February 12, 2012

A Walk to Remember


Alhamdulillah akhirnya saya dapat ebook "A Walk To Remember", setelah ngubek-ngubek ke penjuru internet. Thanks to SOPA dan PIPA, saya jadi makin susah donlot karena Megaupload udah di banned sekarang... =____="

Saya udah lama banget nyari buku ini, tapi tampaknya udah nggak mungkin lagi dapat salinan bahasa Indonesia, karena Gramedia kayaknya nggak berminat untuk mencetak ulang buku yang satu ini. Padahal saya pengen banget beli. Saya jadi nyesel dulu pas SMA dipinjemin buku ini sama temen saya tapi nggak saya baca, karena tampaknya kurang menarik. Meskipun saat itu pun saya udah suka banget sama judulnya... A WALK TO REMEMBER

Yang belum pernah tahu tentang A Walk To Remember, ati-ati SPOILER.

Saya mau menyoroti dari perbedaan dengan filmnya aja deh. Soalnya sejujurnya saya agak-agak kecewa setelah baca novelnya. Kayaknya saya lebih suka filmnya, yang diperanin sama Shane West dan Mandy Moore itu. Hubungan antara Landon dan Jamie jauh lebih hidup di dalam filmnya, ketimbang di novel yang menurut saya agak monoton.



Landon di film adalah anak berandalan korban broken home karena ayahnya bercerai dengan ibunya. Di film, ayah Landon adalah seorang dokter spesialis jantung, sementara di novel adalah seorang anggota DPRD (bener nggak nih congressman diartiinnya begini? Si Landon jadi kayak tetangga saya aja kalo gitu... xp #lebay). Landon versi film itu badung banget. Jago boong, pinter acting, sotoy pula. Pokoknya sengak deh. Sementara Landon di novel nggak bandel-bandel amat. Kenakalannya paling "cuma" suka nongkrong di kuburan sama sahabatnya, "Eric", terus ngerebus kacang di sana (sekarang Landon jadi kayak Rangga AADC yang doyan makan kacang rebus.. #eh?).

Di novel, saya mendapat kesan kalau Landon itu baik banget, dan nggak terlalu "mean" ke Jamie, di awal-awal pertemuan mereka. Landon bahkan menerima permintaan Jamie untuk berperan di drama Natal sekolahnya, meskipun setengah terpaksa. Sesuatu hal yang saya yakin bakal ditolak mentah-mentah oleh Landon di film. Kalo saya sih, lebih suka dengan Landon versi film. Lebih hidup.

Katanya sih ya, Landon versi film itu memang sengaja dibuat lebih nakal, karena apa dianggap nakal oleh remaja di tahun 1958 berbeda dengan yang dianggap nakal oleh remaja tahun 1999. Yah, memang benar sih. Yang dilakukan Landon jaman dulu itu belum termasuk nakal, karena nggak sampe dikejar-kejar polisi bahkan masukin anak orang ke rumah sakit.

Lalu, tentang Jamie. Jamie di novel itu benar-benar sosok malaikat yang bakalan sulit banget didapatkan di bumi. Jamie suka menolong siapa saja, bahkan hewan yang terluka di jalan. Jamie juga jadi sukarelawan di sebuah panti asuhan. Pokoknya baik banget deh. Ia juga sangat religius dan selalu bawa Bible kemana-mana. Dia nggak pernah marah dan selalu ceria, bahkan ketika Landon mengatakan sesuatu yang benar-benar menyakitkan kepada dirinya.

Jamie di film lebih manusiawi. Dia marah ketika Landon "memanfaatkan" dia. Emosi Jamie lebih terlihat normal, dan yang jelas Jamie lebih terlihat seperti manusia dan bukan malaikat yang turun dari langit.

Ada satu lagi. Di novel, tampaknya Jamie sudah jatuh cinta terlebih dahulu sama Landon, sementara yang terjadi di film justru kebalikannya. Di novelnya, Landon adalah doa terakhir Jamie sebelum ia akhirnya harus menyerah pada nasibnya. Sementara Jamie di film jelas-jelas nggak suka sama Landon di awal. Dia bahkan bilang sama Landon, ketika Landon seenaknya numpang mobil Jamie gara-gara Eric ga jemput, kalo targetnya tahun ini adalah berteman dengan orang yang nggak dia suka, which is Landon yang ada di sampingnya.

Di film, Landon sangat romantis. Ia memenuhi satu per satu impian Jamie, meskipun saat itu dia belum tau kalo Jamie sedang sakit parah. Sementara yang di novel, keromantisan Landon nggak terlalu kelihatan. Paling hanya ngajak Jamie makan ketika tahun baru dan ketika melamar Jamie. Padahal saya berharap bisa menemukan adegan ketika Landon mewujudkan impian-impian Jamie, seperti membawa Jamie naik mobil tiba-tiba untuk membuat Jamie bisa "berada di dua tempat dalam waktu bersamaan". Lalu ketika Landon yang kaya raya itu memberi nama sebuah bintang atas nama Jamie, dsb.

Meskipun begitu, saya masih cukup menikmati novelnya. Saya masih tetap suka gaya penceritaan Nicholas Sparks. Di novel ini dia pakai gaya penceritaan orang pertama di dalam cerita, alias Landon lah yang bercerita tentang kisahnya. Jarang banget lho Nicholas Sparks pake gaya bercerita seperti ini. Sejauh yang pernah saya baca, seingat saya hanya ini dan "The Wedding" deh. Kalo saya pribadi sih sebenarnya tidak begitu suka gaya penceritaan seperti ini, tapi yah...

Saya jadi inget kalau Nicholas Sparks mendedikasikan novel ini untuk adik perempuannya yang meninggal karena kanker di tahun 2000. Pacar adiknya ini tetap melamar dan menikah dengannya meskipun tahu bahwa dia nggak akan hidup lama. Nicholas jadi terinspirasi dan lahirlah cerita ini. Dia sendiri bilang bahwa sosok Jamie di novel ini sangat mirip dengan sosok adiknya itu.

Oh iya. Ada satu hal yang saya lebih suka di novel ketimbang di film. Yaitu cerita dramanya (Drama yang dipentaskan maksudnya). Drama di novel jauh lebih menyentuh, nggak seperti di film yang menurut saya agak absurd. Di novel, tokoh utamanya masih Tom Thornton (sama kayak di film), tetapi di sini Tom adalah seorang duda yang ditinggal mati istrinya. Ia sebenarnya seorang yang religius, tapi saat itu ia sedang kehilangan keyakinan karena istrinya meninggal ketika melharikan anak perempuan satu-satunya. Tom, yang saat itu sedang mencari kotak musik untuk dihadiahkan ke anak perempuannya, bertemu dengan seorang perempuan misterius. Perempuan ini berjanji akan membantu Tom mencari hadiah untuk anaknya jika ia mau menolongnya. Setelah menolong perempuan misterius ini, perempuan itu bertanya pada Tom apa yang dinginkannya untuk Natal tahun ini, yang langsung dijawab oleh Tom bahwa ia ingin istrinya kembali. Ia kemudian menyuruh Tom untuk melihat ke dalam sebuah kolam kecil dan di kolam itu tampaklah wajah anak perempuannya. Tom, yang memang begitu berduka atas kematian istrinya sampai sering melupakan anak perempuannya, menangis tersedu-sedu. Ia akhirnya sadar bahwa yang dimilikinya sekarang ini, yang merupakan hadiah dari istrinya, hanyalah anaknya. Keesokan harinya, sebuah kotak musik muncul secara ajaib di bawah pohon natal, dengan ukiran seorang malaikat cantik yang wajahnya menyerupai perempuan misterius yang ditemui Tom malam sebelumnya.

Drama di novelnya itu sangat manis dan menyentuh, dan drama ini memiliki arti penting bagi Jamie, karena drama itu ditulis oleh ayahnya sendiri, Hegbert. Hegbert adalah seorang pendeta di kota kecil itu, jadi jelas kan dari mana sifat Jamie berasal. Cerita itu adalah pengalaman pribadi Hegbert yang kehilangan istrinya ketika melahirkan Jamie. Bagi Jamie sendiri, drama itu adalah kesempatan terakhirnya di sekolah untuk berperan sebagai malaikat dan menunjukkan rasa cinta dan terima kasihnya untuk ayahnya.

Saya sudah berkali-kali nonton filmnya, dan belum bosan sampe sekarang. Meskipun kadang ekspresi Mandy Moore yang berperan sebagai Jamie tidak terlihat terlalu innocence, tapi ya secara keseluruhan saya suka banget. Sifat jutek Jamie ke Landon ketika Landon sudah mulai suka sama Jamie, Jamie ketika marah, Jamie yang bahagia ketika Landon mewujudkan impiannya satu per satu. Semuanya sangat romantis dan menyentuh. Belum Shane West yang berperan jadi Landon itu juga ganteng dan dapet banget ekspresi-ekspresi sengaknya. Ditambah lagi dengan soundtrack-soundtracknya yang bikin mata meleleh kalau didengerin pas lagi galau.

Novel-novel Nicholas Sparks sendiri sudah banyak yang naik ke layar lebar. Misalnya, "The Notebook", "Message in a Bottle", "Night in Rodante", "The Last Song", dan "Dear John". Yang akan difilmkan berikutnya adalah "Safe Haven", rencananya masih tahun 2013. Hhhmm lama juga ya, padahal udah denger rumornya dari 2011 lalu. Saya belum nonton semua film yang diadaptasi dari novel Nicholas Sparks. Baru "The Notebook", "Night in Rodante", sama "A Walk to Remember". Ciri-ciri novel yang ditulis oleh dia ini memang pasti sedih-sedih dan dekat dengan kematian. Jadi jangan baca kalau lagi nggak pengen nangis galau-galauan. Saya ini sebenarnya bukan penggemar berat cerita-cerita romance, tapi saya suka dengan genre romance yang dibawakan oleh Sparks. Menyentuh tapi nggak cengeng. Mungkin karena yang nulis cowok kali yaa...

Ngomong-ngomong tentang A Walk to Remember, saya jadi teringat dengan sebuah cerita Jepang yang temanya juga mirip seperti ini. Judulnya "Sekai no Chuushin de Ai wo Sakebu" (Crying Out Love, in The Centre of The World). Novel ini sangat terkenal di Jepang, bahkan sampai dibuat versi doramanya juga film layar lebarnya. Komiknya pun ada. Korea pun membuat versi sendiri dari novel ini dengan judul "My Girl and I" yang diperankan oleh Song Hye Kyo. Saya sih lebih suka versi Jepangnya, soalnya yang versi Korea menurut saya kurang menyentuh. Sedih sih, tapi lebih tragis yang versi Jepang...
Sekai no Chuusin de Ai Wo Sakebu versi Jepang
Adaptasi Koreanya, My Girl and I


Novel Jepang ini berlatar di akhir tahun 1980-an, sama juga dengan A Walk to Remember, si gadis terkena leukimia. Aki, nama gadis itu, meninggal dunia karena leukimia. Ketika itu, leukimia belum ada penyembuhnya. Aki yang ketika itu masih SMA akhirnya meninggal dunia. Sebelumnya, mereka pernah berjanji untuk ke Australia, ke sebuah tempat bernama Uluru (Ayers Rock) yang mereka percaya sebagai pusat dunia. Sayangnya, Aki meninggal dunia sebelum sempat ke sana. Meninggalnya Aki ini meninggalkan luka yang sangat dalam bagi Saku, bahkan hingga 17 tahun kemudian. Soundtrack film ini, "Hitomi wo Tojite" yang dibawakan oleh Ken Hirai adalah salah satu lagu favorit saya dari dulu sampai sekarang.

Judul : A Walk to Remember
Penulis : Nicholas Sparks
Tahun terbit : 2000
Ebook version

 

5 comments:

  1. Aku ga suka lho sama filmnya.. menurutku filmnya agak ga masuk akal *entah kenapa* :P

    ReplyDelete
  2. Hihihi... Kita beda haluan, ya...

    Mungkin karena aku lebay suka yang melow2 kali ya makanya lebih suka filmnya xP

    ReplyDelete
  3. Kalo ada ebooknya mau ya. Email nsoetedjo@ymail.com

    ReplyDelete
  4. Hai kak aku ada a walk to remember by Nicholas Sparks. Kalau mau WA: 083871493132 thx:)

    ReplyDelete
  5. Film nya bikin air mata gak brenti netes, dan gak bosen bosen buat di tonton. Pengen banget baca novelnya, cerita drama yang di tulis bpknya jamie nyentuh bgt... Sayang di gramed gak ada:'

    ReplyDelete

February 12, 2012

A Walk to Remember


Alhamdulillah akhirnya saya dapat ebook "A Walk To Remember", setelah ngubek-ngubek ke penjuru internet. Thanks to SOPA dan PIPA, saya jadi makin susah donlot karena Megaupload udah di banned sekarang... =____="

Saya udah lama banget nyari buku ini, tapi tampaknya udah nggak mungkin lagi dapat salinan bahasa Indonesia, karena Gramedia kayaknya nggak berminat untuk mencetak ulang buku yang satu ini. Padahal saya pengen banget beli. Saya jadi nyesel dulu pas SMA dipinjemin buku ini sama temen saya tapi nggak saya baca, karena tampaknya kurang menarik. Meskipun saat itu pun saya udah suka banget sama judulnya... A WALK TO REMEMBER

Yang belum pernah tahu tentang A Walk To Remember, ati-ati SPOILER.

Saya mau menyoroti dari perbedaan dengan filmnya aja deh. Soalnya sejujurnya saya agak-agak kecewa setelah baca novelnya. Kayaknya saya lebih suka filmnya, yang diperanin sama Shane West dan Mandy Moore itu. Hubungan antara Landon dan Jamie jauh lebih hidup di dalam filmnya, ketimbang di novel yang menurut saya agak monoton.



Landon di film adalah anak berandalan korban broken home karena ayahnya bercerai dengan ibunya. Di film, ayah Landon adalah seorang dokter spesialis jantung, sementara di novel adalah seorang anggota DPRD (bener nggak nih congressman diartiinnya begini? Si Landon jadi kayak tetangga saya aja kalo gitu... xp #lebay). Landon versi film itu badung banget. Jago boong, pinter acting, sotoy pula. Pokoknya sengak deh. Sementara Landon di novel nggak bandel-bandel amat. Kenakalannya paling "cuma" suka nongkrong di kuburan sama sahabatnya, "Eric", terus ngerebus kacang di sana (sekarang Landon jadi kayak Rangga AADC yang doyan makan kacang rebus.. #eh?).

Di novel, saya mendapat kesan kalau Landon itu baik banget, dan nggak terlalu "mean" ke Jamie, di awal-awal pertemuan mereka. Landon bahkan menerima permintaan Jamie untuk berperan di drama Natal sekolahnya, meskipun setengah terpaksa. Sesuatu hal yang saya yakin bakal ditolak mentah-mentah oleh Landon di film. Kalo saya sih, lebih suka dengan Landon versi film. Lebih hidup.

Katanya sih ya, Landon versi film itu memang sengaja dibuat lebih nakal, karena apa dianggap nakal oleh remaja di tahun 1958 berbeda dengan yang dianggap nakal oleh remaja tahun 1999. Yah, memang benar sih. Yang dilakukan Landon jaman dulu itu belum termasuk nakal, karena nggak sampe dikejar-kejar polisi bahkan masukin anak orang ke rumah sakit.

Lalu, tentang Jamie. Jamie di novel itu benar-benar sosok malaikat yang bakalan sulit banget didapatkan di bumi. Jamie suka menolong siapa saja, bahkan hewan yang terluka di jalan. Jamie juga jadi sukarelawan di sebuah panti asuhan. Pokoknya baik banget deh. Ia juga sangat religius dan selalu bawa Bible kemana-mana. Dia nggak pernah marah dan selalu ceria, bahkan ketika Landon mengatakan sesuatu yang benar-benar menyakitkan kepada dirinya.

Jamie di film lebih manusiawi. Dia marah ketika Landon "memanfaatkan" dia. Emosi Jamie lebih terlihat normal, dan yang jelas Jamie lebih terlihat seperti manusia dan bukan malaikat yang turun dari langit.

Ada satu lagi. Di novel, tampaknya Jamie sudah jatuh cinta terlebih dahulu sama Landon, sementara yang terjadi di film justru kebalikannya. Di novelnya, Landon adalah doa terakhir Jamie sebelum ia akhirnya harus menyerah pada nasibnya. Sementara Jamie di film jelas-jelas nggak suka sama Landon di awal. Dia bahkan bilang sama Landon, ketika Landon seenaknya numpang mobil Jamie gara-gara Eric ga jemput, kalo targetnya tahun ini adalah berteman dengan orang yang nggak dia suka, which is Landon yang ada di sampingnya.

Di film, Landon sangat romantis. Ia memenuhi satu per satu impian Jamie, meskipun saat itu dia belum tau kalo Jamie sedang sakit parah. Sementara yang di novel, keromantisan Landon nggak terlalu kelihatan. Paling hanya ngajak Jamie makan ketika tahun baru dan ketika melamar Jamie. Padahal saya berharap bisa menemukan adegan ketika Landon mewujudkan impian-impian Jamie, seperti membawa Jamie naik mobil tiba-tiba untuk membuat Jamie bisa "berada di dua tempat dalam waktu bersamaan". Lalu ketika Landon yang kaya raya itu memberi nama sebuah bintang atas nama Jamie, dsb.

Meskipun begitu, saya masih cukup menikmati novelnya. Saya masih tetap suka gaya penceritaan Nicholas Sparks. Di novel ini dia pakai gaya penceritaan orang pertama di dalam cerita, alias Landon lah yang bercerita tentang kisahnya. Jarang banget lho Nicholas Sparks pake gaya bercerita seperti ini. Sejauh yang pernah saya baca, seingat saya hanya ini dan "The Wedding" deh. Kalo saya pribadi sih sebenarnya tidak begitu suka gaya penceritaan seperti ini, tapi yah...

Saya jadi inget kalau Nicholas Sparks mendedikasikan novel ini untuk adik perempuannya yang meninggal karena kanker di tahun 2000. Pacar adiknya ini tetap melamar dan menikah dengannya meskipun tahu bahwa dia nggak akan hidup lama. Nicholas jadi terinspirasi dan lahirlah cerita ini. Dia sendiri bilang bahwa sosok Jamie di novel ini sangat mirip dengan sosok adiknya itu.

Oh iya. Ada satu hal yang saya lebih suka di novel ketimbang di film. Yaitu cerita dramanya (Drama yang dipentaskan maksudnya). Drama di novel jauh lebih menyentuh, nggak seperti di film yang menurut saya agak absurd. Di novel, tokoh utamanya masih Tom Thornton (sama kayak di film), tetapi di sini Tom adalah seorang duda yang ditinggal mati istrinya. Ia sebenarnya seorang yang religius, tapi saat itu ia sedang kehilangan keyakinan karena istrinya meninggal ketika melharikan anak perempuan satu-satunya. Tom, yang saat itu sedang mencari kotak musik untuk dihadiahkan ke anak perempuannya, bertemu dengan seorang perempuan misterius. Perempuan ini berjanji akan membantu Tom mencari hadiah untuk anaknya jika ia mau menolongnya. Setelah menolong perempuan misterius ini, perempuan itu bertanya pada Tom apa yang dinginkannya untuk Natal tahun ini, yang langsung dijawab oleh Tom bahwa ia ingin istrinya kembali. Ia kemudian menyuruh Tom untuk melihat ke dalam sebuah kolam kecil dan di kolam itu tampaklah wajah anak perempuannya. Tom, yang memang begitu berduka atas kematian istrinya sampai sering melupakan anak perempuannya, menangis tersedu-sedu. Ia akhirnya sadar bahwa yang dimilikinya sekarang ini, yang merupakan hadiah dari istrinya, hanyalah anaknya. Keesokan harinya, sebuah kotak musik muncul secara ajaib di bawah pohon natal, dengan ukiran seorang malaikat cantik yang wajahnya menyerupai perempuan misterius yang ditemui Tom malam sebelumnya.

Drama di novelnya itu sangat manis dan menyentuh, dan drama ini memiliki arti penting bagi Jamie, karena drama itu ditulis oleh ayahnya sendiri, Hegbert. Hegbert adalah seorang pendeta di kota kecil itu, jadi jelas kan dari mana sifat Jamie berasal. Cerita itu adalah pengalaman pribadi Hegbert yang kehilangan istrinya ketika melahirkan Jamie. Bagi Jamie sendiri, drama itu adalah kesempatan terakhirnya di sekolah untuk berperan sebagai malaikat dan menunjukkan rasa cinta dan terima kasihnya untuk ayahnya.

Saya sudah berkali-kali nonton filmnya, dan belum bosan sampe sekarang. Meskipun kadang ekspresi Mandy Moore yang berperan sebagai Jamie tidak terlihat terlalu innocence, tapi ya secara keseluruhan saya suka banget. Sifat jutek Jamie ke Landon ketika Landon sudah mulai suka sama Jamie, Jamie ketika marah, Jamie yang bahagia ketika Landon mewujudkan impiannya satu per satu. Semuanya sangat romantis dan menyentuh. Belum Shane West yang berperan jadi Landon itu juga ganteng dan dapet banget ekspresi-ekspresi sengaknya. Ditambah lagi dengan soundtrack-soundtracknya yang bikin mata meleleh kalau didengerin pas lagi galau.

Novel-novel Nicholas Sparks sendiri sudah banyak yang naik ke layar lebar. Misalnya, "The Notebook", "Message in a Bottle", "Night in Rodante", "The Last Song", dan "Dear John". Yang akan difilmkan berikutnya adalah "Safe Haven", rencananya masih tahun 2013. Hhhmm lama juga ya, padahal udah denger rumornya dari 2011 lalu. Saya belum nonton semua film yang diadaptasi dari novel Nicholas Sparks. Baru "The Notebook", "Night in Rodante", sama "A Walk to Remember". Ciri-ciri novel yang ditulis oleh dia ini memang pasti sedih-sedih dan dekat dengan kematian. Jadi jangan baca kalau lagi nggak pengen nangis galau-galauan. Saya ini sebenarnya bukan penggemar berat cerita-cerita romance, tapi saya suka dengan genre romance yang dibawakan oleh Sparks. Menyentuh tapi nggak cengeng. Mungkin karena yang nulis cowok kali yaa...

Ngomong-ngomong tentang A Walk to Remember, saya jadi teringat dengan sebuah cerita Jepang yang temanya juga mirip seperti ini. Judulnya "Sekai no Chuushin de Ai wo Sakebu" (Crying Out Love, in The Centre of The World). Novel ini sangat terkenal di Jepang, bahkan sampai dibuat versi doramanya juga film layar lebarnya. Komiknya pun ada. Korea pun membuat versi sendiri dari novel ini dengan judul "My Girl and I" yang diperankan oleh Song Hye Kyo. Saya sih lebih suka versi Jepangnya, soalnya yang versi Korea menurut saya kurang menyentuh. Sedih sih, tapi lebih tragis yang versi Jepang...
Sekai no Chuusin de Ai Wo Sakebu versi Jepang
Adaptasi Koreanya, My Girl and I


Novel Jepang ini berlatar di akhir tahun 1980-an, sama juga dengan A Walk to Remember, si gadis terkena leukimia. Aki, nama gadis itu, meninggal dunia karena leukimia. Ketika itu, leukimia belum ada penyembuhnya. Aki yang ketika itu masih SMA akhirnya meninggal dunia. Sebelumnya, mereka pernah berjanji untuk ke Australia, ke sebuah tempat bernama Uluru (Ayers Rock) yang mereka percaya sebagai pusat dunia. Sayangnya, Aki meninggal dunia sebelum sempat ke sana. Meninggalnya Aki ini meninggalkan luka yang sangat dalam bagi Saku, bahkan hingga 17 tahun kemudian. Soundtrack film ini, "Hitomi wo Tojite" yang dibawakan oleh Ken Hirai adalah salah satu lagu favorit saya dari dulu sampai sekarang.

Judul : A Walk to Remember
Penulis : Nicholas Sparks
Tahun terbit : 2000
Ebook version

 

5 comments:

  1. Aku ga suka lho sama filmnya.. menurutku filmnya agak ga masuk akal *entah kenapa* :P

    ReplyDelete
  2. Hihihi... Kita beda haluan, ya...

    Mungkin karena aku lebay suka yang melow2 kali ya makanya lebih suka filmnya xP

    ReplyDelete
  3. Kalo ada ebooknya mau ya. Email nsoetedjo@ymail.com

    ReplyDelete
  4. Hai kak aku ada a walk to remember by Nicholas Sparks. Kalau mau WA: 083871493132 thx:)

    ReplyDelete
  5. Film nya bikin air mata gak brenti netes, dan gak bosen bosen buat di tonton. Pengen banget baca novelnya, cerita drama yang di tulis bpknya jamie nyentuh bgt... Sayang di gramed gak ada:'

    ReplyDelete