May 6, 2013

Istana Bergerak Howl (Yang Tampan)


Istana yang Bergerak by Diana Wynne Jones
My rating: 4 of 5 stars

Jadi anak sulung itu nggak enak. Jadi anak sulung itu berarti kau harus bertanggung jawab atas keluargamu. Atas orang tuamu, atas adik-adikmu (kalau adiknya banyak), dan bertanggung jawab untuk meneruskan usaha keluarga (kalau punya). Makanya, anak sulung itu dianggap selalu bernasib sial, nggak bisa memutuskan sesuatu atas keinginannya sendiri. Seolah-olah nasibnya udah ditentukan oleh orang-orang di sekitarnya, dan dia nggak punya pilihan lain selain menerimanya....

Yah, kira-kira seperti itulah nasib Sophie. Sebagai anak sulung, dialah yang harus mewarisi toko topi keluarganya, bersama ibu tirinya. Sementara itu, kedua adiknya, Lettie dan Martha dikirim ke tempat yang terpisah. Lettie, yang cantik jelita, dikirim ke toko kue Cesari. Sedangkan Martha si bungsu belajar sihir di rumah Mrs. Fairfax.

Nasib buruk Sophie bertambah ketika, tanpa sebab tiba-tiba Nenek Sihir dari Waste berkunjung ke toko topinya, tampak membencinya, dan kemudian mengutuknya menjadi nenek-nenek!! Seakan belum bertambah sial, Sophie tiba-tiba "nyasar" di istana seorang penyihir jahat yang terkenal suka makan jantung gadis-gadis muda dan cantik. Tapi, Nenek Sophie nggak takut. Dia kan udah tua, bungkuk, dan jelek. Nggak mungkin lah si penyihir Howl (yang sangat tampan itu... kyaa~~) mau makan jantungnya.


Suka dengan Howl yg berambut hitam... kyaaa~~ (Gambar: dari sini)

 
Di istana bergeraknya (iya, istananya bisa jalan-jalan sendiri... Tapi nggak cakep sama sekali gitu deh... Apalagi di animenya, bentuknya nggak karuan...) Howl, Sophie bertemu dengan Calcifer (yang menurut pengakuannya merupakan jin api paling hebat) dan Michael (muridnya Howl, usia 15 tahun). Calcifer langsung tahu kalau Sophie kena kutukan mengerikan, dan Sophie juga dikutuk untuk nggak bisa memberitahukan kalau dirinya sedang kena kutukan kepada orang lain.


Bus Stop Museum Ghibli (dok. pribadi)
Calcifer menawarkan untuk mengangkat kutukan Sophie, asal Sophie juga cari cara untuk melepaskan Calcifer dari Howl. Yah, simbiosis mutualisme begitu deh...
Oh iya, saat itu Howl sedang pergi ke luar (mungkin lagi cari mangsa gadis-gadis muda dan cantik) jadi nggak tahu kalo Sophie masuk ke istananya. Tapi, begitu Howl pulang pun, sepertinya dia nggak keberatan ada Sophie disitu. Lebih tepatnya, mungkin dia nggak peduli ada Sophie apa nggak. Soalnya, dulu si Howl baru sadar kalo ada Michael disono aja setelah enam bulan. Enam bulan!! Bayangkan!! Hahahaa... Luar biasa menakjubkan emang si Howl ini.... xDD

Setelah tinggal di istana Howl, Sophie jadi tahu kalau Howl itu orangnya pemalas dan sangat cuek. Istananya tuh kotor luar biasa, sampe Sophie harus kerja bakti buat bersihin istananya itu. Selain itu, Howl juga pengecut dan ambegan. Tapi yang jelas, Howl itu sangat tampan.... O(>///<)O kyaaaa~~~ (lagi)

Ternyata, Howl ini lagi dikejar-kejar sama penyihir jahat, yang nggak lain dan nggak bukan adalah.... Nenek Sihir dari Waste!! Yup, dia orang yang sama yang bikin Sophie jadi nenek-nenek!! Memang apa sih, yang diperbuat Howl sampe si Nenek Sihir ngejar-ngejar dia? Apa maunya si Nenek Sihir? Lalu, bisakah Sophie kembali ke wujudnya semula, yaitu seorang gadis muda berusia 18 tahun, si pembuat topi, yang doyan ngomong sama topi yang dia bikin?


Lambangnya kota Mitaka
pake animasinya Ghibli (dok. pribadi)
Cari sendiri jawabannya di buku ini.... Saya nggak mau cerita banyak-banyak, takut spoiler. Soalnya saya suka banget sama ceritanya, jadi biar saya nggak cerita banyak-banyak, biarlah kalian menemukan jawabannya sendiri di bukunya... Hueheheheee...

Cuman nih ya, terjemahan Indonesianya nggak begitu bagus menurut saya. Di bagian-bagian klimaks, ketika si Nenek Sihir mulai menemukan Howl, eh terjemahannya aneh gitu. Bikin saya ngeskip beberapa kali, dan justru meletakkan buku itu untuk beberapa waktu yang cukup lama, karena nggak bikin saya penasaran untuk tahu lanjutannya. Padahal itu udah masuk paruh akhir buku lhoo... Mungkin itu sebabnya buku ini nggak kedengaran gaungnya di Indonesia, dan serinya nggak dilanjutkan oleh GPU (sotoy)...

Saya mengenal "Howl's Moving Castle" sekitar tahun 2006. Ketika itu, saya baru mulai kuliah di prodi Jepang. Entah darimana asalnya, tiba-tiba saya nonton anime buatan Ghibli ini. Yah, namanya juga anak sastra Jepang, segala maniak yang berhubungan dengan Jepang, mulai dari anime, manga, dorama, sampe boiben ngumpul semua disini. Jadi, setiap hari pasti beredar film, manga, dvd, dsb. yang berhubungan dengan Jepang-jepangan. Yang jelas, "Howl's Moving Castle" adalah anime Ghibli pertama yang saya tonton, dan saya langsung jatuh cinta dibuatnya.... Saya jatuh cinta sama Howl yang tampan... Jatuh cinta sama Sophie yang kuat... Dan... Jatuh cinta sama Ghibli....

Lalu, di tahun 2009 lalu saya berkesempatan untuk berkunjung ke Museum Ghibli di Mitaka! Iya, saat itu saya lagi pertukaran mahasiswa di sana, dan kebetulan banget jarak museum itu deket banget dari tempat tinggal saya. Cuma beda satu stasiun kalo naek kereta (kalo disini beda satu kelurahan kali ya...). Bisa juga naik bus atau sepeda. Ketika musim panas itulah saya berkunjung ke sana, dan saya sukaaaa banget sama tempatnya....


Narsis dulu, mumpung di depan Ghibli >v<


Museum Ghibli (Dok. Pribadi)

Udah gitu nih, ternyata saya menemukan kejutan menyenangkan lainnya. Studio Ghibli, tempat anime-anime emejing buatan Ghibli dibuat ternyata letaknya lebih deket lagi dari asrama saya!!! Jalan kaki paling hanya 10 menit saja. Letaknya di Koganei-shi, lagi-lagi beda satu stasiun dengan saya yang di Musashino-shi. Aduh... senangnya... Sayangnya, nggak sempat main-main ke dalamnya... Hauhauuuu...


Bagian depan Studio Ghibli




Studio dua Ghibli (Dok. Pribadi)

Saya sudah berkali-kali nonton "Howl's Moving Castle". Bisa dibilang, ini adalah anime Ghibli favorit saya. Saya sukaaaa bangeettttt sama semua aspek di anime ini...  Meskipun demikian, ketika itu saya nggak tahu kalau Ghibli ternyata mengadaptasi cerita ini dari novelnya Diana Wynne Jones. Jujur aja, ini adalah salah satu berkah gabung di Goodreads. Saya jadi tahu kalo "Howl's Moving Castle" ternyata berasal dari buku!! AHHAA!!


Ghibli Museum, Mitaka (dok.pribadi)
Cerita antara buku dan animenya cukup berbeda. Di animenya, ceritanya lebih fokus pada peperangan yang terjadi di dunia mereka. Sementara di bukunya, fokus pada kisah Howl dan masa lalunya. Kalo di animenya hubungan Howl dan Sophie lebih fokus dan sangat sangat maniiissss, di bukunya nggak terlalu banyak. 

Selain itu, bukunya lebih rame. Karakternya lebih banyak. Ada dua adiknya Sophie (yang di anime cuma jadi tempelan aja), lalu ada anjing ajaib (di anime juga ada sih, tapi beda fungsinya), ada orang-orangan sawah ajaib (di animenya juga ada, tapi fungsinya juga beda... xp), dan kalau di animenya nggak ada Michael, adanya Markl yang umurnya jauh lebih muda dari Michael.

Salah satu hal yang patut diacungi jempol dari animenya adalah sinematografinya yang luaarrr biassaaa. Ghibli emang ahlinya deh kalo soal begini. Tempat tinggalnya Sophie, kastilnya Howl, dan semua tempat di anime ini memiliki gambar yang sangat halus dan paduan warna yang sangat indah. Sejujurnya sih, saya lebih suka film animasi yang model-modelnya kayak Ghibli ini. Saya nggak gitu suka yang pake CG... Sukanya yang model dua dimensi kayak anime Jepang aja. Jadul? Bodo amat... xp Heheheee...

"Howl's Moving Castle" ini udah dapat banyak penghargaan lhoo... Dan dapat nominasi Oscar juga. Di versi Hollywoodnya, pengisi suara Howl adalah Christian Bale, si om Batman itu. Lalu, Markl suaranya diisi oleh Josh Hutcherson, sementara di versi Jepang-nya diisi oleh salah satu aktor cilik (dulu) favorit saya, Kamiki Ryuunosuke.

Ada alasan lain kenapa saya suka banget sama ceritanya. Biasanya nih ya, saya tuh nggak suka sama tokoh utama perempuan di novel-novel. Bukan karena sirik mereka dikelilingi cowok cakep dan jadi rebutan lho... Tapi simply karena sebagian besar dari mereka itu TSTL. Sok ngerasa nggak cakep, tapi direbutin cowok-cowok. Berasa rendah diri, tapi punya kemampuan ajaib. Sebagian besar pengarang juga terlalu fokus sama hal-hal kayak gitu, yang bikin saya nggak bisa jatuh cinta sama tokoh utama perempuannya (misalnya aja Tally di serinya "Uglies", terus Bella di "Twilight" saga. 

Bus spesial menuju Museum Ghibli (Dok. Pribadi)
Sementara Sophie nggak kayak gitu. Dia nggak galau milih vampir apa serigala (padahal mau dua-duanya). Nggak inosen2 amat sampe rasanya pengen jorogin dia ke depan odong-odong. Nggak labil juga antara menyelematkan dunia atau menyelamatkan diri sendiri... Meskipun (sebagai manusia dan nenek-nenek) Sophie suka merasa rendah diri, tapi Oma Diana nggak terlalu menampilkan hal itu, nggak kayak cerita YA lain yang justru jadi kekuatan si heroine (yang bikin saya sakit kepala bikin pengen jambak rambut si heroine-nya terus saya jedot-jedotin kepalanya ke tembok saking nyebelinnya dia... -____-).

Di sini, Oma Diana justru menampilkan kelebihan Sophie, yang ternyata ceplas-ceplos kalo ngomong. Kejujuran Sophie itu pengen saya acungin juempoll, meskipun itu juga penyebab dia diubah jadi nenek-nenek sama si Nenek Sihir dari Waste xD... Eh tapinya, ada alasan laennya juga sihh.... Terus Sophie ini bisa dibilang justru merasa bersyukur diubah jadi nenek-nenek, karena dia jadi bisa menjalani kehidupan sesuai keinginannya. Dia jadi bisa pergi dari toko topinya, dan bertualang mencari makna dalam hidupnya (asseekk). Udah gitu, ternyata Sophie ini punya kemampuan sihir yang nggak terbayangkan sebelumnya. Apakah itu? R.A.H.A.S.I.A.... Pokoknya, saya suka deh sama Sophie ini...

Karakter lain yang juga jadi favorit saya adalah Howl (So pastiii doongg). Di animenya, pengisi suaranya dia adalah KimuTaku!! Kyaakyaakyaaa.... Suka bangeetttt!!! >v< Howl di anime dan di buku lumayan beda... Meskipun sama-sama narsis dan suka merajuk, tapi di animenya Howl itu baik banget dan cenderung romantis... Beda sama di bukunya, yang pemalas, suka nyuruh-nyuruh orang, ngambeknya juga lebih parah (dari animenya), mana caper pula. Hahahaaa... Tapi karena dia ganteng, jadi saya maafin. Hahahahaaaa...

Kalo disuruh milih antara buku dan animenya, saya milih yang mana ya?? Kayaknya dua-duanya deh. Soalnya mereka berdua sama-sama unik dan pastinya..... GANTENG!! Kyaa... kyaa... kyaaa... (ノ>▽<。)ノ (ノ>▽<。)ノ Kayaknya Howl jadi kandidat kuat book boyfriend tahun ini nih... HAAAHAAAHAAAAA

sumber disini
Sayang banget sih buku bahasa Indonesianya terjemahannya kurang bagus. Nggak cuma saya aja yang bilang begini, tapi rata-rata yang udah baca buku terjemahannya pada bilang begini. Yah, meskipun kurang bagus terjemahannya, tapi tertolong karena endingnya yang cocwiiittt... Kyaa... kyaaa... kyaaa.... (sabar ya, pembaca... xp)

Sekarang saya mau cari edisi aslinya aja deh. Soalnya merasa agak-agak nggak terpuaskan gitu deh... hauhauhauuu... Yang jelas, sekarang saya oficially jadi fans-nya Oma Diana... (*´∀`*)

Simak nih kata Oma Diana tentang animenya:
It's fantastic. No, I have no input — I write books, not films. Yes, it will be different from the book — in fact it's likely to be very different, but that's as it should be. It will still be a fantastic film.  (from Mbah Wiki)

Well, karena saya ikutan banyak RC tahun ini, maka review ini masuk ke dalam RC berikut ini:

What's in a Name Reading Challenge 2013 karena judulnya "Howl's Moving Castle"



dan FYE with Children Literature, karena "Howl's Moving Castle" tergolong novel YA. Kalo menilik dari ceritanya sih, menurut saya remaja di atas 14 tahun akan lebih memahami kompleksitas ceritanya.... 


Owari.... (*^3^)/~



5 comments:

  1. iya, salah satu buku yg benernya bagus dan jadi rusak gara2 terjemahannya bikin bingung.

    Aku juga baca terjemahannya dan aku kasih 2 bintang, padahal review di GR itu bagus 4.22 dan bikin aku bingung, kenapa aku gak suka yah? biasanya lumayan sepaham sama review GR

    Tapi yah itu balik gara-gara terjemahannya jelek, aku gak githu ngerti arah ceritanya yg kadang ada 1 bagian berasa muter2.

    Aih pengen juga ke studio Ghibli. FYI film Ghibli yg pengen aku nonton yang Graveyard of Fireflies, denger2 super duper sedih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bener... Pas bagian klimaks itu parah banget terjemahannya. Bagian tentang si anjing, orang-orangan sawah, Miss Angorian, sama Nenek Sihir dari Waste tuh bener-bener ga jelas banget. Sampe sekarang aku nggak paham kenapa...

      Cuman entah kenapa aku kasih empat bintang di GR. Abis udah jatuh cinta sama Howl duluan. Hahahaa xD

      Wah, aku juga belum nonton Grave of Fireflies. Baru nonton yang versi live actionnya aja, dan itu juga sediiihhh... TT___TT

      Delete
  2. Aihh, senangg.. ketemu sama fans Ghibli jugak, dan langsung iri sama Tika yang sudah directly go there, hiks. Tika sedang S2 kah di Jepang? Kenal sama Nur Ahmadi gak? Dari ITB. Dia temen sma ku :)

    Aku juga baru tau kalau Howl's Moving Castle itu dari buku, mungkin baru seru kalau baca yang asli yah? bukan terjemahan, *mupeng
    Btw, aku juga koleksi film2 Ghibli, mulai dari Totoro, dan beberapa cerita lainnya (*lupa judul, pdhl inget ceritanya)
    Dan paling suka cerita yang gadis cilik berasal dari ikan XDD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Athiah. Aku ke Jepangnya udah lama. Tahun 2009-2010 lalu, waktu masih mahasiswa S1. Cuma pertukaran doang setahun. Hehehee...

      Seneng juga nih ketemu penggemar Ghibli lainnya. Film-film Ghibli emang bagus, kalo aku paling suka "Howl's Moving Castle" sama "Sen to Chihiro no Kamikakushi" alias "Spirited Away" sama "Mimi wo Sumaseba" sama "Totoro". Eh, banyak yak... xDD Yang ikan itu Ponyo ya? Itu juga lucu... Kiyut banget Ponyo-nya... >v<

      Targetku selanjutnya emang mau baca yang aslinya, karena kecewa dengan terjemahannya. Huhuhuuu.... (meskipun tetep gw kasih bintang 4 sih.. xD)

      Delete
  3. hallo kak Tika! Aku fans Howl's moving castle dan aku baru abca blog kakak ditahun 2016!! huahahhha.. salam dari masa depan #plaakkk

    kakak, aku punya banyak hal yang mau dtanyain ni..
    jujur sebenarnya ada beberapa hal yang aku bingungin dari film...
    kayak kenapa ekspresinya Howl senyum mulu, gx ada yang lain gitu. Lalu si Sophie juga sebenarnya ada hubungan apa dengan masa lalu Howl? Suliman itu sebenarnya baik atau ngak si? Anjingnya si Heen itu kok diending kasih lihat proyeksi Howl ke Suliman? Lalu habis itu Suliman batalin perang? Aku bingung.... Tapi aku nonton versi gratisan Eng Sub si :v

    Lalu juga buat dapetin bukunya dimana ya? Tahu infonya gx?

    hehehhe.. kalau boleh banyak yang mau aku tanyain kekakak.. Thank you kak :)

    ReplyDelete

May 6, 2013

Istana Bergerak Howl (Yang Tampan)


Istana yang Bergerak by Diana Wynne Jones
My rating: 4 of 5 stars

Jadi anak sulung itu nggak enak. Jadi anak sulung itu berarti kau harus bertanggung jawab atas keluargamu. Atas orang tuamu, atas adik-adikmu (kalau adiknya banyak), dan bertanggung jawab untuk meneruskan usaha keluarga (kalau punya). Makanya, anak sulung itu dianggap selalu bernasib sial, nggak bisa memutuskan sesuatu atas keinginannya sendiri. Seolah-olah nasibnya udah ditentukan oleh orang-orang di sekitarnya, dan dia nggak punya pilihan lain selain menerimanya....

Yah, kira-kira seperti itulah nasib Sophie. Sebagai anak sulung, dialah yang harus mewarisi toko topi keluarganya, bersama ibu tirinya. Sementara itu, kedua adiknya, Lettie dan Martha dikirim ke tempat yang terpisah. Lettie, yang cantik jelita, dikirim ke toko kue Cesari. Sedangkan Martha si bungsu belajar sihir di rumah Mrs. Fairfax.

Nasib buruk Sophie bertambah ketika, tanpa sebab tiba-tiba Nenek Sihir dari Waste berkunjung ke toko topinya, tampak membencinya, dan kemudian mengutuknya menjadi nenek-nenek!! Seakan belum bertambah sial, Sophie tiba-tiba "nyasar" di istana seorang penyihir jahat yang terkenal suka makan jantung gadis-gadis muda dan cantik. Tapi, Nenek Sophie nggak takut. Dia kan udah tua, bungkuk, dan jelek. Nggak mungkin lah si penyihir Howl (yang sangat tampan itu... kyaa~~) mau makan jantungnya.


Suka dengan Howl yg berambut hitam... kyaaa~~ (Gambar: dari sini)

 
Di istana bergeraknya (iya, istananya bisa jalan-jalan sendiri... Tapi nggak cakep sama sekali gitu deh... Apalagi di animenya, bentuknya nggak karuan...) Howl, Sophie bertemu dengan Calcifer (yang menurut pengakuannya merupakan jin api paling hebat) dan Michael (muridnya Howl, usia 15 tahun). Calcifer langsung tahu kalau Sophie kena kutukan mengerikan, dan Sophie juga dikutuk untuk nggak bisa memberitahukan kalau dirinya sedang kena kutukan kepada orang lain.


Bus Stop Museum Ghibli (dok. pribadi)
Calcifer menawarkan untuk mengangkat kutukan Sophie, asal Sophie juga cari cara untuk melepaskan Calcifer dari Howl. Yah, simbiosis mutualisme begitu deh...
Oh iya, saat itu Howl sedang pergi ke luar (mungkin lagi cari mangsa gadis-gadis muda dan cantik) jadi nggak tahu kalo Sophie masuk ke istananya. Tapi, begitu Howl pulang pun, sepertinya dia nggak keberatan ada Sophie disitu. Lebih tepatnya, mungkin dia nggak peduli ada Sophie apa nggak. Soalnya, dulu si Howl baru sadar kalo ada Michael disono aja setelah enam bulan. Enam bulan!! Bayangkan!! Hahahaa... Luar biasa menakjubkan emang si Howl ini.... xDD

Setelah tinggal di istana Howl, Sophie jadi tahu kalau Howl itu orangnya pemalas dan sangat cuek. Istananya tuh kotor luar biasa, sampe Sophie harus kerja bakti buat bersihin istananya itu. Selain itu, Howl juga pengecut dan ambegan. Tapi yang jelas, Howl itu sangat tampan.... O(>///<)O kyaaaa~~~ (lagi)

Ternyata, Howl ini lagi dikejar-kejar sama penyihir jahat, yang nggak lain dan nggak bukan adalah.... Nenek Sihir dari Waste!! Yup, dia orang yang sama yang bikin Sophie jadi nenek-nenek!! Memang apa sih, yang diperbuat Howl sampe si Nenek Sihir ngejar-ngejar dia? Apa maunya si Nenek Sihir? Lalu, bisakah Sophie kembali ke wujudnya semula, yaitu seorang gadis muda berusia 18 tahun, si pembuat topi, yang doyan ngomong sama topi yang dia bikin?


Lambangnya kota Mitaka
pake animasinya Ghibli (dok. pribadi)
Cari sendiri jawabannya di buku ini.... Saya nggak mau cerita banyak-banyak, takut spoiler. Soalnya saya suka banget sama ceritanya, jadi biar saya nggak cerita banyak-banyak, biarlah kalian menemukan jawabannya sendiri di bukunya... Hueheheheee...

Cuman nih ya, terjemahan Indonesianya nggak begitu bagus menurut saya. Di bagian-bagian klimaks, ketika si Nenek Sihir mulai menemukan Howl, eh terjemahannya aneh gitu. Bikin saya ngeskip beberapa kali, dan justru meletakkan buku itu untuk beberapa waktu yang cukup lama, karena nggak bikin saya penasaran untuk tahu lanjutannya. Padahal itu udah masuk paruh akhir buku lhoo... Mungkin itu sebabnya buku ini nggak kedengaran gaungnya di Indonesia, dan serinya nggak dilanjutkan oleh GPU (sotoy)...

Saya mengenal "Howl's Moving Castle" sekitar tahun 2006. Ketika itu, saya baru mulai kuliah di prodi Jepang. Entah darimana asalnya, tiba-tiba saya nonton anime buatan Ghibli ini. Yah, namanya juga anak sastra Jepang, segala maniak yang berhubungan dengan Jepang, mulai dari anime, manga, dorama, sampe boiben ngumpul semua disini. Jadi, setiap hari pasti beredar film, manga, dvd, dsb. yang berhubungan dengan Jepang-jepangan. Yang jelas, "Howl's Moving Castle" adalah anime Ghibli pertama yang saya tonton, dan saya langsung jatuh cinta dibuatnya.... Saya jatuh cinta sama Howl yang tampan... Jatuh cinta sama Sophie yang kuat... Dan... Jatuh cinta sama Ghibli....

Lalu, di tahun 2009 lalu saya berkesempatan untuk berkunjung ke Museum Ghibli di Mitaka! Iya, saat itu saya lagi pertukaran mahasiswa di sana, dan kebetulan banget jarak museum itu deket banget dari tempat tinggal saya. Cuma beda satu stasiun kalo naek kereta (kalo disini beda satu kelurahan kali ya...). Bisa juga naik bus atau sepeda. Ketika musim panas itulah saya berkunjung ke sana, dan saya sukaaaa banget sama tempatnya....


Narsis dulu, mumpung di depan Ghibli >v<


Museum Ghibli (Dok. Pribadi)

Udah gitu nih, ternyata saya menemukan kejutan menyenangkan lainnya. Studio Ghibli, tempat anime-anime emejing buatan Ghibli dibuat ternyata letaknya lebih deket lagi dari asrama saya!!! Jalan kaki paling hanya 10 menit saja. Letaknya di Koganei-shi, lagi-lagi beda satu stasiun dengan saya yang di Musashino-shi. Aduh... senangnya... Sayangnya, nggak sempat main-main ke dalamnya... Hauhauuuu...


Bagian depan Studio Ghibli




Studio dua Ghibli (Dok. Pribadi)

Saya sudah berkali-kali nonton "Howl's Moving Castle". Bisa dibilang, ini adalah anime Ghibli favorit saya. Saya sukaaaa bangeettttt sama semua aspek di anime ini...  Meskipun demikian, ketika itu saya nggak tahu kalau Ghibli ternyata mengadaptasi cerita ini dari novelnya Diana Wynne Jones. Jujur aja, ini adalah salah satu berkah gabung di Goodreads. Saya jadi tahu kalo "Howl's Moving Castle" ternyata berasal dari buku!! AHHAA!!


Ghibli Museum, Mitaka (dok.pribadi)
Cerita antara buku dan animenya cukup berbeda. Di animenya, ceritanya lebih fokus pada peperangan yang terjadi di dunia mereka. Sementara di bukunya, fokus pada kisah Howl dan masa lalunya. Kalo di animenya hubungan Howl dan Sophie lebih fokus dan sangat sangat maniiissss, di bukunya nggak terlalu banyak. 

Selain itu, bukunya lebih rame. Karakternya lebih banyak. Ada dua adiknya Sophie (yang di anime cuma jadi tempelan aja), lalu ada anjing ajaib (di anime juga ada sih, tapi beda fungsinya), ada orang-orangan sawah ajaib (di animenya juga ada, tapi fungsinya juga beda... xp), dan kalau di animenya nggak ada Michael, adanya Markl yang umurnya jauh lebih muda dari Michael.

Salah satu hal yang patut diacungi jempol dari animenya adalah sinematografinya yang luaarrr biassaaa. Ghibli emang ahlinya deh kalo soal begini. Tempat tinggalnya Sophie, kastilnya Howl, dan semua tempat di anime ini memiliki gambar yang sangat halus dan paduan warna yang sangat indah. Sejujurnya sih, saya lebih suka film animasi yang model-modelnya kayak Ghibli ini. Saya nggak gitu suka yang pake CG... Sukanya yang model dua dimensi kayak anime Jepang aja. Jadul? Bodo amat... xp Heheheee...

"Howl's Moving Castle" ini udah dapat banyak penghargaan lhoo... Dan dapat nominasi Oscar juga. Di versi Hollywoodnya, pengisi suara Howl adalah Christian Bale, si om Batman itu. Lalu, Markl suaranya diisi oleh Josh Hutcherson, sementara di versi Jepang-nya diisi oleh salah satu aktor cilik (dulu) favorit saya, Kamiki Ryuunosuke.

Ada alasan lain kenapa saya suka banget sama ceritanya. Biasanya nih ya, saya tuh nggak suka sama tokoh utama perempuan di novel-novel. Bukan karena sirik mereka dikelilingi cowok cakep dan jadi rebutan lho... Tapi simply karena sebagian besar dari mereka itu TSTL. Sok ngerasa nggak cakep, tapi direbutin cowok-cowok. Berasa rendah diri, tapi punya kemampuan ajaib. Sebagian besar pengarang juga terlalu fokus sama hal-hal kayak gitu, yang bikin saya nggak bisa jatuh cinta sama tokoh utama perempuannya (misalnya aja Tally di serinya "Uglies", terus Bella di "Twilight" saga. 

Bus spesial menuju Museum Ghibli (Dok. Pribadi)
Sementara Sophie nggak kayak gitu. Dia nggak galau milih vampir apa serigala (padahal mau dua-duanya). Nggak inosen2 amat sampe rasanya pengen jorogin dia ke depan odong-odong. Nggak labil juga antara menyelematkan dunia atau menyelamatkan diri sendiri... Meskipun (sebagai manusia dan nenek-nenek) Sophie suka merasa rendah diri, tapi Oma Diana nggak terlalu menampilkan hal itu, nggak kayak cerita YA lain yang justru jadi kekuatan si heroine (yang bikin saya sakit kepala bikin pengen jambak rambut si heroine-nya terus saya jedot-jedotin kepalanya ke tembok saking nyebelinnya dia... -____-).

Di sini, Oma Diana justru menampilkan kelebihan Sophie, yang ternyata ceplas-ceplos kalo ngomong. Kejujuran Sophie itu pengen saya acungin juempoll, meskipun itu juga penyebab dia diubah jadi nenek-nenek sama si Nenek Sihir dari Waste xD... Eh tapinya, ada alasan laennya juga sihh.... Terus Sophie ini bisa dibilang justru merasa bersyukur diubah jadi nenek-nenek, karena dia jadi bisa menjalani kehidupan sesuai keinginannya. Dia jadi bisa pergi dari toko topinya, dan bertualang mencari makna dalam hidupnya (asseekk). Udah gitu, ternyata Sophie ini punya kemampuan sihir yang nggak terbayangkan sebelumnya. Apakah itu? R.A.H.A.S.I.A.... Pokoknya, saya suka deh sama Sophie ini...

Karakter lain yang juga jadi favorit saya adalah Howl (So pastiii doongg). Di animenya, pengisi suaranya dia adalah KimuTaku!! Kyaakyaakyaaa.... Suka bangeetttt!!! >v< Howl di anime dan di buku lumayan beda... Meskipun sama-sama narsis dan suka merajuk, tapi di animenya Howl itu baik banget dan cenderung romantis... Beda sama di bukunya, yang pemalas, suka nyuruh-nyuruh orang, ngambeknya juga lebih parah (dari animenya), mana caper pula. Hahahaaa... Tapi karena dia ganteng, jadi saya maafin. Hahahahaaaa...

Kalo disuruh milih antara buku dan animenya, saya milih yang mana ya?? Kayaknya dua-duanya deh. Soalnya mereka berdua sama-sama unik dan pastinya..... GANTENG!! Kyaa... kyaa... kyaaa... (ノ>▽<。)ノ (ノ>▽<。)ノ Kayaknya Howl jadi kandidat kuat book boyfriend tahun ini nih... HAAAHAAAHAAAAA

sumber disini
Sayang banget sih buku bahasa Indonesianya terjemahannya kurang bagus. Nggak cuma saya aja yang bilang begini, tapi rata-rata yang udah baca buku terjemahannya pada bilang begini. Yah, meskipun kurang bagus terjemahannya, tapi tertolong karena endingnya yang cocwiiittt... Kyaa... kyaaa... kyaaa.... (sabar ya, pembaca... xp)

Sekarang saya mau cari edisi aslinya aja deh. Soalnya merasa agak-agak nggak terpuaskan gitu deh... hauhauhauuu... Yang jelas, sekarang saya oficially jadi fans-nya Oma Diana... (*´∀`*)

Simak nih kata Oma Diana tentang animenya:
It's fantastic. No, I have no input — I write books, not films. Yes, it will be different from the book — in fact it's likely to be very different, but that's as it should be. It will still be a fantastic film.  (from Mbah Wiki)

Well, karena saya ikutan banyak RC tahun ini, maka review ini masuk ke dalam RC berikut ini:

What's in a Name Reading Challenge 2013 karena judulnya "Howl's Moving Castle"



dan FYE with Children Literature, karena "Howl's Moving Castle" tergolong novel YA. Kalo menilik dari ceritanya sih, menurut saya remaja di atas 14 tahun akan lebih memahami kompleksitas ceritanya.... 


Owari.... (*^3^)/~



5 comments:

  1. iya, salah satu buku yg benernya bagus dan jadi rusak gara2 terjemahannya bikin bingung.

    Aku juga baca terjemahannya dan aku kasih 2 bintang, padahal review di GR itu bagus 4.22 dan bikin aku bingung, kenapa aku gak suka yah? biasanya lumayan sepaham sama review GR

    Tapi yah itu balik gara-gara terjemahannya jelek, aku gak githu ngerti arah ceritanya yg kadang ada 1 bagian berasa muter2.

    Aih pengen juga ke studio Ghibli. FYI film Ghibli yg pengen aku nonton yang Graveyard of Fireflies, denger2 super duper sedih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bener... Pas bagian klimaks itu parah banget terjemahannya. Bagian tentang si anjing, orang-orangan sawah, Miss Angorian, sama Nenek Sihir dari Waste tuh bener-bener ga jelas banget. Sampe sekarang aku nggak paham kenapa...

      Cuman entah kenapa aku kasih empat bintang di GR. Abis udah jatuh cinta sama Howl duluan. Hahahaa xD

      Wah, aku juga belum nonton Grave of Fireflies. Baru nonton yang versi live actionnya aja, dan itu juga sediiihhh... TT___TT

      Delete
  2. Aihh, senangg.. ketemu sama fans Ghibli jugak, dan langsung iri sama Tika yang sudah directly go there, hiks. Tika sedang S2 kah di Jepang? Kenal sama Nur Ahmadi gak? Dari ITB. Dia temen sma ku :)

    Aku juga baru tau kalau Howl's Moving Castle itu dari buku, mungkin baru seru kalau baca yang asli yah? bukan terjemahan, *mupeng
    Btw, aku juga koleksi film2 Ghibli, mulai dari Totoro, dan beberapa cerita lainnya (*lupa judul, pdhl inget ceritanya)
    Dan paling suka cerita yang gadis cilik berasal dari ikan XDD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Athiah. Aku ke Jepangnya udah lama. Tahun 2009-2010 lalu, waktu masih mahasiswa S1. Cuma pertukaran doang setahun. Hehehee...

      Seneng juga nih ketemu penggemar Ghibli lainnya. Film-film Ghibli emang bagus, kalo aku paling suka "Howl's Moving Castle" sama "Sen to Chihiro no Kamikakushi" alias "Spirited Away" sama "Mimi wo Sumaseba" sama "Totoro". Eh, banyak yak... xDD Yang ikan itu Ponyo ya? Itu juga lucu... Kiyut banget Ponyo-nya... >v<

      Targetku selanjutnya emang mau baca yang aslinya, karena kecewa dengan terjemahannya. Huhuhuuu.... (meskipun tetep gw kasih bintang 4 sih.. xD)

      Delete
  3. hallo kak Tika! Aku fans Howl's moving castle dan aku baru abca blog kakak ditahun 2016!! huahahhha.. salam dari masa depan #plaakkk

    kakak, aku punya banyak hal yang mau dtanyain ni..
    jujur sebenarnya ada beberapa hal yang aku bingungin dari film...
    kayak kenapa ekspresinya Howl senyum mulu, gx ada yang lain gitu. Lalu si Sophie juga sebenarnya ada hubungan apa dengan masa lalu Howl? Suliman itu sebenarnya baik atau ngak si? Anjingnya si Heen itu kok diending kasih lihat proyeksi Howl ke Suliman? Lalu habis itu Suliman batalin perang? Aku bingung.... Tapi aku nonton versi gratisan Eng Sub si :v

    Lalu juga buat dapetin bukunya dimana ya? Tahu infonya gx?

    hehehhe.. kalau boleh banyak yang mau aku tanyain kekakak.. Thank you kak :)

    ReplyDelete