan hal itu!

Saya adalah seorang yang buruk dalam berkomunikasi. Saya sulit sekali menyampaikan apa yang saya pikirkan dan saya rasakan dalam kata-kata. Dulu lebih buruk, tapi sekarang sudah jauh lebih bisa mengungkapkan kekesalan, kemarahan, dan kejengkelan hati saya--yang dulu biasanya selalu saya telan sendiri. Saya pernah bertanya-tanya kepada diri saya, bagaimana kalau ketika saya menikah nanti, saya memiliki permasalahan dengan suami saya, dan saya tidak bisa menyampaikannya? Apakah saya akan mendiamkannya saja hingga permasalahan hilang dengan sendirinya (yang jelas nggak mungkin bakal hilang sendiri)? Ataukah saya akan berharap sang suami akan sadar dengan kesalahannya sendiri, yang tentu saja merupakan hal yang sulit, sesulit mengumpulkan tujuh bola naga. Apalagi belum tentu kesalahan itu murni berasal dari sang suami. Bagaimana kalau justru sayalah sumber masalahnya?

November 11, 2016

Ketika Cinta Direkayasa


My rating: 1 of 5 stars

Jadi akhir-akhir ini kerjaan gue adalah ngebukain iJak terus donlotin novel-novel yang sejak pertama kali gue unduh aplikasi ini selalu ada di laman paling atas. Gue pikir, mungkin itu adalah novel-novel yang paling banyak dipinjem sama orang-orang. Soalnya rata-rata udah nggak ada stok dan antreannya bejibun. Novel-novel itu adalah "Critical Eleven", "In a Blue Moon", "Not a Perfect Wedding", "Stay with Me Tonight", dll. Gue sempet menggumam, "Gile! Itu novel apaan sih, nongol di tempat teratas mulu?! Novel enggris ya?" Ternyata eh ternyata, semuanya novel endonesah sodara-sodara! Gue pun kembali tersadar kalau sekarang menjuduli novel karya orang Indonesia dengan judul Bahasa Inggris sudahlah menjadi sebuah fenomena.

Nah, karena saban ari tiap buka iJak gue disuguhin sama begituan, ya gue penasaran lah jadinya. Mana novel-novel yang mau gue pinjem rata-rata emang pada belom muncul di sana. Suatu hari, iseng-isenglah gue membuka judul-judul di atas satu per satu, dan yes! gue beruntung karena masih mendapatkan salinannya tanpa perlu mengantre! Jadilah tiga dari empat judul di atas gue unduh secara bergantian lalu gue baca.

Sialnya ya, tiga novel di atas yang gue baca itu (kecuali "In a Blue Moon" yang belum gue pinjem), punya tema yang mirip-mirip. Jadi gue eneg begitu sampai di novel terakhir. Ya yang ini nih. Emang ye, selera gue suka berlawanan sama khalayak ramai. Makanya kalo gue suka skeptis liat review orang tuh bukannya gimana begimana. Dari pengalaman emang begitu adanya dan pengalaman adalah guru yang terbaik, bukan?

Bijaklah bule yang membuat peribahasa "curiosity can kill a cat" karena itulah yang gue alami setelah baca novel ini. Gue, si kucing oon ini, terbunuh karena rasa ingin tahu gue, sekaligus kehilangan waktu tidur gue karena membaca novel ini. Bukan, bukan karena novelnya terlalu menarik untuk dilepaskan, tapi karena gue yakin, begitu gue berhenti baca dan lanjut buat esok hari, maka gue pasti gak bakalan lanjut baca lagi.

March 17, 2016

Margaretta Gauthier


Margaretta GauthierMargaretta Gauthier by Alexandre Dumas-fils
My rating: 4 of 5 stars

Bagi sebagian orang, novel roman klasik tidak menarik, karena narasi yang panjang, sedikit percakapan, dan plot yang lambat. Tapi sepertinya saya justru cocok dengan cerita-cerita semacam itu. Beberapa roman klasik yang sangat saya sukai, pernah saya rekomendasikan kepada teman-teman saya, tapi ternyata mereka tidak menyukainya. Dan sekarang, sekali lagi, sebuah roman klasik telah mengikat hati saya. Membawa saya kepada lonjakan perasaan dan membuat saya menitikkan air mata.

Kali ini kisah Margaretta yang membuat saya merasa iba. Kehidupannya yang miskin membawanya kepada jurang kenistaan. Demi mendapatkan sehelai pakaian dan sepotong roti, ia harus menjual kehormatannya. Padahal hanya kehidupan sederhana yang diidamkannya. Ia hanya mengharapkan atap untuk tempat berlindung, sehelai pakaian untuk melindungi tubuhnya, dan sepotong roti di pagi dan petang untuk mengganjal perutnya. Tapi tak ada yang mau memberikan itu kepadanya. Setidaknya dengan cara yang terhormat. Sehingga dia bersumpah, setelah menjual kehormatannya, bahwa dia akan membenci seluruh lelaki dan akan menghancurkan mereka.

Margaretta, dengan kecantikannya, menjadi seorang pelacur yang paling terkenal di Paris. Semua lelaki tunduk di hadapannya. Tetapi ia sudah bersumpah bahwa ia tidak akan memberikan hatinya kepada siapapun. Jadilah mereka semua menjadi mainannya yang dapat ia campakkan sesuka hatinya. Baginya, semua laki-laki sama. Hanya menginginkannya di saat ia cantik jelita dan memiliki kedudukan (meski itu hanya pelacur terkenal) tapi semuanya akan berbondong-bondong meninggalkannya jika semua itu sudah hilang dari tubuhnya.


March 15, 2016

Ketika Takdir Merasuki Kenangan


Memory and Destiny (Amore 02)Memory and Destiny by Yunisa KD
My rating: 1 of 5 stars

Jadi gini, waktu si Maroon yang waktu itu baru sepuluh tahun, masih imut-imut najong, minta sama orang tuanya buat maen di kuburan di Enggris sonoh. Di sono, Maroon yang lagi tergila-gila sama "Phantom of the Opera" ketemu sama om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler lagi duduk melow galow di kuburan. Mereka bertatapan mata, bertukar senyum, terus pisah deh. Abis itu si Maroon balik pulang ke ibu pertiwi (ternyata doski orang endonesah cuy) sama orang tuanya dan eh si Maroon ketemu lagi sama si om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler di pesawat. Mungkin takdir.

Sesampainya di tanah ibu pertiwi, si Maroon masuk ke sekolah Indonesia. Tapi, dia yang udah kelamaan di Enggris bahasa Endonesahnya jadi kaco balo. Sayangnya, nggak ada yang bisa bantuin dia karena mama pergi papa pergi. Ada tali ku gantung diri, talinya putus digigit tikus. Kata pak camat tikusnya empat. Pak camat pulang lewat kuburan. Ada pocong berbaju putih. Putih-putih melati alibaba, merah-merah delima pinokio. *generasi 90-an*

Maroon sedih, nggak ada yang bisa bantuin dia. Saat itulah sosok om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler muncul lagi di hadapan dia. Idih, si om ini ganjen amat sih anak sepuluh tahun diintilin ke mana-mana. Pedofilkah dia? Ternyata tidak! Rupanya yang bisa melihat si om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler cuma Maroon aja. Artinya, si om ini setan yang mengikuti Maroon sejak dia maen di kuburan waktu di Enggris sana. Atau begitulah pikir orang tua Maroon yang karena takut anaknya kesurupan, akhirnya dipanggillah segala jenis pengusir setan, mulai dari pastor, ahli feng shui, sampe dukun beranak (kagak pake beranak sik, dukun doang).


June 26, 2014

Antologi Rasa, Yang Rasanya.....

Antologi Rasa by Ika Natassa
My rating: 1 of 5 stars

Kenapa saya malas baca teenlit, chicklit, atau metropop karya penulis Indonesia? Jawabannya adalah karena saya merasa tidak bisa menghubungkan apa yang mereka alami dengan apa yang saya alami dalam kehidupan saya. Tokoh-tokoh dalam banyak novel semacam itu biasanya adalah orang-orang super kaya, dengan kehidupan hedonisme tingkat tinggi, yang tidak bisa dibayangkan oleh rakyat jelata seperti saya.

Orang-orang seperti ini hobinya pipis di Singapur, kalau saya bilang. Mereka biasa mengeluarkan uang jutaan, seperti lagi ngasih uang receh ke tukang parkir. Nggak pakai mikir. Gajinya delapan digit, tapi suka menghina-hina diri sebagai kacung yang menderita luar biasa di bawah tekanan atasannya. Maaf, saya memang nggak paham pekerjaan mereka seperti apa, tapi saya sama sekali tidak bisa bersimpati. Kalau memang merasa jadi kacung, ya sudah keluar saja. Uang puluhan juta yang kalian terima itu setara dengan gaji saya selama hampir 10 bulanan. Kalian dengan mudahnya keluar dan membuka usaha baru. Bersyukurlah.

Belum lagi orang-orang di novel ini biasanya lupa cara ngomong pakai bahasa Indonesia. Ngomong sama teman sendiri hampir selalu pakai bahasa Inggris. Yah, saya sebagai orang yang paham bahasa asing, terkadang juga suka ngomong pakai bahasa jepang sama temen-temen saya yang satu frekuensi. Tapi nggak setiap saat. Dan biasanya ngomong pakai bahasa itu adalah semacam kode, ketika kami tidak ingin pembicaraan itu diketahui orang lain. Cuma, ketika bahasa asing itu begitu berlebihan intensitasnya, dan dibawa masuk ke dalam novel Indonesia, yang semua tokohnya orang Indonesia, maaf, saya tidak suka. Bagi saya, bahasa menunjukkan kepribadian dan juga kebanggaan terhadap negara kita, sebuah elemen penting yang menyatukan bangsa.

Yak, semua hal di atas adalah penyebab yang membuat saya tidak menyukai novel "Antologi Rasa" karya Ika Natassa. Ini adalah novel pertama Ika yang saya baca, dan saya tidak suka dengan ceritanya.


May 26, 2014

Lola Rose: Ketika Seorang Anak Dituntut untuk Bersikap Lebih dari Seharusnya


Lola Rose by Jacqueline Wilson
My rating: 4 of 5 stars

Beberapa waktu yang lalu, ketika membeli martabak telur dengan ibu saya, saya bertemu dengan seorang anak lelaki yang mengatai kami "An**ng". Awalnya dia hanya ingin bermain, meskipun memang terlihat kalau dia cukup aktif dan rada caper. Saya sempat meladeni di awal, tapi ketika ia mulai mengucapkan kata-kata kasar itu, dan mulai ingin memukuli kami, saya pun menyingkir. Sang ibu yang ada di dekat sana segera mendekat dan menyentil mulut si anak.

Menjadi orang tua memang tidak mudah, apalagi seorang anak tidak lahirkan dengan buku panduan (hal yang sering dikeluhkan orang tua, untuk menggambarkan sulitnya mengasuh anak). Namun kalau dibalik, bukankah tidak semua orang tua juga memiliki kelayakan sebagai orang tua? Apakah ketika mereka mengucapkan akad, atau janji pernikahan, atau apapun itu, mereka telah mengantongi sertifikat atau ijazah yang menyatakan bahwa "Anda sudah layak menjadi orang tua, sekarang Anda boleh menikah"?

Sedih rasanya, ketika melihat orang tua yang menelantarkan anaknya. Padahal, anak adalah titipan dari Tuhan, yang nanti akan dimintai pertanggungjawabannya. Memang banyak orang yang hanya siap untuk bereproduksi, tapi tidak siap menjadi orang tua. Bagi saya, dua kata itu beda sekali maknanya. Melahirkan anak mungkin lebih mudah daripada menjadi orang tua, karena menjadi orang tua membawa konsekuensi seumur hidup. Menjadi orang tua tidak hanya berarti harus menyiapkan materi, tapi juga mental, dan ilmu. Ironis sekali melihat ibu yang dengan mudah membuang bayinya, ayah yang begitu ringan tangan kepada anaknya, atau orang tua yang menghancurkan masa depan anaknya.

Sayangnya, jika orang tua bisa "memaksa" anaknya agar menjadi seperti keinginannya, anak tidak bisa memilih ingin memiliki orang tua yang seperti apa. Mereka tidak bisa memilih ingin memiliki ibu yang pandai memasak dan baik hati bak ibu peri. Mereka juga tidak bisa menghindar dari takdir jika memiliki ayah yang pemabuk, tukang marah, dan ringan tangan.

November 23, 2016

Mencari Keping Kebahagiaan di Tanah Lada


Di Tanah Lada by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
My rating: 2 of 5 stars

Salah satu gaya bercerita yang tidak terlalu saya sukai adalah gaya bercerita dari sudut pandang orang pertama. Apalagi jika kemudian si penulis terlalu berlebihan dalam mengeksplor isi hati si tokoh utamanya, sehingga membuat saya gregetan dan ingin melempar bukunya. Ini misalnya seperti ketika saya membaca Mockingjay atau novel-novel Metropop yang terlalu cantik-tampan-jelita atau terlalu bling-bling. Namun, saya tidak memiliki masalah jika meskipun si penulis bercerita dengan sudut pandang orang pertama tapi dia berlaku sebagai pengamat sekitarnya, seperti dalam tetralogi Laskar Pelangi.

Buku ini sebenarnya ada di kategori kedua. Meskipun Salva adalah penutur cerita, tapi perasaannya tidak mendominasi isi cerita. Hanya pikirannya saja yang bermain di sini. Itu adalah nilai lebih, karena saya melihat Ava adalah seorang pengamat yang sangat baik. Sayangnya, dalam berbagai kesempatan, saya kehilangan jejak bahwa Ava adalah seorang anak kecil berusia enam tahun yang begitu dimanja ibunya (karena dia tidak bisa makan dan mandi sendiri), tapi saya justru merasa sedang berhadapan dengan orang yang sudah lebih besar dari Ava.

Walaupun saya sempat merasakan kesulitan dalam menyelami karakter Ava, tapi sesungguhnya saya menyukai cerita ini. Karakter favorit saya adalah P dan Mas Alri. Saya tidak bisa menyukai Ava secara penuh, karena kesulitan untuk menyelami karakternya itu. Saya juga tidak terlalu menyukai Ibu Ava, yang begitu tabah (?) menerima penganiayaan dari suaminya, bahkan sejak sebelum Ava lahir. Entah apa yang ada di benak perempuan itu sehingga mempertahankan pernikahannya selama itu? Sedangkan sejak awal mengandung Ava, sudah jelas sekali bahwa suaminya tidak menginginkan anak mereka dan menganggap Ava bukan anaknya. Itu bisa terlihat dari si suami yang mau menamai anaknya Saliva karena menganggapnya tidak berguna. Jelas sekali kan, kalau tidak ada cinta bahkan kepada si jabang bayi yang baru lahir itu? Dan setelah beberapa tahun berjalan, seharusnya si Mama semakin memahami itu. Tapi ia memilih untuk bertahan. Apa yang menyebabkannya mempertahankan pernikahan yang sudah tidak punya masa depan dan sudah hampir tidak mungkin diperbaiki itu?


November 19, 2016

Saat-saat Kritis Ketika Membaca Critical Eleven


My rating: 2 of 5 stars

Seperti yang pernah saya sampaikan dalam review saya untuk novel "Sunset Bersama Rosie", saya tidak suka buku yang sengaja mendramatisir tragedi untuk dijadikan sebuah kisah yang menyayat-nyayat hati. Buku ini salah satunya. Meskipun kalau mau dibandingkan, sesungguhnya penderitaan si tokoh utama perempuan, Anya, tidaklah seberat dan setragis penderitaan Rosie.

Awalnya saya bertanya-tanya, apa yang membuat rumah tangga Ale dan Anya jadi berantakan begitu. Setelah mengetahui penyebabnya, saya merasa bersimpati kepada Anya dan bisa merasakan kemarahannya kepada Ale. Namun, ketika luka Anya itu dibumbui sedemikan rupa sehingga kehilangan rasa aslinya, saya merasa muak. Saya justru tidak bisa lagi bersimpati kepada penderitaan Anya, karena meskipun saya belum pernah merasakan apa yang dialaminya, tapi saya bisa jamin bukan dia satu-satunya perempuan di dunia ini yang pernah merasakan hal itu!

Saya adalah seorang yang buruk dalam berkomunikasi. Saya sulit sekali menyampaikan apa yang saya pikirkan dan saya rasakan dalam kata-kata. Dulu lebih buruk, tapi sekarang sudah jauh lebih bisa mengungkapkan kekesalan, kemarahan, dan kejengkelan hati saya--yang dulu biasanya selalu saya telan sendiri. Saya pernah bertanya-tanya kepada diri saya, bagaimana kalau ketika saya menikah nanti, saya memiliki permasalahan dengan suami saya, dan saya tidak bisa menyampaikannya? Apakah saya akan mendiamkannya saja hingga permasalahan hilang dengan sendirinya (yang jelas nggak mungkin bakal hilang sendiri)? Ataukah saya akan berharap sang suami akan sadar dengan kesalahannya sendiri, yang tentu saja merupakan hal yang sulit, sesulit mengumpulkan tujuh bola naga. Apalagi belum tentu kesalahan itu murni berasal dari sang suami. Bagaimana kalau justru sayalah sumber masalahnya?

November 11, 2016

Ketika Cinta Direkayasa


My rating: 1 of 5 stars

Jadi akhir-akhir ini kerjaan gue adalah ngebukain iJak terus donlotin novel-novel yang sejak pertama kali gue unduh aplikasi ini selalu ada di laman paling atas. Gue pikir, mungkin itu adalah novel-novel yang paling banyak dipinjem sama orang-orang. Soalnya rata-rata udah nggak ada stok dan antreannya bejibun. Novel-novel itu adalah "Critical Eleven", "In a Blue Moon", "Not a Perfect Wedding", "Stay with Me Tonight", dll. Gue sempet menggumam, "Gile! Itu novel apaan sih, nongol di tempat teratas mulu?! Novel enggris ya?" Ternyata eh ternyata, semuanya novel endonesah sodara-sodara! Gue pun kembali tersadar kalau sekarang menjuduli novel karya orang Indonesia dengan judul Bahasa Inggris sudahlah menjadi sebuah fenomena.

Nah, karena saban ari tiap buka iJak gue disuguhin sama begituan, ya gue penasaran lah jadinya. Mana novel-novel yang mau gue pinjem rata-rata emang pada belom muncul di sana. Suatu hari, iseng-isenglah gue membuka judul-judul di atas satu per satu, dan yes! gue beruntung karena masih mendapatkan salinannya tanpa perlu mengantre! Jadilah tiga dari empat judul di atas gue unduh secara bergantian lalu gue baca.

Sialnya ya, tiga novel di atas yang gue baca itu (kecuali "In a Blue Moon" yang belum gue pinjem), punya tema yang mirip-mirip. Jadi gue eneg begitu sampai di novel terakhir. Ya yang ini nih. Emang ye, selera gue suka berlawanan sama khalayak ramai. Makanya kalo gue suka skeptis liat review orang tuh bukannya gimana begimana. Dari pengalaman emang begitu adanya dan pengalaman adalah guru yang terbaik, bukan?

Bijaklah bule yang membuat peribahasa "curiosity can kill a cat" karena itulah yang gue alami setelah baca novel ini. Gue, si kucing oon ini, terbunuh karena rasa ingin tahu gue, sekaligus kehilangan waktu tidur gue karena membaca novel ini. Bukan, bukan karena novelnya terlalu menarik untuk dilepaskan, tapi karena gue yakin, begitu gue berhenti baca dan lanjut buat esok hari, maka gue pasti gak bakalan lanjut baca lagi.

March 17, 2016

Margaretta Gauthier


Margaretta GauthierMargaretta Gauthier by Alexandre Dumas-fils
My rating: 4 of 5 stars

Bagi sebagian orang, novel roman klasik tidak menarik, karena narasi yang panjang, sedikit percakapan, dan plot yang lambat. Tapi sepertinya saya justru cocok dengan cerita-cerita semacam itu. Beberapa roman klasik yang sangat saya sukai, pernah saya rekomendasikan kepada teman-teman saya, tapi ternyata mereka tidak menyukainya. Dan sekarang, sekali lagi, sebuah roman klasik telah mengikat hati saya. Membawa saya kepada lonjakan perasaan dan membuat saya menitikkan air mata.

Kali ini kisah Margaretta yang membuat saya merasa iba. Kehidupannya yang miskin membawanya kepada jurang kenistaan. Demi mendapatkan sehelai pakaian dan sepotong roti, ia harus menjual kehormatannya. Padahal hanya kehidupan sederhana yang diidamkannya. Ia hanya mengharapkan atap untuk tempat berlindung, sehelai pakaian untuk melindungi tubuhnya, dan sepotong roti di pagi dan petang untuk mengganjal perutnya. Tapi tak ada yang mau memberikan itu kepadanya. Setidaknya dengan cara yang terhormat. Sehingga dia bersumpah, setelah menjual kehormatannya, bahwa dia akan membenci seluruh lelaki dan akan menghancurkan mereka.

Margaretta, dengan kecantikannya, menjadi seorang pelacur yang paling terkenal di Paris. Semua lelaki tunduk di hadapannya. Tetapi ia sudah bersumpah bahwa ia tidak akan memberikan hatinya kepada siapapun. Jadilah mereka semua menjadi mainannya yang dapat ia campakkan sesuka hatinya. Baginya, semua laki-laki sama. Hanya menginginkannya di saat ia cantik jelita dan memiliki kedudukan (meski itu hanya pelacur terkenal) tapi semuanya akan berbondong-bondong meninggalkannya jika semua itu sudah hilang dari tubuhnya.


March 15, 2016

Ketika Takdir Merasuki Kenangan


Memory and Destiny (Amore 02)Memory and Destiny by Yunisa KD
My rating: 1 of 5 stars

Jadi gini, waktu si Maroon yang waktu itu baru sepuluh tahun, masih imut-imut najong, minta sama orang tuanya buat maen di kuburan di Enggris sonoh. Di sono, Maroon yang lagi tergila-gila sama "Phantom of the Opera" ketemu sama om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler lagi duduk melow galow di kuburan. Mereka bertatapan mata, bertukar senyum, terus pisah deh. Abis itu si Maroon balik pulang ke ibu pertiwi (ternyata doski orang endonesah cuy) sama orang tuanya dan eh si Maroon ketemu lagi sama si om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler di pesawat. Mungkin takdir.

Sesampainya di tanah ibu pertiwi, si Maroon masuk ke sekolah Indonesia. Tapi, dia yang udah kelamaan di Enggris bahasa Endonesahnya jadi kaco balo. Sayangnya, nggak ada yang bisa bantuin dia karena mama pergi papa pergi. Ada tali ku gantung diri, talinya putus digigit tikus. Kata pak camat tikusnya empat. Pak camat pulang lewat kuburan. Ada pocong berbaju putih. Putih-putih melati alibaba, merah-merah delima pinokio. *generasi 90-an*

Maroon sedih, nggak ada yang bisa bantuin dia. Saat itulah sosok om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler muncul lagi di hadapan dia. Idih, si om ini ganjen amat sih anak sepuluh tahun diintilin ke mana-mana. Pedofilkah dia? Ternyata tidak! Rupanya yang bisa melihat si om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler cuma Maroon aja. Artinya, si om ini setan yang mengikuti Maroon sejak dia maen di kuburan waktu di Enggris sana. Atau begitulah pikir orang tua Maroon yang karena takut anaknya kesurupan, akhirnya dipanggillah segala jenis pengusir setan, mulai dari pastor, ahli feng shui, sampe dukun beranak (kagak pake beranak sik, dukun doang).


June 26, 2014

Antologi Rasa, Yang Rasanya.....

Antologi Rasa by Ika Natassa
My rating: 1 of 5 stars

Kenapa saya malas baca teenlit, chicklit, atau metropop karya penulis Indonesia? Jawabannya adalah karena saya merasa tidak bisa menghubungkan apa yang mereka alami dengan apa yang saya alami dalam kehidupan saya. Tokoh-tokoh dalam banyak novel semacam itu biasanya adalah orang-orang super kaya, dengan kehidupan hedonisme tingkat tinggi, yang tidak bisa dibayangkan oleh rakyat jelata seperti saya.

Orang-orang seperti ini hobinya pipis di Singapur, kalau saya bilang. Mereka biasa mengeluarkan uang jutaan, seperti lagi ngasih uang receh ke tukang parkir. Nggak pakai mikir. Gajinya delapan digit, tapi suka menghina-hina diri sebagai kacung yang menderita luar biasa di bawah tekanan atasannya. Maaf, saya memang nggak paham pekerjaan mereka seperti apa, tapi saya sama sekali tidak bisa bersimpati. Kalau memang merasa jadi kacung, ya sudah keluar saja. Uang puluhan juta yang kalian terima itu setara dengan gaji saya selama hampir 10 bulanan. Kalian dengan mudahnya keluar dan membuka usaha baru. Bersyukurlah.

Belum lagi orang-orang di novel ini biasanya lupa cara ngomong pakai bahasa Indonesia. Ngomong sama teman sendiri hampir selalu pakai bahasa Inggris. Yah, saya sebagai orang yang paham bahasa asing, terkadang juga suka ngomong pakai bahasa jepang sama temen-temen saya yang satu frekuensi. Tapi nggak setiap saat. Dan biasanya ngomong pakai bahasa itu adalah semacam kode, ketika kami tidak ingin pembicaraan itu diketahui orang lain. Cuma, ketika bahasa asing itu begitu berlebihan intensitasnya, dan dibawa masuk ke dalam novel Indonesia, yang semua tokohnya orang Indonesia, maaf, saya tidak suka. Bagi saya, bahasa menunjukkan kepribadian dan juga kebanggaan terhadap negara kita, sebuah elemen penting yang menyatukan bangsa.

Yak, semua hal di atas adalah penyebab yang membuat saya tidak menyukai novel "Antologi Rasa" karya Ika Natassa. Ini adalah novel pertama Ika yang saya baca, dan saya tidak suka dengan ceritanya.


May 26, 2014

Lola Rose: Ketika Seorang Anak Dituntut untuk Bersikap Lebih dari Seharusnya


Lola Rose by Jacqueline Wilson
My rating: 4 of 5 stars

Beberapa waktu yang lalu, ketika membeli martabak telur dengan ibu saya, saya bertemu dengan seorang anak lelaki yang mengatai kami "An**ng". Awalnya dia hanya ingin bermain, meskipun memang terlihat kalau dia cukup aktif dan rada caper. Saya sempat meladeni di awal, tapi ketika ia mulai mengucapkan kata-kata kasar itu, dan mulai ingin memukuli kami, saya pun menyingkir. Sang ibu yang ada di dekat sana segera mendekat dan menyentil mulut si anak.

Menjadi orang tua memang tidak mudah, apalagi seorang anak tidak lahirkan dengan buku panduan (hal yang sering dikeluhkan orang tua, untuk menggambarkan sulitnya mengasuh anak). Namun kalau dibalik, bukankah tidak semua orang tua juga memiliki kelayakan sebagai orang tua? Apakah ketika mereka mengucapkan akad, atau janji pernikahan, atau apapun itu, mereka telah mengantongi sertifikat atau ijazah yang menyatakan bahwa "Anda sudah layak menjadi orang tua, sekarang Anda boleh menikah"?

Sedih rasanya, ketika melihat orang tua yang menelantarkan anaknya. Padahal, anak adalah titipan dari Tuhan, yang nanti akan dimintai pertanggungjawabannya. Memang banyak orang yang hanya siap untuk bereproduksi, tapi tidak siap menjadi orang tua. Bagi saya, dua kata itu beda sekali maknanya. Melahirkan anak mungkin lebih mudah daripada menjadi orang tua, karena menjadi orang tua membawa konsekuensi seumur hidup. Menjadi orang tua tidak hanya berarti harus menyiapkan materi, tapi juga mental, dan ilmu. Ironis sekali melihat ibu yang dengan mudah membuang bayinya, ayah yang begitu ringan tangan kepada anaknya, atau orang tua yang menghancurkan masa depan anaknya.

Sayangnya, jika orang tua bisa "memaksa" anaknya agar menjadi seperti keinginannya, anak tidak bisa memilih ingin memiliki orang tua yang seperti apa. Mereka tidak bisa memilih ingin memiliki ibu yang pandai memasak dan baik hati bak ibu peri. Mereka juga tidak bisa menghindar dari takdir jika memiliki ayah yang pemabuk, tukang marah, dan ringan tangan.