February 5, 2013

Something Borrowed: Pilih Sahabat atau Cinta?


Cinta yang Terpendam by Emily Giffin
My rating: 2 of 5 stars

Tidak semua orang memiliki sahabat. Dan tidak semua orang memiliki sahabat dari kecil, dan separuh lebih hidupnya dihabiskan dengan sahabatnya itu. Seperti Rachel dan Darcy. Mereka telah bersahabat dari kecil, hingga kini menginjak usia 30 tahun.

Rachel lebih tua beberapa bulan dari Darcy, jadi dialah yang lebih dulu menginjak usia 30. Beberapa tahun sebelumnya, ia membayangkan bahwa di ulang tahunnya yang ke-30, ia sudah menikah dengan pangeran pujaan hatinya, dan memiliki beberapa orang anak. Tapi, kenyataan memang nggak seindah itu. Rachel masih single, tak punya pacar, tak punya gebetan, tak punya pekerjaan yang disukainya, dan yah bisa dibilang nasib sedang nggak memihaknya.

Sekarang kita pindah ke Darcy, sahabat sejati Rachel. Di usianya yang menjelang 30, Darcy sudah punya tunangan dan akan segera menikah. Lelaki yang akan dinikahinya bernama Dexter, seorang esmud muda, tampan, dan punya kedudukan bagus di pekerjaannya. Darcy juga punya pekerjaan yang menyenangkan, berkat kemampuan personalnya yang memang lebih. Dan Darcy lebih cantik, lebih ramping, dan lebih bahagia dari Rachel....

Hingga terjadilah kejadian itu...

Di ulang tahunnya yang ke-30, Rachel tidur dengan tunangan Darcy. Rachel-nya agak mabuk sih... Tapi Dex nggak, yang bikin Rachel jadi ketar ketir. Rachel merasa bersalah pada Darcy, karena telah mengkhianati sahabatnya, meskipun berkat Rachel-lah Darcy jadi kenalan, jadian, terus tunangan sama Dex. Karena Dexter adalah teman Rachel ketika kuliah dulu....

Tapi, memangnya Darcy bener-bener sahabatnya sejatinya Rachel? Kalo iya, kok dulu dia ngerebut cowok yang disukai Rachel? Terus, kenapa Darcy sengaja milih universitas yang dipilih Rachel (bukan karena mau terus sama sahabatnya itu, tapi ingin membuktikan kalau dia juga bisa)? Kenapa juga setelah lebih dari 20 tahun mereka bersahabat, Rachel selalu merasa menjadi pihak yang dirugikan, kalah, dan menangis sendirian di pojokan? Kenapa? Bukankah sahabat itu harusnya tetap setia meskipun dalam suka dan duka? Terus, kenapa Rachel tau banyak hal tentang Darcy, tapi Darcy nyaris nggak tau apa-apa tentang hal-hal yang Rachel sukai?

Hufft... Baca buku ini benar-benar menguras emosi saya. Awalnya, saya sempat simpati sama Rachel, si tokoh utama yang merasa dirinya nggak punya kelebihan apa-apa, nggak secantik Darcy, nggak selangsing Darcy, dan apa-apa selalu kalah dari Darcy. Tapi, lama-lama saya jadi kesel juga sama si Rachel ini. Soalnya, perlakuan nggak adil yang diterima dia dari sahabatnya itu seakan jadi pembenaran atas perselingkuhannya dengan tunangan sahabatnya.

Darcy. Cewek yang memiliki segalanya. Tubuh langsing, wajah cantik, punya pekerjaan yang enak dan bergaji besar padahal dia nggak pinter-pinter amat, dan punya tunangan yang super tampan. Kelakuan si Darcy ini juga sama nyebelinnya sama Rachel. Darcy itu seolah nggak bisa melakukan apapun tanpa bantuan Rachel. Jenis bantuan yang diminta Darcy bukan jenis bantuan pada sahabat, tapi lebih mirip ke pembantu. Dan Rachel, dengan begonya juga menuruti kemauan Darcy... Wajar aja. Soalnya, siapa sih yang bisa menolak kemauan Darcy? Darcy kan nggak pernah tau gimana rasanya berbagi, berkorban, dan mengalah. Lagiian, hey! Dia kan pusat tata surya, jadi semua planet harus tunduk berputar mengelilinginya...

Lalu, Dexter. Si eksekutif muda super tampan yang jadi tunangan Darcy, tapi demen sama Rachel juga. Dexter itu teman kuliah Rachel di sekolah hukum dulu (Iya, Rachel itu otaknya emang pinter, tapi dia itu super bego untuk hal-hal lainnya). Buat saya, Dexter adalah lelaki nggak punya pendirian yang nggak bisa dipercaya. Dia suka sama Rachel, tapi nggak mau pisah dari Darcy juga. Benar-benar tipe cowok yang nggak bisa ngambil keputusan, yang bikin saya pengen teriak pake TOA super gede di kupingnya.... -____-

Selain tiga tokoh di atas, ada juga tokoh-tokoh lainnya seperti Ethan, Hillary, dan Claire yang turut mengisi keseharian hidup Rachel dan Darcy. Saya sih heran banget, si Rachel kok masih mau-maunya gitu sahabatan sama Darcy. Bukan, bukan karena si Darcy ini kelakuannya buruk banget (yah, itu juga salah satunya sih xp), tapi karena udah jelas-jelas Darcy ini nggak cocok jadi sahabatnya Rachel...

Seperti kata Ethan, persahabatan Rachel dan Darcy itu bersifat dekstruktif. Tanpa disadari, mereka saling menghancurkan satu sama lain. Hhmm.. Darcy sadar sih kayaknya, Rachel aja yang terlalu bego untuk memahaminya... -__- (Tuh kan! Udah berapa kali saya ngeluarin kata b*go itu di review ini?! O.o) Abisan, si Rachel itu bener-bener ngeselin banget sih. Apa salahnya coba sekali-sekali menolak dengan tegas permintaan Darcy? Emangnya terus bumi bakal kiamat gituh?

Sebenarnya, persahabatan mereka berdua ini mengingatkan saya dengan orang-orang yang pernah dekat dengan saya dulu. Jadi, sebenarnya saya itu tipenya lebih mirip ke Rachel. Pendiam, nggak suka debat, lebih milih ngalah daripada ribut (kecuali kalo lagi berantem sama adek sendiri xp), dan juga pendengar yang baik. Yah, pokoknya plegmatis banget deh...

Dulu, saya pernah punya teman yang sangat dekat dengan saya. Kami sering kemana-mana bersama. Saya selalu dengerin curhatan dia. Saya selalu dengerin keluhan dia. Saya dengerin kisah dia dengan gebetannya. Loh? Terus giliran saya kapan dongg?? Itu dia. Saking dominannya dia, saya sampai nggak punya waktu untuk cerita tentang diri saya. Tentang keadaan di rumah saya. Tentang cowok yang saya suka waktu itu. Tentang banyak hal. Alhamdulillah kami 'dipisahkan' oleh waktu dan keadaan, dan sekarang saya pun bersyukur karenanya...

Lalu, saya ketemu lagi dengan orang yang setipe dengan teman saya dulu itu. Dia juga sering curhat sama saya. Cerita tentang pacarnya, tentang pekerjaannya, tentang banyak hal. Tapi, lagi-lagi saya nggak punya waktu untuk cerita tentang diri saya. Hhmm.. Bukan nggak punya waktu juga sebenarnya, tapi karena saya yakin banget kalopun saya cerita, dia nggak bakal naruh perhatian penuh ke saya. Sudah pernah saya buktikan, dan saya nggak mau mengulanginya lagi.

Satu lagi hal yang nggak saya suka dari dirinya... Dia kerap memaksakan keinginannya ke saya. Padahal saya nggak mau dan saya sudah pernah bilang. Padahal, apa yang dia coba jejalkan itu sebenarnya adalah obsesinya yang nggak kesampaian, dan puka obsesi saya. Hingga suatu hari, alhamdulillah lagi-lagi Allah masih baik sama saya, jadi saya dipisahkan dari dia. Awalnya dia masih rutin mengontak dan menelepon saya, tapi saya sedikit demi sedikit membatasi pertemanan kami...

Terus, Tuhan nggak baik dong sama Rachel?

Sebenarnya sih, menurut saya Rachel punya kesempatan untuk menjauh dari Darcy, ketika dia keluar dari kampung halamannya untuk kuliah di NYC. Tapi, kemudian Darcy datang menyusul Rachel, dan kembali mengganggu hidup Rachel. Saya sendiri nggak yakin harus bersikap kayak gimana sih ya, kalo 'sahabat' yang udah saya tinggalkan terus ujug-ujug dateng, minta bantuan, dan ngerepotin saya lagi. Apalagi, mereka satu kampung halaman, dan keluarga mereka saling mengenal... Tapi, kalau saya jadi Rachel, mungkin juga saya akan mengambil tindakan revolusioner: pergi ke tempat dimana nggak ada Darcy di sana.

Serius deh.. Rachel kan udah idup selama 30 tahun, dan beberapa tahun di New York jauh dari sahabatnya. Harusnya dia udah bisa memilih-milih sendiri lah, mana orang yang pantas jadi sahabat dan mana yang nggak.... Toh, ada berjuta alasan yang bisa dikarang supaya dia bisa jauh-jauh dari Darcy. Toh, Rachel jadi jago berbohong setelah selingkuh sama Dexter...

Terus, bagian perselingkuhan Rachel dan Dexter juga bikin saya muak. Soalnya, seburuk apapun Darcy sebagai seorang sahabat, dia tetap aja nggak pantas mendapat perlakuan seperti itu. Darcy memang pantas ditampar oleh Rachel, tapi bukan ditusuk dari belakang kayak gitu.

Lagian, kok saya pikir, hubungan antara Rachel dan Dex itu bukan cinta ya? Itu cuma nafsu yang mengatasnamakan cinta, seperti "serigala berbulu tangkis" eh "serigala berbulu domba" itu lho.. Soalnya, si Dex kan udah tunangan sama Darcy selama tujuh tahun ya. Berarti, dia kenal sama Darcy lebih lama lagi dong.. Katakan dua tahun. Berarti lagi, dia kenal sama Rachel-nya juga udah lebih lama lagi dong? Soalnya, yang dikenal sama Dex duluan kan emang Rachel, bukannya Darcy...

Okelah kalau misalnya Dex suka sama Rachel, tapi kenapa harus nunggu selama itu buat menyadari kalau dia cinta sama sahabat tunangannya? Si Rachel juga.. Kemana aja dia tahun-tahun yang lalu, sampe berani bilang kalau dia cinta mati sama Dex, padahal beberapa bulan lagi dia dan sahabatnya akan nikah? Apa coba namanya kalo bukan nafsu, hah?! #ganyante

Udah gitu, si Dex juga nggak bisa memutuskan mau sama yang mana lagi... Dan si Rachel juga nggak tegas dan berani dalam hubungan mereka yang seperti itu. Haduuhh... Benar-benar bikin esmosi jiwa deh. Jadi, siapa yang akan dipilih Dex? Apa yang akan dipilih Rachel, persahabatan atau percintaan?

Dari segi penulisan, novel "Cinta yang Terpendam" alias "Something Borrowed" ini ditulis dengan bagus. Ringan dan mengalir. Banyak kata-kata indah bertebaran di dalamnya, yang bakalan jadi kutipan oke, seandainya saya suka sama karakter-karakternya... xp Tapi, apa boleh buat. Temanya nggak bisa saya terima. Bukan jenis yang saya suka. Saya emang nggak suka sama tema selingkuh-selingkuhan gitu. Heran aja dengan betapa gampangnya manusia bilang "Aku cinta kamu" di saat ini, tapi nggak berapa lama kemudian melupakan ikrar itu dan berpaling ke yang lainnya. Orang setampan, secantik, sesukses, atau sekaya apapun nggak ada artinya kalau dia nggak bisa menjalin komitmen...

Dan, kalo baru pacaran aja udah maen selingkuh-selingkuhan, gimana kalo nikah coba? Saya sih percaya, hubungan yang didasarkan pada kebohongan nggak akan bertahan lama, karena bau busuk itu selalu tercium di manapun ia disembunyikan...

Terakhir, saya mau ngomong sama Rachel:
"Hei, Rach. Sekali-sekali, berhenti deh ngeliat kehidupan orang dari kacamatamu. Karena apapun yang kau lihat nggak akan terlihat adil. Dan nggak akan pernah jadi seperti itu..." #sambiljoroginrachelkelaut

Hhhmm... Buku ini ternyata masih ada lanjutannya, yang diambil dari sudut pandang Darcy? Kayak gimana ya ceritanya? Jadi penasaran... Jadi, meskipun ini pertama kalinya saya baca bukunya Emily Giffin, tapi saya masih tetap menyimpan keinginan untuk baca kelanjutannya. Yah, semoga aja nggak mengecewakan saya.. Huehehee

Oh iya, makasih buat Oky dan Esensi, karena berkat merekalah buku ini ada di tangan saya buat saya baca. Maaf ya, soalnya bukunya ternyata nggak sesuai sama selera saya. Moga-moga nggak kapok ngasih buku lagi.. Huehehee... #ditimpukbuku #narikegirangan #monolog

P.S. Buku ini saya baca di bulan Januari, tapi baru sempet bikin ripiunya sekarang. Jadi, masih bisa masuk itungan challenge-nya Ren di Ren's Little Corner ini duumzzz...



6 comments:

  1. OMG, aku baru nyadar komen tadi pagi blm masuk sini. Pasti karena aku lupa ga isi chaptca.

    Thanks for the review!!


    (tadi pagi komennya jauh lebih panjang, but well.. T.T)

    ReplyDelete
  2. Yaaahhh... Tulis lagi dong ky, komentarnya... >o<
    Ingin tahu tanggapanmu... Huhuhuuu...

    Thanks for the book too, ya Ky... ;)

    ReplyDelete
  3. Setelah bertapa, cooling down, dan minum tolak angin.. here again my comment :D

    Sependapat ma kamu, kenapa sih uda tahu destruktif tapi masih mau temenan? Maybe because they still want each other in their lives? Kayak.. yah akhirnya stuck sama dia lagi, dia lagi.

    Dan setelah sekian lama berteman, susah mungkin bagi Rachel untuk menghindari Darcy karena mereka uda bersama sejak lamaaaaaa bgt.. jadi seburuk2nya Darcy, si Rachel masih bisa toleran krn uda biasa (atau terpaksa terbiasa?) :P

    IDK, I still think they're shallow. Dan bahkan di film, meskipun endingnya si Dex end up w/ Rachel, aku juga masih jengkel bgt sama mereka. Bahkan setelah si Darcy di ending ketemu lagi ma Rachel, ternyata dia juga masih blm berubah, masih shallow dan unlovable.

    Jengkel forever deh pokoknya. Yang waras disana (di filmnya maksudku) cuma Ethan.

    Aku uda lupa komenku yg sblmnya kayak apa, tapi kayaknya ga mirip sama ini, hehe. Tapi intinya sama kok :P

    Aku tapi penasaran sama lanjutan buku ini. Kayak sepet-sepet bikin jengkel tapi nagih karena penasaran. Emang bener kata org, manusia itu dari sananya emang suka KEPO. Hahaha

    Anyway, I love your review! Selalu disisipi curcol yg relate sama bukunya. Itu berarti Mba Tika emang peka karena selalu bisa ngambil pesan dari buku itu sesuai dg pengalaman pribadi. ^^

    ReplyDelete
  4. Assiiikkk... Komennya panjang... :D

    Iya, Ky. Sepertinya sebenarnya mereka masih butuh satu sama lain. Darcy butuh Rachel buat mengurus segala sesuatunya dengan sempurna. Dan Rachel butuh Darcy, agar diapun bisa 'terlihat', dan dianggap ada. Terus, kondisi geografis (baca: satu kampung) mereka juga nyebabin susah kali ya, buat si Rachel menghindar dari Darcy.

    Tapi tapi.. Tetep aja aku sebel sama si Rachel--yang ngerasa udah ngelakuin banyak hal buat Darcy, dan karena si Darcy ini jadi orang juga nyebelin banget--karena dia menganggap sah-sah aja gitu selingkuh sama Dex! O.o I haven't met any characters as shallow as them! #esmosijiwa

    Emang, yg waras cuma Ethan sama Hillary (kalo di bukunya) doang. Makanya mereka berdualah tokoh favoritku. Hahaha...

    Dan meskipun ini buku bikin aku emosi jiwa, sesungguhnya akupun penasaran pengen tau lanjutannya. Katanya sih, di buku keduanya, pembaca akan tau kalo Darcy nggak setidak peduli dan setidak peka seperti yang kelihatannya. Hahaa...

    Thanks ya, Ky. It's always nice to read a comment from you.... #blush (,,^^,,)

    ReplyDelete
  5. Iyaah, atau mungkin juga sebenernya si Rachel dan Darcy ini saling menyayangi cuma ya karena sifat jelek masing2 itu mereka berani nindas satu sama lain, but entahlah.. Aku sih ga tahan punya temen kayak gitu, mending jd individualis aja deh daripada capek temenan kayak mereka.

    Btw, kalo Hillari ini siapa ya? Sceara di film cuma ada Ethan yg naksir si Rachel doang.

    Oh, di buku kedua gitu yaa? Kalo misal uda baca yg buku ke-2 jangan lupa bikin reviewnya juga ^^

    Aaaw, it's my pleasure to read your review. Reviewmu sejauh ini salah satu review2 favoritku :D

    ReplyDelete
  6. Aih... Oky. You always know how to make me blush... :">

    Hillary ini temennya Rachel. Kayaknya emang ga ada di filmnya deh. Menurutku, Hillary lebih cocok buat jadi sobat sejatinya Rachel, karena dia juga tau rahasia Rachel yg selingkuh sama Dex itu. Terus, ya aku nganggep persahabatan mereka lebih murni, bukan gara-gara asas manfaat doang. Hahaha...

    Nanti kalo udah baca buku keduanya, Insya Allah pasti diripiu kok. Meski belom tau bakal kapan bacanya... Hahahaaa

    ReplyDelete

February 5, 2013

Something Borrowed: Pilih Sahabat atau Cinta?


Cinta yang Terpendam by Emily Giffin
My rating: 2 of 5 stars

Tidak semua orang memiliki sahabat. Dan tidak semua orang memiliki sahabat dari kecil, dan separuh lebih hidupnya dihabiskan dengan sahabatnya itu. Seperti Rachel dan Darcy. Mereka telah bersahabat dari kecil, hingga kini menginjak usia 30 tahun.

Rachel lebih tua beberapa bulan dari Darcy, jadi dialah yang lebih dulu menginjak usia 30. Beberapa tahun sebelumnya, ia membayangkan bahwa di ulang tahunnya yang ke-30, ia sudah menikah dengan pangeran pujaan hatinya, dan memiliki beberapa orang anak. Tapi, kenyataan memang nggak seindah itu. Rachel masih single, tak punya pacar, tak punya gebetan, tak punya pekerjaan yang disukainya, dan yah bisa dibilang nasib sedang nggak memihaknya.

Sekarang kita pindah ke Darcy, sahabat sejati Rachel. Di usianya yang menjelang 30, Darcy sudah punya tunangan dan akan segera menikah. Lelaki yang akan dinikahinya bernama Dexter, seorang esmud muda, tampan, dan punya kedudukan bagus di pekerjaannya. Darcy juga punya pekerjaan yang menyenangkan, berkat kemampuan personalnya yang memang lebih. Dan Darcy lebih cantik, lebih ramping, dan lebih bahagia dari Rachel....

Hingga terjadilah kejadian itu...

Di ulang tahunnya yang ke-30, Rachel tidur dengan tunangan Darcy. Rachel-nya agak mabuk sih... Tapi Dex nggak, yang bikin Rachel jadi ketar ketir. Rachel merasa bersalah pada Darcy, karena telah mengkhianati sahabatnya, meskipun berkat Rachel-lah Darcy jadi kenalan, jadian, terus tunangan sama Dex. Karena Dexter adalah teman Rachel ketika kuliah dulu....

Tapi, memangnya Darcy bener-bener sahabatnya sejatinya Rachel? Kalo iya, kok dulu dia ngerebut cowok yang disukai Rachel? Terus, kenapa Darcy sengaja milih universitas yang dipilih Rachel (bukan karena mau terus sama sahabatnya itu, tapi ingin membuktikan kalau dia juga bisa)? Kenapa juga setelah lebih dari 20 tahun mereka bersahabat, Rachel selalu merasa menjadi pihak yang dirugikan, kalah, dan menangis sendirian di pojokan? Kenapa? Bukankah sahabat itu harusnya tetap setia meskipun dalam suka dan duka? Terus, kenapa Rachel tau banyak hal tentang Darcy, tapi Darcy nyaris nggak tau apa-apa tentang hal-hal yang Rachel sukai?

Hufft... Baca buku ini benar-benar menguras emosi saya. Awalnya, saya sempat simpati sama Rachel, si tokoh utama yang merasa dirinya nggak punya kelebihan apa-apa, nggak secantik Darcy, nggak selangsing Darcy, dan apa-apa selalu kalah dari Darcy. Tapi, lama-lama saya jadi kesel juga sama si Rachel ini. Soalnya, perlakuan nggak adil yang diterima dia dari sahabatnya itu seakan jadi pembenaran atas perselingkuhannya dengan tunangan sahabatnya.

Darcy. Cewek yang memiliki segalanya. Tubuh langsing, wajah cantik, punya pekerjaan yang enak dan bergaji besar padahal dia nggak pinter-pinter amat, dan punya tunangan yang super tampan. Kelakuan si Darcy ini juga sama nyebelinnya sama Rachel. Darcy itu seolah nggak bisa melakukan apapun tanpa bantuan Rachel. Jenis bantuan yang diminta Darcy bukan jenis bantuan pada sahabat, tapi lebih mirip ke pembantu. Dan Rachel, dengan begonya juga menuruti kemauan Darcy... Wajar aja. Soalnya, siapa sih yang bisa menolak kemauan Darcy? Darcy kan nggak pernah tau gimana rasanya berbagi, berkorban, dan mengalah. Lagiian, hey! Dia kan pusat tata surya, jadi semua planet harus tunduk berputar mengelilinginya...

Lalu, Dexter. Si eksekutif muda super tampan yang jadi tunangan Darcy, tapi demen sama Rachel juga. Dexter itu teman kuliah Rachel di sekolah hukum dulu (Iya, Rachel itu otaknya emang pinter, tapi dia itu super bego untuk hal-hal lainnya). Buat saya, Dexter adalah lelaki nggak punya pendirian yang nggak bisa dipercaya. Dia suka sama Rachel, tapi nggak mau pisah dari Darcy juga. Benar-benar tipe cowok yang nggak bisa ngambil keputusan, yang bikin saya pengen teriak pake TOA super gede di kupingnya.... -____-

Selain tiga tokoh di atas, ada juga tokoh-tokoh lainnya seperti Ethan, Hillary, dan Claire yang turut mengisi keseharian hidup Rachel dan Darcy. Saya sih heran banget, si Rachel kok masih mau-maunya gitu sahabatan sama Darcy. Bukan, bukan karena si Darcy ini kelakuannya buruk banget (yah, itu juga salah satunya sih xp), tapi karena udah jelas-jelas Darcy ini nggak cocok jadi sahabatnya Rachel...

Seperti kata Ethan, persahabatan Rachel dan Darcy itu bersifat dekstruktif. Tanpa disadari, mereka saling menghancurkan satu sama lain. Hhmm.. Darcy sadar sih kayaknya, Rachel aja yang terlalu bego untuk memahaminya... -__- (Tuh kan! Udah berapa kali saya ngeluarin kata b*go itu di review ini?! O.o) Abisan, si Rachel itu bener-bener ngeselin banget sih. Apa salahnya coba sekali-sekali menolak dengan tegas permintaan Darcy? Emangnya terus bumi bakal kiamat gituh?

Sebenarnya, persahabatan mereka berdua ini mengingatkan saya dengan orang-orang yang pernah dekat dengan saya dulu. Jadi, sebenarnya saya itu tipenya lebih mirip ke Rachel. Pendiam, nggak suka debat, lebih milih ngalah daripada ribut (kecuali kalo lagi berantem sama adek sendiri xp), dan juga pendengar yang baik. Yah, pokoknya plegmatis banget deh...

Dulu, saya pernah punya teman yang sangat dekat dengan saya. Kami sering kemana-mana bersama. Saya selalu dengerin curhatan dia. Saya selalu dengerin keluhan dia. Saya dengerin kisah dia dengan gebetannya. Loh? Terus giliran saya kapan dongg?? Itu dia. Saking dominannya dia, saya sampai nggak punya waktu untuk cerita tentang diri saya. Tentang keadaan di rumah saya. Tentang cowok yang saya suka waktu itu. Tentang banyak hal. Alhamdulillah kami 'dipisahkan' oleh waktu dan keadaan, dan sekarang saya pun bersyukur karenanya...

Lalu, saya ketemu lagi dengan orang yang setipe dengan teman saya dulu itu. Dia juga sering curhat sama saya. Cerita tentang pacarnya, tentang pekerjaannya, tentang banyak hal. Tapi, lagi-lagi saya nggak punya waktu untuk cerita tentang diri saya. Hhmm.. Bukan nggak punya waktu juga sebenarnya, tapi karena saya yakin banget kalopun saya cerita, dia nggak bakal naruh perhatian penuh ke saya. Sudah pernah saya buktikan, dan saya nggak mau mengulanginya lagi.

Satu lagi hal yang nggak saya suka dari dirinya... Dia kerap memaksakan keinginannya ke saya. Padahal saya nggak mau dan saya sudah pernah bilang. Padahal, apa yang dia coba jejalkan itu sebenarnya adalah obsesinya yang nggak kesampaian, dan puka obsesi saya. Hingga suatu hari, alhamdulillah lagi-lagi Allah masih baik sama saya, jadi saya dipisahkan dari dia. Awalnya dia masih rutin mengontak dan menelepon saya, tapi saya sedikit demi sedikit membatasi pertemanan kami...

Terus, Tuhan nggak baik dong sama Rachel?

Sebenarnya sih, menurut saya Rachel punya kesempatan untuk menjauh dari Darcy, ketika dia keluar dari kampung halamannya untuk kuliah di NYC. Tapi, kemudian Darcy datang menyusul Rachel, dan kembali mengganggu hidup Rachel. Saya sendiri nggak yakin harus bersikap kayak gimana sih ya, kalo 'sahabat' yang udah saya tinggalkan terus ujug-ujug dateng, minta bantuan, dan ngerepotin saya lagi. Apalagi, mereka satu kampung halaman, dan keluarga mereka saling mengenal... Tapi, kalau saya jadi Rachel, mungkin juga saya akan mengambil tindakan revolusioner: pergi ke tempat dimana nggak ada Darcy di sana.

Serius deh.. Rachel kan udah idup selama 30 tahun, dan beberapa tahun di New York jauh dari sahabatnya. Harusnya dia udah bisa memilih-milih sendiri lah, mana orang yang pantas jadi sahabat dan mana yang nggak.... Toh, ada berjuta alasan yang bisa dikarang supaya dia bisa jauh-jauh dari Darcy. Toh, Rachel jadi jago berbohong setelah selingkuh sama Dexter...

Terus, bagian perselingkuhan Rachel dan Dexter juga bikin saya muak. Soalnya, seburuk apapun Darcy sebagai seorang sahabat, dia tetap aja nggak pantas mendapat perlakuan seperti itu. Darcy memang pantas ditampar oleh Rachel, tapi bukan ditusuk dari belakang kayak gitu.

Lagian, kok saya pikir, hubungan antara Rachel dan Dex itu bukan cinta ya? Itu cuma nafsu yang mengatasnamakan cinta, seperti "serigala berbulu tangkis" eh "serigala berbulu domba" itu lho.. Soalnya, si Dex kan udah tunangan sama Darcy selama tujuh tahun ya. Berarti, dia kenal sama Darcy lebih lama lagi dong.. Katakan dua tahun. Berarti lagi, dia kenal sama Rachel-nya juga udah lebih lama lagi dong? Soalnya, yang dikenal sama Dex duluan kan emang Rachel, bukannya Darcy...

Okelah kalau misalnya Dex suka sama Rachel, tapi kenapa harus nunggu selama itu buat menyadari kalau dia cinta sama sahabat tunangannya? Si Rachel juga.. Kemana aja dia tahun-tahun yang lalu, sampe berani bilang kalau dia cinta mati sama Dex, padahal beberapa bulan lagi dia dan sahabatnya akan nikah? Apa coba namanya kalo bukan nafsu, hah?! #ganyante

Udah gitu, si Dex juga nggak bisa memutuskan mau sama yang mana lagi... Dan si Rachel juga nggak tegas dan berani dalam hubungan mereka yang seperti itu. Haduuhh... Benar-benar bikin esmosi jiwa deh. Jadi, siapa yang akan dipilih Dex? Apa yang akan dipilih Rachel, persahabatan atau percintaan?

Dari segi penulisan, novel "Cinta yang Terpendam" alias "Something Borrowed" ini ditulis dengan bagus. Ringan dan mengalir. Banyak kata-kata indah bertebaran di dalamnya, yang bakalan jadi kutipan oke, seandainya saya suka sama karakter-karakternya... xp Tapi, apa boleh buat. Temanya nggak bisa saya terima. Bukan jenis yang saya suka. Saya emang nggak suka sama tema selingkuh-selingkuhan gitu. Heran aja dengan betapa gampangnya manusia bilang "Aku cinta kamu" di saat ini, tapi nggak berapa lama kemudian melupakan ikrar itu dan berpaling ke yang lainnya. Orang setampan, secantik, sesukses, atau sekaya apapun nggak ada artinya kalau dia nggak bisa menjalin komitmen...

Dan, kalo baru pacaran aja udah maen selingkuh-selingkuhan, gimana kalo nikah coba? Saya sih percaya, hubungan yang didasarkan pada kebohongan nggak akan bertahan lama, karena bau busuk itu selalu tercium di manapun ia disembunyikan...

Terakhir, saya mau ngomong sama Rachel:
"Hei, Rach. Sekali-sekali, berhenti deh ngeliat kehidupan orang dari kacamatamu. Karena apapun yang kau lihat nggak akan terlihat adil. Dan nggak akan pernah jadi seperti itu..." #sambiljoroginrachelkelaut

Hhhmm... Buku ini ternyata masih ada lanjutannya, yang diambil dari sudut pandang Darcy? Kayak gimana ya ceritanya? Jadi penasaran... Jadi, meskipun ini pertama kalinya saya baca bukunya Emily Giffin, tapi saya masih tetap menyimpan keinginan untuk baca kelanjutannya. Yah, semoga aja nggak mengecewakan saya.. Huehehee

Oh iya, makasih buat Oky dan Esensi, karena berkat merekalah buku ini ada di tangan saya buat saya baca. Maaf ya, soalnya bukunya ternyata nggak sesuai sama selera saya. Moga-moga nggak kapok ngasih buku lagi.. Huehehee... #ditimpukbuku #narikegirangan #monolog

P.S. Buku ini saya baca di bulan Januari, tapi baru sempet bikin ripiunya sekarang. Jadi, masih bisa masuk itungan challenge-nya Ren di Ren's Little Corner ini duumzzz...



6 comments:

  1. OMG, aku baru nyadar komen tadi pagi blm masuk sini. Pasti karena aku lupa ga isi chaptca.

    Thanks for the review!!


    (tadi pagi komennya jauh lebih panjang, but well.. T.T)

    ReplyDelete
  2. Yaaahhh... Tulis lagi dong ky, komentarnya... >o<
    Ingin tahu tanggapanmu... Huhuhuuu...

    Thanks for the book too, ya Ky... ;)

    ReplyDelete
  3. Setelah bertapa, cooling down, dan minum tolak angin.. here again my comment :D

    Sependapat ma kamu, kenapa sih uda tahu destruktif tapi masih mau temenan? Maybe because they still want each other in their lives? Kayak.. yah akhirnya stuck sama dia lagi, dia lagi.

    Dan setelah sekian lama berteman, susah mungkin bagi Rachel untuk menghindari Darcy karena mereka uda bersama sejak lamaaaaaa bgt.. jadi seburuk2nya Darcy, si Rachel masih bisa toleran krn uda biasa (atau terpaksa terbiasa?) :P

    IDK, I still think they're shallow. Dan bahkan di film, meskipun endingnya si Dex end up w/ Rachel, aku juga masih jengkel bgt sama mereka. Bahkan setelah si Darcy di ending ketemu lagi ma Rachel, ternyata dia juga masih blm berubah, masih shallow dan unlovable.

    Jengkel forever deh pokoknya. Yang waras disana (di filmnya maksudku) cuma Ethan.

    Aku uda lupa komenku yg sblmnya kayak apa, tapi kayaknya ga mirip sama ini, hehe. Tapi intinya sama kok :P

    Aku tapi penasaran sama lanjutan buku ini. Kayak sepet-sepet bikin jengkel tapi nagih karena penasaran. Emang bener kata org, manusia itu dari sananya emang suka KEPO. Hahaha

    Anyway, I love your review! Selalu disisipi curcol yg relate sama bukunya. Itu berarti Mba Tika emang peka karena selalu bisa ngambil pesan dari buku itu sesuai dg pengalaman pribadi. ^^

    ReplyDelete
  4. Assiiikkk... Komennya panjang... :D

    Iya, Ky. Sepertinya sebenarnya mereka masih butuh satu sama lain. Darcy butuh Rachel buat mengurus segala sesuatunya dengan sempurna. Dan Rachel butuh Darcy, agar diapun bisa 'terlihat', dan dianggap ada. Terus, kondisi geografis (baca: satu kampung) mereka juga nyebabin susah kali ya, buat si Rachel menghindar dari Darcy.

    Tapi tapi.. Tetep aja aku sebel sama si Rachel--yang ngerasa udah ngelakuin banyak hal buat Darcy, dan karena si Darcy ini jadi orang juga nyebelin banget--karena dia menganggap sah-sah aja gitu selingkuh sama Dex! O.o I haven't met any characters as shallow as them! #esmosijiwa

    Emang, yg waras cuma Ethan sama Hillary (kalo di bukunya) doang. Makanya mereka berdualah tokoh favoritku. Hahaha...

    Dan meskipun ini buku bikin aku emosi jiwa, sesungguhnya akupun penasaran pengen tau lanjutannya. Katanya sih, di buku keduanya, pembaca akan tau kalo Darcy nggak setidak peduli dan setidak peka seperti yang kelihatannya. Hahaa...

    Thanks ya, Ky. It's always nice to read a comment from you.... #blush (,,^^,,)

    ReplyDelete
  5. Iyaah, atau mungkin juga sebenernya si Rachel dan Darcy ini saling menyayangi cuma ya karena sifat jelek masing2 itu mereka berani nindas satu sama lain, but entahlah.. Aku sih ga tahan punya temen kayak gitu, mending jd individualis aja deh daripada capek temenan kayak mereka.

    Btw, kalo Hillari ini siapa ya? Sceara di film cuma ada Ethan yg naksir si Rachel doang.

    Oh, di buku kedua gitu yaa? Kalo misal uda baca yg buku ke-2 jangan lupa bikin reviewnya juga ^^

    Aaaw, it's my pleasure to read your review. Reviewmu sejauh ini salah satu review2 favoritku :D

    ReplyDelete
  6. Aih... Oky. You always know how to make me blush... :">

    Hillary ini temennya Rachel. Kayaknya emang ga ada di filmnya deh. Menurutku, Hillary lebih cocok buat jadi sobat sejatinya Rachel, karena dia juga tau rahasia Rachel yg selingkuh sama Dex itu. Terus, ya aku nganggep persahabatan mereka lebih murni, bukan gara-gara asas manfaat doang. Hahaha...

    Nanti kalo udah baca buku keduanya, Insya Allah pasti diripiu kok. Meski belom tau bakal kapan bacanya... Hahahaaa

    ReplyDelete