November 23, 2016

Mencari Keping Kebahagiaan di Tanah Lada


Di Tanah Lada by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
My rating: 2 of 5 stars

Salah satu gaya bercerita yang tidak terlalu saya sukai adalah gaya bercerita dari sudut pandang orang pertama. Apalagi jika kemudian si penulis terlalu berlebihan dalam mengeksplor isi hati si tokoh utamanya, sehingga membuat saya gregetan dan ingin melempar bukunya. Ini misalnya seperti ketika saya membaca Mockingjay atau novel-novel Metropop yang terlalu cantik-tampan-jelita atau terlalu bling-bling. Namun, saya tidak memiliki masalah jika meskipun si penulis bercerita dengan sudut pandang orang pertama tapi dia berlaku sebagai pengamat sekitarnya, seperti dalam tetralogi Laskar Pelangi.

Buku ini sebenarnya ada di kategori kedua. Meskipun Salva adalah penutur cerita, tapi perasaannya tidak mendominasi isi cerita. Hanya pikirannya saja yang bermain di sini. Itu adalah nilai lebih, karena saya melihat Ava adalah seorang pengamat yang sangat baik. Sayangnya, dalam berbagai kesempatan, saya kehilangan jejak bahwa Ava adalah seorang anak kecil berusia enam tahun yang begitu dimanja ibunya (karena dia tidak bisa makan dan mandi sendiri), tapi saya justru merasa sedang berhadapan dengan orang yang sudah lebih besar dari Ava.

Walaupun saya sempat merasakan kesulitan dalam menyelami karakter Ava, tapi sesungguhnya saya menyukai cerita ini. Karakter favorit saya adalah P dan Mas Alri. Saya tidak bisa menyukai Ava secara penuh, karena kesulitan untuk menyelami karakternya itu. Saya juga tidak terlalu menyukai Ibu Ava, yang begitu tabah (?) menerima penganiayaan dari suaminya, bahkan sejak sebelum Ava lahir. Entah apa yang ada di benak perempuan itu sehingga mempertahankan pernikahannya selama itu? Sedangkan sejak awal mengandung Ava, sudah jelas sekali bahwa suaminya tidak menginginkan anak mereka dan menganggap Ava bukan anaknya. Itu bisa terlihat dari si suami yang mau menamai anaknya Saliva karena menganggapnya tidak berguna. Jelas sekali kan, kalau tidak ada cinta bahkan kepada si jabang bayi yang baru lahir itu? Dan setelah beberapa tahun berjalan, seharusnya si Mama semakin memahami itu. Tapi ia memilih untuk bertahan. Apa yang menyebabkannya mempertahankan pernikahan yang sudah tidak punya masa depan dan sudah hampir tidak mungkin diperbaiki itu?




Mungkin benar apa yang dikatakan P (kalau nggak salah), bahwa dulu si Mama tinggal di rumah bagus dan segala kebutuhannya terpenuhi, meskipun suaminya tidak menyayangi dia dan anaknya jadi sayang kalau bercerai. Sedangkan sekarang, mereka sudah tidak punya apa-apa lagi. Sudah tinggal di rusun jelek, uang menipis, ditambah lagi dengan kelakuan suaminya yang semakin gila judi. Jadi, sudah tidak ada lagi yang pantas buat diperjuangkan dan dipertahankan, kan? Saya jadi ingat, ada seorang perempuan yang tidak mau cerai dari suaminya karena ia tidak mau "turun jabatan", dari yang tadinya biasa pakai mobil jadi harus jalan kaki, dari makan daging setiap hari jadi harus makan dagingnya seminggu sekali. Atau seorang teman yang memikirkan untuk kembali ke suaminya karena setelah mereka cerai, si suami jadi sering menghujaninya dengan perhatian dan uang dan hadiah (padahal ketika mereka menikah si suami sering selingkuh dan nggak begitu peduli sama istrinya). Lalu seorang teman yang sering menjadi tempat konsultasi rumah tangga berkata, "Saya nggak bisa maksa mereka cerai, karena saya nggak bisa ngasih mereka mobil dan uang." Rupanya faktor ekonomi memang sangat berpengaruh dalam membolak-balikkan perasaan, ya? Soalnya, cinta saja memang nggak cukup buat ngasih makan, sih. Harus ada rangga yang juga berjuang menjual puisi, foto, dan kopi di negeri orang.... #halah

Tadinya saya mau memberikan tiga bintang untuk cerita ini, tapi urung setelah saya menamatkan bukunya. Cara penulis mengakhiri cerita ini membuat saya kecewa, karena setelah dibawa dalam sebuah perjalanan yang berbatu dan berduri di awal, lalu menemukan secercah harapan yang kemudian harapan itu semakin besar, tapi ketika ada di persimpangan jalan antara cahaya dan kegelapan, penulis memilih akhir yang gelap untuk menamatkan ceritanya. Ketika pembaca mulai memiliki "faith in humanity", tiba-tiba dijorogin ke dunia tempat kita jadi "lost faith in humanity". Jadi, ya, begitulah. Dua bintang saja untuk kisah Salt dan Pepper yang menggunakan bahasa yang indah dan terangkai dengan sangat baik ini.

No comments:

Post a Comment

November 23, 2016

Mencari Keping Kebahagiaan di Tanah Lada


Di Tanah Lada by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
My rating: 2 of 5 stars

Salah satu gaya bercerita yang tidak terlalu saya sukai adalah gaya bercerita dari sudut pandang orang pertama. Apalagi jika kemudian si penulis terlalu berlebihan dalam mengeksplor isi hati si tokoh utamanya, sehingga membuat saya gregetan dan ingin melempar bukunya. Ini misalnya seperti ketika saya membaca Mockingjay atau novel-novel Metropop yang terlalu cantik-tampan-jelita atau terlalu bling-bling. Namun, saya tidak memiliki masalah jika meskipun si penulis bercerita dengan sudut pandang orang pertama tapi dia berlaku sebagai pengamat sekitarnya, seperti dalam tetralogi Laskar Pelangi.

Buku ini sebenarnya ada di kategori kedua. Meskipun Salva adalah penutur cerita, tapi perasaannya tidak mendominasi isi cerita. Hanya pikirannya saja yang bermain di sini. Itu adalah nilai lebih, karena saya melihat Ava adalah seorang pengamat yang sangat baik. Sayangnya, dalam berbagai kesempatan, saya kehilangan jejak bahwa Ava adalah seorang anak kecil berusia enam tahun yang begitu dimanja ibunya (karena dia tidak bisa makan dan mandi sendiri), tapi saya justru merasa sedang berhadapan dengan orang yang sudah lebih besar dari Ava.

Walaupun saya sempat merasakan kesulitan dalam menyelami karakter Ava, tapi sesungguhnya saya menyukai cerita ini. Karakter favorit saya adalah P dan Mas Alri. Saya tidak bisa menyukai Ava secara penuh, karena kesulitan untuk menyelami karakternya itu. Saya juga tidak terlalu menyukai Ibu Ava, yang begitu tabah (?) menerima penganiayaan dari suaminya, bahkan sejak sebelum Ava lahir. Entah apa yang ada di benak perempuan itu sehingga mempertahankan pernikahannya selama itu? Sedangkan sejak awal mengandung Ava, sudah jelas sekali bahwa suaminya tidak menginginkan anak mereka dan menganggap Ava bukan anaknya. Itu bisa terlihat dari si suami yang mau menamai anaknya Saliva karena menganggapnya tidak berguna. Jelas sekali kan, kalau tidak ada cinta bahkan kepada si jabang bayi yang baru lahir itu? Dan setelah beberapa tahun berjalan, seharusnya si Mama semakin memahami itu. Tapi ia memilih untuk bertahan. Apa yang menyebabkannya mempertahankan pernikahan yang sudah tidak punya masa depan dan sudah hampir tidak mungkin diperbaiki itu?




Mungkin benar apa yang dikatakan P (kalau nggak salah), bahwa dulu si Mama tinggal di rumah bagus dan segala kebutuhannya terpenuhi, meskipun suaminya tidak menyayangi dia dan anaknya jadi sayang kalau bercerai. Sedangkan sekarang, mereka sudah tidak punya apa-apa lagi. Sudah tinggal di rusun jelek, uang menipis, ditambah lagi dengan kelakuan suaminya yang semakin gila judi. Jadi, sudah tidak ada lagi yang pantas buat diperjuangkan dan dipertahankan, kan? Saya jadi ingat, ada seorang perempuan yang tidak mau cerai dari suaminya karena ia tidak mau "turun jabatan", dari yang tadinya biasa pakai mobil jadi harus jalan kaki, dari makan daging setiap hari jadi harus makan dagingnya seminggu sekali. Atau seorang teman yang memikirkan untuk kembali ke suaminya karena setelah mereka cerai, si suami jadi sering menghujaninya dengan perhatian dan uang dan hadiah (padahal ketika mereka menikah si suami sering selingkuh dan nggak begitu peduli sama istrinya). Lalu seorang teman yang sering menjadi tempat konsultasi rumah tangga berkata, "Saya nggak bisa maksa mereka cerai, karena saya nggak bisa ngasih mereka mobil dan uang." Rupanya faktor ekonomi memang sangat berpengaruh dalam membolak-balikkan perasaan, ya? Soalnya, cinta saja memang nggak cukup buat ngasih makan, sih. Harus ada rangga yang juga berjuang menjual puisi, foto, dan kopi di negeri orang.... #halah

Tadinya saya mau memberikan tiga bintang untuk cerita ini, tapi urung setelah saya menamatkan bukunya. Cara penulis mengakhiri cerita ini membuat saya kecewa, karena setelah dibawa dalam sebuah perjalanan yang berbatu dan berduri di awal, lalu menemukan secercah harapan yang kemudian harapan itu semakin besar, tapi ketika ada di persimpangan jalan antara cahaya dan kegelapan, penulis memilih akhir yang gelap untuk menamatkan ceritanya. Ketika pembaca mulai memiliki "faith in humanity", tiba-tiba dijorogin ke dunia tempat kita jadi "lost faith in humanity". Jadi, ya, begitulah. Dua bintang saja untuk kisah Salt dan Pepper yang menggunakan bahasa yang indah dan terangkai dengan sangat baik ini.

No comments:

Post a Comment