February 8, 2013

Rectoverso: Cinta adalah Tempat untuk Pulang


Rectoverso: 11 Cerita Pendek DEE by Dee
My rating: 3 of 5 stars

Akhirnya, bagai sungai yang mendamba samudra,
Kutahu pasti ke mana kan kubermuara
Semoga ada waktu
Sayangku, kupercaya alam pun berbahasa
Ada makna di balik semua pertanda
Firasat ini...
Rasa rindukah ataukah tanda bahaya?
Aku tak peduli
Kuterus berlari...


Sebelas cerpen. Sebelas lagu. Sebelas interpretasi. Sebelas hal yang menjadi satu, dalam sebuah buku kumpulan cerpen, lagu, dan foto. Dari sebelas itu, hanya beberapa saja yang saya benar-benar mengerti. Salah satunya cerpen "Firasat" yang entah kenapa meninggalan jejak lebih dalam buat saya.

Orang-orang bilang, disini Dee bercerita tentang cinta. Dan memang itu kenyataannya. Dan seperti cinta, karya Dee inipun tak mudah untuk saya mengerti. Ah, memang siapa yang bisa mengerti cinta? Bukankah seorang tokoh legendaris pernah berkata, "Sejak dahulu, begitulah cinta... Deritanya tiada akhir..." (yang tau quote ini darimana, berarti satu angkatan sama saya xD)

Entah kenapa setelah membaca buku Dee ini, saya jadi ingin menuliskan review dengan kata-kata yang indah dan puitis. Padahal, saya ini bukan penikmat puisi. Bagi saya, sebagian besar puisi hanya bisa dipahami oleh sang penulis dan Tuhan saja. Begitupun dengan kata-kata indah yang telah dirangkai Dee di dalam cerpen ini. Tapi toh, saya masih terkagum-kagum dengan keindahan bahasa yang digunakan Dee (meski saya nggak ngerti). Itukah kesamaan puisi dengan lukisan? Terkadang, semakin abstrak dan absurd karya itu, semakin orang terpukau karenanya... (versi pengamat sotoy nan amatir)

Satu hal yang saya pahami dari kumpulan cerpen ini. Cinta memang bukan hal yang mudah dipahami, tapi cinta adalah tentang menemukan muara yang membuat diri kita merasa nyaman berada di sana. Menemukan jalan pulang. Jalan menuju tempat yang membuat kita berada di tempat yang paling nyaman. Karena ada banyak cara untuk mencintai, dan yang terbaik adalah melakukannya dengan cara yang ternyaman bagi kita. Ada yang melakukannya dengan merelakan, membiarkan masing-masing berada di posisi nyamannya, atau hanya dengan menatap saja. Semuanya adalah bentuk cinta, semuanya adalah bentuk yang akan membuat kita menuju rumah.

Mereka yang kehilangan cinta akan merasa tidak memiliki tempat untuk pulang, dan menjadi terluntang-lantung karenanya. Tapi ada juga yang memiliki cinta itu, tapi masih tidak merasa di rumah. Adapula yang telah kehilangan orang yang dicintainya, tapi tetap merasakan bahwa mereka tidak kehilangan tempat pulang (bukan karena nggak cinta, tapi karena ada kekuatan besar lainnya bernama 'kepasrahan' dan 'penerimaan'). Dan saya pun berharap, suatu saat cinta--seperti apapun bentuknya nanti--akan membawa saya pulang ke tempat yang nyaman....

View all my reviews

9 comments:

  1. Ka, kalau belu rectoverso yg sekarang ada bonus CD lagunya ga? Dulu aku beli waktu masih cover hijau lengkap dengan CD lagu.

    Btw, waktu baca pertama saya juga ga mengerti semua ceritanya. Tapi full quote gitu ya :D

    ReplyDelete
  2. Sayangnya nggak ada Mbak... :'(

    Iya, quote-nya banyak banget, dan nggak semuanya aku ngerti.. :DD #nggakngertitapibangga

    ReplyDelete
  3. Halo Tika,,, salam kenal ;)

    Rectoverso emang kesannya beda dari buku Dee yang lain yah... kayany baca buku ini tu harus banyak2 merenung #biar ngerti :p

    saya suka cerita soal kasih tak sampai, kalo ga salah judulnya Hanya Isyarat. Pedih banget, hiks...

    Filmny keluarnya kapan yah?

    ReplyDelete
  4. Covernya jadi beda banget yak -___-"
    Aku paling suka lagu "peluk".. bhihi, kalo ceritanya.. emm.. Malaikat juga tahu yang daleemm, tapi Aku Ada juga suka, eh Pulang juga bagus *banyak banget XD

    ReplyDelete
  5. Kalau baca karya Dee, jgn berusaha memahami isi/alur ceritanya karena saya saja mumet jd hanya bisa menikmati kutipan2nya yg memang indah

    ReplyDelete
  6. @Dhieta: Hai, juga. Makasih udah mampir ya.. :D
    Iya, "Hanya Isyarat" juga bagus, meski kalau aku sih nggak akan puas kalo cuma dpt "punggung" doang.. xD #maruk

    Filmnya katanya sih 14 Februari ini. Pas momennya Valentine...

    @Mbak Alvina: Iya, beda banget... >o< Dia ada dua cover sih. Yg depan cover film, dalemnya cover buku. Tapi aku masih sukaan yg lama deh. Kayaknya lebih dapet aja gitu feelnya. Hihihi... Banyak juga ya kesukaannya... xD

    @Mas Dion: Betul-betul. Aku pun menyerah untuk memahami. Jadi cuma baca aja dah kata-kata indah Dee yang nggak pelit tersebar di seluruh penjuru novel... XD

    ReplyDelete
  7. kalau yang lama, kan penuh warna cetakannya. yang ini gimana kak?

    ReplyDelete
  8. Kayaknya dalemnya sih masih sama, Mas Tezar. Masih banyak foto-foto bagusnya. Cuma covernya aja yang beda... :D

    ReplyDelete
  9. klo aku paling cerita suka curhat buat sahabat, dalem dan bikin sadar klo jodoh mungkin ada di deket kita, tapi kita aja yg ga sadar.hehe

    Setuju banget klo pilihan kata2 dan gaya bahasa Dee beda dari yang lain. Indah, walaupun bikin kita mikir akan maknanya. :)

    ReplyDelete

February 8, 2013

Rectoverso: Cinta adalah Tempat untuk Pulang


Rectoverso: 11 Cerita Pendek DEE by Dee
My rating: 3 of 5 stars

Akhirnya, bagai sungai yang mendamba samudra,
Kutahu pasti ke mana kan kubermuara
Semoga ada waktu
Sayangku, kupercaya alam pun berbahasa
Ada makna di balik semua pertanda
Firasat ini...
Rasa rindukah ataukah tanda bahaya?
Aku tak peduli
Kuterus berlari...


Sebelas cerpen. Sebelas lagu. Sebelas interpretasi. Sebelas hal yang menjadi satu, dalam sebuah buku kumpulan cerpen, lagu, dan foto. Dari sebelas itu, hanya beberapa saja yang saya benar-benar mengerti. Salah satunya cerpen "Firasat" yang entah kenapa meninggalan jejak lebih dalam buat saya.

Orang-orang bilang, disini Dee bercerita tentang cinta. Dan memang itu kenyataannya. Dan seperti cinta, karya Dee inipun tak mudah untuk saya mengerti. Ah, memang siapa yang bisa mengerti cinta? Bukankah seorang tokoh legendaris pernah berkata, "Sejak dahulu, begitulah cinta... Deritanya tiada akhir..." (yang tau quote ini darimana, berarti satu angkatan sama saya xD)

Entah kenapa setelah membaca buku Dee ini, saya jadi ingin menuliskan review dengan kata-kata yang indah dan puitis. Padahal, saya ini bukan penikmat puisi. Bagi saya, sebagian besar puisi hanya bisa dipahami oleh sang penulis dan Tuhan saja. Begitupun dengan kata-kata indah yang telah dirangkai Dee di dalam cerpen ini. Tapi toh, saya masih terkagum-kagum dengan keindahan bahasa yang digunakan Dee (meski saya nggak ngerti). Itukah kesamaan puisi dengan lukisan? Terkadang, semakin abstrak dan absurd karya itu, semakin orang terpukau karenanya... (versi pengamat sotoy nan amatir)

Satu hal yang saya pahami dari kumpulan cerpen ini. Cinta memang bukan hal yang mudah dipahami, tapi cinta adalah tentang menemukan muara yang membuat diri kita merasa nyaman berada di sana. Menemukan jalan pulang. Jalan menuju tempat yang membuat kita berada di tempat yang paling nyaman. Karena ada banyak cara untuk mencintai, dan yang terbaik adalah melakukannya dengan cara yang ternyaman bagi kita. Ada yang melakukannya dengan merelakan, membiarkan masing-masing berada di posisi nyamannya, atau hanya dengan menatap saja. Semuanya adalah bentuk cinta, semuanya adalah bentuk yang akan membuat kita menuju rumah.

Mereka yang kehilangan cinta akan merasa tidak memiliki tempat untuk pulang, dan menjadi terluntang-lantung karenanya. Tapi ada juga yang memiliki cinta itu, tapi masih tidak merasa di rumah. Adapula yang telah kehilangan orang yang dicintainya, tapi tetap merasakan bahwa mereka tidak kehilangan tempat pulang (bukan karena nggak cinta, tapi karena ada kekuatan besar lainnya bernama 'kepasrahan' dan 'penerimaan'). Dan saya pun berharap, suatu saat cinta--seperti apapun bentuknya nanti--akan membawa saya pulang ke tempat yang nyaman....

View all my reviews

9 comments:

  1. Ka, kalau belu rectoverso yg sekarang ada bonus CD lagunya ga? Dulu aku beli waktu masih cover hijau lengkap dengan CD lagu.

    Btw, waktu baca pertama saya juga ga mengerti semua ceritanya. Tapi full quote gitu ya :D

    ReplyDelete
  2. Sayangnya nggak ada Mbak... :'(

    Iya, quote-nya banyak banget, dan nggak semuanya aku ngerti.. :DD #nggakngertitapibangga

    ReplyDelete
  3. Halo Tika,,, salam kenal ;)

    Rectoverso emang kesannya beda dari buku Dee yang lain yah... kayany baca buku ini tu harus banyak2 merenung #biar ngerti :p

    saya suka cerita soal kasih tak sampai, kalo ga salah judulnya Hanya Isyarat. Pedih banget, hiks...

    Filmny keluarnya kapan yah?

    ReplyDelete
  4. Covernya jadi beda banget yak -___-"
    Aku paling suka lagu "peluk".. bhihi, kalo ceritanya.. emm.. Malaikat juga tahu yang daleemm, tapi Aku Ada juga suka, eh Pulang juga bagus *banyak banget XD

    ReplyDelete
  5. Kalau baca karya Dee, jgn berusaha memahami isi/alur ceritanya karena saya saja mumet jd hanya bisa menikmati kutipan2nya yg memang indah

    ReplyDelete
  6. @Dhieta: Hai, juga. Makasih udah mampir ya.. :D
    Iya, "Hanya Isyarat" juga bagus, meski kalau aku sih nggak akan puas kalo cuma dpt "punggung" doang.. xD #maruk

    Filmnya katanya sih 14 Februari ini. Pas momennya Valentine...

    @Mbak Alvina: Iya, beda banget... >o< Dia ada dua cover sih. Yg depan cover film, dalemnya cover buku. Tapi aku masih sukaan yg lama deh. Kayaknya lebih dapet aja gitu feelnya. Hihihi... Banyak juga ya kesukaannya... xD

    @Mas Dion: Betul-betul. Aku pun menyerah untuk memahami. Jadi cuma baca aja dah kata-kata indah Dee yang nggak pelit tersebar di seluruh penjuru novel... XD

    ReplyDelete
  7. kalau yang lama, kan penuh warna cetakannya. yang ini gimana kak?

    ReplyDelete
  8. Kayaknya dalemnya sih masih sama, Mas Tezar. Masih banyak foto-foto bagusnya. Cuma covernya aja yang beda... :D

    ReplyDelete
  9. klo aku paling cerita suka curhat buat sahabat, dalem dan bikin sadar klo jodoh mungkin ada di deket kita, tapi kita aja yg ga sadar.hehe

    Setuju banget klo pilihan kata2 dan gaya bahasa Dee beda dari yang lain. Indah, walaupun bikin kita mikir akan maknanya. :)

    ReplyDelete