March 7, 2013

Pesan-pesan Cinta


The Final Note: Pesan-Pesan Cinta by Kevin Alan Milne
My rating: 3 of 5 stars

Apa yang paling dibutuhkan dalam sebuah pernikahan?

Pertanyaan itulah yang bermain di benak saya setelah membaca "Pesan-pesan Cinta". Pertanyaan yang tidak saya ketahui jawabannya, karena saya belum merasakannya. Namun, bukan berarti saya tidak memiliki pendapat sendiri, mengenai apa yang paling dibutuhkan dalam sebuah pernikahan.... Berdasarkan apa yang saya lihat, perhatikan, dan alami, menurut saya, yang paling dibutuhkan dalam pernikahan adalah: komitmen.

Komitmen dalam menepati janji di hadapan Tuhan. Komitmen dalam menjalankan kewajiban sebagai seorang suami/istri. Komitmen dalam melaksanakan impian dan tujuan dari rumah tangga itu. Dan komitmen-komitmen lainnya yang telah disepakati bersama pasangan.

Menurut saya (lagi), jika salah satu di antara komitmen itu tidak terpenuhi, maka rumah tangga itu akan guncang. Akan rapuh... Dan, itulah yang terjadi pada rumah tangga Ethan dan Annaliese Bright.

Pertemuan singkat Ethan dan Anna di Wina, sudah cukup untuk membuat kedua insan ini jatuh cinta. Ketika itu, Ethan adalah seorang mahasiswa S2, dan Anna, yang baru saja lulus kuliah, sedang berjalan-jalan di Eropa bersama temannya. Ethan sangat menyukai musik, sedangkan Anna bercita-cita menjadi ilustrator buku anak. Dua orang seniman, bertemu di kota yang menjadi pusat seni. Sempurna, bukan?

Hubungan mereka pun berkembang, hingga akhirnya mereka menikah. Menikah, tidak seperti kisah dongeng, bukanlah akhir yang membahagiakan dari kisah cinta mereka, tapi justru menjadi awal, tempat segala hal teruji....

Awal pernikahan, semuanya masih tampak indah. Meskipun belum punya rumah dan uang melimpah, mereka masih merasa bahagia. Walaupun menurut saya, bibit-bibit "ketidakberesan" Ethan mulai terlihat. Ia mulai melupakan mimpinya sebagai penulis lagu, dari hal yang sederhana saja, yaitu lalai membuatkan lagu untuk Anna di hari peringatan pernikahan mereka.... Hanya Anna yang masih konsisten dalam mengejar mimpinya...

Lalu, tempat tinggal mereka terbakar. Anna juga mengalami keguguran. Kehidupan mereka kembali ke titik nol, dan mereka harus memulainya lagi dari awal. Hingga akhirnya Ethan mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan pembuat jingle iklan yang cukup besar....

Kehidupan mereka mulai membaik. Anna mulai mencoba untuk hamil, dan gagal. Mencoba lagi, lalu gagal lagi. Hingga akhirnya mereka berhasil dan Anna melahirkan sepasang bayi kembar. Sayangnya, hanya satu yang bertahan hidup. Dialah Hope, bayi mungil yang menjadi tumpuan harapan mereka.

Kebutuhan hidup yang semakin tinggi membuat Ethan menjadi seorang yang gila kerja. Ia mulai melupakan Anna, dan parahnya, putri mereka. Ethan melupakan janji-janji yang dulu pernah diucapkannya di hari pernikahan. Janji-janji kepada Anna, kepada Grandpa Bright, kepada ayahnya, dan kepada banyak orang, yang dulu pernah dicatatnya di sebuah kertas. Ethan semakin melihat segala sesuatunya dari sisi materi. Ia memang masih memiliki komitmen untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Tapi ia melupakan komitmennya untuk membuat mereka tetap bahagia.

Hingga akhirnya, peristiwa itu mengubah segalanya....

Anna kecelakaan. Ia mengalami koma, dan sangat sedikit harapan hidup yang tersisa untuknya. Ironisnya, kecelakaan itu terjadi ketika Anna ingin membelikan gitar sebagai hadiah ulang tahun untuk Hope. Gitar yang seharusnya dibeli oleh Ethan, tapi ia kembali lalai untuk melakukannya.

Peristiwa itu mulai menyadarkan Ethan mengenai apa yang seharusnya menjadi prioritasnya. Apa yang paling penting bagi dirinya. Apalagi, ia pun hampir saja kehilangan harapannya, kehilangan Hope-nya, ketika ia terlalu sibuk dengan Anna yang sedang terbujur di RS, dan (lagi-lagi) melalaikan kewajibannya pada putri semata wayangnya.

Sepertinya saya sebel sama Ethan, ya?

Sejujurnya, memang iya. Di buku ini, Ethan-lah yang banyak melupakan janji-janji dalam perkawinan mereka. Sementara Anna, tetap memenuhi janjinya untuk melukis di setiap hari ulang tahun perkawinan mereka, di tahun pertama saja Ethan sudah lupa untuk membuatkan lagu buat Anna. Ethan juga jarang memainkan gitar untuk Anna, padahal ia telah berjanji untuk melakukannya seminggu sekali. Sementara Anna tak pernah lalai untuk memberikan "Surat Cinta Sejati" kepada Ethan, setiap kali Ethan memainkan gitar untuknya. Ditambah lagi, Ethan-lah yang lebih dahulu melupakan mimpinya, melupakan impian yang dibangun oleh keluarga kecil mereka....

Ya, memang wajar sih. Beban Ethan sebagai seorang kepala keluarga membuatnya harus berpikir panjang untuk masa depan. Apalagi, kelihatannya Ethan ini orangnya perfeksionis banget, jadi semuanya harus berjalan sesuai keinginannya. Misalnya, sebelum menikah, paling nggak dia harus udah kerja dulu. Sebelum punya anak, paling nggak harus punya pekerjaan yang lebih mapan lagi (karena kerja sebelumnya 'cuma' jadi guru musik aja), gaji yang lebih besar. Sayangnya, sifat perfeksionis Ethan ini hanya bersandar pada materi saja, sebuah landasan yang memang penting, tapi menurut saya cukup rapuh.

Melihat sifat Ethan ini mengingatkan saya pada sebuah pembicaraan dengan beberapa orang teman lelaki saya. Ketika itu, pembicaraan kami tentang gaji dan pekerjaan. Teman-teman saya yang lelaki ternyata memang lebih berorientasi pada materi dibandingkan passion. Saya masih ingat bagaimana seorang teman saya pindah kerja dari posisinya yang sebenarnya cukup dia sukai, ke perusahaan lain yang menawarkan gaji lebih besar. Sayangnya, dia nggak bahagia setelah pindah, dan nggak bisa move on dari tempat kerja lamanya....

Ngomong-ngomong, saya jadi ingat sebuah manga yang saya baca beberapa tahun yang lalu. Manga berjudul Orenji Yane no Chiisana Ie (Rumah kecil beratap oranye) itu bercerita tentang seorang lelaki yang ditinggal pergi istrinya. Istrinya pergi dari rumahnya, tepat ketika sang suami naik jabatan dan bisa membeli rumah idaman mereka. Sang istri sudah nggak tahan, karena suaminya nggak pernah di rumah dan memperhatikan kebutuhan ia dan anak-anaknya....

Sekali lagi, saya nggak menyalahkan kaum adam yang berpikiran seperti itu, karena dalam sistem masyarakat kita, lelaki seperti itulah yang dituntut. Lelaki yang memiliki pekerjaan di perusahaan besar, dengan gaji yang digitnya nggak sanggup dihitung tangan (lebay), dsb. Lelaki seperti itulah yang dinilai pantas, baik oleh masyarakat ataupun oleh calon mertua. Ya, secara tidak sadar, masyarakat kita memang masyarakat yang materialistis. Akui saja itu.

Sementara sebagai seorang wanita, istri, dan ibu, tentu saja Anna bahagia suaminya mendapatkan pekerjaan yang bagus. Ia sanggup bersabar, kehilangan suaminya sebentar saja, asalkan kehidupan mereka bisa lebih membaik. Mereka bisa memiliki rumah yang diidam-idamkan, dengan halaman yang luas, tempat Hope bisa bermain, dan tidak kekurangan materi. Sekali lagi materi.

Ah, tapi orang-orang yang mengatakan "uang tidak bisa membeli kebahagiaan" itu sebagian besar adalah orang-orang yang sudah pernah punya uang banyak, sehingga merasakan hal itu. Coba saja tanyakan kepada mereka yang nggak punya uang, tentu saja mereka akan menjawab berbeda.

Beberapa kali saya sempat kesal setengah mati sama Ethan, yang mengucapkan kata-kata tajam ke Anna. Saya juga merasa sedih, karena lelaki manis yang dulu sering bermain gitar dengan asyiknya di jalan-jalan kota Wina itu telah menghilang. Sama seperti Anna, Grandpa Bright, dan Hope.... saya merasa telah kehilangan Ethan.

Namun saya masih menganggap Ethan sangat beruntung, karena ia masih mendapatkan kesempatan untuk meminta maaf kepada Anna. Ethan masih diberi waktu untuk merenungkan apa yang telah ia perbuat pada keluarganya. Ia juga diberi kesempatan terakhir untuk membuat Anna bahagia...

Coba saja bayangkan, berapa banyak orang di luar sana yang kehilangan pasangan atau orang mereka cintai begitu saja. Tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal, terima kasih, ataupun maaf. Dan tentu banyak orang seperti Ethan yang akan menyesali perbuatannya seumur hidupnya, dan berharap agar sang waktu berbaik hati hingga berkenan untuk mengembalikan hidup mereka ke masa ketika semuanya masih berjalan dengan semestinya.

Ya, tapi rasanya saya hanya bisa ngomong saja, karena sesungguhnya hal itu belum teruji pada diri saya. Saya belum memiliki pasangan, dan saya belum merasakan beratnya ketika dua sifat, dua pikiran, dan dua kepentingan saling berbenturan. Sepertinya memang benar, butuh cadangan maaf yang besar untuk semuanya. Bukan hanya untuk orang yang kita sakiti, tapi juga untuk diri kita sendiri, dan orang lain di sekitar kita....

Did you really search the world to find the true love?
Did you ever ask the girl if that would be enough?
And do you ever thank the Lord, for all He's given you?
Well I do

And just last night,
Before I went to bed,
I knelt to pray,
And this is what I said....
Take my life if you'd like,
Because I found what I came to find.
Or leave me here for a while,
Cuz I found heaven... in her smile

No comments:

Post a Comment

March 7, 2013

Pesan-pesan Cinta


The Final Note: Pesan-Pesan Cinta by Kevin Alan Milne
My rating: 3 of 5 stars

Apa yang paling dibutuhkan dalam sebuah pernikahan?

Pertanyaan itulah yang bermain di benak saya setelah membaca "Pesan-pesan Cinta". Pertanyaan yang tidak saya ketahui jawabannya, karena saya belum merasakannya. Namun, bukan berarti saya tidak memiliki pendapat sendiri, mengenai apa yang paling dibutuhkan dalam sebuah pernikahan.... Berdasarkan apa yang saya lihat, perhatikan, dan alami, menurut saya, yang paling dibutuhkan dalam pernikahan adalah: komitmen.

Komitmen dalam menepati janji di hadapan Tuhan. Komitmen dalam menjalankan kewajiban sebagai seorang suami/istri. Komitmen dalam melaksanakan impian dan tujuan dari rumah tangga itu. Dan komitmen-komitmen lainnya yang telah disepakati bersama pasangan.

Menurut saya (lagi), jika salah satu di antara komitmen itu tidak terpenuhi, maka rumah tangga itu akan guncang. Akan rapuh... Dan, itulah yang terjadi pada rumah tangga Ethan dan Annaliese Bright.

Pertemuan singkat Ethan dan Anna di Wina, sudah cukup untuk membuat kedua insan ini jatuh cinta. Ketika itu, Ethan adalah seorang mahasiswa S2, dan Anna, yang baru saja lulus kuliah, sedang berjalan-jalan di Eropa bersama temannya. Ethan sangat menyukai musik, sedangkan Anna bercita-cita menjadi ilustrator buku anak. Dua orang seniman, bertemu di kota yang menjadi pusat seni. Sempurna, bukan?

Hubungan mereka pun berkembang, hingga akhirnya mereka menikah. Menikah, tidak seperti kisah dongeng, bukanlah akhir yang membahagiakan dari kisah cinta mereka, tapi justru menjadi awal, tempat segala hal teruji....

Awal pernikahan, semuanya masih tampak indah. Meskipun belum punya rumah dan uang melimpah, mereka masih merasa bahagia. Walaupun menurut saya, bibit-bibit "ketidakberesan" Ethan mulai terlihat. Ia mulai melupakan mimpinya sebagai penulis lagu, dari hal yang sederhana saja, yaitu lalai membuatkan lagu untuk Anna di hari peringatan pernikahan mereka.... Hanya Anna yang masih konsisten dalam mengejar mimpinya...

Lalu, tempat tinggal mereka terbakar. Anna juga mengalami keguguran. Kehidupan mereka kembali ke titik nol, dan mereka harus memulainya lagi dari awal. Hingga akhirnya Ethan mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan pembuat jingle iklan yang cukup besar....

Kehidupan mereka mulai membaik. Anna mulai mencoba untuk hamil, dan gagal. Mencoba lagi, lalu gagal lagi. Hingga akhirnya mereka berhasil dan Anna melahirkan sepasang bayi kembar. Sayangnya, hanya satu yang bertahan hidup. Dialah Hope, bayi mungil yang menjadi tumpuan harapan mereka.

Kebutuhan hidup yang semakin tinggi membuat Ethan menjadi seorang yang gila kerja. Ia mulai melupakan Anna, dan parahnya, putri mereka. Ethan melupakan janji-janji yang dulu pernah diucapkannya di hari pernikahan. Janji-janji kepada Anna, kepada Grandpa Bright, kepada ayahnya, dan kepada banyak orang, yang dulu pernah dicatatnya di sebuah kertas. Ethan semakin melihat segala sesuatunya dari sisi materi. Ia memang masih memiliki komitmen untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Tapi ia melupakan komitmennya untuk membuat mereka tetap bahagia.

Hingga akhirnya, peristiwa itu mengubah segalanya....

Anna kecelakaan. Ia mengalami koma, dan sangat sedikit harapan hidup yang tersisa untuknya. Ironisnya, kecelakaan itu terjadi ketika Anna ingin membelikan gitar sebagai hadiah ulang tahun untuk Hope. Gitar yang seharusnya dibeli oleh Ethan, tapi ia kembali lalai untuk melakukannya.

Peristiwa itu mulai menyadarkan Ethan mengenai apa yang seharusnya menjadi prioritasnya. Apa yang paling penting bagi dirinya. Apalagi, ia pun hampir saja kehilangan harapannya, kehilangan Hope-nya, ketika ia terlalu sibuk dengan Anna yang sedang terbujur di RS, dan (lagi-lagi) melalaikan kewajibannya pada putri semata wayangnya.

Sepertinya saya sebel sama Ethan, ya?

Sejujurnya, memang iya. Di buku ini, Ethan-lah yang banyak melupakan janji-janji dalam perkawinan mereka. Sementara Anna, tetap memenuhi janjinya untuk melukis di setiap hari ulang tahun perkawinan mereka, di tahun pertama saja Ethan sudah lupa untuk membuatkan lagu buat Anna. Ethan juga jarang memainkan gitar untuk Anna, padahal ia telah berjanji untuk melakukannya seminggu sekali. Sementara Anna tak pernah lalai untuk memberikan "Surat Cinta Sejati" kepada Ethan, setiap kali Ethan memainkan gitar untuknya. Ditambah lagi, Ethan-lah yang lebih dahulu melupakan mimpinya, melupakan impian yang dibangun oleh keluarga kecil mereka....

Ya, memang wajar sih. Beban Ethan sebagai seorang kepala keluarga membuatnya harus berpikir panjang untuk masa depan. Apalagi, kelihatannya Ethan ini orangnya perfeksionis banget, jadi semuanya harus berjalan sesuai keinginannya. Misalnya, sebelum menikah, paling nggak dia harus udah kerja dulu. Sebelum punya anak, paling nggak harus punya pekerjaan yang lebih mapan lagi (karena kerja sebelumnya 'cuma' jadi guru musik aja), gaji yang lebih besar. Sayangnya, sifat perfeksionis Ethan ini hanya bersandar pada materi saja, sebuah landasan yang memang penting, tapi menurut saya cukup rapuh.

Melihat sifat Ethan ini mengingatkan saya pada sebuah pembicaraan dengan beberapa orang teman lelaki saya. Ketika itu, pembicaraan kami tentang gaji dan pekerjaan. Teman-teman saya yang lelaki ternyata memang lebih berorientasi pada materi dibandingkan passion. Saya masih ingat bagaimana seorang teman saya pindah kerja dari posisinya yang sebenarnya cukup dia sukai, ke perusahaan lain yang menawarkan gaji lebih besar. Sayangnya, dia nggak bahagia setelah pindah, dan nggak bisa move on dari tempat kerja lamanya....

Ngomong-ngomong, saya jadi ingat sebuah manga yang saya baca beberapa tahun yang lalu. Manga berjudul Orenji Yane no Chiisana Ie (Rumah kecil beratap oranye) itu bercerita tentang seorang lelaki yang ditinggal pergi istrinya. Istrinya pergi dari rumahnya, tepat ketika sang suami naik jabatan dan bisa membeli rumah idaman mereka. Sang istri sudah nggak tahan, karena suaminya nggak pernah di rumah dan memperhatikan kebutuhan ia dan anak-anaknya....

Sekali lagi, saya nggak menyalahkan kaum adam yang berpikiran seperti itu, karena dalam sistem masyarakat kita, lelaki seperti itulah yang dituntut. Lelaki yang memiliki pekerjaan di perusahaan besar, dengan gaji yang digitnya nggak sanggup dihitung tangan (lebay), dsb. Lelaki seperti itulah yang dinilai pantas, baik oleh masyarakat ataupun oleh calon mertua. Ya, secara tidak sadar, masyarakat kita memang masyarakat yang materialistis. Akui saja itu.

Sementara sebagai seorang wanita, istri, dan ibu, tentu saja Anna bahagia suaminya mendapatkan pekerjaan yang bagus. Ia sanggup bersabar, kehilangan suaminya sebentar saja, asalkan kehidupan mereka bisa lebih membaik. Mereka bisa memiliki rumah yang diidam-idamkan, dengan halaman yang luas, tempat Hope bisa bermain, dan tidak kekurangan materi. Sekali lagi materi.

Ah, tapi orang-orang yang mengatakan "uang tidak bisa membeli kebahagiaan" itu sebagian besar adalah orang-orang yang sudah pernah punya uang banyak, sehingga merasakan hal itu. Coba saja tanyakan kepada mereka yang nggak punya uang, tentu saja mereka akan menjawab berbeda.

Beberapa kali saya sempat kesal setengah mati sama Ethan, yang mengucapkan kata-kata tajam ke Anna. Saya juga merasa sedih, karena lelaki manis yang dulu sering bermain gitar dengan asyiknya di jalan-jalan kota Wina itu telah menghilang. Sama seperti Anna, Grandpa Bright, dan Hope.... saya merasa telah kehilangan Ethan.

Namun saya masih menganggap Ethan sangat beruntung, karena ia masih mendapatkan kesempatan untuk meminta maaf kepada Anna. Ethan masih diberi waktu untuk merenungkan apa yang telah ia perbuat pada keluarganya. Ia juga diberi kesempatan terakhir untuk membuat Anna bahagia...

Coba saja bayangkan, berapa banyak orang di luar sana yang kehilangan pasangan atau orang mereka cintai begitu saja. Tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal, terima kasih, ataupun maaf. Dan tentu banyak orang seperti Ethan yang akan menyesali perbuatannya seumur hidupnya, dan berharap agar sang waktu berbaik hati hingga berkenan untuk mengembalikan hidup mereka ke masa ketika semuanya masih berjalan dengan semestinya.

Ya, tapi rasanya saya hanya bisa ngomong saja, karena sesungguhnya hal itu belum teruji pada diri saya. Saya belum memiliki pasangan, dan saya belum merasakan beratnya ketika dua sifat, dua pikiran, dan dua kepentingan saling berbenturan. Sepertinya memang benar, butuh cadangan maaf yang besar untuk semuanya. Bukan hanya untuk orang yang kita sakiti, tapi juga untuk diri kita sendiri, dan orang lain di sekitar kita....

Did you really search the world to find the true love?
Did you ever ask the girl if that would be enough?
And do you ever thank the Lord, for all He's given you?
Well I do

And just last night,
Before I went to bed,
I knelt to pray,
And this is what I said....
Take my life if you'd like,
Because I found what I came to find.
Or leave me here for a while,
Cuz I found heaven... in her smile

No comments:

Post a Comment