November 11, 2016

Ketika Cinta Direkayasa


My rating: 1 of 5 stars

Jadi akhir-akhir ini kerjaan gue adalah ngebukain iJak terus donlotin novel-novel yang sejak pertama kali gue unduh aplikasi ini selalu ada di laman paling atas. Gue pikir, mungkin itu adalah novel-novel yang paling banyak dipinjem sama orang-orang. Soalnya rata-rata udah nggak ada stok dan antreannya bejibun. Novel-novel itu adalah "Critical Eleven", "In a Blue Moon", "Not a Perfect Wedding", "Stay with Me Tonight", dll. Gue sempet menggumam, "Gile! Itu novel apaan sih, nongol di tempat teratas mulu?! Novel enggris ya?" Ternyata eh ternyata, semuanya novel endonesah sodara-sodara! Gue pun kembali tersadar kalau sekarang menjuduli novel karya orang Indonesia dengan judul Bahasa Inggris sudahlah menjadi sebuah fenomena.

Nah, karena saban ari tiap buka iJak gue disuguhin sama begituan, ya gue penasaran lah jadinya. Mana novel-novel yang mau gue pinjem rata-rata emang pada belom muncul di sana. Suatu hari, iseng-isenglah gue membuka judul-judul di atas satu per satu, dan yes! gue beruntung karena masih mendapatkan salinannya tanpa perlu mengantre! Jadilah tiga dari empat judul di atas gue unduh secara bergantian lalu gue baca.

Sialnya ya, tiga novel di atas yang gue baca itu (kecuali "In a Blue Moon" yang belum gue pinjem), punya tema yang mirip-mirip. Jadi gue eneg begitu sampai di novel terakhir. Ya yang ini nih. Emang ye, selera gue suka berlawanan sama khalayak ramai. Makanya kalo gue suka skeptis liat review orang tuh bukannya gimana begimana. Dari pengalaman emang begitu adanya dan pengalaman adalah guru yang terbaik, bukan?

Bijaklah bule yang membuat peribahasa "curiosity can kill a cat" karena itulah yang gue alami setelah baca novel ini. Gue, si kucing oon ini, terbunuh karena rasa ingin tahu gue, sekaligus kehilangan waktu tidur gue karena membaca novel ini. Bukan, bukan karena novelnya terlalu menarik untuk dilepaskan, tapi karena gue yakin, begitu gue berhenti baca dan lanjut buat esok hari, maka gue pasti gak bakalan lanjut baca lagi.


Persamaan novel ini dengan dua novel lainnya sama-sama membesarkan tragedi, dengan cara yang menyebalkan karena terlalu dibedakgincui. Khususnya sih persamaannya sama "Critical Eleven" ya, karena kalau "Stay with Me Tonight" tuh sebenernya gue berasa kayak lagi baca fanficnya Dramione, love-hate relationship gitu. Hahaha

Tragedi di novel ini apa, lo bisa baca dah di sinopsinya. Intinya sepasang lelaki dan perempuan terpaksa menikah karena si mempelai pria meninggal dunia karena kecelakaan tepat sehari sebelum pernikahan dan sebelum menghembuskan napas terakhirnya, si mempelai pria minta kepada kakaknya untuk menjaga kekasihnya itu untuk selamanya. Tragis banget kan!

Sebenernya nggak masalah sih kayak gitu, cuma yang jadi masalah adalah ketika si mempelai perempuan nggak tau kalau calonnya udah meninggal dan waktu di hari H, pernikahan tetap dilaksanakan tanpa si perempuan tahu kalau dia menikahi orang lain hingga prosesi ijab kabul selesai! Itu penipuan nggak sih namanya? Bisa dilaporin tuh. Kalo gue sih, ya, pasti bakalan ngamuk-ngamuk dan langsung minta cerai saat itu juga. Udah dinikahin sama orang yang nggak dikenal (emang kakaknya si cowok sih, tapi karena tinggal di enggris jadi mereka nggak pernah ketemu sebelumnya), terus abis itu tau kalau ternyata calon suaminya yang sangat dicintainya meninggal dunia. Jadi, ya wajar buanget lah kalau si Raina (ini nama si ceweknya) depresi luar biasa sampai coba bunuh diri. Meskipun Pram (ini nama kakak si cowoknya Raina yang meninggal, yang jadi suaminya Raina) juga sama-sama kehilangan Raka (nah ini nama si cowok yang meninggal) dan sangat berduka cita, tapi buat gue apa yang dialami Raina jauh lebih berat. Karena Pram menikahi Raina secara suka rela setelah mendengar permohonan terakhir adiknya, sementara Raina tidak dan baru mengetahui hal itu setelah mereka sah jadi suami istri.

Buat gue, semua orang dari keluarga Raka dan Raina semuanya egois! Mereka sama sekali nggak memperhatikan perasaan Raina yang udah nggak bisa lihat saat terakhir calon suaminya, terus dinikahin pula sama kakak si calon suaminya yang baru dikenalnya itu. Ya kalo emang Raka minta Pram buat jagain Raina selamanya ya caranya nggak gitu juga, keles! Kan bisa dimulai dengan cara menangisi duka masing-masing lalu belajar menerimanya bersama-sama. Nggak harus dengan cara jadi suami istri dulu, tapi bisa dengan cara mengenal satu sama lain lebih dekat dulu. Ya okelah si Pram emang rasa tanggung jawabnya tinggi karena merasa itu permintaan terakhir adiknya, tapi menurut gue itu nggak harus dilakukan dengan cara langsung menikah saat itu juga. Mungkin sayang kali ya, segala persiapan udah dibikin, eh nikahnya batal. Takut jadi aib apa ya??? Ah tapi ya sudahlah, ternyata emang ini novel masuk seri "Le Marriage" kalo kata orang-orang. Yang jelas, kalau kebanyakan orang benci sama karakter Raina yang manja dan labil, gue malah bisa bersimpati dan bisa melihat diri gue melakukan hal-hal yang dilakukan olehnya (minus mencoba bunuh diri).

Hal lainnya yang nggak gue suka dari novel ini adalah peristiwa tragis Raka cuma jadi tempelan aja. Kalo gue baca sinopsisnya, gue berharap Raka bakal lebih banyak nongol di cerita, khususnya dalam bentuk memori Raina dan Pram. Gue rasa kalau itu ada, itu bakalan mempermudah proses kedua orang ini untuk sama-sama menerima kepergian Raka. Misalnya, Pram akan menceritakan bagaimana adiknya itu di matanya karena mereka tumbuh bersama, dan Raina akan menceritakan Raka yang dikenalnya selama dua tahun ketika Pram ada di Inggris sana. Mereka lalu bisa menangis bersama dan membasuh luka hati itu sama-sama. Tapi kasihan, Raka cuma tempelan. Kisah ini adalah milik Raina dan Pram, bukan kisah Raka, Raina, dan Pram. Raka harus tega dibunuh dengan tragis di awal cerita demi jalannya kisah cinta Raina dan Pram. Hal ini membuat gue merasa bagian akhir cerita jadi terasa aneh karena proses penyembuhan luka itu nggak digambarkan di sini.

Gue juga nggak suka dengan candaan-candaan di novel ini setelah Raina dan Pram baru saja menikah, tepat setelah Raka meninggal dunia. Okelah penulis bilang itu adalah cara mereka merelakan kepergian Raka, tapi buat gue itu nggak lucu, nggak sensitif, dan merusak suasana sedih yang sejak awal buat gue sudah gagal dibangun.

Gue juga merasa janggal dengan penyebutan nama kedua orang tua Raina dan Pram yang sering kali memang disebutkan dengan nama mereka di novel ini. Buat gue, itu merusak penokohan mereka dan membuat gue gagal melihat empat orang itu sebagai sosok orang tua. Perpindahan alur cerita juga nggak begitu halus, karena misalnya di awal lagi cerita soal Raina dan Pram, eh ujug-ujug pindah ke kakaknya Raina. Selain itu masih ada cukup banyak typo dan kesalahan EYD di sini.

Udah ah, segitu aja (padahal udah panjang... hahaha). Gue harus merapel tidur malam gue yang berkurang drastis dan gue mungkin mau berhenti baca cerita macem-macem begini dulu sebentar. Tapi sebenernya gue penasaran sama "Jodoh untuk Naina" sih, karena judulnya pake bahasa Indonesia. Mwahahahaaa *eror*

No comments:

Post a Comment

November 11, 2016

Ketika Cinta Direkayasa


My rating: 1 of 5 stars

Jadi akhir-akhir ini kerjaan gue adalah ngebukain iJak terus donlotin novel-novel yang sejak pertama kali gue unduh aplikasi ini selalu ada di laman paling atas. Gue pikir, mungkin itu adalah novel-novel yang paling banyak dipinjem sama orang-orang. Soalnya rata-rata udah nggak ada stok dan antreannya bejibun. Novel-novel itu adalah "Critical Eleven", "In a Blue Moon", "Not a Perfect Wedding", "Stay with Me Tonight", dll. Gue sempet menggumam, "Gile! Itu novel apaan sih, nongol di tempat teratas mulu?! Novel enggris ya?" Ternyata eh ternyata, semuanya novel endonesah sodara-sodara! Gue pun kembali tersadar kalau sekarang menjuduli novel karya orang Indonesia dengan judul Bahasa Inggris sudahlah menjadi sebuah fenomena.

Nah, karena saban ari tiap buka iJak gue disuguhin sama begituan, ya gue penasaran lah jadinya. Mana novel-novel yang mau gue pinjem rata-rata emang pada belom muncul di sana. Suatu hari, iseng-isenglah gue membuka judul-judul di atas satu per satu, dan yes! gue beruntung karena masih mendapatkan salinannya tanpa perlu mengantre! Jadilah tiga dari empat judul di atas gue unduh secara bergantian lalu gue baca.

Sialnya ya, tiga novel di atas yang gue baca itu (kecuali "In a Blue Moon" yang belum gue pinjem), punya tema yang mirip-mirip. Jadi gue eneg begitu sampai di novel terakhir. Ya yang ini nih. Emang ye, selera gue suka berlawanan sama khalayak ramai. Makanya kalo gue suka skeptis liat review orang tuh bukannya gimana begimana. Dari pengalaman emang begitu adanya dan pengalaman adalah guru yang terbaik, bukan?

Bijaklah bule yang membuat peribahasa "curiosity can kill a cat" karena itulah yang gue alami setelah baca novel ini. Gue, si kucing oon ini, terbunuh karena rasa ingin tahu gue, sekaligus kehilangan waktu tidur gue karena membaca novel ini. Bukan, bukan karena novelnya terlalu menarik untuk dilepaskan, tapi karena gue yakin, begitu gue berhenti baca dan lanjut buat esok hari, maka gue pasti gak bakalan lanjut baca lagi.


Persamaan novel ini dengan dua novel lainnya sama-sama membesarkan tragedi, dengan cara yang menyebalkan karena terlalu dibedakgincui. Khususnya sih persamaannya sama "Critical Eleven" ya, karena kalau "Stay with Me Tonight" tuh sebenernya gue berasa kayak lagi baca fanficnya Dramione, love-hate relationship gitu. Hahaha

Tragedi di novel ini apa, lo bisa baca dah di sinopsinya. Intinya sepasang lelaki dan perempuan terpaksa menikah karena si mempelai pria meninggal dunia karena kecelakaan tepat sehari sebelum pernikahan dan sebelum menghembuskan napas terakhirnya, si mempelai pria minta kepada kakaknya untuk menjaga kekasihnya itu untuk selamanya. Tragis banget kan!

Sebenernya nggak masalah sih kayak gitu, cuma yang jadi masalah adalah ketika si mempelai perempuan nggak tau kalau calonnya udah meninggal dan waktu di hari H, pernikahan tetap dilaksanakan tanpa si perempuan tahu kalau dia menikahi orang lain hingga prosesi ijab kabul selesai! Itu penipuan nggak sih namanya? Bisa dilaporin tuh. Kalo gue sih, ya, pasti bakalan ngamuk-ngamuk dan langsung minta cerai saat itu juga. Udah dinikahin sama orang yang nggak dikenal (emang kakaknya si cowok sih, tapi karena tinggal di enggris jadi mereka nggak pernah ketemu sebelumnya), terus abis itu tau kalau ternyata calon suaminya yang sangat dicintainya meninggal dunia. Jadi, ya wajar buanget lah kalau si Raina (ini nama si ceweknya) depresi luar biasa sampai coba bunuh diri. Meskipun Pram (ini nama kakak si cowoknya Raina yang meninggal, yang jadi suaminya Raina) juga sama-sama kehilangan Raka (nah ini nama si cowok yang meninggal) dan sangat berduka cita, tapi buat gue apa yang dialami Raina jauh lebih berat. Karena Pram menikahi Raina secara suka rela setelah mendengar permohonan terakhir adiknya, sementara Raina tidak dan baru mengetahui hal itu setelah mereka sah jadi suami istri.

Buat gue, semua orang dari keluarga Raka dan Raina semuanya egois! Mereka sama sekali nggak memperhatikan perasaan Raina yang udah nggak bisa lihat saat terakhir calon suaminya, terus dinikahin pula sama kakak si calon suaminya yang baru dikenalnya itu. Ya kalo emang Raka minta Pram buat jagain Raina selamanya ya caranya nggak gitu juga, keles! Kan bisa dimulai dengan cara menangisi duka masing-masing lalu belajar menerimanya bersama-sama. Nggak harus dengan cara jadi suami istri dulu, tapi bisa dengan cara mengenal satu sama lain lebih dekat dulu. Ya okelah si Pram emang rasa tanggung jawabnya tinggi karena merasa itu permintaan terakhir adiknya, tapi menurut gue itu nggak harus dilakukan dengan cara langsung menikah saat itu juga. Mungkin sayang kali ya, segala persiapan udah dibikin, eh nikahnya batal. Takut jadi aib apa ya??? Ah tapi ya sudahlah, ternyata emang ini novel masuk seri "Le Marriage" kalo kata orang-orang. Yang jelas, kalau kebanyakan orang benci sama karakter Raina yang manja dan labil, gue malah bisa bersimpati dan bisa melihat diri gue melakukan hal-hal yang dilakukan olehnya (minus mencoba bunuh diri).

Hal lainnya yang nggak gue suka dari novel ini adalah peristiwa tragis Raka cuma jadi tempelan aja. Kalo gue baca sinopsisnya, gue berharap Raka bakal lebih banyak nongol di cerita, khususnya dalam bentuk memori Raina dan Pram. Gue rasa kalau itu ada, itu bakalan mempermudah proses kedua orang ini untuk sama-sama menerima kepergian Raka. Misalnya, Pram akan menceritakan bagaimana adiknya itu di matanya karena mereka tumbuh bersama, dan Raina akan menceritakan Raka yang dikenalnya selama dua tahun ketika Pram ada di Inggris sana. Mereka lalu bisa menangis bersama dan membasuh luka hati itu sama-sama. Tapi kasihan, Raka cuma tempelan. Kisah ini adalah milik Raina dan Pram, bukan kisah Raka, Raina, dan Pram. Raka harus tega dibunuh dengan tragis di awal cerita demi jalannya kisah cinta Raina dan Pram. Hal ini membuat gue merasa bagian akhir cerita jadi terasa aneh karena proses penyembuhan luka itu nggak digambarkan di sini.

Gue juga nggak suka dengan candaan-candaan di novel ini setelah Raina dan Pram baru saja menikah, tepat setelah Raka meninggal dunia. Okelah penulis bilang itu adalah cara mereka merelakan kepergian Raka, tapi buat gue itu nggak lucu, nggak sensitif, dan merusak suasana sedih yang sejak awal buat gue sudah gagal dibangun.

Gue juga merasa janggal dengan penyebutan nama kedua orang tua Raina dan Pram yang sering kali memang disebutkan dengan nama mereka di novel ini. Buat gue, itu merusak penokohan mereka dan membuat gue gagal melihat empat orang itu sebagai sosok orang tua. Perpindahan alur cerita juga nggak begitu halus, karena misalnya di awal lagi cerita soal Raina dan Pram, eh ujug-ujug pindah ke kakaknya Raina. Selain itu masih ada cukup banyak typo dan kesalahan EYD di sini.

Udah ah, segitu aja (padahal udah panjang... hahaha). Gue harus merapel tidur malam gue yang berkurang drastis dan gue mungkin mau berhenti baca cerita macem-macem begini dulu sebentar. Tapi sebenernya gue penasaran sama "Jodoh untuk Naina" sih, karena judulnya pake bahasa Indonesia. Mwahahahaaa *eror*

No comments:

Post a Comment