October 11, 2013

Inifinely Yours: Kisah Cinta si Maniak Korea

Infinitely Yours by Orizuka
My rating: 2 of 5 stars

Ketika SMP, saya mulai tertarik dengan segala hal yang berbau Jepang. Awalnya, tentu saja karena di masa saya, yaitu awal 2000-an, anime begitu marak menghiasi layar kaca negeri ini. Samurai X, Inu Yasha, Fushigi Yuugi, Kindaichi, Conan, Dragon Ball, Digimon, sangat banyak dan hampir semuanya nggak pernah lupa saya tonton. Saya juga suka baca manga, meski jarang banget beli, dan dari situ mulailah kecintaan terhadap Jepang. Saya mulai dengerin lagu Jepang, suka beli Animonster, jadi tau band-band Jepang, kebudayaannya juga, hingga akhirnya ketika SMA, saya punya cita-cita baru. Saya mau kuliah di Jepang.

Sayapun mendaftar beasiswa Monbusho yang dikeluarkan oleh pemerintah Jepang. Sayangnya, saya gagal, karena di kelas 3 itu saya benar-benar males banget belajar. Jujur aja, masa kelas 3 SMA itu adalah masa paling membosankan dari SMA, dan mungkin dari hidup saya juga. Nggak ada yang berkesan disana. Lalu, karena saya masih mau banget dapat beasiswa ke Jepang, jadilah saya masuk sastra Jepang. Sebelumnya saya sempat milih Komunikasi dan HI juga (ketika try out xp), tapi karena saya nggak ikut bimbel, jadi ya sudah, saya ambil Sastra Jepang (sebenarnya sih Prodi Jepang, karena kami nggak hanya belajar sastra aja) UI sebagai pilihan pertama saya. Alhamdulillah, saya keterima... :)

Prodi Jepang tuh benar-benar surganya para otaku dan pecinta Jepang. Ada yang maniak anime, ada yang maniak manga, maniak dorama, boyband Jepang, hingga band-band rock juga. Di tempat itu, saya bisa mendapatkan hal-hal yang berhubungan dengan Jepang dengan sangat mudah, dan kebanyakan gratis pula xp. Tapi, seiring dengan mulai mengetahui banyak hal tentang Jepang, kecintaan saya terhadap Jepang jadi menurun. Jadi biasa-biasa saja. Hingga akhirnya saya dapat program pertukaran pelajar selama setahun ke Jepang, dan rasa cinta saya pun mulai berubah jadi benci.... #tsaaahhh #lebaaayyy

Ya. Jepang yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri itu nggak seindah bayangan saya. Orang-orangnya dingin dan nggak mudah bergaul dengan orang lain. Mereka nggak kenal sama Indonesia (yang bikin saya merasa seperti orang bodoh, karena sempat suka banget sama Jepang). Mereka nggak tau kalo nasi goreng dari Indonesia (taunya dari Thailand mosok... -__-). Cowoknya dingin-dingin, tepean, dan kayaknya pengennya dikejar-kejar sama cewek. Mereka juga nggak tau Islam, apalagi jilbab yang saya pakai. Beberapa kali mereka ngira kalo jilbab itu pakaian tradisional Indonesia, meskipun saya beberapa kali juga dibilang cantik sih... :") (muji diri sendiri). Yah, intinya saya sempat merasa muak dengan hal-hal berbau Jepang. Saya nggak mau dengerin lagu Jepang, nggak mau baca manga, nggak mau nonton anime, dan banyak lagi lainnya. Parahnya, saat itu saya lagi di Jepang, dan saya nggak bisa kabur dari itu semua!! T___T

Oh iya, karena hal-hal yang saya rasakan itu juga, nasionalisme saya akan Indonesia tuh jadi benar-benar bangkit. Saya jadi benar-benar cinta mati sama Indonesia ketika saya ada di negara luar. Beneran deh, nggak ada artinya saya bisa bahasa Jepang dan tau kebudayaan Jepang, tapi gunung tertinggi di Indonesia tingginya berapa aja saya nggak tau. Saya juga nggak bisa lancar main angklung, nggak bisa bahasa daerah, dan banyak hal lainnya tentang Indonesia nggak bisa saya banggain ke mereka. Meskipun setiap ada kesempatan, saya selalu narsis dengan keindonesiaan saya. Ketika lihat laut Jepang yang hijau butek, saya jadi terbayang laut Indonesia yang biru dengan pasirnya yang putih. Ketika melihat festival di Jepang yang sama semua, saya jadi membayangkan betapa indahnya keanekaragaman kebudayaan di Indonesia. Betapa kayanya negeri saya.

Itu sebabnya, ketika melihat karakter Jingga di novel "Infinitely Yours" ini, saya jadi merasa kesal setengah mati. Saya nggak bisa bersimpati dengan Jingga, yang umurnya nggak jauh beda dengan saya itu, dengan segala sifat kekanakan, sok tau, fanatik berlebihan, dan yang lebih parah, sifat nggak bisa membaca keadaannya! KY kalo kata orang Jepang.

Alhamdulillah, meskipun dulu saya suka banget sama Jepang, tapi saya itu seorang fans yang kere dan pelit, yang nggak rela mengeluarkan uang dari kocek sendiri untuk hal-hal yang saya nilai nggak begitu berguna. Makanya, ketika teman-teman saya yang nge-fans sama Arashi atau NEWS atau Laruku sampai bela-belain beli dvd original idolanya, saya lebih milih untuk minjem aja xp. Logika saya, uang segitu bisa buat beli bakso bermangkok-mangkok, atau buat beli buku. Lha karena kekerean saya, dulu saya jarang beli buku, seringan minjem aja. Hahahaa

Jadi, saya sih nggak mungkin melakukan tindakan seperti Jingga, pergi ke Korea dengan uang sendiri, demi ketemu idolanya!!! Ketika tahu dia ke Korea demi ketemu mas-mas-Korea-pemandu-wisata-yang-ganteng-setengah-mampus, saya langsung tidak respek dengan cewek ini. Apalagi dia dengan seenak jidat manggil lelaki yang baru dikenalnya dengan Om, padahal kalaupun dia menebak Rayan sebagai lelaki berusia 30-an, seorang perempuan berusia 25 tahun harusnya memanggil dia dengan mas saja. Meskipun ya, Orizuka menjelaskan sih kalau latar belakang keluarga dan pekerjaan Jingga yang membentuk sifatnya seperti yang sekarang ini. Tapi kok saya benar-benar merasa sifat kekanak-kanakan Jingga ini lebay banget ya? Kuugi aja yang ceria, supel, dan juga agak kekanak-kanakan nggak segini lebaynya. Aduh, maaf kalau saya jadi membanding-bandingkan. Setiap pengarang memang memiliki hak penuh untuk menggambarkan karakternya sendiri, jadi kalau karakter Jingga nggak sesuai dengan apa yang saya suka, ya berarti memang sayanya aja yang nggak suka... #lah

Jujur saja, saya menskip banyak sekali bagian, khususnya dari awal hingga separuh cerita. Saya nggak tahan dengan "kepolosan" Jingga yang benar-benar bikin saya kesal. Juga kecintaan berlebihannya sama segala hal berbau Korea. Suasananya, udaranya, makanannya, dsb. Saya aja ketika pertama kali makan makanan Jepang di Jepangnya langsung, ngerasa biasa aja. Nggak ada rasanya cooyyy!! Pun ketika makan sushi untuk pertama kali. Butuh adaptasi hingga akhirnya saya bisa menyukai makanan itu (tapi saya ini pemakan segala, jadi meskipun rasanya biasa aja, saya bisa menerimanya xD), dan baru ketika pulang ke Indonesia saya bisa merasakan kangen dengan makanan-makanan itu. Coba aja bayangkan! Makan nasi pake ubi coy!! Belum lagi telur dadar mereka yang pake gula dan madu sampe manisnyaa luar biasa... Jadi, saya merasa agak aneh dengan Jingga yang bisa begitu mudahnya menerima masakan Korea. Eh, tapi saya belum pernah makan masakan Korea yang asli sih, jadi nggak tau juga... Huehehee....

Dari segi penceritaan, saya rasa gaya Orizuka bagus. Kata-katanya teratur, mengalir, dan juga enak dibaca. Hanya saja saya nggak habis pikir, bagaimana bisa suara Jingga (secempreng dan sekeras apapun itu) bisa sampai menembus dinding hotel berbintang lima dan terdengar oleh Rayan di kamar sebelahnya. It really didn't make sense to me. Begitupun dengan tour romantisme Korea mereka, yang saya baca dengan sangat nggak antusias. Soalnya, kok si Jingga ini jadi kelihatan murah banget ya? Segitu gampangnya nempel sama Rayan, melupakan tujuan utamanya datang ke Korea, dan bahkan melakukan hal-hal yang buat saya nggak masuk di akal!! Beli gembok cinta, t-shirt couple, dan nginep di love motel!! Yang terakhir seriusan nggak banget... -__________-

Tapi, meskipun banyak hal yang nggak saya suka, saya cukup menikmati beberapa bagian setelah lewat dari setengah cerita. Nah lho, bingung kan? :D Saya cukup suka bagian ketika mereka numpang nginap di rumah orang Korea, dan Jingga terpaksa bohong ke orang-orang itu kalau mereka suami istri. Tapi setelah Jingga dan Rayan kembali ke turnya, lalu ketemu sama Yun Jae lagi, saya mulai skip, skip, skip lagi. Oh iya, bagian Rayan yang mulai jatuh cinta ke Jingga juga cukup manis dan bikin deg-degan... #eeeaaa

Karakter Jingga di novel ini memang tipikal para fans Korea, dan fans-fans lainnya, yang hidup di dalam dunia khayalan mereka. Jadi, apa yang dilihat hanya indah-indahnya saja. Apalagi biasanya para penggemar cowok-cowok Korea ini banyak juga yang belum punya pacar dan selalu berdelusi untuk bisa pacaran bahkan nikah dengan idolanya (termasuk saya dulu dan juga teman-teman saya yang boy band freak). Entah karena lari dari kenyataan, atau kenapa... Jadi, apa yang dialami Jingga juga adalah impian bagi banyak orang. Menemukan cinta yang romantis, di negeri yang mereka cintai....

Oh iya, sebenarnya fanatisme berlebihan Jingga cukup bisa diterima sih, karena dia datang ke Korea sebagai turis. Tentu berbeda dengan orang yang datang dan tinggal disana, yang mau tidak mau akan melihat banyak kecacatan baik di masyarakat, maupun di sisi lainnya.

Dari tadi saya cerita Jingga melulu. Habis kalau buat saya, Rayan itu biasa saja. Karakternya ya udah standar cerita-cerita romens camnilah... Saya bingung dengan tokoh yang dua-duanya dibilang mirip orang Korea ini. Si Rayan dibilang mirip Kang Dong Won (aww!! saya demen sama Kang Dong Won, gara-gara "Maundy Thursday"!! #eeaaa), terus Jingga dibilang cocok jadi orang Korea juga. Saya jadi nggak bisa membayangkan muka mereka. Hehehee... Rayan ini dibilang dingin sama Jingga, nggak kayak cowok Korea. Weits! Padahal cowok Indonesia itu termasuk yang paling ramah dan hangat di dunia lhoo... #lebay Cowok Indonesia (yang lagi belajar atau tinggal di Jepang) aja tuh jadi inceran banyak cewek Jepang, karena mereka itu baik-baik, ramah-ramah, dan juga hangat. Tapi yang jelas, saya salut dengan sikap nasionalisme Rayan, terlepas karena dia lagi berhadapan dengan Jingga, atau karena dia memang benar-benar cinta Indonesia... :")

Jadi, cukup dua bintang untuk karya Orizuka yang pertama kali saya baca ini. Kapok? Nggak juga. Saya masih penasaran sama "I For You" karena itu judul lagu Jepang yang saya suka bangett...

Btw, sebenarnya saya biasanya menghindari baca teenlit, chicklit, atau apapun itu yang bau-bau romens macam ini. Dari dulu sampai sekarang, romens yang saya suka itu genrenya terbatas. Tapi, kali ini saya menantang diri saya untuk membaca cerita ini, dan hasilnya... maa... maa... alias biasa saja.




October 8, 2013

Samudera di Ujung Jalan Setapak


My rating: 2 of 5 stars

Ini adalah sebuah dongeng.... Dongeng yang berbeda dari apa yang pernah kau dengar sebelumnya. Dongeng yang mungkin tidak baru, tapi cukup mengusik imajinasimu.

Kisah ini mengenai seorang anak lelaki, seorang anak perempuan yang entah sudah berapa lama menjadi anak perempuan, dan keluarganya yang misterius... Maksudku keluarga si anak perempuan, bukan si anak lelaki. Karena keluarga si anak lelaki sangat normal (baca: manusia biasa), yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak perempuan, adik si anak lelaki.

Pertemuan si anak lelaki dengan Lettie (ya, itulah nama anak perempuan yang entah sudah berapa lama menjadi anak perempuan itu) bermula ketika seorang lelaki yang menyewa kamar di rumahnya meninggal secara misterius di dalam mobil ayah si anak lelaki. Si anak lelaki jadi berkenalan dengan keluarga Hempstock, yang aneh dan misterius. Si nenek berkata bahwa ia turut menyaksikan ledakan besar, si ibu terlihat cukup normal untuk ukurannya, dan si anak perempuan itu, Lettie, selalu mengatakan bahwa sebuah kolam kecil di ujung jalan setapak di dekat rumahnya sebagai sebuah samudra.

Setelah peristiwa meninggalnya si lelaki, berbagai peristiwa aneh pun mulai terjadi. Misalnya saja, bagaimana bisa sebongkah koin muncul dari tenggorokan si anak lelaki, padahal dia tidak pernah menelannya? Hingga akhirnya diketahui bahwa ada sebuah kekuatan jahat yang muncul dan harus segera dienyahkan demi kebaikan mereka semua.

Lettie dan si anak lelaki pun bersama-sama berusaha untuk mengalahkan kekuatan jahat itu, meski sebenarnya si anak lelaki tidak berkontribusi apa-apa, dan sang nenek sempat melarangnya. Si anak lelaki diperbolehkan ikut, asal ia tidak melepaskan Lettie dari genggamannya. Sayang, ia melepaskannya... Mengundang berbagai malapetaka yang jauh lebih berbahaya....

Dimulai dari seekor cacing yang tiba-tiba bersarang di kaki si anak lelaki, yang dengan beraninya ia keluarkan sendiri (dan cukup bikin ngilu). Lalu, tiba-tiba muncul seorang perempuan cantik, yang mengaku bernama Ursula Monkton, yang menumpang tinggal di rumah si anak lelaki dan bertindak sebagai pengasuh mereka, sebagai bayaran menginap secara gratis di rumah keluarga itu.

Namun, si anak lelaki tahu, bahwa Ursula bukanlah perempuan cantik biasa, yang mampu memikat seluruh keluarganya. Dia adalah wujud fisik dari kekuatan jahat yang dulu sempat berusaha ia kurung dengan Lettie, namun gagal karena kecerobohannya. Hanya ia yang tahu wujud sebenarnya dari perempuan itu, si kutu--seperti kata nenek Lettie--yang sedikit demi sedikit menghancurkan keluarganya. Lalu, bisakah ia lepas dari jerat Ursula? Dapatkah ia disegel kembali untuk selamanya dan tak menemukan jalan untuk kembali ke dunia ini? Dan yang terpenting, dimanakah Lettie berada, kenapa ia tidak datang sampai segalanya hampir atau mungkin sudah terlambat?

***

Membaca "Samudera di Ujung Jalan Setapak" itu cukup melelahkan buat saya. Awalnya saya sangat semangat untuk segera membaca karya terbaru Neil Gaiman ini. Namun tampaknya saya tidak terlalu menyukainya. Sepertinya kisahnya kali ini bukan selera saya saja. Idenya tentu saja masih luar biasa, begitu pula dengan absurditasnya. Hanya saja, rasanya saya tidak puas. Ada satu hal besar yang jadi pertanyaan saya, dan itu benar-benar mengganggu kenikmatan saya ketika membacanya.

Jadi, seperti yang sudah saya ceritakan di atas, "si kutu" tidak berhasil dipulangkan secara sempurna oleh Lettie, karena si anak lelaki melepaskan genggaman tangan Lettie. Lalu Ursula Monkton datang, dan dimulailah penderitaan si anak lelaki. Si anak lelaki menolak untuk makan apapun yang dibuat oleh Ursula, meskipun seluruh keluarganya sangat menyukainya dan memujanya, terutama adik dan ayah si bocah. Dia juga beberapa kali berusaha untuk kabur dan pergi ke peternakan Lettie, tapi gagal.

Usaha si anak lelaki untuk memberi tahu keluarganya kalau Ursula bukanlah manusia, gagal total, dan justru menyebabkannya hampir mati. Ironisnya, ia justru hampir dibunuh oleh ayahnya sendiri, yang menenggelamkannya di bak mandi (and this part is really sickening me!). Kenapa si ayah sampai tega berbuat seperti itu? Karena pesona Ursula begitu menawannya, hingga ia lupa dengan anak lelakinya!! Si ayah bahkan bercinta dengan Ursula (this one is pretty disgusting too... #hoeekk) sementara si anak yang masih siyok dan kedinginan, berusaha kabur dari rumahnya untuk mencapai peternakan Lettie.

Dimana Lettie? Kenapa ia membiarkan si anak lelaki menderita sebegitu lamanya? Kenapa dulu setelah si penambang opal mati dan si anak lelaki tersedak koin dari tenggorokannya, Lettie segera tahu kalau ada yang salah dan segera menemui si anak lelaki di rumahnya, lalu membereskan segalanya? Kenapa kali ini dia diam saja? Bukankah lepasnya tangan si anak lelaki merupakan sebuah tanda kalau akan terjadi sesuatu yang nggak beres nantinya? Kenapa si anak lelaki harus berjuang sampai hampir mati dulu baru bisa bertemu dengan Lettie? Kenapa?

Yep. Itulah pertanyaan yang mengganggu benak saya. Mungkin karena saya nggak sabar aja kali ya... Dan bagian dengan si Ursula itu benar-benar menjijikan bagi saya, hingga saya skip beberapa kali. Saya pikir saya akan menyukai kisah dongeng untuk dewasa Neil Gaiman ini, seperti saya menikmati "Stardust", tapi ternyata yah... cukup dua bintang aja dari saya...

Satu hal yang mengganggu juga adalah lirik lagu yang tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Hanya diberi bahasa Inggrisnya saja, tanpa arti ke dalam bahasa Indonesianya. Padahal tidak ada salahnya untuk menuliskan artinya di bawahnya. Surely, you didn't expect all your readers would understand english, huh? Emang kecil sih, dan nggak berpengaruh ke cerita juga, tapi entah kenapa saya merasa terganggu aja. Ya, mungkin karena saya memang merasa masih belum puas dengan cerita ini kali ya? Jadinya gitu deh bawaannya. Yang jelas saya nggak kapok baca cerita om Gaiman, dan masih terus menanti keabsurdan dan kefantastisan ceritanya....

Oh iya, buat saya judul "Samudera di Ujung Jalan Setapak" sudah bagus. Ada nuansa misterius dan romantis disana. Mungkin lebih baik kalau judul bahasa Indonesianya yang diperbesar, dan bahasa Inggrisnya yang diperkecil, supaya lebih banyak orang Indonesia yang mengerti, karena saya pikir judul "The Ocean at the End of the Lane" agak sulit untuk dihapalkan dan dipahami. 


October 7, 2013

Buying Monday #1

September telah berlalu, Oktober tiba... bersamaan dengan hujan, yang sedikit demi sedikit menyejukkan Jakarta. Duh, bahagianya akhirnya hujan turun juga. Soalnya udah di kantor kepanasan, eh di rumah masih kepanasan juga. Kalau hujan turun kan jadi adem, meskipun kadang saya jadi nggak bisa pulang. Huhuhuu...

Eh, tapi postingan saya kali ini bukan mau curhat soal hujan, lho. Saya mau ikutan book haul-nya si Aul (The Black in the Book). Dulu ketika masih wacana mau dibuat, saya padahal semangat banget pengen ikutan, eh tapi pas sudah mulai, saya malah lupa xD Maklum aja, soalnya dua bulan terakhir ini saya lagi malas baca ataupun ngeripiu buku. Lihat aja postingan saya, terakhir bulan Juli :'D #malahbangga

Hhhmm... pembelian bulan September ini sebenarnya rada-rada di luar dugaan, karena saya nggak ngira akan ada Gramedia Shocking Sale (bener nggak tuh namanya?) di Matraman. Yah, sebagai pecinta buku yang baik, mana mungkin saya nggak tergoda kalau ada sale buku seperti itu? Hasilnya ya bisa ditebak, saya jadi beli banyak buku deh. Hauhauu...

Oke, apa sajakah buku yang saya beli di bulan September ini? Berikut daftarnya.


Non Fiksi:
1. Filsafat Ilmu: Perspektif Barat dan Islam - Dr. Adian Husaini, dkk. (GIP)

Fiksi Indonesia:
2. Malam Wabah - Sapardi Djoko Damono (Bentang Pustaka)
3. The Jacatra Secret - Rizki Ridyasmara (Bentang Pustaka) --> Yang ini sebenarnya sih udah baca, tapi belum sempat koleksi, dan karena diterbitkan ulang oleh Bentang, ya udah saya beli aja. Hehehe xp



Fiksi Terjemahan:
4. Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng - Jostein Gaarder ( Qanita)
5. Are You There, God? It's Me, Margaret - Judy Blume (GPU)
6. Perfect Match - Jodi Picoult (GPU)
7. Kisah Dua Kota - Charles Dickens (Elex)
8. Inkheart - Cornelia Funke (GPU)
9. N or M? - Agatha Christie (GPU)
10. The Labours of Hercules - Agatha Christie (GPU)



Komik:
11, 12, 13. Here is Greenwood (1-3) - Yukie Nasu
14. Kumpulan Cerita Terbaik Miiko 6
15. Miiko! 22
16, 17. Appare Jipangu - Yuu Watase

Horeee!! Semuanya jadi genap 17 buku. Hahahaa... Ga nyangka banyak juga ya? Kapan bacanya coba? #selftalk Tapi jumlah ini masih sedikit banget kalau dibandingkan dengan jumlah buku teman-teman BBI lainnya, misalnya aja Ren (Ren's Little Corner) yang bulan September kemarin beli 40 buku!! Luar biasa banget kan?? Makanya, jumlah saya ini masih belum ada apa-apanya dibandingin dia.. xDD

Lalu, gimana dengan bulan Oktober ini, ya? Sepertinya saya masih tertarik ke Gramedia Matraman lagi, dan mengeksplor kira-kira ada buku apa yang bisa saya temukan disana. Khususnya sih saya mau ngincer manga-manga yang udah saya baca, tapi saya belum punya kayak One Piece, Miiko, FMA, dsb. Semoga saja niat suci (?) saya itu bisa terlaksana... :")

Amiin....

Oh iya, buat yang mau ikutan, silakan ikuti peraturan di bawah ini ^^

1.    Follow The Black in The Books melalui email atau bloglovin'.
2.    Buat post tentang buku-buku apa saja yang dibeli selama bulan itu, publish setiap hari Senin terakhir di bulan itu.
3.    Masukan link post tersebut di linky yang disediakan.
4.    Linky akan dibuka selama 3 minggu, agar bagi yang terlambat, masih bisa mengikuti meme ini.
5.    Bila ada yang memasukan link tentang book haul bulan berikutnya (bukan bulan yang ditentukan), maka link itu akan dihapus dari linky.
6.   Jangan lupa melihat-lihat book haul peserta lain! :D


October 11, 2013

Inifinely Yours: Kisah Cinta si Maniak Korea

Infinitely Yours by Orizuka
My rating: 2 of 5 stars

Ketika SMP, saya mulai tertarik dengan segala hal yang berbau Jepang. Awalnya, tentu saja karena di masa saya, yaitu awal 2000-an, anime begitu marak menghiasi layar kaca negeri ini. Samurai X, Inu Yasha, Fushigi Yuugi, Kindaichi, Conan, Dragon Ball, Digimon, sangat banyak dan hampir semuanya nggak pernah lupa saya tonton. Saya juga suka baca manga, meski jarang banget beli, dan dari situ mulailah kecintaan terhadap Jepang. Saya mulai dengerin lagu Jepang, suka beli Animonster, jadi tau band-band Jepang, kebudayaannya juga, hingga akhirnya ketika SMA, saya punya cita-cita baru. Saya mau kuliah di Jepang.

Sayapun mendaftar beasiswa Monbusho yang dikeluarkan oleh pemerintah Jepang. Sayangnya, saya gagal, karena di kelas 3 itu saya benar-benar males banget belajar. Jujur aja, masa kelas 3 SMA itu adalah masa paling membosankan dari SMA, dan mungkin dari hidup saya juga. Nggak ada yang berkesan disana. Lalu, karena saya masih mau banget dapat beasiswa ke Jepang, jadilah saya masuk sastra Jepang. Sebelumnya saya sempat milih Komunikasi dan HI juga (ketika try out xp), tapi karena saya nggak ikut bimbel, jadi ya sudah, saya ambil Sastra Jepang (sebenarnya sih Prodi Jepang, karena kami nggak hanya belajar sastra aja) UI sebagai pilihan pertama saya. Alhamdulillah, saya keterima... :)

Prodi Jepang tuh benar-benar surganya para otaku dan pecinta Jepang. Ada yang maniak anime, ada yang maniak manga, maniak dorama, boyband Jepang, hingga band-band rock juga. Di tempat itu, saya bisa mendapatkan hal-hal yang berhubungan dengan Jepang dengan sangat mudah, dan kebanyakan gratis pula xp. Tapi, seiring dengan mulai mengetahui banyak hal tentang Jepang, kecintaan saya terhadap Jepang jadi menurun. Jadi biasa-biasa saja. Hingga akhirnya saya dapat program pertukaran pelajar selama setahun ke Jepang, dan rasa cinta saya pun mulai berubah jadi benci.... #tsaaahhh #lebaaayyy

Ya. Jepang yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri itu nggak seindah bayangan saya. Orang-orangnya dingin dan nggak mudah bergaul dengan orang lain. Mereka nggak kenal sama Indonesia (yang bikin saya merasa seperti orang bodoh, karena sempat suka banget sama Jepang). Mereka nggak tau kalo nasi goreng dari Indonesia (taunya dari Thailand mosok... -__-). Cowoknya dingin-dingin, tepean, dan kayaknya pengennya dikejar-kejar sama cewek. Mereka juga nggak tau Islam, apalagi jilbab yang saya pakai. Beberapa kali mereka ngira kalo jilbab itu pakaian tradisional Indonesia, meskipun saya beberapa kali juga dibilang cantik sih... :") (muji diri sendiri). Yah, intinya saya sempat merasa muak dengan hal-hal berbau Jepang. Saya nggak mau dengerin lagu Jepang, nggak mau baca manga, nggak mau nonton anime, dan banyak lagi lainnya. Parahnya, saat itu saya lagi di Jepang, dan saya nggak bisa kabur dari itu semua!! T___T

Oh iya, karena hal-hal yang saya rasakan itu juga, nasionalisme saya akan Indonesia tuh jadi benar-benar bangkit. Saya jadi benar-benar cinta mati sama Indonesia ketika saya ada di negara luar. Beneran deh, nggak ada artinya saya bisa bahasa Jepang dan tau kebudayaan Jepang, tapi gunung tertinggi di Indonesia tingginya berapa aja saya nggak tau. Saya juga nggak bisa lancar main angklung, nggak bisa bahasa daerah, dan banyak hal lainnya tentang Indonesia nggak bisa saya banggain ke mereka. Meskipun setiap ada kesempatan, saya selalu narsis dengan keindonesiaan saya. Ketika lihat laut Jepang yang hijau butek, saya jadi terbayang laut Indonesia yang biru dengan pasirnya yang putih. Ketika melihat festival di Jepang yang sama semua, saya jadi membayangkan betapa indahnya keanekaragaman kebudayaan di Indonesia. Betapa kayanya negeri saya.

Itu sebabnya, ketika melihat karakter Jingga di novel "Infinitely Yours" ini, saya jadi merasa kesal setengah mati. Saya nggak bisa bersimpati dengan Jingga, yang umurnya nggak jauh beda dengan saya itu, dengan segala sifat kekanakan, sok tau, fanatik berlebihan, dan yang lebih parah, sifat nggak bisa membaca keadaannya! KY kalo kata orang Jepang.

Alhamdulillah, meskipun dulu saya suka banget sama Jepang, tapi saya itu seorang fans yang kere dan pelit, yang nggak rela mengeluarkan uang dari kocek sendiri untuk hal-hal yang saya nilai nggak begitu berguna. Makanya, ketika teman-teman saya yang nge-fans sama Arashi atau NEWS atau Laruku sampai bela-belain beli dvd original idolanya, saya lebih milih untuk minjem aja xp. Logika saya, uang segitu bisa buat beli bakso bermangkok-mangkok, atau buat beli buku. Lha karena kekerean saya, dulu saya jarang beli buku, seringan minjem aja. Hahahaa

Jadi, saya sih nggak mungkin melakukan tindakan seperti Jingga, pergi ke Korea dengan uang sendiri, demi ketemu idolanya!!! Ketika tahu dia ke Korea demi ketemu mas-mas-Korea-pemandu-wisata-yang-ganteng-setengah-mampus, saya langsung tidak respek dengan cewek ini. Apalagi dia dengan seenak jidat manggil lelaki yang baru dikenalnya dengan Om, padahal kalaupun dia menebak Rayan sebagai lelaki berusia 30-an, seorang perempuan berusia 25 tahun harusnya memanggil dia dengan mas saja. Meskipun ya, Orizuka menjelaskan sih kalau latar belakang keluarga dan pekerjaan Jingga yang membentuk sifatnya seperti yang sekarang ini. Tapi kok saya benar-benar merasa sifat kekanak-kanakan Jingga ini lebay banget ya? Kuugi aja yang ceria, supel, dan juga agak kekanak-kanakan nggak segini lebaynya. Aduh, maaf kalau saya jadi membanding-bandingkan. Setiap pengarang memang memiliki hak penuh untuk menggambarkan karakternya sendiri, jadi kalau karakter Jingga nggak sesuai dengan apa yang saya suka, ya berarti memang sayanya aja yang nggak suka... #lah

Jujur saja, saya menskip banyak sekali bagian, khususnya dari awal hingga separuh cerita. Saya nggak tahan dengan "kepolosan" Jingga yang benar-benar bikin saya kesal. Juga kecintaan berlebihannya sama segala hal berbau Korea. Suasananya, udaranya, makanannya, dsb. Saya aja ketika pertama kali makan makanan Jepang di Jepangnya langsung, ngerasa biasa aja. Nggak ada rasanya cooyyy!! Pun ketika makan sushi untuk pertama kali. Butuh adaptasi hingga akhirnya saya bisa menyukai makanan itu (tapi saya ini pemakan segala, jadi meskipun rasanya biasa aja, saya bisa menerimanya xD), dan baru ketika pulang ke Indonesia saya bisa merasakan kangen dengan makanan-makanan itu. Coba aja bayangkan! Makan nasi pake ubi coy!! Belum lagi telur dadar mereka yang pake gula dan madu sampe manisnyaa luar biasa... Jadi, saya merasa agak aneh dengan Jingga yang bisa begitu mudahnya menerima masakan Korea. Eh, tapi saya belum pernah makan masakan Korea yang asli sih, jadi nggak tau juga... Huehehee....

Dari segi penceritaan, saya rasa gaya Orizuka bagus. Kata-katanya teratur, mengalir, dan juga enak dibaca. Hanya saja saya nggak habis pikir, bagaimana bisa suara Jingga (secempreng dan sekeras apapun itu) bisa sampai menembus dinding hotel berbintang lima dan terdengar oleh Rayan di kamar sebelahnya. It really didn't make sense to me. Begitupun dengan tour romantisme Korea mereka, yang saya baca dengan sangat nggak antusias. Soalnya, kok si Jingga ini jadi kelihatan murah banget ya? Segitu gampangnya nempel sama Rayan, melupakan tujuan utamanya datang ke Korea, dan bahkan melakukan hal-hal yang buat saya nggak masuk di akal!! Beli gembok cinta, t-shirt couple, dan nginep di love motel!! Yang terakhir seriusan nggak banget... -__________-

Tapi, meskipun banyak hal yang nggak saya suka, saya cukup menikmati beberapa bagian setelah lewat dari setengah cerita. Nah lho, bingung kan? :D Saya cukup suka bagian ketika mereka numpang nginap di rumah orang Korea, dan Jingga terpaksa bohong ke orang-orang itu kalau mereka suami istri. Tapi setelah Jingga dan Rayan kembali ke turnya, lalu ketemu sama Yun Jae lagi, saya mulai skip, skip, skip lagi. Oh iya, bagian Rayan yang mulai jatuh cinta ke Jingga juga cukup manis dan bikin deg-degan... #eeeaaa

Karakter Jingga di novel ini memang tipikal para fans Korea, dan fans-fans lainnya, yang hidup di dalam dunia khayalan mereka. Jadi, apa yang dilihat hanya indah-indahnya saja. Apalagi biasanya para penggemar cowok-cowok Korea ini banyak juga yang belum punya pacar dan selalu berdelusi untuk bisa pacaran bahkan nikah dengan idolanya (termasuk saya dulu dan juga teman-teman saya yang boy band freak). Entah karena lari dari kenyataan, atau kenapa... Jadi, apa yang dialami Jingga juga adalah impian bagi banyak orang. Menemukan cinta yang romantis, di negeri yang mereka cintai....

Oh iya, sebenarnya fanatisme berlebihan Jingga cukup bisa diterima sih, karena dia datang ke Korea sebagai turis. Tentu berbeda dengan orang yang datang dan tinggal disana, yang mau tidak mau akan melihat banyak kecacatan baik di masyarakat, maupun di sisi lainnya.

Dari tadi saya cerita Jingga melulu. Habis kalau buat saya, Rayan itu biasa saja. Karakternya ya udah standar cerita-cerita romens camnilah... Saya bingung dengan tokoh yang dua-duanya dibilang mirip orang Korea ini. Si Rayan dibilang mirip Kang Dong Won (aww!! saya demen sama Kang Dong Won, gara-gara "Maundy Thursday"!! #eeaaa), terus Jingga dibilang cocok jadi orang Korea juga. Saya jadi nggak bisa membayangkan muka mereka. Hehehee... Rayan ini dibilang dingin sama Jingga, nggak kayak cowok Korea. Weits! Padahal cowok Indonesia itu termasuk yang paling ramah dan hangat di dunia lhoo... #lebay Cowok Indonesia (yang lagi belajar atau tinggal di Jepang) aja tuh jadi inceran banyak cewek Jepang, karena mereka itu baik-baik, ramah-ramah, dan juga hangat. Tapi yang jelas, saya salut dengan sikap nasionalisme Rayan, terlepas karena dia lagi berhadapan dengan Jingga, atau karena dia memang benar-benar cinta Indonesia... :")

Jadi, cukup dua bintang untuk karya Orizuka yang pertama kali saya baca ini. Kapok? Nggak juga. Saya masih penasaran sama "I For You" karena itu judul lagu Jepang yang saya suka bangett...

Btw, sebenarnya saya biasanya menghindari baca teenlit, chicklit, atau apapun itu yang bau-bau romens macam ini. Dari dulu sampai sekarang, romens yang saya suka itu genrenya terbatas. Tapi, kali ini saya menantang diri saya untuk membaca cerita ini, dan hasilnya... maa... maa... alias biasa saja.




October 8, 2013

Samudera di Ujung Jalan Setapak


My rating: 2 of 5 stars

Ini adalah sebuah dongeng.... Dongeng yang berbeda dari apa yang pernah kau dengar sebelumnya. Dongeng yang mungkin tidak baru, tapi cukup mengusik imajinasimu.

Kisah ini mengenai seorang anak lelaki, seorang anak perempuan yang entah sudah berapa lama menjadi anak perempuan, dan keluarganya yang misterius... Maksudku keluarga si anak perempuan, bukan si anak lelaki. Karena keluarga si anak lelaki sangat normal (baca: manusia biasa), yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak perempuan, adik si anak lelaki.

Pertemuan si anak lelaki dengan Lettie (ya, itulah nama anak perempuan yang entah sudah berapa lama menjadi anak perempuan itu) bermula ketika seorang lelaki yang menyewa kamar di rumahnya meninggal secara misterius di dalam mobil ayah si anak lelaki. Si anak lelaki jadi berkenalan dengan keluarga Hempstock, yang aneh dan misterius. Si nenek berkata bahwa ia turut menyaksikan ledakan besar, si ibu terlihat cukup normal untuk ukurannya, dan si anak perempuan itu, Lettie, selalu mengatakan bahwa sebuah kolam kecil di ujung jalan setapak di dekat rumahnya sebagai sebuah samudra.

Setelah peristiwa meninggalnya si lelaki, berbagai peristiwa aneh pun mulai terjadi. Misalnya saja, bagaimana bisa sebongkah koin muncul dari tenggorokan si anak lelaki, padahal dia tidak pernah menelannya? Hingga akhirnya diketahui bahwa ada sebuah kekuatan jahat yang muncul dan harus segera dienyahkan demi kebaikan mereka semua.

Lettie dan si anak lelaki pun bersama-sama berusaha untuk mengalahkan kekuatan jahat itu, meski sebenarnya si anak lelaki tidak berkontribusi apa-apa, dan sang nenek sempat melarangnya. Si anak lelaki diperbolehkan ikut, asal ia tidak melepaskan Lettie dari genggamannya. Sayang, ia melepaskannya... Mengundang berbagai malapetaka yang jauh lebih berbahaya....

Dimulai dari seekor cacing yang tiba-tiba bersarang di kaki si anak lelaki, yang dengan beraninya ia keluarkan sendiri (dan cukup bikin ngilu). Lalu, tiba-tiba muncul seorang perempuan cantik, yang mengaku bernama Ursula Monkton, yang menumpang tinggal di rumah si anak lelaki dan bertindak sebagai pengasuh mereka, sebagai bayaran menginap secara gratis di rumah keluarga itu.

Namun, si anak lelaki tahu, bahwa Ursula bukanlah perempuan cantik biasa, yang mampu memikat seluruh keluarganya. Dia adalah wujud fisik dari kekuatan jahat yang dulu sempat berusaha ia kurung dengan Lettie, namun gagal karena kecerobohannya. Hanya ia yang tahu wujud sebenarnya dari perempuan itu, si kutu--seperti kata nenek Lettie--yang sedikit demi sedikit menghancurkan keluarganya. Lalu, bisakah ia lepas dari jerat Ursula? Dapatkah ia disegel kembali untuk selamanya dan tak menemukan jalan untuk kembali ke dunia ini? Dan yang terpenting, dimanakah Lettie berada, kenapa ia tidak datang sampai segalanya hampir atau mungkin sudah terlambat?

***

Membaca "Samudera di Ujung Jalan Setapak" itu cukup melelahkan buat saya. Awalnya saya sangat semangat untuk segera membaca karya terbaru Neil Gaiman ini. Namun tampaknya saya tidak terlalu menyukainya. Sepertinya kisahnya kali ini bukan selera saya saja. Idenya tentu saja masih luar biasa, begitu pula dengan absurditasnya. Hanya saja, rasanya saya tidak puas. Ada satu hal besar yang jadi pertanyaan saya, dan itu benar-benar mengganggu kenikmatan saya ketika membacanya.

Jadi, seperti yang sudah saya ceritakan di atas, "si kutu" tidak berhasil dipulangkan secara sempurna oleh Lettie, karena si anak lelaki melepaskan genggaman tangan Lettie. Lalu Ursula Monkton datang, dan dimulailah penderitaan si anak lelaki. Si anak lelaki menolak untuk makan apapun yang dibuat oleh Ursula, meskipun seluruh keluarganya sangat menyukainya dan memujanya, terutama adik dan ayah si bocah. Dia juga beberapa kali berusaha untuk kabur dan pergi ke peternakan Lettie, tapi gagal.

Usaha si anak lelaki untuk memberi tahu keluarganya kalau Ursula bukanlah manusia, gagal total, dan justru menyebabkannya hampir mati. Ironisnya, ia justru hampir dibunuh oleh ayahnya sendiri, yang menenggelamkannya di bak mandi (and this part is really sickening me!). Kenapa si ayah sampai tega berbuat seperti itu? Karena pesona Ursula begitu menawannya, hingga ia lupa dengan anak lelakinya!! Si ayah bahkan bercinta dengan Ursula (this one is pretty disgusting too... #hoeekk) sementara si anak yang masih siyok dan kedinginan, berusaha kabur dari rumahnya untuk mencapai peternakan Lettie.

Dimana Lettie? Kenapa ia membiarkan si anak lelaki menderita sebegitu lamanya? Kenapa dulu setelah si penambang opal mati dan si anak lelaki tersedak koin dari tenggorokannya, Lettie segera tahu kalau ada yang salah dan segera menemui si anak lelaki di rumahnya, lalu membereskan segalanya? Kenapa kali ini dia diam saja? Bukankah lepasnya tangan si anak lelaki merupakan sebuah tanda kalau akan terjadi sesuatu yang nggak beres nantinya? Kenapa si anak lelaki harus berjuang sampai hampir mati dulu baru bisa bertemu dengan Lettie? Kenapa?

Yep. Itulah pertanyaan yang mengganggu benak saya. Mungkin karena saya nggak sabar aja kali ya... Dan bagian dengan si Ursula itu benar-benar menjijikan bagi saya, hingga saya skip beberapa kali. Saya pikir saya akan menyukai kisah dongeng untuk dewasa Neil Gaiman ini, seperti saya menikmati "Stardust", tapi ternyata yah... cukup dua bintang aja dari saya...

Satu hal yang mengganggu juga adalah lirik lagu yang tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Hanya diberi bahasa Inggrisnya saja, tanpa arti ke dalam bahasa Indonesianya. Padahal tidak ada salahnya untuk menuliskan artinya di bawahnya. Surely, you didn't expect all your readers would understand english, huh? Emang kecil sih, dan nggak berpengaruh ke cerita juga, tapi entah kenapa saya merasa terganggu aja. Ya, mungkin karena saya memang merasa masih belum puas dengan cerita ini kali ya? Jadinya gitu deh bawaannya. Yang jelas saya nggak kapok baca cerita om Gaiman, dan masih terus menanti keabsurdan dan kefantastisan ceritanya....

Oh iya, buat saya judul "Samudera di Ujung Jalan Setapak" sudah bagus. Ada nuansa misterius dan romantis disana. Mungkin lebih baik kalau judul bahasa Indonesianya yang diperbesar, dan bahasa Inggrisnya yang diperkecil, supaya lebih banyak orang Indonesia yang mengerti, karena saya pikir judul "The Ocean at the End of the Lane" agak sulit untuk dihapalkan dan dipahami. 


October 7, 2013

Buying Monday #1

September telah berlalu, Oktober tiba... bersamaan dengan hujan, yang sedikit demi sedikit menyejukkan Jakarta. Duh, bahagianya akhirnya hujan turun juga. Soalnya udah di kantor kepanasan, eh di rumah masih kepanasan juga. Kalau hujan turun kan jadi adem, meskipun kadang saya jadi nggak bisa pulang. Huhuhuu...

Eh, tapi postingan saya kali ini bukan mau curhat soal hujan, lho. Saya mau ikutan book haul-nya si Aul (The Black in the Book). Dulu ketika masih wacana mau dibuat, saya padahal semangat banget pengen ikutan, eh tapi pas sudah mulai, saya malah lupa xD Maklum aja, soalnya dua bulan terakhir ini saya lagi malas baca ataupun ngeripiu buku. Lihat aja postingan saya, terakhir bulan Juli :'D #malahbangga

Hhhmm... pembelian bulan September ini sebenarnya rada-rada di luar dugaan, karena saya nggak ngira akan ada Gramedia Shocking Sale (bener nggak tuh namanya?) di Matraman. Yah, sebagai pecinta buku yang baik, mana mungkin saya nggak tergoda kalau ada sale buku seperti itu? Hasilnya ya bisa ditebak, saya jadi beli banyak buku deh. Hauhauu...

Oke, apa sajakah buku yang saya beli di bulan September ini? Berikut daftarnya.


Non Fiksi:
1. Filsafat Ilmu: Perspektif Barat dan Islam - Dr. Adian Husaini, dkk. (GIP)

Fiksi Indonesia:
2. Malam Wabah - Sapardi Djoko Damono (Bentang Pustaka)
3. The Jacatra Secret - Rizki Ridyasmara (Bentang Pustaka) --> Yang ini sebenarnya sih udah baca, tapi belum sempat koleksi, dan karena diterbitkan ulang oleh Bentang, ya udah saya beli aja. Hehehe xp



Fiksi Terjemahan:
4. Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng - Jostein Gaarder ( Qanita)
5. Are You There, God? It's Me, Margaret - Judy Blume (GPU)
6. Perfect Match - Jodi Picoult (GPU)
7. Kisah Dua Kota - Charles Dickens (Elex)
8. Inkheart - Cornelia Funke (GPU)
9. N or M? - Agatha Christie (GPU)
10. The Labours of Hercules - Agatha Christie (GPU)



Komik:
11, 12, 13. Here is Greenwood (1-3) - Yukie Nasu
14. Kumpulan Cerita Terbaik Miiko 6
15. Miiko! 22
16, 17. Appare Jipangu - Yuu Watase

Horeee!! Semuanya jadi genap 17 buku. Hahahaa... Ga nyangka banyak juga ya? Kapan bacanya coba? #selftalk Tapi jumlah ini masih sedikit banget kalau dibandingkan dengan jumlah buku teman-teman BBI lainnya, misalnya aja Ren (Ren's Little Corner) yang bulan September kemarin beli 40 buku!! Luar biasa banget kan?? Makanya, jumlah saya ini masih belum ada apa-apanya dibandingin dia.. xDD

Lalu, gimana dengan bulan Oktober ini, ya? Sepertinya saya masih tertarik ke Gramedia Matraman lagi, dan mengeksplor kira-kira ada buku apa yang bisa saya temukan disana. Khususnya sih saya mau ngincer manga-manga yang udah saya baca, tapi saya belum punya kayak One Piece, Miiko, FMA, dsb. Semoga saja niat suci (?) saya itu bisa terlaksana... :")

Amiin....

Oh iya, buat yang mau ikutan, silakan ikuti peraturan di bawah ini ^^

1.    Follow The Black in The Books melalui email atau bloglovin'.
2.    Buat post tentang buku-buku apa saja yang dibeli selama bulan itu, publish setiap hari Senin terakhir di bulan itu.
3.    Masukan link post tersebut di linky yang disediakan.
4.    Linky akan dibuka selama 3 minggu, agar bagi yang terlambat, masih bisa mengikuti meme ini.
5.    Bila ada yang memasukan link tentang book haul bulan berikutnya (bukan bulan yang ditentukan), maka link itu akan dihapus dari linky.
6.   Jangan lupa melihat-lihat book haul peserta lain! :D