March 21, 2013

Surga di Balik Pintu Harmonika


Pintu Harmonika by Clara Ng
My rating: 4 of 5 stars

Ketika mendengar kata surga, otak saya langsung berkelana dan mulai berimajinasi ke tempat terindah yang saya impi-impikan. Saya membayangkan diri saya sedang duduk di antara hamparan padang bunga yang maha luas. Bunga-bunga tercantik di dunia dengan beraneka warna, berada di sekeliling saya, dengan sejuta keharuman yang menyesakkan dada (dalam arti yang baik tentunya).

Di kejauhan, ada sebuah gunung salju yang tinggi menjulang, dengan latar langit biru cerah yang membentang tak terbatas. Di antara padang bunga itu, tak jauh dari tempat saya berada, ada sungai yang mengalir. Airnya sangat jernih, dan ada bebatuan di dasarnya. Di "surga saya", tidak hanya ada satu sungai yang mengalir. Ada sungai-sungai lainnya, yang memiliki rasa beraneka rupa. Sungai rasa madu, rasa susu, sampai rasa pocari sweat (eh, tapi saya nggak gitu doyan sih... Mendingan rasa Mogu-mogu aja... #loh xp).

Tentunya saya nggak sendirian di "surga saya" itu. Karena kalau sendirian, bukan surga namanya. Di sana, saya dikelilingi oleh orang-orang yang saya cintai. Keluarga saya, sahabat-sahabat saya, dan juga kucing-kucing saya yang sudah meninggal. Saya bebas berlari, bermain, juga membaca. Kalau lapar, tinggal kedip, dan voila terhidanglah aneka makanan yang saya suka. Tidak ada kesedihan. Tidak ada penderitaan. Tidak ada duka cita. Hanya kebahagiaan yang abadi yang ada di sana.

Itu adalah surga yang ada di dalam bayangan saya. Di bayangan orang lain, tentu saja berbeda. Saya pernah dengar, kalau bagi orang Arab, surga itu berupa pegunungan yang hijau dengan pepohonan. Ya... kayak yang di puncak itulah... (makanya mereka demen ke sana xp). Lalu bagi orang Mongol yang nggak punya laut, surga mungkin berbentuk lautan yang sangat biru, berkarpet pasir putih yang lembut, ditambah pohon kelapa yang berjajar. Bagi orang barat juga, sih ya... Soalnya kan kata "paradise" sering diasosiasikan dengan lautan biru yang tenang.

Yah, intinya, bagi setiap orang, surga mungkin memiliki bentuk yang berbeda-beda. Tapi, semua pasti setuju kalo denger kata "surga" yang diinget pasti yang indah-indah. Yang cantik-cantik. Kalo yang jelek-jelek, buruk-buruk, nggak menyenangkan, udah pasti deh punyanya si neraka.

Terus, apa hubungannya surga dengan novel "Pintu Harmonika" ini?

Hubungannya ada, dong. Soalnya ini adalah novel tentang Surga. Surga dengan "S" besar. Tiga tokoh utama di novel ini bercerita tentang Surga. Siapa sajakah mereka? Berikut liputan lengkapnya.... #pegangmik #natapkamera

Penghuni Surga yang pertama namanya adalah Rizal. Nama lengkapnya Rizal Zaigham Harahap. Kalo di Twitter dikenal dengan @rizal_bruce_lee. Nggak kenal? Berarti kalian nggak gaul. Soalnya, si Rizal ini seleb Twit dan seleb dunia maya. Fansnya... beuh. Bejibun. Bahkan mereka sampe bikin geng sendiri yang dikasi nama "Rizal's Angels", soalnya si Rizal ini emang cakep. Gimana nggak cakep, orang bapaknya itu tukang kelontong paling cakep se-Jabodetabek. Huehehe...

Menurut saya, Rizal ini pribadi yang unik. Dia adalah fenomena di kalangan remaja. #tsaahh (ikutan Rizal) Sebagai seorang abg labil, jelas kalo stok pedenya dia itu nggak abis-abis. Dia juga humoris, ganteng, dan katanya sih #anti #pencitraan. Hobinya Rizal itu ngegym sama jalan-jalan ke luar negeri sama bokap semata wayangnya (eh?). Pokoknya kalo baca blognya dia, pasti mupeng abis deh. Hoahaha...

Kisah si Rizal ini bener-bener bikin saya senyum-senyum sendiri. Lucu banget. Gaya ngomongnya dia ceplas-ceplos, tapi cerdas. Oh iya, saya belom ceritain soal arti Surga bagi Rizal. Bagi si Rizal, Surga itu tempat dia bisa ngetwit dan ngeblog dengan hati senang dan hati riang. Dia bisa lepas sejenak dari rutinitas membantu bokapnya di toko kelontong mereka. Biarpun si Rizal ini keliatannya happy-happy aja, tapi sebetulnya dia ini lumayan peka. Dia yang pertama sadar kalo ada apa-apa sama si Juni (penghuni Surga lainnya). Kisahnya Rizal juga bikin saya terharu, terutama ketika dia cerita tentang ibunya. Saya kasih bocoran sedikit, ya.. Ibunya Rizal ini meninggal dunia, tepat sebelum mereka pindah ke ruko baru mereka. Bagi ibunya Rizal, ruko itu adalah impian mereka sekeluarga. Sayang, belum sempat 'mencicipi' beliau sudah dipanggil Yang Mahakuasa... Hiks :'(

Penghuni Surga selanjutnya namanya Juni Shahnaz. Bapaknya punya toko sablon, persis di sebelah toko kelontongnya Om Firdaus, bapaknya Rizal, si om-penjual-toko-kelontong-paling-ganteng-sejadebotabek. Juni ini puinter buangett. Tampangnya juga culun. Itu sebabnya dia suka dibully di sekolahnya. Untungnya ada Bruce Lee yang mengambil wujud Rizal (boong... yg bener Rizal doang yg ngarep bisa kayak Bruce Lee... xp), yang membantu Juni.

Jadi, si Suhu Rizal ini ngajarin Juni bela diri. Dia nggak suka ngeliat Juni diem aja digencet sama kakak kelasnya. Juni harus ngelawan. Juni pun melawan, tapi ironisnya, perlawanan dia itu justru menjadi bumerang di masa berikutnya, hingga berujung pada diskorsnya gadis-abg-baru-puber itu.

Keadaan semakin keruh karena bisnis toko sablon bapaknya Juni, Om Niko, lagi nggak bagus. Dan bisa dibilang, Juni-lah salah satu penyebab bisnis bapaknya jadi nggak lancar. Udah gitu, namanya juga ABG, Juni lagi 'seneng-senengnya' jadi pemberontak. Yah, bukannya seneng juga sih, tapi namanya juga abg, pasti suka galau-galau gimanaa gituh... Si Juni ini sedang dalam kebingungan, dalam rangka mencari jati dirinya yang sesungguhnya. Dan, Surga-lah tempat ia bisa merenungkan makna kehidupannya. #assiikk

Oh iya, si Juni ini demen banget baca kisah-kisah detektif. Mulai dari "Detektif Conan", kasus-kasus serial "Detektif Cilik Hawkeye Collins" dan "Amy Adams" (yang dua belakang saya nggak kenal.. hehehe), dsb. Klo lagi di Surga, doi demennya baca buku-buku begituan. Biasanya ditemenin sama si David, bocah cilik tetangga, yang juga gemar sama cerita-cerita detektif.

Nah, sekarang mari kita kenalan sama penghuni Surga yang terakhir. Namanya David Hadijaja (tapi di halaman depan ditulisnya David Hadidjaja..) alias David Edogawa. David ini paling kecil di antara mereka bertiga. Sama kayak Juni, dia demen banget baca cerita detektif. Kalo udah ketemu sama Juni di Surga, mereka pasti duduk anteng diem, masing-masing baca komik. Sementara si Suhu alias Master Rizal asik bercengkrama dengan para fansnya di dunia maya.

Si David ini tinggal sama ibunya, Imelda, di sebuah toko kue, yang masih masuk jajaran ruko itu. Letak rumahnya David sebelahan sama Juni. Jadi urutannya, ruko kelontong, ruko sablon, sama ruko bakery. Tante Imel ini single mother. Dia ditinggal lari sama bapaknya David, pas David masih di dalam kandungan. Si bapaknya David yang tukang judi, kabur sama cewek lain, setelah sebelumnya mencuri uang milik ortunya sendiri, yang nggak lain dan nggak bukan adalah mertuanya Imel. Jadilah Tante Imel harus menanggung hidupnya sendiri, dan jabang bayi yang ada di perutnya...

Untungnya, Tante Imel ini jago bikin kue. Dia pun bikin usaha kue sendiri. Kuenya Tante Imel itu unik, soalnya bentuknya malaikat. Malaikat yang lagi senyum. Kue itu pernah menolong Rizal dulu, pas lagi kangen sama mamanya.

Kisah David ini yang paling misterius. Sesuai sama David yang suka hal-hal berbau misteri. Jadi, pada suatu hari, ketika David terbaring sakit di rumahnya, dia mendengar bunyi keras di atap rumahnya. Dia pun melihat sekelebatan bayangan hitam misterius muncul di hadapannya. Kejadian itu kemudian berujung pada ditemukannya sebuah sayap hitam yang agak besar, dan berpendar indah.

Misteri itu sempat membuat David bingung. Apalagi, tepat di saat itu, dia melihat dua 'kakak'-nya, Rizal sama Juni, mengendap-endap di luar rumah pada pagi-pagi buta! Mau ngapain mereka? Lagi menjalankan misi apa? Kok dia nggak diajak? Dia kan bukan anak kecil lagi! Dia udah gede!! Misteri kehidupan David semakin rumit ketika Tante Imel terlihat semakin layu, lemah, dan nggak bergairah. Seakan-akan mamanya itu menyusut dalam sekejap! Apa mungkin papanya David yang tukang judi itu kembali dan ingin merenggut kebahagiaan mereka?

Yakyakyak... Sebelum saya berpanjang lebar, mendingan diudahin aja ceritanya. Sekarang saya mau bahas dikit-dikit (ya ampyun, masih belom selesai juga? sabar yaa... xp)...

"Pintu Harmonika" ini ceritanya sederhana banget. Tema ceritanya sih, utamanya menyorot ke kehidupan anak-anak dan remaja. Dimulai dari Rizal (yang menurut penerawangan saya duduk di kelas 2 SMA.. eh, maksudnya kelas 11), terus si Juni yang masih SMP, sama si David yang masih esde. Ketiga anak ini disatukan oleh Surga, sebuah suaka kecil di tengah kehidupan mereka. Surga itu penting banget keberadaannya bagi mereka bertiga, sampe mereka rela melakukan hal nekat, supaya tempat itu nggak direnggut dari mereka.

Gaya bercerita novel ini dibagi jadi tiga bagian dengan tiga sudut pandang, yaitu dari sudut pandang Rizal, Juni, sama David. Ada prolog sama epilog juga buat memberi gambaran permasalahan awal dan penyelesaiannya. Dari masing-masing sudut pandang, kita bisa tau sifat mereka kayak gimana, juga orang-orang di sekitar mereka. Saya paling suka sudut pandang Rizal, si ababil yang eksis luar biasa di dunia maya. Hihihiii

Dari segi bahasa, saya suka banget gaya penulisan Clara Ng dan Icha Rahmanti. Bahasanya teratur, diksinya juga oke. Yang agak mengganggu mungkin lumayan banyak pake kosakata Inggris kali, ya... Tapi, mungkin emang ABG sekarang gitu kali, ya? Demen pake kata-kata berbau Inggris. Malah si David yang di kepala saya bahasa Indonesianya buagus banget dan nggak kayak tulisan anak SD.

Satu hal yang mengganggu dari novel ini adalah banyaknya typo dan ketidak konsistenan kata. Misalnya di awal, kata maghrib ditulis dengan huruf kecil. Eh, dua halaman setelahnya ditulis dengan huruf besar. Terus, peletakan tanda bacanya juga nggak tepat. Masa di akhir kalimat dikasih spasi dulu baru titik .(ya, kayak begitu... setelah titik ada yang langsung nempel sama kalimat yang baru) Selain itu, masalah pemenggalan kata juga ada beberapa yang nggak tepat. Belum di akhir baris, tapi udah ada tanda sambung (-) untuk memenggal kalimat. Jumlah itu semakin banyak di akhir-akhir buku, bikin saya rada-rada nggak khusyuk bacanya, padahal itu merupakan inti cerita. Heehe.. bawel, yak saya? xp

Terus, satu typo yang fatal typo adalah mengenai nama David. Di halaman 13 tertulis kalo namanya "David Christian Hadidjaja" tapi di bab-bab bagian kisah David, namanya tertulis "David Christian Hadijaja". Saya sempet bingung tuh. Itu namanya si David dipanggilnya "Jaja" kayak Jaja Miharja apa "Yaya"? Yang manapun itu, semuanya terdengar aneh di telinga saya. Yah, mungkin penerbitnya lagi dikejar deadline, dan harus segera nerbitin buku ini kali, ya... Jadinya banyak typo deh. Tapi, sayang banget sebenernya kalo buku sebagus ini banyak typo-nya. Buat orang kayak saya yang "rewel" dengan tanda baca dsb., lumayan mengganggu... Hehehe...

Makanya, saya nggak mau baca buku yang nggak ada editornya, soalnya yang ada nanti saya malah bawel ngomentarin kesalahannya, bukan isi ceritanya... xp

Btw, novel ini katanya sih diangkat dari naskah film. Sutradaranya Luna Maya, Sigi Wimala, sama Ilya Sigma. Tapi belom tau kapan diputernya. Hhmm... Saya penasaran sih sama filmnya, pengen liat perwujudan orang-orang aslinya. Terutama penasaran banget sama Om Firdaus, Rizal, sama David. Tapi, kenapa Luna Maya ya sutradaranya? Ah, ya sudahlah.. Kita tunggu saja nanti tanggal mainnya....

Sekian

Dan terima kasih.... 

Eh, tunggu sebentar. Karena ini mau diikutkan ke review FYE di blognya Bzee, jadi saya mau kasih penerawangan, buku ini cocok dibaca untuk kalangan apa saja. Meskipun kata Luna Maya di sampul belakangnya, buku ini cocok dibaca semua umur, tapi kalo menurut saya sih, minimal dibaca usia 8 tahun ke atas kali ya.... Soalnya bahasanya agak-agak ribet kalo mau dibaca sendiri. Apalagi dia pake tiga sudut pandang yang berbeda gitu. Saya nggak yakin sih kalo anak-anak yang terlalu kecil bisa ngerti dengan perubahan sudut pandang ini.

Oh iya, ini pertama kalinya saya baca Clara Ng sama Icha Rahmanti. Jadi, saya dapetnya dua dong?? #uhuk #ngarep 



Satu lagi... Saya belom ngasih tau ya, dimana Surga mereka? Kuncinya, ada di balik Pintu Harmonika. Selamat berjuang para detektif kebanggaan bangsa.... 〜( ̄▽ ̄〜) (〜 ̄▽ ̄)〜


3 comments:

  1. Loh koq udah bisa review? Denger dari penerbitnya sih baru mau terbit besok. Pre-order ya?

    ReplyDelete
  2. jadi pengen baca niiiiihhhhh...ada hawkeye dan amy pulaaa buku favorit masa kecil tuh :)

    ReplyDelete
  3. @Dhyn: Kan pre-ordernya udah lama :D

    @Mbak Astrid: Ayo mbak, dibaca. Ceritanya sederhana, tapi manis buanget... Buat yg suka genre 'slice of life' cocok banget, tuh... :')

    ReplyDelete

March 21, 2013

Surga di Balik Pintu Harmonika


Pintu Harmonika by Clara Ng
My rating: 4 of 5 stars

Ketika mendengar kata surga, otak saya langsung berkelana dan mulai berimajinasi ke tempat terindah yang saya impi-impikan. Saya membayangkan diri saya sedang duduk di antara hamparan padang bunga yang maha luas. Bunga-bunga tercantik di dunia dengan beraneka warna, berada di sekeliling saya, dengan sejuta keharuman yang menyesakkan dada (dalam arti yang baik tentunya).

Di kejauhan, ada sebuah gunung salju yang tinggi menjulang, dengan latar langit biru cerah yang membentang tak terbatas. Di antara padang bunga itu, tak jauh dari tempat saya berada, ada sungai yang mengalir. Airnya sangat jernih, dan ada bebatuan di dasarnya. Di "surga saya", tidak hanya ada satu sungai yang mengalir. Ada sungai-sungai lainnya, yang memiliki rasa beraneka rupa. Sungai rasa madu, rasa susu, sampai rasa pocari sweat (eh, tapi saya nggak gitu doyan sih... Mendingan rasa Mogu-mogu aja... #loh xp).

Tentunya saya nggak sendirian di "surga saya" itu. Karena kalau sendirian, bukan surga namanya. Di sana, saya dikelilingi oleh orang-orang yang saya cintai. Keluarga saya, sahabat-sahabat saya, dan juga kucing-kucing saya yang sudah meninggal. Saya bebas berlari, bermain, juga membaca. Kalau lapar, tinggal kedip, dan voila terhidanglah aneka makanan yang saya suka. Tidak ada kesedihan. Tidak ada penderitaan. Tidak ada duka cita. Hanya kebahagiaan yang abadi yang ada di sana.

Itu adalah surga yang ada di dalam bayangan saya. Di bayangan orang lain, tentu saja berbeda. Saya pernah dengar, kalau bagi orang Arab, surga itu berupa pegunungan yang hijau dengan pepohonan. Ya... kayak yang di puncak itulah... (makanya mereka demen ke sana xp). Lalu bagi orang Mongol yang nggak punya laut, surga mungkin berbentuk lautan yang sangat biru, berkarpet pasir putih yang lembut, ditambah pohon kelapa yang berjajar. Bagi orang barat juga, sih ya... Soalnya kan kata "paradise" sering diasosiasikan dengan lautan biru yang tenang.

Yah, intinya, bagi setiap orang, surga mungkin memiliki bentuk yang berbeda-beda. Tapi, semua pasti setuju kalo denger kata "surga" yang diinget pasti yang indah-indah. Yang cantik-cantik. Kalo yang jelek-jelek, buruk-buruk, nggak menyenangkan, udah pasti deh punyanya si neraka.

Terus, apa hubungannya surga dengan novel "Pintu Harmonika" ini?

Hubungannya ada, dong. Soalnya ini adalah novel tentang Surga. Surga dengan "S" besar. Tiga tokoh utama di novel ini bercerita tentang Surga. Siapa sajakah mereka? Berikut liputan lengkapnya.... #pegangmik #natapkamera

Penghuni Surga yang pertama namanya adalah Rizal. Nama lengkapnya Rizal Zaigham Harahap. Kalo di Twitter dikenal dengan @rizal_bruce_lee. Nggak kenal? Berarti kalian nggak gaul. Soalnya, si Rizal ini seleb Twit dan seleb dunia maya. Fansnya... beuh. Bejibun. Bahkan mereka sampe bikin geng sendiri yang dikasi nama "Rizal's Angels", soalnya si Rizal ini emang cakep. Gimana nggak cakep, orang bapaknya itu tukang kelontong paling cakep se-Jabodetabek. Huehehe...

Menurut saya, Rizal ini pribadi yang unik. Dia adalah fenomena di kalangan remaja. #tsaahh (ikutan Rizal) Sebagai seorang abg labil, jelas kalo stok pedenya dia itu nggak abis-abis. Dia juga humoris, ganteng, dan katanya sih #anti #pencitraan. Hobinya Rizal itu ngegym sama jalan-jalan ke luar negeri sama bokap semata wayangnya (eh?). Pokoknya kalo baca blognya dia, pasti mupeng abis deh. Hoahaha...

Kisah si Rizal ini bener-bener bikin saya senyum-senyum sendiri. Lucu banget. Gaya ngomongnya dia ceplas-ceplos, tapi cerdas. Oh iya, saya belom ceritain soal arti Surga bagi Rizal. Bagi si Rizal, Surga itu tempat dia bisa ngetwit dan ngeblog dengan hati senang dan hati riang. Dia bisa lepas sejenak dari rutinitas membantu bokapnya di toko kelontong mereka. Biarpun si Rizal ini keliatannya happy-happy aja, tapi sebetulnya dia ini lumayan peka. Dia yang pertama sadar kalo ada apa-apa sama si Juni (penghuni Surga lainnya). Kisahnya Rizal juga bikin saya terharu, terutama ketika dia cerita tentang ibunya. Saya kasih bocoran sedikit, ya.. Ibunya Rizal ini meninggal dunia, tepat sebelum mereka pindah ke ruko baru mereka. Bagi ibunya Rizal, ruko itu adalah impian mereka sekeluarga. Sayang, belum sempat 'mencicipi' beliau sudah dipanggil Yang Mahakuasa... Hiks :'(

Penghuni Surga selanjutnya namanya Juni Shahnaz. Bapaknya punya toko sablon, persis di sebelah toko kelontongnya Om Firdaus, bapaknya Rizal, si om-penjual-toko-kelontong-paling-ganteng-sejadebotabek. Juni ini puinter buangett. Tampangnya juga culun. Itu sebabnya dia suka dibully di sekolahnya. Untungnya ada Bruce Lee yang mengambil wujud Rizal (boong... yg bener Rizal doang yg ngarep bisa kayak Bruce Lee... xp), yang membantu Juni.

Jadi, si Suhu Rizal ini ngajarin Juni bela diri. Dia nggak suka ngeliat Juni diem aja digencet sama kakak kelasnya. Juni harus ngelawan. Juni pun melawan, tapi ironisnya, perlawanan dia itu justru menjadi bumerang di masa berikutnya, hingga berujung pada diskorsnya gadis-abg-baru-puber itu.

Keadaan semakin keruh karena bisnis toko sablon bapaknya Juni, Om Niko, lagi nggak bagus. Dan bisa dibilang, Juni-lah salah satu penyebab bisnis bapaknya jadi nggak lancar. Udah gitu, namanya juga ABG, Juni lagi 'seneng-senengnya' jadi pemberontak. Yah, bukannya seneng juga sih, tapi namanya juga abg, pasti suka galau-galau gimanaa gituh... Si Juni ini sedang dalam kebingungan, dalam rangka mencari jati dirinya yang sesungguhnya. Dan, Surga-lah tempat ia bisa merenungkan makna kehidupannya. #assiikk

Oh iya, si Juni ini demen banget baca kisah-kisah detektif. Mulai dari "Detektif Conan", kasus-kasus serial "Detektif Cilik Hawkeye Collins" dan "Amy Adams" (yang dua belakang saya nggak kenal.. hehehe), dsb. Klo lagi di Surga, doi demennya baca buku-buku begituan. Biasanya ditemenin sama si David, bocah cilik tetangga, yang juga gemar sama cerita-cerita detektif.

Nah, sekarang mari kita kenalan sama penghuni Surga yang terakhir. Namanya David Hadijaja (tapi di halaman depan ditulisnya David Hadidjaja..) alias David Edogawa. David ini paling kecil di antara mereka bertiga. Sama kayak Juni, dia demen banget baca cerita detektif. Kalo udah ketemu sama Juni di Surga, mereka pasti duduk anteng diem, masing-masing baca komik. Sementara si Suhu alias Master Rizal asik bercengkrama dengan para fansnya di dunia maya.

Si David ini tinggal sama ibunya, Imelda, di sebuah toko kue, yang masih masuk jajaran ruko itu. Letak rumahnya David sebelahan sama Juni. Jadi urutannya, ruko kelontong, ruko sablon, sama ruko bakery. Tante Imel ini single mother. Dia ditinggal lari sama bapaknya David, pas David masih di dalam kandungan. Si bapaknya David yang tukang judi, kabur sama cewek lain, setelah sebelumnya mencuri uang milik ortunya sendiri, yang nggak lain dan nggak bukan adalah mertuanya Imel. Jadilah Tante Imel harus menanggung hidupnya sendiri, dan jabang bayi yang ada di perutnya...

Untungnya, Tante Imel ini jago bikin kue. Dia pun bikin usaha kue sendiri. Kuenya Tante Imel itu unik, soalnya bentuknya malaikat. Malaikat yang lagi senyum. Kue itu pernah menolong Rizal dulu, pas lagi kangen sama mamanya.

Kisah David ini yang paling misterius. Sesuai sama David yang suka hal-hal berbau misteri. Jadi, pada suatu hari, ketika David terbaring sakit di rumahnya, dia mendengar bunyi keras di atap rumahnya. Dia pun melihat sekelebatan bayangan hitam misterius muncul di hadapannya. Kejadian itu kemudian berujung pada ditemukannya sebuah sayap hitam yang agak besar, dan berpendar indah.

Misteri itu sempat membuat David bingung. Apalagi, tepat di saat itu, dia melihat dua 'kakak'-nya, Rizal sama Juni, mengendap-endap di luar rumah pada pagi-pagi buta! Mau ngapain mereka? Lagi menjalankan misi apa? Kok dia nggak diajak? Dia kan bukan anak kecil lagi! Dia udah gede!! Misteri kehidupan David semakin rumit ketika Tante Imel terlihat semakin layu, lemah, dan nggak bergairah. Seakan-akan mamanya itu menyusut dalam sekejap! Apa mungkin papanya David yang tukang judi itu kembali dan ingin merenggut kebahagiaan mereka?

Yakyakyak... Sebelum saya berpanjang lebar, mendingan diudahin aja ceritanya. Sekarang saya mau bahas dikit-dikit (ya ampyun, masih belom selesai juga? sabar yaa... xp)...

"Pintu Harmonika" ini ceritanya sederhana banget. Tema ceritanya sih, utamanya menyorot ke kehidupan anak-anak dan remaja. Dimulai dari Rizal (yang menurut penerawangan saya duduk di kelas 2 SMA.. eh, maksudnya kelas 11), terus si Juni yang masih SMP, sama si David yang masih esde. Ketiga anak ini disatukan oleh Surga, sebuah suaka kecil di tengah kehidupan mereka. Surga itu penting banget keberadaannya bagi mereka bertiga, sampe mereka rela melakukan hal nekat, supaya tempat itu nggak direnggut dari mereka.

Gaya bercerita novel ini dibagi jadi tiga bagian dengan tiga sudut pandang, yaitu dari sudut pandang Rizal, Juni, sama David. Ada prolog sama epilog juga buat memberi gambaran permasalahan awal dan penyelesaiannya. Dari masing-masing sudut pandang, kita bisa tau sifat mereka kayak gimana, juga orang-orang di sekitar mereka. Saya paling suka sudut pandang Rizal, si ababil yang eksis luar biasa di dunia maya. Hihihiii

Dari segi bahasa, saya suka banget gaya penulisan Clara Ng dan Icha Rahmanti. Bahasanya teratur, diksinya juga oke. Yang agak mengganggu mungkin lumayan banyak pake kosakata Inggris kali, ya... Tapi, mungkin emang ABG sekarang gitu kali, ya? Demen pake kata-kata berbau Inggris. Malah si David yang di kepala saya bahasa Indonesianya buagus banget dan nggak kayak tulisan anak SD.

Satu hal yang mengganggu dari novel ini adalah banyaknya typo dan ketidak konsistenan kata. Misalnya di awal, kata maghrib ditulis dengan huruf kecil. Eh, dua halaman setelahnya ditulis dengan huruf besar. Terus, peletakan tanda bacanya juga nggak tepat. Masa di akhir kalimat dikasih spasi dulu baru titik .(ya, kayak begitu... setelah titik ada yang langsung nempel sama kalimat yang baru) Selain itu, masalah pemenggalan kata juga ada beberapa yang nggak tepat. Belum di akhir baris, tapi udah ada tanda sambung (-) untuk memenggal kalimat. Jumlah itu semakin banyak di akhir-akhir buku, bikin saya rada-rada nggak khusyuk bacanya, padahal itu merupakan inti cerita. Heehe.. bawel, yak saya? xp

Terus, satu typo yang fatal typo adalah mengenai nama David. Di halaman 13 tertulis kalo namanya "David Christian Hadidjaja" tapi di bab-bab bagian kisah David, namanya tertulis "David Christian Hadijaja". Saya sempet bingung tuh. Itu namanya si David dipanggilnya "Jaja" kayak Jaja Miharja apa "Yaya"? Yang manapun itu, semuanya terdengar aneh di telinga saya. Yah, mungkin penerbitnya lagi dikejar deadline, dan harus segera nerbitin buku ini kali, ya... Jadinya banyak typo deh. Tapi, sayang banget sebenernya kalo buku sebagus ini banyak typo-nya. Buat orang kayak saya yang "rewel" dengan tanda baca dsb., lumayan mengganggu... Hehehe...

Makanya, saya nggak mau baca buku yang nggak ada editornya, soalnya yang ada nanti saya malah bawel ngomentarin kesalahannya, bukan isi ceritanya... xp

Btw, novel ini katanya sih diangkat dari naskah film. Sutradaranya Luna Maya, Sigi Wimala, sama Ilya Sigma. Tapi belom tau kapan diputernya. Hhmm... Saya penasaran sih sama filmnya, pengen liat perwujudan orang-orang aslinya. Terutama penasaran banget sama Om Firdaus, Rizal, sama David. Tapi, kenapa Luna Maya ya sutradaranya? Ah, ya sudahlah.. Kita tunggu saja nanti tanggal mainnya....

Sekian

Dan terima kasih.... 

Eh, tunggu sebentar. Karena ini mau diikutkan ke review FYE di blognya Bzee, jadi saya mau kasih penerawangan, buku ini cocok dibaca untuk kalangan apa saja. Meskipun kata Luna Maya di sampul belakangnya, buku ini cocok dibaca semua umur, tapi kalo menurut saya sih, minimal dibaca usia 8 tahun ke atas kali ya.... Soalnya bahasanya agak-agak ribet kalo mau dibaca sendiri. Apalagi dia pake tiga sudut pandang yang berbeda gitu. Saya nggak yakin sih kalo anak-anak yang terlalu kecil bisa ngerti dengan perubahan sudut pandang ini.

Oh iya, ini pertama kalinya saya baca Clara Ng sama Icha Rahmanti. Jadi, saya dapetnya dua dong?? #uhuk #ngarep 



Satu lagi... Saya belom ngasih tau ya, dimana Surga mereka? Kuncinya, ada di balik Pintu Harmonika. Selamat berjuang para detektif kebanggaan bangsa.... 〜( ̄▽ ̄〜) (〜 ̄▽ ̄)〜


3 comments:

  1. Loh koq udah bisa review? Denger dari penerbitnya sih baru mau terbit besok. Pre-order ya?

    ReplyDelete
  2. jadi pengen baca niiiiihhhhh...ada hawkeye dan amy pulaaa buku favorit masa kecil tuh :)

    ReplyDelete
  3. @Dhyn: Kan pre-ordernya udah lama :D

    @Mbak Astrid: Ayo mbak, dibaca. Ceritanya sederhana, tapi manis buanget... Buat yg suka genre 'slice of life' cocok banget, tuh... :')

    ReplyDelete