June 25, 2013

Bagaimana Saya Menulis Review?

Sumber: thingsaboutbooks.tumblr.com

Terinspirasi dari blognya Aul di The Black in Book tentang bagaimana dia menulis reviewnya, maka kali ini pun saya memberanikan diri untuk sharing curhat, bagaimana saya menulis review. Beda orang memang beda cara menulis reviewnya, dan dengan tau kebiasaan orang, kita jadi bisa melihat apakah review yang sudah kita tulis cukup efektif atau tidak.

Membaca buku
Biasanya, setelah membaca sebuah buku, saya akan langsung menulis reviewnya. Pokoknya nggak lama-lama deh. Soalnya, kalo lama-lama, saya pasti jadi males. Maklum, saya ini orangnya angot-angotan, beda banget sama temen-temen saya di BBI yang pada rajin-rajin.... *jadi malu* *ngumpet di perpus*

Selain karena kalau kelamaan saya jadi males, saya juga tidak biasa mengendapkan ide-ide tulisan saya. Jadi ketika ada mood buat nulis, ya harus disalurkan, karena kalo nggak, bisa-bisa nggak ditulis beneran deh itu ripiu.

Sekarang saya cerita dulu bagaimana saya biasanya membaca buku. Kalau dulu, waktu masih kuliah, saya bisa baca satu buku dengan tebal standar (kira-kira 300-400-an halaman) dalam satu hari. Tapi sekarang, kecepatan baca saya jatuh drastis. Selain karena sudah bekerja, banyak juga gangguan-gangguan lain yang bikin kecepatan baca saya menurun. Kalau sekarang-sekarang ini sih jujur aja banyak terganggu oleh hp dan hasrat untuk menyelesaikan anime yang lagi saya tonton. Hasilnya, baca bukunya jadi tersendat-sendat deh.

Dulu sebelum gabung BBI dan masih jarang banget bikin review, biasanya saya kalo baca ya udah dibaca aja. Nggak pernah bikin catatan atau apapun juga. Tapi, itu dulu. Sekarang saya selalu buat catatan dari buku-buku yang saya baca. Biasanya sih cuma daftar halaman yang mau dilihat ulang, tapi kalau bukunya terlalu banyak typo misalnya, maka saya akan memberi penjelasan tentang kesalahan tata bahasanya atau bahkan emosi saya ketika terlalu banyak ngeliat typo itu. Hehehe...

Buku apa saja yang direview?
Hhhmm... sekarang ini saya sih mau membiasakan diri untuk membuat review semua buku yang saya baca, mulai dari novel, buku-buku non fiksi, bahkan manga. Cuma, biasanya nggak semua buku yang saya review itu saya masukkan ke blog ini. Cuma buku-buku tertentu saja, yang saya pikir lebih baik dimasukkan ke blog. Kalau manga, biasanya saya nggak pernah masukin reviewnya ke blog, terutama kalau bersambung. Makanya, meskipun rating di Goodreads saya banyak banget baca manga, tapi kalau di blog hampir nggak ada tuh review manga. Paling cuma yang paling saya suka atau berkesan saja, kayak manga ini.

Oh iya, alasan lain kenapa saya nggak masukin manga ke blog ya karena  kalo manga biasanya bukan  review yang saya tulis, tapi cuma nulis komentar saja selesai baca, yang paling panjangnya nggak sampai satu paragraf... :D Makanya, yang kayak gitu-gitu biasanya cukup tersimpan di gutrits aja, nggak perlu diumbar-umbar di blog.... #lhaaa


Sumber: thingsaboutbooks.tumblr.com

Proses review
Buat yang sering baca review saya, pasti tau deh kalau review saya isinya kebanyakan curhatan.... xD Bukannya nggak mau bersikap objektif sih, tapi karena emang nggak bisa aja. Hahahaa Kata teman-teman saya, tulisan saya memang biasanya meletup-letup, jadi perasaan saya ketika nulis tuh ketauan banget kayak gimana.

Alasan lainnya, bagi saya setiap buku itu punya rasa yang spesial. Punya kenangan yang unik, bahkan justru membangkitkan kenangan-kenangan indah di dalam hidup saya... #tsaahh Eh, tapi ada juga sih yang kenangan buruk, cuma kalau yang itu biasanya nggak perlu terlalu diceritakan ke banyak orang, cukup saya sendiri yang tahu. Hehehee

Itu sebabnya ketika saya review buku "Howl's Moving Castle" saya justru cerita gimana saya pergi ke Studio Ghibli, atau ketika saya review buku "Wuthering Heights" saya justru cerita tentang lagu yang entah kenapa bikin saya inget sama buku itu (meskipun orang lain nggak... :p), atau curhat tentang kucing kantor yang mati yang justru lebih detail dari cerita bukunya di review "ParaNorman". Ya, meskipun ada risiko bakalan dihajar sama pembaca, tapi bagi saya sangat penting untuk memasukkan perasaan saya sejujur-jujurnya, ketika saya sedang mereview sebuah buku. Dan menurut saya, justru hal itulah yang akan menjadi ciri khas saya ketika menulis review.

Berbeda dengan Aul yang selalu buat notes dulu di bukunya sebelum menulis review, saya biasanya nulis notesnya ya di "Notes" Window. Kadang juga langsung diketik di Goodreads untuk kemudian dicopas ke blog (saya memang pemalas xD), soalnya kalau langsung dari gutrits saya kan nggak perlu nulis ulang pengarangnya, penerbitnya, isbn-nya, penerjemahnya, dsb. Iya, iya, saya memang pemalas. Maklumin aja ya... xDD

Soal panjang review, biasanya saya kalau nulis review suka puanjaanggg, apalagi dulu tuh. Maklum deh, soalnya banyakan isinya curhat. Selain itu, kalau bukunya saya suka banget, biasanya saya jadi pengen cerita soal segala hal yang ada di buku itu, dan saya itu kalau nulis maunya detaiiillll.... susah banget untuk membuang bagian-bagian yang nggak penting, karena buat saya semuanya penting. Alasan lainnya juga karena saya jaraaangg banget baca ulang review yang sudah saya tulis. Dulu tuh saya kena sindrom malu-baca-ulang-apa-yang-udah-ditulis, jadi biasanya yang udah naik ya biarin aja begitu. Hehehee

Kalau sekarang, saya berusaha untuk memperingkas review saya, supaya menggunakan bahasa dan kata-kata yang lebih efektif. Curhat? Ya tetep dong, itu nggak boleh dilepaskan dari review, karena seperti yang saya bilang sebelumnya, setiap buku itu memberikan "rasa" yang berbeda bagi diri saya. Jadi, curhat adalah bagian yang penting dari review saya. Oh iya, saya juga mulai belajar untuk sembuh dari sindrom di atas dan membaca ulang lagi apa yang sudah saya tulis.

Reviewnya pake bahasa apa?
Kalau di blog, saya selalu review pake bahasa Indonesia, dong. Soalnya, saya itu nggak yakin dengan kemampuan bahasa Inggris saya. Hehehee... Selain itu, pembaca saya juga sebagian besar adalah orang Indonesia, dan yang terpenting saya senang menulis dengan bahasa Indonesia. Rasanya segala perasaan saya lebih mudah tumpah ruah kalau pakai bahasa ibu saya ini (eh, bahasanya ibu saya Jawa sih... #terusss?? #bilangwow?).

Beda blog beda gutrits. Kalau di gutrits, bahasanya macem-macem. Ada juga yang pake english, meskipun nggak panjang-panjang, dan ada juga yang pake bahasa Jepang. Hehehee... Yah, biar bahasa yang dipelajari jaman kuliah dulu nggak menguap menuju langit yang luas. Hahaa...

Kadang ini juga nih yg bikin ripiu panjang (Sumber: thingsaboutbooks.tumblr.com)

Kapan nulis review?
Biasanya saya nulis review buku nggak lama setelah baca bukunya. Kalau setelah membaca saya merasa terlalu emosi, maka biasanya saya diamkan dulu bukunya, baru deh besokannya ditulis. Yang jelas, nggak boleh lama-lama. Nggak boleh lebih dari tiga hari, karena kalau sudah lebih dari itu, maka biasanya bukunya nggak akan saya review.

Mengenai waktu menulis review, biasanya sih saya nulisnya malem-malem di rumah. Nunggu waktu yang tenang dan inspirasi lagi mengumpul. Kalau di kantor agak nggak bisa, karena bawaannya takut kerjaan nggak beres (eh tapi ini ditulisnya pas jam kerja sih... xp soalnya curhat jadi nggak papa). Jadi di rumah, di dalam kamar, sendirian, adalah saat-saat yang terbaik untuk menulis. Lebih baik lagi kalau seluruh anggota keluarga sudah tidur, jadi lebih resep (aseekk) nulis reviewnya.

Oke, sekian sharing saya mengenai penulisan review. Semoga aja semua yang saya ingin tulis udah masuk disini xD. Sekarang, share juga dong bagaimana caramu menulis review?

10 comments:

  1. info bagus, jadi pengen review lebih banyak lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo semangat tulis review! \(^_____^)/

      Delete
  2. Sukaa banget layout blog ini! Kapan2 mau coba aahh curhat via review! Hmm, hehe. nice posting! :)

    -dinoy-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaakk... makasih, dinoy~~ 〜(^∇^〜) (〜^∇^)〜
      kamu orang pertama yg bilang begitu... xDD

      Ayo... ayo... mari curcol di ripiu. Hahahaaa (ノ>▽<。)ノ

      Delete
  3. eh itu picture quotes dari tumblr thingsaboutbooks unyu-unyu, mampir ah~
    #salahfokus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Ziyy, emang unyu2 banget itu quote... :DD

      Delete
  4. Ujung2nya magabut juga ya pas nulis ini :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cuma sekali ini kok.... *umpetin draft tulisan dari Ren*

      Delete
  5. Salam kenal :) udah beberapa kali ngeliat alamat blog ini nongol di bloglist para blogger pas lagi blogwalking ke sana sini tapi baru kali ini sempet mampir :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, salam kenal juga ^^
      Sering-sering blog walking yaa... #ups #ngelunjak

      Delete

June 25, 2013

Bagaimana Saya Menulis Review?

Sumber: thingsaboutbooks.tumblr.com

Terinspirasi dari blognya Aul di The Black in Book tentang bagaimana dia menulis reviewnya, maka kali ini pun saya memberanikan diri untuk sharing curhat, bagaimana saya menulis review. Beda orang memang beda cara menulis reviewnya, dan dengan tau kebiasaan orang, kita jadi bisa melihat apakah review yang sudah kita tulis cukup efektif atau tidak.

Membaca buku
Biasanya, setelah membaca sebuah buku, saya akan langsung menulis reviewnya. Pokoknya nggak lama-lama deh. Soalnya, kalo lama-lama, saya pasti jadi males. Maklum, saya ini orangnya angot-angotan, beda banget sama temen-temen saya di BBI yang pada rajin-rajin.... *jadi malu* *ngumpet di perpus*

Selain karena kalau kelamaan saya jadi males, saya juga tidak biasa mengendapkan ide-ide tulisan saya. Jadi ketika ada mood buat nulis, ya harus disalurkan, karena kalo nggak, bisa-bisa nggak ditulis beneran deh itu ripiu.

Sekarang saya cerita dulu bagaimana saya biasanya membaca buku. Kalau dulu, waktu masih kuliah, saya bisa baca satu buku dengan tebal standar (kira-kira 300-400-an halaman) dalam satu hari. Tapi sekarang, kecepatan baca saya jatuh drastis. Selain karena sudah bekerja, banyak juga gangguan-gangguan lain yang bikin kecepatan baca saya menurun. Kalau sekarang-sekarang ini sih jujur aja banyak terganggu oleh hp dan hasrat untuk menyelesaikan anime yang lagi saya tonton. Hasilnya, baca bukunya jadi tersendat-sendat deh.

Dulu sebelum gabung BBI dan masih jarang banget bikin review, biasanya saya kalo baca ya udah dibaca aja. Nggak pernah bikin catatan atau apapun juga. Tapi, itu dulu. Sekarang saya selalu buat catatan dari buku-buku yang saya baca. Biasanya sih cuma daftar halaman yang mau dilihat ulang, tapi kalau bukunya terlalu banyak typo misalnya, maka saya akan memberi penjelasan tentang kesalahan tata bahasanya atau bahkan emosi saya ketika terlalu banyak ngeliat typo itu. Hehehe...

Buku apa saja yang direview?
Hhhmm... sekarang ini saya sih mau membiasakan diri untuk membuat review semua buku yang saya baca, mulai dari novel, buku-buku non fiksi, bahkan manga. Cuma, biasanya nggak semua buku yang saya review itu saya masukkan ke blog ini. Cuma buku-buku tertentu saja, yang saya pikir lebih baik dimasukkan ke blog. Kalau manga, biasanya saya nggak pernah masukin reviewnya ke blog, terutama kalau bersambung. Makanya, meskipun rating di Goodreads saya banyak banget baca manga, tapi kalau di blog hampir nggak ada tuh review manga. Paling cuma yang paling saya suka atau berkesan saja, kayak manga ini.

Oh iya, alasan lain kenapa saya nggak masukin manga ke blog ya karena  kalo manga biasanya bukan  review yang saya tulis, tapi cuma nulis komentar saja selesai baca, yang paling panjangnya nggak sampai satu paragraf... :D Makanya, yang kayak gitu-gitu biasanya cukup tersimpan di gutrits aja, nggak perlu diumbar-umbar di blog.... #lhaaa


Sumber: thingsaboutbooks.tumblr.com

Proses review
Buat yang sering baca review saya, pasti tau deh kalau review saya isinya kebanyakan curhatan.... xD Bukannya nggak mau bersikap objektif sih, tapi karena emang nggak bisa aja. Hahahaa Kata teman-teman saya, tulisan saya memang biasanya meletup-letup, jadi perasaan saya ketika nulis tuh ketauan banget kayak gimana.

Alasan lainnya, bagi saya setiap buku itu punya rasa yang spesial. Punya kenangan yang unik, bahkan justru membangkitkan kenangan-kenangan indah di dalam hidup saya... #tsaahh Eh, tapi ada juga sih yang kenangan buruk, cuma kalau yang itu biasanya nggak perlu terlalu diceritakan ke banyak orang, cukup saya sendiri yang tahu. Hehehee

Itu sebabnya ketika saya review buku "Howl's Moving Castle" saya justru cerita gimana saya pergi ke Studio Ghibli, atau ketika saya review buku "Wuthering Heights" saya justru cerita tentang lagu yang entah kenapa bikin saya inget sama buku itu (meskipun orang lain nggak... :p), atau curhat tentang kucing kantor yang mati yang justru lebih detail dari cerita bukunya di review "ParaNorman". Ya, meskipun ada risiko bakalan dihajar sama pembaca, tapi bagi saya sangat penting untuk memasukkan perasaan saya sejujur-jujurnya, ketika saya sedang mereview sebuah buku. Dan menurut saya, justru hal itulah yang akan menjadi ciri khas saya ketika menulis review.

Berbeda dengan Aul yang selalu buat notes dulu di bukunya sebelum menulis review, saya biasanya nulis notesnya ya di "Notes" Window. Kadang juga langsung diketik di Goodreads untuk kemudian dicopas ke blog (saya memang pemalas xD), soalnya kalau langsung dari gutrits saya kan nggak perlu nulis ulang pengarangnya, penerbitnya, isbn-nya, penerjemahnya, dsb. Iya, iya, saya memang pemalas. Maklumin aja ya... xDD

Soal panjang review, biasanya saya kalau nulis review suka puanjaanggg, apalagi dulu tuh. Maklum deh, soalnya banyakan isinya curhat. Selain itu, kalau bukunya saya suka banget, biasanya saya jadi pengen cerita soal segala hal yang ada di buku itu, dan saya itu kalau nulis maunya detaiiillll.... susah banget untuk membuang bagian-bagian yang nggak penting, karena buat saya semuanya penting. Alasan lainnya juga karena saya jaraaangg banget baca ulang review yang sudah saya tulis. Dulu tuh saya kena sindrom malu-baca-ulang-apa-yang-udah-ditulis, jadi biasanya yang udah naik ya biarin aja begitu. Hehehee

Kalau sekarang, saya berusaha untuk memperingkas review saya, supaya menggunakan bahasa dan kata-kata yang lebih efektif. Curhat? Ya tetep dong, itu nggak boleh dilepaskan dari review, karena seperti yang saya bilang sebelumnya, setiap buku itu memberikan "rasa" yang berbeda bagi diri saya. Jadi, curhat adalah bagian yang penting dari review saya. Oh iya, saya juga mulai belajar untuk sembuh dari sindrom di atas dan membaca ulang lagi apa yang sudah saya tulis.

Reviewnya pake bahasa apa?
Kalau di blog, saya selalu review pake bahasa Indonesia, dong. Soalnya, saya itu nggak yakin dengan kemampuan bahasa Inggris saya. Hehehee... Selain itu, pembaca saya juga sebagian besar adalah orang Indonesia, dan yang terpenting saya senang menulis dengan bahasa Indonesia. Rasanya segala perasaan saya lebih mudah tumpah ruah kalau pakai bahasa ibu saya ini (eh, bahasanya ibu saya Jawa sih... #terusss?? #bilangwow?).

Beda blog beda gutrits. Kalau di gutrits, bahasanya macem-macem. Ada juga yang pake english, meskipun nggak panjang-panjang, dan ada juga yang pake bahasa Jepang. Hehehee... Yah, biar bahasa yang dipelajari jaman kuliah dulu nggak menguap menuju langit yang luas. Hahaa...

Kadang ini juga nih yg bikin ripiu panjang (Sumber: thingsaboutbooks.tumblr.com)

Kapan nulis review?
Biasanya saya nulis review buku nggak lama setelah baca bukunya. Kalau setelah membaca saya merasa terlalu emosi, maka biasanya saya diamkan dulu bukunya, baru deh besokannya ditulis. Yang jelas, nggak boleh lama-lama. Nggak boleh lebih dari tiga hari, karena kalau sudah lebih dari itu, maka biasanya bukunya nggak akan saya review.

Mengenai waktu menulis review, biasanya sih saya nulisnya malem-malem di rumah. Nunggu waktu yang tenang dan inspirasi lagi mengumpul. Kalau di kantor agak nggak bisa, karena bawaannya takut kerjaan nggak beres (eh tapi ini ditulisnya pas jam kerja sih... xp soalnya curhat jadi nggak papa). Jadi di rumah, di dalam kamar, sendirian, adalah saat-saat yang terbaik untuk menulis. Lebih baik lagi kalau seluruh anggota keluarga sudah tidur, jadi lebih resep (aseekk) nulis reviewnya.

Oke, sekian sharing saya mengenai penulisan review. Semoga aja semua yang saya ingin tulis udah masuk disini xD. Sekarang, share juga dong bagaimana caramu menulis review?

10 comments:

  1. info bagus, jadi pengen review lebih banyak lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo semangat tulis review! \(^_____^)/

      Delete
  2. Sukaa banget layout blog ini! Kapan2 mau coba aahh curhat via review! Hmm, hehe. nice posting! :)

    -dinoy-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaakk... makasih, dinoy~~ 〜(^∇^〜) (〜^∇^)〜
      kamu orang pertama yg bilang begitu... xDD

      Ayo... ayo... mari curcol di ripiu. Hahahaaa (ノ>▽<。)ノ

      Delete
  3. eh itu picture quotes dari tumblr thingsaboutbooks unyu-unyu, mampir ah~
    #salahfokus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Ziyy, emang unyu2 banget itu quote... :DD

      Delete
  4. Ujung2nya magabut juga ya pas nulis ini :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cuma sekali ini kok.... *umpetin draft tulisan dari Ren*

      Delete
  5. Salam kenal :) udah beberapa kali ngeliat alamat blog ini nongol di bloglist para blogger pas lagi blogwalking ke sana sini tapi baru kali ini sempet mampir :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, salam kenal juga ^^
      Sering-sering blog walking yaa... #ups #ngelunjak

      Delete