September 28, 2012

If I Stay... Jika Ku Tetap Di Sini...



Jika Aku Tetap Di Sini (If I Stay, #1)Jika Aku Tetap Di Sini by Gayle Forman
My rating: 3 of 5 stars

Bagaimana rasanya jika kehidupanmu yang sempurna direnggut darimu? Jika keluarga yang kau cintai dan sangat mencintaimu meninggalkan dirimu, di suatu pagi yang seharusnya menjadi salah satu hari indah dalam hidupmu? Jika tubuhmu yang sehat dalam sekejap harus terbaring lemah antara kehidupan dan kematian di ruangan ICU rumah sakit?

Dan kau harus memilih...

Tetap hidup dengan lubang menganga dan rasa sakit yang tak akan pernah hilang untuk selamanya. Atau meninggalkan dunia ini untuk bergabung dengan keluarga yang kau cintai yang berarti kau harus meninggalkan mereka yang masih hidup? Sahabat yang kau sayangi, pacar yang kau cintai, nenek dan kakek yang memujamu, dan... kehidupan itu sendiri...


Itulah yang harus dihadapi oleh Mia. Heroine kita kali ini. Sebelum kecelakaan itu, ia hanyalah seorang gadis remaja biasa, yang baru berusia 17 tahun. Ia memiliki seorang ayah dan ibu yang menyayanginya, juga seorang adik benama Teddy yang sangat disayanginya.

Bagi Mia, keluarganya adalah segala-galanya. Hingga dalam sekejap, semuanya menghilang secara bersamaan. Menguap bagaikan buih di lautan. Mereka sekeluarga sedang bepergian bersama untuk mengunjungi salah seorang sahabat Mom dan Dad--yang juga telah menjadi salah seorang yang penting bagi kehidupan Mia--ketika mereka sekeluarga mengalami kecelakaan. Mom dan Dad tewas seketika, si kecil Teddy tidak ketahuan nasibnya, dan Mia... Roh Mia keluar dari tubuhnya, meninggalkan raganya yang sedang berjuang di bawah sana. Namun saat itu dia masih belum tahu soal pilih memilih itu. Bahwa ialah yang menentukan nasibnya. Tetap tinggal dengan segala perasaan yang akan terus tinggal seumur hidupnya. Atau memilih pilihan yang "lebih mudah" menyusul Mom dan Dad ke dunia di balik sana?
Apakah aku tinggal. Apakah aku hidup. Tergantung pada diriku. (Hal. 76)
Bagaimana aku bisa memutuskan? Bagaimana mungkin aku hidup tanpa Mom dan Dad? Bagaimana aku bisa pergi tanpa Teddy? Atau Adam? (Hal. 76)
"Tidak apa-apa," katanya. "Kalau kau mau pergi. Semua orang ingin kau tinggal. Aku ingin kau tinggal lebih dari apa pun yang kuinginkan di dunia ini." Suaranya tercekat emosi. Dia berhenti, berdeham, menarik napas, dan melanjutkan. "Tapi itu kemauanku dan aku bisa mengerti mungkin itu bukan kemauanmu. Maka aku hanya ingin memberitahuu bahwa aku mengerti jika kau pergi. Tidak apa-apa kalau kau harus meninggalkan kami. Tidak apa-apa jika kau ingin berhenti berjuang." (Hal. 152)

Kata-kata di atas adalah kalimat yang diucapkan oleh Gramps pada Mia yang sedang terbaring lemah di ruang ICU. Dalam sekejap, Gramps menjadi tokoh idola saya. Gramps memang tidak banyak bicara, tapi meskipun begitu Mia selalu merasa nyaman bersamanya. Meski mereka tidak saling mengobrol, Mia merasa nyaman dengan kediaman di antara mereka.

Saya sering berpikir, bahwa menemukan orang yang cocok dan nyaman untuk diajak ngobrol mungkin tidaklah terlalu sulit. Tapi yang lebih sulit adalah menemukan orang yang cocok untuk berada bersama di dalam keheningan. Terkadang, ketika merasa nyambung ngobrol dengan orang lain, lalu terjadi jeda yang panjang--ketika bahan obrolan sudah habis--saya sering mencari-cari bahan obrolan hanya untuk membuat saya merasa nyaman, karena saya menjadi canggung kalau tiba-tiba harus terdiam. Jadi suatu saat saya pernah berkata pada diri saya, bahwa jika orang itu nyambung ketika saya ajak ngobrol dan saya ajak diam, maka dia benar-benar cocok dengan saya.

Selain Gramps, tokoh favorit saya adalah si kecil Teddy. Jarang sekali memang ada kisah cinta remaja yang dengan begitu intens membahas sesosok anak kecil yang dianggap lucu dan menggemaskan bagaikan seorang malaikat. Dan Teddy adalah sosok itu. Semua orang menyayanginya, terutama Mia yang sudah menjadi sosok ibu kedua bagi Teddy. Dan memang di bagian itulah air mata saya jatuh merembes tanpa bisa ditahan. Ketika Mia mengenang kelahiran Teddy, pesta Halloween bersama Teddy, Teddy yang hanya mau tidur kalau digendong Mia, Teddy yang berteriak-teriak gembira di pesta dadakan yang mereka adakan bersama orang-orang yang mereka kasihi.. Teddy yang mengingatkan saya pada sesosok adik laki-laki yang tak jadi saya miliki dan betapa saya sangat mendambakannya. Ah, Teddy...

Yang jelas, tokoh-tokoh di cerita ini benar-benar sanggup mencuri hati saya. Selain Gramps dan Teddy, sosok Mom dan Dad juga patut diacungi jempol. Terutama Dad yang bertransformasi dari sesosok lelaki yang tampak kekanak-kanakan dan tidak serius, menjadi seorang ayah yang dapat diandalkan dan pemimpin keluarga yang dicintai oleh istri dan anak-anaknya.

Lalu Mom, yang bercerita tentang mimpinya jika ia mati nanti. Yang ternyata tidak jauh berbeda dengan apa yang dialaminya sekarang, kecuali bagian bahwa kehidupan terenggut begitu saja dari diri mereka tanpa mereka bayangkan sebelumnya.

Willow yang tegas dan bisa diandalkan, namun sebenarnya juga merasa terluka dan rapuh karena kehilangan sahabat-sahabatnya. Kim, sahabat Mia, yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya. Lalu Adam...

Nemu juga ni foto beberapa taun yg lalu (Dok: Pribadi)

Sejujurnya, endingnya agak menganggu saya, karena saya merasa semuanya berjalan terlalu cepat. Coba ada lebih banyak jeda sehingga semuanya tampak lebih wajar...

Sebenarnya sejak pertama kali melihat novel ini teronggok di salah satu toko buku beberapa tahun yang lalu (di awal tahun 2011 bersama seorang sahabat saya), saya sudah merasa jatuh cinta dengan covernya yang minimalis dan terasa sendu itu. Namun karena saya ini orang yang sangat pilih-pilih sebelum menentukan untuk membeli sebuah buku, maka saya pun mundur dan menyuruh teman saya saja yang beli buku itu.. xp

Apalagi setelah membaca sinopsisnya, saya tidak merasa ada sesuatu yang baru ditawarkan dari kisah ini. Oh, hanya kisah seorang gadis yang hidupnya sempurna yang lalu harus diambil darinya dalam sekejap di waktu yang bersamaan. Nothing special. Jadi, ketika teman saya memutuskan untuk beli, saya dengan antusias mendukungnya, dan sudah bertekad dari dalam hati untuk meminjamnya.. xp (iya, saya emang nggak modal, kok..)

Namun apa daya, ternyata kesibukan di kantor menyita waktu saya. Kebetulan saat itu juga saya baru merasakan dunia kerja, dan tak ada waktu bagi saya untuk membaca buku. Saat itupun saya belum ikutan gutrits atau komunitas buku lainnya, jadi minat baca saya lagi anjlok, seanjloknya. Buku-buku dibiarkan teronggok, tanpa ada yang dibaca satupun.

Dok: Pribadi
Lalu novel ini (dan niat untuk pinjem ke temen) pun terlupakan. Meski setiap ke toko buku, ketika lihat sampulnya saya selalu menatap dengan perasaan sendu (tsaahh), bolak balikin cover, bacain sinopsis (lagi), lirik-lirik dompet, terus taro lagi di tempatnya. Hingga akhirnya, setelah Ramadhan kemarin, seorang teman BBI berbaik hati meminjamkan bukunya ke saya! Yippiee!!

Ini pertama kalinya lho, saya pinjem-pinjem buku dari temen yang baru saya kenal (itupun di dunia maya) dan rumahnya juauuhhh buanggettt dari rumah saya.. #lebay mode on

Thanks buat neng Oky yang udah minjemin bukunya ke saya.. ^^

 
View all my reviews

4 comments:

  1. Yay sudah di baca! Keke.. you're welcome ^^
    Kalo uda deket sama yg lain, nanti juga bisa pinjem2an lho sama mereka.

    Haha.. btw, suka nggak sama ceritanya? Awalnya aku baca buku ini sampe pertengahan cerita ngerasa pujian2 para reviewer itu overated. Secara agak datar.. mengharukan sih, tapi datar..

    Trus mulai akhir2 kerasa deh bagusnya.. hiks. Setiap karakter berkesan bgt yaaa. Semuanya kayak mengalami pendewasaan, padahal di ceritakannya sambil sekilas gitu. Pinter bgt deh Gayle nulisnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buat aku sih lumayan, biar nggak lumanyun.. :p

      Soalnya seperti yang udah aku bilang, tema ceritanya biasa. Udah banyak yang buat dengan tipe serupa. Itu juga yang bikin aku maju mundur terus pengen belinya, lebih nungguin pinjeman aja.. xp

      Tapi aku setuju, Tante Gayle (sok akrab) emang jago banget dalam menceritakan karakternya. Kuatnya disitu menurutku. Dan aku bener-bener jebol pas bagian Teddy itu. Ah... Teddy... TT_____TT

      Terus bagian akhirnya agak-agak nggak suka, karena masa cuman sebentar benerr.. Harusnya kan rentangnya lebih luammaaa....

      Delete
    2. Keke.. menurutku kalo di filmin bagian akhirnya itu bakal oke deh, kan fast paced gitu. Hm, gatau deh, aku lupa gmn perasaanku pas baca endingnya dulu :P

      Btw, buku yg kedua katanya bny reviewer BBI bagus, perasaan galau gitu.. menurutku (bahkan setelah baca) sangat overated. Enjoy Where She Went ^^

      Delete
    3. Iya.. aku juga mikir itu bakalan oke kalo difilmin.

      Yang kedua masih belom aku baca nih.. >o<
      Buru-buru nggak Ky?

      Delete

September 28, 2012

If I Stay... Jika Ku Tetap Di Sini...



Jika Aku Tetap Di Sini (If I Stay, #1)Jika Aku Tetap Di Sini by Gayle Forman
My rating: 3 of 5 stars

Bagaimana rasanya jika kehidupanmu yang sempurna direnggut darimu? Jika keluarga yang kau cintai dan sangat mencintaimu meninggalkan dirimu, di suatu pagi yang seharusnya menjadi salah satu hari indah dalam hidupmu? Jika tubuhmu yang sehat dalam sekejap harus terbaring lemah antara kehidupan dan kematian di ruangan ICU rumah sakit?

Dan kau harus memilih...

Tetap hidup dengan lubang menganga dan rasa sakit yang tak akan pernah hilang untuk selamanya. Atau meninggalkan dunia ini untuk bergabung dengan keluarga yang kau cintai yang berarti kau harus meninggalkan mereka yang masih hidup? Sahabat yang kau sayangi, pacar yang kau cintai, nenek dan kakek yang memujamu, dan... kehidupan itu sendiri...


Itulah yang harus dihadapi oleh Mia. Heroine kita kali ini. Sebelum kecelakaan itu, ia hanyalah seorang gadis remaja biasa, yang baru berusia 17 tahun. Ia memiliki seorang ayah dan ibu yang menyayanginya, juga seorang adik benama Teddy yang sangat disayanginya.

Bagi Mia, keluarganya adalah segala-galanya. Hingga dalam sekejap, semuanya menghilang secara bersamaan. Menguap bagaikan buih di lautan. Mereka sekeluarga sedang bepergian bersama untuk mengunjungi salah seorang sahabat Mom dan Dad--yang juga telah menjadi salah seorang yang penting bagi kehidupan Mia--ketika mereka sekeluarga mengalami kecelakaan. Mom dan Dad tewas seketika, si kecil Teddy tidak ketahuan nasibnya, dan Mia... Roh Mia keluar dari tubuhnya, meninggalkan raganya yang sedang berjuang di bawah sana. Namun saat itu dia masih belum tahu soal pilih memilih itu. Bahwa ialah yang menentukan nasibnya. Tetap tinggal dengan segala perasaan yang akan terus tinggal seumur hidupnya. Atau memilih pilihan yang "lebih mudah" menyusul Mom dan Dad ke dunia di balik sana?
Apakah aku tinggal. Apakah aku hidup. Tergantung pada diriku. (Hal. 76)
Bagaimana aku bisa memutuskan? Bagaimana mungkin aku hidup tanpa Mom dan Dad? Bagaimana aku bisa pergi tanpa Teddy? Atau Adam? (Hal. 76)
"Tidak apa-apa," katanya. "Kalau kau mau pergi. Semua orang ingin kau tinggal. Aku ingin kau tinggal lebih dari apa pun yang kuinginkan di dunia ini." Suaranya tercekat emosi. Dia berhenti, berdeham, menarik napas, dan melanjutkan. "Tapi itu kemauanku dan aku bisa mengerti mungkin itu bukan kemauanmu. Maka aku hanya ingin memberitahuu bahwa aku mengerti jika kau pergi. Tidak apa-apa kalau kau harus meninggalkan kami. Tidak apa-apa jika kau ingin berhenti berjuang." (Hal. 152)

Kata-kata di atas adalah kalimat yang diucapkan oleh Gramps pada Mia yang sedang terbaring lemah di ruang ICU. Dalam sekejap, Gramps menjadi tokoh idola saya. Gramps memang tidak banyak bicara, tapi meskipun begitu Mia selalu merasa nyaman bersamanya. Meski mereka tidak saling mengobrol, Mia merasa nyaman dengan kediaman di antara mereka.

Saya sering berpikir, bahwa menemukan orang yang cocok dan nyaman untuk diajak ngobrol mungkin tidaklah terlalu sulit. Tapi yang lebih sulit adalah menemukan orang yang cocok untuk berada bersama di dalam keheningan. Terkadang, ketika merasa nyambung ngobrol dengan orang lain, lalu terjadi jeda yang panjang--ketika bahan obrolan sudah habis--saya sering mencari-cari bahan obrolan hanya untuk membuat saya merasa nyaman, karena saya menjadi canggung kalau tiba-tiba harus terdiam. Jadi suatu saat saya pernah berkata pada diri saya, bahwa jika orang itu nyambung ketika saya ajak ngobrol dan saya ajak diam, maka dia benar-benar cocok dengan saya.

Selain Gramps, tokoh favorit saya adalah si kecil Teddy. Jarang sekali memang ada kisah cinta remaja yang dengan begitu intens membahas sesosok anak kecil yang dianggap lucu dan menggemaskan bagaikan seorang malaikat. Dan Teddy adalah sosok itu. Semua orang menyayanginya, terutama Mia yang sudah menjadi sosok ibu kedua bagi Teddy. Dan memang di bagian itulah air mata saya jatuh merembes tanpa bisa ditahan. Ketika Mia mengenang kelahiran Teddy, pesta Halloween bersama Teddy, Teddy yang hanya mau tidur kalau digendong Mia, Teddy yang berteriak-teriak gembira di pesta dadakan yang mereka adakan bersama orang-orang yang mereka kasihi.. Teddy yang mengingatkan saya pada sesosok adik laki-laki yang tak jadi saya miliki dan betapa saya sangat mendambakannya. Ah, Teddy...

Yang jelas, tokoh-tokoh di cerita ini benar-benar sanggup mencuri hati saya. Selain Gramps dan Teddy, sosok Mom dan Dad juga patut diacungi jempol. Terutama Dad yang bertransformasi dari sesosok lelaki yang tampak kekanak-kanakan dan tidak serius, menjadi seorang ayah yang dapat diandalkan dan pemimpin keluarga yang dicintai oleh istri dan anak-anaknya.

Lalu Mom, yang bercerita tentang mimpinya jika ia mati nanti. Yang ternyata tidak jauh berbeda dengan apa yang dialaminya sekarang, kecuali bagian bahwa kehidupan terenggut begitu saja dari diri mereka tanpa mereka bayangkan sebelumnya.

Willow yang tegas dan bisa diandalkan, namun sebenarnya juga merasa terluka dan rapuh karena kehilangan sahabat-sahabatnya. Kim, sahabat Mia, yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya. Lalu Adam...

Nemu juga ni foto beberapa taun yg lalu (Dok: Pribadi)

Sejujurnya, endingnya agak menganggu saya, karena saya merasa semuanya berjalan terlalu cepat. Coba ada lebih banyak jeda sehingga semuanya tampak lebih wajar...

Sebenarnya sejak pertama kali melihat novel ini teronggok di salah satu toko buku beberapa tahun yang lalu (di awal tahun 2011 bersama seorang sahabat saya), saya sudah merasa jatuh cinta dengan covernya yang minimalis dan terasa sendu itu. Namun karena saya ini orang yang sangat pilih-pilih sebelum menentukan untuk membeli sebuah buku, maka saya pun mundur dan menyuruh teman saya saja yang beli buku itu.. xp

Apalagi setelah membaca sinopsisnya, saya tidak merasa ada sesuatu yang baru ditawarkan dari kisah ini. Oh, hanya kisah seorang gadis yang hidupnya sempurna yang lalu harus diambil darinya dalam sekejap di waktu yang bersamaan. Nothing special. Jadi, ketika teman saya memutuskan untuk beli, saya dengan antusias mendukungnya, dan sudah bertekad dari dalam hati untuk meminjamnya.. xp (iya, saya emang nggak modal, kok..)

Namun apa daya, ternyata kesibukan di kantor menyita waktu saya. Kebetulan saat itu juga saya baru merasakan dunia kerja, dan tak ada waktu bagi saya untuk membaca buku. Saat itupun saya belum ikutan gutrits atau komunitas buku lainnya, jadi minat baca saya lagi anjlok, seanjloknya. Buku-buku dibiarkan teronggok, tanpa ada yang dibaca satupun.

Dok: Pribadi
Lalu novel ini (dan niat untuk pinjem ke temen) pun terlupakan. Meski setiap ke toko buku, ketika lihat sampulnya saya selalu menatap dengan perasaan sendu (tsaahh), bolak balikin cover, bacain sinopsis (lagi), lirik-lirik dompet, terus taro lagi di tempatnya. Hingga akhirnya, setelah Ramadhan kemarin, seorang teman BBI berbaik hati meminjamkan bukunya ke saya! Yippiee!!

Ini pertama kalinya lho, saya pinjem-pinjem buku dari temen yang baru saya kenal (itupun di dunia maya) dan rumahnya juauuhhh buanggettt dari rumah saya.. #lebay mode on

Thanks buat neng Oky yang udah minjemin bukunya ke saya.. ^^

 
View all my reviews

4 comments:

  1. Yay sudah di baca! Keke.. you're welcome ^^
    Kalo uda deket sama yg lain, nanti juga bisa pinjem2an lho sama mereka.

    Haha.. btw, suka nggak sama ceritanya? Awalnya aku baca buku ini sampe pertengahan cerita ngerasa pujian2 para reviewer itu overated. Secara agak datar.. mengharukan sih, tapi datar..

    Trus mulai akhir2 kerasa deh bagusnya.. hiks. Setiap karakter berkesan bgt yaaa. Semuanya kayak mengalami pendewasaan, padahal di ceritakannya sambil sekilas gitu. Pinter bgt deh Gayle nulisnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buat aku sih lumayan, biar nggak lumanyun.. :p

      Soalnya seperti yang udah aku bilang, tema ceritanya biasa. Udah banyak yang buat dengan tipe serupa. Itu juga yang bikin aku maju mundur terus pengen belinya, lebih nungguin pinjeman aja.. xp

      Tapi aku setuju, Tante Gayle (sok akrab) emang jago banget dalam menceritakan karakternya. Kuatnya disitu menurutku. Dan aku bener-bener jebol pas bagian Teddy itu. Ah... Teddy... TT_____TT

      Terus bagian akhirnya agak-agak nggak suka, karena masa cuman sebentar benerr.. Harusnya kan rentangnya lebih luammaaa....

      Delete
    2. Keke.. menurutku kalo di filmin bagian akhirnya itu bakal oke deh, kan fast paced gitu. Hm, gatau deh, aku lupa gmn perasaanku pas baca endingnya dulu :P

      Btw, buku yg kedua katanya bny reviewer BBI bagus, perasaan galau gitu.. menurutku (bahkan setelah baca) sangat overated. Enjoy Where She Went ^^

      Delete
    3. Iya.. aku juga mikir itu bakalan oke kalo difilmin.

      Yang kedua masih belom aku baca nih.. >o<
      Buru-buru nggak Ky?

      Delete