September 23, 2012

Dongeng Untuk Dewasa, Di Balik Tembok...

Serbuk Bintang by Neil Gaiman
My rating: 4 of 5 stars

Kata siapa orang dewasa tak butuh dongeng?

Kalau tidak, Mr. Gaiman tidak perlu sulit-sulit membuat buku ini untuk memuaskan hati orang-orang dewasa, yang memiliki imajinasi dan impian tinggi terhadap dunia peri, penyihir, binatang-binatang ajaib, kurcaci, dsb. Sayang, tidak ada naga di kisah ini, karena dengan begitu mungkin ceritanya akan terasa lebih lengkap.. ^^

Yah, walaupun tanpa naga tetapi cerita "Stardust" sudah cukup untuk memuaskan hati saya yang ingin membaca kisah fantasi. Ditambah lagi, kisah ini semakin lengkap dengan adanya bumbu romantisme di dalamnya.

Stardust adalah buku ke-3 Neil Gaiman yang saya baca. Dari tiga bukunya yang sudah saya baca itu (Coraline, The Day I Swapped.., dan Stardust), tampaknya Mr. Gaiman selalu menyajikan hal yang berbeda-beda untuk saya. Yah, semuanya memang masih ada benang merahnya sih, yaitu dibalut dengan ketidakbiasaan. Hehehe


Di dalam cerita "Stardust" ini, saya diajak untuk berkelana ke dalam dunia di balik Tembok di Desa Tembok. Di dalamnya terdapat Tembok Besar yang tak ada seorang pun baik dari Desa Tembok maupun orang di luar Desa Tembok, yang boleh melewati tembok itu. Nah, sebelum saya dikatain bermuka tembok, kita selesaikan saja review saya tentang Desa Tembok ini... #dikepretsampeLondon

Jadi, gini ceritanya. Ada seorang pemuda tanggung bernama Tristran Thorn yang mengucapkan sebuah janji gegabah kepada pemudi yang dicintainya. Nama gadis itu, Victoria Forester. Dia adalah seorang gadis cantik jelita yang membuat semua pemuda di desa tembok tergila-gila, hingga mereka nggak akan ragu-ragu menjedot-jedotkan kepala mereka ke tembok cinta.. #eeaaa

Tristran, si tokoh utama kita ini, sebenarnya bukan pemuda biasa, karena dia adalah seorang blasteran. Dan seperti umumnya blasteran, maka dia tentunya spesial sehingga membuat banyak orang mau menjadikan dirinya sebagai bintang iklan dan sinetron. #ups, salah fokus

Oke, si Tristran ini sebenarnya keturunan peri, atau makhluk hidup apapun itu, yang hidup di balik tembok. 18 tahun yang lalu, ayahnya (seorang manusia) jatuh cinta kepada seorang perempuan misterius, yang kemudian lahirlah Tristran. seorang pemuda lugu dan polos namun pekerja keras.

Oleh karena itulah, ketika sang ayah berucap kepada penjaga celah (tak ada pintu di sana, hanya sebongkah celah saja) tembok terlarang itu bahwa Tristran ingin kembali ke asalnya, penjaga dengan mudahnya mengizinkan Tristran. Ah, saya lupa. Jadi, ada orang yang menjaga pintu yang menghubungkan dunia ini dan dunia di balik tembok. Setiap penduduk akan bergantian menjaganya setiap 8 jam sekali.

Lantas, mau apa Tristran ke dunia di balik tembok itu?

Seperti yang saya bilang di atas, Tristran secara gegabah telah bersumpah pada gadis pujaannya untuk mengambilkan bintang jatuh yang baru saja mereka lihat. Bintang itu jatuh ke negeri di balik tembok itu. Tristran pun bergegas mencarinya, tanpa tahu bahwa bintang itu telah memegang takdirnya dan bahwa tidak hanya dia seorang yang menginginkan bintang yang jatuh di malam itu. Ia harus bertemu dengan penyihir jahat, seorang pangeran yang sedang berupaya untuk mendapatkan tahtanya, dan tak lupa pula orang katai yang ternyata kenal dengan ayahnya.

Seperti apakah petualangan Tristran? Silakan baca sendiri kisah yang mendebarkan ini... ^^

Oh iya, sebenarnya sejak di pertengahan cerita, saya udah nebak sih kalau endingnya bakal seperti itu. Tapi ternyata tebakan saya nggak tepat sekali jadi seperti itu, jadinya masih bisa dibuat kaget-kaget deh sama Mr. Gaiman.. ^^

12 comments:

  1. filmnya juga bagus, ga kalah ama bukunya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaahh... aku belom nontoonn!! >o<

      Ada Ben Barnes-nya juga lagi.. (hasil gugling). Pokoknya habis ini mau nonton filemnya.. Huhuu

      Delete
    2. hahay Ben Barnesnya cuma dikit, jadi bapaknya si Tristan (kalo di film bukan Tristran namanya) tapi tetep ganteng bo'.

      Delete
    3. Yah.. cuma sebentar dong ya.. >,<

      Sejak pertama kali liat dia di Narnia yg Prince Caspian itu langsung kesengsem (>///<) #eeaaa

      Puas banget ngeliatin dia di Dorian Gray. Meskipun filmnya rada-rada aneh. Huehehehe

      Delete
  2. Akh, salah satu buku di dalam wishlistku >.<

    Sudah lama sekali pengen baca buku ini tapi susah bin sulit banget buat mencari buku ini *bahkan di tokobuku online ._.

    Btw, postingannya yang overdosis kata tembok sukses bikin aku ngakak kejang-kejang XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhhooo... Disini kayaknya kemaren aku liat masih banyak stoknya deh. Bahkan harganya cuman sepuluh ribu!! Ini juga aku belinya cuma segitu harganya. Nanti deh kalo aku main2 ke Gramed Depok dan masih ada, mau dibeliin dulu tak?

      Hehehe.. ini ceritanya emang penuh tembok soalnya.. :p

      Delete
  3. Aku sukaaaaaaa bgt sama filmnya. Tapi pas mau baca bukunya aku baca bny review yg bilang terjemahannya jelek. Jadi disuruh baca aslinya yg katanya puitis dan indah ituh *tapi blm kesampaian sampe skg oTL*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhhooo... Gitu ya? Aku sih ngerasa fine-fine aja dgn terjemahannya.. atau mungkin akunya aj yg terlalu 'tembok' ya? :p #masihdipake.. Aku coba baca ebooknya deh, nanti. Hehe

      Aduhduhduuhh.. makin penasaran nih sama filmnya. Ada Ben Barnes!!! >v< #teteup

      Delete
  4. Blogwalking, nih. :p

    Aku udah lama pengen baca ini, tapi pesen di salah satu toko buku yang memang menyediakan layanan pemesanan kok gak ada kabar ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir \(^^)/

      Kayaknya buku ini udah agak susah dicari ya? Kemarin2 sih aku ngeliat di beberapa Gramed, buku ini emang lagi diobral. Mungkin buat ngabisin stok. Harganya murah lagi.. Bahagia... :D

      Delete
    2. Gramedia mana, Mbak? Aku tinggalnya di Bandung. :)

      Delete
    3. Di Jakarta sayangnya... Sama di Depok...

      Delete

September 23, 2012

Dongeng Untuk Dewasa, Di Balik Tembok...

Serbuk Bintang by Neil Gaiman
My rating: 4 of 5 stars

Kata siapa orang dewasa tak butuh dongeng?

Kalau tidak, Mr. Gaiman tidak perlu sulit-sulit membuat buku ini untuk memuaskan hati orang-orang dewasa, yang memiliki imajinasi dan impian tinggi terhadap dunia peri, penyihir, binatang-binatang ajaib, kurcaci, dsb. Sayang, tidak ada naga di kisah ini, karena dengan begitu mungkin ceritanya akan terasa lebih lengkap.. ^^

Yah, walaupun tanpa naga tetapi cerita "Stardust" sudah cukup untuk memuaskan hati saya yang ingin membaca kisah fantasi. Ditambah lagi, kisah ini semakin lengkap dengan adanya bumbu romantisme di dalamnya.

Stardust adalah buku ke-3 Neil Gaiman yang saya baca. Dari tiga bukunya yang sudah saya baca itu (Coraline, The Day I Swapped.., dan Stardust), tampaknya Mr. Gaiman selalu menyajikan hal yang berbeda-beda untuk saya. Yah, semuanya memang masih ada benang merahnya sih, yaitu dibalut dengan ketidakbiasaan. Hehehe


Di dalam cerita "Stardust" ini, saya diajak untuk berkelana ke dalam dunia di balik Tembok di Desa Tembok. Di dalamnya terdapat Tembok Besar yang tak ada seorang pun baik dari Desa Tembok maupun orang di luar Desa Tembok, yang boleh melewati tembok itu. Nah, sebelum saya dikatain bermuka tembok, kita selesaikan saja review saya tentang Desa Tembok ini... #dikepretsampeLondon

Jadi, gini ceritanya. Ada seorang pemuda tanggung bernama Tristran Thorn yang mengucapkan sebuah janji gegabah kepada pemudi yang dicintainya. Nama gadis itu, Victoria Forester. Dia adalah seorang gadis cantik jelita yang membuat semua pemuda di desa tembok tergila-gila, hingga mereka nggak akan ragu-ragu menjedot-jedotkan kepala mereka ke tembok cinta.. #eeaaa

Tristran, si tokoh utama kita ini, sebenarnya bukan pemuda biasa, karena dia adalah seorang blasteran. Dan seperti umumnya blasteran, maka dia tentunya spesial sehingga membuat banyak orang mau menjadikan dirinya sebagai bintang iklan dan sinetron. #ups, salah fokus

Oke, si Tristran ini sebenarnya keturunan peri, atau makhluk hidup apapun itu, yang hidup di balik tembok. 18 tahun yang lalu, ayahnya (seorang manusia) jatuh cinta kepada seorang perempuan misterius, yang kemudian lahirlah Tristran. seorang pemuda lugu dan polos namun pekerja keras.

Oleh karena itulah, ketika sang ayah berucap kepada penjaga celah (tak ada pintu di sana, hanya sebongkah celah saja) tembok terlarang itu bahwa Tristran ingin kembali ke asalnya, penjaga dengan mudahnya mengizinkan Tristran. Ah, saya lupa. Jadi, ada orang yang menjaga pintu yang menghubungkan dunia ini dan dunia di balik tembok. Setiap penduduk akan bergantian menjaganya setiap 8 jam sekali.

Lantas, mau apa Tristran ke dunia di balik tembok itu?

Seperti yang saya bilang di atas, Tristran secara gegabah telah bersumpah pada gadis pujaannya untuk mengambilkan bintang jatuh yang baru saja mereka lihat. Bintang itu jatuh ke negeri di balik tembok itu. Tristran pun bergegas mencarinya, tanpa tahu bahwa bintang itu telah memegang takdirnya dan bahwa tidak hanya dia seorang yang menginginkan bintang yang jatuh di malam itu. Ia harus bertemu dengan penyihir jahat, seorang pangeran yang sedang berupaya untuk mendapatkan tahtanya, dan tak lupa pula orang katai yang ternyata kenal dengan ayahnya.

Seperti apakah petualangan Tristran? Silakan baca sendiri kisah yang mendebarkan ini... ^^

Oh iya, sebenarnya sejak di pertengahan cerita, saya udah nebak sih kalau endingnya bakal seperti itu. Tapi ternyata tebakan saya nggak tepat sekali jadi seperti itu, jadinya masih bisa dibuat kaget-kaget deh sama Mr. Gaiman.. ^^

12 comments:

  1. filmnya juga bagus, ga kalah ama bukunya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaahh... aku belom nontoonn!! >o<

      Ada Ben Barnes-nya juga lagi.. (hasil gugling). Pokoknya habis ini mau nonton filemnya.. Huhuu

      Delete
    2. hahay Ben Barnesnya cuma dikit, jadi bapaknya si Tristan (kalo di film bukan Tristran namanya) tapi tetep ganteng bo'.

      Delete
    3. Yah.. cuma sebentar dong ya.. >,<

      Sejak pertama kali liat dia di Narnia yg Prince Caspian itu langsung kesengsem (>///<) #eeaaa

      Puas banget ngeliatin dia di Dorian Gray. Meskipun filmnya rada-rada aneh. Huehehehe

      Delete
  2. Akh, salah satu buku di dalam wishlistku >.<

    Sudah lama sekali pengen baca buku ini tapi susah bin sulit banget buat mencari buku ini *bahkan di tokobuku online ._.

    Btw, postingannya yang overdosis kata tembok sukses bikin aku ngakak kejang-kejang XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhhooo... Disini kayaknya kemaren aku liat masih banyak stoknya deh. Bahkan harganya cuman sepuluh ribu!! Ini juga aku belinya cuma segitu harganya. Nanti deh kalo aku main2 ke Gramed Depok dan masih ada, mau dibeliin dulu tak?

      Hehehe.. ini ceritanya emang penuh tembok soalnya.. :p

      Delete
  3. Aku sukaaaaaaa bgt sama filmnya. Tapi pas mau baca bukunya aku baca bny review yg bilang terjemahannya jelek. Jadi disuruh baca aslinya yg katanya puitis dan indah ituh *tapi blm kesampaian sampe skg oTL*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhhooo... Gitu ya? Aku sih ngerasa fine-fine aja dgn terjemahannya.. atau mungkin akunya aj yg terlalu 'tembok' ya? :p #masihdipake.. Aku coba baca ebooknya deh, nanti. Hehe

      Aduhduhduuhh.. makin penasaran nih sama filmnya. Ada Ben Barnes!!! >v< #teteup

      Delete
  4. Blogwalking, nih. :p

    Aku udah lama pengen baca ini, tapi pesen di salah satu toko buku yang memang menyediakan layanan pemesanan kok gak ada kabar ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir \(^^)/

      Kayaknya buku ini udah agak susah dicari ya? Kemarin2 sih aku ngeliat di beberapa Gramed, buku ini emang lagi diobral. Mungkin buat ngabisin stok. Harganya murah lagi.. Bahagia... :D

      Delete
    2. Gramedia mana, Mbak? Aku tinggalnya di Bandung. :)

      Delete
    3. Di Jakarta sayangnya... Sama di Depok...

      Delete