February 13, 2012

The Hobbit


Bilbo Baggin adalah seorang Hobbit dari keluarga terhormat yang tinggal di sebuah desa yang tentunya dihuni oleh para Hobbit. Bilbo adalah keturunan keluarga Took dan Baggin, keluarga terhormat di kalangan para Hobbit. Keluarga Took ini dikenal berperangai cukup aneh untuk para Hobbit. Keluarga Took gemar berpetualang, sesuatu hal yang dianggap tidak lazim dan aneh bagi para Hobbit. Sebagai pewaris darah keluarga Took, Bilbo juga memiliki hasrat petualang yang cukup tinggi. Hanya saja kesempatan tidak pernah datang kepadanya hingga suatu hari Gandalf, seorang penyihir baik, tiba-tiba datang ke rumahnya dan membawa rombongan sebanyak 13 orang kurcaci dan menawarkan sebuah petualangan yang akan merubah hidup Bilbo selama-lamanya.

Para kurcaci datang ke liang hobbit Bilbo yang nyaman karena mereka mau memulai petualangan mereka untuk mengambil harta karun mereka yang dirampas oleh naga jahat, Smaug. Karena 13 adalah angka sial, mereka mengajak Bilbo yang direkomendasikan oleh Gandalf sebagai seorang pencuri ulung. Padahal, seumur hidupnya Bilbo tidak pernah pergi dari liangnya, apalagi menjadi seorang pencuri. Lagipula, ia adalah seorang hobbit yang kaya raya, jadi ia tidak perlu mencuri untuk kelangsungan hidupnya.

Ketigabelas kurcaci dipimpin oleh Thorin Oakenshield, sang keturunan raja kurcaci, yang leluhurnya dulu hidup di Gunung Sunyi dengan aman dan tentram sebelum Smaug sang naga jahat merampasnya, bersama harta kekayaan mereka yang tak ternilai harganya. Thorin membawa 12 kurcaci lainnya, yaitu Balin, Dwalin, Fili, Kili, Dori, Nori, Ori, Oin, Gloin, Bifur, Bofur, dan Bombur. Meskipun ada  12 kurcaci lain, tapi yang paling sering muncul dalam cerita hanya beberapa saja, yaitu Balin, Fili, Kili, dan Bombur.

Bilbo menolak mentah-mentah tawaran mereka untuk pergi ke Gunung Sunyi, karena perjalanan mereka sangat berbahaya. Naluri hobbit Bilbo melarangnya untuk pergi meninggalkan liangnya yang hangat dan nyaman. Meskipun demikian, darah Took yang mengalir di dalam tubuhnya ternyata sangat kuat hingga akhirnya ia menerima tawaran mereka dan ikut bertualang bersama Gandalf dan para kurcaci.

Perjalanan ke Gunung Sunyi sangatlah berat. Mereka sempat ditawan troll, dikepung serigala jahat, bahkan hampir menjadi santapan goblin. Ketika mereka ditawan oleh goblin jahat, Bilbo menemukan cincin milik Gollum yang licik dan jahat. Sebuah cincin ajaib yang mampu membuatnya menghilang dan menyelamatkannya dari gua goblin. Sebuah cincin yang akhirnya menjadi awal petualangan bagi karya J.R.R Tolkien berikutnya, The Lord of The Rings.

Dengan cincinnya itu, Bilbo yang sempat diragukan kemampuannya oleh para kurcaci akhirnya menjadi dewa penyelamat mereka berkali-kali, mulai dari labah-labah raksasa yang mau memangsa mereka di Hutan Mirkwood, hingga ketika mereka ditawan oleh Peri Hutan. Bilbo memang "seorang" hobbit yang penuh keberuntungan. Ia juga sangat cerdas dan banyak akal, dibandingkan dengan para kurcaci yang tampaknya berpikiran pendek dan mudah tersinggung. Tetapi, sanggupkah keberuntungan dan akal cerdas Bilbo membawa mereka semua menghadapi Smaug, sang naga jahat yang juga tidak kalah cerdiknya dengan Bilbo? Sanggupkah para kurcaci ini mengembalikan kembali harta dan tahta mereka di Gunung Sunyi seperti yang terjadi ratusan tahun yang lalu?

Poster Filmnya. Masih akhir tahun ini. Huhuhu
Membaca "The Hobbit" membuat saya berkali-kali menahan napas dan bersorak. Saya juga membayangkan setiap jengkal dunia ajaib yang mereka lalui di novel ini.
Ceritanya sangat imaginatif dan petualagan-petualangan yang tersaji di dalam novel
ini sangatlah seru. Saya jadi merasa beruntung bisa membeli buku ini dengan sangat murah. Cukup dengan Rp 10.000,- sahaja. Membayangkan kalau novel ini akan difilmkan, pasti ke depannya akan sulit untuk dapat membeli buku ini dengan harga murah... ;p
Emosi saya juga naik turun ketika membaca novel ini. Endingnya pun penuh dengan kejutan, mulai dari yang menyenangkan, menyedihkan, hingga mengharukan. Saya jadi makin nggak sabar menanti versi layar lebar dari buku ini, yang katanya akan dirilis dalam dua bagian. Bagian pertama akan ditayangkan Desember 2012, sedangkan yang kedua tahun berikutnya. Huhuhuu... Masih lama banget yaa... Padahal saya udah nggak sabar pengen menyaksikan dunia ajaib si genius Mr. Tolkien yang dibawanya melalui buku ini.

13 ekor kurcaci yang melakukan petualangan mereka ke Gunung Sunyi bersama Bilbo (Pengen nontoonn >,<)



Sekarang, saya mau kasih liat trailernya film ini. Aduuhh!! Saya ga sabar pengen nontonn!! Kenapa harus Desember sih tayangnya?? >o<


Tentang Pengarang

John Ronald Reuel Tolkien (1892-1973) atau yang lebih kita kenal dengan J.R.R. Tolkien adalah seorang pengarang dan penyair terkenal Inggris. Selain itu, Mr. Tolkien ini juga seorang filolog dan profesor di Universitas Oxford lho, jadi nggak heran ya kalau dia bisa menghasilkan karya yang begitu mendalam seperti The Hobbit dan The Lord of The Rings. Di Oxford, ia menjadi profesor Anglo Saxon (yang dikenal sebagai Old English) dan profesor di bidang sastra. Dia ini bersahabat dengan C.S. Lewis, pengarang The Chronicle of Narnia yang terkenal itu.


Tolkien ini lahir di Afrika Selatan pada 3 Januari 1892 (Yah, saya kelewatan ultahnya Mbah Tolkien yang ke 110 tahun ini dong...) sebagai anak pertama dari dua bersaudara. Ketika ia berusia 3 tahun, keluarga ini pindah ke kampung halaman mereka di Inggris. Sayangnya, sang ayah sudah keburu meninggal sebelum sempat menyusul mereka. 9 tahun kemudian, sang ibu menyusul meninggalkan Tolkien dan adiknya, Hilary, karena penyakit diabetes. Setelah itu, Tolkien diasuh oleh pendeta di gereja Katolik Inggris.

Tolkien belajar bahasa dan kesusasteraan Inggris di Oxford, dan dia lulus dengan hasil yang sangat memuaskan. Jadi kagum sama J.R.R. Tolkien. Pinter banget ya, dia.

Ketika usia 16, Tolkien bertemu dengan Edith Mary Bratt, yang usianya tiga tahun lebih tua dari dia. Mereka menikah 5 tahun kemudian, ketika itu usia Tolkien 19 tahun. Ada yang menarik dari kisah cinta mereka. Edith ini seorang Protestan, karena itu Tolkien dilarang oleh bapak angkatnya untuk menemui Edith hingga usia Tolkien mencapai 21, meskipun mereka berdua saling mencintai.

Di hari ulang tahunnya yang ke-21, Tolkien menulis surat untuk Edith, yang berisi pernyataan cinta dan lamaran Tolkien kepada Edith. Edith sendiri saat itu sudah tunangan dengan orang lain, karena ia mengira Tolkien sudah tidak mencintainya lagi. Akhirnya, Edith membatalkan pertunangannya dan menikah dengan Tolkien.

Edith ini cantik lhoo.. Dan tampaknya Tolkien sangat mencintai istrinya ini. Beberapa karakter di karya-karya Tolkien seperti Arwen dan Lúthien, terinspirasi dari Edith ini. Lúthien adalah sosok setengah peri yang sangat cantik di karya Tolkien, The Silmarillion. Di cerita itu, Lúthien jatuh cinta dengan manusia fana bernama Beren (Lúthien imortal). Beren sendiri adalah sosok Tolkien. Ketika Edith meninggal, Tolkien mengukir nama Lúthien di nisannya. Tolkien menyusul Edith sekitar dua tahun kemudian, tepatnya pada 2 September 1973. Ia dikuburkan bersama istrinya, dan kalau di nisan Edith tertulis nama Lúthien, maka di nisannya sendiri tertulis nama Beren. How romantic... (,,,>____<,,,)


J.R.R. Tolkien di usia senja


Habis baca The Hobbit ini, saya jadi penasaran mau bener-bener baca The Lord of The Rings dari awal. Oh iya, ketika baca The Hobbit ini, orang-orang di sekeliling saya pada heran. Dikiranya saya lagi baca buku pelajaran, gara-gara sampul depannya yang berwarna hijau tua itu... (=___=") Kalo buku pelajaran di SMA dulu kayak gini sih, saya semangat ngikutin kali, ya. Hehehe

Oh iya, awalnya saya mengira kalau The Hobbit ini ditulis setelah TLOTR, tapi ternyata justru sebaliknya. The Hobbit adalah prequel dari TLOTR yang ditulis Tolkien di tahun 1937. Dulu ketika SMA, saya pernah ngintip baca punya teman saya. Tapi karena saya nggak ngerti, ga jadi saya pinjem deh. Ampun, itu bahasanya berat yaa.. Mana ceritanya kompleks pula. Tapi kalo sekarang, mungkin dengan sedikit usaha dan konsentrasi, saya bisa menyelesaikan baca. Saya kan udah tamat nonton semua filmnya, dan itu nggak henti-hentinya membuat saya terpukau. Jadi, saya mau menyelami cerita itu di dalam otak saya suatu hari nanti, dan membiarkan imajinasi saya merangkai sendiri jalinan-jalinan cerita itu.


Judul :The Hobbit
Penulis : J.R.R. Tolkien
Penerjemah : A. Adiwiyoto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I tahun 2002
ISBN : 9796867672
Jumlah Halaman : 348

P.S : Btw, itu yang di Goodreads penerjemahnya salah tuh. Beda dengan info yang ada bukunya...

No comments:

Post a Comment

February 13, 2012

The Hobbit


Bilbo Baggin adalah seorang Hobbit dari keluarga terhormat yang tinggal di sebuah desa yang tentunya dihuni oleh para Hobbit. Bilbo adalah keturunan keluarga Took dan Baggin, keluarga terhormat di kalangan para Hobbit. Keluarga Took ini dikenal berperangai cukup aneh untuk para Hobbit. Keluarga Took gemar berpetualang, sesuatu hal yang dianggap tidak lazim dan aneh bagi para Hobbit. Sebagai pewaris darah keluarga Took, Bilbo juga memiliki hasrat petualang yang cukup tinggi. Hanya saja kesempatan tidak pernah datang kepadanya hingga suatu hari Gandalf, seorang penyihir baik, tiba-tiba datang ke rumahnya dan membawa rombongan sebanyak 13 orang kurcaci dan menawarkan sebuah petualangan yang akan merubah hidup Bilbo selama-lamanya.

Para kurcaci datang ke liang hobbit Bilbo yang nyaman karena mereka mau memulai petualangan mereka untuk mengambil harta karun mereka yang dirampas oleh naga jahat, Smaug. Karena 13 adalah angka sial, mereka mengajak Bilbo yang direkomendasikan oleh Gandalf sebagai seorang pencuri ulung. Padahal, seumur hidupnya Bilbo tidak pernah pergi dari liangnya, apalagi menjadi seorang pencuri. Lagipula, ia adalah seorang hobbit yang kaya raya, jadi ia tidak perlu mencuri untuk kelangsungan hidupnya.

Ketigabelas kurcaci dipimpin oleh Thorin Oakenshield, sang keturunan raja kurcaci, yang leluhurnya dulu hidup di Gunung Sunyi dengan aman dan tentram sebelum Smaug sang naga jahat merampasnya, bersama harta kekayaan mereka yang tak ternilai harganya. Thorin membawa 12 kurcaci lainnya, yaitu Balin, Dwalin, Fili, Kili, Dori, Nori, Ori, Oin, Gloin, Bifur, Bofur, dan Bombur. Meskipun ada  12 kurcaci lain, tapi yang paling sering muncul dalam cerita hanya beberapa saja, yaitu Balin, Fili, Kili, dan Bombur.

Bilbo menolak mentah-mentah tawaran mereka untuk pergi ke Gunung Sunyi, karena perjalanan mereka sangat berbahaya. Naluri hobbit Bilbo melarangnya untuk pergi meninggalkan liangnya yang hangat dan nyaman. Meskipun demikian, darah Took yang mengalir di dalam tubuhnya ternyata sangat kuat hingga akhirnya ia menerima tawaran mereka dan ikut bertualang bersama Gandalf dan para kurcaci.

Perjalanan ke Gunung Sunyi sangatlah berat. Mereka sempat ditawan troll, dikepung serigala jahat, bahkan hampir menjadi santapan goblin. Ketika mereka ditawan oleh goblin jahat, Bilbo menemukan cincin milik Gollum yang licik dan jahat. Sebuah cincin ajaib yang mampu membuatnya menghilang dan menyelamatkannya dari gua goblin. Sebuah cincin yang akhirnya menjadi awal petualangan bagi karya J.R.R Tolkien berikutnya, The Lord of The Rings.

Dengan cincinnya itu, Bilbo yang sempat diragukan kemampuannya oleh para kurcaci akhirnya menjadi dewa penyelamat mereka berkali-kali, mulai dari labah-labah raksasa yang mau memangsa mereka di Hutan Mirkwood, hingga ketika mereka ditawan oleh Peri Hutan. Bilbo memang "seorang" hobbit yang penuh keberuntungan. Ia juga sangat cerdas dan banyak akal, dibandingkan dengan para kurcaci yang tampaknya berpikiran pendek dan mudah tersinggung. Tetapi, sanggupkah keberuntungan dan akal cerdas Bilbo membawa mereka semua menghadapi Smaug, sang naga jahat yang juga tidak kalah cerdiknya dengan Bilbo? Sanggupkah para kurcaci ini mengembalikan kembali harta dan tahta mereka di Gunung Sunyi seperti yang terjadi ratusan tahun yang lalu?

Poster Filmnya. Masih akhir tahun ini. Huhuhu
Membaca "The Hobbit" membuat saya berkali-kali menahan napas dan bersorak. Saya juga membayangkan setiap jengkal dunia ajaib yang mereka lalui di novel ini.
Ceritanya sangat imaginatif dan petualagan-petualangan yang tersaji di dalam novel
ini sangatlah seru. Saya jadi merasa beruntung bisa membeli buku ini dengan sangat murah. Cukup dengan Rp 10.000,- sahaja. Membayangkan kalau novel ini akan difilmkan, pasti ke depannya akan sulit untuk dapat membeli buku ini dengan harga murah... ;p
Emosi saya juga naik turun ketika membaca novel ini. Endingnya pun penuh dengan kejutan, mulai dari yang menyenangkan, menyedihkan, hingga mengharukan. Saya jadi makin nggak sabar menanti versi layar lebar dari buku ini, yang katanya akan dirilis dalam dua bagian. Bagian pertama akan ditayangkan Desember 2012, sedangkan yang kedua tahun berikutnya. Huhuhuu... Masih lama banget yaa... Padahal saya udah nggak sabar pengen menyaksikan dunia ajaib si genius Mr. Tolkien yang dibawanya melalui buku ini.

13 ekor kurcaci yang melakukan petualangan mereka ke Gunung Sunyi bersama Bilbo (Pengen nontoonn >,<)



Sekarang, saya mau kasih liat trailernya film ini. Aduuhh!! Saya ga sabar pengen nontonn!! Kenapa harus Desember sih tayangnya?? >o<


Tentang Pengarang

John Ronald Reuel Tolkien (1892-1973) atau yang lebih kita kenal dengan J.R.R. Tolkien adalah seorang pengarang dan penyair terkenal Inggris. Selain itu, Mr. Tolkien ini juga seorang filolog dan profesor di Universitas Oxford lho, jadi nggak heran ya kalau dia bisa menghasilkan karya yang begitu mendalam seperti The Hobbit dan The Lord of The Rings. Di Oxford, ia menjadi profesor Anglo Saxon (yang dikenal sebagai Old English) dan profesor di bidang sastra. Dia ini bersahabat dengan C.S. Lewis, pengarang The Chronicle of Narnia yang terkenal itu.


Tolkien ini lahir di Afrika Selatan pada 3 Januari 1892 (Yah, saya kelewatan ultahnya Mbah Tolkien yang ke 110 tahun ini dong...) sebagai anak pertama dari dua bersaudara. Ketika ia berusia 3 tahun, keluarga ini pindah ke kampung halaman mereka di Inggris. Sayangnya, sang ayah sudah keburu meninggal sebelum sempat menyusul mereka. 9 tahun kemudian, sang ibu menyusul meninggalkan Tolkien dan adiknya, Hilary, karena penyakit diabetes. Setelah itu, Tolkien diasuh oleh pendeta di gereja Katolik Inggris.

Tolkien belajar bahasa dan kesusasteraan Inggris di Oxford, dan dia lulus dengan hasil yang sangat memuaskan. Jadi kagum sama J.R.R. Tolkien. Pinter banget ya, dia.

Ketika usia 16, Tolkien bertemu dengan Edith Mary Bratt, yang usianya tiga tahun lebih tua dari dia. Mereka menikah 5 tahun kemudian, ketika itu usia Tolkien 19 tahun. Ada yang menarik dari kisah cinta mereka. Edith ini seorang Protestan, karena itu Tolkien dilarang oleh bapak angkatnya untuk menemui Edith hingga usia Tolkien mencapai 21, meskipun mereka berdua saling mencintai.

Di hari ulang tahunnya yang ke-21, Tolkien menulis surat untuk Edith, yang berisi pernyataan cinta dan lamaran Tolkien kepada Edith. Edith sendiri saat itu sudah tunangan dengan orang lain, karena ia mengira Tolkien sudah tidak mencintainya lagi. Akhirnya, Edith membatalkan pertunangannya dan menikah dengan Tolkien.

Edith ini cantik lhoo.. Dan tampaknya Tolkien sangat mencintai istrinya ini. Beberapa karakter di karya-karya Tolkien seperti Arwen dan Lúthien, terinspirasi dari Edith ini. Lúthien adalah sosok setengah peri yang sangat cantik di karya Tolkien, The Silmarillion. Di cerita itu, Lúthien jatuh cinta dengan manusia fana bernama Beren (Lúthien imortal). Beren sendiri adalah sosok Tolkien. Ketika Edith meninggal, Tolkien mengukir nama Lúthien di nisannya. Tolkien menyusul Edith sekitar dua tahun kemudian, tepatnya pada 2 September 1973. Ia dikuburkan bersama istrinya, dan kalau di nisan Edith tertulis nama Lúthien, maka di nisannya sendiri tertulis nama Beren. How romantic... (,,,>____<,,,)


J.R.R. Tolkien di usia senja


Habis baca The Hobbit ini, saya jadi penasaran mau bener-bener baca The Lord of The Rings dari awal. Oh iya, ketika baca The Hobbit ini, orang-orang di sekeliling saya pada heran. Dikiranya saya lagi baca buku pelajaran, gara-gara sampul depannya yang berwarna hijau tua itu... (=___=") Kalo buku pelajaran di SMA dulu kayak gini sih, saya semangat ngikutin kali, ya. Hehehe

Oh iya, awalnya saya mengira kalau The Hobbit ini ditulis setelah TLOTR, tapi ternyata justru sebaliknya. The Hobbit adalah prequel dari TLOTR yang ditulis Tolkien di tahun 1937. Dulu ketika SMA, saya pernah ngintip baca punya teman saya. Tapi karena saya nggak ngerti, ga jadi saya pinjem deh. Ampun, itu bahasanya berat yaa.. Mana ceritanya kompleks pula. Tapi kalo sekarang, mungkin dengan sedikit usaha dan konsentrasi, saya bisa menyelesaikan baca. Saya kan udah tamat nonton semua filmnya, dan itu nggak henti-hentinya membuat saya terpukau. Jadi, saya mau menyelami cerita itu di dalam otak saya suatu hari nanti, dan membiarkan imajinasi saya merangkai sendiri jalinan-jalinan cerita itu.


Judul :The Hobbit
Penulis : J.R.R. Tolkien
Penerjemah : A. Adiwiyoto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I tahun 2002
ISBN : 9796867672
Jumlah Halaman : 348

P.S : Btw, itu yang di Goodreads penerjemahnya salah tuh. Beda dengan info yang ada bukunya...

No comments:

Post a Comment