July 4, 2013

Eclair


Éclair: Pagi Terakhir di Rusia by Prisca Primasari
My rating: 3 of 5 stars

Oke, padahal saya belum membuat review dari dua dorama dan dua anime yang sudah saya tonton, tapi sekarang saya mau buat review buku ini dulu (ups, curhat...).

"Eclair: Pagi Terakhir di Rusia" adalah buku Prisca Primasari pertama yang saya baca. Sejujurnya nih, jujur nih ya... saya jangan ditabok, ya... Saya itu jarang banget baca buku karya penulis Indonesia. Apalagi kalau genrenya romance-romance gitu, biasanya nggak akan saya lirik. Tapi bukan berarti saya meremehkan karya penulis Indonesia lho ya, soalnya saya suka sama Tere Liye dan punya hampir semua bukunya (iya, kalo udah suka emang jadi setia ngoleksi bukunya). Hhhmmm ya, selain karena saya nggak gitu suka romance, saya juga jarang (bahkan hampir nggak pernah) beli bukunya Gagas. Selain lebih mahal (menurut saya), saya juga bukan orang yang gampang tergoda dengan iming-iming cover cantik. Apalagi dengan sinopsis ga jelas dan terkesan "cheesy" yang ada di belakang bukunya. Jadi makanya, ketika teman saya menawarkan saya untuk membaca bukunya, saya langsung mengiyakan.

Baiklah, sekarang masuk ke ceritanya. Buku ini berkisah tentang hubungan lima orang bernama Sergei, Katya, Stepanych, Lhiver, dan Kay. Sergei dan Stepanych adalah kakak adik, begitupun dengan Lhiver dan Kay. Sementara itu Katya adalah satu-satunya perempuan, dan juga tunangannya Sergei. Persahabatan dan hubungan perasaan yang mendalam di antara mereka bermula dari sepotong eclair, kue Prancis yang mirip kue sus itu...

Seiring berjalannya waktu, persahabatan mereka semakin erat, hingga mereka sendiri pun yakin bahwa tidak akan ada yang sanggup memisahkan hubungan itu. Namun, semuanya berubah ketika dua tahun yang lalu, ada sebuah tragedi besar yang membuat hubungan mereka tercerai berai. Lhiver jadi membenci empat sahabatnya, dan memutuskan untuk pergi jauh dari mereka. Katya tenggelam dalam perasaan bersalah hingga membenci eclair, yang dulunya adalah kue favoritnya dan yang memperkenalkannya pada sahabat-sahabatnya. Kay melarikan diri pada dunia fotografi yang menjadi hobinya, dan bepergian ke seluruh dunia. Hanya Sergei yang tetap terlihat tegar, meski sebenarnya ada luka yang masih selalu basah di dalam hatinya. Sedangkan Stepanych adalah orang yang paling merasa bersalah, hingga penyakit semakin menggerogoti tubuhnya, menghilangkan kesadarannya, dan hanya ada satu hal yang paling diinginkannya di dunia ini, yaitu bertemu dengan Kay dan Lhiver....

Katya kemudian memutuskan untuk membawa Kay dan Lhiver menemui Stepanych, karena ia sadar waktu Stepanych tidak akan lama lagi. Meskipun ketika itu hanya tinggal 2 minggu saja menjelang pernikahannya, Katya yang memang seorang gadis keras kepala dan berpendirian kuat sudah bertekad untuk membujuk Kay dan Lhiver untuk pulang ke Rusia, tak peduli seberapa pun bencinya mereka pada dirinya.

Katya pun berangkat ke New York, tempat tinggal Kay bersama istrinya, Claudine. Usaha membawa Kay pulang tidak mudah, karena ternyata Kay sedang tersangkut kasus berat yang menyebabkannya harus dipenjara. Katya harus berkejaran dengan waktu untuk membuktikan bahwa Kay tidak bersalah. Untungnya Katya, dibantu oleh Claudine, berhasil menuntaskan misi mereka, sehingga Katya bisa beranjak ke PR selanjutnya yang lebih sulit, yaitu membujuk Lhiver pulang.

Lhiver tinggal di Surabaya, menghabiskan waktu sebagai seorang dosen sastra dan juga pengajar bahasa Prancis di universitas disana. Lhiver ini suka banget sama kesusateraan, sampe bikin saya pengen ngobrol sama dia. Pasti seru deh. Hahahaa... Nah, si Lhiver inilah yang hingga kini masih menyalahkan kakak dan sahabat-sahabatnya atas tragedi yang menimpa dirinya dua tahun yang lalu. Padahal ketika tragedi itu terjadi, rasa sakit itu bukan hanya milik Lhiver. Jika Lhiver hanya merasakan sakit dan dengan mudahnya menyalahkan orang lain, maka mereka yang dituduh olehnya merasakan perasaan yang jauh lebih besar dan menyakitkan, yang bernama perasaan bersalah dan juga menyesal. Iya, saya nggak suka dengan sikapnya Lhiver yang menyalahkan orang lain atas tragedi, yang bahkan kita sendiri nggak punya kuasa atasnya.

Jadi, sanggupkah Katya membujuk Lhiver untuk pulang ke Rusia, mendatangi pernikahannya dengan Sergei, dan yang terpenting bertemu dengan Stepanych untuk terakhir kalinya? Akankah persahabatan mereka yang sempat retak kembali bersatu?

Silakan baca sendiri untuk menemukan jawabannya. Kalau saya sendiri sih cukup suka dengan cerita ini, buktinya saya sanggup menghabiskannya dalam waktu beberapa jam saja. Suatu hal yang cukup emejing, karena akhir-akhir ini saya kalo baca lama banget. Baca buku di atas 200 halaman dalam sehari itu hanya tinggal mimpi, padahal dulu saya sanggup baca Harry Potter dan Orde Phoenix hanya dalam sehari saja. Tapi sekarang... beuuhh... Lammaaa!! Banyak terganggu oleh internet, hape, sama anime dan dorama yang terus merayu saya agar lebih memperhatikan mereka daripada tumpukan buku di rumah. Hohoho.... Lha, jadi curhat lagi kan... (一。一;;)

Bahasa yang digunakan Prisca sangat enak untuk dibaca. Plotnya lancar meskipun alurnya yang maju mundur kadang bikin saya bingung. Satu lagi yang juga bikin saya bingung adalah ketika menghitung usia mereka, karena yang disebutkan dengan jelas hanya Sergei saja, yang usianya sudah 36 tahun, beda 11 tahun dari Katya. Aduh, om-om ganteng dan cool, luluh deh hati saya... kyakyakyaa~~ #ups

Sentuhan misteri dan referensi kepada musik juga sastra dalam buku ini patut menjadi nilai tambah, karena turut memperkaya tema cerita. Terutama sih sastranya, yang jadi terlihat kalau Prisca banyak membaca karya kesusasteraan dunia.

Satu hal yang bikin saya nggak sreg dan ngerasa agak-agak maksa itu adalah latar belakang Katya, yang nyawanya terancam karena dikejar-kejar oleh muridnya Rasputin. Kalau dikejar-kejar atau diincer sama KGB karena Bapaknya dulu adalah mata-mata Rusia yang berkhianat (macem bapaknya Lisbeth Salander di "The Girl With The Dragon Tattoo"), atau diincer sama musuhnya Rusia karena bapaknya intel, sih saya malah lebih paham dan bisa nerima. Apalagi menurut saya di bagian itu rada-rada maksa biar nyambung ke dalam cerita. Soalnya, hidup Katya setelah itu baik-baik aja tuh, nggak keliatan mendapatkan gangguan yang berarti dari kelompok itu. Ya emang sih si Sergei tajir melintir sampe bisa nyewa body guard atau mata-mata, atau hal lainnya buat melindungi tunangannya, tapi tetep aja kok rasanya aneh yaa...

Lalu, sekarang saya mau cerita soal Stepanych. Adik Sergei yang ahli patisserie ini menurut saya nasibnya paling ngenes. Dia adalah orang yang paling ceria dan penghidup suasana di antara mereka berlima. Namun, dia juga yang paling merasa bersalah atas kejadian dua tahun yang lalu, hingga ia jadi merusak tubuhnya sendiri. Saya suka bagian cerita ketika Stepanych berkunjung ke tetangganya yang aneh dan senang menutup diri. Saya juga suka hubungan kakak adik antara Stepanych dan Sergei yang cocwiit itu.

Oh iya, ada satu hal lagi yang agak bikin saya terganggu. Hal itu adalah.... penggunaan kata tampan yang terlalu banyak ketika menjelaskan tokoh-tokohnya. Kayaknya jadi mikir: "Mesti ya, dijelasin kalo si Lhiver tampan, si Sergei tampan, Stepanych tampan, Kay juga tampan.". Jadi seolah-olah didikte kalau mereka semua wajahnya tampan, padahal menurut saya sih penjelasan dengan rambut mereka seperti apa, mata mereka gimana, wajah mereka gimana, sudah cukup. Hhhmm, bukan berarti Prisca nggak menjelaskan itu semua, dijelaskan kok. Jadi, maka dari itu menurut saya kata-kata tampan itu nggak perlu. Lagian ya, tokoh dalam novel romance mana ada sih yang nggak tampan? Apalagi mereka semua orang bule, Rusia pun, yang bagi orang Indonesia ya tampan semua.

Yah, terlepas dari itu semua, cara Prisca meramu novelnya ini cukup apik dan semanis eclair, tapi juga sepahit coklat.... #tsaahh





1 comment:

  1. Wew, mantap review gan ^^. Izin sedot yaaa, jadi pengen banget baca bukunya nih :D

    ReplyDelete

July 4, 2013

Eclair


Éclair: Pagi Terakhir di Rusia by Prisca Primasari
My rating: 3 of 5 stars

Oke, padahal saya belum membuat review dari dua dorama dan dua anime yang sudah saya tonton, tapi sekarang saya mau buat review buku ini dulu (ups, curhat...).

"Eclair: Pagi Terakhir di Rusia" adalah buku Prisca Primasari pertama yang saya baca. Sejujurnya nih, jujur nih ya... saya jangan ditabok, ya... Saya itu jarang banget baca buku karya penulis Indonesia. Apalagi kalau genrenya romance-romance gitu, biasanya nggak akan saya lirik. Tapi bukan berarti saya meremehkan karya penulis Indonesia lho ya, soalnya saya suka sama Tere Liye dan punya hampir semua bukunya (iya, kalo udah suka emang jadi setia ngoleksi bukunya). Hhhmmm ya, selain karena saya nggak gitu suka romance, saya juga jarang (bahkan hampir nggak pernah) beli bukunya Gagas. Selain lebih mahal (menurut saya), saya juga bukan orang yang gampang tergoda dengan iming-iming cover cantik. Apalagi dengan sinopsis ga jelas dan terkesan "cheesy" yang ada di belakang bukunya. Jadi makanya, ketika teman saya menawarkan saya untuk membaca bukunya, saya langsung mengiyakan.

Baiklah, sekarang masuk ke ceritanya. Buku ini berkisah tentang hubungan lima orang bernama Sergei, Katya, Stepanych, Lhiver, dan Kay. Sergei dan Stepanych adalah kakak adik, begitupun dengan Lhiver dan Kay. Sementara itu Katya adalah satu-satunya perempuan, dan juga tunangannya Sergei. Persahabatan dan hubungan perasaan yang mendalam di antara mereka bermula dari sepotong eclair, kue Prancis yang mirip kue sus itu...

Seiring berjalannya waktu, persahabatan mereka semakin erat, hingga mereka sendiri pun yakin bahwa tidak akan ada yang sanggup memisahkan hubungan itu. Namun, semuanya berubah ketika dua tahun yang lalu, ada sebuah tragedi besar yang membuat hubungan mereka tercerai berai. Lhiver jadi membenci empat sahabatnya, dan memutuskan untuk pergi jauh dari mereka. Katya tenggelam dalam perasaan bersalah hingga membenci eclair, yang dulunya adalah kue favoritnya dan yang memperkenalkannya pada sahabat-sahabatnya. Kay melarikan diri pada dunia fotografi yang menjadi hobinya, dan bepergian ke seluruh dunia. Hanya Sergei yang tetap terlihat tegar, meski sebenarnya ada luka yang masih selalu basah di dalam hatinya. Sedangkan Stepanych adalah orang yang paling merasa bersalah, hingga penyakit semakin menggerogoti tubuhnya, menghilangkan kesadarannya, dan hanya ada satu hal yang paling diinginkannya di dunia ini, yaitu bertemu dengan Kay dan Lhiver....

Katya kemudian memutuskan untuk membawa Kay dan Lhiver menemui Stepanych, karena ia sadar waktu Stepanych tidak akan lama lagi. Meskipun ketika itu hanya tinggal 2 minggu saja menjelang pernikahannya, Katya yang memang seorang gadis keras kepala dan berpendirian kuat sudah bertekad untuk membujuk Kay dan Lhiver untuk pulang ke Rusia, tak peduli seberapa pun bencinya mereka pada dirinya.

Katya pun berangkat ke New York, tempat tinggal Kay bersama istrinya, Claudine. Usaha membawa Kay pulang tidak mudah, karena ternyata Kay sedang tersangkut kasus berat yang menyebabkannya harus dipenjara. Katya harus berkejaran dengan waktu untuk membuktikan bahwa Kay tidak bersalah. Untungnya Katya, dibantu oleh Claudine, berhasil menuntaskan misi mereka, sehingga Katya bisa beranjak ke PR selanjutnya yang lebih sulit, yaitu membujuk Lhiver pulang.

Lhiver tinggal di Surabaya, menghabiskan waktu sebagai seorang dosen sastra dan juga pengajar bahasa Prancis di universitas disana. Lhiver ini suka banget sama kesusateraan, sampe bikin saya pengen ngobrol sama dia. Pasti seru deh. Hahahaa... Nah, si Lhiver inilah yang hingga kini masih menyalahkan kakak dan sahabat-sahabatnya atas tragedi yang menimpa dirinya dua tahun yang lalu. Padahal ketika tragedi itu terjadi, rasa sakit itu bukan hanya milik Lhiver. Jika Lhiver hanya merasakan sakit dan dengan mudahnya menyalahkan orang lain, maka mereka yang dituduh olehnya merasakan perasaan yang jauh lebih besar dan menyakitkan, yang bernama perasaan bersalah dan juga menyesal. Iya, saya nggak suka dengan sikapnya Lhiver yang menyalahkan orang lain atas tragedi, yang bahkan kita sendiri nggak punya kuasa atasnya.

Jadi, sanggupkah Katya membujuk Lhiver untuk pulang ke Rusia, mendatangi pernikahannya dengan Sergei, dan yang terpenting bertemu dengan Stepanych untuk terakhir kalinya? Akankah persahabatan mereka yang sempat retak kembali bersatu?

Silakan baca sendiri untuk menemukan jawabannya. Kalau saya sendiri sih cukup suka dengan cerita ini, buktinya saya sanggup menghabiskannya dalam waktu beberapa jam saja. Suatu hal yang cukup emejing, karena akhir-akhir ini saya kalo baca lama banget. Baca buku di atas 200 halaman dalam sehari itu hanya tinggal mimpi, padahal dulu saya sanggup baca Harry Potter dan Orde Phoenix hanya dalam sehari saja. Tapi sekarang... beuuhh... Lammaaa!! Banyak terganggu oleh internet, hape, sama anime dan dorama yang terus merayu saya agar lebih memperhatikan mereka daripada tumpukan buku di rumah. Hohoho.... Lha, jadi curhat lagi kan... (一。一;;)

Bahasa yang digunakan Prisca sangat enak untuk dibaca. Plotnya lancar meskipun alurnya yang maju mundur kadang bikin saya bingung. Satu lagi yang juga bikin saya bingung adalah ketika menghitung usia mereka, karena yang disebutkan dengan jelas hanya Sergei saja, yang usianya sudah 36 tahun, beda 11 tahun dari Katya. Aduh, om-om ganteng dan cool, luluh deh hati saya... kyakyakyaa~~ #ups

Sentuhan misteri dan referensi kepada musik juga sastra dalam buku ini patut menjadi nilai tambah, karena turut memperkaya tema cerita. Terutama sih sastranya, yang jadi terlihat kalau Prisca banyak membaca karya kesusasteraan dunia.

Satu hal yang bikin saya nggak sreg dan ngerasa agak-agak maksa itu adalah latar belakang Katya, yang nyawanya terancam karena dikejar-kejar oleh muridnya Rasputin. Kalau dikejar-kejar atau diincer sama KGB karena Bapaknya dulu adalah mata-mata Rusia yang berkhianat (macem bapaknya Lisbeth Salander di "The Girl With The Dragon Tattoo"), atau diincer sama musuhnya Rusia karena bapaknya intel, sih saya malah lebih paham dan bisa nerima. Apalagi menurut saya di bagian itu rada-rada maksa biar nyambung ke dalam cerita. Soalnya, hidup Katya setelah itu baik-baik aja tuh, nggak keliatan mendapatkan gangguan yang berarti dari kelompok itu. Ya emang sih si Sergei tajir melintir sampe bisa nyewa body guard atau mata-mata, atau hal lainnya buat melindungi tunangannya, tapi tetep aja kok rasanya aneh yaa...

Lalu, sekarang saya mau cerita soal Stepanych. Adik Sergei yang ahli patisserie ini menurut saya nasibnya paling ngenes. Dia adalah orang yang paling ceria dan penghidup suasana di antara mereka berlima. Namun, dia juga yang paling merasa bersalah atas kejadian dua tahun yang lalu, hingga ia jadi merusak tubuhnya sendiri. Saya suka bagian cerita ketika Stepanych berkunjung ke tetangganya yang aneh dan senang menutup diri. Saya juga suka hubungan kakak adik antara Stepanych dan Sergei yang cocwiit itu.

Oh iya, ada satu hal lagi yang agak bikin saya terganggu. Hal itu adalah.... penggunaan kata tampan yang terlalu banyak ketika menjelaskan tokoh-tokohnya. Kayaknya jadi mikir: "Mesti ya, dijelasin kalo si Lhiver tampan, si Sergei tampan, Stepanych tampan, Kay juga tampan.". Jadi seolah-olah didikte kalau mereka semua wajahnya tampan, padahal menurut saya sih penjelasan dengan rambut mereka seperti apa, mata mereka gimana, wajah mereka gimana, sudah cukup. Hhhmm, bukan berarti Prisca nggak menjelaskan itu semua, dijelaskan kok. Jadi, maka dari itu menurut saya kata-kata tampan itu nggak perlu. Lagian ya, tokoh dalam novel romance mana ada sih yang nggak tampan? Apalagi mereka semua orang bule, Rusia pun, yang bagi orang Indonesia ya tampan semua.

Yah, terlepas dari itu semua, cara Prisca meramu novelnya ini cukup apik dan semanis eclair, tapi juga sepahit coklat.... #tsaahh





1 comment:

  1. Wew, mantap review gan ^^. Izin sedot yaaa, jadi pengen banget baca bukunya nih :D

    ReplyDelete