March 17, 2016

Margaretta Gauthier


Margaretta GauthierMargaretta Gauthier by Alexandre Dumas-fils
My rating: 4 of 5 stars

Bagi sebagian orang, novel roman klasik tidak menarik, karena narasi yang panjang, sedikit percakapan, dan plot yang lambat. Tapi sepertinya saya justru cocok dengan cerita-cerita semacam itu. Beberapa roman klasik yang sangat saya sukai, pernah saya rekomendasikan kepada teman-teman saya, tapi ternyata mereka tidak menyukainya. Dan sekarang, sekali lagi, sebuah roman klasik telah mengikat hati saya. Membawa saya kepada lonjakan perasaan dan membuat saya menitikkan air mata.

Kali ini kisah Margaretta yang membuat saya merasa iba. Kehidupannya yang miskin membawanya kepada jurang kenistaan. Demi mendapatkan sehelai pakaian dan sepotong roti, ia harus menjual kehormatannya. Padahal hanya kehidupan sederhana yang diidamkannya. Ia hanya mengharapkan atap untuk tempat berlindung, sehelai pakaian untuk melindungi tubuhnya, dan sepotong roti di pagi dan petang untuk mengganjal perutnya. Tapi tak ada yang mau memberikan itu kepadanya. Setidaknya dengan cara yang terhormat. Sehingga dia bersumpah, setelah menjual kehormatannya, bahwa dia akan membenci seluruh lelaki dan akan menghancurkan mereka.

Margaretta, dengan kecantikannya, menjadi seorang pelacur yang paling terkenal di Paris. Semua lelaki tunduk di hadapannya. Tetapi ia sudah bersumpah bahwa ia tidak akan memberikan hatinya kepada siapapun. Jadilah mereka semua menjadi mainannya yang dapat ia campakkan sesuka hatinya. Baginya, semua laki-laki sama. Hanya menginginkannya di saat ia cantik jelita dan memiliki kedudukan (meski itu hanya pelacur terkenal) tapi semuanya akan berbondong-bondong meninggalkannya jika semua itu sudah hilang dari tubuhnya.

Namun perjumpaannya dengan seorang pemuda membuka hatinya. Laki-laki itu bernama Armand, yang mencintai Margaretta dengan tulus bukan hanya karena kecantikannya. Di saat Margaretta sakit, hanya dialah yang setiap hari datang mengunjungi rumahnya dan bertanya kepada pelayannya tentang kondisinya. Bahkan hingga dua-tiga kali ia menanyakan kabar Margaretta kepada pelayannya.

Setelah pergulatan batin yang luar biasa di diri Margaretta, ia pun menyadari bahwa ia sangat mencintai Armand dan tidak bisa hidup tanpa dirinya. Mereka pun pergi ke sebuah desa yang jauh dari Paris untuk memulai hidup bersama. Sayangnya kebahagiaan mereka hanya bertahan selama setahun saja, karena harta yang Armand miliki mulai habis untuk kehidupan mereka sehari-hari, hingga Margaretta pun harus menggadaikan perhiasan-perhiasan miliknya bakan berhutang untuk kehidupan mereka.

Saat itulah ayah Armand datang menjemput anaknya. Tentu saja Armand menolak karena ia sangat mencintai Margaretta dan tidak sanggup hidup tanpanya. Namun setelah pertemuan kedua dengan ayahnya, ia mendapati bahwa Margaretta telah pergi meninggalkannya. Armand yang sakit hati dan cemburu menganggap bahwa Margaretta pergi karena kini ia tidak punya harta. Ia mengirimkan surat kepada perempuan itu yang isinya pasti akan ia sesali di kemudian hari.

Kenapa Margaretta pergi meninggalkan Armand? Apa benar karena Armand kini telah miskin? Apakah benar seorang pelacur macam dia tidak bisa setia dan tidak bisa mencintai seseorang dengan tulus?

Ada sebuah pola tersendiri yang khas dalam sebuah roman klasik: tragedi. Sama seperti roman-roman klasik lainnya seperti "Wuthering Heights" atau "Romeo and Juliet", cerita ini juga tentang tragedi. Tragedi yang menimpa Margaretta sejak ia muda. Seolah-olah ia hidup hanya untuk merasakan segala penderitaan yang ada di dunia. Baru saja ia merasakan cinta, tapi cinta itu harus diambil dari dirinya. Ditambah lagi, ia menderita penyakit TBC, yang di zaman itu sudah pasti hanya akan berakhir pada satu hal. Namun meskipun sering kali berakhir dengan tragedi, saya ternyata tidak bisa membenci kisah macam ini.

Di dalam cerita ini saya sungguh merasa kasihan kepada Margaretta, yang ditimpa kemalangan sepanjang hidupnya. Bagi sebagian orang, kehidupan yang tampak sederhana dan mudah dicapai oleh orang kebanyakan, memang menjadi sesuatu hal yang mahal dan mewah. Saya juga menyayangkan karena hati Margaretta terlanjur jatuh kepada Armand, yang menurut saya memiliki jiwa yang lemah. Seandainya Armand bukan berasal dari keluarga yang memiliki nama (meski sepertinya bukan bangsawan besar), tapi dari kelas orang biasa, tentu hidup mereka tidak akan sesulit itu. Armand bukan pemuda yang dididik untuk bekerja dan menghasilkan uang dari peluhnya sendiri. Ia tidak seperti Matthew di Downton Abbey yang mendapat gelar kebangsawanannya setelah ia merasakan pahit manis kehidupan sehingga terbiasa untuk bekerja dan bukan hanya hidup dari gelar kebangsawannya saja. Menurut saya, kelemahan Armand itulah yang membuat cinta menjadi lebih sulit selain karena perbedaan kedudukan sosial di antara mereka.

Cerita yang sampai di tangan saya ini adalah adaptasi dari "The Lady of Camellias" yang dialihbahasakan oleh Prof. Dr. Hamka dari bahasa Arab oleh Syaikh Mustafa Luthfi al-Manfaluthi. Dari segi bahasa, maka karya ini diterjemahkan dari bahasa kedua bukan dari sumbernya langsung. Padahal menurut kaidah penerjemahan, penerjemahan yang bukan dari bahasa sumber akan menyebabkan beberapa reduksi dari segi isinya. Saya tidak tahu seberapa banyak perbedaannya dengan versi aslinya, tapi sepertinya di awalnya cukup berbeda (setelah membaca beberapa review di Goodreads). Untungnya saya nggak bisa bahasa Prancis, jadi saya nggak rewel seperti waktu saya membaca terjemahan Indonesianya "Kitchen" Banana Yoshimoto yang jelas banget bukan diterjemahkan dari Bahasa Jepang.

Buku yang ada di tangan saya ini kertasnya sudah menguning. Sepertinya ini adalah cetakan ketujuh yang terbit tahun 1975. Bahasanya tentu saja agak berbeda dengan apa yang kita pakai saat ini, sekitar 40 tahun setelahnya. Terkadang saya berhenti sejenak ketika merasakan ada bahasa yang mengganjal, yang kini sudah jarang sekali kita pakai (kecuali mungkin yang di daerah), misalnya kata "lurah" yang berarti lembah. Selain itu, penerjemahan yang berasal dari bahasa Arab membuat saya tertegun ketika muncul kata-kata yang sangat kental makna Islamnya, seperti Allah subhanallahu wata'ala, azab, dan kalau tidak salah ada kata-kata jannatun na'im juga. Kalau itu diterjemahkan di zaman sekarang oleh penulis kontemporer, saya pasti sudah tertawa terbahak-bahak. Tapi karena ini Hamka, saya merasa tidak pantas melakukannya.

Sebagai penutup, ada satu kalimat favorit saya yang selalu saya ulang-ulang setiap kali membaca sebuah buku romantis yang penuh tragedi...

Sejak dahulu, begitulah cinta. Deritanya tiada akhir....

March 15, 2016

Ketika Takdir Merasuki Kenangan


Memory and Destiny (Amore 02)Memory and Destiny by Yunisa KD
My rating: 1 of 5 stars

Jadi gini, waktu si Maroon yang waktu itu baru sepuluh tahun, masih imut-imut najong, minta sama orang tuanya buat maen di kuburan di Enggris sonoh. Di sono, Maroon yang lagi tergila-gila sama "Phantom of the Opera" ketemu sama om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler lagi duduk melow galow di kuburan. Mereka bertatapan mata, bertukar senyum, terus pisah deh. Abis itu si Maroon balik pulang ke ibu pertiwi (ternyata doski orang endonesah cuy) sama orang tuanya dan eh si Maroon ketemu lagi sama si om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler di pesawat. Mungkin takdir.

Sesampainya di tanah ibu pertiwi, si Maroon masuk ke sekolah Indonesia. Tapi, dia yang udah kelamaan di Enggris bahasa Endonesahnya jadi kaco balo. Sayangnya, nggak ada yang bisa bantuin dia karena mama pergi papa pergi. Ada tali ku gantung diri, talinya putus digigit tikus. Kata pak camat tikusnya empat. Pak camat pulang lewat kuburan. Ada pocong berbaju putih. Putih-putih melati alibaba, merah-merah delima pinokio. *generasi 90-an*

Maroon sedih, nggak ada yang bisa bantuin dia. Saat itulah sosok om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler muncul lagi di hadapan dia. Idih, si om ini ganjen amat sih anak sepuluh tahun diintilin ke mana-mana. Pedofilkah dia? Ternyata tidak! Rupanya yang bisa melihat si om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler cuma Maroon aja. Artinya, si om ini setan yang mengikuti Maroon sejak dia maen di kuburan waktu di Enggris sana. Atau begitulah pikir orang tua Maroon yang karena takut anaknya kesurupan, akhirnya dipanggillah segala jenis pengusir setan, mulai dari pastor, ahli feng shui, sampe dukun beranak (kagak pake beranak sik, dukun doang).

Tapi si om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler yang ternyata invisible sama orang-orang di sekitar Maroon ini ternyata nggak mau pergi. Dia masih betah maen sama Maroon. Si om sebenernya berguna kok, soalnya dia bantuin Maroon belajar bahasa endonesah bahkan bantuin Maroon ngasih CPR ke bapaknya Maroon waktu si bapake tiba-tiba kena serangan jantung.

Yang bisa mengusir si om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler-yang-ternyata-invisible itu ternyata pocong! Iya, si pocong yang ketemu sama pak camat, yang bilang kalo tikus yang gigit tali bocah yang mau gantung diri itu ada empat. Si poconglah yang berhasil mengembalikan si om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler-yang-ternyata-invisible itu ke dunianya. Emang hantu Indonesia nggak ada matinye. Jangan maen-maen lu! Enak aja dari luar negeri mau ambil wilayah kekuasaan orang. Berantem deh mereka, sampe si Maroon kena demam tinggi dan besokannya si om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler-yang-ternyata-invisible itu menghilang dari pandangannya.

Tapi tenang, soalnya di masa yang akan datang mereka bakalan ketemu lagi. Dan si om-om-ganteng-duapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler-yang-ternyata-invisible itu berubah menjadi om-om-ganteng-tigapuluhlimataun-perpaduan-ken-si-barbie-sama-rhett-butler-yang-sekarang-visible.

Lantas, bagaimanakah kelanjutan misteri antara Maroon dan si om yang telah saling menghantui selama satu dekade itu? Apakah akhirnya cinta akan merasuki dua insan yang dipisahkan oleh ruang, waktu, dan dunia itu? Lalu, kenapa Maroon takut lewat kuburan lagi? Apakah ada hubungannya dengan si pocong berbaju putih yang bertemu dengan pak camat?

Silakan baca sendiri kalau Anda berani.

Kalau saya sih udah lambai-lambai tangan ke kamera. Karena takut kena penuaan dini, akibat bibir yang selalu tertarik ke bawah dan mata yang selalu memicing, ketika membaca cerita ini, saya memutuskan untuk bacanya ala orang kerasukan. Sungguh saya merasa empati dengan editor novel ini. Semoga beliau tidak terkena penuaan dini karena harus membaca ceritanya berkali-kali.

Ngomong-ngomong, kenapa sih dari tadi saya bawa-bawa hal-hal mistis macam itu? Soalnya si penulis demen banget pake kata-kata itu. Mungkin obsesinya mau bikin cerita horor belum kesampean kalik? Meskipun bagi pembacanya, cerita ini adalah horor yang akan menghantui sepanjang hidup *lebay*

Lagipula, saya juga nggak habis pikir kenapa buku ini sampai ada di tangan saya... Mungkin saya sedang kerasukan saat itu? Hingga tangan saya terulur untuk mengambil buku seharga 7.500 rupiah yang lagi obral di Gramed Matraman ini dan bukannya mengambil komik Doraemon yang lagi diskon gocengan. Ya, mungkin itu jawabannya.

Kalau saya percaya bahwa buku itu memiliki destiny dengan pemiliknya, maka saya akan memutuskan tali destiny itu. Baik dengan saya maupun orang-orang setelah saya. *nyalain korek*

June 26, 2014

Antologi Rasa, Yang Rasanya.....

Antologi Rasa by Ika Natassa
My rating: 1 of 5 stars

Kenapa saya malas baca teenlit, chicklit, atau metropop karya penulis Indonesia? Jawabannya adalah karena saya merasa tidak bisa menghubungkan apa yang mereka alami dengan apa yang saya alami dalam kehidupan saya. Tokoh-tokoh dalam banyak novel semacam itu biasanya adalah orang-orang super kaya, dengan kehidupan hedonisme tingkat tinggi, yang tidak bisa dibayangkan oleh rakyat jelata seperti saya.

Orang-orang seperti ini hobinya pipis di Singapur, kalau saya bilang. Mereka biasa mengeluarkan uang jutaan, seperti lagi ngasih uang receh ke tukang parkir. Nggak pakai mikir. Gajinya delapan digit, tapi suka menghina-hina diri sebagai kacung yang menderita luar biasa di bawah tekanan atasannya. Maaf, saya memang nggak paham pekerjaan mereka seperti apa, tapi saya sama sekali tidak bisa bersimpati. Kalau memang merasa jadi kacung, ya sudah keluar saja. Uang puluhan juta yang kalian terima itu setara dengan gaji saya selama hampir 10 bulanan. Kalian dengan mudahnya keluar dan membuka usaha baru. Bersyukurlah.

Belum lagi orang-orang di novel ini biasanya lupa cara ngomong pakai bahasa Indonesia. Ngomong sama teman sendiri hampir selalu pakai bahasa Inggris. Yah, saya sebagai orang yang paham bahasa asing, terkadang juga suka ngomong pakai bahasa jepang sama temen-temen saya yang satu frekuensi. Tapi nggak setiap saat. Dan biasanya ngomong pakai bahasa itu adalah semacam kode, ketika kami tidak ingin pembicaraan itu diketahui orang lain. Cuma, ketika bahasa asing itu begitu berlebihan intensitasnya, dan dibawa masuk ke dalam novel Indonesia, yang semua tokohnya orang Indonesia, maaf, saya tidak suka. Bagi saya, bahasa menunjukkan kepribadian dan juga kebanggaan terhadap negara kita, sebuah elemen penting yang menyatukan bangsa.

Yak, semua hal di atas adalah penyebab yang membuat saya tidak menyukai novel "Antologi Rasa" karya Ika Natassa. Ini adalah novel pertama Ika yang saya baca, dan saya tidak suka dengan ceritanya.

Saya tidak suka dengan tokoh-tokohnya, khususnya si cewek itu, siapa namanya? Ah, Keara. Dia itu hedon luar biasa, maklum lulusan luar negeri (yang kayaknya kuliahnya dibiayain sendiri) makanya kelakuannya begitu. Buat saya, tokoh yang ini sangat tidak menyenangkan. Di luar sikap hedon, kehidupan pergaulan bebas, dsb. yang dia anut, saya juga tidak suka dengan sikap dia kepada sahabatnya, si Harris, setelah mereka nggak sengaja bobok bareng waktu di Singapur berdua. Padahal... kesalahan di hari itu adalah salah mereka berdua! Bahkan! Kalau mau dirunut lagi, jelas-jelas itu salahnya Key, karena dia duluan yang nyosor si Harris pas lagi mabok karena galau mikirin cowok laen. Eh, besokannya dia ngamuk-ngamuk sama sahabatnya itu. Dia nggak mau nerima maaf (apalagi minta maaf), nganggep si Harris brengsek dan memanfaatkan persahabatan mereka, lalu hubungan mereka putus. Cih.

Heran sama si Key ini. Lo bisa tidur sama banyak cowok dengan mudahnya, padahal abis itu juga putus sama mereka. Dan ngeliat kehidupan dia yang kayak gitu, nggak heran lagi deh kalo dia pernah melakukan "one night stand"--berdiri semalaman. Lha terus, ketika lo melakukannya dengan sahabat lo sendiri, kenapa lo nggak bisa maafin, hah? Padahal lo udah dewasa, bisa-bisanya nyalahin orang lain atas kesalahan yang dilakukan diri sendiri! *ceritanya esmosi*

Oh iya, si Key ini jatuh cinta sama Ruly, cowok sederhana (tapi gajinya sama-sama puluhan juta) yang agak alim (karena Key pernah liat dia sholat Shubuh di apartemennya, setelah dia nganterin Key yang abis mabok-mabokan sama Harris), tapi ternyata ke belakangnya juga brengsek. Ha!

Opposite attraction? Yeah, maybe. Atau mungkin Key hanya terobsesi, karena dia belum pernah melihat cowok semacam Ruly takluk pada pesonanya.

Satu-satunya tokoh yang bikin saya simpati adalah Harris. Kasian, perasaan tulusnya ke Key dibalas air tuba. Pengorbanan Harris selama ini, beliin sarapan tiap pagi, nemenin Key kalo lagi mutung, jadi tempat sampahnya Key, hingga bantuin Key buat putus sama pacar-pacar brengseknya, buyar hanya dalam semalam. Ironisnya, itu nggak sepenuhnya kesalahan dia. Pukpuk Harris...

Setelah halaman berapa ratusan, saya merasa luar biasa bosan, dan skip sebagian besar ceritanya. Terutama ketika bagian Key dan Ruly. Bagian Harris masih lumayan dibaca. Endingnya? EWH. Mungkin mau membuat kesan misterius atau pesan bahwa kehidupan itu memang absurd seperti itu, tapi hhhmmm.... hhhhmmm..... HHHHHMMMMMMMMMMM!!!

Ah, sudahlah. Sebelum saya misuh-misuh lebih panjang, dan digetokin penggemarnya buku ini (yang kayaknya banyak, karena ratingnya bagus di GR), lebih baik saya sudahi saja review kali ini. Entahlah, sepertinya saya tidak mau lagi membaca karya Ika, apalagi kalau temanya masih seperti ini. Sekian.

*Ditulis di tengah malam (2.03), ketika terserang insomnia mendadak*