December 2, 2013

Hansel and Gretel


Hansel dan Gretel by Jacob Grimm
My rating: 4 of 5 stars

Tahukah Anda kalau salah satu saudara tiri Cinderella, atau yang berdasarkan kisah aslinya bernama Ashcenputtel, sengaja memotong ibu jarinya supaya bisa muat ke dalam sepatu emas (bukan sepatu kaca) milik Ashcenputtel karena ia ingin bersanding dengan pangeran?

Tahukah Anda kalau pangeran yang memanjat dinding Rapunzel untuk menyelamatkan gadis cantik itu awalnya tidak berhasil, lalu jatuh dan menjadi buta?

Tahukah Anda kalau sebenarnya Putri Salju (yang di dalam cerita disebut dengan Snow White, padahal saya pikir nama Putri Salju sudah familiar di Indonesia) bukan dibangunkan oleh ciuman pangeran, tapi karena apel beracun yang dimakannya keluar dari tenggorokannya ketika peti matinya tiba-tiba terjatuh ketika mau dinaikkan ke atas kuda pangeran? Dan saya pikir pangeran itu pasti sudah gila karena jatuh cinta pada putri yang sudah mati, bahkan berniat membawa petinya ke kerajaannya untuk dikagumi setiap harinya. Lalu, tahukah Anda kalau ibu tiri Putri Salju dipaksa untuk mengenakan sepatu yang terbuat dari besi panas dan harus menari sampai mati?

Pasti banyak di antara kita yang tidak tahu, seperti juga saya sebelum membaca kisah asli dari dongeng-dongeng yang dikumpulkan oleh Grimm Bersaudara ini. Ada 19 buah dongeng di dalam buku ini, jumlah yang masih sangat kecil dibandingkan dongeng asli yang dikumpulkan oleh Grimm Bersaudara, yang jumlahnya mencapai 200-an. Namun dongeng-dongeng ini cukup untuk memberikan kita gambaran betapa selama ini kita telah tertipu oleh gambaran "Hidup bahagia untuk selamanya" yang dipopulerkan oleh kisah-kisah dongeng dari Disney, dan tidak tahu kisah sebenarnya di balik dongeng-dongeng ini.

Misalnya saja kisah Putri Duyung yang sebenarnya tragis dan sama sekali tidak berakhir bahagia. Atau kisah Putri Tidur yang juga sama mengerikannya. Ya, dongeng-dongeng jaman dulu memang tidak selalu berakhir bahagia, bahkan justru lebih banyak kemalangan dan tragedi di dalamnya. Tidak hanya di Eropa sana, tapi juga di Indonesia. Tentu kita sudah mengenal bagaimana kisah Tangkuban Perahu, Malin Kundang, atau Danau Toba yang sama sekali tidak berakhir dengan "hidup bahagia untuk selamanya". Namun saya pikir, dari dongeng-dongeng itu kita justru belajar mengenai kepedihan hidup, pengorbanan, dan juga perjuangan. Yah, daripada kita harus mengalaminya sendiri, tentu saja lebih enak kalau membaca saja, kan?

Beberapa saat yang lalu saya pernah membaca mengenai para orang tua di Amrik sana, yang tidak setuju jika buku jenis tertentu (yang di dalamnya ada tragedi dan kematian, tapi saya lupa judul bukunya apa... T_T) dibacakan di ruang kelas. Yah, memang sih saya setuju ada beberapa buku yang seharusnya dibaca oleh anak sesuai dengan usianya. Tapi kalau soal dongeng, kisah sejarah, ataupun kisah-kisah yang berhubungan dengan agama, saya pikir tidak masalah diceritakan dari awal. Kesedihan, kematian, dan penderitaan adalah hal yang pasti ada di dunia ini. Dan kita tidak bisa menutup mata anak-anak itu, karena setiap harinya, di sekeliling kita sendiri pun, ada banyak hal-hal tak menyenangkan semacam itu.

Justru yang sebenarnya harus ditingkatkan adalah peran orang tuanya, bagaimana mereka selalu ada di samping anak-anak mereka ketika mereka membaca, menonton, dsb. sehingga mereka bisa langsung bertanya dan tidak membutuhkan jawaban dari orang luar yang bisa jadi tidak sesuai dengan harapan kita. Itulah sebabnya, jadi orang tua, khususnya jadi ibu itu harus pintar. Mereka harus membaca juga buku-buku yang dibaca oleh anak-anaknya, bahkan kalau bisa, lebih banyak lagi dari itu. Lagipula, dongeng-dongeng ini jelas merupakan cerita yang lebih baik dibandingkan kisah-kisah perselingkuhan dan kawin-cerai artis nasional, ataupun kisah-kisah korupsi para politikus terhormat di negeri ini.

Salah seorang guru saya pernah berkata, kalau dongeng-dongeng klasik memang banyak yang bercerita tentang kemalangan, karena hidup di masa itu tidaklah mudah. Misalnya saja kisah Hansel & Gretel, yang dibuang oleh orang tuanya di hutan. Mereka adalah semacam penghibur untuk anak-anak yang dibuang oleh orangtuanya, karena kesulitan ekonomi dan hal lainnya. Sayangnya, tidak semuanya mengalami nasib baik seperti Hansel dan Gretel, banyak yang tetap terpisah dengan orang tua mereka, dan mati mengenaskan.

19 dongeng di dalam buku ini menyajikan kisah-kisah yang tak selalu bahagia, tapi tetap indah. Meskipun ada juga beberapa dongeng yang saya nggak suka, khususnya yang melibatkan putri cantik jelita dan pangeran tampan serta kaya. Apalagi kalau putrinya nggak pake usaha, terus ujug-ujug dapet pangeran tampan macam cerita Pangeran Katak dan Putri Tidur. Oh iya, kisah Putri Tidur disini bukan yang dihamilin sama raja terus baru bangun ketika anak-anaknya lahir, kisah disini lebih "manis", soalnya menurut yang saya baca disini, awalnya Putri Tidur memang bukan dikisahkan oleh Grimm Bersaudara. Begitupun dengan kisah Rapunzel, yang setahu saya sempat anu-anuan sama Pangeran sampai akhirnya dia hamil.

Yah, maklum deh... Namanya juga sastra lisan, pasti ada begitu banyak versi yang beredar. Tapi memang justru bagus karena apa yang saya sampaikan di atas nggak diceritakan disini. Jadi, buku ini bisa dibaca oleh semua kalangan. Dan buat orang-orang haus kebenaran (#tsaah bilang aja kepo xp) seperti saya, tinggal menjelajahi dunia maya untuk mengunduh kisah-kisah asli Grimm Bersaudara, yang kini sudah menjadi hak publik ini....

P.S. Satu hal yang bikin saya sebel adalah buku ini nggak dilengkapi dengan DAFTAR ISI!! Kan saya jadi susah kalau mau baca ulang dongeng-dongeng tertentu saja... ヽ(o`皿′o)ノ ヽ(≧Д≦)ノ(┳Д┳)

November 30, 2013

My Girl: Seorang Ayah, Gadis Kecil, dan Kenangan akan Perempuan yang Dicintai


Judul: My Girl
Jumlah volume: 1-5 (selesai)
Penulis: Sahara Mizu

Bagaimanakah seorang anak dapat mengubah kehidupan seseorang?

Bagi Kazama Masamune, seorang anak benar-benar mengubah kehidupannya. Ia, yang awalnya hanya seorang lelaki lajang berusia 23 tahun, bekerja sebagai seorang karyawan biasa, dengan kehidupan yang biasa, tiba-tiba dikejutkan dengan hadirnya seorang anak perempuan berusia 4 tahun, yang mengaku anaknya.

Koharu namanya. Ia adalah putri dari Tsukamoto Youko, kekasih Masamune sekitar lima tahun yang lalu, ketika dia masih duduk di bangku kelas 3 SMA, dan Youko adalah mahasiswi yang empat tahun lebih tua darinya. Iya, perbedaan usia mereka memang cukup jauh, tapi Masamune sangat mencintai Youko, dan percaya mereka akan terus berhubungan meskipun ia sudah lulus SMA.

Hingga pada suatu hari, ketika Masamune akan lulus SMA, Youko berkata bahwa ia akan pergi belajar dan bahkan mungkin sekaligus bekerja di Amerika. Masamune sangat sedih, dan bertekad untuk menyurati Youko. Dia memang melakukannya, menyurati Youko dengan tekun, meskipun tidak pernah ada balasan dari wanita yang dicintainya itu. Akhirnya, ia pun menyerah dan berhenti mengirimkan surat. Youko pasti telah melupakannya, dan hidup enak di luar negeri sana.

Lalu di hari itu... Koharu hadir di hadapannya. Pertemuan mereka tidak disengaja, ketika Koharu yang sangat sedih karena kehilangan ibunya kabur dari rumah...

Ya. Youko telah tiada. Wanita yang sangat dicintai Masamune itu meninggal dunia. Setelah bertahun-tahun tidak mendapatkan kabar dari Youko, ia tidak pernah menyangka bahwa dengan cara inilah mereka akan dipertemukan lagi. Ditambah lagi, Youko ternyata telah memiliki seorang putri, dengan dirinya, yang entah merupakan anugerah ataukah musibah bagi Masamune.

Tentu saja kehadiran Koharu tidak langsung diakui oleh Masamune. Siapa juga yang akan percaya jika tiba-tiba ada seorang anak berusia 4 tahun yang mengaku bahwa sebagai anak?

Tapi surat-surat Youko--yang mengiris hati--membuat Masamune yakin kalau gadis kecil itu memang putrinya. Surat-surat Youko yang tersimpan rapi, dan tak pernah dikirimkannya ketika masih hidup. Surat-surat Youko yang menandakan kalau iapun masih mencintai Masamune dan begitu merindukannya. Surat-surat yang mengubah pendirian Masamune, hingga ia pun memutuskan untuk membesarkan Koharu. Dan, inilah kisah mereka...


"My Girl" adalah manga karya Sahara Mizu, mangaka Jepang yang baru-baru ini menjadi favorit saya. Saya sangat suka dengan komiknya yang berjudul "Bus Hashiru". Ceritanya sederhana, berkisar kisah-kisah cinta yang berhubungan dengan bus dan tempat pemberhentiannya. Cerita-ceritanya sederhana, sangat manis, dan menghangatkan jiwa.

Namun, saya tidak begitu suka dengan "Watashitachi no Shiawase na Jikan", atau Our Happy Time, yang merupakan versi manga dari novel karya penulis Korea, Gong Ji-young. Novelnya ini juga sudah difilmkan dengan judul "Maundy Thursday", dan saya sukaaa sama filmnya... >____________<

Oke, jadi OOT. Kembali ke manga "My Girl". Hhmm... saya cukup suka dengan kisah yang ini, karena buat saya cerita yang melibatkan hubungan ayah dan anak perempuan itu tuh manis bangeett... #langsungdiabet. Apalagi Masamune masih muda, dan pasti sulit untuk membesarkan seorang anak kecil sendirian. Lebih-lebih dia nggak pernah menikah sebelumnya, dan perempuan yang jadi ibu anaknya sudah meninggal dunia. Di tengah masyarakat Jepang yang kibishii alias kejam itu, pasti sulit sekali bagi Masamune untuk membesarkan Koharu sendirian. Walaupun sebenarnya nggak sendirian-sendirian amat sih, karena ibunya Youko, alias neneknya Koharu, masih secara rutin membantu Masamune. Begitupun dengan kedua orang tua Masamune, yang akhirnya menerima Koharu, meski pada awalnya ibu Masamune merasa sangat kecewa dan menolak cucunya. Tapi ya, siapa sih yang bisa menolak pesona seorang gadis kecil berusia empat tahun?

Apalagi Koharu ini dewasa banget, nggak kayak bocah usia empat tahun. Yah, karena Youko itu kan single mother, jadi Koharu harus bersikap baik agar mereka nggak ngatain ibunya. Dan sekarang dia tinggal berdua sama ayahnya, yang nggak dipanggil papa, tapi Masamune-kun (ikut Youko yang manggil dengan nama itu), jadi dia pun tidak boleh bersikap buruk, karena ayahnya yang pasti akan kena cibiran dari orang-orang.



Tapi.... saya pikir alur komiknya terlalu cepat. Sangat cepat bahkan. Koharu yang tadinya masih TK, tau-tau sudah mau masuk SD saja. Lalu Koharu akhirnya masuk SD, dan diceritakan kalau dia ingin masuk SMP ibunya (ini pas masih kelas 1 SD), setelah lihat foto Youko pakai seragam SMP, karena dia ingin bisa pakai seragam yang sama dengan ibu tersayangnya itu. Tapi, SMP ini adalah sekolah elit, jadi Koharu harus siap-siap dari sekarang (iya, dari kelas 1 SD). Akhirnya, Koharu ikut ujian persiapan untuk masuk bimbel biar bisa masuk ke SMP itu. Masih kelas satu lho bboookkk!! Dan udah disuruh persiapan buat masuk SMP??!! Meskipun akhirnya Koharu baru ikut ketika dia kelas 2 SD, tapi tetep aja... Gue aja dulu pas masih kelas satu mikirnya cuma maen doang, lha ini? Anak kelas satu udah disuruh masup bimbel buat persiapan SMP! ARIENAI!!

Nah, buat saya, alur yang terlalu cepat ini cukup mengganggu kenikmatan membaca, karena tahun-tahun pertama kehidupan Masamune dan Koharu jadi tidak dijabarkan secara detail. Padahal menurut saya, bagian itu justru paling penting, karena masing-masing mengalami perubahan hidup yang sangat drastis. Masamune yang tiba-tiba harus ngurusin anak, dan Koharu yang tiba-tiba hidup tanpa ibunya. Sedewasa apapun Koharu, mengurus anak tetaplah bukan perkara mudah. Dan saya ingin tahu bagaimana perubahan hidup Masamune dan Koharu secara perlahan, bukan dengan cara yang terlalu cepat seperti itu.

Yang berikutnya rada-rada spoiler, jadi kalau nggak mau tau, diskip aja yaa... xp

=====

Belum lagi, saya tidak suka dengan akhirnya, yang melibatkan perempuan lain yang nantinya mungkin akan menjadi ibu baru Koharu. Saya tidak suka dengan perempuan itu, karena menurut saya justru Koharu-lah yang harus berkorban lebih banyak. Misalnya ketika si cewek baru ini memberikan hadiah pernak-pernik kucing hitam ke Koharu, untuk menggantikan aksesoris serba lady bug yang selalu dipakai Koharu. Lady bug ini punya peranan penting bagi mereka, dan merupakan binatang kesukaan Youko.

Dari situ saya mulai nggak sreg sama nih cewek. Siape lo deh, dateng-dateng langsung berharap Koharu melupakan ibunya (meski dengan cara yang sangat halus)?

(≧Д≦)ノ (≧Д≦)ノ(≧Д≦)ノ(≧Д≦)ノ(≧Д≦)ノ(≧Д≦)ノ

Arrggghh!! Kenapa nggak dengan cewek yang sebelumnya aja? Yang menurut saya jauh lebih dewasa. Sikapnya juga unik dan agak-agak mirip sama Youko.

=====

Versi agak spoiler selesai ┏((= ̄(エ) ̄=))┛

Oh iya, satu hal lagi yang kurang dieksplor adalah tentang Youko. Sebagai perempuan yang dicintai oleh Masamune dan orang yang melahirkan Koharu, saya pikir Youko seharusnya mendapat tempat lebih di dalam cerita. Saya jadi ingat bagaimana Honda Tooru, yang sering sekali bercerita tentang ibunya yang sudah tiada, di manga Fruits Basket (favorit saya inih.. >__<). Penjabaran Takaya Natsuki sensei dalam menggambarkan karakter Honda Kyoko benar-benar luar biasa, sehingga terasa sangat hidup. Bahkan ada beberapa chapter tersindiri yang khusus bercerita tentang dia. Belum lagi kisah dia dan bapaknya Tooru yang bikin saya nangis bombay... TT____TT Kyoko begitu hidup, sehingga saya pun merasa karakternya adalah sesuatu yang sangat penting, hingga Tooru begitu mengidolakannya.

Sayangnya, di "My Girl" ini, menurut saya porsi Youko sangat kurang. Padahal, Masamune dan Koharu sudah berjanji untuk saling bercerita tentang Youko ketika mereka merasa rindu dengannya. Masamune akan bercerita tentang Youko selama ia pacaran dengannya, dan Koharu akan bercerita tentang hidupnya bersama ibunya (meski seharusnya nggak terlalu banyak, karena dia masih sangat kecil dan seharusnya belum bisa mengingat terlalu banyak hal tentang ibunya). Saya kan ingin tahu bagaimana Masamune dan Youko bisa jadian, masa-masa kehamilan Youko dan ketika ia membesarkan Koharu sendirian, terus kenapa ikatan di antara mereka sangat kuat, sampai-sampai meskipun sudah 5 tahun berlalu, Masamune masih nggak bisa mupon juga...

Dorama
Foto: wiki.d-addicts.com

Sekarang, kita beralih ke doramanya. Saya pikir, saya lebih suka doramanya daripada manganya. Disini, Masamune terlihat lebih manusiawi.

Berbeda dengan komiknya, dimana Masamune memiliki pekerjaan tetap, di doramanya Masamune diceritakan sebagai seorang freeter atau orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap, dan hanya bekerja sambilan. Masamune kerja sambilan di sebuah studio foto, meskipun sebenarnya dia nggak tahu mau jadi apa. Iya, dia suka sama fotografi (berkat kenangannya dengan Youko juga), tapi dia nggak punya hasrat ataupun cita-cita buat jadi fotografer terkenal. Hidupnya ya begitu-begitu aja. Datar... Nggak jelas... Hingga Koharu hadir ke kehidupannya.



Gambar: arashigeneration.tumblr.com
Sama seperti komiknya, Koharu disini juga bersikap sangat dewasa, dan selalu bicara dengan bahasa Jepang yang sopan. Koharu-nya lucu banget, saya sampai geregetan pengen gendong-peluk-cium bocah satu ini.. >_____< Oh iya, akting nangisnya Ishii Momoka disini jempolan banget. Saya sampe ikutan nangis ketika lihat dia nangis... (┳Д┳)(T▽T) o(╥﹏╥)o o(;△;)o (;*△*;) (´╥﹏╥)

Selain itu, disinipun lebih banyak karakter pendukungnya. Misalnya saja guru Hoikuen (tempat penitipan anak sih sebenernya, tapi jadi TK juga) Koharu, yang awalnya nyebeliiinnn bangetttt. Gurunya ini galak banget ke Masamune, sampai bilang kalau dia nggak pantas jadi ayah (yee, siape lo lagii... ( ꒪Д꒪)ノ) Soalnya, Masamune sering lembur kerja, jadi telat mulu jemput Koharu. Belum lagi karena Masamune ninggalin Koharu sendirian di rumah, abis jemput Koharu dia balik lagi ke kantor dan baru pulang tengah malem, Koharu jadi suka ngantuk di sekolah. Pokoknya bener-bener ayah abal-abal deh si Masamune ini... Tapi memang sangat wajar dan manusiawi, karena dia kan nggak pernah ngurus anak kecil sebelumnya. Nah, aspek ini yang kurang saya dapat di komiknya. Di manganya, Masamune bisa meng-handle semua hal, jadi nggak terasa terlalu butuh orang lain, dan nggak begitu banyak percikan-percikan hidup... #tsaahh

Terus, karakter lain yang saya suka adalah Ooya-san (induk semang) Masamune beserta istrinya. Jadi Masamune ini memang ngekos, di sebuah rumah tua yang indah. Alasan kenapa Masamune tinggal disana juga karena Youko, karena dia ingin tinggal di tempat itu. Nah, si Ooya-san ini galak banget, dan nggak suka sama anak kecil. Makanya, pada awalnya Masamune menyembunyikan kehadiran Koharu, hingga suatu malam penghuni rumah itu mendengar suara anak kecil nyanyi malam-malam, dan mengira itu adalah hantu! Padahal itu adalah Koharu yang nyanyi sambil melihat bulan purnama, dan mengenang ibunya... #banjir (┳Д┳)(T▽T) o(╥﹏╥)o o(;△;)o (;*△*;) (´╥﹏╥)

Gara-gara itu, Koharu jadi ketauan sama istrinya Ooya-san, tapi dia nggak mau bilang ke suaminya. Berkat istri Ooya-san inilah Koharu jadi ada teman ketika Masamune harus lembur sampai tengah malam.

Sayangnya, di doramanya nggak ada Shu. Shu, teman tapi musuh Koharu, adalah satu-satunya orang yang bisa bikin Koharu lepas kendali. Koharu biasanya kan dewasa banget pembawaannya, tapi begitu ada Shu, dia jadi lepas, bahkan bisa marah. Mungkin memang sulit menemukan anak cowok berkarakter kuat dan aneh kayak Shu, makanya tokoh ini ditiadakan.

Begitupun dengan Kana dan keluarganya. Saya suka sekali dengan mereka di manganya, tapi di doramanya tidak ada. Selain itu, di doramanya Kana sangat menyebalkan, hingga saya merasa dia nggak pantes berteman dengan Koharu. Huh!! ((( ̄へ ̄井)


Gambar: arashigeneration.tumblr.com
Kazama Masamune, yang diperankan oleh Aiba Masaki benar-benar oke banget. Aiba cocok buanged jadi papah muda disini. Chemistry-nya sama Koharu juga dapet banget, cocwit banget ngeliat mereka berdua gandengan tangan, ngobrol, dsb. Ketika gendong Koharu juga... Kawaaaiiii!!! (,,>______<,,) Jadi pengen... #eh #abaikan

Satu lagi yang buat saya suka sama doramanya. Di dorama-nya ini, perkembangan Aiba eh Masamune juga terlihat jelas. Bagaimana dia yang sebelumnya adalah seorang lelaki biasa-biasa aja yang nggak punya tujuan hidup dan nggak bisa diandalkan, jadi seorang lelaki yang tegar, dewasa, dan tahu apa yang diinginkan. Meskipun dia seringkali menghadapi kebingungan, seputar pengasuhan anak, tapi dia terus belajar, hingga akhirnya dia menjadi lebih dewasa secara bertahap di setiap episodenya.

Gambar: arashigeneration.tumblr.com
Jadi, itulah sebabnya saya lebih suka dengan doramanya daripada manganya (tumbeeen lhooo....). Lagu temanya yang dinyanyikan oleh Arashi juga suka bangeett... Cocok banget sama doramanya. Kyakyakyaa~~

Arigatou no omoi wo tsutaetai yo
Sotto kimi no moto e
Tooku hanarete shimattemo
Omoide ni michita mirai e

Ingin kusampaikan perasaan terima kasih ini
Perlahan-lahan kepadamu
Meskipun jarak memisahkan kita
Ada masa depan yang dibangun dari kenangan itu

Me wo tojireba
Kimi to sugoshita ano kisetsu ga omoiukabu
Futari no kioku tsunaideiku
Kyou mo sotto chiisana nukumori atsumete

Ketika kututup mataku
Aku mengenang musim yang kulalui bersamamu
Mengikat kenangan di antara kita
Mengumpulkan kembali kehangatan lembut itu, kini
 
(╥﹏╥)(╥﹏╥)(╥﹏╥)(╥﹏╥)
Gambar: arashigeneration.tumblr.com
Btw, ada gosip kalau Aiba katanya akan mau menikah, dengan salah satu aktris Jepang favorit saya, Mizukawa Asami. Semoga kabar itu benar... mereka segera nikah, lalu punya anak. Biar menghapuskan shoushika, alias fenomena berkurangnya anak, di Jepang.

Bahkan menurut saya, seharusnya itu mas-mas Johnny's buruan pada disuruh nikah aja semua. Sayang-sayang amat, om-om cakep pada masih lajang semua XD. Di SMAP aja cuma Kimutaku yang udah nikah. Di V6 pun baru satu. Di Kat-tun baru Akanishi Jin. Di Arashi belum ada, padahal mereka sudah 30-an sekarang. Buruanlah kalian pada menikah, supaya memberikan kontribusi pada kemajuan Jepang. Kekkon shiro!! Kodomo tsukure! Shoushika kese! Ahahaaaiii...

Gambar: arashigeneration.tumblr.com


Review ini sebenarnya mau diikutkan dalam event baca bareng BBI bulan ini, yaitu komik atau novel grafis. Tapi karena saya nggak keburu bikin kemarin, jadilah hari ini buatnya xp Maapkeun sayah ya...

Saya memang jarang banget bikin review manga di blog ini, karena rada malas dan sayang juga. Tapi mungkin ke depannya nanti saya akan mencoba untuk membuat review manga-manga yang sudah saya baca, apalagi manga-manga favorit yang membawa perubahan dalam kehidupan saya... #tsaahh

 

November 12, 2013

Montase: Di Antara Sakura yang Berguguran

Montase by Windry Ramadhina
My rating: 3 of 5 stars

Suatu hari saya mengikuti sebuah training motivasi bersama teman-teman saya. Disana kami diminta untuk menuliskan cita-cita di atas kertas, lalu melipat kertas itu menjadi pesawat dan menerbangkannya. Ada yang menuliskan dengan begitu cepat dan dengan mantap melipat pesawat kertasnya, lalu menerbangkannya ke angkasa. Sementara yang lainnya tampak bingung, berpikir lama, dan tampak ragu-ragu ketika menerbangkan pesawatnya.

Jika Anda diminta untuk melakukan hal serupa, yang manakah diri Anda? Apakah Anda dapat dengan mudah menuliskan cita-cita dan impian dalam hidup, lalu menerbangkannya diiringi jutaan doa ke angkasa? Ataukah Anda ragu-ragu bahkan harus mengubek-ubek isi otak terlebih dahulu sebelum dapat menuliskannya ke atas kertas, lalu melipatnya menjadi pesawat, dan menerbangkannya dengan perasaan gamang?

Haru mungkin tipe yang pertama, yang dengan mantap menuliskan cita-citanya di atas kertas, melipatnya menjadi pesawat, lalu menerbangkannya dengan penuh harapan. Wanita Jepang ini memang tampaknya tahu betul apa yang ia inginkan. Mimpinya. Cita-citanya. Meskipun impian itu tidak selalu sejalan dengan keinginannya, tapi itu tidak menjadi masalah bagi gadis itu. Baginya, asal impian besarnya bisa terpenuhi, maka sudah tak ada lagi penyesalan di dalam hidupnya.

Sedangkan Rayyi, tokoh utama dalam cerita ini, mungkin tipe yang kedua. Bukan berarti Rayyi ini pemuda galau yang tidak tahu ingin menjadi apa di masa depan dan menyerahkan segalanya kepada nasib. Bukan seperti itu. Rayyi tahu apa yang diinginkannya. Tahu apa yang disukainya. Namun keadaan membuatnya harus melepaskan impiannya dan membuatnya mengikuti apa yang diinginkan ayahnya.

Rayyi ini anak seorang produser film ternama di Indonesia. Ia diharapkan untuk mengikuti jejak ayahnya, membuat film box office yang mainstream, laris, disukai banyak orang, menghasilkan uang banyak, nggak peduli film itu punya makna atau tidak. Sementara Rayyi ingin menjadi pembuat film dokumenter, yang notabene bukanlah genre populer dan akan dicintai oleh banyak orang.

Kehadiran Haru, gadis kepala angin yang mirip boneka kokeshi dan gemar makan onigiri serta teriak-teriak "kawaii" ini membuka mata Rayyi, akan apa yang sebenarnya paling penting di dunia ini. Namun, saat kesadaran itu hadir ke dalam dirinya, apakah Rayyi masih punya waktu dan kesempatan untuk mewujudkannya? Ataukah ia harus mengorbankan hal penting dalam hidupnya terlebih dahulu demi mencapai impiannya?

Jawabannya silakan dibaca sendiri di dalam novel "Montase" karya Windry Ramadhina ini. Menurut saya, kisahnya manis dan cukup romantis, meski tidak membuat saya menangis. Penggambaran tokohnya sangat baik, begitupun dengan pengembangan karakter mereka. Rayyi si mahasiswa semester enam IKJ yang berantakan; Haru si mahasiswi dari Jepang yang ceroboh dan suka salah masuk kelas bahkan salah lihat jadwal; Samuel Hardi--dosen matkul dokumenter Rayyi dan Haru--yang sinis, pede jaya, tapi jenius; sahabat-sahabat Rayyi yang unik; hingga ayah Rayyi yang dingin dan ambisius.

Sayangnya, ada beberapa hal yang bikin saya kurang sreg dengan novel ini.

Pertama, soal Haru. Haru diceritakan sebagai mahasiswi dari Jepang yang pergi ke IKJ sebagai seorang pertukaran pelajar. Biasanya sih ya, mahasiswa asing datang ke Indonesia itu buat belajar bahasa Indonesia, bukan untuk ikut mata kuliah di Indonesianya. Makanya, saya bertanya-tanya seberapa jago bahasa Indonesianya si Haru sampai sanggup ikut mata kuliah-mata kuliah yang ada, yang notabene pakai bahasa Indonesia. Soalnya tidak dijelaskan sebelumnya soal dimana Haru belajar bahasa Indonesia, dan kenapa dia memilih untuk pertukaran pelajar di Indonesia, karena menurut saya alasan "di kampus saya tidak ada peminatan dokumenter" itu adalah hal aneh.

Kedua, mengenai bahasa dan tanda baca. Entah kenapa, beberapa percakapan yang dilakukan antara Rayyi dan sahabatnya di novel ini menurut saya masih agak kaku. Begitupun dengan sisipan anak kalimat yang hanya menggunakan tanda "-" satu dan bukannya dua. Setahu saya, kalau mau menyisipkan itu seharusnya dengan menggunakan tanda strip panjang, yang kalau di Microsoft Word itu dibuat dengan mengetik tanda "-" dua kali lalu diapit dengan kata yang bersangkutan lalu ketik spasi. Jujur saja, ini cukup mengganggu saya, karena ada banyaakk sekali kalimat yang seperti ini.

Ketiga, soal latar. Ketika Haru dan Rayyi ke Japan Foundation untuk menonton film dokumenter Jepang, ada adegan ketika Haru membelikan minum dari mesin penjual minuman di lobi Gedung Summitmas. Hhhmm... Setau saya sih nggak ada barang begituan di Summitmas, soalnya saya udah sering banget ke JF. Dan ketika saya konfirmasi ke teman saya yang kerja di sana, dia bilang "Hahaha ngaco.. dia pasti berhalusinasi. Mungkin terlalu ngefans sama JF kali" xp. Yah, itu mungkin improvisasi Windry kali ya, tapi buat orang yang sudah sering ke tempat itu, pasti merasa aneh dengan fakta ini. Hehehe...

Lalu soal kereta ekspres yang dinaiki Haru dan Rayyi dari Cikini. Agak aneh aja disebut dengan "kereta ekspres" soalnya penyebutan itu adanya pas jaman saya kuliah dulu, dimana si kereta cuma berhenti di stasiun-stasiun tertentu saja dan ekonomi masih merajai rel. Nah, karena novel ini terbit tahun 2012, harusnya disebutnya sudah Commuter Line lah ya, alias comline atau comel. Sudah begitu, pertama disebutkan naik dari Cikini, tapi lalu setelahnya latarnya jadi Gondangdia, jadi yang mana dong yang benar? Kalau kosan mereka dekat IKJ sih, harusnya ya dari Cikini dong ya, bukan Gondangdia.

Ketiga, soal bahasa Jepang. Bahasa Jepang yang digunakan di novel ini sudah cukup bagus dan benar penggunaannya, walaupun ada beberapa juga yang salah dan agak aneh. Seperti kata-kata "Hai, desu yo" di halaman 185 yang menurut saya tidak tepat. Yang lebih tepat seharusnya, "Hai, sou nan desu yo," karena di kata yang pertama itu tidak jelas Haru memberikan penekanan terhadap apa. Tidak ada subyeknya disana.

Lalu kata "raifu" yang menurut saya juga agak tidak tepat. Saya pikir orang Jepang lebih senang pakai kata "jinsei" meskipun keduanya memiliki arti kata kehidupan. Yang satu kata serapan bahasa Inggris, yang satunya dari bahasa Jepang asli. Tapi mungkin Haru ingin Rayyi mengerti sepatah dua patah kata yang dia ucapkan, makanya sengaja pakai versi Inggrisnya kali ya...

Bahasa Jepang Rayyi juga yang bikin saya merasakan ganjalan lainnya. Di awal diceritakan kalau Rayyi menggunakan bahasa Jepang seadanya, ketika ia berkunjung ke Jepang demi menemukan Haru. Tapi di akhir cerita, Rayyi dapat ngobrol panjang lebar dengan orang tua Haru, pakai bahasa Jepang!! Sugoi da ne!! Demo, muri jan!! Masa Rayyi dapat begitu cepatnya menguasai bahasa Jepang? Terus, Rayyi belajar bahasa Jepangnya dimana? Soalnya kok saya dapat kesan Rayyi langsung cao ke Jepang begitu dapat surat dari Haru? Lagian, emang Rayyi sempet belajar bahasa Jepang ya? Dia kan "disiksa" Samuel Hardi siang dan malam di rumah produksi filmnya....

Huehehe.. maaf ya... saya emang tipe pembaca perfeksionis yang suka rewel bin bawel X) Terutama karena ada hal yang saya tahu banget disini. Kalau soal film dan sebagainya, saya pasrah deh, soalnya saya nggak ngerti. Hahahaa

Oh iya, ketika membaca deskripsi Rayyi mengenai Haru, saya jadi ingat sama Aoi Miyazaki di film "Tada Kimi Wo Aishiteru". Soalnya dijelaskan kalau Haru itu berbadan kecil, lincah, dan juga ceroboh, mirip sama Aoi di film itu yang imuutt banget. Jadi, setiap kali Haru muncul, yang kebayang di kepala saya ya si Aoi itu deh. Kalo Rayyi-nya... siapa ya? Nggak ada bayangan!! Hahahaa X)

Omong-omong, tadinya saya sempet curiga, jangan-jangan novel ini nanti mirip-mirip sama film itu lagi xD. Alhamdulillah nggak, meskipun akhirnya mereka harus menghadapi hal yang tragis sebelum mencapai impian juga sih. Fffiuuhh...

Saya memilih buku ini secara acak saja, tanpa tahu ceritanya seperti apa (Yeah, jangan pernah mengandalkan sinopsis di belakang cover untuk buku-buku Gagas). Saya kaget aja gituh ketika buku yang saya baca ternyata ada hubungannya sama Jepang-jepangan, karena sebenarnya saya lagi nggak mood untuk baca buku kayak gitu... Hwahahaa... Lalu, ketika saya masuk halaman pertama, awalnya saya pikir Haru itu cowok dan Rayyi itu cewek xp (Ya kali gitu namanya Haruto atau Haruo terus panggilannya Haru... lagian saya punya temen cewek namanya Rayi... So don't blame me, okay! xp) Ternyata Windry pakai sudut pandang cowok, jadi saya kecele deh... xD

Tiga bintang untuk sakura yang mekar sempurna lalu beguguran ditelan angin. Filosofi orang Jepang mengenai sakura memang seperti yang disampaikan Windry di novel ini. Sakura yang hanya mekar sempurna sementara saja, lalu gugur seolah menari-nari karena tertiup angin. Keindahan yang tidak abadi, tapi begitu berharga untuk dinikmati...


October 11, 2013

Inifinely Yours: Kisah Cinta si Maniak Korea

Infinitely Yours by Orizuka
My rating: 2 of 5 stars

Ketika SMP, saya mulai tertarik dengan segala hal yang berbau Jepang. Awalnya, tentu saja karena di masa saya, yaitu awal 2000-an, anime begitu marak menghiasi layar kaca negeri ini. Samurai X, Inu Yasha, Fushigi Yuugi, Kindaichi, Conan, Dragon Ball, Digimon, sangat banyak dan hampir semuanya nggak pernah lupa saya tonton. Saya juga suka baca manga, meski jarang banget beli, dan dari situ mulailah kecintaan terhadap Jepang. Saya mulai dengerin lagu Jepang, suka beli Animonster, jadi tau band-band Jepang, kebudayaannya juga, hingga akhirnya ketika SMA, saya punya cita-cita baru. Saya mau kuliah di Jepang.

Sayapun mendaftar beasiswa Monbusho yang dikeluarkan oleh pemerintah Jepang. Sayangnya, saya gagal, karena di kelas 3 itu saya benar-benar males banget belajar. Jujur aja, masa kelas 3 SMA itu adalah masa paling membosankan dari SMA, dan mungkin dari hidup saya juga. Nggak ada yang berkesan disana. Lalu, karena saya masih mau banget dapat beasiswa ke Jepang, jadilah saya masuk sastra Jepang. Sebelumnya saya sempat milih Komunikasi dan HI juga (ketika try out xp), tapi karena saya nggak ikut bimbel, jadi ya sudah, saya ambil Sastra Jepang (sebenarnya sih Prodi Jepang, karena kami nggak hanya belajar sastra aja) UI sebagai pilihan pertama saya. Alhamdulillah, saya keterima... :)

Prodi Jepang tuh benar-benar surganya para otaku dan pecinta Jepang. Ada yang maniak anime, ada yang maniak manga, maniak dorama, boyband Jepang, hingga band-band rock juga. Di tempat itu, saya bisa mendapatkan hal-hal yang berhubungan dengan Jepang dengan sangat mudah, dan kebanyakan gratis pula xp. Tapi, seiring dengan mulai mengetahui banyak hal tentang Jepang, kecintaan saya terhadap Jepang jadi menurun. Jadi biasa-biasa saja. Hingga akhirnya saya dapat program pertukaran pelajar selama setahun ke Jepang, dan rasa cinta saya pun mulai berubah jadi benci.... #tsaaahhh #lebaaayyy

Ya. Jepang yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri itu nggak seindah bayangan saya. Orang-orangnya dingin dan nggak mudah bergaul dengan orang lain. Mereka nggak kenal sama Indonesia (yang bikin saya merasa seperti orang bodoh, karena sempat suka banget sama Jepang). Mereka nggak tau kalo nasi goreng dari Indonesia (taunya dari Thailand mosok... -__-). Cowoknya dingin-dingin, tepean, dan kayaknya pengennya dikejar-kejar sama cewek. Mereka juga nggak tau Islam, apalagi jilbab yang saya pakai. Beberapa kali mereka ngira kalo jilbab itu pakaian tradisional Indonesia, meskipun saya beberapa kali juga dibilang cantik sih... :") (muji diri sendiri). Yah, intinya saya sempat merasa muak dengan hal-hal berbau Jepang. Saya nggak mau dengerin lagu Jepang, nggak mau baca manga, nggak mau nonton anime, dan banyak lagi lainnya. Parahnya, saat itu saya lagi di Jepang, dan saya nggak bisa kabur dari itu semua!! T___T

Oh iya, karena hal-hal yang saya rasakan itu juga, nasionalisme saya akan Indonesia tuh jadi benar-benar bangkit. Saya jadi benar-benar cinta mati sama Indonesia ketika saya ada di negara luar. Beneran deh, nggak ada artinya saya bisa bahasa Jepang dan tau kebudayaan Jepang, tapi gunung tertinggi di Indonesia tingginya berapa aja saya nggak tau. Saya juga nggak bisa lancar main angklung, nggak bisa bahasa daerah, dan banyak hal lainnya tentang Indonesia nggak bisa saya banggain ke mereka. Meskipun setiap ada kesempatan, saya selalu narsis dengan keindonesiaan saya. Ketika lihat laut Jepang yang hijau butek, saya jadi terbayang laut Indonesia yang biru dengan pasirnya yang putih. Ketika melihat festival di Jepang yang sama semua, saya jadi membayangkan betapa indahnya keanekaragaman kebudayaan di Indonesia. Betapa kayanya negeri saya.

Itu sebabnya, ketika melihat karakter Jingga di novel "Infinitely Yours" ini, saya jadi merasa kesal setengah mati. Saya nggak bisa bersimpati dengan Jingga, yang umurnya nggak jauh beda dengan saya itu, dengan segala sifat kekanakan, sok tau, fanatik berlebihan, dan yang lebih parah, sifat nggak bisa membaca keadaannya! KY kalo kata orang Jepang.

Alhamdulillah, meskipun dulu saya suka banget sama Jepang, tapi saya itu seorang fans yang kere dan pelit, yang nggak rela mengeluarkan uang dari kocek sendiri untuk hal-hal yang saya nilai nggak begitu berguna. Makanya, ketika teman-teman saya yang nge-fans sama Arashi atau NEWS atau Laruku sampai bela-belain beli dvd original idolanya, saya lebih milih untuk minjem aja xp. Logika saya, uang segitu bisa buat beli bakso bermangkok-mangkok, atau buat beli buku. Lha karena kekerean saya, dulu saya jarang beli buku, seringan minjem aja. Hahahaa

Jadi, saya sih nggak mungkin melakukan tindakan seperti Jingga, pergi ke Korea dengan uang sendiri, demi ketemu idolanya!!! Ketika tahu dia ke Korea demi ketemu mas-mas-Korea-pemandu-wisata-yang-ganteng-setengah-mampus, saya langsung tidak respek dengan cewek ini. Apalagi dia dengan seenak jidat manggil lelaki yang baru dikenalnya dengan Om, padahal kalaupun dia menebak Rayan sebagai lelaki berusia 30-an, seorang perempuan berusia 25 tahun harusnya memanggil dia dengan mas saja. Meskipun ya, Orizuka menjelaskan sih kalau latar belakang keluarga dan pekerjaan Jingga yang membentuk sifatnya seperti yang sekarang ini. Tapi kok saya benar-benar merasa sifat kekanak-kanakan Jingga ini lebay banget ya? Kuugi aja yang ceria, supel, dan juga agak kekanak-kanakan nggak segini lebaynya. Aduh, maaf kalau saya jadi membanding-bandingkan. Setiap pengarang memang memiliki hak penuh untuk menggambarkan karakternya sendiri, jadi kalau karakter Jingga nggak sesuai dengan apa yang saya suka, ya berarti memang sayanya aja yang nggak suka... #lah

Jujur saja, saya menskip banyak sekali bagian, khususnya dari awal hingga separuh cerita. Saya nggak tahan dengan "kepolosan" Jingga yang benar-benar bikin saya kesal. Juga kecintaan berlebihannya sama segala hal berbau Korea. Suasananya, udaranya, makanannya, dsb. Saya aja ketika pertama kali makan makanan Jepang di Jepangnya langsung, ngerasa biasa aja. Nggak ada rasanya cooyyy!! Pun ketika makan sushi untuk pertama kali. Butuh adaptasi hingga akhirnya saya bisa menyukai makanan itu (tapi saya ini pemakan segala, jadi meskipun rasanya biasa aja, saya bisa menerimanya xD), dan baru ketika pulang ke Indonesia saya bisa merasakan kangen dengan makanan-makanan itu. Coba aja bayangkan! Makan nasi pake ubi coy!! Belum lagi telur dadar mereka yang pake gula dan madu sampe manisnyaa luar biasa... Jadi, saya merasa agak aneh dengan Jingga yang bisa begitu mudahnya menerima masakan Korea. Eh, tapi saya belum pernah makan masakan Korea yang asli sih, jadi nggak tau juga... Huehehee....

Dari segi penceritaan, saya rasa gaya Orizuka bagus. Kata-katanya teratur, mengalir, dan juga enak dibaca. Hanya saja saya nggak habis pikir, bagaimana bisa suara Jingga (secempreng dan sekeras apapun itu) bisa sampai menembus dinding hotel berbintang lima dan terdengar oleh Rayan di kamar sebelahnya. It really didn't make sense to me. Begitupun dengan tour romantisme Korea mereka, yang saya baca dengan sangat nggak antusias. Soalnya, kok si Jingga ini jadi kelihatan murah banget ya? Segitu gampangnya nempel sama Rayan, melupakan tujuan utamanya datang ke Korea, dan bahkan melakukan hal-hal yang buat saya nggak masuk di akal!! Beli gembok cinta, t-shirt couple, dan nginep di love motel!! Yang terakhir seriusan nggak banget... -__________-

Tapi, meskipun banyak hal yang nggak saya suka, saya cukup menikmati beberapa bagian setelah lewat dari setengah cerita. Nah lho, bingung kan? :D Saya cukup suka bagian ketika mereka numpang nginap di rumah orang Korea, dan Jingga terpaksa bohong ke orang-orang itu kalau mereka suami istri. Tapi setelah Jingga dan Rayan kembali ke turnya, lalu ketemu sama Yun Jae lagi, saya mulai skip, skip, skip lagi. Oh iya, bagian Rayan yang mulai jatuh cinta ke Jingga juga cukup manis dan bikin deg-degan... #eeeaaa

Karakter Jingga di novel ini memang tipikal para fans Korea, dan fans-fans lainnya, yang hidup di dalam dunia khayalan mereka. Jadi, apa yang dilihat hanya indah-indahnya saja. Apalagi biasanya para penggemar cowok-cowok Korea ini banyak juga yang belum punya pacar dan selalu berdelusi untuk bisa pacaran bahkan nikah dengan idolanya (termasuk saya dulu dan juga teman-teman saya yang boy band freak). Entah karena lari dari kenyataan, atau kenapa... Jadi, apa yang dialami Jingga juga adalah impian bagi banyak orang. Menemukan cinta yang romantis, di negeri yang mereka cintai....

Oh iya, sebenarnya fanatisme berlebihan Jingga cukup bisa diterima sih, karena dia datang ke Korea sebagai turis. Tentu berbeda dengan orang yang datang dan tinggal disana, yang mau tidak mau akan melihat banyak kecacatan baik di masyarakat, maupun di sisi lainnya.

Dari tadi saya cerita Jingga melulu. Habis kalau buat saya, Rayan itu biasa saja. Karakternya ya udah standar cerita-cerita romens camnilah... Saya bingung dengan tokoh yang dua-duanya dibilang mirip orang Korea ini. Si Rayan dibilang mirip Kang Dong Won (aww!! saya demen sama Kang Dong Won, gara-gara "Maundy Thursday"!! #eeaaa), terus Jingga dibilang cocok jadi orang Korea juga. Saya jadi nggak bisa membayangkan muka mereka. Hehehee... Rayan ini dibilang dingin sama Jingga, nggak kayak cowok Korea. Weits! Padahal cowok Indonesia itu termasuk yang paling ramah dan hangat di dunia lhoo... #lebay Cowok Indonesia (yang lagi belajar atau tinggal di Jepang) aja tuh jadi inceran banyak cewek Jepang, karena mereka itu baik-baik, ramah-ramah, dan juga hangat. Tapi yang jelas, saya salut dengan sikap nasionalisme Rayan, terlepas karena dia lagi berhadapan dengan Jingga, atau karena dia memang benar-benar cinta Indonesia... :")

Jadi, cukup dua bintang untuk karya Orizuka yang pertama kali saya baca ini. Kapok? Nggak juga. Saya masih penasaran sama "I For You" karena itu judul lagu Jepang yang saya suka bangett...

Btw, sebenarnya saya biasanya menghindari baca teenlit, chicklit, atau apapun itu yang bau-bau romens macam ini. Dari dulu sampai sekarang, romens yang saya suka itu genrenya terbatas. Tapi, kali ini saya menantang diri saya untuk membaca cerita ini, dan hasilnya... maa... maa... alias biasa saja.




October 8, 2013

Samudera di Ujung Jalan Setapak


My rating: 2 of 5 stars

Ini adalah sebuah dongeng.... Dongeng yang berbeda dari apa yang pernah kau dengar sebelumnya. Dongeng yang mungkin tidak baru, tapi cukup mengusik imajinasimu.

Kisah ini mengenai seorang anak lelaki, seorang anak perempuan yang entah sudah berapa lama menjadi anak perempuan, dan keluarganya yang misterius... Maksudku keluarga si anak perempuan, bukan si anak lelaki. Karena keluarga si anak lelaki sangat normal (baca: manusia biasa), yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak perempuan, adik si anak lelaki.

Pertemuan si anak lelaki dengan Lettie (ya, itulah nama anak perempuan yang entah sudah berapa lama menjadi anak perempuan itu) bermula ketika seorang lelaki yang menyewa kamar di rumahnya meninggal secara misterius di dalam mobil ayah si anak lelaki. Si anak lelaki jadi berkenalan dengan keluarga Hempstock, yang aneh dan misterius. Si nenek berkata bahwa ia turut menyaksikan ledakan besar, si ibu terlihat cukup normal untuk ukurannya, dan si anak perempuan itu, Lettie, selalu mengatakan bahwa sebuah kolam kecil di ujung jalan setapak di dekat rumahnya sebagai sebuah samudra.

Setelah peristiwa meninggalnya si lelaki, berbagai peristiwa aneh pun mulai terjadi. Misalnya saja, bagaimana bisa sebongkah koin muncul dari tenggorokan si anak lelaki, padahal dia tidak pernah menelannya? Hingga akhirnya diketahui bahwa ada sebuah kekuatan jahat yang muncul dan harus segera dienyahkan demi kebaikan mereka semua.

Lettie dan si anak lelaki pun bersama-sama berusaha untuk mengalahkan kekuatan jahat itu, meski sebenarnya si anak lelaki tidak berkontribusi apa-apa, dan sang nenek sempat melarangnya. Si anak lelaki diperbolehkan ikut, asal ia tidak melepaskan Lettie dari genggamannya. Sayang, ia melepaskannya... Mengundang berbagai malapetaka yang jauh lebih berbahaya....

Dimulai dari seekor cacing yang tiba-tiba bersarang di kaki si anak lelaki, yang dengan beraninya ia keluarkan sendiri (dan cukup bikin ngilu). Lalu, tiba-tiba muncul seorang perempuan cantik, yang mengaku bernama Ursula Monkton, yang menumpang tinggal di rumah si anak lelaki dan bertindak sebagai pengasuh mereka, sebagai bayaran menginap secara gratis di rumah keluarga itu.

Namun, si anak lelaki tahu, bahwa Ursula bukanlah perempuan cantik biasa, yang mampu memikat seluruh keluarganya. Dia adalah wujud fisik dari kekuatan jahat yang dulu sempat berusaha ia kurung dengan Lettie, namun gagal karena kecerobohannya. Hanya ia yang tahu wujud sebenarnya dari perempuan itu, si kutu--seperti kata nenek Lettie--yang sedikit demi sedikit menghancurkan keluarganya. Lalu, bisakah ia lepas dari jerat Ursula? Dapatkah ia disegel kembali untuk selamanya dan tak menemukan jalan untuk kembali ke dunia ini? Dan yang terpenting, dimanakah Lettie berada, kenapa ia tidak datang sampai segalanya hampir atau mungkin sudah terlambat?

***

Membaca "Samudera di Ujung Jalan Setapak" itu cukup melelahkan buat saya. Awalnya saya sangat semangat untuk segera membaca karya terbaru Neil Gaiman ini. Namun tampaknya saya tidak terlalu menyukainya. Sepertinya kisahnya kali ini bukan selera saya saja. Idenya tentu saja masih luar biasa, begitu pula dengan absurditasnya. Hanya saja, rasanya saya tidak puas. Ada satu hal besar yang jadi pertanyaan saya, dan itu benar-benar mengganggu kenikmatan saya ketika membacanya.

Jadi, seperti yang sudah saya ceritakan di atas, "si kutu" tidak berhasil dipulangkan secara sempurna oleh Lettie, karena si anak lelaki melepaskan genggaman tangan Lettie. Lalu Ursula Monkton datang, dan dimulailah penderitaan si anak lelaki. Si anak lelaki menolak untuk makan apapun yang dibuat oleh Ursula, meskipun seluruh keluarganya sangat menyukainya dan memujanya, terutama adik dan ayah si bocah. Dia juga beberapa kali berusaha untuk kabur dan pergi ke peternakan Lettie, tapi gagal.

Usaha si anak lelaki untuk memberi tahu keluarganya kalau Ursula bukanlah manusia, gagal total, dan justru menyebabkannya hampir mati. Ironisnya, ia justru hampir dibunuh oleh ayahnya sendiri, yang menenggelamkannya di bak mandi (and this part is really sickening me!). Kenapa si ayah sampai tega berbuat seperti itu? Karena pesona Ursula begitu menawannya, hingga ia lupa dengan anak lelakinya!! Si ayah bahkan bercinta dengan Ursula (this one is pretty disgusting too... #hoeekk) sementara si anak yang masih siyok dan kedinginan, berusaha kabur dari rumahnya untuk mencapai peternakan Lettie.

Dimana Lettie? Kenapa ia membiarkan si anak lelaki menderita sebegitu lamanya? Kenapa dulu setelah si penambang opal mati dan si anak lelaki tersedak koin dari tenggorokannya, Lettie segera tahu kalau ada yang salah dan segera menemui si anak lelaki di rumahnya, lalu membereskan segalanya? Kenapa kali ini dia diam saja? Bukankah lepasnya tangan si anak lelaki merupakan sebuah tanda kalau akan terjadi sesuatu yang nggak beres nantinya? Kenapa si anak lelaki harus berjuang sampai hampir mati dulu baru bisa bertemu dengan Lettie? Kenapa?

Yep. Itulah pertanyaan yang mengganggu benak saya. Mungkin karena saya nggak sabar aja kali ya... Dan bagian dengan si Ursula itu benar-benar menjijikan bagi saya, hingga saya skip beberapa kali. Saya pikir saya akan menyukai kisah dongeng untuk dewasa Neil Gaiman ini, seperti saya menikmati "Stardust", tapi ternyata yah... cukup dua bintang aja dari saya...

Satu hal yang mengganggu juga adalah lirik lagu yang tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Hanya diberi bahasa Inggrisnya saja, tanpa arti ke dalam bahasa Indonesianya. Padahal tidak ada salahnya untuk menuliskan artinya di bawahnya. Surely, you didn't expect all your readers would understand english, huh? Emang kecil sih, dan nggak berpengaruh ke cerita juga, tapi entah kenapa saya merasa terganggu aja. Ya, mungkin karena saya memang merasa masih belum puas dengan cerita ini kali ya? Jadinya gitu deh bawaannya. Yang jelas saya nggak kapok baca cerita om Gaiman, dan masih terus menanti keabsurdan dan kefantastisan ceritanya....

Oh iya, buat saya judul "Samudera di Ujung Jalan Setapak" sudah bagus. Ada nuansa misterius dan romantis disana. Mungkin lebih baik kalau judul bahasa Indonesianya yang diperbesar, dan bahasa Inggrisnya yang diperkecil, supaya lebih banyak orang Indonesia yang mengerti, karena saya pikir judul "The Ocean at the End of the Lane" agak sulit untuk dihapalkan dan dipahami. 


October 7, 2013

Buying Monday #1

September telah berlalu, Oktober tiba... bersamaan dengan hujan, yang sedikit demi sedikit menyejukkan Jakarta. Duh, bahagianya akhirnya hujan turun juga. Soalnya udah di kantor kepanasan, eh di rumah masih kepanasan juga. Kalau hujan turun kan jadi adem, meskipun kadang saya jadi nggak bisa pulang. Huhuhuu...

Eh, tapi postingan saya kali ini bukan mau curhat soal hujan, lho. Saya mau ikutan book haul-nya si Aul (The Black in the Book). Dulu ketika masih wacana mau dibuat, saya padahal semangat banget pengen ikutan, eh tapi pas sudah mulai, saya malah lupa xD Maklum aja, soalnya dua bulan terakhir ini saya lagi malas baca ataupun ngeripiu buku. Lihat aja postingan saya, terakhir bulan Juli :'D #malahbangga

Hhhmm... pembelian bulan September ini sebenarnya rada-rada di luar dugaan, karena saya nggak ngira akan ada Gramedia Shocking Sale (bener nggak tuh namanya?) di Matraman. Yah, sebagai pecinta buku yang baik, mana mungkin saya nggak tergoda kalau ada sale buku seperti itu? Hasilnya ya bisa ditebak, saya jadi beli banyak buku deh. Hauhauu...

Oke, apa sajakah buku yang saya beli di bulan September ini? Berikut daftarnya.


Non Fiksi:
1. Filsafat Ilmu: Perspektif Barat dan Islam - Dr. Adian Husaini, dkk. (GIP)

Fiksi Indonesia:
2. Malam Wabah - Sapardi Djoko Damono (Bentang Pustaka)
3. The Jacatra Secret - Rizki Ridyasmara (Bentang Pustaka) --> Yang ini sebenarnya sih udah baca, tapi belum sempat koleksi, dan karena diterbitkan ulang oleh Bentang, ya udah saya beli aja. Hehehe xp



Fiksi Terjemahan:
4. Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng - Jostein Gaarder ( Qanita)
5. Are You There, God? It's Me, Margaret - Judy Blume (GPU)
6. Perfect Match - Jodi Picoult (GPU)
7. Kisah Dua Kota - Charles Dickens (Elex)
8. Inkheart - Cornelia Funke (GPU)
9. N or M? - Agatha Christie (GPU)
10. The Labours of Hercules - Agatha Christie (GPU)



Komik:
11, 12, 13. Here is Greenwood (1-3) - Yukie Nasu
14. Kumpulan Cerita Terbaik Miiko 6
15. Miiko! 22
16, 17. Appare Jipangu - Yuu Watase

Horeee!! Semuanya jadi genap 17 buku. Hahahaa... Ga nyangka banyak juga ya? Kapan bacanya coba? #selftalk Tapi jumlah ini masih sedikit banget kalau dibandingkan dengan jumlah buku teman-teman BBI lainnya, misalnya aja Ren (Ren's Little Corner) yang bulan September kemarin beli 40 buku!! Luar biasa banget kan?? Makanya, jumlah saya ini masih belum ada apa-apanya dibandingin dia.. xDD

Lalu, gimana dengan bulan Oktober ini, ya? Sepertinya saya masih tertarik ke Gramedia Matraman lagi, dan mengeksplor kira-kira ada buku apa yang bisa saya temukan disana. Khususnya sih saya mau ngincer manga-manga yang udah saya baca, tapi saya belum punya kayak One Piece, Miiko, FMA, dsb. Semoga saja niat suci (?) saya itu bisa terlaksana... :")

Amiin....

Oh iya, buat yang mau ikutan, silakan ikuti peraturan di bawah ini ^^

1.    Follow The Black in The Books melalui email atau bloglovin'.
2.    Buat post tentang buku-buku apa saja yang dibeli selama bulan itu, publish setiap hari Senin terakhir di bulan itu.
3.    Masukan link post tersebut di linky yang disediakan.
4.    Linky akan dibuka selama 3 minggu, agar bagi yang terlambat, masih bisa mengikuti meme ini.
5.    Bila ada yang memasukan link tentang book haul bulan berikutnya (bukan bulan yang ditentukan), maka link itu akan dihapus dari linky.
6.   Jangan lupa melihat-lihat book haul peserta lain! :D


July 17, 2013

Ingin Jadi Pembuat Kembang Api Sejati? Ini Dia Caranya...

Putri Si Pembuat Kembang Api (The Firework Maker's Daughter)Putri Si Pembuat Kembang Api by Philip Pullman
My rating: 5 of 5 stars

Apa yang paling dibutuhkan untuk membuat kembang api terbaik di dunia?

Bunga garam?
YA!

Bubuk awan?
YA!

Minyak kalajengking?
YAA!!

Bambu?
BISA JADIII!!

Pake santen??
TIDDAAAAAAAAKKKK!!!!!!!!

Ya, kira-kira apa ya yang dibutuhkan untuk membuat kembang api yang paling bagus di dunia? Bukan hanya berwujud bunga-bunga api yang meledak di angkasa, tapi kalau bisa, mereka seakan menari-nari dan juga tampak hidup seperti makhluk bernyawa. Untuk membuat kembang api terbaik di dunia, tentunya si pembuat kembang api juga adalah orang yang hebat dan punya keahlian. Lila merasa sudah punya semuanya, meskipun si ayah (namanya Lalchand) bilang kalau Lila belum pantas jadi seorang pembuat kembang api sejati.

Sebenernya si Lalchand ini bohong. Soalnya Lila kan dari kecil sampe gede udah terbiasa ngeliat bapaknya bikin kembang api. Ikut mbantuin juga. Dia bahkan menciptakan beberapa varian kembang api baru, misalnya aja Setan Jumpalitan dan Naga Meletup. Cuma, si ayah ini nggak mau kalau putri semata wayangnya mengikuti jejaknya. Seorang anak perempuan kan harusnya anggun, bukannya bau campuran benda-benda kimia. Punya kulit yang halus dan mulus, bukannya bopel-bopel gara-gara kena api.

Tapi, coba lihat Lila?

Kulitnya tidak halus dan mulus. Penampilannya juga jauh dari anggun. Belum lagi sifatnya yang sama sekali nggak seperti anak perempuan. Siapa yang mau sama dia nanti?

Oleh karena itu, Lalchand nggak mau memberi tahu Lila, apa rahasia terakhir supaya bisa jadi pembuat kembang api sejati. Dia khawatir putrinya nggak akan menjadi seperti wanita yang seharusnya (yang kayak gimana tuh, pop?) dan jadi pembuat kembang api seperti dirinya, yang sebenernya udah telat sih, karena udah jelas-jelas passion-nya si Lila itu adalah membuat kembang api.

Lila nggak hilang akal. Dia akhirnya minta bantuan temannya, seorang anak lelaki bernama Chulak, yang mengurus gajah putih milik raja bernama Hamlet. Singkatnya, Chulak menemukan rahasia terakhir yang bisa membuat Lila menjadi pembuat kembang api yang sesungguhnya.

Jadi, apa rahasia itu?

Harus melakukan perjalanan?
YAA!!

Ke dasar Samudera Atlantik?
TIDAAKK!!

Ke Gunung Merapi??
YAAA!!!

Sendirian??
BISA JADII!!!

Ketemu Razvani??
YAAA!!

Bawa sayur lodeh??
TIIDDDAAAAAKKKK!!!!

*ngos-ngosan* *minum aer Danau Zamrud dulu*

Ya, jadi Lila harus ke Gunung Merapi, masuk ke dalam Gua Angkara Api, demi bertemu Razvani. Razvani akan memberikan benda yang dibutuhkan Lila untuk bisa menjadi pembuat kembang api sejati. Sayangnya, Lila bertindak gegabah, karena terlalu bernafsu ingin membuktikan kepada ayahnya bahwa ia pasti bisa menemukan benda itu. Dia melupakan benda yang paling penting, benda yang akan menyelamatkan nyawanya.

Akhirnya, Chulak dan Hamlet mengejar Lila, demi mengantarkan benda penting itu. Oh iya, Hamlet itu sebenarnya bisa bicara bahasa manusia, tapi yang tahu hanya Chulak dan Lila aja. Udah gitu, Chulak sengaja bikin tubuh Hamlet dicoret-coret, karena orang-orang percaya kalau gajah putih itu bawa keberuntungan. Tentu saja Chulak nggak membiarkannya dengan gratis, meskipun dia bukan pemilik Hamlet, dia meminta bayaran atas setiap tulisan yang ditorehkan di tubuh Hamlet.

Nah, sanggupkah Chulak dan Hamlet membawa benda penting itu tepat pada waktunya? Mana si Lila jalannya cepet banget lagi... Padahal dia sempat dihadang Rambashi dan komplotannya (plus si Chang yang epik... xDD) Tapi, si Lila tau-tau udah nyampe aja di tempat Razvani dan mengikuti ujiannya. Ujian yang nggak mudah, karena Lila nggak memiliki tiga bekal. Apa lagi tiga bekal itu? Sayur lodehkah? Rendang sapikah? Atau... apa??

Eh, satu lagi. Gara-gara mau menyelamatkan anaknya, si Lalchand ikut membantu Chulak dan Hamlet kabur dari rumah pejabat. Sayangnya, ada seorang pembantu yang melihatnya dan melaporkan Lalchand ke raja. Akibatnya, dia akan dihukum mati! Bisa nggak tuh mereka menyelamatkan Lalchand, sementara nyawa Lila sendiri dalam bahaya!!!

Hahahaa, sebuah cerita anak yang sangat menghibur dan bikin saya ketawa ngakak. Disampaikan dengan sangat apik dan menarik, dibalut nuansa filosofis yang cukup kental, juga humor yang segar. Saya jauh lebih suka ini daripada si springheeled jack. Tokoh-tokohnya lucu-lucu!!! (*≧▽≦) Favorit saya si Rambashi, Chulak, Hamlet, dan tentunya Chang dan Lottus Blossom!!! xDD

Sisi filosofisnya memang nggak akan bisa dimengerti anak-anak, tapi saya pikir nggak masalah kalau mereka nggak ngerti. Jadi, menurut saya anak-anak dari berbagai usia bisa baca. Nggak papa nggak ngerti, soalnya saya yang udah dewasa aja juga nggak ngerti. *bangga* Tenang aja, semuanya itu hanya ilusi, jadi nggak usah dipikirin.

Saya selalu takjub sama buku-buku anak yang bisa dinikmati oleh orang dewasa, dan buku ini jelas salah satu contohnya. Buku kedua dalam dua minggu ini yang saya kasih bintang lima. Menang tiga dari Bintang Toedjoeh yang terpercaya... └(★o★)┐

Jadi, siapkah menjadi pembuat kembang api terbaik di dunia?

Kemudian, terdengar sayup-sayup lagu Sisakan Mangga Terakhir Untukku yang dibawakan Rambashi Melody Boys... Diiringi letupan kembang api jutaan warna yang menghiasi angkasa yang gelap gulita....

Peace, love, and gahol dari "Chang Cinta Lotus Blossom Penuh XXX".

P.S. Saya nggak tahu latarnya ini dimana. Kayaknya negeri antah berantah, karena meskipun si Lila dan Lalchand ini tampak seperti orang China, tapi sepertinya Chulak itu dari India, dan si Hamlet mungkin dari Thailand (bisa juga dari India sih). Pokoknya negeri campur aduk deh. Hahahaaa



Seraphina


SeraphinaSeraphina by Rachel Hartman
My rating: 5 of 5 stars

Di sebuah negeri bernama Goredd, manusia dan naga hidup bersama secara berdampingan. Meskipun hidup bersama, bukan berarti mereka saling menyukai satu sama lain. Kenyataannya, banyak juga yang membenci kehidupan yang harus dijalani oleh spesies yang saling berbeda itu.

Naga di Goredd berbeda dengan biasanya. Mereka bisa berubah menjadi manusia, atau lebih tepatnya bisa mengambil wujud manusia. Naga-naga semacam ini diberi nama saarantras, atau biasa disingkat dengan saar. Dulu, naga dan manusia berperang, hingga akhirnya 40 tahun yang lalu, dibentuklah sebuah perjanjian damai.

Sayangnya, meskipun perjanjian damai sudah dibuat, tidak semua orang senang dengan perjanjian itu. Ditambah lagi, tensi itu semakin meninggi ketika Pangeran Rufus, ditemukan tewas. Tentu saja banyak tersangka yang bisa diajukan, karena mungkin tidak sedikit yang mengincar nyawa seorang pangeran. Namun kondisi Pangeran Rufus ketika meninggal membuat semua orang yakin, bahwa hanya nagalah yang melakukannya. Jasad Pangeran Rufus ditemukan tanpa kepala, satu hal yang biasa dilakukan naga ketika membunuh musuhnya.

Sekarang, mari kita beralih ke tokoh utama di buku ini. Dia adalah Seraphina, seorang gadis berusia 16 tahun, yang memiliki kemampuan musik luar biasa. Seraphina memiliki seorang guru bernama Orma. Dia adalah "seorang" naga. Naga yang dikatakan tidak memiliki jiwa. Naga yang selalu dianggap kejam dan dingin, tapi juga cerdas luar biasa. Setidaknya, Orma memang cerdas luar biasa, karena dia adalah salah satu ilmuwan ternama di Goredd. Orma adalah guru yang sangat disayangi dan dihormati oleh Seraphina. Apalagi, Orma juga adalah salah satu anggota keluarganya yang penting. Orma adalah pamannya.

Paman? Jadi, Seraphina itu naga?

Jawabannya, bisa ya bisa tidak. Sebabnya, karena Seraphina adalah blasteran. Ia separuh naga dan separuh manusia. Ayah Seraphina adalah manusia biasa, berprofesi sebagai seorang pengacara kerajaan, dan memiliki posisi yang cukup tinggi di masyarakat. Sementara ibu Seraphina adalah seorang naga, yang meninggal ketika dirinya lahir. Tentu saja tidak ada yang boleh tahu kalau Seraphina adalah kaum blasteran. Bagi kedua spesies itu, menikah antarspesies adalah hal yang sangat hina dan juga rendah. Keselamatan Phina sendiri bisa terancam jika orang-orang tahu siapa dirinya yang sesungguhnya, apalagi di tengah krisis akibat meninggalnya Pangeran Rufus ini.

Seraphina memiliki bakat alami dalam bermain musik, sebuah bakat yang diturunkannya dari ibunya. Bakat yang sangat dicintainya, meskipun ayahnya sempat membenci bakat itu. Bakat itulah yang membuatnya mendapatkan tempat sebagai musisi istana, di bawah Viridius, sang komposer istana yang sudah tua. Posisi itu jugalah yang membuatnya menjadi guru pribadi sang putri mahkota, Putri Glisselda.

Glisselda adalah pewaris tahta kedua Goredd, setelah ibunya, Putri Dionne. Selda adalah gadis yang ceria dan juga aktif, tapi juga bisa menunjukkan kewibawaannya sebagai seorang putri mahkota saat dibutuhkan. Selda telah ditunangkan dengan sepupunya, Pangeran Lucian Kiggs, yang bertanggung jawab atas keamanan kerajaan. Pangeran Lucian adalah anak haram. Ibunya diusir dari istana karena menikah dengan rakyat jelata.

Pangeran Lucian tertarik pada Phina, yang dianggapnya sangat cerdas tetapi juga misterius. Phina tahu banyak soal naga, dan ia tidak merasa canggung berada di dekat mereka. Tentu saja, karena dia sendiri separuh naga! Lucian beberapa kali menyelamatkan Phina, dan mereka pun jadi bersahabat (hhmm, bertiga juga sih sama Selda). Banyak aspek di antara mereka berdua yang sangat cocok, mulai dari ketertarikan mereka akan filsafat, ibu yang sama-sama sudah meninggal, dan mereka berdua sama-sama cerdas.

Namun, tentu saja Phina tidak bisa berkata jujur mengenai identitas dirinya itu. Ia tidak mungkin bilang ke Lucian (yang dipanggil Kiggs oleh Phina) kalau dia punya sisik di lengan kiri dan juga di daerah pinggang. Ia tidak mungkin mengatakan kalau ayahnya menikah dengan naga, dan Orma adalah pamannya. Ia juga tidak mungkin bercerita kalau dia memiliki taman berisi makhluk-makhluk aneh di dalam otaknya, yang harus ia jaga setiap hari. Apalagi makhluk-makhluk aneh itu terkadang berulah, yang membuatnya kehilangan kesadaran seketika. Makhluk-makhluk itu adalah salah satu warisan ibunya, bersama visi yang terkadang menyerangnya begitu saja.

Goredd sebentar lagi merayakan 40 tahun perjanjian damai antara manusia dan naga. Ardmagar Comonot, sang jenderal pemimpin naga, akan berkunjung ke Goredd. Namun, kondisi keamanan di Goredd justru semakin buruk. Kebencian terhadap naga semakin menjadi-jadi, pertama dengan kematian Pangeran Rufus yang diduga dibunuh oleh naga, ditambah lagi dengan para ksatria ahli dracomachia (seni bela diri khusus untuk melawan naga) yang diasingkan yang mengaku melihat naga liar. Belum lagi campur tangan Putra St. Ogdo yang kerap main hakim sendiri terhadap naga, dan juga pihak yang dicurigai Kiggs adalah pembunuh sebenarnya pamannya.

Siapa yang membunuh Pangeran Rufus? Benarkah seekor naga, atau justru kelompok lain yang ingin memecah belah mereka? Siapakah makhluk-makhluk penghuni taman Seraphina? Jika mereka makhluk fiktif, kenapa pada suatu hari Phina bertemu salah satu dari mereka di dunia nyata? Siapa kulit baru bernama Basind yang disuruh tinggal bersama Orma? Benarkah naga tidak punya jiwa? Kalau tidak punya, kenapa ibu Phina bisa jatuh cinta kepada manusia, dan kenapa Orma memiliki keterikatan yang dalam terhadap Phina? Dan, benarkah hubungan Phina dan Kiggs hanya hubungan persahabatan belaka?

Ya, silakan cari sendiri jawabannya. Saya sendiri bingung mau cerita apa. Susah rasanya mau meresensi buku yang kita suka. Sempat saya diemin dulu beberapa hari karena saya bingung harus merangkai kata dari mana. Saya sendiri sebenarnya cukup kaget pada diri saya, karena memberikan bintang 5 untuk buku ini. Saya suka cerita fantasi, tapi terlalu banyak cerita fantasi di luar sana, sehingga tidak sedikit yang temanya serupa. Cerita fantasi yang membahas naga pun tidak sedikit, dan saya pikir saya mungkin akan bosan kalau ceritanya tentang naga lagi.

Iya sih, saya tahu rating di Goodreads-nya memang bagus. Tapi saya bukan orang yang percaya rating, karena setiap buku memiliki kesan yang berbeda bagi setiap orang yang membaca. Makanya, saya merasa takjub ketika saya menyukai buku ini.

Bisa dibilang hampir semua tokoh yang ada di buku ini telah menarik minat saya. Dimulai dari Seraphina, si tokoh utama yang separuh naga dan separuh manusia. Awalnya sih biasa aja, karena si Phina ini kok kayaknya datar banget ya, jadi orang. Saya sempat khawatir nggak akan suka sama dia, karena saya punya kecenderungan untuk nggak suka sama tokoh utama wanita dalam buku-buku YA yang saya baca. Tapi untungnya Phina berbeda, dan meskipun butuh waktu cukup lama, ternyata saya menyukainya.

Saya juga suka sama Orma, guru naga Phina, yang juga merupakan paman kandungnya. Orma ini orangnya cool banget, mungkin sama kayak semua naga lainnya. Dia sangat cerdas dan selalu mengandalkan rasionya. Sama seperti naga pada umumnya, dia sangat suka matematika dan aljabar. Dia mengajarkan banyak hal pada Phina. Dia juga sangat sayang pada Phina, dan menunjukkannya seperti bagaimana seharusnya naga bersikap. Dia juga sangat sayang pada kakak perempuannya, Linn, yang tidak lain adalah ibu Phina. Perasaan sayang Orma yang kaku-kaku datar-datar gimana itu yang bikin saya suka.

Tokoh selanjutnya yang saya suka adalah Pangeran Lucian Kiggs, atau biasa dipanggil Kiggs sama Phina (ini si pangeran sendiri yang minta dipanggil begitu). Dia ini sangat cerdas, punya insting yang bagus, dan juga tampan (kkyaaaa... eeeaaa). Dedikasinya sangat tinggi pada pekerjaannya, yaitu sebagai Ketua Garda Ratu. Dia memiliki hubungan emosional dengan Pangeran Rufus, pamannya. Makanya dia adalah orang yang paling sedih ketika tahu pamannya meninggal dibunuh orang atau makhluk misterius. Di antara banyak orang, tampaknya Seraphina adalah salah satu orang yang paling tahu banyak tentang Kiggs, mungkin karena persamaan di antara mereka. Kiggs ini sosok yang adorable deh di mata saya, dan kayaknya bakal masuk ke dalam "Book Boyfriend" tahun ini, karena perasaannya dan juga dedikasinya. Aaahh.... Kiggs....

Yang terakhir adalah Abdo. Sosok misterius dari taman Seraphina. Abdo ini masih kecil, tapi dia sudah paham banyak hal. Sifatnya dia, perhatiannya dia, dan kenyataan bahwa dia.... *piiip* *ilang sinyal* bikin saya suka banget sama dia. (*´▽`*♥ Jadi pengen pesen adek cowok satu yang kayak Abdo. Kyaaa~~~

Tumben-tumbenan lho, saya bisa suka sama banyak tokoh di satu buku. Ini entah mood saya yang lagi bagus atau gimana ya? Kok kayaknya emang nggak ada tokoh yang bener-bener nyebelin atau bener-bener jahat banget di buku ini. Ada sih, tapi perannya nggak terlalu signifikan dan orangnya juga udah matek.

Sama seperti beberapa orang, saya merasa kalau di awal itu alurnya sangaatt lambat... Sampai-sampai saya butuh waktu lama hanya untuk baca sekitar 100-an halaman. Banyak deskripsi dan narasi, yang sebenarnya memang sangat penting untuk kelangsungan cerita, tapi cukup bikin mandeg juga. Setelah lewat 150-an halaman, baru deh ceritanya mulai seru dan mulai nggak bisa lepas. Saya bahkan sampe bela-belain begadang, saking penasarannya. Mana paginya harus saur, dan besoknya kerja lagi (iya, salah saya emang nggak nyari waktu tepat buat begadang (; ̄д ̄)). Tapi yang namanya penasaran, nggak bisa berenti, ya mau gimana lagi...

Saya menutup buku dengan perasaan puas. Tapi kemudian saya tersadar, kalau..... LANJUTANNYA MASIH LAMAA!!!!! #kagaknyanteamatdahgua

Saya harus nunggu setahun lagi, karena baru akan terbit tahun 2014 mendatang... (┳Д┳) *nangis kejer lalu cari doraemon pinjem mesin waktu* Itupun versi englishnya, versi Indonesianya pasti mundur beberapa bulan. Saya kan penasaran sama lanjutannya. Penasaran sama hubungan Kiggs dan Seraphina (yang sempet bikin saya heboh sendiri di akhir cerita), dan terutama penasaran banget sama si Jannoula, makhluk dari taman Seraphina yang paling aneh dan misterius.

Semoga aja tahun depan saya dapat buntelan lagi dari Gramedia (Ini murni ngarep. Pake banget). Pokoknya harus diterbitin lho, lanjutannya! *ngancem*

Oh iya, sebelum saya lupa, saya harusnya ucapin terima kasih dulu ke Mbak Yudith, dari Gramedia, yang udah berbaik hati memberikan buntelan ini ke anak-anak BBI. Juga Mas Dion yang jadi humasnya, hingga anak BBI bisa mendapatkan asupan buku-buku gratis bergizi. Sering-sering aja ya, Mbak... Kami menerima segala jenis buntelan buku dengan tangan terbuka.... huehehee *nggak tau malu*








July 4, 2013

Mio Anakku, Sang Pangeran dari Negeri nun Jauh


My rating: 4 of 5 stars

Di zaman dahulu kala, tapi tidak terlalu dahulu, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Mio. Mio adalah putra mahkotadari Negeri Nun Jauh. Sebuah negeri yang tidak akan bisa kau bayangkan dimana letaknya, karena sangat jauh dan tak akan bisa kau jangkau. Pangeran Mio hidup bahagia bersama ayahnya sang raja... Tapi itu sekarang, karena sebelumnya Pangeran Mio hidup menderita, meski tidak terlalu merana, dan jauh dari ayahnya.

Mari kita mundur sejenak. Sebelum ini, belum ada orang yang bernama Pangeran Mio. Yang ada hanyalah Bo Vilhelm Olsson atau yang biasa dipanggil Bosse. Bosse tinggal dengan kedua orang tua angkatnya yang jahat, Tante Edla dan Paman Sixten. Kalau mereka jahat kepada Bosse, kenapa mereka mau repot-repot mengambil Bosse dari panti asuhan, ya? Orang dewasa memang aneh... Ketika seorang anak kecil sudah tidak lucu lagi, mereka berhenti menyayanginya....

Untungnya Bosse tidak lama-lama menderita di rumah orang tua angkatnya itu, karena Bosse tiba-tiba pergi ke sebuah negeri yang aneh. Anehnya lagi, di negeri itu ternyata ia adalah pangeran dan ayahnya adalah seorang raja!! Tante Edla memang salah besar karena menganggap ayah Bosse adalah gelandangan. Dia pasti malu dan membungkuk kalau tahu kalau ayah Bosse, Ayahku sang Raja, adalah seorang raja! Ahaa!!

Karena kita telah tiba di Negeri nun Jauh, maka mari kita tinggalkan nama Bosse. Bosse sudah hilang, yang ada hanyalah Mio, sang pangeran dari Negeri nun Jauh. Mio sempat merasa sedih, karena harus berpisah dari sahabatnya, Benka, karena Mio (alias Bosse) menghilang tiba-tiba. Benka pasti sedih. Begitupun dengan Mio yang merindukan Benka. Untung saja di sana Mio bertemu seorang teman baru. Namanya Jum-Jum, dia anak penjaga kebun istana. Jum-Jum mirip Benka, atau setidaknya begitulah yang ada di mata Mio. Mio dan Jum-Jum senang bermain dan tertawa keras-keras. Dan kini, tidak ada lagi yang memarahi Mio karena tertawa keras-keras. Ayahku sang Raja sangat senang mendengar tawa Mio, tidak seperti Tante Edla dan Paman Sixten yang senang memarahi Mio kalau ia tertawa keras-keras.

"Aku suka suara kicau burung," katanya. "Aku suka musik dari pohon-pohon poplar perakku. Tetapi yang paling aku sukai adalah mendengar suara tawa anakku di Taman Mawar ini."


Baik sekali ya, ayahnya Mio. Dia memang sangat senang bisa bertemu lagi dengan putranya, setelah 9 tahun terpisah. 9 tahun penantian panjang tanpa kejelasan. Karenanya, raja sangat senang mendengar tawa Mio, senang bermain dengannya, senang melihatnya. Ayahku sang Raja bahagia karena putranya telah kembali ke sisinya....

Karena itu, ia sangat sedih ketika Mio harus pergi melawan Kesatria Kato. Seorang lelaki yang sangat jahat yang telah memberikan teror mengerikan di Negeri nun Jauh yang indah. Kesatria Kato telah menculik adik-adik Nonno, seorang anak gembala baik hati, yang telah membuatkan suling indah untuk Mio dan Jum-Jum. Kesatria Kato juga telah menculik adik perempuan Jiri, sehingga Jiri dan keluarganya bersedih hati. Kesatria Kato juga telah menculik anak kuda yang indah dari Hutan Kemilau Bulan, hingga seratus kuda putih bersurai indah menangis darah karenanya. Kesatria Kato juga telah menculik anak perempuan ibu penenun, yang tinggal di sebuah pondok cantik bak di negeri dongeng, yang di sekelilingnya dipenuhi bunga-bunga apel putih yang bersinar di bawah sinar bulan, sehingga ia menenun dalam kesedihan dan keputusasaan.

Mio harus pergi melawan Kesatria Kato. Sang raja sudah tahu itu. Jum-Jum juga tahu. Semua orang di Negeri nun Jauh tahu. Semua sudah diramalkan sejak lama. Hanya Mio yang tidak tahu, karena memang banyak sekali hal yang tidak tahu dari tempat tinggal barunya itu. Ia tidak tahu kalau Miramis, kudanya yang cantik, bisa terbang. Ia tidak tahu kalau Roti Penghilang Lapar rasanya sangat lezat. Ia juga tidak tahu kalau air di Sumur Pelepas Dahaga adalah air yang paling segar yang pernah ia minum. Dan tentu saja ia tak tahu kalau Sumur yang Berbisik pada Malam Hari mampu mendongeng dengan indah dan menggugah perasaannya.

Mio harus pergi melawan Kesatria Kato, meskipun ia merasa takut dan tidak memiliki kekuatan apa-apa. Nasib Negeri nun Jauh ada di tangannya. Nasib negeri yang dicintainya, orang-orang yang dicintainya, dan tentu juga nasibnya sendiri....

Mio tidak sendiri. Ada Jum-Jum di sampingnya. Ada Miramis yang selalu setia mengikutinya. Ada suling buatan Nonno yang berkali-kali membantunya. Ada sendok ajaib milik adik perempuan Jiri yang diculik Kesatria Kato. Ada jubah milik adik Nonno yang diculik Kesatria Kato, yang kemudian ditenun lagi oleh ibu penenun di hutan apel. Dan yang terpenting, ada ayah Mio, sang raja yang selalu mendukung anaknya, dengan ucapan.... "Mio anakku....".

:")

Dongeng yang sangat indah. Saya suka sekali dengan cara Astrid Lindgren menyampaikan kisahnya. Saya suka sekali dengan Mio, Jum-Jum, Nonno, Jiri, Miramis, Ayahku sang Raja, dan semuanya. Tidak ada karakter yang benar-benar saya benci, kecuali mungkin Tante Edla dan Paman Sixten. Saya bahkan pada akhirnya cukup bersimpati pada Kesatria Kato yang jahat luar biasa itu.

Petualangan Mio disampaikan dengan sederhana, tetapi tidak merusak keseruan ceritanya. Meskipun bagi beberapa orang dongeng ini tampak kelam, tapi bagi saya dongeng ini sangat indah. Mungkin ini buku yang bagus untuk menjelaskan kepada anak-anak, kalau di dunia ini tidak hanya ada kesenangan dan kebahagiaan saja, tetapi juga kesedihan, duka, bahkan kematian. Semuanya adalah proses hidup, yang pasti akan dirasakan oleh setiap manusia. Melihat tema ceritanya, mungkin ada baiknya buku ini dibaca oleh anak-anak di atas 9 tahun, sesuai usia Mio, karena walaupun disampaikan dengan sederhana, tetapi saya pikir anak yang sudah lebih tua akan lebih mudah memahami berbagai perasaan yang dialami oleh Mio. 


 

Eclair


Éclair: Pagi Terakhir di Rusia by Prisca Primasari
My rating: 3 of 5 stars

Oke, padahal saya belum membuat review dari dua dorama dan dua anime yang sudah saya tonton, tapi sekarang saya mau buat review buku ini dulu (ups, curhat...).

"Eclair: Pagi Terakhir di Rusia" adalah buku Prisca Primasari pertama yang saya baca. Sejujurnya nih, jujur nih ya... saya jangan ditabok, ya... Saya itu jarang banget baca buku karya penulis Indonesia. Apalagi kalau genrenya romance-romance gitu, biasanya nggak akan saya lirik. Tapi bukan berarti saya meremehkan karya penulis Indonesia lho ya, soalnya saya suka sama Tere Liye dan punya hampir semua bukunya (iya, kalo udah suka emang jadi setia ngoleksi bukunya). Hhhmmm ya, selain karena saya nggak gitu suka romance, saya juga jarang (bahkan hampir nggak pernah) beli bukunya Gagas. Selain lebih mahal (menurut saya), saya juga bukan orang yang gampang tergoda dengan iming-iming cover cantik. Apalagi dengan sinopsis ga jelas dan terkesan "cheesy" yang ada di belakang bukunya. Jadi makanya, ketika teman saya menawarkan saya untuk membaca bukunya, saya langsung mengiyakan.

Baiklah, sekarang masuk ke ceritanya. Buku ini berkisah tentang hubungan lima orang bernama Sergei, Katya, Stepanych, Lhiver, dan Kay. Sergei dan Stepanych adalah kakak adik, begitupun dengan Lhiver dan Kay. Sementara itu Katya adalah satu-satunya perempuan, dan juga tunangannya Sergei. Persahabatan dan hubungan perasaan yang mendalam di antara mereka bermula dari sepotong eclair, kue Prancis yang mirip kue sus itu...

Seiring berjalannya waktu, persahabatan mereka semakin erat, hingga mereka sendiri pun yakin bahwa tidak akan ada yang sanggup memisahkan hubungan itu. Namun, semuanya berubah ketika dua tahun yang lalu, ada sebuah tragedi besar yang membuat hubungan mereka tercerai berai. Lhiver jadi membenci empat sahabatnya, dan memutuskan untuk pergi jauh dari mereka. Katya tenggelam dalam perasaan bersalah hingga membenci eclair, yang dulunya adalah kue favoritnya dan yang memperkenalkannya pada sahabat-sahabatnya. Kay melarikan diri pada dunia fotografi yang menjadi hobinya, dan bepergian ke seluruh dunia. Hanya Sergei yang tetap terlihat tegar, meski sebenarnya ada luka yang masih selalu basah di dalam hatinya. Sedangkan Stepanych adalah orang yang paling merasa bersalah, hingga penyakit semakin menggerogoti tubuhnya, menghilangkan kesadarannya, dan hanya ada satu hal yang paling diinginkannya di dunia ini, yaitu bertemu dengan Kay dan Lhiver....

Katya kemudian memutuskan untuk membawa Kay dan Lhiver menemui Stepanych, karena ia sadar waktu Stepanych tidak akan lama lagi. Meskipun ketika itu hanya tinggal 2 minggu saja menjelang pernikahannya, Katya yang memang seorang gadis keras kepala dan berpendirian kuat sudah bertekad untuk membujuk Kay dan Lhiver untuk pulang ke Rusia, tak peduli seberapa pun bencinya mereka pada dirinya.

Katya pun berangkat ke New York, tempat tinggal Kay bersama istrinya, Claudine. Usaha membawa Kay pulang tidak mudah, karena ternyata Kay sedang tersangkut kasus berat yang menyebabkannya harus dipenjara. Katya harus berkejaran dengan waktu untuk membuktikan bahwa Kay tidak bersalah. Untungnya Katya, dibantu oleh Claudine, berhasil menuntaskan misi mereka, sehingga Katya bisa beranjak ke PR selanjutnya yang lebih sulit, yaitu membujuk Lhiver pulang.

Lhiver tinggal di Surabaya, menghabiskan waktu sebagai seorang dosen sastra dan juga pengajar bahasa Prancis di universitas disana. Lhiver ini suka banget sama kesusateraan, sampe bikin saya pengen ngobrol sama dia. Pasti seru deh. Hahahaa... Nah, si Lhiver inilah yang hingga kini masih menyalahkan kakak dan sahabat-sahabatnya atas tragedi yang menimpa dirinya dua tahun yang lalu. Padahal ketika tragedi itu terjadi, rasa sakit itu bukan hanya milik Lhiver. Jika Lhiver hanya merasakan sakit dan dengan mudahnya menyalahkan orang lain, maka mereka yang dituduh olehnya merasakan perasaan yang jauh lebih besar dan menyakitkan, yang bernama perasaan bersalah dan juga menyesal. Iya, saya nggak suka dengan sikapnya Lhiver yang menyalahkan orang lain atas tragedi, yang bahkan kita sendiri nggak punya kuasa atasnya.

Jadi, sanggupkah Katya membujuk Lhiver untuk pulang ke Rusia, mendatangi pernikahannya dengan Sergei, dan yang terpenting bertemu dengan Stepanych untuk terakhir kalinya? Akankah persahabatan mereka yang sempat retak kembali bersatu?

Silakan baca sendiri untuk menemukan jawabannya. Kalau saya sendiri sih cukup suka dengan cerita ini, buktinya saya sanggup menghabiskannya dalam waktu beberapa jam saja. Suatu hal yang cukup emejing, karena akhir-akhir ini saya kalo baca lama banget. Baca buku di atas 200 halaman dalam sehari itu hanya tinggal mimpi, padahal dulu saya sanggup baca Harry Potter dan Orde Phoenix hanya dalam sehari saja. Tapi sekarang... beuuhh... Lammaaa!! Banyak terganggu oleh internet, hape, sama anime dan dorama yang terus merayu saya agar lebih memperhatikan mereka daripada tumpukan buku di rumah. Hohoho.... Lha, jadi curhat lagi kan... (一。一;;)

Bahasa yang digunakan Prisca sangat enak untuk dibaca. Plotnya lancar meskipun alurnya yang maju mundur kadang bikin saya bingung. Satu lagi yang juga bikin saya bingung adalah ketika menghitung usia mereka, karena yang disebutkan dengan jelas hanya Sergei saja, yang usianya sudah 36 tahun, beda 11 tahun dari Katya. Aduh, om-om ganteng dan cool, luluh deh hati saya... kyakyakyaa~~ #ups

Sentuhan misteri dan referensi kepada musik juga sastra dalam buku ini patut menjadi nilai tambah, karena turut memperkaya tema cerita. Terutama sih sastranya, yang jadi terlihat kalau Prisca banyak membaca karya kesusasteraan dunia.

Satu hal yang bikin saya nggak sreg dan ngerasa agak-agak maksa itu adalah latar belakang Katya, yang nyawanya terancam karena dikejar-kejar oleh muridnya Rasputin. Kalau dikejar-kejar atau diincer sama KGB karena Bapaknya dulu adalah mata-mata Rusia yang berkhianat (macem bapaknya Lisbeth Salander di "The Girl With The Dragon Tattoo"), atau diincer sama musuhnya Rusia karena bapaknya intel, sih saya malah lebih paham dan bisa nerima. Apalagi menurut saya di bagian itu rada-rada maksa biar nyambung ke dalam cerita. Soalnya, hidup Katya setelah itu baik-baik aja tuh, nggak keliatan mendapatkan gangguan yang berarti dari kelompok itu. Ya emang sih si Sergei tajir melintir sampe bisa nyewa body guard atau mata-mata, atau hal lainnya buat melindungi tunangannya, tapi tetep aja kok rasanya aneh yaa...

Lalu, sekarang saya mau cerita soal Stepanych. Adik Sergei yang ahli patisserie ini menurut saya nasibnya paling ngenes. Dia adalah orang yang paling ceria dan penghidup suasana di antara mereka berlima. Namun, dia juga yang paling merasa bersalah atas kejadian dua tahun yang lalu, hingga ia jadi merusak tubuhnya sendiri. Saya suka bagian cerita ketika Stepanych berkunjung ke tetangganya yang aneh dan senang menutup diri. Saya juga suka hubungan kakak adik antara Stepanych dan Sergei yang cocwiit itu.

Oh iya, ada satu hal lagi yang agak bikin saya terganggu. Hal itu adalah.... penggunaan kata tampan yang terlalu banyak ketika menjelaskan tokoh-tokohnya. Kayaknya jadi mikir: "Mesti ya, dijelasin kalo si Lhiver tampan, si Sergei tampan, Stepanych tampan, Kay juga tampan.". Jadi seolah-olah didikte kalau mereka semua wajahnya tampan, padahal menurut saya sih penjelasan dengan rambut mereka seperti apa, mata mereka gimana, wajah mereka gimana, sudah cukup. Hhhmm, bukan berarti Prisca nggak menjelaskan itu semua, dijelaskan kok. Jadi, maka dari itu menurut saya kata-kata tampan itu nggak perlu. Lagian ya, tokoh dalam novel romance mana ada sih yang nggak tampan? Apalagi mereka semua orang bule, Rusia pun, yang bagi orang Indonesia ya tampan semua.

Yah, terlepas dari itu semua, cara Prisca meramu novelnya ini cukup apik dan semanis eclair, tapi juga sepahit coklat.... #tsaahh





December 2, 2013

Hansel and Gretel


Hansel dan Gretel by Jacob Grimm
My rating: 4 of 5 stars

Tahukah Anda kalau salah satu saudara tiri Cinderella, atau yang berdasarkan kisah aslinya bernama Ashcenputtel, sengaja memotong ibu jarinya supaya bisa muat ke dalam sepatu emas (bukan sepatu kaca) milik Ashcenputtel karena ia ingin bersanding dengan pangeran?

Tahukah Anda kalau pangeran yang memanjat dinding Rapunzel untuk menyelamatkan gadis cantik itu awalnya tidak berhasil, lalu jatuh dan menjadi buta?

Tahukah Anda kalau sebenarnya Putri Salju (yang di dalam cerita disebut dengan Snow White, padahal saya pikir nama Putri Salju sudah familiar di Indonesia) bukan dibangunkan oleh ciuman pangeran, tapi karena apel beracun yang dimakannya keluar dari tenggorokannya ketika peti matinya tiba-tiba terjatuh ketika mau dinaikkan ke atas kuda pangeran? Dan saya pikir pangeran itu pasti sudah gila karena jatuh cinta pada putri yang sudah mati, bahkan berniat membawa petinya ke kerajaannya untuk dikagumi setiap harinya. Lalu, tahukah Anda kalau ibu tiri Putri Salju dipaksa untuk mengenakan sepatu yang terbuat dari besi panas dan harus menari sampai mati?

Pasti banyak di antara kita yang tidak tahu, seperti juga saya sebelum membaca kisah asli dari dongeng-dongeng yang dikumpulkan oleh Grimm Bersaudara ini. Ada 19 buah dongeng di dalam buku ini, jumlah yang masih sangat kecil dibandingkan dongeng asli yang dikumpulkan oleh Grimm Bersaudara, yang jumlahnya mencapai 200-an. Namun dongeng-dongeng ini cukup untuk memberikan kita gambaran betapa selama ini kita telah tertipu oleh gambaran "Hidup bahagia untuk selamanya" yang dipopulerkan oleh kisah-kisah dongeng dari Disney, dan tidak tahu kisah sebenarnya di balik dongeng-dongeng ini.

Misalnya saja kisah Putri Duyung yang sebenarnya tragis dan sama sekali tidak berakhir bahagia. Atau kisah Putri Tidur yang juga sama mengerikannya. Ya, dongeng-dongeng jaman dulu memang tidak selalu berakhir bahagia, bahkan justru lebih banyak kemalangan dan tragedi di dalamnya. Tidak hanya di Eropa sana, tapi juga di Indonesia. Tentu kita sudah mengenal bagaimana kisah Tangkuban Perahu, Malin Kundang, atau Danau Toba yang sama sekali tidak berakhir dengan "hidup bahagia untuk selamanya". Namun saya pikir, dari dongeng-dongeng itu kita justru belajar mengenai kepedihan hidup, pengorbanan, dan juga perjuangan. Yah, daripada kita harus mengalaminya sendiri, tentu saja lebih enak kalau membaca saja, kan?

Beberapa saat yang lalu saya pernah membaca mengenai para orang tua di Amrik sana, yang tidak setuju jika buku jenis tertentu (yang di dalamnya ada tragedi dan kematian, tapi saya lupa judul bukunya apa... T_T) dibacakan di ruang kelas. Yah, memang sih saya setuju ada beberapa buku yang seharusnya dibaca oleh anak sesuai dengan usianya. Tapi kalau soal dongeng, kisah sejarah, ataupun kisah-kisah yang berhubungan dengan agama, saya pikir tidak masalah diceritakan dari awal. Kesedihan, kematian, dan penderitaan adalah hal yang pasti ada di dunia ini. Dan kita tidak bisa menutup mata anak-anak itu, karena setiap harinya, di sekeliling kita sendiri pun, ada banyak hal-hal tak menyenangkan semacam itu.

Justru yang sebenarnya harus ditingkatkan adalah peran orang tuanya, bagaimana mereka selalu ada di samping anak-anak mereka ketika mereka membaca, menonton, dsb. sehingga mereka bisa langsung bertanya dan tidak membutuhkan jawaban dari orang luar yang bisa jadi tidak sesuai dengan harapan kita. Itulah sebabnya, jadi orang tua, khususnya jadi ibu itu harus pintar. Mereka harus membaca juga buku-buku yang dibaca oleh anak-anaknya, bahkan kalau bisa, lebih banyak lagi dari itu. Lagipula, dongeng-dongeng ini jelas merupakan cerita yang lebih baik dibandingkan kisah-kisah perselingkuhan dan kawin-cerai artis nasional, ataupun kisah-kisah korupsi para politikus terhormat di negeri ini.

Salah seorang guru saya pernah berkata, kalau dongeng-dongeng klasik memang banyak yang bercerita tentang kemalangan, karena hidup di masa itu tidaklah mudah. Misalnya saja kisah Hansel & Gretel, yang dibuang oleh orang tuanya di hutan. Mereka adalah semacam penghibur untuk anak-anak yang dibuang oleh orangtuanya, karena kesulitan ekonomi dan hal lainnya. Sayangnya, tidak semuanya mengalami nasib baik seperti Hansel dan Gretel, banyak yang tetap terpisah dengan orang tua mereka, dan mati mengenaskan.

19 dongeng di dalam buku ini menyajikan kisah-kisah yang tak selalu bahagia, tapi tetap indah. Meskipun ada juga beberapa dongeng yang saya nggak suka, khususnya yang melibatkan putri cantik jelita dan pangeran tampan serta kaya. Apalagi kalau putrinya nggak pake usaha, terus ujug-ujug dapet pangeran tampan macam cerita Pangeran Katak dan Putri Tidur. Oh iya, kisah Putri Tidur disini bukan yang dihamilin sama raja terus baru bangun ketika anak-anaknya lahir, kisah disini lebih "manis", soalnya menurut yang saya baca disini, awalnya Putri Tidur memang bukan dikisahkan oleh Grimm Bersaudara. Begitupun dengan kisah Rapunzel, yang setahu saya sempat anu-anuan sama Pangeran sampai akhirnya dia hamil.

Yah, maklum deh... Namanya juga sastra lisan, pasti ada begitu banyak versi yang beredar. Tapi memang justru bagus karena apa yang saya sampaikan di atas nggak diceritakan disini. Jadi, buku ini bisa dibaca oleh semua kalangan. Dan buat orang-orang haus kebenaran (#tsaah bilang aja kepo xp) seperti saya, tinggal menjelajahi dunia maya untuk mengunduh kisah-kisah asli Grimm Bersaudara, yang kini sudah menjadi hak publik ini....

P.S. Satu hal yang bikin saya sebel adalah buku ini nggak dilengkapi dengan DAFTAR ISI!! Kan saya jadi susah kalau mau baca ulang dongeng-dongeng tertentu saja... ヽ(o`皿′o)ノ ヽ(≧Д≦)ノ(┳Д┳)

November 30, 2013

My Girl: Seorang Ayah, Gadis Kecil, dan Kenangan akan Perempuan yang Dicintai


Judul: My Girl
Jumlah volume: 1-5 (selesai)
Penulis: Sahara Mizu

Bagaimanakah seorang anak dapat mengubah kehidupan seseorang?

Bagi Kazama Masamune, seorang anak benar-benar mengubah kehidupannya. Ia, yang awalnya hanya seorang lelaki lajang berusia 23 tahun, bekerja sebagai seorang karyawan biasa, dengan kehidupan yang biasa, tiba-tiba dikejutkan dengan hadirnya seorang anak perempuan berusia 4 tahun, yang mengaku anaknya.

Koharu namanya. Ia adalah putri dari Tsukamoto Youko, kekasih Masamune sekitar lima tahun yang lalu, ketika dia masih duduk di bangku kelas 3 SMA, dan Youko adalah mahasiswi yang empat tahun lebih tua darinya. Iya, perbedaan usia mereka memang cukup jauh, tapi Masamune sangat mencintai Youko, dan percaya mereka akan terus berhubungan meskipun ia sudah lulus SMA.

Hingga pada suatu hari, ketika Masamune akan lulus SMA, Youko berkata bahwa ia akan pergi belajar dan bahkan mungkin sekaligus bekerja di Amerika. Masamune sangat sedih, dan bertekad untuk menyurati Youko. Dia memang melakukannya, menyurati Youko dengan tekun, meskipun tidak pernah ada balasan dari wanita yang dicintainya itu. Akhirnya, ia pun menyerah dan berhenti mengirimkan surat. Youko pasti telah melupakannya, dan hidup enak di luar negeri sana.

Lalu di hari itu... Koharu hadir di hadapannya. Pertemuan mereka tidak disengaja, ketika Koharu yang sangat sedih karena kehilangan ibunya kabur dari rumah...

Ya. Youko telah tiada. Wanita yang sangat dicintai Masamune itu meninggal dunia. Setelah bertahun-tahun tidak mendapatkan kabar dari Youko, ia tidak pernah menyangka bahwa dengan cara inilah mereka akan dipertemukan lagi. Ditambah lagi, Youko ternyata telah memiliki seorang putri, dengan dirinya, yang entah merupakan anugerah ataukah musibah bagi Masamune.

Tentu saja kehadiran Koharu tidak langsung diakui oleh Masamune. Siapa juga yang akan percaya jika tiba-tiba ada seorang anak berusia 4 tahun yang mengaku bahwa sebagai anak?

Tapi surat-surat Youko--yang mengiris hati--membuat Masamune yakin kalau gadis kecil itu memang putrinya. Surat-surat Youko yang tersimpan rapi, dan tak pernah dikirimkannya ketika masih hidup. Surat-surat Youko yang menandakan kalau iapun masih mencintai Masamune dan begitu merindukannya. Surat-surat yang mengubah pendirian Masamune, hingga ia pun memutuskan untuk membesarkan Koharu. Dan, inilah kisah mereka...


"My Girl" adalah manga karya Sahara Mizu, mangaka Jepang yang baru-baru ini menjadi favorit saya. Saya sangat suka dengan komiknya yang berjudul "Bus Hashiru". Ceritanya sederhana, berkisar kisah-kisah cinta yang berhubungan dengan bus dan tempat pemberhentiannya. Cerita-ceritanya sederhana, sangat manis, dan menghangatkan jiwa.

Namun, saya tidak begitu suka dengan "Watashitachi no Shiawase na Jikan", atau Our Happy Time, yang merupakan versi manga dari novel karya penulis Korea, Gong Ji-young. Novelnya ini juga sudah difilmkan dengan judul "Maundy Thursday", dan saya sukaaa sama filmnya... >____________<

Oke, jadi OOT. Kembali ke manga "My Girl". Hhmm... saya cukup suka dengan kisah yang ini, karena buat saya cerita yang melibatkan hubungan ayah dan anak perempuan itu tuh manis bangeett... #langsungdiabet. Apalagi Masamune masih muda, dan pasti sulit untuk membesarkan seorang anak kecil sendirian. Lebih-lebih dia nggak pernah menikah sebelumnya, dan perempuan yang jadi ibu anaknya sudah meninggal dunia. Di tengah masyarakat Jepang yang kibishii alias kejam itu, pasti sulit sekali bagi Masamune untuk membesarkan Koharu sendirian. Walaupun sebenarnya nggak sendirian-sendirian amat sih, karena ibunya Youko, alias neneknya Koharu, masih secara rutin membantu Masamune. Begitupun dengan kedua orang tua Masamune, yang akhirnya menerima Koharu, meski pada awalnya ibu Masamune merasa sangat kecewa dan menolak cucunya. Tapi ya, siapa sih yang bisa menolak pesona seorang gadis kecil berusia empat tahun?

Apalagi Koharu ini dewasa banget, nggak kayak bocah usia empat tahun. Yah, karena Youko itu kan single mother, jadi Koharu harus bersikap baik agar mereka nggak ngatain ibunya. Dan sekarang dia tinggal berdua sama ayahnya, yang nggak dipanggil papa, tapi Masamune-kun (ikut Youko yang manggil dengan nama itu), jadi dia pun tidak boleh bersikap buruk, karena ayahnya yang pasti akan kena cibiran dari orang-orang.



Tapi.... saya pikir alur komiknya terlalu cepat. Sangat cepat bahkan. Koharu yang tadinya masih TK, tau-tau sudah mau masuk SD saja. Lalu Koharu akhirnya masuk SD, dan diceritakan kalau dia ingin masuk SMP ibunya (ini pas masih kelas 1 SD), setelah lihat foto Youko pakai seragam SMP, karena dia ingin bisa pakai seragam yang sama dengan ibu tersayangnya itu. Tapi, SMP ini adalah sekolah elit, jadi Koharu harus siap-siap dari sekarang (iya, dari kelas 1 SD). Akhirnya, Koharu ikut ujian persiapan untuk masuk bimbel biar bisa masuk ke SMP itu. Masih kelas satu lho bboookkk!! Dan udah disuruh persiapan buat masuk SMP??!! Meskipun akhirnya Koharu baru ikut ketika dia kelas 2 SD, tapi tetep aja... Gue aja dulu pas masih kelas satu mikirnya cuma maen doang, lha ini? Anak kelas satu udah disuruh masup bimbel buat persiapan SMP! ARIENAI!!

Nah, buat saya, alur yang terlalu cepat ini cukup mengganggu kenikmatan membaca, karena tahun-tahun pertama kehidupan Masamune dan Koharu jadi tidak dijabarkan secara detail. Padahal menurut saya, bagian itu justru paling penting, karena masing-masing mengalami perubahan hidup yang sangat drastis. Masamune yang tiba-tiba harus ngurusin anak, dan Koharu yang tiba-tiba hidup tanpa ibunya. Sedewasa apapun Koharu, mengurus anak tetaplah bukan perkara mudah. Dan saya ingin tahu bagaimana perubahan hidup Masamune dan Koharu secara perlahan, bukan dengan cara yang terlalu cepat seperti itu.

Yang berikutnya rada-rada spoiler, jadi kalau nggak mau tau, diskip aja yaa... xp

=====

Belum lagi, saya tidak suka dengan akhirnya, yang melibatkan perempuan lain yang nantinya mungkin akan menjadi ibu baru Koharu. Saya tidak suka dengan perempuan itu, karena menurut saya justru Koharu-lah yang harus berkorban lebih banyak. Misalnya ketika si cewek baru ini memberikan hadiah pernak-pernik kucing hitam ke Koharu, untuk menggantikan aksesoris serba lady bug yang selalu dipakai Koharu. Lady bug ini punya peranan penting bagi mereka, dan merupakan binatang kesukaan Youko.

Dari situ saya mulai nggak sreg sama nih cewek. Siape lo deh, dateng-dateng langsung berharap Koharu melupakan ibunya (meski dengan cara yang sangat halus)?

(≧Д≦)ノ (≧Д≦)ノ(≧Д≦)ノ(≧Д≦)ノ(≧Д≦)ノ(≧Д≦)ノ

Arrggghh!! Kenapa nggak dengan cewek yang sebelumnya aja? Yang menurut saya jauh lebih dewasa. Sikapnya juga unik dan agak-agak mirip sama Youko.

=====

Versi agak spoiler selesai ┏((= ̄(エ) ̄=))┛

Oh iya, satu hal lagi yang kurang dieksplor adalah tentang Youko. Sebagai perempuan yang dicintai oleh Masamune dan orang yang melahirkan Koharu, saya pikir Youko seharusnya mendapat tempat lebih di dalam cerita. Saya jadi ingat bagaimana Honda Tooru, yang sering sekali bercerita tentang ibunya yang sudah tiada, di manga Fruits Basket (favorit saya inih.. >__<). Penjabaran Takaya Natsuki sensei dalam menggambarkan karakter Honda Kyoko benar-benar luar biasa, sehingga terasa sangat hidup. Bahkan ada beberapa chapter tersindiri yang khusus bercerita tentang dia. Belum lagi kisah dia dan bapaknya Tooru yang bikin saya nangis bombay... TT____TT Kyoko begitu hidup, sehingga saya pun merasa karakternya adalah sesuatu yang sangat penting, hingga Tooru begitu mengidolakannya.

Sayangnya, di "My Girl" ini, menurut saya porsi Youko sangat kurang. Padahal, Masamune dan Koharu sudah berjanji untuk saling bercerita tentang Youko ketika mereka merasa rindu dengannya. Masamune akan bercerita tentang Youko selama ia pacaran dengannya, dan Koharu akan bercerita tentang hidupnya bersama ibunya (meski seharusnya nggak terlalu banyak, karena dia masih sangat kecil dan seharusnya belum bisa mengingat terlalu banyak hal tentang ibunya). Saya kan ingin tahu bagaimana Masamune dan Youko bisa jadian, masa-masa kehamilan Youko dan ketika ia membesarkan Koharu sendirian, terus kenapa ikatan di antara mereka sangat kuat, sampai-sampai meskipun sudah 5 tahun berlalu, Masamune masih nggak bisa mupon juga...

Dorama
Foto: wiki.d-addicts.com

Sekarang, kita beralih ke doramanya. Saya pikir, saya lebih suka doramanya daripada manganya. Disini, Masamune terlihat lebih manusiawi.

Berbeda dengan komiknya, dimana Masamune memiliki pekerjaan tetap, di doramanya Masamune diceritakan sebagai seorang freeter atau orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap, dan hanya bekerja sambilan. Masamune kerja sambilan di sebuah studio foto, meskipun sebenarnya dia nggak tahu mau jadi apa. Iya, dia suka sama fotografi (berkat kenangannya dengan Youko juga), tapi dia nggak punya hasrat ataupun cita-cita buat jadi fotografer terkenal. Hidupnya ya begitu-begitu aja. Datar... Nggak jelas... Hingga Koharu hadir ke kehidupannya.



Gambar: arashigeneration.tumblr.com
Sama seperti komiknya, Koharu disini juga bersikap sangat dewasa, dan selalu bicara dengan bahasa Jepang yang sopan. Koharu-nya lucu banget, saya sampai geregetan pengen gendong-peluk-cium bocah satu ini.. >_____< Oh iya, akting nangisnya Ishii Momoka disini jempolan banget. Saya sampe ikutan nangis ketika lihat dia nangis... (┳Д┳)(T▽T) o(╥﹏╥)o o(;△;)o (;*△*;) (´╥﹏╥)

Selain itu, disinipun lebih banyak karakter pendukungnya. Misalnya saja guru Hoikuen (tempat penitipan anak sih sebenernya, tapi jadi TK juga) Koharu, yang awalnya nyebeliiinnn bangetttt. Gurunya ini galak banget ke Masamune, sampai bilang kalau dia nggak pantas jadi ayah (yee, siape lo lagii... ( ꒪Д꒪)ノ) Soalnya, Masamune sering lembur kerja, jadi telat mulu jemput Koharu. Belum lagi karena Masamune ninggalin Koharu sendirian di rumah, abis jemput Koharu dia balik lagi ke kantor dan baru pulang tengah malem, Koharu jadi suka ngantuk di sekolah. Pokoknya bener-bener ayah abal-abal deh si Masamune ini... Tapi memang sangat wajar dan manusiawi, karena dia kan nggak pernah ngurus anak kecil sebelumnya. Nah, aspek ini yang kurang saya dapat di komiknya. Di manganya, Masamune bisa meng-handle semua hal, jadi nggak terasa terlalu butuh orang lain, dan nggak begitu banyak percikan-percikan hidup... #tsaahh

Terus, karakter lain yang saya suka adalah Ooya-san (induk semang) Masamune beserta istrinya. Jadi Masamune ini memang ngekos, di sebuah rumah tua yang indah. Alasan kenapa Masamune tinggal disana juga karena Youko, karena dia ingin tinggal di tempat itu. Nah, si Ooya-san ini galak banget, dan nggak suka sama anak kecil. Makanya, pada awalnya Masamune menyembunyikan kehadiran Koharu, hingga suatu malam penghuni rumah itu mendengar suara anak kecil nyanyi malam-malam, dan mengira itu adalah hantu! Padahal itu adalah Koharu yang nyanyi sambil melihat bulan purnama, dan mengenang ibunya... #banjir (┳Д┳)(T▽T) o(╥﹏╥)o o(;△;)o (;*△*;) (´╥﹏╥)

Gara-gara itu, Koharu jadi ketauan sama istrinya Ooya-san, tapi dia nggak mau bilang ke suaminya. Berkat istri Ooya-san inilah Koharu jadi ada teman ketika Masamune harus lembur sampai tengah malam.

Sayangnya, di doramanya nggak ada Shu. Shu, teman tapi musuh Koharu, adalah satu-satunya orang yang bisa bikin Koharu lepas kendali. Koharu biasanya kan dewasa banget pembawaannya, tapi begitu ada Shu, dia jadi lepas, bahkan bisa marah. Mungkin memang sulit menemukan anak cowok berkarakter kuat dan aneh kayak Shu, makanya tokoh ini ditiadakan.

Begitupun dengan Kana dan keluarganya. Saya suka sekali dengan mereka di manganya, tapi di doramanya tidak ada. Selain itu, di doramanya Kana sangat menyebalkan, hingga saya merasa dia nggak pantes berteman dengan Koharu. Huh!! ((( ̄へ ̄井)


Gambar: arashigeneration.tumblr.com
Kazama Masamune, yang diperankan oleh Aiba Masaki benar-benar oke banget. Aiba cocok buanged jadi papah muda disini. Chemistry-nya sama Koharu juga dapet banget, cocwit banget ngeliat mereka berdua gandengan tangan, ngobrol, dsb. Ketika gendong Koharu juga... Kawaaaiiii!!! (,,>______<,,) Jadi pengen... #eh #abaikan

Satu lagi yang buat saya suka sama doramanya. Di dorama-nya ini, perkembangan Aiba eh Masamune juga terlihat jelas. Bagaimana dia yang sebelumnya adalah seorang lelaki biasa-biasa aja yang nggak punya tujuan hidup dan nggak bisa diandalkan, jadi seorang lelaki yang tegar, dewasa, dan tahu apa yang diinginkan. Meskipun dia seringkali menghadapi kebingungan, seputar pengasuhan anak, tapi dia terus belajar, hingga akhirnya dia menjadi lebih dewasa secara bertahap di setiap episodenya.

Gambar: arashigeneration.tumblr.com
Jadi, itulah sebabnya saya lebih suka dengan doramanya daripada manganya (tumbeeen lhooo....). Lagu temanya yang dinyanyikan oleh Arashi juga suka bangeett... Cocok banget sama doramanya. Kyakyakyaa~~

Arigatou no omoi wo tsutaetai yo
Sotto kimi no moto e
Tooku hanarete shimattemo
Omoide ni michita mirai e

Ingin kusampaikan perasaan terima kasih ini
Perlahan-lahan kepadamu
Meskipun jarak memisahkan kita
Ada masa depan yang dibangun dari kenangan itu

Me wo tojireba
Kimi to sugoshita ano kisetsu ga omoiukabu
Futari no kioku tsunaideiku
Kyou mo sotto chiisana nukumori atsumete

Ketika kututup mataku
Aku mengenang musim yang kulalui bersamamu
Mengikat kenangan di antara kita
Mengumpulkan kembali kehangatan lembut itu, kini
 
(╥﹏╥)(╥﹏╥)(╥﹏╥)(╥﹏╥)
Gambar: arashigeneration.tumblr.com
Btw, ada gosip kalau Aiba katanya akan mau menikah, dengan salah satu aktris Jepang favorit saya, Mizukawa Asami. Semoga kabar itu benar... mereka segera nikah, lalu punya anak. Biar menghapuskan shoushika, alias fenomena berkurangnya anak, di Jepang.

Bahkan menurut saya, seharusnya itu mas-mas Johnny's buruan pada disuruh nikah aja semua. Sayang-sayang amat, om-om cakep pada masih lajang semua XD. Di SMAP aja cuma Kimutaku yang udah nikah. Di V6 pun baru satu. Di Kat-tun baru Akanishi Jin. Di Arashi belum ada, padahal mereka sudah 30-an sekarang. Buruanlah kalian pada menikah, supaya memberikan kontribusi pada kemajuan Jepang. Kekkon shiro!! Kodomo tsukure! Shoushika kese! Ahahaaaiii...

Gambar: arashigeneration.tumblr.com


Review ini sebenarnya mau diikutkan dalam event baca bareng BBI bulan ini, yaitu komik atau novel grafis. Tapi karena saya nggak keburu bikin kemarin, jadilah hari ini buatnya xp Maapkeun sayah ya...

Saya memang jarang banget bikin review manga di blog ini, karena rada malas dan sayang juga. Tapi mungkin ke depannya nanti saya akan mencoba untuk membuat review manga-manga yang sudah saya baca, apalagi manga-manga favorit yang membawa perubahan dalam kehidupan saya... #tsaahh

 

November 12, 2013

Montase: Di Antara Sakura yang Berguguran

Montase by Windry Ramadhina
My rating: 3 of 5 stars

Suatu hari saya mengikuti sebuah training motivasi bersama teman-teman saya. Disana kami diminta untuk menuliskan cita-cita di atas kertas, lalu melipat kertas itu menjadi pesawat dan menerbangkannya. Ada yang menuliskan dengan begitu cepat dan dengan mantap melipat pesawat kertasnya, lalu menerbangkannya ke angkasa. Sementara yang lainnya tampak bingung, berpikir lama, dan tampak ragu-ragu ketika menerbangkan pesawatnya.

Jika Anda diminta untuk melakukan hal serupa, yang manakah diri Anda? Apakah Anda dapat dengan mudah menuliskan cita-cita dan impian dalam hidup, lalu menerbangkannya diiringi jutaan doa ke angkasa? Ataukah Anda ragu-ragu bahkan harus mengubek-ubek isi otak terlebih dahulu sebelum dapat menuliskannya ke atas kertas, lalu melipatnya menjadi pesawat, dan menerbangkannya dengan perasaan gamang?

Haru mungkin tipe yang pertama, yang dengan mantap menuliskan cita-citanya di atas kertas, melipatnya menjadi pesawat, lalu menerbangkannya dengan penuh harapan. Wanita Jepang ini memang tampaknya tahu betul apa yang ia inginkan. Mimpinya. Cita-citanya. Meskipun impian itu tidak selalu sejalan dengan keinginannya, tapi itu tidak menjadi masalah bagi gadis itu. Baginya, asal impian besarnya bisa terpenuhi, maka sudah tak ada lagi penyesalan di dalam hidupnya.

Sedangkan Rayyi, tokoh utama dalam cerita ini, mungkin tipe yang kedua. Bukan berarti Rayyi ini pemuda galau yang tidak tahu ingin menjadi apa di masa depan dan menyerahkan segalanya kepada nasib. Bukan seperti itu. Rayyi tahu apa yang diinginkannya. Tahu apa yang disukainya. Namun keadaan membuatnya harus melepaskan impiannya dan membuatnya mengikuti apa yang diinginkan ayahnya.

Rayyi ini anak seorang produser film ternama di Indonesia. Ia diharapkan untuk mengikuti jejak ayahnya, membuat film box office yang mainstream, laris, disukai banyak orang, menghasilkan uang banyak, nggak peduli film itu punya makna atau tidak. Sementara Rayyi ingin menjadi pembuat film dokumenter, yang notabene bukanlah genre populer dan akan dicintai oleh banyak orang.

Kehadiran Haru, gadis kepala angin yang mirip boneka kokeshi dan gemar makan onigiri serta teriak-teriak "kawaii" ini membuka mata Rayyi, akan apa yang sebenarnya paling penting di dunia ini. Namun, saat kesadaran itu hadir ke dalam dirinya, apakah Rayyi masih punya waktu dan kesempatan untuk mewujudkannya? Ataukah ia harus mengorbankan hal penting dalam hidupnya terlebih dahulu demi mencapai impiannya?

Jawabannya silakan dibaca sendiri di dalam novel "Montase" karya Windry Ramadhina ini. Menurut saya, kisahnya manis dan cukup romantis, meski tidak membuat saya menangis. Penggambaran tokohnya sangat baik, begitupun dengan pengembangan karakter mereka. Rayyi si mahasiswa semester enam IKJ yang berantakan; Haru si mahasiswi dari Jepang yang ceroboh dan suka salah masuk kelas bahkan salah lihat jadwal; Samuel Hardi--dosen matkul dokumenter Rayyi dan Haru--yang sinis, pede jaya, tapi jenius; sahabat-sahabat Rayyi yang unik; hingga ayah Rayyi yang dingin dan ambisius.

Sayangnya, ada beberapa hal yang bikin saya kurang sreg dengan novel ini.

Pertama, soal Haru. Haru diceritakan sebagai mahasiswi dari Jepang yang pergi ke IKJ sebagai seorang pertukaran pelajar. Biasanya sih ya, mahasiswa asing datang ke Indonesia itu buat belajar bahasa Indonesia, bukan untuk ikut mata kuliah di Indonesianya. Makanya, saya bertanya-tanya seberapa jago bahasa Indonesianya si Haru sampai sanggup ikut mata kuliah-mata kuliah yang ada, yang notabene pakai bahasa Indonesia. Soalnya tidak dijelaskan sebelumnya soal dimana Haru belajar bahasa Indonesia, dan kenapa dia memilih untuk pertukaran pelajar di Indonesia, karena menurut saya alasan "di kampus saya tidak ada peminatan dokumenter" itu adalah hal aneh.

Kedua, mengenai bahasa dan tanda baca. Entah kenapa, beberapa percakapan yang dilakukan antara Rayyi dan sahabatnya di novel ini menurut saya masih agak kaku. Begitupun dengan sisipan anak kalimat yang hanya menggunakan tanda "-" satu dan bukannya dua. Setahu saya, kalau mau menyisipkan itu seharusnya dengan menggunakan tanda strip panjang, yang kalau di Microsoft Word itu dibuat dengan mengetik tanda "-" dua kali lalu diapit dengan kata yang bersangkutan lalu ketik spasi. Jujur saja, ini cukup mengganggu saya, karena ada banyaakk sekali kalimat yang seperti ini.

Ketiga, soal latar. Ketika Haru dan Rayyi ke Japan Foundation untuk menonton film dokumenter Jepang, ada adegan ketika Haru membelikan minum dari mesin penjual minuman di lobi Gedung Summitmas. Hhhmm... Setau saya sih nggak ada barang begituan di Summitmas, soalnya saya udah sering banget ke JF. Dan ketika saya konfirmasi ke teman saya yang kerja di sana, dia bilang "Hahaha ngaco.. dia pasti berhalusinasi. Mungkin terlalu ngefans sama JF kali" xp. Yah, itu mungkin improvisasi Windry kali ya, tapi buat orang yang sudah sering ke tempat itu, pasti merasa aneh dengan fakta ini. Hehehe...

Lalu soal kereta ekspres yang dinaiki Haru dan Rayyi dari Cikini. Agak aneh aja disebut dengan "kereta ekspres" soalnya penyebutan itu adanya pas jaman saya kuliah dulu, dimana si kereta cuma berhenti di stasiun-stasiun tertentu saja dan ekonomi masih merajai rel. Nah, karena novel ini terbit tahun 2012, harusnya disebutnya sudah Commuter Line lah ya, alias comline atau comel. Sudah begitu, pertama disebutkan naik dari Cikini, tapi lalu setelahnya latarnya jadi Gondangdia, jadi yang mana dong yang benar? Kalau kosan mereka dekat IKJ sih, harusnya ya dari Cikini dong ya, bukan Gondangdia.

Ketiga, soal bahasa Jepang. Bahasa Jepang yang digunakan di novel ini sudah cukup bagus dan benar penggunaannya, walaupun ada beberapa juga yang salah dan agak aneh. Seperti kata-kata "Hai, desu yo" di halaman 185 yang menurut saya tidak tepat. Yang lebih tepat seharusnya, "Hai, sou nan desu yo," karena di kata yang pertama itu tidak jelas Haru memberikan penekanan terhadap apa. Tidak ada subyeknya disana.

Lalu kata "raifu" yang menurut saya juga agak tidak tepat. Saya pikir orang Jepang lebih senang pakai kata "jinsei" meskipun keduanya memiliki arti kata kehidupan. Yang satu kata serapan bahasa Inggris, yang satunya dari bahasa Jepang asli. Tapi mungkin Haru ingin Rayyi mengerti sepatah dua patah kata yang dia ucapkan, makanya sengaja pakai versi Inggrisnya kali ya...

Bahasa Jepang Rayyi juga yang bikin saya merasakan ganjalan lainnya. Di awal diceritakan kalau Rayyi menggunakan bahasa Jepang seadanya, ketika ia berkunjung ke Jepang demi menemukan Haru. Tapi di akhir cerita, Rayyi dapat ngobrol panjang lebar dengan orang tua Haru, pakai bahasa Jepang!! Sugoi da ne!! Demo, muri jan!! Masa Rayyi dapat begitu cepatnya menguasai bahasa Jepang? Terus, Rayyi belajar bahasa Jepangnya dimana? Soalnya kok saya dapat kesan Rayyi langsung cao ke Jepang begitu dapat surat dari Haru? Lagian, emang Rayyi sempet belajar bahasa Jepang ya? Dia kan "disiksa" Samuel Hardi siang dan malam di rumah produksi filmnya....

Huehehe.. maaf ya... saya emang tipe pembaca perfeksionis yang suka rewel bin bawel X) Terutama karena ada hal yang saya tahu banget disini. Kalau soal film dan sebagainya, saya pasrah deh, soalnya saya nggak ngerti. Hahahaa

Oh iya, ketika membaca deskripsi Rayyi mengenai Haru, saya jadi ingat sama Aoi Miyazaki di film "Tada Kimi Wo Aishiteru". Soalnya dijelaskan kalau Haru itu berbadan kecil, lincah, dan juga ceroboh, mirip sama Aoi di film itu yang imuutt banget. Jadi, setiap kali Haru muncul, yang kebayang di kepala saya ya si Aoi itu deh. Kalo Rayyi-nya... siapa ya? Nggak ada bayangan!! Hahahaa X)

Omong-omong, tadinya saya sempet curiga, jangan-jangan novel ini nanti mirip-mirip sama film itu lagi xD. Alhamdulillah nggak, meskipun akhirnya mereka harus menghadapi hal yang tragis sebelum mencapai impian juga sih. Fffiuuhh...

Saya memilih buku ini secara acak saja, tanpa tahu ceritanya seperti apa (Yeah, jangan pernah mengandalkan sinopsis di belakang cover untuk buku-buku Gagas). Saya kaget aja gituh ketika buku yang saya baca ternyata ada hubungannya sama Jepang-jepangan, karena sebenarnya saya lagi nggak mood untuk baca buku kayak gitu... Hwahahaa... Lalu, ketika saya masuk halaman pertama, awalnya saya pikir Haru itu cowok dan Rayyi itu cewek xp (Ya kali gitu namanya Haruto atau Haruo terus panggilannya Haru... lagian saya punya temen cewek namanya Rayi... So don't blame me, okay! xp) Ternyata Windry pakai sudut pandang cowok, jadi saya kecele deh... xD

Tiga bintang untuk sakura yang mekar sempurna lalu beguguran ditelan angin. Filosofi orang Jepang mengenai sakura memang seperti yang disampaikan Windry di novel ini. Sakura yang hanya mekar sempurna sementara saja, lalu gugur seolah menari-nari karena tertiup angin. Keindahan yang tidak abadi, tapi begitu berharga untuk dinikmati...


October 11, 2013

Inifinely Yours: Kisah Cinta si Maniak Korea

Infinitely Yours by Orizuka
My rating: 2 of 5 stars

Ketika SMP, saya mulai tertarik dengan segala hal yang berbau Jepang. Awalnya, tentu saja karena di masa saya, yaitu awal 2000-an, anime begitu marak menghiasi layar kaca negeri ini. Samurai X, Inu Yasha, Fushigi Yuugi, Kindaichi, Conan, Dragon Ball, Digimon, sangat banyak dan hampir semuanya nggak pernah lupa saya tonton. Saya juga suka baca manga, meski jarang banget beli, dan dari situ mulailah kecintaan terhadap Jepang. Saya mulai dengerin lagu Jepang, suka beli Animonster, jadi tau band-band Jepang, kebudayaannya juga, hingga akhirnya ketika SMA, saya punya cita-cita baru. Saya mau kuliah di Jepang.

Sayapun mendaftar beasiswa Monbusho yang dikeluarkan oleh pemerintah Jepang. Sayangnya, saya gagal, karena di kelas 3 itu saya benar-benar males banget belajar. Jujur aja, masa kelas 3 SMA itu adalah masa paling membosankan dari SMA, dan mungkin dari hidup saya juga. Nggak ada yang berkesan disana. Lalu, karena saya masih mau banget dapat beasiswa ke Jepang, jadilah saya masuk sastra Jepang. Sebelumnya saya sempat milih Komunikasi dan HI juga (ketika try out xp), tapi karena saya nggak ikut bimbel, jadi ya sudah, saya ambil Sastra Jepang (sebenarnya sih Prodi Jepang, karena kami nggak hanya belajar sastra aja) UI sebagai pilihan pertama saya. Alhamdulillah, saya keterima... :)

Prodi Jepang tuh benar-benar surganya para otaku dan pecinta Jepang. Ada yang maniak anime, ada yang maniak manga, maniak dorama, boyband Jepang, hingga band-band rock juga. Di tempat itu, saya bisa mendapatkan hal-hal yang berhubungan dengan Jepang dengan sangat mudah, dan kebanyakan gratis pula xp. Tapi, seiring dengan mulai mengetahui banyak hal tentang Jepang, kecintaan saya terhadap Jepang jadi menurun. Jadi biasa-biasa saja. Hingga akhirnya saya dapat program pertukaran pelajar selama setahun ke Jepang, dan rasa cinta saya pun mulai berubah jadi benci.... #tsaaahhh #lebaaayyy

Ya. Jepang yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri itu nggak seindah bayangan saya. Orang-orangnya dingin dan nggak mudah bergaul dengan orang lain. Mereka nggak kenal sama Indonesia (yang bikin saya merasa seperti orang bodoh, karena sempat suka banget sama Jepang). Mereka nggak tau kalo nasi goreng dari Indonesia (taunya dari Thailand mosok... -__-). Cowoknya dingin-dingin, tepean, dan kayaknya pengennya dikejar-kejar sama cewek. Mereka juga nggak tau Islam, apalagi jilbab yang saya pakai. Beberapa kali mereka ngira kalo jilbab itu pakaian tradisional Indonesia, meskipun saya beberapa kali juga dibilang cantik sih... :") (muji diri sendiri). Yah, intinya saya sempat merasa muak dengan hal-hal berbau Jepang. Saya nggak mau dengerin lagu Jepang, nggak mau baca manga, nggak mau nonton anime, dan banyak lagi lainnya. Parahnya, saat itu saya lagi di Jepang, dan saya nggak bisa kabur dari itu semua!! T___T

Oh iya, karena hal-hal yang saya rasakan itu juga, nasionalisme saya akan Indonesia tuh jadi benar-benar bangkit. Saya jadi benar-benar cinta mati sama Indonesia ketika saya ada di negara luar. Beneran deh, nggak ada artinya saya bisa bahasa Jepang dan tau kebudayaan Jepang, tapi gunung tertinggi di Indonesia tingginya berapa aja saya nggak tau. Saya juga nggak bisa lancar main angklung, nggak bisa bahasa daerah, dan banyak hal lainnya tentang Indonesia nggak bisa saya banggain ke mereka. Meskipun setiap ada kesempatan, saya selalu narsis dengan keindonesiaan saya. Ketika lihat laut Jepang yang hijau butek, saya jadi terbayang laut Indonesia yang biru dengan pasirnya yang putih. Ketika melihat festival di Jepang yang sama semua, saya jadi membayangkan betapa indahnya keanekaragaman kebudayaan di Indonesia. Betapa kayanya negeri saya.

Itu sebabnya, ketika melihat karakter Jingga di novel "Infinitely Yours" ini, saya jadi merasa kesal setengah mati. Saya nggak bisa bersimpati dengan Jingga, yang umurnya nggak jauh beda dengan saya itu, dengan segala sifat kekanakan, sok tau, fanatik berlebihan, dan yang lebih parah, sifat nggak bisa membaca keadaannya! KY kalo kata orang Jepang.

Alhamdulillah, meskipun dulu saya suka banget sama Jepang, tapi saya itu seorang fans yang kere dan pelit, yang nggak rela mengeluarkan uang dari kocek sendiri untuk hal-hal yang saya nilai nggak begitu berguna. Makanya, ketika teman-teman saya yang nge-fans sama Arashi atau NEWS atau Laruku sampai bela-belain beli dvd original idolanya, saya lebih milih untuk minjem aja xp. Logika saya, uang segitu bisa buat beli bakso bermangkok-mangkok, atau buat beli buku. Lha karena kekerean saya, dulu saya jarang beli buku, seringan minjem aja. Hahahaa

Jadi, saya sih nggak mungkin melakukan tindakan seperti Jingga, pergi ke Korea dengan uang sendiri, demi ketemu idolanya!!! Ketika tahu dia ke Korea demi ketemu mas-mas-Korea-pemandu-wisata-yang-ganteng-setengah-mampus, saya langsung tidak respek dengan cewek ini. Apalagi dia dengan seenak jidat manggil lelaki yang baru dikenalnya dengan Om, padahal kalaupun dia menebak Rayan sebagai lelaki berusia 30-an, seorang perempuan berusia 25 tahun harusnya memanggil dia dengan mas saja. Meskipun ya, Orizuka menjelaskan sih kalau latar belakang keluarga dan pekerjaan Jingga yang membentuk sifatnya seperti yang sekarang ini. Tapi kok saya benar-benar merasa sifat kekanak-kanakan Jingga ini lebay banget ya? Kuugi aja yang ceria, supel, dan juga agak kekanak-kanakan nggak segini lebaynya. Aduh, maaf kalau saya jadi membanding-bandingkan. Setiap pengarang memang memiliki hak penuh untuk menggambarkan karakternya sendiri, jadi kalau karakter Jingga nggak sesuai dengan apa yang saya suka, ya berarti memang sayanya aja yang nggak suka... #lah

Jujur saja, saya menskip banyak sekali bagian, khususnya dari awal hingga separuh cerita. Saya nggak tahan dengan "kepolosan" Jingga yang benar-benar bikin saya kesal. Juga kecintaan berlebihannya sama segala hal berbau Korea. Suasananya, udaranya, makanannya, dsb. Saya aja ketika pertama kali makan makanan Jepang di Jepangnya langsung, ngerasa biasa aja. Nggak ada rasanya cooyyy!! Pun ketika makan sushi untuk pertama kali. Butuh adaptasi hingga akhirnya saya bisa menyukai makanan itu (tapi saya ini pemakan segala, jadi meskipun rasanya biasa aja, saya bisa menerimanya xD), dan baru ketika pulang ke Indonesia saya bisa merasakan kangen dengan makanan-makanan itu. Coba aja bayangkan! Makan nasi pake ubi coy!! Belum lagi telur dadar mereka yang pake gula dan madu sampe manisnyaa luar biasa... Jadi, saya merasa agak aneh dengan Jingga yang bisa begitu mudahnya menerima masakan Korea. Eh, tapi saya belum pernah makan masakan Korea yang asli sih, jadi nggak tau juga... Huehehee....

Dari segi penceritaan, saya rasa gaya Orizuka bagus. Kata-katanya teratur, mengalir, dan juga enak dibaca. Hanya saja saya nggak habis pikir, bagaimana bisa suara Jingga (secempreng dan sekeras apapun itu) bisa sampai menembus dinding hotel berbintang lima dan terdengar oleh Rayan di kamar sebelahnya. It really didn't make sense to me. Begitupun dengan tour romantisme Korea mereka, yang saya baca dengan sangat nggak antusias. Soalnya, kok si Jingga ini jadi kelihatan murah banget ya? Segitu gampangnya nempel sama Rayan, melupakan tujuan utamanya datang ke Korea, dan bahkan melakukan hal-hal yang buat saya nggak masuk di akal!! Beli gembok cinta, t-shirt couple, dan nginep di love motel!! Yang terakhir seriusan nggak banget... -__________-

Tapi, meskipun banyak hal yang nggak saya suka, saya cukup menikmati beberapa bagian setelah lewat dari setengah cerita. Nah lho, bingung kan? :D Saya cukup suka bagian ketika mereka numpang nginap di rumah orang Korea, dan Jingga terpaksa bohong ke orang-orang itu kalau mereka suami istri. Tapi setelah Jingga dan Rayan kembali ke turnya, lalu ketemu sama Yun Jae lagi, saya mulai skip, skip, skip lagi. Oh iya, bagian Rayan yang mulai jatuh cinta ke Jingga juga cukup manis dan bikin deg-degan... #eeeaaa

Karakter Jingga di novel ini memang tipikal para fans Korea, dan fans-fans lainnya, yang hidup di dalam dunia khayalan mereka. Jadi, apa yang dilihat hanya indah-indahnya saja. Apalagi biasanya para penggemar cowok-cowok Korea ini banyak juga yang belum punya pacar dan selalu berdelusi untuk bisa pacaran bahkan nikah dengan idolanya (termasuk saya dulu dan juga teman-teman saya yang boy band freak). Entah karena lari dari kenyataan, atau kenapa... Jadi, apa yang dialami Jingga juga adalah impian bagi banyak orang. Menemukan cinta yang romantis, di negeri yang mereka cintai....

Oh iya, sebenarnya fanatisme berlebihan Jingga cukup bisa diterima sih, karena dia datang ke Korea sebagai turis. Tentu berbeda dengan orang yang datang dan tinggal disana, yang mau tidak mau akan melihat banyak kecacatan baik di masyarakat, maupun di sisi lainnya.

Dari tadi saya cerita Jingga melulu. Habis kalau buat saya, Rayan itu biasa saja. Karakternya ya udah standar cerita-cerita romens camnilah... Saya bingung dengan tokoh yang dua-duanya dibilang mirip orang Korea ini. Si Rayan dibilang mirip Kang Dong Won (aww!! saya demen sama Kang Dong Won, gara-gara "Maundy Thursday"!! #eeaaa), terus Jingga dibilang cocok jadi orang Korea juga. Saya jadi nggak bisa membayangkan muka mereka. Hehehee... Rayan ini dibilang dingin sama Jingga, nggak kayak cowok Korea. Weits! Padahal cowok Indonesia itu termasuk yang paling ramah dan hangat di dunia lhoo... #lebay Cowok Indonesia (yang lagi belajar atau tinggal di Jepang) aja tuh jadi inceran banyak cewek Jepang, karena mereka itu baik-baik, ramah-ramah, dan juga hangat. Tapi yang jelas, saya salut dengan sikap nasionalisme Rayan, terlepas karena dia lagi berhadapan dengan Jingga, atau karena dia memang benar-benar cinta Indonesia... :")

Jadi, cukup dua bintang untuk karya Orizuka yang pertama kali saya baca ini. Kapok? Nggak juga. Saya masih penasaran sama "I For You" karena itu judul lagu Jepang yang saya suka bangett...

Btw, sebenarnya saya biasanya menghindari baca teenlit, chicklit, atau apapun itu yang bau-bau romens macam ini. Dari dulu sampai sekarang, romens yang saya suka itu genrenya terbatas. Tapi, kali ini saya menantang diri saya untuk membaca cerita ini, dan hasilnya... maa... maa... alias biasa saja.




October 8, 2013

Samudera di Ujung Jalan Setapak


My rating: 2 of 5 stars

Ini adalah sebuah dongeng.... Dongeng yang berbeda dari apa yang pernah kau dengar sebelumnya. Dongeng yang mungkin tidak baru, tapi cukup mengusik imajinasimu.

Kisah ini mengenai seorang anak lelaki, seorang anak perempuan yang entah sudah berapa lama menjadi anak perempuan, dan keluarganya yang misterius... Maksudku keluarga si anak perempuan, bukan si anak lelaki. Karena keluarga si anak lelaki sangat normal (baca: manusia biasa), yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak perempuan, adik si anak lelaki.

Pertemuan si anak lelaki dengan Lettie (ya, itulah nama anak perempuan yang entah sudah berapa lama menjadi anak perempuan itu) bermula ketika seorang lelaki yang menyewa kamar di rumahnya meninggal secara misterius di dalam mobil ayah si anak lelaki. Si anak lelaki jadi berkenalan dengan keluarga Hempstock, yang aneh dan misterius. Si nenek berkata bahwa ia turut menyaksikan ledakan besar, si ibu terlihat cukup normal untuk ukurannya, dan si anak perempuan itu, Lettie, selalu mengatakan bahwa sebuah kolam kecil di ujung jalan setapak di dekat rumahnya sebagai sebuah samudra.

Setelah peristiwa meninggalnya si lelaki, berbagai peristiwa aneh pun mulai terjadi. Misalnya saja, bagaimana bisa sebongkah koin muncul dari tenggorokan si anak lelaki, padahal dia tidak pernah menelannya? Hingga akhirnya diketahui bahwa ada sebuah kekuatan jahat yang muncul dan harus segera dienyahkan demi kebaikan mereka semua.

Lettie dan si anak lelaki pun bersama-sama berusaha untuk mengalahkan kekuatan jahat itu, meski sebenarnya si anak lelaki tidak berkontribusi apa-apa, dan sang nenek sempat melarangnya. Si anak lelaki diperbolehkan ikut, asal ia tidak melepaskan Lettie dari genggamannya. Sayang, ia melepaskannya... Mengundang berbagai malapetaka yang jauh lebih berbahaya....

Dimulai dari seekor cacing yang tiba-tiba bersarang di kaki si anak lelaki, yang dengan beraninya ia keluarkan sendiri (dan cukup bikin ngilu). Lalu, tiba-tiba muncul seorang perempuan cantik, yang mengaku bernama Ursula Monkton, yang menumpang tinggal di rumah si anak lelaki dan bertindak sebagai pengasuh mereka, sebagai bayaran menginap secara gratis di rumah keluarga itu.

Namun, si anak lelaki tahu, bahwa Ursula bukanlah perempuan cantik biasa, yang mampu memikat seluruh keluarganya. Dia adalah wujud fisik dari kekuatan jahat yang dulu sempat berusaha ia kurung dengan Lettie, namun gagal karena kecerobohannya. Hanya ia yang tahu wujud sebenarnya dari perempuan itu, si kutu--seperti kata nenek Lettie--yang sedikit demi sedikit menghancurkan keluarganya. Lalu, bisakah ia lepas dari jerat Ursula? Dapatkah ia disegel kembali untuk selamanya dan tak menemukan jalan untuk kembali ke dunia ini? Dan yang terpenting, dimanakah Lettie berada, kenapa ia tidak datang sampai segalanya hampir atau mungkin sudah terlambat?

***

Membaca "Samudera di Ujung Jalan Setapak" itu cukup melelahkan buat saya. Awalnya saya sangat semangat untuk segera membaca karya terbaru Neil Gaiman ini. Namun tampaknya saya tidak terlalu menyukainya. Sepertinya kisahnya kali ini bukan selera saya saja. Idenya tentu saja masih luar biasa, begitu pula dengan absurditasnya. Hanya saja, rasanya saya tidak puas. Ada satu hal besar yang jadi pertanyaan saya, dan itu benar-benar mengganggu kenikmatan saya ketika membacanya.

Jadi, seperti yang sudah saya ceritakan di atas, "si kutu" tidak berhasil dipulangkan secara sempurna oleh Lettie, karena si anak lelaki melepaskan genggaman tangan Lettie. Lalu Ursula Monkton datang, dan dimulailah penderitaan si anak lelaki. Si anak lelaki menolak untuk makan apapun yang dibuat oleh Ursula, meskipun seluruh keluarganya sangat menyukainya dan memujanya, terutama adik dan ayah si bocah. Dia juga beberapa kali berusaha untuk kabur dan pergi ke peternakan Lettie, tapi gagal.

Usaha si anak lelaki untuk memberi tahu keluarganya kalau Ursula bukanlah manusia, gagal total, dan justru menyebabkannya hampir mati. Ironisnya, ia justru hampir dibunuh oleh ayahnya sendiri, yang menenggelamkannya di bak mandi (and this part is really sickening me!). Kenapa si ayah sampai tega berbuat seperti itu? Karena pesona Ursula begitu menawannya, hingga ia lupa dengan anak lelakinya!! Si ayah bahkan bercinta dengan Ursula (this one is pretty disgusting too... #hoeekk) sementara si anak yang masih siyok dan kedinginan, berusaha kabur dari rumahnya untuk mencapai peternakan Lettie.

Dimana Lettie? Kenapa ia membiarkan si anak lelaki menderita sebegitu lamanya? Kenapa dulu setelah si penambang opal mati dan si anak lelaki tersedak koin dari tenggorokannya, Lettie segera tahu kalau ada yang salah dan segera menemui si anak lelaki di rumahnya, lalu membereskan segalanya? Kenapa kali ini dia diam saja? Bukankah lepasnya tangan si anak lelaki merupakan sebuah tanda kalau akan terjadi sesuatu yang nggak beres nantinya? Kenapa si anak lelaki harus berjuang sampai hampir mati dulu baru bisa bertemu dengan Lettie? Kenapa?

Yep. Itulah pertanyaan yang mengganggu benak saya. Mungkin karena saya nggak sabar aja kali ya... Dan bagian dengan si Ursula itu benar-benar menjijikan bagi saya, hingga saya skip beberapa kali. Saya pikir saya akan menyukai kisah dongeng untuk dewasa Neil Gaiman ini, seperti saya menikmati "Stardust", tapi ternyata yah... cukup dua bintang aja dari saya...

Satu hal yang mengganggu juga adalah lirik lagu yang tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Hanya diberi bahasa Inggrisnya saja, tanpa arti ke dalam bahasa Indonesianya. Padahal tidak ada salahnya untuk menuliskan artinya di bawahnya. Surely, you didn't expect all your readers would understand english, huh? Emang kecil sih, dan nggak berpengaruh ke cerita juga, tapi entah kenapa saya merasa terganggu aja. Ya, mungkin karena saya memang merasa masih belum puas dengan cerita ini kali ya? Jadinya gitu deh bawaannya. Yang jelas saya nggak kapok baca cerita om Gaiman, dan masih terus menanti keabsurdan dan kefantastisan ceritanya....

Oh iya, buat saya judul "Samudera di Ujung Jalan Setapak" sudah bagus. Ada nuansa misterius dan romantis disana. Mungkin lebih baik kalau judul bahasa Indonesianya yang diperbesar, dan bahasa Inggrisnya yang diperkecil, supaya lebih banyak orang Indonesia yang mengerti, karena saya pikir judul "The Ocean at the End of the Lane" agak sulit untuk dihapalkan dan dipahami. 


October 7, 2013

Buying Monday #1

September telah berlalu, Oktober tiba... bersamaan dengan hujan, yang sedikit demi sedikit menyejukkan Jakarta. Duh, bahagianya akhirnya hujan turun juga. Soalnya udah di kantor kepanasan, eh di rumah masih kepanasan juga. Kalau hujan turun kan jadi adem, meskipun kadang saya jadi nggak bisa pulang. Huhuhuu...

Eh, tapi postingan saya kali ini bukan mau curhat soal hujan, lho. Saya mau ikutan book haul-nya si Aul (The Black in the Book). Dulu ketika masih wacana mau dibuat, saya padahal semangat banget pengen ikutan, eh tapi pas sudah mulai, saya malah lupa xD Maklum aja, soalnya dua bulan terakhir ini saya lagi malas baca ataupun ngeripiu buku. Lihat aja postingan saya, terakhir bulan Juli :'D #malahbangga

Hhhmm... pembelian bulan September ini sebenarnya rada-rada di luar dugaan, karena saya nggak ngira akan ada Gramedia Shocking Sale (bener nggak tuh namanya?) di Matraman. Yah, sebagai pecinta buku yang baik, mana mungkin saya nggak tergoda kalau ada sale buku seperti itu? Hasilnya ya bisa ditebak, saya jadi beli banyak buku deh. Hauhauu...

Oke, apa sajakah buku yang saya beli di bulan September ini? Berikut daftarnya.


Non Fiksi:
1. Filsafat Ilmu: Perspektif Barat dan Islam - Dr. Adian Husaini, dkk. (GIP)

Fiksi Indonesia:
2. Malam Wabah - Sapardi Djoko Damono (Bentang Pustaka)
3. The Jacatra Secret - Rizki Ridyasmara (Bentang Pustaka) --> Yang ini sebenarnya sih udah baca, tapi belum sempat koleksi, dan karena diterbitkan ulang oleh Bentang, ya udah saya beli aja. Hehehe xp



Fiksi Terjemahan:
4. Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng - Jostein Gaarder ( Qanita)
5. Are You There, God? It's Me, Margaret - Judy Blume (GPU)
6. Perfect Match - Jodi Picoult (GPU)
7. Kisah Dua Kota - Charles Dickens (Elex)
8. Inkheart - Cornelia Funke (GPU)
9. N or M? - Agatha Christie (GPU)
10. The Labours of Hercules - Agatha Christie (GPU)



Komik:
11, 12, 13. Here is Greenwood (1-3) - Yukie Nasu
14. Kumpulan Cerita Terbaik Miiko 6
15. Miiko! 22
16, 17. Appare Jipangu - Yuu Watase

Horeee!! Semuanya jadi genap 17 buku. Hahahaa... Ga nyangka banyak juga ya? Kapan bacanya coba? #selftalk Tapi jumlah ini masih sedikit banget kalau dibandingkan dengan jumlah buku teman-teman BBI lainnya, misalnya aja Ren (Ren's Little Corner) yang bulan September kemarin beli 40 buku!! Luar biasa banget kan?? Makanya, jumlah saya ini masih belum ada apa-apanya dibandingin dia.. xDD

Lalu, gimana dengan bulan Oktober ini, ya? Sepertinya saya masih tertarik ke Gramedia Matraman lagi, dan mengeksplor kira-kira ada buku apa yang bisa saya temukan disana. Khususnya sih saya mau ngincer manga-manga yang udah saya baca, tapi saya belum punya kayak One Piece, Miiko, FMA, dsb. Semoga saja niat suci (?) saya itu bisa terlaksana... :")

Amiin....

Oh iya, buat yang mau ikutan, silakan ikuti peraturan di bawah ini ^^

1.    Follow The Black in The Books melalui email atau bloglovin'.
2.    Buat post tentang buku-buku apa saja yang dibeli selama bulan itu, publish setiap hari Senin terakhir di bulan itu.
3.    Masukan link post tersebut di linky yang disediakan.
4.    Linky akan dibuka selama 3 minggu, agar bagi yang terlambat, masih bisa mengikuti meme ini.
5.    Bila ada yang memasukan link tentang book haul bulan berikutnya (bukan bulan yang ditentukan), maka link itu akan dihapus dari linky.
6.   Jangan lupa melihat-lihat book haul peserta lain! :D


July 17, 2013

Ingin Jadi Pembuat Kembang Api Sejati? Ini Dia Caranya...

Putri Si Pembuat Kembang Api (The Firework Maker's Daughter)Putri Si Pembuat Kembang Api by Philip Pullman
My rating: 5 of 5 stars

Apa yang paling dibutuhkan untuk membuat kembang api terbaik di dunia?

Bunga garam?
YA!

Bubuk awan?
YA!

Minyak kalajengking?
YAA!!

Bambu?
BISA JADIII!!

Pake santen??
TIDDAAAAAAAAKKKK!!!!!!!!

Ya, kira-kira apa ya yang dibutuhkan untuk membuat kembang api yang paling bagus di dunia? Bukan hanya berwujud bunga-bunga api yang meledak di angkasa, tapi kalau bisa, mereka seakan menari-nari dan juga tampak hidup seperti makhluk bernyawa. Untuk membuat kembang api terbaik di dunia, tentunya si pembuat kembang api juga adalah orang yang hebat dan punya keahlian. Lila merasa sudah punya semuanya, meskipun si ayah (namanya Lalchand) bilang kalau Lila belum pantas jadi seorang pembuat kembang api sejati.

Sebenernya si Lalchand ini bohong. Soalnya Lila kan dari kecil sampe gede udah terbiasa ngeliat bapaknya bikin kembang api. Ikut mbantuin juga. Dia bahkan menciptakan beberapa varian kembang api baru, misalnya aja Setan Jumpalitan dan Naga Meletup. Cuma, si ayah ini nggak mau kalau putri semata wayangnya mengikuti jejaknya. Seorang anak perempuan kan harusnya anggun, bukannya bau campuran benda-benda kimia. Punya kulit yang halus dan mulus, bukannya bopel-bopel gara-gara kena api.

Tapi, coba lihat Lila?

Kulitnya tidak halus dan mulus. Penampilannya juga jauh dari anggun. Belum lagi sifatnya yang sama sekali nggak seperti anak perempuan. Siapa yang mau sama dia nanti?

Oleh karena itu, Lalchand nggak mau memberi tahu Lila, apa rahasia terakhir supaya bisa jadi pembuat kembang api sejati. Dia khawatir putrinya nggak akan menjadi seperti wanita yang seharusnya (yang kayak gimana tuh, pop?) dan jadi pembuat kembang api seperti dirinya, yang sebenernya udah telat sih, karena udah jelas-jelas passion-nya si Lila itu adalah membuat kembang api.

Lila nggak hilang akal. Dia akhirnya minta bantuan temannya, seorang anak lelaki bernama Chulak, yang mengurus gajah putih milik raja bernama Hamlet. Singkatnya, Chulak menemukan rahasia terakhir yang bisa membuat Lila menjadi pembuat kembang api yang sesungguhnya.

Jadi, apa rahasia itu?

Harus melakukan perjalanan?
YAA!!

Ke dasar Samudera Atlantik?
TIDAAKK!!

Ke Gunung Merapi??
YAAA!!!

Sendirian??
BISA JADII!!!

Ketemu Razvani??
YAAA!!

Bawa sayur lodeh??
TIIDDDAAAAAKKKK!!!!

*ngos-ngosan* *minum aer Danau Zamrud dulu*

Ya, jadi Lila harus ke Gunung Merapi, masuk ke dalam Gua Angkara Api, demi bertemu Razvani. Razvani akan memberikan benda yang dibutuhkan Lila untuk bisa menjadi pembuat kembang api sejati. Sayangnya, Lila bertindak gegabah, karena terlalu bernafsu ingin membuktikan kepada ayahnya bahwa ia pasti bisa menemukan benda itu. Dia melupakan benda yang paling penting, benda yang akan menyelamatkan nyawanya.

Akhirnya, Chulak dan Hamlet mengejar Lila, demi mengantarkan benda penting itu. Oh iya, Hamlet itu sebenarnya bisa bicara bahasa manusia, tapi yang tahu hanya Chulak dan Lila aja. Udah gitu, Chulak sengaja bikin tubuh Hamlet dicoret-coret, karena orang-orang percaya kalau gajah putih itu bawa keberuntungan. Tentu saja Chulak nggak membiarkannya dengan gratis, meskipun dia bukan pemilik Hamlet, dia meminta bayaran atas setiap tulisan yang ditorehkan di tubuh Hamlet.

Nah, sanggupkah Chulak dan Hamlet membawa benda penting itu tepat pada waktunya? Mana si Lila jalannya cepet banget lagi... Padahal dia sempat dihadang Rambashi dan komplotannya (plus si Chang yang epik... xDD) Tapi, si Lila tau-tau udah nyampe aja di tempat Razvani dan mengikuti ujiannya. Ujian yang nggak mudah, karena Lila nggak memiliki tiga bekal. Apa lagi tiga bekal itu? Sayur lodehkah? Rendang sapikah? Atau... apa??

Eh, satu lagi. Gara-gara mau menyelamatkan anaknya, si Lalchand ikut membantu Chulak dan Hamlet kabur dari rumah pejabat. Sayangnya, ada seorang pembantu yang melihatnya dan melaporkan Lalchand ke raja. Akibatnya, dia akan dihukum mati! Bisa nggak tuh mereka menyelamatkan Lalchand, sementara nyawa Lila sendiri dalam bahaya!!!

Hahahaa, sebuah cerita anak yang sangat menghibur dan bikin saya ketawa ngakak. Disampaikan dengan sangat apik dan menarik, dibalut nuansa filosofis yang cukup kental, juga humor yang segar. Saya jauh lebih suka ini daripada si springheeled jack. Tokoh-tokohnya lucu-lucu!!! (*≧▽≦) Favorit saya si Rambashi, Chulak, Hamlet, dan tentunya Chang dan Lottus Blossom!!! xDD

Sisi filosofisnya memang nggak akan bisa dimengerti anak-anak, tapi saya pikir nggak masalah kalau mereka nggak ngerti. Jadi, menurut saya anak-anak dari berbagai usia bisa baca. Nggak papa nggak ngerti, soalnya saya yang udah dewasa aja juga nggak ngerti. *bangga* Tenang aja, semuanya itu hanya ilusi, jadi nggak usah dipikirin.

Saya selalu takjub sama buku-buku anak yang bisa dinikmati oleh orang dewasa, dan buku ini jelas salah satu contohnya. Buku kedua dalam dua minggu ini yang saya kasih bintang lima. Menang tiga dari Bintang Toedjoeh yang terpercaya... └(★o★)┐

Jadi, siapkah menjadi pembuat kembang api terbaik di dunia?

Kemudian, terdengar sayup-sayup lagu Sisakan Mangga Terakhir Untukku yang dibawakan Rambashi Melody Boys... Diiringi letupan kembang api jutaan warna yang menghiasi angkasa yang gelap gulita....

Peace, love, and gahol dari "Chang Cinta Lotus Blossom Penuh XXX".

P.S. Saya nggak tahu latarnya ini dimana. Kayaknya negeri antah berantah, karena meskipun si Lila dan Lalchand ini tampak seperti orang China, tapi sepertinya Chulak itu dari India, dan si Hamlet mungkin dari Thailand (bisa juga dari India sih). Pokoknya negeri campur aduk deh. Hahahaaa



Seraphina


SeraphinaSeraphina by Rachel Hartman
My rating: 5 of 5 stars

Di sebuah negeri bernama Goredd, manusia dan naga hidup bersama secara berdampingan. Meskipun hidup bersama, bukan berarti mereka saling menyukai satu sama lain. Kenyataannya, banyak juga yang membenci kehidupan yang harus dijalani oleh spesies yang saling berbeda itu.

Naga di Goredd berbeda dengan biasanya. Mereka bisa berubah menjadi manusia, atau lebih tepatnya bisa mengambil wujud manusia. Naga-naga semacam ini diberi nama saarantras, atau biasa disingkat dengan saar. Dulu, naga dan manusia berperang, hingga akhirnya 40 tahun yang lalu, dibentuklah sebuah perjanjian damai.

Sayangnya, meskipun perjanjian damai sudah dibuat, tidak semua orang senang dengan perjanjian itu. Ditambah lagi, tensi itu semakin meninggi ketika Pangeran Rufus, ditemukan tewas. Tentu saja banyak tersangka yang bisa diajukan, karena mungkin tidak sedikit yang mengincar nyawa seorang pangeran. Namun kondisi Pangeran Rufus ketika meninggal membuat semua orang yakin, bahwa hanya nagalah yang melakukannya. Jasad Pangeran Rufus ditemukan tanpa kepala, satu hal yang biasa dilakukan naga ketika membunuh musuhnya.

Sekarang, mari kita beralih ke tokoh utama di buku ini. Dia adalah Seraphina, seorang gadis berusia 16 tahun, yang memiliki kemampuan musik luar biasa. Seraphina memiliki seorang guru bernama Orma. Dia adalah "seorang" naga. Naga yang dikatakan tidak memiliki jiwa. Naga yang selalu dianggap kejam dan dingin, tapi juga cerdas luar biasa. Setidaknya, Orma memang cerdas luar biasa, karena dia adalah salah satu ilmuwan ternama di Goredd. Orma adalah guru yang sangat disayangi dan dihormati oleh Seraphina. Apalagi, Orma juga adalah salah satu anggota keluarganya yang penting. Orma adalah pamannya.

Paman? Jadi, Seraphina itu naga?

Jawabannya, bisa ya bisa tidak. Sebabnya, karena Seraphina adalah blasteran. Ia separuh naga dan separuh manusia. Ayah Seraphina adalah manusia biasa, berprofesi sebagai seorang pengacara kerajaan, dan memiliki posisi yang cukup tinggi di masyarakat. Sementara ibu Seraphina adalah seorang naga, yang meninggal ketika dirinya lahir. Tentu saja tidak ada yang boleh tahu kalau Seraphina adalah kaum blasteran. Bagi kedua spesies itu, menikah antarspesies adalah hal yang sangat hina dan juga rendah. Keselamatan Phina sendiri bisa terancam jika orang-orang tahu siapa dirinya yang sesungguhnya, apalagi di tengah krisis akibat meninggalnya Pangeran Rufus ini.

Seraphina memiliki bakat alami dalam bermain musik, sebuah bakat yang diturunkannya dari ibunya. Bakat yang sangat dicintainya, meskipun ayahnya sempat membenci bakat itu. Bakat itulah yang membuatnya mendapatkan tempat sebagai musisi istana, di bawah Viridius, sang komposer istana yang sudah tua. Posisi itu jugalah yang membuatnya menjadi guru pribadi sang putri mahkota, Putri Glisselda.

Glisselda adalah pewaris tahta kedua Goredd, setelah ibunya, Putri Dionne. Selda adalah gadis yang ceria dan juga aktif, tapi juga bisa menunjukkan kewibawaannya sebagai seorang putri mahkota saat dibutuhkan. Selda telah ditunangkan dengan sepupunya, Pangeran Lucian Kiggs, yang bertanggung jawab atas keamanan kerajaan. Pangeran Lucian adalah anak haram. Ibunya diusir dari istana karena menikah dengan rakyat jelata.

Pangeran Lucian tertarik pada Phina, yang dianggapnya sangat cerdas tetapi juga misterius. Phina tahu banyak soal naga, dan ia tidak merasa canggung berada di dekat mereka. Tentu saja, karena dia sendiri separuh naga! Lucian beberapa kali menyelamatkan Phina, dan mereka pun jadi bersahabat (hhmm, bertiga juga sih sama Selda). Banyak aspek di antara mereka berdua yang sangat cocok, mulai dari ketertarikan mereka akan filsafat, ibu yang sama-sama sudah meninggal, dan mereka berdua sama-sama cerdas.

Namun, tentu saja Phina tidak bisa berkata jujur mengenai identitas dirinya itu. Ia tidak mungkin bilang ke Lucian (yang dipanggil Kiggs oleh Phina) kalau dia punya sisik di lengan kiri dan juga di daerah pinggang. Ia tidak mungkin mengatakan kalau ayahnya menikah dengan naga, dan Orma adalah pamannya. Ia juga tidak mungkin bercerita kalau dia memiliki taman berisi makhluk-makhluk aneh di dalam otaknya, yang harus ia jaga setiap hari. Apalagi makhluk-makhluk aneh itu terkadang berulah, yang membuatnya kehilangan kesadaran seketika. Makhluk-makhluk itu adalah salah satu warisan ibunya, bersama visi yang terkadang menyerangnya begitu saja.

Goredd sebentar lagi merayakan 40 tahun perjanjian damai antara manusia dan naga. Ardmagar Comonot, sang jenderal pemimpin naga, akan berkunjung ke Goredd. Namun, kondisi keamanan di Goredd justru semakin buruk. Kebencian terhadap naga semakin menjadi-jadi, pertama dengan kematian Pangeran Rufus yang diduga dibunuh oleh naga, ditambah lagi dengan para ksatria ahli dracomachia (seni bela diri khusus untuk melawan naga) yang diasingkan yang mengaku melihat naga liar. Belum lagi campur tangan Putra St. Ogdo yang kerap main hakim sendiri terhadap naga, dan juga pihak yang dicurigai Kiggs adalah pembunuh sebenarnya pamannya.

Siapa yang membunuh Pangeran Rufus? Benarkah seekor naga, atau justru kelompok lain yang ingin memecah belah mereka? Siapakah makhluk-makhluk penghuni taman Seraphina? Jika mereka makhluk fiktif, kenapa pada suatu hari Phina bertemu salah satu dari mereka di dunia nyata? Siapa kulit baru bernama Basind yang disuruh tinggal bersama Orma? Benarkah naga tidak punya jiwa? Kalau tidak punya, kenapa ibu Phina bisa jatuh cinta kepada manusia, dan kenapa Orma memiliki keterikatan yang dalam terhadap Phina? Dan, benarkah hubungan Phina dan Kiggs hanya hubungan persahabatan belaka?

Ya, silakan cari sendiri jawabannya. Saya sendiri bingung mau cerita apa. Susah rasanya mau meresensi buku yang kita suka. Sempat saya diemin dulu beberapa hari karena saya bingung harus merangkai kata dari mana. Saya sendiri sebenarnya cukup kaget pada diri saya, karena memberikan bintang 5 untuk buku ini. Saya suka cerita fantasi, tapi terlalu banyak cerita fantasi di luar sana, sehingga tidak sedikit yang temanya serupa. Cerita fantasi yang membahas naga pun tidak sedikit, dan saya pikir saya mungkin akan bosan kalau ceritanya tentang naga lagi.

Iya sih, saya tahu rating di Goodreads-nya memang bagus. Tapi saya bukan orang yang percaya rating, karena setiap buku memiliki kesan yang berbeda bagi setiap orang yang membaca. Makanya, saya merasa takjub ketika saya menyukai buku ini.

Bisa dibilang hampir semua tokoh yang ada di buku ini telah menarik minat saya. Dimulai dari Seraphina, si tokoh utama yang separuh naga dan separuh manusia. Awalnya sih biasa aja, karena si Phina ini kok kayaknya datar banget ya, jadi orang. Saya sempat khawatir nggak akan suka sama dia, karena saya punya kecenderungan untuk nggak suka sama tokoh utama wanita dalam buku-buku YA yang saya baca. Tapi untungnya Phina berbeda, dan meskipun butuh waktu cukup lama, ternyata saya menyukainya.

Saya juga suka sama Orma, guru naga Phina, yang juga merupakan paman kandungnya. Orma ini orangnya cool banget, mungkin sama kayak semua naga lainnya. Dia sangat cerdas dan selalu mengandalkan rasionya. Sama seperti naga pada umumnya, dia sangat suka matematika dan aljabar. Dia mengajarkan banyak hal pada Phina. Dia juga sangat sayang pada Phina, dan menunjukkannya seperti bagaimana seharusnya naga bersikap. Dia juga sangat sayang pada kakak perempuannya, Linn, yang tidak lain adalah ibu Phina. Perasaan sayang Orma yang kaku-kaku datar-datar gimana itu yang bikin saya suka.

Tokoh selanjutnya yang saya suka adalah Pangeran Lucian Kiggs, atau biasa dipanggil Kiggs sama Phina (ini si pangeran sendiri yang minta dipanggil begitu). Dia ini sangat cerdas, punya insting yang bagus, dan juga tampan (kkyaaaa... eeeaaa). Dedikasinya sangat tinggi pada pekerjaannya, yaitu sebagai Ketua Garda Ratu. Dia memiliki hubungan emosional dengan Pangeran Rufus, pamannya. Makanya dia adalah orang yang paling sedih ketika tahu pamannya meninggal dibunuh orang atau makhluk misterius. Di antara banyak orang, tampaknya Seraphina adalah salah satu orang yang paling tahu banyak tentang Kiggs, mungkin karena persamaan di antara mereka. Kiggs ini sosok yang adorable deh di mata saya, dan kayaknya bakal masuk ke dalam "Book Boyfriend" tahun ini, karena perasaannya dan juga dedikasinya. Aaahh.... Kiggs....

Yang terakhir adalah Abdo. Sosok misterius dari taman Seraphina. Abdo ini masih kecil, tapi dia sudah paham banyak hal. Sifatnya dia, perhatiannya dia, dan kenyataan bahwa dia.... *piiip* *ilang sinyal* bikin saya suka banget sama dia. (*´▽`*♥ Jadi pengen pesen adek cowok satu yang kayak Abdo. Kyaaa~~~

Tumben-tumbenan lho, saya bisa suka sama banyak tokoh di satu buku. Ini entah mood saya yang lagi bagus atau gimana ya? Kok kayaknya emang nggak ada tokoh yang bener-bener nyebelin atau bener-bener jahat banget di buku ini. Ada sih, tapi perannya nggak terlalu signifikan dan orangnya juga udah matek.

Sama seperti beberapa orang, saya merasa kalau di awal itu alurnya sangaatt lambat... Sampai-sampai saya butuh waktu lama hanya untuk baca sekitar 100-an halaman. Banyak deskripsi dan narasi, yang sebenarnya memang sangat penting untuk kelangsungan cerita, tapi cukup bikin mandeg juga. Setelah lewat 150-an halaman, baru deh ceritanya mulai seru dan mulai nggak bisa lepas. Saya bahkan sampe bela-belain begadang, saking penasarannya. Mana paginya harus saur, dan besoknya kerja lagi (iya, salah saya emang nggak nyari waktu tepat buat begadang (; ̄д ̄)). Tapi yang namanya penasaran, nggak bisa berenti, ya mau gimana lagi...

Saya menutup buku dengan perasaan puas. Tapi kemudian saya tersadar, kalau..... LANJUTANNYA MASIH LAMAA!!!!! #kagaknyanteamatdahgua

Saya harus nunggu setahun lagi, karena baru akan terbit tahun 2014 mendatang... (┳Д┳) *nangis kejer lalu cari doraemon pinjem mesin waktu* Itupun versi englishnya, versi Indonesianya pasti mundur beberapa bulan. Saya kan penasaran sama lanjutannya. Penasaran sama hubungan Kiggs dan Seraphina (yang sempet bikin saya heboh sendiri di akhir cerita), dan terutama penasaran banget sama si Jannoula, makhluk dari taman Seraphina yang paling aneh dan misterius.

Semoga aja tahun depan saya dapat buntelan lagi dari Gramedia (Ini murni ngarep. Pake banget). Pokoknya harus diterbitin lho, lanjutannya! *ngancem*

Oh iya, sebelum saya lupa, saya harusnya ucapin terima kasih dulu ke Mbak Yudith, dari Gramedia, yang udah berbaik hati memberikan buntelan ini ke anak-anak BBI. Juga Mas Dion yang jadi humasnya, hingga anak BBI bisa mendapatkan asupan buku-buku gratis bergizi. Sering-sering aja ya, Mbak... Kami menerima segala jenis buntelan buku dengan tangan terbuka.... huehehee *nggak tau malu*








July 4, 2013

Mio Anakku, Sang Pangeran dari Negeri nun Jauh


My rating: 4 of 5 stars

Di zaman dahulu kala, tapi tidak terlalu dahulu, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Mio. Mio adalah putra mahkotadari Negeri Nun Jauh. Sebuah negeri yang tidak akan bisa kau bayangkan dimana letaknya, karena sangat jauh dan tak akan bisa kau jangkau. Pangeran Mio hidup bahagia bersama ayahnya sang raja... Tapi itu sekarang, karena sebelumnya Pangeran Mio hidup menderita, meski tidak terlalu merana, dan jauh dari ayahnya.

Mari kita mundur sejenak. Sebelum ini, belum ada orang yang bernama Pangeran Mio. Yang ada hanyalah Bo Vilhelm Olsson atau yang biasa dipanggil Bosse. Bosse tinggal dengan kedua orang tua angkatnya yang jahat, Tante Edla dan Paman Sixten. Kalau mereka jahat kepada Bosse, kenapa mereka mau repot-repot mengambil Bosse dari panti asuhan, ya? Orang dewasa memang aneh... Ketika seorang anak kecil sudah tidak lucu lagi, mereka berhenti menyayanginya....

Untungnya Bosse tidak lama-lama menderita di rumah orang tua angkatnya itu, karena Bosse tiba-tiba pergi ke sebuah negeri yang aneh. Anehnya lagi, di negeri itu ternyata ia adalah pangeran dan ayahnya adalah seorang raja!! Tante Edla memang salah besar karena menganggap ayah Bosse adalah gelandangan. Dia pasti malu dan membungkuk kalau tahu kalau ayah Bosse, Ayahku sang Raja, adalah seorang raja! Ahaa!!

Karena kita telah tiba di Negeri nun Jauh, maka mari kita tinggalkan nama Bosse. Bosse sudah hilang, yang ada hanyalah Mio, sang pangeran dari Negeri nun Jauh. Mio sempat merasa sedih, karena harus berpisah dari sahabatnya, Benka, karena Mio (alias Bosse) menghilang tiba-tiba. Benka pasti sedih. Begitupun dengan Mio yang merindukan Benka. Untung saja di sana Mio bertemu seorang teman baru. Namanya Jum-Jum, dia anak penjaga kebun istana. Jum-Jum mirip Benka, atau setidaknya begitulah yang ada di mata Mio. Mio dan Jum-Jum senang bermain dan tertawa keras-keras. Dan kini, tidak ada lagi yang memarahi Mio karena tertawa keras-keras. Ayahku sang Raja sangat senang mendengar tawa Mio, tidak seperti Tante Edla dan Paman Sixten yang senang memarahi Mio kalau ia tertawa keras-keras.

"Aku suka suara kicau burung," katanya. "Aku suka musik dari pohon-pohon poplar perakku. Tetapi yang paling aku sukai adalah mendengar suara tawa anakku di Taman Mawar ini."


Baik sekali ya, ayahnya Mio. Dia memang sangat senang bisa bertemu lagi dengan putranya, setelah 9 tahun terpisah. 9 tahun penantian panjang tanpa kejelasan. Karenanya, raja sangat senang mendengar tawa Mio, senang bermain dengannya, senang melihatnya. Ayahku sang Raja bahagia karena putranya telah kembali ke sisinya....

Karena itu, ia sangat sedih ketika Mio harus pergi melawan Kesatria Kato. Seorang lelaki yang sangat jahat yang telah memberikan teror mengerikan di Negeri nun Jauh yang indah. Kesatria Kato telah menculik adik-adik Nonno, seorang anak gembala baik hati, yang telah membuatkan suling indah untuk Mio dan Jum-Jum. Kesatria Kato juga telah menculik adik perempuan Jiri, sehingga Jiri dan keluarganya bersedih hati. Kesatria Kato juga telah menculik anak kuda yang indah dari Hutan Kemilau Bulan, hingga seratus kuda putih bersurai indah menangis darah karenanya. Kesatria Kato juga telah menculik anak perempuan ibu penenun, yang tinggal di sebuah pondok cantik bak di negeri dongeng, yang di sekelilingnya dipenuhi bunga-bunga apel putih yang bersinar di bawah sinar bulan, sehingga ia menenun dalam kesedihan dan keputusasaan.

Mio harus pergi melawan Kesatria Kato. Sang raja sudah tahu itu. Jum-Jum juga tahu. Semua orang di Negeri nun Jauh tahu. Semua sudah diramalkan sejak lama. Hanya Mio yang tidak tahu, karena memang banyak sekali hal yang tidak tahu dari tempat tinggal barunya itu. Ia tidak tahu kalau Miramis, kudanya yang cantik, bisa terbang. Ia tidak tahu kalau Roti Penghilang Lapar rasanya sangat lezat. Ia juga tidak tahu kalau air di Sumur Pelepas Dahaga adalah air yang paling segar yang pernah ia minum. Dan tentu saja ia tak tahu kalau Sumur yang Berbisik pada Malam Hari mampu mendongeng dengan indah dan menggugah perasaannya.

Mio harus pergi melawan Kesatria Kato, meskipun ia merasa takut dan tidak memiliki kekuatan apa-apa. Nasib Negeri nun Jauh ada di tangannya. Nasib negeri yang dicintainya, orang-orang yang dicintainya, dan tentu juga nasibnya sendiri....

Mio tidak sendiri. Ada Jum-Jum di sampingnya. Ada Miramis yang selalu setia mengikutinya. Ada suling buatan Nonno yang berkali-kali membantunya. Ada sendok ajaib milik adik perempuan Jiri yang diculik Kesatria Kato. Ada jubah milik adik Nonno yang diculik Kesatria Kato, yang kemudian ditenun lagi oleh ibu penenun di hutan apel. Dan yang terpenting, ada ayah Mio, sang raja yang selalu mendukung anaknya, dengan ucapan.... "Mio anakku....".

:")

Dongeng yang sangat indah. Saya suka sekali dengan cara Astrid Lindgren menyampaikan kisahnya. Saya suka sekali dengan Mio, Jum-Jum, Nonno, Jiri, Miramis, Ayahku sang Raja, dan semuanya. Tidak ada karakter yang benar-benar saya benci, kecuali mungkin Tante Edla dan Paman Sixten. Saya bahkan pada akhirnya cukup bersimpati pada Kesatria Kato yang jahat luar biasa itu.

Petualangan Mio disampaikan dengan sederhana, tetapi tidak merusak keseruan ceritanya. Meskipun bagi beberapa orang dongeng ini tampak kelam, tapi bagi saya dongeng ini sangat indah. Mungkin ini buku yang bagus untuk menjelaskan kepada anak-anak, kalau di dunia ini tidak hanya ada kesenangan dan kebahagiaan saja, tetapi juga kesedihan, duka, bahkan kematian. Semuanya adalah proses hidup, yang pasti akan dirasakan oleh setiap manusia. Melihat tema ceritanya, mungkin ada baiknya buku ini dibaca oleh anak-anak di atas 9 tahun, sesuai usia Mio, karena walaupun disampaikan dengan sederhana, tetapi saya pikir anak yang sudah lebih tua akan lebih mudah memahami berbagai perasaan yang dialami oleh Mio. 


 

Eclair


Éclair: Pagi Terakhir di Rusia by Prisca Primasari
My rating: 3 of 5 stars

Oke, padahal saya belum membuat review dari dua dorama dan dua anime yang sudah saya tonton, tapi sekarang saya mau buat review buku ini dulu (ups, curhat...).

"Eclair: Pagi Terakhir di Rusia" adalah buku Prisca Primasari pertama yang saya baca. Sejujurnya nih, jujur nih ya... saya jangan ditabok, ya... Saya itu jarang banget baca buku karya penulis Indonesia. Apalagi kalau genrenya romance-romance gitu, biasanya nggak akan saya lirik. Tapi bukan berarti saya meremehkan karya penulis Indonesia lho ya, soalnya saya suka sama Tere Liye dan punya hampir semua bukunya (iya, kalo udah suka emang jadi setia ngoleksi bukunya). Hhhmmm ya, selain karena saya nggak gitu suka romance, saya juga jarang (bahkan hampir nggak pernah) beli bukunya Gagas. Selain lebih mahal (menurut saya), saya juga bukan orang yang gampang tergoda dengan iming-iming cover cantik. Apalagi dengan sinopsis ga jelas dan terkesan "cheesy" yang ada di belakang bukunya. Jadi makanya, ketika teman saya menawarkan saya untuk membaca bukunya, saya langsung mengiyakan.

Baiklah, sekarang masuk ke ceritanya. Buku ini berkisah tentang hubungan lima orang bernama Sergei, Katya, Stepanych, Lhiver, dan Kay. Sergei dan Stepanych adalah kakak adik, begitupun dengan Lhiver dan Kay. Sementara itu Katya adalah satu-satunya perempuan, dan juga tunangannya Sergei. Persahabatan dan hubungan perasaan yang mendalam di antara mereka bermula dari sepotong eclair, kue Prancis yang mirip kue sus itu...

Seiring berjalannya waktu, persahabatan mereka semakin erat, hingga mereka sendiri pun yakin bahwa tidak akan ada yang sanggup memisahkan hubungan itu. Namun, semuanya berubah ketika dua tahun yang lalu, ada sebuah tragedi besar yang membuat hubungan mereka tercerai berai. Lhiver jadi membenci empat sahabatnya, dan memutuskan untuk pergi jauh dari mereka. Katya tenggelam dalam perasaan bersalah hingga membenci eclair, yang dulunya adalah kue favoritnya dan yang memperkenalkannya pada sahabat-sahabatnya. Kay melarikan diri pada dunia fotografi yang menjadi hobinya, dan bepergian ke seluruh dunia. Hanya Sergei yang tetap terlihat tegar, meski sebenarnya ada luka yang masih selalu basah di dalam hatinya. Sedangkan Stepanych adalah orang yang paling merasa bersalah, hingga penyakit semakin menggerogoti tubuhnya, menghilangkan kesadarannya, dan hanya ada satu hal yang paling diinginkannya di dunia ini, yaitu bertemu dengan Kay dan Lhiver....

Katya kemudian memutuskan untuk membawa Kay dan Lhiver menemui Stepanych, karena ia sadar waktu Stepanych tidak akan lama lagi. Meskipun ketika itu hanya tinggal 2 minggu saja menjelang pernikahannya, Katya yang memang seorang gadis keras kepala dan berpendirian kuat sudah bertekad untuk membujuk Kay dan Lhiver untuk pulang ke Rusia, tak peduli seberapa pun bencinya mereka pada dirinya.

Katya pun berangkat ke New York, tempat tinggal Kay bersama istrinya, Claudine. Usaha membawa Kay pulang tidak mudah, karena ternyata Kay sedang tersangkut kasus berat yang menyebabkannya harus dipenjara. Katya harus berkejaran dengan waktu untuk membuktikan bahwa Kay tidak bersalah. Untungnya Katya, dibantu oleh Claudine, berhasil menuntaskan misi mereka, sehingga Katya bisa beranjak ke PR selanjutnya yang lebih sulit, yaitu membujuk Lhiver pulang.

Lhiver tinggal di Surabaya, menghabiskan waktu sebagai seorang dosen sastra dan juga pengajar bahasa Prancis di universitas disana. Lhiver ini suka banget sama kesusateraan, sampe bikin saya pengen ngobrol sama dia. Pasti seru deh. Hahahaa... Nah, si Lhiver inilah yang hingga kini masih menyalahkan kakak dan sahabat-sahabatnya atas tragedi yang menimpa dirinya dua tahun yang lalu. Padahal ketika tragedi itu terjadi, rasa sakit itu bukan hanya milik Lhiver. Jika Lhiver hanya merasakan sakit dan dengan mudahnya menyalahkan orang lain, maka mereka yang dituduh olehnya merasakan perasaan yang jauh lebih besar dan menyakitkan, yang bernama perasaan bersalah dan juga menyesal. Iya, saya nggak suka dengan sikapnya Lhiver yang menyalahkan orang lain atas tragedi, yang bahkan kita sendiri nggak punya kuasa atasnya.

Jadi, sanggupkah Katya membujuk Lhiver untuk pulang ke Rusia, mendatangi pernikahannya dengan Sergei, dan yang terpenting bertemu dengan Stepanych untuk terakhir kalinya? Akankah persahabatan mereka yang sempat retak kembali bersatu?

Silakan baca sendiri untuk menemukan jawabannya. Kalau saya sendiri sih cukup suka dengan cerita ini, buktinya saya sanggup menghabiskannya dalam waktu beberapa jam saja. Suatu hal yang cukup emejing, karena akhir-akhir ini saya kalo baca lama banget. Baca buku di atas 200 halaman dalam sehari itu hanya tinggal mimpi, padahal dulu saya sanggup baca Harry Potter dan Orde Phoenix hanya dalam sehari saja. Tapi sekarang... beuuhh... Lammaaa!! Banyak terganggu oleh internet, hape, sama anime dan dorama yang terus merayu saya agar lebih memperhatikan mereka daripada tumpukan buku di rumah. Hohoho.... Lha, jadi curhat lagi kan... (一。一;;)

Bahasa yang digunakan Prisca sangat enak untuk dibaca. Plotnya lancar meskipun alurnya yang maju mundur kadang bikin saya bingung. Satu lagi yang juga bikin saya bingung adalah ketika menghitung usia mereka, karena yang disebutkan dengan jelas hanya Sergei saja, yang usianya sudah 36 tahun, beda 11 tahun dari Katya. Aduh, om-om ganteng dan cool, luluh deh hati saya... kyakyakyaa~~ #ups

Sentuhan misteri dan referensi kepada musik juga sastra dalam buku ini patut menjadi nilai tambah, karena turut memperkaya tema cerita. Terutama sih sastranya, yang jadi terlihat kalau Prisca banyak membaca karya kesusasteraan dunia.

Satu hal yang bikin saya nggak sreg dan ngerasa agak-agak maksa itu adalah latar belakang Katya, yang nyawanya terancam karena dikejar-kejar oleh muridnya Rasputin. Kalau dikejar-kejar atau diincer sama KGB karena Bapaknya dulu adalah mata-mata Rusia yang berkhianat (macem bapaknya Lisbeth Salander di "The Girl With The Dragon Tattoo"), atau diincer sama musuhnya Rusia karena bapaknya intel, sih saya malah lebih paham dan bisa nerima. Apalagi menurut saya di bagian itu rada-rada maksa biar nyambung ke dalam cerita. Soalnya, hidup Katya setelah itu baik-baik aja tuh, nggak keliatan mendapatkan gangguan yang berarti dari kelompok itu. Ya emang sih si Sergei tajir melintir sampe bisa nyewa body guard atau mata-mata, atau hal lainnya buat melindungi tunangannya, tapi tetep aja kok rasanya aneh yaa...

Lalu, sekarang saya mau cerita soal Stepanych. Adik Sergei yang ahli patisserie ini menurut saya nasibnya paling ngenes. Dia adalah orang yang paling ceria dan penghidup suasana di antara mereka berlima. Namun, dia juga yang paling merasa bersalah atas kejadian dua tahun yang lalu, hingga ia jadi merusak tubuhnya sendiri. Saya suka bagian cerita ketika Stepanych berkunjung ke tetangganya yang aneh dan senang menutup diri. Saya juga suka hubungan kakak adik antara Stepanych dan Sergei yang cocwiit itu.

Oh iya, ada satu hal lagi yang agak bikin saya terganggu. Hal itu adalah.... penggunaan kata tampan yang terlalu banyak ketika menjelaskan tokoh-tokohnya. Kayaknya jadi mikir: "Mesti ya, dijelasin kalo si Lhiver tampan, si Sergei tampan, Stepanych tampan, Kay juga tampan.". Jadi seolah-olah didikte kalau mereka semua wajahnya tampan, padahal menurut saya sih penjelasan dengan rambut mereka seperti apa, mata mereka gimana, wajah mereka gimana, sudah cukup. Hhhmm, bukan berarti Prisca nggak menjelaskan itu semua, dijelaskan kok. Jadi, maka dari itu menurut saya kata-kata tampan itu nggak perlu. Lagian ya, tokoh dalam novel romance mana ada sih yang nggak tampan? Apalagi mereka semua orang bule, Rusia pun, yang bagi orang Indonesia ya tampan semua.

Yah, terlepas dari itu semua, cara Prisca meramu novelnya ini cukup apik dan semanis eclair, tapi juga sepahit coklat.... #tsaahh