September 14, 2012

The Look: Jadi Supermodel Atau Supersister?


The Look The Look by Sophia Bennett
My rating: 4 of 5 stars

Apa yang kau pikirkan jika ketika kau sedang mengamen berdua dengan kakakmu--yang sebenarnya nggak punya kemampuan di bidang musik--untuk menambah uang saku, lalu ada seorang lelaki menghampirimu dan menawarimu untuk menjadi model?

Spicles. Bingung. Nggak percaya. Dan menganggap kalau dirimu sedang ditipu.

Yah, perasaan itulah yang dirasakan oleh Ted Trout. Soalnya, mana mungkin cewek dengan tinggi hampir 185 cm, alis mata yang menyatu, dan rambut seperti sarang burung kayak dia ditawari jadi model. Bahkan Ava, kakak Ted, juga menganggap kalau mereka sedang ditipu. Ava yang cantik, memesona, dan mengagumkan. Oh, jangan lupa kalo Mum juga berpendapat gadis ciliknya ditipu, walaupun model terkenal Lily Cole itu juga ditemukan di sekitar tempat Ted dan Ava mengamen hari itu.

Kehidupan memang agak berat bagi Ted dan Ava, sejak ayah mereka di-PHK dari universitas tempatnya bekerja. Mereka harus pindah dari rumah mereka yang nyaman di Richmond, ke sebuah flat kecil. Kini ia juga harus berbagi kamar dengan Ava, karena memiliki kamar sendiri adalah keinginan yang terlalu mewah. Sejak Dad di-PHK, Mum harus menjadi tulang punggung keluarga, sehingga Ted dan Ava pun harus menjadi lebih mandiri.

Kejadian di hari itu segera dilupakan oleh Ted. Meskipun sebenarnya sih, dia agak-agak tersanjung juga. Soalnya, model itu kan cantik-cantik... Dan nggak ada orang yang pernah bilang kalau Ted itu cantik. Kalau Ava sih memang cantik.. Tapi Ted? Yang ada dia justru dipanggil raksasa di sekolahnya, karena tingginya yang hampir sama dengan anak lelaki itu. Jadi, kenapa orang itu justru memilih Ted dan bukan Ava?



Lalu pada suatu hari, secara tak sengaja Ted tahu kalau ia nggak dibohongi. Agensi yang namanya "Model City" itu benar-benar ada. Dan Ted-lah yang ditawari untuk menjadi model. Bukan Ava, si cantik jelita dalam keluarga mereka.

Ketika Ted bingung untuk memutuskan apakah akan mencoba casting untuk menjadi model, Ava, kakaknya yang cantik itu terus mendukungnya. Beda dengan Ted, Ava selalu tampil modis dan tau banyak tentang fashion dan dunia model. Ava mendukung Ted untuk mencoba, dan Ted menurutinya. Ted memang selalu menuruti kata Ava, karena dia kan kakaknya. Kali ini pun begitu. Meskipun ragu dan tidak percaya diri, Ted menuruti keinginan Ava. Lagipula, siapa yang bisa menolak keinginan Ava? Apalagi setelah keluarga kecil mereka tahu kalau Ava menderita kanker...

Ya, Ava menderita kanker limfoma. Ia harus menjalani pengobatan kemoterapi, radioterapi, dsb. untuk bisa sembuh seperti sedia kala. Untungnya presentasi kesembuhan Ava adalah 90 persen. Tapi, meskipun begitu mau tidak mau Ted, Mum, dan Dad tetap memikirkan kemungkinan 10 persen itu, walau mereka tak pernah membicarakannya.

Ava begitu bersemangat karena adiknya akan menjadi model. Ia bahkan rela berbohong kepada orangtua mereka agar Ted bisa ikut pemotretan pertamanya untuk portofolio Go See-nya. Ava, yang seumur hidup tidak akan pernah mau meminjamkan barang-barang miliknya, bahkan rela meminjamkan salah satu rok terbaiknya agar Ted tidak tampil memalukan ketika berhadapan dengan orang-orang yang mungkin akan memilihnya menjadi model.

Perjalanan Ted untuk menjadi seorang model ternyata nggak mudah. Ia berkali-kali harus menerima penolakan hingga akhirnya ia pasrah setelah mencoba selama musim panas itu. Lagipula, Mum dan Dad tampaknya tidak terlalu suka melihat anaknya menjadi model. Terutama Mum, karena Dad lebih kooperatif pada anaknya.

Lalu secara tiba-tiba saja, di sebuah hari yang justru merupakan hari buruk bagi Ted, dia "ditemukan" oleh Tina di Gaggia, seorang srikandi di dunia modelling yang SANGAT TERTARIK pada Ted. Ted yang ketika itu memang sudah berubah. Ia bukanlah Ted yang sama dengan Ted beberapa bulan yang lalu. Tina berjanji ia akan MENGORBITKAN Ted dan Ted pasti akan menjadi SANGAT TERKENAL.

Tina memang benar. Tak lama Ted ditawari untuk menjadi model untuk sebuah iklan parfum dari perusahaan ternama Constantine & Reed. Meskipun Mum dan Dad sempat tidak setuju, tapi akhirnya Ted berangkat ke New York! Seperti biasanya, Ava mendukung dan menyemangati Ted.

Hingga ketika ia berada di apartemen Model City, Ted menerima telepon dari Nick, sahabat Jesse yang merupakan pacar Ava, memberi tahu Ted bahwa Ava sedang mengalami masa tersulit dalam hidupnya dan memarahinya.

Apa yang harus dilakukan Ted? Bukankah Ava berkata dia akan baik-baik saja selama Ted di New York? Lagian siapa sih si Nick ini? Sok tahu banget marah-marahin Ted segala..

Ketika impian Ted sudah ada di tangannya, haruskah ia melepaskannya? Dan yang paling penting, memangnya apa sih impian Ted itu?

Kisah "The Look" sanggup membuat saya merasa terharu, terenyuh, dan juga tersenyum.. :) Kalau biasanya saya agak-agak "memusuhi" karakter utama cewek, di sini saya suka sama Ted. Ted yang suka dipanggil raksasa sama teman-teman sekelasnya. Ted yang cuek dan buta mode. Ted yang bertransformasi dari kepompong menjadi kupu-kupu yang cantik di akhir cerita..

Tokoh-tokoh yang ada di novel ini pun likeable semua.. (Hhm.. kecuali Nick yang agak-agak lumayan lah ya...). Saya suka dengan keluarga Trout yang hangat dan begitu penuh perhatian dengan anggota keluarganya. Dad, si profesor sejarah nyentrik dan unik yang punya tangan ajaib (segala benda elektronik yang dipegangnya pasti rusak :D). Mum yang tidak pernah mengeluh meski harus mencari nafkah, mengurusi keluarga, dan merawat Ava yang sakit. Lalu ada Ava. Si cantik yang dikagumi Ted yang menderita kanker tapi tetap tegar dan tak menunjukkan kelemahan. Dan tentu saja Ted yang udah saya ceritain di atas.

Perkembangan karakter Ted benar-benar terasa. Pilihan yang dia ambil juga membuat saya semakin kagum sama perubahan karakternya. Selain itu, hubungan adik-kakak antara dia dan Ava juga so sweet banget. Dan saya benar-benar berkaca-kaca dengan adegan di salon itu.. :')

Bintang 4 untuk "The Look" karena awalnya saya pikir ini teenlit atau chicklit biasa yang kisahnya cinta-cintaan doang dan cuma merhatiin sama bentuk tubuh, mode baju, gaya rambut, dsb. Namun "The Look" berhasil membuktikan kalau saya salah. Hhmm.. Terima kasih juga karena saya juga jadi tahu banyak nama model dan beberapa kosakata di dunia modelling... :)


View all my reviews

4 comments:

  1. wah kirain bakal menye-menye, ternyata nggak ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, nggak menye-menye.. ^^
      Pokoknya di luar dugaan deh..

      Delete
  2. Wow, nilainya 4 bintang.

    Endingnya si Ava gmn? *kepo*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Endingnya nggak mengecewakan kok.. Meski sempat mengharukan dan bikin deg-degan juga.. ^^

      Delete

September 14, 2012

The Look: Jadi Supermodel Atau Supersister?


The Look The Look by Sophia Bennett
My rating: 4 of 5 stars

Apa yang kau pikirkan jika ketika kau sedang mengamen berdua dengan kakakmu--yang sebenarnya nggak punya kemampuan di bidang musik--untuk menambah uang saku, lalu ada seorang lelaki menghampirimu dan menawarimu untuk menjadi model?

Spicles. Bingung. Nggak percaya. Dan menganggap kalau dirimu sedang ditipu.

Yah, perasaan itulah yang dirasakan oleh Ted Trout. Soalnya, mana mungkin cewek dengan tinggi hampir 185 cm, alis mata yang menyatu, dan rambut seperti sarang burung kayak dia ditawari jadi model. Bahkan Ava, kakak Ted, juga menganggap kalau mereka sedang ditipu. Ava yang cantik, memesona, dan mengagumkan. Oh, jangan lupa kalo Mum juga berpendapat gadis ciliknya ditipu, walaupun model terkenal Lily Cole itu juga ditemukan di sekitar tempat Ted dan Ava mengamen hari itu.

Kehidupan memang agak berat bagi Ted dan Ava, sejak ayah mereka di-PHK dari universitas tempatnya bekerja. Mereka harus pindah dari rumah mereka yang nyaman di Richmond, ke sebuah flat kecil. Kini ia juga harus berbagi kamar dengan Ava, karena memiliki kamar sendiri adalah keinginan yang terlalu mewah. Sejak Dad di-PHK, Mum harus menjadi tulang punggung keluarga, sehingga Ted dan Ava pun harus menjadi lebih mandiri.

Kejadian di hari itu segera dilupakan oleh Ted. Meskipun sebenarnya sih, dia agak-agak tersanjung juga. Soalnya, model itu kan cantik-cantik... Dan nggak ada orang yang pernah bilang kalau Ted itu cantik. Kalau Ava sih memang cantik.. Tapi Ted? Yang ada dia justru dipanggil raksasa di sekolahnya, karena tingginya yang hampir sama dengan anak lelaki itu. Jadi, kenapa orang itu justru memilih Ted dan bukan Ava?



Lalu pada suatu hari, secara tak sengaja Ted tahu kalau ia nggak dibohongi. Agensi yang namanya "Model City" itu benar-benar ada. Dan Ted-lah yang ditawari untuk menjadi model. Bukan Ava, si cantik jelita dalam keluarga mereka.

Ketika Ted bingung untuk memutuskan apakah akan mencoba casting untuk menjadi model, Ava, kakaknya yang cantik itu terus mendukungnya. Beda dengan Ted, Ava selalu tampil modis dan tau banyak tentang fashion dan dunia model. Ava mendukung Ted untuk mencoba, dan Ted menurutinya. Ted memang selalu menuruti kata Ava, karena dia kan kakaknya. Kali ini pun begitu. Meskipun ragu dan tidak percaya diri, Ted menuruti keinginan Ava. Lagipula, siapa yang bisa menolak keinginan Ava? Apalagi setelah keluarga kecil mereka tahu kalau Ava menderita kanker...

Ya, Ava menderita kanker limfoma. Ia harus menjalani pengobatan kemoterapi, radioterapi, dsb. untuk bisa sembuh seperti sedia kala. Untungnya presentasi kesembuhan Ava adalah 90 persen. Tapi, meskipun begitu mau tidak mau Ted, Mum, dan Dad tetap memikirkan kemungkinan 10 persen itu, walau mereka tak pernah membicarakannya.

Ava begitu bersemangat karena adiknya akan menjadi model. Ia bahkan rela berbohong kepada orangtua mereka agar Ted bisa ikut pemotretan pertamanya untuk portofolio Go See-nya. Ava, yang seumur hidup tidak akan pernah mau meminjamkan barang-barang miliknya, bahkan rela meminjamkan salah satu rok terbaiknya agar Ted tidak tampil memalukan ketika berhadapan dengan orang-orang yang mungkin akan memilihnya menjadi model.

Perjalanan Ted untuk menjadi seorang model ternyata nggak mudah. Ia berkali-kali harus menerima penolakan hingga akhirnya ia pasrah setelah mencoba selama musim panas itu. Lagipula, Mum dan Dad tampaknya tidak terlalu suka melihat anaknya menjadi model. Terutama Mum, karena Dad lebih kooperatif pada anaknya.

Lalu secara tiba-tiba saja, di sebuah hari yang justru merupakan hari buruk bagi Ted, dia "ditemukan" oleh Tina di Gaggia, seorang srikandi di dunia modelling yang SANGAT TERTARIK pada Ted. Ted yang ketika itu memang sudah berubah. Ia bukanlah Ted yang sama dengan Ted beberapa bulan yang lalu. Tina berjanji ia akan MENGORBITKAN Ted dan Ted pasti akan menjadi SANGAT TERKENAL.

Tina memang benar. Tak lama Ted ditawari untuk menjadi model untuk sebuah iklan parfum dari perusahaan ternama Constantine & Reed. Meskipun Mum dan Dad sempat tidak setuju, tapi akhirnya Ted berangkat ke New York! Seperti biasanya, Ava mendukung dan menyemangati Ted.

Hingga ketika ia berada di apartemen Model City, Ted menerima telepon dari Nick, sahabat Jesse yang merupakan pacar Ava, memberi tahu Ted bahwa Ava sedang mengalami masa tersulit dalam hidupnya dan memarahinya.

Apa yang harus dilakukan Ted? Bukankah Ava berkata dia akan baik-baik saja selama Ted di New York? Lagian siapa sih si Nick ini? Sok tahu banget marah-marahin Ted segala..

Ketika impian Ted sudah ada di tangannya, haruskah ia melepaskannya? Dan yang paling penting, memangnya apa sih impian Ted itu?

Kisah "The Look" sanggup membuat saya merasa terharu, terenyuh, dan juga tersenyum.. :) Kalau biasanya saya agak-agak "memusuhi" karakter utama cewek, di sini saya suka sama Ted. Ted yang suka dipanggil raksasa sama teman-teman sekelasnya. Ted yang cuek dan buta mode. Ted yang bertransformasi dari kepompong menjadi kupu-kupu yang cantik di akhir cerita..

Tokoh-tokoh yang ada di novel ini pun likeable semua.. (Hhm.. kecuali Nick yang agak-agak lumayan lah ya...). Saya suka dengan keluarga Trout yang hangat dan begitu penuh perhatian dengan anggota keluarganya. Dad, si profesor sejarah nyentrik dan unik yang punya tangan ajaib (segala benda elektronik yang dipegangnya pasti rusak :D). Mum yang tidak pernah mengeluh meski harus mencari nafkah, mengurusi keluarga, dan merawat Ava yang sakit. Lalu ada Ava. Si cantik yang dikagumi Ted yang menderita kanker tapi tetap tegar dan tak menunjukkan kelemahan. Dan tentu saja Ted yang udah saya ceritain di atas.

Perkembangan karakter Ted benar-benar terasa. Pilihan yang dia ambil juga membuat saya semakin kagum sama perubahan karakternya. Selain itu, hubungan adik-kakak antara dia dan Ava juga so sweet banget. Dan saya benar-benar berkaca-kaca dengan adegan di salon itu.. :')

Bintang 4 untuk "The Look" karena awalnya saya pikir ini teenlit atau chicklit biasa yang kisahnya cinta-cintaan doang dan cuma merhatiin sama bentuk tubuh, mode baju, gaya rambut, dsb. Namun "The Look" berhasil membuktikan kalau saya salah. Hhmm.. Terima kasih juga karena saya juga jadi tahu banyak nama model dan beberapa kosakata di dunia modelling... :)


View all my reviews

4 comments:

  1. wah kirain bakal menye-menye, ternyata nggak ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, nggak menye-menye.. ^^
      Pokoknya di luar dugaan deh..

      Delete
  2. Wow, nilainya 4 bintang.

    Endingnya si Ava gmn? *kepo*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Endingnya nggak mengecewakan kok.. Meski sempat mengharukan dan bikin deg-degan juga.. ^^

      Delete