November 25, 2012

Wonder: Make a Better Place For You And For Me

Wonder by R.J. Palacio
My rating: 4 of 5 stars

Saya selalu menganggap bahwa anak-anak yang memiliki perbedaan seperti Augie adalah anak-anak istimewa, yang dikirimkan langsung dari surga untuk menghiasi dunia. Memang, banyak di antara mereka yang mungkin tidak sedap dipandang secara fisik. Namun, jika kita melihat langsung ke mata mereka, maka yang terpancar di sana adalah kesejukan dan kejujuran yang tak kan kau dapati dimanapun.

Sejak dulu, saya memang memiliki ketertarikan pada anak-anak berkebutuhan khusus. Mungkin, karena sejak kecil saya sudah cukup "akrab" dengan dunia mereka. Wajar saja, soalnya ibu saya bekerja sebagai guru di salah satu sekolah luar biasa. Sekolah ibu saya menampung siswa tuna rungu dan tuna grahita. Jadi, saya sering bertemu dengan murid-murid ibu yang tidak bisa berbicara, dan mereka yang sering dianggap sebagai orang "idiot" di masyarakat.

Bahasa isyarat pun bukan hal yang aneh dan ajaib bagi saya, karena saya sudah sering melihat ibu saya "berbicara" dengan bahasa itu dengan murid-muridnya. Saya pun jadi sedikit bisa berbahasa isyarat (meskipun hanya alfabetnya dan sedikit sekali kata-katanya xp).

Begitupun dengan anak-anak berwajah "Mongolia" yang sering menjadi ciri bagi anak-anak tuna grahita. Meskipun memang tidak semuanya berwajah seperti itu. Bagi saya, mereka memiliki mata yang sangat jernih dan senyum yang sangat indah (terutama anak-anaknya). Dan meskipun beranjak dewasa, mereka akan selamanya berada di dunia anak-anak yang penuh kepolosan dan kejujuran. IMHO.

Saya pun berpikir, orang tua yang memiliki anak-anak seperti ini adalah orang-orang pilihan. Memiliki anak seperti itu bukanlah sebuah dosa ataupun hukuman, seperti yang mungkin dipikirkan oleh banyak orang. Karena memiliki anak seperti itu membutuhkan kesabaran khusus, dan harus mencurahkan lebih banyak perhatian dari anak normal. Jika tetap sabar dan tawakkal dalam menghadapinya, maka sudah pasti surga-lah balasannya. Namun tak sedikit orang tua yang merasa malu, bahkan tak menganggap anaknya itu.


Saya pernah mendengar sebuah cerita dari guru saya, tentang seorang ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Setiap hari dia merawat anaknya dengan sabar dan penuh perhatian. Dia mencurahkan segalanya untuk anaknya. Namun pada suatu hari, mungkin ketika fisik dan mentalnya sedang berada di titik terendah, ia mengeluh. Ia berharap agar penderitaannya segera berakhir. Atau mungkin saja ia berharap, agar ia tak pernah melahirkan anak seperti anaknya. Padahal, wanita ini bukanlah orang jahat. Ia adalah orang yang paham agama dan sadar bahwa anak itu, bagaimanapun bentuknya, adalah titipan Allah SWT. Namun saya sadar, bahwa manusia memang makhluk yang lemah. Bahkan Nabi dan Rasul pun pernah mengalami putus asa. Apalagi ia yang hanya seorang wanita biasa?

Sayangnya, apa yang terbersit di hatinya itu justru menjadi kenyataan. Anaknya meninggal dunia. Dan ia pun merasa sangat menyesal pernah berpikir seperti itu, karena bukannya perasaan lega dan kebahagiaan yang didapatnya. Tetapi justru kesedihan dan penyesalan.

Untungnya nasib August Pullman, atau Auggie, kecil tak seburuk itu. Dia memiliki orang tua dan kakak perempuan yang menyayanginya. Lagipula, hanya wajahnya saja yang buruk, tapi Auggie sangat cerdas dan memiliki hati yang paling baik. Walaupun demikian, tetap suatu kewajaran jika ada salah satu di antara mereka yang pernah merasa malu karena memiliki anggota keluarga seperti Auggie, yang secara fisik tidak bisa dikatakan mirip dengan manusia normal.

Auggie menderita Mandibulofacial Dysostosis, sebuah kelainan genetis yang membuat wajah Auggie berantakan. Ketika baru menghirup udara dunia ini, Auggie sudah didaulat tidak akan bisa bertahan lama. Namun Auggie tetap bertahan. Di usia 10 tahun, ia sudah mengalami berbagai operasi untuk membuatnya tetap hidup, dan sedikit demi sedikit terlihat seperti manusia normal.

Orang tua Auggie berpendapat bahwa sudah saatnya Augie bersekolah, karena ia tak mungkin terus menerus belajar di rumah. Auggie pun kini menjadi murid kelas lima di Beecher Prep, yang tak jauh dari rumahnya.

Jika setiap anak menanti dengan was was, takut, bercampur tidak sabar untuk menghadapi hari pertama di sekolahnya, maka tidak demikian bagi Auggie. Ia sadar, bahwa dengan wajah yang dimilikinya, ia tak akan memiliki teman.

Kekhawatiran Auggie terbukti. Tak ada orang yang mau duduk di sampingnya, kecuali Jack Will, yang dulu menemani Auggie ketika ia dan ibunya datang ke sekolah untuk melihat-lihat isi sekolah itu. Orang-orang tampaknya takut duduk di dekat Auggie, seakan-akan ia adalah penyakit menular yang akan merasukimu hanya dengan berada di dekatnya.

Pun ketika makan siang. Auggie duduk sendirian. Untung ada seorang anak perempuan bernama Summer yang mau duduk bersamanya. Meskipun awalnya hanya karena kasihan, Summer jadi tahu bahwa Auggie itu anak yang asyik diajak ngobrol dan juga pintar. Mereka pun selalu makan bersama, dan menamai meja mereka sebagai "meja musim panas", karena Summer dan August adalah nama identik musim panas.

Lalu, bagaimana dengan Jack? Di berbagai kelas, Jack tetap duduk di dekat Auggie, dan mereka sering ngobrol juga bercanda bersama. Auggie menganggap Jack sebagai sahabatnya. Hingga tibalah waktunya Halloween. Auggie sangat senang jika Halloween tiba. Karena di hari itu, ia tak perlu dianggap aneh oleh orang-orang di sekitarnya. Auggie telah berniat untuk memakai kostum Boba Fett yang diidam-idamkannya.

Namun karena satu dan lain hal, Auggie mengubah kostumnya menjadi Bleeding Scream. Walaupun tak mengenakan kostum idamannya, Auggie bahagia, karena ini adalah Halloween! Auggie senang, karena ketika memasuki sekolah, tak ada yang menjauhinya, karena mereka tak tahu itu dirinya. Ia bahkan ber-high five dengan seorang murid, yang mustahil dilakukannya tanpa kostumnya. Sayangnya, saat-saat menyenangkan Auggie itu berakhir tragis ketika ia melihat teman terdekatnya, Jack, sedang ngobrol dengan Julian (yang nggak suka Auggie dan selalu ngomongin di belakangnya). Bukan sekadar ngobrol, karena mereka sedang membicarakan Auggie, tanpa tahu bahwa yang menggunakan kostum Bleeding Scream itu adalah Auggie (karena mereka kira Auggie akan memakai kostum Boba Fett)!!!

Hati Auggie hancur berantakan, hingga ia tak ingin sekolah lagi. Yah, siapa juga yang nggak remuk hatinya kalau mendengar kata-kata kejam diucapkan oleh sahabatmu sendiri? Apalagi, Auggie hanyalah seorang anak kecil. Dan hei! Memiliki wajah seperti itu bukanlah keinginannya!

Kisah di buku ini berkutat di kehidupan Auggie dan orang-orang terdekatnya. Seperti yang dikatakan orang tua Auggie: Dia adalah matahari, dan orang-orang di dekatnya bagaikan planet yang berputar mengelilingi matahari. Inilah semesta Auggie. Di sini, ada cerita dari sudut pandang Olivia--kakak perempuan Auggie, Summer, Miranda (sahabat Olivia yang sangat sayang sama Auggie.. Saya suka banget sama Mirinda.. eh Miranda >v<), pacar Olivia, dan tentunya Jack Will.

Saya terkadang merasa takjub sekaligus miris melihat betapa anak-anak bisa bertindak sangat kejam kepada temannya. Saya yakin sekali, bahwa perilaku orang tua memang memiliki andil besar dalam hal itu. Mungkin saja masyarakat kita saat ini terlalu memikirkan hal-hal yang artifisial dan hanya tampak di permukaannya saja, sehingga mereka tak lagi memiliki mata batin untuk melihat sesuatu dari maknanya. Bukan fisiknya. Aneh bukan, jika seseorang harus dibenci hanya karena wajahnya yang berbeda? Ckckck

Di tengah masyarakat yang semakin materialistis ini, semua hal memang harus tampak indah di permukaannya. Tampak bagus. Mahal. Memiliki nilai estetika. Dan segala hal lainnya yang sebenarnya sangat sangat semu. Maka tak heran jika angka bunuh diri di luar sana jadi meningkat, hanya karena seorang anak lebih gemuk dari anak lainnya, atau karena hobinya berbeda dengan anak seusianya. Dan lain sebagainya. Meskipun memiliki banyak persamaan, entah kenapa yang terlihat di mata mungkin justru selalu perbedaannya. Padahal, bukankah perbedaan itu indah? Toh pelangi justru menjadi indah karena ia terdiri dari warna-warna yang berbeda. Pelangi tentu tak akan indah jika ia hanya berwarna merah saja, atau kuning saja, atau biru saja, bukan?

"Wonder" kembali membuka mata saya tentang dunia ini. Tentang dunia yang sama sekali tidak ramah ini. Dan.. terbersit di ingatan saya sebuah lirik lagu dari MJ yang saya pikir akan menjadi PR besar bagi saya dan kita semua untuk mewujudkan dunia yang lebih baik bagi semua umat manusia dan makhluk hidup yang ada di dalamnya.


Heal the world
Make it a better place
For you and for me and the entire human race

There are people dying

If you care enough for the living
Make a better place for you and for me


View all my reviews

No comments:

Post a Comment

November 25, 2012

Wonder: Make a Better Place For You And For Me

Wonder by R.J. Palacio
My rating: 4 of 5 stars

Saya selalu menganggap bahwa anak-anak yang memiliki perbedaan seperti Augie adalah anak-anak istimewa, yang dikirimkan langsung dari surga untuk menghiasi dunia. Memang, banyak di antara mereka yang mungkin tidak sedap dipandang secara fisik. Namun, jika kita melihat langsung ke mata mereka, maka yang terpancar di sana adalah kesejukan dan kejujuran yang tak kan kau dapati dimanapun.

Sejak dulu, saya memang memiliki ketertarikan pada anak-anak berkebutuhan khusus. Mungkin, karena sejak kecil saya sudah cukup "akrab" dengan dunia mereka. Wajar saja, soalnya ibu saya bekerja sebagai guru di salah satu sekolah luar biasa. Sekolah ibu saya menampung siswa tuna rungu dan tuna grahita. Jadi, saya sering bertemu dengan murid-murid ibu yang tidak bisa berbicara, dan mereka yang sering dianggap sebagai orang "idiot" di masyarakat.

Bahasa isyarat pun bukan hal yang aneh dan ajaib bagi saya, karena saya sudah sering melihat ibu saya "berbicara" dengan bahasa itu dengan murid-muridnya. Saya pun jadi sedikit bisa berbahasa isyarat (meskipun hanya alfabetnya dan sedikit sekali kata-katanya xp).

Begitupun dengan anak-anak berwajah "Mongolia" yang sering menjadi ciri bagi anak-anak tuna grahita. Meskipun memang tidak semuanya berwajah seperti itu. Bagi saya, mereka memiliki mata yang sangat jernih dan senyum yang sangat indah (terutama anak-anaknya). Dan meskipun beranjak dewasa, mereka akan selamanya berada di dunia anak-anak yang penuh kepolosan dan kejujuran. IMHO.

Saya pun berpikir, orang tua yang memiliki anak-anak seperti ini adalah orang-orang pilihan. Memiliki anak seperti itu bukanlah sebuah dosa ataupun hukuman, seperti yang mungkin dipikirkan oleh banyak orang. Karena memiliki anak seperti itu membutuhkan kesabaran khusus, dan harus mencurahkan lebih banyak perhatian dari anak normal. Jika tetap sabar dan tawakkal dalam menghadapinya, maka sudah pasti surga-lah balasannya. Namun tak sedikit orang tua yang merasa malu, bahkan tak menganggap anaknya itu.


Saya pernah mendengar sebuah cerita dari guru saya, tentang seorang ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Setiap hari dia merawat anaknya dengan sabar dan penuh perhatian. Dia mencurahkan segalanya untuk anaknya. Namun pada suatu hari, mungkin ketika fisik dan mentalnya sedang berada di titik terendah, ia mengeluh. Ia berharap agar penderitaannya segera berakhir. Atau mungkin saja ia berharap, agar ia tak pernah melahirkan anak seperti anaknya. Padahal, wanita ini bukanlah orang jahat. Ia adalah orang yang paham agama dan sadar bahwa anak itu, bagaimanapun bentuknya, adalah titipan Allah SWT. Namun saya sadar, bahwa manusia memang makhluk yang lemah. Bahkan Nabi dan Rasul pun pernah mengalami putus asa. Apalagi ia yang hanya seorang wanita biasa?

Sayangnya, apa yang terbersit di hatinya itu justru menjadi kenyataan. Anaknya meninggal dunia. Dan ia pun merasa sangat menyesal pernah berpikir seperti itu, karena bukannya perasaan lega dan kebahagiaan yang didapatnya. Tetapi justru kesedihan dan penyesalan.

Untungnya nasib August Pullman, atau Auggie, kecil tak seburuk itu. Dia memiliki orang tua dan kakak perempuan yang menyayanginya. Lagipula, hanya wajahnya saja yang buruk, tapi Auggie sangat cerdas dan memiliki hati yang paling baik. Walaupun demikian, tetap suatu kewajaran jika ada salah satu di antara mereka yang pernah merasa malu karena memiliki anggota keluarga seperti Auggie, yang secara fisik tidak bisa dikatakan mirip dengan manusia normal.

Auggie menderita Mandibulofacial Dysostosis, sebuah kelainan genetis yang membuat wajah Auggie berantakan. Ketika baru menghirup udara dunia ini, Auggie sudah didaulat tidak akan bisa bertahan lama. Namun Auggie tetap bertahan. Di usia 10 tahun, ia sudah mengalami berbagai operasi untuk membuatnya tetap hidup, dan sedikit demi sedikit terlihat seperti manusia normal.

Orang tua Auggie berpendapat bahwa sudah saatnya Augie bersekolah, karena ia tak mungkin terus menerus belajar di rumah. Auggie pun kini menjadi murid kelas lima di Beecher Prep, yang tak jauh dari rumahnya.

Jika setiap anak menanti dengan was was, takut, bercampur tidak sabar untuk menghadapi hari pertama di sekolahnya, maka tidak demikian bagi Auggie. Ia sadar, bahwa dengan wajah yang dimilikinya, ia tak akan memiliki teman.

Kekhawatiran Auggie terbukti. Tak ada orang yang mau duduk di sampingnya, kecuali Jack Will, yang dulu menemani Auggie ketika ia dan ibunya datang ke sekolah untuk melihat-lihat isi sekolah itu. Orang-orang tampaknya takut duduk di dekat Auggie, seakan-akan ia adalah penyakit menular yang akan merasukimu hanya dengan berada di dekatnya.

Pun ketika makan siang. Auggie duduk sendirian. Untung ada seorang anak perempuan bernama Summer yang mau duduk bersamanya. Meskipun awalnya hanya karena kasihan, Summer jadi tahu bahwa Auggie itu anak yang asyik diajak ngobrol dan juga pintar. Mereka pun selalu makan bersama, dan menamai meja mereka sebagai "meja musim panas", karena Summer dan August adalah nama identik musim panas.

Lalu, bagaimana dengan Jack? Di berbagai kelas, Jack tetap duduk di dekat Auggie, dan mereka sering ngobrol juga bercanda bersama. Auggie menganggap Jack sebagai sahabatnya. Hingga tibalah waktunya Halloween. Auggie sangat senang jika Halloween tiba. Karena di hari itu, ia tak perlu dianggap aneh oleh orang-orang di sekitarnya. Auggie telah berniat untuk memakai kostum Boba Fett yang diidam-idamkannya.

Namun karena satu dan lain hal, Auggie mengubah kostumnya menjadi Bleeding Scream. Walaupun tak mengenakan kostum idamannya, Auggie bahagia, karena ini adalah Halloween! Auggie senang, karena ketika memasuki sekolah, tak ada yang menjauhinya, karena mereka tak tahu itu dirinya. Ia bahkan ber-high five dengan seorang murid, yang mustahil dilakukannya tanpa kostumnya. Sayangnya, saat-saat menyenangkan Auggie itu berakhir tragis ketika ia melihat teman terdekatnya, Jack, sedang ngobrol dengan Julian (yang nggak suka Auggie dan selalu ngomongin di belakangnya). Bukan sekadar ngobrol, karena mereka sedang membicarakan Auggie, tanpa tahu bahwa yang menggunakan kostum Bleeding Scream itu adalah Auggie (karena mereka kira Auggie akan memakai kostum Boba Fett)!!!

Hati Auggie hancur berantakan, hingga ia tak ingin sekolah lagi. Yah, siapa juga yang nggak remuk hatinya kalau mendengar kata-kata kejam diucapkan oleh sahabatmu sendiri? Apalagi, Auggie hanyalah seorang anak kecil. Dan hei! Memiliki wajah seperti itu bukanlah keinginannya!

Kisah di buku ini berkutat di kehidupan Auggie dan orang-orang terdekatnya. Seperti yang dikatakan orang tua Auggie: Dia adalah matahari, dan orang-orang di dekatnya bagaikan planet yang berputar mengelilingi matahari. Inilah semesta Auggie. Di sini, ada cerita dari sudut pandang Olivia--kakak perempuan Auggie, Summer, Miranda (sahabat Olivia yang sangat sayang sama Auggie.. Saya suka banget sama Mirinda.. eh Miranda >v<), pacar Olivia, dan tentunya Jack Will.

Saya terkadang merasa takjub sekaligus miris melihat betapa anak-anak bisa bertindak sangat kejam kepada temannya. Saya yakin sekali, bahwa perilaku orang tua memang memiliki andil besar dalam hal itu. Mungkin saja masyarakat kita saat ini terlalu memikirkan hal-hal yang artifisial dan hanya tampak di permukaannya saja, sehingga mereka tak lagi memiliki mata batin untuk melihat sesuatu dari maknanya. Bukan fisiknya. Aneh bukan, jika seseorang harus dibenci hanya karena wajahnya yang berbeda? Ckckck

Di tengah masyarakat yang semakin materialistis ini, semua hal memang harus tampak indah di permukaannya. Tampak bagus. Mahal. Memiliki nilai estetika. Dan segala hal lainnya yang sebenarnya sangat sangat semu. Maka tak heran jika angka bunuh diri di luar sana jadi meningkat, hanya karena seorang anak lebih gemuk dari anak lainnya, atau karena hobinya berbeda dengan anak seusianya. Dan lain sebagainya. Meskipun memiliki banyak persamaan, entah kenapa yang terlihat di mata mungkin justru selalu perbedaannya. Padahal, bukankah perbedaan itu indah? Toh pelangi justru menjadi indah karena ia terdiri dari warna-warna yang berbeda. Pelangi tentu tak akan indah jika ia hanya berwarna merah saja, atau kuning saja, atau biru saja, bukan?

"Wonder" kembali membuka mata saya tentang dunia ini. Tentang dunia yang sama sekali tidak ramah ini. Dan.. terbersit di ingatan saya sebuah lirik lagu dari MJ yang saya pikir akan menjadi PR besar bagi saya dan kita semua untuk mewujudkan dunia yang lebih baik bagi semua umat manusia dan makhluk hidup yang ada di dalamnya.


Heal the world
Make it a better place
For you and for me and the entire human race

There are people dying

If you care enough for the living
Make a better place for you and for me


View all my reviews

No comments:

Post a Comment