December 2, 2013

Hansel and Gretel


Hansel dan Gretel by Jacob Grimm
My rating: 4 of 5 stars

Tahukah Anda kalau salah satu saudara tiri Cinderella, atau yang berdasarkan kisah aslinya bernama Ashcenputtel, sengaja memotong ibu jarinya supaya bisa muat ke dalam sepatu emas (bukan sepatu kaca) milik Ashcenputtel karena ia ingin bersanding dengan pangeran?

Tahukah Anda kalau pangeran yang memanjat dinding Rapunzel untuk menyelamatkan gadis cantik itu awalnya tidak berhasil, lalu jatuh dan menjadi buta?

Tahukah Anda kalau sebenarnya Putri Salju (yang di dalam cerita disebut dengan Snow White, padahal saya pikir nama Putri Salju sudah familiar di Indonesia) bukan dibangunkan oleh ciuman pangeran, tapi karena apel beracun yang dimakannya keluar dari tenggorokannya ketika peti matinya tiba-tiba terjatuh ketika mau dinaikkan ke atas kuda pangeran? Dan saya pikir pangeran itu pasti sudah gila karena jatuh cinta pada putri yang sudah mati, bahkan berniat membawa petinya ke kerajaannya untuk dikagumi setiap harinya. Lalu, tahukah Anda kalau ibu tiri Putri Salju dipaksa untuk mengenakan sepatu yang terbuat dari besi panas dan harus menari sampai mati?

Pasti banyak di antara kita yang tidak tahu, seperti juga saya sebelum membaca kisah asli dari dongeng-dongeng yang dikumpulkan oleh Grimm Bersaudara ini. Ada 19 buah dongeng di dalam buku ini, jumlah yang masih sangat kecil dibandingkan dongeng asli yang dikumpulkan oleh Grimm Bersaudara, yang jumlahnya mencapai 200-an. Namun dongeng-dongeng ini cukup untuk memberikan kita gambaran betapa selama ini kita telah tertipu oleh gambaran "Hidup bahagia untuk selamanya" yang dipopulerkan oleh kisah-kisah dongeng dari Disney, dan tidak tahu kisah sebenarnya di balik dongeng-dongeng ini.

Misalnya saja kisah Putri Duyung yang sebenarnya tragis dan sama sekali tidak berakhir bahagia. Atau kisah Putri Tidur yang juga sama mengerikannya. Ya, dongeng-dongeng jaman dulu memang tidak selalu berakhir bahagia, bahkan justru lebih banyak kemalangan dan tragedi di dalamnya. Tidak hanya di Eropa sana, tapi juga di Indonesia. Tentu kita sudah mengenal bagaimana kisah Tangkuban Perahu, Malin Kundang, atau Danau Toba yang sama sekali tidak berakhir dengan "hidup bahagia untuk selamanya". Namun saya pikir, dari dongeng-dongeng itu kita justru belajar mengenai kepedihan hidup, pengorbanan, dan juga perjuangan. Yah, daripada kita harus mengalaminya sendiri, tentu saja lebih enak kalau membaca saja, kan?

Beberapa saat yang lalu saya pernah membaca mengenai para orang tua di Amrik sana, yang tidak setuju jika buku jenis tertentu (yang di dalamnya ada tragedi dan kematian, tapi saya lupa judul bukunya apa... T_T) dibacakan di ruang kelas. Yah, memang sih saya setuju ada beberapa buku yang seharusnya dibaca oleh anak sesuai dengan usianya. Tapi kalau soal dongeng, kisah sejarah, ataupun kisah-kisah yang berhubungan dengan agama, saya pikir tidak masalah diceritakan dari awal. Kesedihan, kematian, dan penderitaan adalah hal yang pasti ada di dunia ini. Dan kita tidak bisa menutup mata anak-anak itu, karena setiap harinya, di sekeliling kita sendiri pun, ada banyak hal-hal tak menyenangkan semacam itu.

Justru yang sebenarnya harus ditingkatkan adalah peran orang tuanya, bagaimana mereka selalu ada di samping anak-anak mereka ketika mereka membaca, menonton, dsb. sehingga mereka bisa langsung bertanya dan tidak membutuhkan jawaban dari orang luar yang bisa jadi tidak sesuai dengan harapan kita. Itulah sebabnya, jadi orang tua, khususnya jadi ibu itu harus pintar. Mereka harus membaca juga buku-buku yang dibaca oleh anak-anaknya, bahkan kalau bisa, lebih banyak lagi dari itu. Lagipula, dongeng-dongeng ini jelas merupakan cerita yang lebih baik dibandingkan kisah-kisah perselingkuhan dan kawin-cerai artis nasional, ataupun kisah-kisah korupsi para politikus terhormat di negeri ini.

Salah seorang guru saya pernah berkata, kalau dongeng-dongeng klasik memang banyak yang bercerita tentang kemalangan, karena hidup di masa itu tidaklah mudah. Misalnya saja kisah Hansel & Gretel, yang dibuang oleh orang tuanya di hutan. Mereka adalah semacam penghibur untuk anak-anak yang dibuang oleh orangtuanya, karena kesulitan ekonomi dan hal lainnya. Sayangnya, tidak semuanya mengalami nasib baik seperti Hansel dan Gretel, banyak yang tetap terpisah dengan orang tua mereka, dan mati mengenaskan.

19 dongeng di dalam buku ini menyajikan kisah-kisah yang tak selalu bahagia, tapi tetap indah. Meskipun ada juga beberapa dongeng yang saya nggak suka, khususnya yang melibatkan putri cantik jelita dan pangeran tampan serta kaya. Apalagi kalau putrinya nggak pake usaha, terus ujug-ujug dapet pangeran tampan macam cerita Pangeran Katak dan Putri Tidur. Oh iya, kisah Putri Tidur disini bukan yang dihamilin sama raja terus baru bangun ketika anak-anaknya lahir, kisah disini lebih "manis", soalnya menurut yang saya baca disini, awalnya Putri Tidur memang bukan dikisahkan oleh Grimm Bersaudara. Begitupun dengan kisah Rapunzel, yang setahu saya sempat anu-anuan sama Pangeran sampai akhirnya dia hamil.

Yah, maklum deh... Namanya juga sastra lisan, pasti ada begitu banyak versi yang beredar. Tapi memang justru bagus karena apa yang saya sampaikan di atas nggak diceritakan disini. Jadi, buku ini bisa dibaca oleh semua kalangan. Dan buat orang-orang haus kebenaran (#tsaah bilang aja kepo xp) seperti saya, tinggal menjelajahi dunia maya untuk mengunduh kisah-kisah asli Grimm Bersaudara, yang kini sudah menjadi hak publik ini....

P.S. Satu hal yang bikin saya sebel adalah buku ini nggak dilengkapi dengan DAFTAR ISI!! Kan saya jadi susah kalau mau baca ulang dongeng-dongeng tertentu saja... ヽ(o`皿′o)ノ ヽ(≧Д≦)ノ(┳Д┳)

2 comments:

  1. Tapi saya favorit banget dengan putri duyung dan semua dongeng-dongeng karangan H.C Andersen ^^ *salah fokus*
    saya justru sebel dengan putri duyung versi disney :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, berarti selera kita agak berbeda ya. Tapi yang penting masih sama-sama suka dongeng :D
      Mungkin saya harus baca versi Inggrisnya (ga bisa bahasa Denmark soalnya xD) kali ya, soalnya dongeng H.C. Andersen yang saya baca juga masih sebagian kecil, jadi siapa tahu kebetulan yang dikompilasikan itu yang memang nggak cocok sm saya. :D

      Delete

December 2, 2013

Hansel and Gretel


Hansel dan Gretel by Jacob Grimm
My rating: 4 of 5 stars

Tahukah Anda kalau salah satu saudara tiri Cinderella, atau yang berdasarkan kisah aslinya bernama Ashcenputtel, sengaja memotong ibu jarinya supaya bisa muat ke dalam sepatu emas (bukan sepatu kaca) milik Ashcenputtel karena ia ingin bersanding dengan pangeran?

Tahukah Anda kalau pangeran yang memanjat dinding Rapunzel untuk menyelamatkan gadis cantik itu awalnya tidak berhasil, lalu jatuh dan menjadi buta?

Tahukah Anda kalau sebenarnya Putri Salju (yang di dalam cerita disebut dengan Snow White, padahal saya pikir nama Putri Salju sudah familiar di Indonesia) bukan dibangunkan oleh ciuman pangeran, tapi karena apel beracun yang dimakannya keluar dari tenggorokannya ketika peti matinya tiba-tiba terjatuh ketika mau dinaikkan ke atas kuda pangeran? Dan saya pikir pangeran itu pasti sudah gila karena jatuh cinta pada putri yang sudah mati, bahkan berniat membawa petinya ke kerajaannya untuk dikagumi setiap harinya. Lalu, tahukah Anda kalau ibu tiri Putri Salju dipaksa untuk mengenakan sepatu yang terbuat dari besi panas dan harus menari sampai mati?

Pasti banyak di antara kita yang tidak tahu, seperti juga saya sebelum membaca kisah asli dari dongeng-dongeng yang dikumpulkan oleh Grimm Bersaudara ini. Ada 19 buah dongeng di dalam buku ini, jumlah yang masih sangat kecil dibandingkan dongeng asli yang dikumpulkan oleh Grimm Bersaudara, yang jumlahnya mencapai 200-an. Namun dongeng-dongeng ini cukup untuk memberikan kita gambaran betapa selama ini kita telah tertipu oleh gambaran "Hidup bahagia untuk selamanya" yang dipopulerkan oleh kisah-kisah dongeng dari Disney, dan tidak tahu kisah sebenarnya di balik dongeng-dongeng ini.

Misalnya saja kisah Putri Duyung yang sebenarnya tragis dan sama sekali tidak berakhir bahagia. Atau kisah Putri Tidur yang juga sama mengerikannya. Ya, dongeng-dongeng jaman dulu memang tidak selalu berakhir bahagia, bahkan justru lebih banyak kemalangan dan tragedi di dalamnya. Tidak hanya di Eropa sana, tapi juga di Indonesia. Tentu kita sudah mengenal bagaimana kisah Tangkuban Perahu, Malin Kundang, atau Danau Toba yang sama sekali tidak berakhir dengan "hidup bahagia untuk selamanya". Namun saya pikir, dari dongeng-dongeng itu kita justru belajar mengenai kepedihan hidup, pengorbanan, dan juga perjuangan. Yah, daripada kita harus mengalaminya sendiri, tentu saja lebih enak kalau membaca saja, kan?

Beberapa saat yang lalu saya pernah membaca mengenai para orang tua di Amrik sana, yang tidak setuju jika buku jenis tertentu (yang di dalamnya ada tragedi dan kematian, tapi saya lupa judul bukunya apa... T_T) dibacakan di ruang kelas. Yah, memang sih saya setuju ada beberapa buku yang seharusnya dibaca oleh anak sesuai dengan usianya. Tapi kalau soal dongeng, kisah sejarah, ataupun kisah-kisah yang berhubungan dengan agama, saya pikir tidak masalah diceritakan dari awal. Kesedihan, kematian, dan penderitaan adalah hal yang pasti ada di dunia ini. Dan kita tidak bisa menutup mata anak-anak itu, karena setiap harinya, di sekeliling kita sendiri pun, ada banyak hal-hal tak menyenangkan semacam itu.

Justru yang sebenarnya harus ditingkatkan adalah peran orang tuanya, bagaimana mereka selalu ada di samping anak-anak mereka ketika mereka membaca, menonton, dsb. sehingga mereka bisa langsung bertanya dan tidak membutuhkan jawaban dari orang luar yang bisa jadi tidak sesuai dengan harapan kita. Itulah sebabnya, jadi orang tua, khususnya jadi ibu itu harus pintar. Mereka harus membaca juga buku-buku yang dibaca oleh anak-anaknya, bahkan kalau bisa, lebih banyak lagi dari itu. Lagipula, dongeng-dongeng ini jelas merupakan cerita yang lebih baik dibandingkan kisah-kisah perselingkuhan dan kawin-cerai artis nasional, ataupun kisah-kisah korupsi para politikus terhormat di negeri ini.

Salah seorang guru saya pernah berkata, kalau dongeng-dongeng klasik memang banyak yang bercerita tentang kemalangan, karena hidup di masa itu tidaklah mudah. Misalnya saja kisah Hansel & Gretel, yang dibuang oleh orang tuanya di hutan. Mereka adalah semacam penghibur untuk anak-anak yang dibuang oleh orangtuanya, karena kesulitan ekonomi dan hal lainnya. Sayangnya, tidak semuanya mengalami nasib baik seperti Hansel dan Gretel, banyak yang tetap terpisah dengan orang tua mereka, dan mati mengenaskan.

19 dongeng di dalam buku ini menyajikan kisah-kisah yang tak selalu bahagia, tapi tetap indah. Meskipun ada juga beberapa dongeng yang saya nggak suka, khususnya yang melibatkan putri cantik jelita dan pangeran tampan serta kaya. Apalagi kalau putrinya nggak pake usaha, terus ujug-ujug dapet pangeran tampan macam cerita Pangeran Katak dan Putri Tidur. Oh iya, kisah Putri Tidur disini bukan yang dihamilin sama raja terus baru bangun ketika anak-anaknya lahir, kisah disini lebih "manis", soalnya menurut yang saya baca disini, awalnya Putri Tidur memang bukan dikisahkan oleh Grimm Bersaudara. Begitupun dengan kisah Rapunzel, yang setahu saya sempat anu-anuan sama Pangeran sampai akhirnya dia hamil.

Yah, maklum deh... Namanya juga sastra lisan, pasti ada begitu banyak versi yang beredar. Tapi memang justru bagus karena apa yang saya sampaikan di atas nggak diceritakan disini. Jadi, buku ini bisa dibaca oleh semua kalangan. Dan buat orang-orang haus kebenaran (#tsaah bilang aja kepo xp) seperti saya, tinggal menjelajahi dunia maya untuk mengunduh kisah-kisah asli Grimm Bersaudara, yang kini sudah menjadi hak publik ini....

P.S. Satu hal yang bikin saya sebel adalah buku ini nggak dilengkapi dengan DAFTAR ISI!! Kan saya jadi susah kalau mau baca ulang dongeng-dongeng tertentu saja... ヽ(o`皿′o)ノ ヽ(≧Д≦)ノ(┳Д┳)

2 comments:

  1. Tapi saya favorit banget dengan putri duyung dan semua dongeng-dongeng karangan H.C Andersen ^^ *salah fokus*
    saya justru sebel dengan putri duyung versi disney :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, berarti selera kita agak berbeda ya. Tapi yang penting masih sama-sama suka dongeng :D
      Mungkin saya harus baca versi Inggrisnya (ga bisa bahasa Denmark soalnya xD) kali ya, soalnya dongeng H.C. Andersen yang saya baca juga masih sebagian kecil, jadi siapa tahu kebetulan yang dikompilasikan itu yang memang nggak cocok sm saya. :D

      Delete