October 14, 2012

Mimpiku Ada di Keju


My rating: 3 of 5 stars

Apa makanan utama orang Barat?

Roti.

Dan ya...

Tentu saja: KEJU.

Jadi, udah pasti dong kalo bahan makanan yang satu ini nggak bakalan ada matinya (kecuali kiamat), karena tiap orang di Barat sono pasti butuh makanan yang satu ini. Yang berarti... Kalo jualan keju nggak mungkin lah ada kata RUGI.

Setidaknya, itulah yang ada di kepala Frans Laarmans ketika memutuskan untuk banting setir dari seorang kerani (semacam pegawai admin gitu) di General Marine and Shipbuilding Company, menjadi seorang penjual keju.

Saya jadi ingat dengan seorang teman saya yang berniat untuk berwirausaha. Jadi, teman saya ini memang niat mau jadi pengusaha aja, nggak mau jadi orang kantoran selamanya. Sementara itu, suaminya memang sejak awal nggak ada niat buat kerja kantoran dan mulai usaha kecil-kecilan dari awal. Terus, suaminya itu pernah bilang, "Kalo mau jualan yang nggak bakalan rugi dan orang-orang butuh terus, ya jualan sembako aja."

Yap, sembako memang selalu dibutuhkan oleh setiap orang. Beras, minyak, gula, dsb. adalah bahan kebutuhan sehari-hari bagi orang Indonesia sini. Sama lah perannya sama gandum, keju, dan ikan hering (eh.. ngaco xp) bagi orang Belgia, Belanda, dan sekitarnya itu. Makanya, kalo jualan barang-barang begituan, dijamin nggak bakalan rugi deh.

Nah, dengan semangat baru si Laarmans ini pun memulai pekerjaan barunya itu. Padahal dia sebenarnya nggak ada pengalaman sedikit pun di bidang jual-jualan. Tapi mau gimana lagi, namanya juga udah teriming-imingi oleh kesuksesan dari ribuan ton keju yang harus dijualnya.

Alasan lainnya, dia juga malu karena status sosialnya yang tidak bisa dibanggakan itu, setiap kali dia diundang pesta di rumah seorang bangsawan bernama Van Schoonbeke, yang merupakan teman kakaknya Frans Laarmans, yang sayangnya pekerjaannya jauh lebih oke dibanding dia..

Pokoknya, si Frans ini bisa dibilang idupnya datar-datar aja deh. Dari segi penghasilan, karir, dan status sosial, semuanya datar. Makanya dia langsung terima begitu si Van Schoonbeke nawarin dia untuk menjadi agen penjualan keju dari seorang produsen keju di Amsterdam.

Frans pun melakukan perjalanan ke Amsterdam dari Belgia. Ia menandatangani kontrak dan setuju untuk menjual 20 ton keju Edam tua dari PT Hornstra.

Ternyata eh ternyata, selain nggak punya pengalaman jualan dan ternyata nggak punya bakat di sana juga, si Frans ini ternyata NGGAK DOYAN keju!! Alamaakk!! Baru tau saya kalo ada orang Eropa nggak doyan keju. Sama herannya dengan ketika saya mendengar ada orang Indonesia yang nggak doyan nasi. Huehueehuee..

Udah gitu, si Frans ini tampaknya terlalu visioner dan ngerjain hal-hal lain yang nggak jelas terlebih dahulu. Misalnya, mikirin sampe botak perusahaan kejunya mau dikasih nama apa (padahal dia bukan produsen gituh.. cuman reseller aja). Nama udah dapet, eh dia rempong bikin kop surat... -______- #tepokjidad. Beli mesin tik juga (dan itu dia pake beli barang-barang yang ga diperluin, karena katanya nggak enak kalo masuk toko terus nggak beli apa-apaan.. =_______= #tepokjidad2) Hadehh..

Nggak cuman itu aja. Dia juga pake masang iklan di surat kabar nawarin orang-orang untuk jadi distributornya kejunya dia! Pake orangnya disuruh dateng dan pake acara dia ketipu-ketipu segala lagi... x_____________x #tepokjidad3 Haddeeeuuhhh... Rempong banget dah tuh orang. Padahal masih jualan keju ece-ece aja lagaknya udah kayak distributor besar aja.

Alhasil... keju yang dijual Frans pun NGGAK LAKU! Ya, nggak laku. Dari sekian peti keju yang dikirimkan ke Frans, hanya beberapa saja yang terjual. Sisanya menumpuk, teronggok, menunggu untuk dibeli orang. Frans pun kelimpungan. Apalagi setelah itu ia mendapat kabar kalau bosnya akan datang dan menanyakan kemajuan penjualan kejunya...

Nah lhooo...

Eng ing eng....

Wiiuuu... wiiiiiuuuu....

Nggeeeeeekkkk...

Yak, selesai onomatope nggak pentingnya.

Pokoknya, kalo Anda jadi Frans, pasti bingung juga dong. Udah ngebayang-bayangin dapat gaji besar setiap bulannya (soalnya jadi kerani itu gajinya kecil), ditambah lagi dengan status sosial yang terpandang, dsb. Tapi ternyata mencapai semuanya itu tuh sulit banget (Yaeyyalahh.. Siapa kate gampil ngurusin begonoan?).. Banyak hal harus dikorbankan.

Satu hal yang saya pelajari, visi itu memang penting, tapi lebih penting lagi mengetahui medan dan pengetahuan tentang bidang yang akan dikecimpungi. Salahnya si Frans, dia terlalu visioner tapi nggak punya ilmu. Yah, itulah sebabnya kenapa orang yang berilmu itu derajatnya lebih tinggi ya..

Jujur, saya rada-rada sebel sama si Frans ini. Gregetan gitu. Padahal kalo dari awal dia langsung secara serius memikirkan strategi pemasaran yang lebih rasional (seperti menyalurkannya ke toko bahan makanan atau seburuk-buruknya keliling jualan keju), pasti lebih banyak keju yang akan dia jual. Tapi ya, mungkin orang yang kayak Frans ini justru orang yang paling umum kita jumpai. Saya jadi inget bisnis MLM, dimana kebanyakan orang udah teriming-imingi sama bonus besar, dapet posisi puncak, dsb. tapi usahanya nggak maksimal buat mencapai itu. Ngimpi doang.

Tapi bukan berarti Frans nggak ada bagus-bagusnya ya. Dia adalah seorang ayah dan suami yang baik. Sayang banget sama keluarganya. Selain prestise, sebenarnya itu juga salah satu alasan kenapa dia jadi jualan keju. Dan keputusan terakhirnya Frans cukup patut untuk diberi apresiasi menurut saya...

Ini pertama kalinya saya baca kesusasteraan Belgia, yang negaranya pakai tiga bahasa itu. Cukup menarik, meskipun tampaknya jalur cerita yang agak datar memang sudah menjadi ciri khas kesusasteraan zaman-zaman itu. Siapa sangka juga kalau tema yang sederhana seperti ini bisa menimbulkan banyak konflik dan kejadian menarik? Mungkin saja nanti penulis Indonesia bisa terinspirasi untuk menulis kisah yang serupa, misalnya beras gitu. Atau mungkin gula?

Yah.. Siapa tahu??
PS. Judul saya dangdut banget yak.. XD

5 comments:

  1. wah abis baca buku ini ga skt jidatnya ?, habis banyak ditepok-tepok gitu :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi.. Iya mbak. Untung jidat saya bahan dasarnya kuat (campuran antara beton dan baja gitu deh.. :p), jadi masih bisa bertahan.. :DD

      Delete
  2. aku udah baca juga,ngebosenin ya ceritanya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lumayan... Datar gitu ya. Nggak ada konflik yang bikin nafas naik turun, idung kembang kempis. :D

      Udah gitu aku agak-agak sebel sama karakter si Frans ini. Untung di akhir-akhir dia memilih keputusan yang tepat :)

      Delete
  3. Semua mimpi pasti bisa diraih kalau kita percaya sepenuhnya pada mimpi tersebut, tetap semangat meraihnya.. Pasti bisa! :)

    ReplyDelete

October 14, 2012

Mimpiku Ada di Keju


My rating: 3 of 5 stars

Apa makanan utama orang Barat?

Roti.

Dan ya...

Tentu saja: KEJU.

Jadi, udah pasti dong kalo bahan makanan yang satu ini nggak bakalan ada matinya (kecuali kiamat), karena tiap orang di Barat sono pasti butuh makanan yang satu ini. Yang berarti... Kalo jualan keju nggak mungkin lah ada kata RUGI.

Setidaknya, itulah yang ada di kepala Frans Laarmans ketika memutuskan untuk banting setir dari seorang kerani (semacam pegawai admin gitu) di General Marine and Shipbuilding Company, menjadi seorang penjual keju.

Saya jadi ingat dengan seorang teman saya yang berniat untuk berwirausaha. Jadi, teman saya ini memang niat mau jadi pengusaha aja, nggak mau jadi orang kantoran selamanya. Sementara itu, suaminya memang sejak awal nggak ada niat buat kerja kantoran dan mulai usaha kecil-kecilan dari awal. Terus, suaminya itu pernah bilang, "Kalo mau jualan yang nggak bakalan rugi dan orang-orang butuh terus, ya jualan sembako aja."

Yap, sembako memang selalu dibutuhkan oleh setiap orang. Beras, minyak, gula, dsb. adalah bahan kebutuhan sehari-hari bagi orang Indonesia sini. Sama lah perannya sama gandum, keju, dan ikan hering (eh.. ngaco xp) bagi orang Belgia, Belanda, dan sekitarnya itu. Makanya, kalo jualan barang-barang begituan, dijamin nggak bakalan rugi deh.

Nah, dengan semangat baru si Laarmans ini pun memulai pekerjaan barunya itu. Padahal dia sebenarnya nggak ada pengalaman sedikit pun di bidang jual-jualan. Tapi mau gimana lagi, namanya juga udah teriming-imingi oleh kesuksesan dari ribuan ton keju yang harus dijualnya.

Alasan lainnya, dia juga malu karena status sosialnya yang tidak bisa dibanggakan itu, setiap kali dia diundang pesta di rumah seorang bangsawan bernama Van Schoonbeke, yang merupakan teman kakaknya Frans Laarmans, yang sayangnya pekerjaannya jauh lebih oke dibanding dia..

Pokoknya, si Frans ini bisa dibilang idupnya datar-datar aja deh. Dari segi penghasilan, karir, dan status sosial, semuanya datar. Makanya dia langsung terima begitu si Van Schoonbeke nawarin dia untuk menjadi agen penjualan keju dari seorang produsen keju di Amsterdam.

Frans pun melakukan perjalanan ke Amsterdam dari Belgia. Ia menandatangani kontrak dan setuju untuk menjual 20 ton keju Edam tua dari PT Hornstra.

Ternyata eh ternyata, selain nggak punya pengalaman jualan dan ternyata nggak punya bakat di sana juga, si Frans ini ternyata NGGAK DOYAN keju!! Alamaakk!! Baru tau saya kalo ada orang Eropa nggak doyan keju. Sama herannya dengan ketika saya mendengar ada orang Indonesia yang nggak doyan nasi. Huehueehuee..

Udah gitu, si Frans ini tampaknya terlalu visioner dan ngerjain hal-hal lain yang nggak jelas terlebih dahulu. Misalnya, mikirin sampe botak perusahaan kejunya mau dikasih nama apa (padahal dia bukan produsen gituh.. cuman reseller aja). Nama udah dapet, eh dia rempong bikin kop surat... -______- #tepokjidad. Beli mesin tik juga (dan itu dia pake beli barang-barang yang ga diperluin, karena katanya nggak enak kalo masuk toko terus nggak beli apa-apaan.. =_______= #tepokjidad2) Hadehh..

Nggak cuman itu aja. Dia juga pake masang iklan di surat kabar nawarin orang-orang untuk jadi distributornya kejunya dia! Pake orangnya disuruh dateng dan pake acara dia ketipu-ketipu segala lagi... x_____________x #tepokjidad3 Haddeeeuuhhh... Rempong banget dah tuh orang. Padahal masih jualan keju ece-ece aja lagaknya udah kayak distributor besar aja.

Alhasil... keju yang dijual Frans pun NGGAK LAKU! Ya, nggak laku. Dari sekian peti keju yang dikirimkan ke Frans, hanya beberapa saja yang terjual. Sisanya menumpuk, teronggok, menunggu untuk dibeli orang. Frans pun kelimpungan. Apalagi setelah itu ia mendapat kabar kalau bosnya akan datang dan menanyakan kemajuan penjualan kejunya...

Nah lhooo...

Eng ing eng....

Wiiuuu... wiiiiiuuuu....

Nggeeeeeekkkk...

Yak, selesai onomatope nggak pentingnya.

Pokoknya, kalo Anda jadi Frans, pasti bingung juga dong. Udah ngebayang-bayangin dapat gaji besar setiap bulannya (soalnya jadi kerani itu gajinya kecil), ditambah lagi dengan status sosial yang terpandang, dsb. Tapi ternyata mencapai semuanya itu tuh sulit banget (Yaeyyalahh.. Siapa kate gampil ngurusin begonoan?).. Banyak hal harus dikorbankan.

Satu hal yang saya pelajari, visi itu memang penting, tapi lebih penting lagi mengetahui medan dan pengetahuan tentang bidang yang akan dikecimpungi. Salahnya si Frans, dia terlalu visioner tapi nggak punya ilmu. Yah, itulah sebabnya kenapa orang yang berilmu itu derajatnya lebih tinggi ya..

Jujur, saya rada-rada sebel sama si Frans ini. Gregetan gitu. Padahal kalo dari awal dia langsung secara serius memikirkan strategi pemasaran yang lebih rasional (seperti menyalurkannya ke toko bahan makanan atau seburuk-buruknya keliling jualan keju), pasti lebih banyak keju yang akan dia jual. Tapi ya, mungkin orang yang kayak Frans ini justru orang yang paling umum kita jumpai. Saya jadi inget bisnis MLM, dimana kebanyakan orang udah teriming-imingi sama bonus besar, dapet posisi puncak, dsb. tapi usahanya nggak maksimal buat mencapai itu. Ngimpi doang.

Tapi bukan berarti Frans nggak ada bagus-bagusnya ya. Dia adalah seorang ayah dan suami yang baik. Sayang banget sama keluarganya. Selain prestise, sebenarnya itu juga salah satu alasan kenapa dia jadi jualan keju. Dan keputusan terakhirnya Frans cukup patut untuk diberi apresiasi menurut saya...

Ini pertama kalinya saya baca kesusasteraan Belgia, yang negaranya pakai tiga bahasa itu. Cukup menarik, meskipun tampaknya jalur cerita yang agak datar memang sudah menjadi ciri khas kesusasteraan zaman-zaman itu. Siapa sangka juga kalau tema yang sederhana seperti ini bisa menimbulkan banyak konflik dan kejadian menarik? Mungkin saja nanti penulis Indonesia bisa terinspirasi untuk menulis kisah yang serupa, misalnya beras gitu. Atau mungkin gula?

Yah.. Siapa tahu??
PS. Judul saya dangdut banget yak.. XD

5 comments:

  1. wah abis baca buku ini ga skt jidatnya ?, habis banyak ditepok-tepok gitu :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi.. Iya mbak. Untung jidat saya bahan dasarnya kuat (campuran antara beton dan baja gitu deh.. :p), jadi masih bisa bertahan.. :DD

      Delete
  2. aku udah baca juga,ngebosenin ya ceritanya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lumayan... Datar gitu ya. Nggak ada konflik yang bikin nafas naik turun, idung kembang kempis. :D

      Udah gitu aku agak-agak sebel sama karakter si Frans ini. Untung di akhir-akhir dia memilih keputusan yang tepat :)

      Delete
  3. Semua mimpi pasti bisa diraih kalau kita percaya sepenuhnya pada mimpi tersebut, tetap semangat meraihnya.. Pasti bisa! :)

    ReplyDelete