February 26, 2012

A Study in Scarlet VS A Study in Pink

Penelusuran Benang Merah, atau "A Study in Scarlet" adalah seri pertama petualangan detektif rekaan Sir Arthur Conan Doyle yang sangat terkenal, Sherlock Holmes.
Sherlock Holmes adalah karakter detektif rekaan favorit saya dan saya sudah membaca sebagian besar karya Sir Arthur Conan Doyle yang bercerita tentang Sherlock ini. Awal kenalan saya dengan Sherlock adalah melalui "Detektif Conan" yang memang maniak Holmes. Saya pun penasaran dengan sosok detektif ini, lalu mulai membaca kisah tentang dirinya, dan... Jatuh Cinta.

Sayangnya, saya nggak membacanya secara runut. Kisah "Penelusuran Benang Merah" yang merupakan kisah debut Sherlock Holmes ini justru baru saya baca belakangan. Waktu SMA dulu, saya lebih banyak membaca kumpulan kasus Sherlock Holmes, yang kini bukunya semakin sulit ditemukan itu.


Serius deh, sekarang itu susah banget dapetin buku Sherlock Holmes. Memang, ada beberapa yang diterbitkan ulang, tetapi untuk cerita-cerita Holmes yang berdiri sendiri dalam bentuk novel seperti A Study in Scarlet, The Hound of the Baskervilles, atau The Valley of Fear, itu sulit banget didapatkan bukunya. Kalau The Sign of Four sih saya sudah punya, tapi saya tidak terlalu suka ceritanya. The Valley of Fear sudah pernah saya baca dulu dan saya sangat suka dengan ceritanya, meskipun sekarang sudah agak lupa. Hehehe.. Makanya saya mau baca ulang lagi.

Nah, Alhamdulillah waktu saya lagi jalan-jalan di internet, saya menemukan ebook-ebook yang berisi cerita-cerita Sherlock Holmes di atas! Wih, saya girang banget. Dengan penuh semangat saya unduh semuanya, saya simpan dengan deh di laptop saya.
 
Saya baru baca "Penelusuran Benang Merah" (A Study in Scarlet) kisah itu sekarang, setelah menonton film "Sherlock" yang dibuat oleh BBC pada 2010 lalu. Episode pertama dari drama ini  mengadaptasi karya Conan Doyle dengan judul "A Study in Pink".

Sebelum membahas tentang filmnya, saya akan membahas dulu tentang isi buku yang baru saya baca ini.

Cerita "Penelusuran Benang Merah" ini adalah kisah pertama Sherlock Holmes, seorang detektif yang katanya amatir, tapi sesungguhnya jauh lebih cerdas dibanding semua detektif polisi yang ada di London.

Di awal cerita, dikisahkan kalau Sherlock sedang mencari seorang teman untuk berbagi flat bersamanya, di 221B Baker Street. Kebetulan sekali salah seorang kenalan Sherlock menemukan dr. John Watson yang juga sedang mencari flat untuk tempat tinggal, karena dokter Watson yang baru saja pulang dari tugas militernya sudah tidak bisa tinggal di hotel lebih lama lagi.

Dokter Watson yang pensiun dini dari karirnya di kemiliteran karena cedera yang dialaminya, tidak kenal seorang pun di London. Ia tidak memiliki keluarga, dan sekarang sedang dalam krisis finansial, karena uang pensiunnya tidak akan cukup untuk menghidupinya jika ia tinggal di hotel terus menerus.

Beruntung ia bertemu dengan seorang kenalannya yang ternyata juga kenalan Sherlock Holmes. Singkat cerita, mereka pun berbagi flat tersebut dan mulai tinggal bersama.

Dokter Watson menyimpan rasa penasaran terhadap pekerjaan teman sekamarnya ini, tetapi ia menyimpannya sendiri. Terlihat jelas bahwa Sherlock Holmes adalah orang yang sangat cerdas dan juga cukup eksentrik dan nyentrik ini. Ia pandai bermain biola, meskipun tidak jarang juga ia menggesek biolanya secara sembarangan. Ia punya percaya diri yang tinggi dan pengetahuan yang mendalam di bidang dunia kejahatan dan kriminalitas, juga ilmu-ilmu yang menunjang hal itu, seperti anatomi dan kimia. Sedangkan pengetahuan di bidang lain seperti sastra, filosofi, dan politik nol besar.

Watson sempat terheran-heran dengan orang yang katanya pernah melakukan percobaan memukuli mayat hanya untuk melihat apakah bisa timbul memar pada mayat. Ia juga heran karena Holmes tidak tahu sama sekali soal Teori Copernicus dan komposisi tata surya.

"... Holmes sama sekali tak tahu apa-apa tentang karya-karya sastra kontemporer, filosofi, dan politik. Saat aku mengutip pendapat Thomas Carlyle, dengan naif Holmes bertanya siapa orang itu dan kejahatan apa yang dilakukannya. Keherananku mencapai puncak sewaktu tanpa sengaja kuketahui bahwa Holmes tidak mengerti Teori Copernicus dan komsosisi Tata Surya. Bahwa ada manusia beradab di abad kesembilan bela ini yang tidak menyadari bahwa bumi mengitari matahari, bagiku merupakan fakta yang begitu luar biasa hingga aku hampir-hampir tidak mempercayainya."

Begitu ungkap dokter Watson, ketika menjelaskan tentang sifat unik teman sekamarnya. Holmes hanya menjawabnya dengan santai seperti di bawah ini.
    "Kau kaget, ya," kata Holmes, tersenyum melihat ekspresi wajahku. "Sekarang aku sudah tahu teori-teori itu, tapi aku harus berusaha sebaik-baiknya untuk melupakannya."
    "Melupakannya!"
    "Begini," katanya menjelaskan, "otak manusia pada awalnya sama seperti loteng kecil yang kosong, dan kau harus mengisinya dengan perabot yang sesuai dengan pilihanmu. Orang bodoh mengambil semua informasi yang ditemuinya, sehingga pengetahuan yang mungkin berguna baginya terjepit di tengah-tengah atau tercampur dengan hal-hal lain. Orang bijak sebaliknya. Dengan hati-hati ia memilih apa yang dimasukkannya ke dalam loteng otaknya. Ia tidak akan memasukkan apa pun kecuali peralatan yang akan membantunya dalam melakuan pekerjaannya, sebab peralatan ini saja sudah sangat banyak. Semuanya itu diatur rapi dalam loteng-otaknya sehingga ketika diperlukan, ia dapat dengan mudah menemukannya. Keliru kalau kau pikir loteng-otak kita memiliki dinding-dinding yang bisa membesar. Untuk setiap pengetahuan yang kau masukkan, ada sesuatu yang kau ketahui yang terpaksa kau lupakan. Oleh karena itu penting sekali untuk tidak membiarkan fakta yang tidak berguna menyingkirkan fakta yang berguna."
    "Tapi Tata Surya!" kataku memprotes.
    "Apa gunanya bagiku?" tukas Holes tak sabar. "Kalaupun bumi bergerak mengitari bulan, itu tidak akan mempengaruhi pekerjaanku!"

Nah, kan. Terlihat betapa eksentriknya pikiran Sherlock Holmes yang membuat teman sekamarnya hanya bisa terdiam takjub.

Yang menarik dari Holmes adalah kemampuannya untuk menganalisis seseorang hanya dari penampilannya. Dia bisa tahu bahwa Watson adalah seorang mantan dokter militer di Afghanistan hanya dengan sekali lihat. Itu karena ilmu Deduksi dan Analisis yang ditemukan olehnya. Fakta-fakta dalam diri seseorang yang seringkali luput dalam pandangan kita, justru menjadi dasar baginya dalam mengetahui latar belakang orang itu.

Holmes juga sering menulis untuk surat kabar, dan dia pernah menulis tentang "Deduksi dan Analisis" dan "tanpa sengaja" membuat Watson membacanya. Dokter tersebut tidak percaya dan menyumpah-nyumpah sang penulis yang tanpa ia ketahui adalah teman sekamarnya sendiri! Aha! Tapi, tanpa sangka persahabatan mereka justru dimulai dari situ.

Holmes yang sangat cerdas dan seringkali terdengar sombong ketika berbicara, ternyata sangat peka terhadap pujian tulus yang disampaikan oleh dokter Watson. Lucu sekali ketika membayangkan Sherlock Holmes yang tersenyum simpul ketika mendengar dokter John Watson memberikan pujian ketika Holmes dengan mudahnya menebak pekerjaan seseorang dalam sekali lihat. Hahaha

Kasus pertama yang melibatkan Watson adalah kasus "Penelusuran Benang Merah", sebuah kasus kejahatan yang awalnya terlihat seperti kasus bunuh diri biasa.

Seorang pria ditemukan tewas di sebuah rumah kosong tanpa luka apapun di sekujur tubuhnya. Dalam sekali lihat, Holmes tahu bahwa pria tersebut mati dengan racun. Pria tesebut, Enoch J. Drebber, meninggal dengan raut wajah mengerikan. Raut wajahnya menyiratkan kengerian dan juga kebencian yang luar biasa. Tak jauh dari mayat, terdapat sebuah tulisan di dinding bertintakan darah, tertulis sebuah kata, "RACHE".

Awalnya, Inspektur Lestrade yang selanjutnya akan sering kita temui dalam kisah Sherlock, dengan bangga mengatakan bahwa pembunuhan tersebut pasti ada hubungannya dengan seorang perempuan bernama Rachel. Tetapi Sherlock, dengan santainya membeberkan berbagai fakta tentang si pelaku, mulai dari mereka yang datang ke tempat itu melalui kereta kuda, hingga ciri-ciri si pelaku, tingginya, dan bahkan jenis tembakau yang dihisapnya! Sherlock lalu meninggalkan tempat itu dan berkata dengan tenang bahwa Inspektur Lestrade tak perlu repot-repot mencari perempuan bernama Rachel, karena "Rache" adalah bahasa Jerman yang berarti, Pembalasan.

Sherlock Holmes dengan caranya sendiri berhasil mengetahui nama si pelaku. Ia juga berhasil memancing pelaku untuk datang menemuinya, melalui cincin emas yang ditemukan di dekat tubuh korban. Tetapi,  Holmes terkecoh, karena si pelaku adalah orang yang sangat cerdik. Ia berhasil lolos dari kejaran Holmes dan menghilang bagaikan kabut yang menyelimuti kota London.

Sementara itu, Gregson, detektif polisi lainnya yang bersaing dengan inspektur Lestrade, menemui Holmes untuk memberikan kabar baik. Ia telah menangkap si pembunuh, seorang pria muda dari Angkatan Laut. Pria ini dijadikan tersangka karena terlibat perkelahian dengan Drebber sebelumnya. Dia sangat bangga dan bahkan menertawakan Lestrade yang mencari orang yang salah. Lestrade mengejar Stangerson, sekretaris pribadi Drebber yang menghilang setelah kejadian. Setelah Gregson menceritakan keberhasilannya, Lestrade ternyata mendatangi Sherlock Holmes di rumahnya dan memberitahu kabar yang sangat mengejutkan. Stangerson ditemukan mati di dalam kamar hotel.

Kematian Stangerson membuat penyidikan mereka mengalami jalan buntu, karena tidak mungkin tersangka yang ditangkap oleh Gregson ini membunuh Stangerson juga. Stangerson ditemukan dalam keadaan tewas pagi itu, sementara tersangka ini sudah ditangkap sebelumnya. Holmes tetap bersikap tenang dan menunjukkan mereka kepada mereka sebuah trik yang mampu membawa sang penjahat sesungguhnya datang sendiri menemui mereka...

Cerita "A Study in Scarlet" ini sebenarnya terbagi jadi dua bagian. Yang pertama berfokus di masa sekarang, dimulai dari pembunuhan hingga tertangkapnya pelaku. Sedangkan bagian kedua berisi latar belakang si pelaku melakukan pembunuhan itu.

Saya sebenarnya gatel banget pengen ceritain bagian kedua dari buku ini juga. Tapi, itu nggak mungkin tanpa memberitahukan identitas si pelaku yang sudah diungkapkan terlebih dahulu di bagian pertama.

Latar belakang pembunuhan itu didasari oleh pembalasan dendam. Oh ya, saya lupa cerita kalau dua orang yang tewas ini bukanlah orang Inggris. Mereka adalah orang Amerika yang sedang melakukan perjalanan bisnis ke London. Jadi, ya, pembunuhnya adalah seseorang dari masa lalu mereka. Masa lalu yang melibatkan kisah cinta, sebuah sekte agama aneh yang sering kali 'menghabisi' orang-orang yang dianggap membangkang sekte, dan yang pasti pembalasan dendam.

Cerita di bagian keduanya sangat sedih dan menyentuh. Pokoknya penuh kisah drama khas Amerika di akhir tahun 1800-an dengan nuansa koboinya. Seorang lelaki tua dan anak gadisnya yang pernah mengalami sebuah kondisi di antara hidup dan mati mewarnai kisah ini. Aduh, tampaknya saya harus berhenti di sini sebelum saya membeberkan seluruh kisahnya dan mengurangi nilai misterius kisah ini.

Seperti yang saya bilang di atas, saya jadi terdorong untuk membaca "A Study in Scarlet" alias "Penelusuran Benang Merah" setelah saya menonton Sherlock versi BBC episode pertama yang berjudul "A Study in Pink". Saya ini penggemar Sherlock Holmes, tapi saya tidak terlalu suka dengan versi-versi adaptasinya. Saya tidak pernah membaca novel-novel yang berasal dari adapatsi Sherlock, ataupun menonton filmnya.

Apalagi versi Hollywood dari Sherlock Holmes. Beh! Saya nggak tertarik sama sekali. Saya pernah nonton secuil film pertama Sherlock yang dibintangi oleh Robert Downey, Jr. itu dan saya langsung kecewa. K.E.C.E.W.A

Kenapa? Pertama, jelas-jelas Sherlock ini orang Inggris, kok bisa-bisanya diperankan oleh orang Amerika dengan aksennya itu. Itu saja sudah mengotori minat saya menontonnya. Kedua, gambaran Sherlocknya beda sekali dengan yang ada di benak sayaaaa!!!!!!

Dari berbagai buku Sherlock Holmes yang sudah saya baca, saya mendapat gambaran kalau Sherlock itu adalah seorang yang tinggi, jangkung, dan kurus dengan hidung mancungnya yang agak bengkok. Dia juga berpenampilan tenang dan tegas, meskipun punya selera humor kering yang agak lumayan. Nah, si Sherlock Hollywood ini kan nggak mendekati dengan versi Sherlock seperti itu. Bagi saya, Sherlock ini justru tampak seperti om-om usil dengan tatapan isengnya. Jadi, begitu teman saya mengajak saya menonton Sherlock Holmes yang kedua akhir tahun lalu, saya langsung menolak mentah-mentah dan mengatakan kalau saya tidak tertarik sama sekali.

Sampai akhirnya teman saya ini, yang juga suka sama Sherlock Holmes, memperkenalkan saya dengan "Sherlock" yang diputar oleh BBC. Awalnya saya agak skeptis dan berpikir kalau saya mungkin nggak akan suka dengan versi ini juga. Dan ternyata saya benar! Saya memang nggak suka. Tapi SUKA BANGETTTT!!!! Hahahaha



Pertama, karena pemainnya adalah orang-orang Inggris asli, jelas-jelas mereka pasti pakai British Accent yang elegan itu. Kedua, begitu saya lihat yang jadi Sherlocknya, saya langsung berseru, "Aha! Emang begini nih Sherlock Holmes seharusnya!"

Mulai dari fisik dan sifatnya cocok sekali dengan gambaran saya. Sherlock yang ini jangkung banget, dan juga ganteng banget... #eh? xp Sifat-sifatnya yang cuek beibeh dan otaknya yang nyentrik itu pun sama. Begitupun dengan sikap pura-pura nggak tau tapi senengnya ketika dokter Watson memujinya. Sifat sombongnya yang suka ngeremehin orang itu juga sangat terpancar. Pokoknya, saya suka banget deh dengan British Sherlock ini. Kyaa!!! (,,>_____<,,)

Dan, siapakah pemeran Sherlock versi BBC itu? Dia adalah Benedict Cumberbatch yang baru berusia 35 tahun. Om Ben adalah aktor Inggris yang sering muncul di film-film produksi Inggris dan juga seorang pemain teater. Dia pernah bermain di Atonement bersama Keira Knightley, tapi bukan sebagai pemeran utama pria. Di sana ia justru berperan sebagai pemain antagonis. Oh, dia juga pernah berperan sebagai Stephen Hawking, ilmuwan yang sangat terkenal itu, lagi-lagi dalam drama BBC.

Hhhmmm, tampaknya si Om Ben ini seringkali berperan sebagai orang-orang yang
Benedict Cumberbatch, Sherlock abad 21
cerdas deh. Dia juga sering berperan sebagai orang antagonis. Oh iya, dia pun akan ambil bagian dalam film yang paling saya tunggu tahun ini, The Hobbit. Martin Freeman, teman main Om Ben di Sherlock yang berperan sebagai Dokter Watson juga akan main di sini. Tapi, mereka nggak akan jadi kolega di The Hobbit, karena di sini Om Ben akan jadi Smaug, si naga jahat yang jadi pemeran antagonis di film ini. ih, suaranya om Ben yang bariton itu memang cocok banget. Apalagi Smaug si naga jahat ini juga sebenarnya cerdas banget, meskipun sombong. Sedangkan Martin Freeman akan menjadi Bilbo Baggins, sang hero pemeran utama di The Hobbit. Pokoknya, can't wait to see the movie!! (>v<)

Oh iya, awalnya saya membayangkan akan ditarik masuk ke Inggris di akhir tahun 1800-an. Tapi, ternyata saya salah. Karena latar cerita Sherlock BBC ini justru adalah dunia kontemporer. Yep, ini adalah Sherlock modern yang sudah tidak menggunakan kereta kuda dan telegram lagi, tetapi menggunakan taksi dan i-phone. Juga peralatan-peralatan modern lainnya.

Kalau di versi aslinya John Watson senang menulis dan mengumpulkan kasus-kasus unik yang telah ditangani oleh Holmes, maka di sinipun ia masih tetap sama. Hanya saja, Dokter Watson bukan dalam bentuk catatan harian, tetapi blog! Weits, nggak hanya Watson saja. Holmes pun punya website pribadi tempat ia menuliskan tentang pikirannya itu, yaitu "The Science of Deduction". Uniknya lagi, BBC benar-benar membuat dua blog itu dengan masing-masing John Watson dan Sherlock Holmes sebagai penulisnya!!

Meskipun dengan berbagai gadget canggih ala masa kini, ia tetap Sherlock yang sama dengan pikirannya yang eksentrik. Yang peka terhadap perubahan tetapi cuek sama perasaan manusia. Yang suka berkutat di laboratorium dan masih suka memukuli mayat untuk lihat reaksi setelahnya. Bahkan juga menjadikan pisau kecilnya sebagai pembatas buku!!!!

Sayangnya, Sherlock BBC ini hanya 3 episode saja di Season pertama, dan 3 episode lagi di season berikutnya. Saya sendiri sebenarnya baru nonton episode satu di season pertama, tapi saya sudah jatuh cinta dan mau nonton semuanya!!!

Dari segi cerita, "A Study in Pink" cukup berbeda dengan "A Study in Scarlet" meskipun ada beberapa fakta yang sama, seperti nama lokasi dan beberapa detail pertemuan awal Holmes dan Watson. Di episode pertama Sherlock BBC ini, kepolisian Scotland Yard dihadapkan pada empat kasus "bunuh diri" misterius yang telah menelan empat nyawa. Tidak ditemukan tanda kekerasan atau tikaman benda tajam di tubuh keempat korban. Juga mereka berempat tidak memiliki tanda pengenal seperti KTP, SIM, dsb. Mereka menghilang begitu saja dan ditemukan tewas tanpa ada yang tahu siapa mereka dan bagaimana mereka bisa ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa.

Lagi-lagi Holmes bisa menebak mengenai Watson hanya dengan sekali lihat, seperti misalnya fakta bahwa dia baru pulang dari Afghanistan. Ia bahkan bisa mengetahui "kakak laki-laki" Watson yang kaya raya dan sekarang sedang membantu Watson yang sedang dalam kesulitan finansial. Lucu sekali ketika mereka share flat mereka di 221B, Baker Street, Mrs. Hudson (induk semangnya) berpikiran kalau Watson adalah "pasangan" Holmes. Begitu juga ketika Holmes sedang menguntit pelaku pembunuhan berantai itu (yang adalah pembunuh berdarah dingin) di sebuah restoran Italia milik teman Holmes. Sang pemilik restoran yang dulu pernah ditolong oleh Holmes juga mengira bahwa Watson adalah teman kencan Holmes yang langsung ditolak tegas oleh Watson, "I'M NOT HIS DATE!" xDD

Di episode pertama ini Watson terlihat depresi, mengingat trauma yang ia hadapi di peperangan. Ia juga berjalan pincang dan harus menggunakan tongkat karena cedera yang ia alami. Persahabatan mereka berlangsung secara pelan tapi pasti. Holmes, si asosial itu ternyata bisa cocok dengan Watson, seorang mantan dokter militer Angkatan Darat yang mampu melihat Holmes lebih dari orang lain. Yang jelas, seru banget deh versi pertamanya ini. Meskipun Holmes terlihat lebih manusiawi dan melakukan sebuah kesalahan fatal di sini. Kesalahan yang justru membuatnya semakin dekat dengan Dokter Watson. Pokoknya, saya wajib harus nonton semuanyaaa!!! \(^o^)/

Nah, terakhir saya punya satu pesan untuk Gramedia. Tolong dong terbitin lagi itu versi lengkapnya Sherlock Holmes. Sekarang susah buanget nyarinya. Saya mau ngumpulin nih... Huhuhu


Judul : Penelusuran Benang Merah
Judul Asli : A Study in Scarlet
Penulis : Sir Arthur Conan Doyle
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah : B. Sendra Tanuwidjaja
Versi : Ebook
Pertama Terbit : 1887

4 comments:

  1. mksh ...! saia juga suka sma sherlock gra" bca detektif conan ... trus coba" liat eh ..ternyta 'jtuh cinta' jga sma sherlock

    ReplyDelete
  2. sherlock holmes (detektif conan jga)!!!I LOVE U ALL

    ReplyDelete
    Replies
    1. (>v<)

      Forever Sherlockian~ <3

      Delete
  3. Aq jga suka banget sma sherlock gr2 baca conan trus,trbyata lbh keren drpd d ceritakan conan aka shinichi :D

    ReplyDelete

February 26, 2012

A Study in Scarlet VS A Study in Pink

Penelusuran Benang Merah, atau "A Study in Scarlet" adalah seri pertama petualangan detektif rekaan Sir Arthur Conan Doyle yang sangat terkenal, Sherlock Holmes.
Sherlock Holmes adalah karakter detektif rekaan favorit saya dan saya sudah membaca sebagian besar karya Sir Arthur Conan Doyle yang bercerita tentang Sherlock ini. Awal kenalan saya dengan Sherlock adalah melalui "Detektif Conan" yang memang maniak Holmes. Saya pun penasaran dengan sosok detektif ini, lalu mulai membaca kisah tentang dirinya, dan... Jatuh Cinta.

Sayangnya, saya nggak membacanya secara runut. Kisah "Penelusuran Benang Merah" yang merupakan kisah debut Sherlock Holmes ini justru baru saya baca belakangan. Waktu SMA dulu, saya lebih banyak membaca kumpulan kasus Sherlock Holmes, yang kini bukunya semakin sulit ditemukan itu.


Serius deh, sekarang itu susah banget dapetin buku Sherlock Holmes. Memang, ada beberapa yang diterbitkan ulang, tetapi untuk cerita-cerita Holmes yang berdiri sendiri dalam bentuk novel seperti A Study in Scarlet, The Hound of the Baskervilles, atau The Valley of Fear, itu sulit banget didapatkan bukunya. Kalau The Sign of Four sih saya sudah punya, tapi saya tidak terlalu suka ceritanya. The Valley of Fear sudah pernah saya baca dulu dan saya sangat suka dengan ceritanya, meskipun sekarang sudah agak lupa. Hehehe.. Makanya saya mau baca ulang lagi.

Nah, Alhamdulillah waktu saya lagi jalan-jalan di internet, saya menemukan ebook-ebook yang berisi cerita-cerita Sherlock Holmes di atas! Wih, saya girang banget. Dengan penuh semangat saya unduh semuanya, saya simpan dengan deh di laptop saya.
 
Saya baru baca "Penelusuran Benang Merah" (A Study in Scarlet) kisah itu sekarang, setelah menonton film "Sherlock" yang dibuat oleh BBC pada 2010 lalu. Episode pertama dari drama ini  mengadaptasi karya Conan Doyle dengan judul "A Study in Pink".

Sebelum membahas tentang filmnya, saya akan membahas dulu tentang isi buku yang baru saya baca ini.

Cerita "Penelusuran Benang Merah" ini adalah kisah pertama Sherlock Holmes, seorang detektif yang katanya amatir, tapi sesungguhnya jauh lebih cerdas dibanding semua detektif polisi yang ada di London.

Di awal cerita, dikisahkan kalau Sherlock sedang mencari seorang teman untuk berbagi flat bersamanya, di 221B Baker Street. Kebetulan sekali salah seorang kenalan Sherlock menemukan dr. John Watson yang juga sedang mencari flat untuk tempat tinggal, karena dokter Watson yang baru saja pulang dari tugas militernya sudah tidak bisa tinggal di hotel lebih lama lagi.

Dokter Watson yang pensiun dini dari karirnya di kemiliteran karena cedera yang dialaminya, tidak kenal seorang pun di London. Ia tidak memiliki keluarga, dan sekarang sedang dalam krisis finansial, karena uang pensiunnya tidak akan cukup untuk menghidupinya jika ia tinggal di hotel terus menerus.

Beruntung ia bertemu dengan seorang kenalannya yang ternyata juga kenalan Sherlock Holmes. Singkat cerita, mereka pun berbagi flat tersebut dan mulai tinggal bersama.

Dokter Watson menyimpan rasa penasaran terhadap pekerjaan teman sekamarnya ini, tetapi ia menyimpannya sendiri. Terlihat jelas bahwa Sherlock Holmes adalah orang yang sangat cerdas dan juga cukup eksentrik dan nyentrik ini. Ia pandai bermain biola, meskipun tidak jarang juga ia menggesek biolanya secara sembarangan. Ia punya percaya diri yang tinggi dan pengetahuan yang mendalam di bidang dunia kejahatan dan kriminalitas, juga ilmu-ilmu yang menunjang hal itu, seperti anatomi dan kimia. Sedangkan pengetahuan di bidang lain seperti sastra, filosofi, dan politik nol besar.

Watson sempat terheran-heran dengan orang yang katanya pernah melakukan percobaan memukuli mayat hanya untuk melihat apakah bisa timbul memar pada mayat. Ia juga heran karena Holmes tidak tahu sama sekali soal Teori Copernicus dan komposisi tata surya.

"... Holmes sama sekali tak tahu apa-apa tentang karya-karya sastra kontemporer, filosofi, dan politik. Saat aku mengutip pendapat Thomas Carlyle, dengan naif Holmes bertanya siapa orang itu dan kejahatan apa yang dilakukannya. Keherananku mencapai puncak sewaktu tanpa sengaja kuketahui bahwa Holmes tidak mengerti Teori Copernicus dan komsosisi Tata Surya. Bahwa ada manusia beradab di abad kesembilan bela ini yang tidak menyadari bahwa bumi mengitari matahari, bagiku merupakan fakta yang begitu luar biasa hingga aku hampir-hampir tidak mempercayainya."

Begitu ungkap dokter Watson, ketika menjelaskan tentang sifat unik teman sekamarnya. Holmes hanya menjawabnya dengan santai seperti di bawah ini.
    "Kau kaget, ya," kata Holmes, tersenyum melihat ekspresi wajahku. "Sekarang aku sudah tahu teori-teori itu, tapi aku harus berusaha sebaik-baiknya untuk melupakannya."
    "Melupakannya!"
    "Begini," katanya menjelaskan, "otak manusia pada awalnya sama seperti loteng kecil yang kosong, dan kau harus mengisinya dengan perabot yang sesuai dengan pilihanmu. Orang bodoh mengambil semua informasi yang ditemuinya, sehingga pengetahuan yang mungkin berguna baginya terjepit di tengah-tengah atau tercampur dengan hal-hal lain. Orang bijak sebaliknya. Dengan hati-hati ia memilih apa yang dimasukkannya ke dalam loteng otaknya. Ia tidak akan memasukkan apa pun kecuali peralatan yang akan membantunya dalam melakuan pekerjaannya, sebab peralatan ini saja sudah sangat banyak. Semuanya itu diatur rapi dalam loteng-otaknya sehingga ketika diperlukan, ia dapat dengan mudah menemukannya. Keliru kalau kau pikir loteng-otak kita memiliki dinding-dinding yang bisa membesar. Untuk setiap pengetahuan yang kau masukkan, ada sesuatu yang kau ketahui yang terpaksa kau lupakan. Oleh karena itu penting sekali untuk tidak membiarkan fakta yang tidak berguna menyingkirkan fakta yang berguna."
    "Tapi Tata Surya!" kataku memprotes.
    "Apa gunanya bagiku?" tukas Holes tak sabar. "Kalaupun bumi bergerak mengitari bulan, itu tidak akan mempengaruhi pekerjaanku!"

Nah, kan. Terlihat betapa eksentriknya pikiran Sherlock Holmes yang membuat teman sekamarnya hanya bisa terdiam takjub.

Yang menarik dari Holmes adalah kemampuannya untuk menganalisis seseorang hanya dari penampilannya. Dia bisa tahu bahwa Watson adalah seorang mantan dokter militer di Afghanistan hanya dengan sekali lihat. Itu karena ilmu Deduksi dan Analisis yang ditemukan olehnya. Fakta-fakta dalam diri seseorang yang seringkali luput dalam pandangan kita, justru menjadi dasar baginya dalam mengetahui latar belakang orang itu.

Holmes juga sering menulis untuk surat kabar, dan dia pernah menulis tentang "Deduksi dan Analisis" dan "tanpa sengaja" membuat Watson membacanya. Dokter tersebut tidak percaya dan menyumpah-nyumpah sang penulis yang tanpa ia ketahui adalah teman sekamarnya sendiri! Aha! Tapi, tanpa sangka persahabatan mereka justru dimulai dari situ.

Holmes yang sangat cerdas dan seringkali terdengar sombong ketika berbicara, ternyata sangat peka terhadap pujian tulus yang disampaikan oleh dokter Watson. Lucu sekali ketika membayangkan Sherlock Holmes yang tersenyum simpul ketika mendengar dokter John Watson memberikan pujian ketika Holmes dengan mudahnya menebak pekerjaan seseorang dalam sekali lihat. Hahaha

Kasus pertama yang melibatkan Watson adalah kasus "Penelusuran Benang Merah", sebuah kasus kejahatan yang awalnya terlihat seperti kasus bunuh diri biasa.

Seorang pria ditemukan tewas di sebuah rumah kosong tanpa luka apapun di sekujur tubuhnya. Dalam sekali lihat, Holmes tahu bahwa pria tersebut mati dengan racun. Pria tesebut, Enoch J. Drebber, meninggal dengan raut wajah mengerikan. Raut wajahnya menyiratkan kengerian dan juga kebencian yang luar biasa. Tak jauh dari mayat, terdapat sebuah tulisan di dinding bertintakan darah, tertulis sebuah kata, "RACHE".

Awalnya, Inspektur Lestrade yang selanjutnya akan sering kita temui dalam kisah Sherlock, dengan bangga mengatakan bahwa pembunuhan tersebut pasti ada hubungannya dengan seorang perempuan bernama Rachel. Tetapi Sherlock, dengan santainya membeberkan berbagai fakta tentang si pelaku, mulai dari mereka yang datang ke tempat itu melalui kereta kuda, hingga ciri-ciri si pelaku, tingginya, dan bahkan jenis tembakau yang dihisapnya! Sherlock lalu meninggalkan tempat itu dan berkata dengan tenang bahwa Inspektur Lestrade tak perlu repot-repot mencari perempuan bernama Rachel, karena "Rache" adalah bahasa Jerman yang berarti, Pembalasan.

Sherlock Holmes dengan caranya sendiri berhasil mengetahui nama si pelaku. Ia juga berhasil memancing pelaku untuk datang menemuinya, melalui cincin emas yang ditemukan di dekat tubuh korban. Tetapi,  Holmes terkecoh, karena si pelaku adalah orang yang sangat cerdik. Ia berhasil lolos dari kejaran Holmes dan menghilang bagaikan kabut yang menyelimuti kota London.

Sementara itu, Gregson, detektif polisi lainnya yang bersaing dengan inspektur Lestrade, menemui Holmes untuk memberikan kabar baik. Ia telah menangkap si pembunuh, seorang pria muda dari Angkatan Laut. Pria ini dijadikan tersangka karena terlibat perkelahian dengan Drebber sebelumnya. Dia sangat bangga dan bahkan menertawakan Lestrade yang mencari orang yang salah. Lestrade mengejar Stangerson, sekretaris pribadi Drebber yang menghilang setelah kejadian. Setelah Gregson menceritakan keberhasilannya, Lestrade ternyata mendatangi Sherlock Holmes di rumahnya dan memberitahu kabar yang sangat mengejutkan. Stangerson ditemukan mati di dalam kamar hotel.

Kematian Stangerson membuat penyidikan mereka mengalami jalan buntu, karena tidak mungkin tersangka yang ditangkap oleh Gregson ini membunuh Stangerson juga. Stangerson ditemukan dalam keadaan tewas pagi itu, sementara tersangka ini sudah ditangkap sebelumnya. Holmes tetap bersikap tenang dan menunjukkan mereka kepada mereka sebuah trik yang mampu membawa sang penjahat sesungguhnya datang sendiri menemui mereka...

Cerita "A Study in Scarlet" ini sebenarnya terbagi jadi dua bagian. Yang pertama berfokus di masa sekarang, dimulai dari pembunuhan hingga tertangkapnya pelaku. Sedangkan bagian kedua berisi latar belakang si pelaku melakukan pembunuhan itu.

Saya sebenarnya gatel banget pengen ceritain bagian kedua dari buku ini juga. Tapi, itu nggak mungkin tanpa memberitahukan identitas si pelaku yang sudah diungkapkan terlebih dahulu di bagian pertama.

Latar belakang pembunuhan itu didasari oleh pembalasan dendam. Oh ya, saya lupa cerita kalau dua orang yang tewas ini bukanlah orang Inggris. Mereka adalah orang Amerika yang sedang melakukan perjalanan bisnis ke London. Jadi, ya, pembunuhnya adalah seseorang dari masa lalu mereka. Masa lalu yang melibatkan kisah cinta, sebuah sekte agama aneh yang sering kali 'menghabisi' orang-orang yang dianggap membangkang sekte, dan yang pasti pembalasan dendam.

Cerita di bagian keduanya sangat sedih dan menyentuh. Pokoknya penuh kisah drama khas Amerika di akhir tahun 1800-an dengan nuansa koboinya. Seorang lelaki tua dan anak gadisnya yang pernah mengalami sebuah kondisi di antara hidup dan mati mewarnai kisah ini. Aduh, tampaknya saya harus berhenti di sini sebelum saya membeberkan seluruh kisahnya dan mengurangi nilai misterius kisah ini.

Seperti yang saya bilang di atas, saya jadi terdorong untuk membaca "A Study in Scarlet" alias "Penelusuran Benang Merah" setelah saya menonton Sherlock versi BBC episode pertama yang berjudul "A Study in Pink". Saya ini penggemar Sherlock Holmes, tapi saya tidak terlalu suka dengan versi-versi adaptasinya. Saya tidak pernah membaca novel-novel yang berasal dari adapatsi Sherlock, ataupun menonton filmnya.

Apalagi versi Hollywood dari Sherlock Holmes. Beh! Saya nggak tertarik sama sekali. Saya pernah nonton secuil film pertama Sherlock yang dibintangi oleh Robert Downey, Jr. itu dan saya langsung kecewa. K.E.C.E.W.A

Kenapa? Pertama, jelas-jelas Sherlock ini orang Inggris, kok bisa-bisanya diperankan oleh orang Amerika dengan aksennya itu. Itu saja sudah mengotori minat saya menontonnya. Kedua, gambaran Sherlocknya beda sekali dengan yang ada di benak sayaaaa!!!!!!

Dari berbagai buku Sherlock Holmes yang sudah saya baca, saya mendapat gambaran kalau Sherlock itu adalah seorang yang tinggi, jangkung, dan kurus dengan hidung mancungnya yang agak bengkok. Dia juga berpenampilan tenang dan tegas, meskipun punya selera humor kering yang agak lumayan. Nah, si Sherlock Hollywood ini kan nggak mendekati dengan versi Sherlock seperti itu. Bagi saya, Sherlock ini justru tampak seperti om-om usil dengan tatapan isengnya. Jadi, begitu teman saya mengajak saya menonton Sherlock Holmes yang kedua akhir tahun lalu, saya langsung menolak mentah-mentah dan mengatakan kalau saya tidak tertarik sama sekali.

Sampai akhirnya teman saya ini, yang juga suka sama Sherlock Holmes, memperkenalkan saya dengan "Sherlock" yang diputar oleh BBC. Awalnya saya agak skeptis dan berpikir kalau saya mungkin nggak akan suka dengan versi ini juga. Dan ternyata saya benar! Saya memang nggak suka. Tapi SUKA BANGETTTT!!!! Hahahaha