December 20, 2012

Suatu Sore yang Tenang, di Sebuah Negeri Tempat Sakura Bermekaran

Pagi itu, 16 Agustus 1945, sebuah peristiwa memilukan dalam sejarah peperangan antar manusia terjadi. Sebuah kota besar di bagian barat pulau Honshu, Jepang, yang baru saja memulai geliatnya dengan berbagai aktivitas penduduknya, harus terhenti seketika. Tepat pada pukul 8.15, Hiroshima, kota terbesar di wilayah Chugoku, luluh lantak oleh bom atom yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat.
 
Sekitar 70.000 ribu orang meninggal seketika. Mereka yang berada di ground zero dan sekitarnya, bahkan menguap begitu saja ke udara, karena panas yang luar biasa. Seolah mereka tak pernah ada di bumi sebelumnya. Sementara ribuan orang lainnya—yang mungkin tak terlalu beruntung—mengalami luka bakar parah di sekujur mereka. Kulit-kulit yang terkelupas dari tubuh, kepala yang botak karena seluruh rambut terbakar atau meleleh karena bom, anggota tubuh yang hangus atau menempel pada benda-benda di sekitar mereka (di jalanan, jembatan, ataupun gedung), adalah pemandangan yang ‘menghiasi’ kota Hiroshima pagi itu.

Awan berbentuk jamur yang 
muncul setelah ledakan bom

Kota indah yang terletak di delta sungai itu berubah menjadi neraka di bumi dalam sekejap. Sungai yang jernih airnya, berubah menjadi area pemakaman. Banyak orang yang merasakan haus yang teramat sangat setelah terkena efek bom. Tak lama setelah bom meledak di atas kota Hiroshima, turunlah hujan hitam yang lengket dan penuh dengan zat radioaktif di atas kota, seakan ingin menghabisi makhluk hidup yang masih tersisa di sana.


Ratusan ribu orang meninggal di Hiroshima hingga Desember 1945 itu. Hiroshima menjadi kota mati, karena sepertiga penduduknya meninggal dunia, semetara yang masih hidup seakan memiliki bom waktu dalam tubuh mereka, yang hanya menunggu waktu yang tepat untuk meledak. Ya, seperti yang kita semua ketahui bersama, bom atom meninggalkan efek radiasi, yang baru muncul beberapa tahun setelahnya. Tidak hanya pada orang-orang yang ketika itu hidup dan menyaksikan peristiwa tragis itu saja, tapi juga pada bayi-bayi yang akan bahkan belum dilahirkan ke bumi ini.

Di batu ini, pernah duduk seorang manusia yang sedang menanti bank buka. Namun, bom atom meletus, dan ia pun menguap ke udara yang panas. Bayangan hitam di batu itu adalah satu-satunya tanda keberadaannya.

Dan, disinilah manga ini mencoba menceritakan salah satu peristiwa terburuk dalam sejarah manusia itu. Terdiri dari tiga bagian, manga ini bercerita tentang sebuah keluarga yang menderita karena bom atom itu.

Di cerita pertama, Yunagi no Machi yang artinya “Sebuah kota di sore yang tenang”, kita akan berkenalan dengan Minami, seorang gadis yang tinggal dengan ibunya, setelah kakak, adik, dan ayahnya meninggal karena bom atom. Ayah Minami meninggal seketika di tempat kerjanya. Begitu juga dengan Midori, adiknya. Sementara Kasumi, kakak Minami, meninggal dua bulan setelahnya. Minami masih memiliki seorang adik lagi, Asahi, yang kini tinggal dengan bibi mereka di Mito, Ibaraki, yang terpisah jauh dari Hiroshima. Awalnya, Asahi, hanya dititipkan kepada bibi mereka itu, karena kondisi Hiroshima yang luluh lantak, begitu juga dengan rumah mereka, yang terletak tak jauh dari ground zero.

Namun, ketika Minami dan ibunya menjemput, Asahi menolak untuk pulang bersama mereka. Ia membenci kotanya. Ia benci segala hal yang mengingatkannya pada peristiwa itu. Ia bahkan membenci dialek Hiroshima dan menolak bicara dengan dialek itu. Akhirnya, Asahi diadopsi oleh paman dan bibi Minami, dan bersekolah di sana.

Minami memulai kehidupan barunya di kota kelahirannya itu bersama ibunya. Minami bekerja dengan giat. Ia menyimpan sepatunya ketika pekerjaannya telah selesai, dan pulang dengan bertelanjang kaki, karena ia tak ingin sepatunya satu-satunya rusak karena dipakai terlalu sering. Minami dan ibunya mulai menata kembali kehidupan mereka, setelah mereka kehilangan banyak hal penting, sepuluh tahun yang lalu.

Meskipun Hiroshima telah bangkit perlahan-lahan, bagaimanapun juga Minami peristiwa di hari itu. Ia menyaksikan semuanya dengan matanya sendiri. Orang-orang yang berteriak memohon air, orang-orang yang berjalan di kota layaknya mayat hidup dengan seluruh tubuh terbakar dan kulit yang menggantung dari tubuh mereka.



Replika korban ketika itu, yang bagaikan mayat hidup, dengan kulit menggantung dari tubuh mereka yang terkena bom

Minami menyaksikannya. Dan ia tidak bisa melupakannya. Meskipun satu dekade telah berlalu, dan perang telah berakhir. Terkadang, ada suara yang bergema di kepalanya... Mengatakan bahwa ia bukanlah makhluk dari dunia ini. Bahwa tempatnya bukanlah di sini. Suara-suara itu jugalah yang membuatnya tidak bisa menerima cinta yang tulus dari Uchikoshi, salah seorang rekan kerjanya.

Namun, Minami sadar bahwa ia telah berlaku tidak adil pada lelaki itu. Juga kepada dirinya sendiri. Di saat ia mulai menerima cinta Uchikoshi, tubuh Minami mulai menunjukkan gejala yang aneh. Awalnya ia tidak bisa berjalan, lalu tidak bisa bangkit dari tempat tidurnya, hingga akhirnya ia kehilangan penglihatannya....

Kenapa?

Padahal, Minami sudah mulai menerima kenyataan sebagai salah seorang yang selamat dari peristiwa bom atom itu. Padahal Minami sudah mulai menyadari arti hidupnya di dunia itu. Padahal Minami sudah memutuskan bahwa ia pun boleh hidup dengan bahagia. Apakah sekarang, kehidupan itu harus dirampas dari dirinya?



"Sepuluh tahun telah berlalu. Tapi, apakah orang-orang yang menjatuhkan bom itu masih berpikir, 'Hore! Kita berhasil membunuh seorang lagi!' jika melihatku?"
Gedung yang menjadi saksi bisu peristiwa di pagi hari yang tenang itu

Sementara itu, cerita kedua Sakura no Kuni, berfokus pada anak-anak Asahi, adik lelaki Minami. Asahi yang membenci kota kelahirannya itu kini telah menjadi orang sukses di Tokyo. Ia hidup bersama kedua anaknya dan ibunya.

Anak lelakinya, Nagio, sedang sakit dan dirawat di rumah sakit, untuk penyakit yang tidak dijelaskan dalam manga-nya. Kemungkinan besar, penyakit itu berkaitan dengan radiasi bom atom yang diturunkan oleh orangtuanya. Sementara Nanami, putri Asahi, tumbuh menjadi gadis yang sehat dan aktif. Bagian pertama ini terfokus pada kehidupan generasi selanjutnya dari bom Hiroshima, khususnya ketika mereka masih kecil.

Sementara bagian kedua, bercerita tentang Nanami dan Nagio yang sudah tumbuh dewasa, dan Asahi yang sudah pensiun. Saya suka dengan bagian kedua ini, karena di situ terungkap masa lalu Asahi, setelah masa-masa berat yang dialaminya. Semuanya digambarkan dengan sangat baik, minim dialog (seperti khas manga Jepang), dan dengan ilustrasi yang sangat indah dan halus. Cukup untuk bikin saya sesak napas dan mata berkaca-kaca.

Beberapa tahun yang lalu, ketika masih pertukaran pelajar di Jepang, saya berkesempatan untuk pergi ke Hiroshima, bersama teman-teman saya. Hiroshima adalah salah satu kota yang meninggalkan kesan cukup kuat di hati saya. Sebuah kota yang ramah dan menyenangkan, berbeda dengan Tokyo yang dingin dan individual. Saya merasakan keramahan orang Hiroshima, meskipun hanya beberapa hari di sana. Hiroshima juga kota yang indah dengan tata kota yang rapi. Meskipun kami mengunjungi kota itu di musim panas, tapi saya merasa bahwa musim panas di Hiroshima jauh lebih baik dari Tokyo, yang sangat lembab, karena panas di Hiroshima lebih mirip dengan panas di Jakarta.

Ketika itu, saya dan teman-teman pergi mengunjungi Hiroshima Memorial Park, sebuah area taman yang sangat luas, yang didedikasikan untuk para korban bom atom. Sayangnya, meskipun masih di bulan Agustus, kami tidak datang di saat peringatan jatuhnya bom atom. Namun, masih banyak origami burung bangau—tsuru yang tergantung di berbagai sudut taman itu. Di area itulah bom atom jatuh untuk pertama kalinya. Di tempat itu pula terdapat sebuah gedung, yang meskipun terkena gempuran bom atom, tapi masih tegak berdiri. Gedung itu kini menjadi ikon kota Hiroshima.

Atomic Bomb Dome, atau Genbaku Dome di siang hari
Memorial Cenotaph, tempat tulang-tulang korban bom atom bersemayam. Di kejauhan, terlihat Genbaku Dome
Ground zero tempat bom pertama kali jatuh
Perang memang banyak meninggalkan duka. Membuat orang-orang kehilangan keluarga mereka, untuk sesuatu yang sebagian besar hanya dirasakan oleh mereka yang berada di pucuk-pucuk pemerintahan. Penduduk sipil selalu menjadi korban terbesar dari perang. Terutama anak-anak. Saya bukan ingin membela Jepang disini, karena menurut saya Jepang juga berperan besar dalam Perang Dunia II dan memiliki dosa yang sama besarnya. Tidak hanya kepada Indonesia, tapi juga kepada Cina dan Korea.

Bahkan, hingga saat ini, tidak semua dosa itu diakui oleh Jepang. Misalnya saja pendudukan Jepang atas Indonesia dari tahun 1942-1945. Jepang tidak menganggap bahwa mereka sedang menjajah Indonesia. Mereka menganggap bahwa mereka sedang membantu Indonesia dalam mencapai kemerdekaannya, sebuah fakta yang bikin saya sakit hati ketika di Jepang dulu.

Peristiwa bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, 6 dan 9 Agustus 1945 memang merupakan contoh yang buruk bagi sejarah manusia. Sangat buruk. Untuk entah keberapa kalinya, manusia kembali menulis sejarah mereka dengan daging dan darah. Namun, berkat peristiwa itulah para perintis bangsa ini bisa mengambil momentum untuk memerdekakan Indonesia, karena Jepang kalah, dan Perang Dunia II otomatis berhenti dengan kemenangan Amerika Serikat dan sekutunya.

Meskipun sebenarnya, saya pernah juga membaca bahwa para ahli sejarah sudah meramalkan bahwa perang akan segera berakhir. Hanya Jepang-lah yang masih bertahan di pihak lawan, sementara Jerman dan Italia telah tunduk dalam perang di dataran Eropa. Hanya tinggal menunggu waktu bagi Jepang untuk menyerah, karena toh sumber daya mereka telah habis, dan pangkalan terluar mereka di Iwo Jima telah berhasil direbut oleh Amerika. Jadi, sebenarnya menjatuhkan bom atom ke kedua kota yang diduduki oleh penduduk sipil itu, adalah tindakan yang tidak perlu dilakukan.

Hiroshima Heiwa Kinen Shiryoukan atau Hiroshima Peace Memorial Museum

Tapi mungkin, sejak awal tujuan Amerika memang bukan untuk mengalahkan Jepang. Mereka ingin menaklukkan Jepang. Membuat mereka bertekuk lutut, bahkan kalau perlu tidak bisa bangkit lagi. Mereka ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa inilah akibatnya kalau kau berani main-main dengan kami. Jika kau berani mencubit kami, maka kami akan membalasnya ribuan bahkan jutaan kali lebih sakit dari yang kau rasakan. Tanggal 15 Agustus, kaisar Jepang mengaku kalah dan mereka terpaksa menerima keputusan dari para pemenang perang, bahwa Jepang sudah tidak boleh memiliki militer lagi.

Sebagai generasi yang tidak merasakan perang, mungkin sulit bagi saya dan Anda untuk membayangkan betapa mengerikannya peristiwa yang terjadi ketika itu. Namun, bukan berarti kita tidak perlu mengingat dan mengetahui apa yang terjadi ketika itu. Udara kemerdekaan yang kita hirup sekarang ini berasal dari perjuangan kakek dan nenek kita, atau mungkin kakek dan nenek buyut kita, yang rela mengorbankan diri mereka demi masa depan yang lebih baik untuk generasi berikutnya.

Sepertinya, ini pertama kalinya saya membaca manga tentang Hiroshima setelah perang. Kouno-sensei dengan begitu piawai mengacak-ngacak hati pembaca, melalui tokoh-tokohnya. Ilustrasinya, meskipun minimalis, tapi begitu indah. Warna-warna lembut yang digunakan Kouno-sensei untuk cover-nya benar-benar juara. Saya suka sekali. Begitu juga ilustrasi berwarna di dalamnya.


Ichiban hoshi ni inoru
Sore ga watashi no kuse ni nari
Yuugure ni miageru sora
Kokoro ippai anata sagasu

Kanashimi ni mo yorokobi ni mo
Omou ano egao
Anata no basho kara watashi ga
Mietara kitto itsuka
Aeru to shinji ikite yuku

Aitakute.. aitakute...
Kimi e no omoi nada sou sou

Memohon kepada bintang
Kini telah menjadi salah satu kebiasaanku
Aku mencarimu dengan sepenuh hati
Di antara langit di sore itu

Di saat sedih ataupun bahagia
Aku selalu teringat senyummu
Jika dari tempatmu kau bisa melihatku
Maka suatu hari nanti
Aku percaya kita pasti bisa bertemu

Rindu... Aku merindukanmu...
Perasaan ini.. Mengalir bersama air mataku..

Judul Buku: Yuunagi no Machi, Sakura no Kuni
Artinya: Town of Evening Calm, Country of Cherry Blossom
Penulis: Kouno Fumiyo
Tahun: 2004 



P.S. Buku ini saya ikutkan dalam Annual Contest: 2012 End of Year Book Contest di blognya Okeyzz. Oh iya, buku ini ada unsur kuning-kuningnya di cover dan ada huruf "A" di judulnya. Jadi, masuk kriteria lah ya.. :)

5 comments:

  1. Mengharukan.. apalagi itu yg foto bekas hitam di tangga bank T.T

    Btw, ini manga.. apa maksudnya model novel graphis gitu yaa?

    Mba Tika, jangan lupa di sertakan banner 2012 End of Year Vook Contest di post ini yaaa, sblm tgl 25 Des :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini manga, Ky...

      Oh iyak! Di postnya harus dipasang banner juga ya? Aku pikir di blognya aja.. xDD

      Sip-sip. Ini dipasang... ^^;

      Delete
  2. belum pernah baca manga..
    reviewnya bagus :)
    saya jd tertarik pengen baca..

    ReplyDelete
  3. Hai, selamat ya menang di 2012 End of Year Book Contest ^^

    Mau ikutan giveaway buku juga gak di blog-ku? Silakan tengok bila bersedia ya. Di http://argalitha.blogspot.com/2013/01/januari-giveaway.html

    Terima kasih :)

    Arga Litha

    ReplyDelete
  4. @Nathalia: Terima kasih.. ^^ Wah, kalo belum pernah baca manga, mungkin melalui manga ini kesempatan kamu buat mencicipi komik2 karya penulis Jepang.. :D

    @Arga Litha: Terima kasih sudah mampir ya.. ^^

    ReplyDelete

December 20, 2012

Suatu Sore yang Tenang, di Sebuah Negeri Tempat Sakura Bermekaran

Pagi itu, 16 Agustus 1945, sebuah peristiwa memilukan dalam sejarah peperangan antar manusia terjadi. Sebuah kota besar di bagian barat pulau Honshu, Jepang, yang baru saja memulai geliatnya dengan berbagai aktivitas penduduknya, harus terhenti seketika. Tepat pada pukul 8.15, Hiroshima, kota terbesar di wilayah Chugoku, luluh lantak oleh bom atom yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat.
 
Sekitar 70.000 ribu orang meninggal seketika. Mereka yang berada di ground zero dan sekitarnya, bahkan menguap begitu saja ke udara, karena panas yang luar biasa. Seolah mereka tak pernah ada di bumi sebelumnya. Sementara ribuan orang lainnya—yang mungkin tak terlalu beruntung—mengalami luka bakar parah di sekujur mereka. Kulit-kulit yang terkelupas dari tubuh, kepala yang botak karena seluruh rambut terbakar atau meleleh karena bom, anggota tubuh yang hangus atau menempel pada benda-benda di sekitar mereka (di jalanan, jembatan, ataupun gedung), adalah pemandangan yang ‘menghiasi’ kota Hiroshima pagi itu.

Awan berbentuk jamur yang 
muncul setelah ledakan bom

Kota indah yang terletak di delta sungai itu berubah menjadi neraka di bumi dalam sekejap. Sungai yang jernih airnya, berubah menjadi area pemakaman. Banyak orang yang merasakan haus yang teramat sangat setelah terkena efek bom. Tak lama setelah bom meledak di atas kota Hiroshima, turunlah hujan hitam yang lengket dan penuh dengan zat radioaktif di atas kota, seakan ingin menghabisi makhluk hidup yang masih tersisa di sana.


Ratusan ribu orang meninggal di Hiroshima hingga Desember 1945 itu. Hiroshima menjadi kota mati, karena sepertiga penduduknya meninggal dunia, semetara yang masih hidup seakan memiliki bom waktu dalam tubuh mereka, yang hanya menunggu waktu yang tepat untuk meledak. Ya, seperti yang kita semua ketahui bersama, bom atom meninggalkan efek radiasi, yang baru muncul beberapa tahun setelahnya. Tidak hanya pada orang-orang yang ketika itu hidup dan menyaksikan peristiwa tragis itu saja, tapi juga pada bayi-bayi yang akan bahkan belum dilahirkan ke bumi ini.

Di batu ini, pernah duduk seorang manusia yang sedang menanti bank buka. Namun, bom atom meletus, dan ia pun menguap ke udara yang panas. Bayangan hitam di batu itu adalah satu-satunya tanda keberadaannya.

Dan, disinilah manga ini mencoba menceritakan salah satu peristiwa terburuk dalam sejarah manusia itu. Terdiri dari tiga bagian, manga ini bercerita tentang sebuah keluarga yang menderita karena bom atom itu.

Di cerita pertama, Yunagi no Machi yang artinya “Sebuah kota di sore yang tenang”, kita akan berkenalan dengan Minami, seorang gadis yang tinggal dengan ibunya, setelah kakak, adik, dan ayahnya meninggal karena bom atom. Ayah Minami meninggal seketika di tempat kerjanya. Begitu juga dengan Midori, adiknya. Sementara Kasumi, kakak Minami, meninggal dua bulan setelahnya. Minami masih memiliki seorang adik lagi, Asahi, yang kini tinggal dengan bibi mereka di Mito, Ibaraki, yang terpisah jauh dari Hiroshima. Awalnya, Asahi, hanya dititipkan kepada bibi mereka itu, karena kondisi Hiroshima yang luluh lantak, begitu juga dengan rumah mereka, yang terletak tak jauh dari ground zero.

Namun, ketika Minami dan ibunya menjemput, Asahi menolak untuk pulang bersama mereka. Ia membenci kotanya. Ia benci segala hal yang mengingatkannya pada peristiwa itu. Ia bahkan membenci dialek Hiroshima dan menolak bicara dengan dialek itu. Akhirnya, Asahi diadopsi oleh paman dan bibi Minami, dan bersekolah di sana.

Minami memulai kehidupan barunya di kota kelahirannya itu bersama ibunya. Minami bekerja dengan giat. Ia menyimpan sepatunya ketika pekerjaannya telah selesai, dan pulang dengan bertelanjang kaki, karena ia tak ingin sepatunya satu-satunya rusak karena dipakai terlalu sering. Minami dan ibunya mulai menata kembali kehidupan mereka, setelah mereka kehilangan banyak hal penting, sepuluh tahun yang lalu.

Meskipun Hiroshima telah bangkit perlahan-lahan, bagaimanapun juga Minami peristiwa di hari itu. Ia menyaksikan semuanya dengan matanya sendiri. Orang-orang yang berteriak memohon air, orang-orang yang berjalan di kota layaknya mayat hidup dengan seluruh tubuh terbakar dan kulit yang menggantung dari tubuh mereka.



Replika korban ketika itu, yang bagaikan mayat hidup, dengan kulit menggantung dari tubuh mereka yang terkena bom

Minami menyaksikannya. Dan ia tidak bisa melupakannya. Meskipun satu dekade telah berlalu, dan perang telah berakhir. Terkadang, ada suara yang bergema di kepalanya... Mengatakan bahwa ia bukanlah makhluk dari dunia ini. Bahwa tempatnya bukanlah di sini. Suara-suara itu jugalah yang membuatnya tidak bisa menerima cinta yang tulus dari Uchikoshi, salah seorang rekan kerjanya.

Namun, Minami sadar bahwa ia telah berlaku tidak adil pada lelaki itu. Juga kepada dirinya sendiri. Di saat ia mulai menerima cinta Uchikoshi, tubuh Minami mulai menunjukkan gejala yang aneh. Awalnya ia tidak bisa berjalan, lalu tidak bisa bangkit dari tempat tidurnya, hingga akhirnya ia kehilangan penglihatannya....

Kenapa?

Padahal, Minami sudah mulai menerima kenyataan sebagai salah seorang yang selamat dari peristiwa bom atom itu. Padahal Minami sudah mulai menyadari arti hidupnya di dunia itu. Padahal Minami sudah memutuskan bahwa ia pun boleh hidup dengan bahagia. Apakah sekarang, kehidupan itu harus dirampas dari dirinya?



"Sepuluh tahun telah berlalu. Tapi, apakah orang-orang yang menjatuhkan bom itu masih berpikir, 'Hore! Kita berhasil membunuh seorang lagi!' jika melihatku?"
Gedung yang menjadi saksi bisu peristiwa di pagi hari yang tenang itu

Sementara itu, cerita kedua Sakura no Kuni, berfokus pada anak-anak Asahi, adik lelaki Minami. Asahi yang membenci kota kelahirannya itu kini telah menjadi orang sukses di Tokyo. Ia hidup bersama kedua anaknya dan ibunya.

Anak lelakinya, Nagio, sedang sakit dan dirawat di rumah sakit, untuk penyakit yang tidak dijelaskan dalam manga-nya. Kemungkinan besar, penyakit itu berkaitan dengan radiasi bom atom yang diturunkan oleh orangtuanya. Sementara Nanami, putri Asahi, tumbuh menjadi gadis yang sehat dan aktif. Bagian pertama ini terfokus pada kehidupan generasi selanjutnya dari bom Hiroshima, khususnya ketika mereka masih kecil.

Sementara bagian kedua, bercerita tentang Nanami dan Nagio yang sudah tumbuh dewasa, dan Asahi yang sudah pensiun. Saya suka dengan bagian kedua ini, karena di situ terungkap masa lalu Asahi, setelah masa-masa berat yang dialaminya. Semuanya digambarkan dengan sangat baik, minim dialog (seperti khas manga Jepang), dan dengan ilustrasi yang sangat indah dan halus. Cukup untuk bikin saya sesak napas dan mata berkaca-kaca.

Beberapa tahun yang lalu, ketika masih pertukaran pelajar di Jepang, saya berkesempatan untuk pergi ke Hiroshima, bersama teman-teman saya. Hiroshima adalah salah satu kota yang meninggalkan kesan cukup kuat di hati saya. Sebuah kota yang ramah dan menyenangkan, berbeda dengan Tokyo yang dingin dan individual. Saya merasakan keramahan orang Hiroshima, meskipun hanya beberapa hari di sana. Hiroshima juga kota yang indah dengan tata kota yang rapi. Meskipun kami mengunjungi kota itu di musim panas, tapi saya merasa bahwa musim panas di Hiroshima jauh lebih baik dari Tokyo, yang sangat lembab, karena panas di Hiroshima lebih mirip dengan panas di Jakarta.

Ketika itu, saya dan teman-teman pergi mengunjungi Hiroshima Memorial Park, sebuah area taman yang sangat luas, yang didedikasikan untuk para korban bom atom. Sayangnya, meskipun masih di bulan Agustus, kami tidak datang di saat peringatan jatuhnya bom atom. Namun, masih banyak origami burung bangau—tsuru yang tergantung di berbagai sudut taman itu. Di area itulah bom atom jatuh untuk pertama kalinya. Di tempat itu pula terdapat sebuah gedung, yang meskipun terkena gempuran bom atom, tapi masih tegak berdiri. Gedung itu kini menjadi ikon kota Hiroshima.

Atomic Bomb Dome, atau Genbaku Dome di siang hari
Memorial Cenotaph, tempat tulang-tulang korban bom atom bersemayam. Di kejauhan, terlihat Genbaku Dome
Ground zero tempat bom pertama kali jatuh
Perang memang banyak meninggalkan duka. Membuat orang-orang kehilangan keluarga mereka, untuk sesuatu yang sebagian besar hanya dirasakan oleh mereka yang berada di pucuk-pucuk pemerintahan. Penduduk sipil selalu menjadi korban terbesar dari perang. Terutama anak-anak. Saya bukan ingin membela Jepang disini, karena menurut saya Jepang juga berperan besar dalam Perang Dunia II dan memiliki dosa yang sama besarnya. Tidak hanya kepada Indonesia, tapi juga kepada Cina dan Korea.

Bahkan, hingga saat ini, tidak semua dosa itu diakui oleh Jepang. Misalnya saja pendudukan Jepang atas Indonesia dari tahun 1942-1945. Jepang tidak menganggap bahwa mereka sedang menjajah Indonesia. Mereka menganggap bahwa mereka sedang membantu Indonesia dalam mencapai kemerdekaannya, sebuah fakta yang bikin saya sakit hati ketika di Jepang dulu.

Peristiwa bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, 6 dan 9 Agustus 1945 memang merupakan contoh yang buruk bagi sejarah manusia. Sangat buruk. Untuk entah keberapa kalinya, manusia kembali menulis sejarah mereka dengan daging dan darah. Namun, berkat peristiwa itulah para perintis bangsa ini bisa mengambil momentum untuk memerdekakan Indonesia, karena Jepang kalah, dan Perang Dunia II otomatis berhenti dengan kemenangan Amerika Serikat dan sekutunya.

Meskipun sebenarnya, saya pernah juga membaca bahwa para ahli sejarah sudah meramalkan bahwa perang akan segera berakhir. Hanya Jepang-lah yang masih bertahan di pihak lawan, sementara Jerman dan Italia telah tunduk dalam perang di dataran Eropa. Hanya tinggal menunggu waktu bagi Jepang untuk menyerah, karena toh sumber daya mereka telah habis, dan pangkalan terluar mereka di Iwo Jima telah berhasil direbut oleh Amerika. Jadi, sebenarnya menjatuhkan bom atom ke kedua kota yang diduduki oleh penduduk sipil itu, adalah tindakan yang tidak perlu dilakukan.

Hiroshima Heiwa Kinen Shiryoukan atau Hiroshima Peace Memorial Museum

Tapi mungkin, sejak awal tujuan Amerika memang bukan untuk mengalahkan Jepang. Mereka ingin menaklukkan Jepang. Membuat mereka bertekuk lutut, bahkan kalau perlu tidak bisa bangkit lagi. Mereka ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa inilah akibatnya kalau kau berani main-main dengan kami. Jika kau berani mencubit kami, maka kami akan membalasnya ribuan bahkan jutaan kali lebih sakit dari yang kau rasakan. Tanggal 15 Agustus, kaisar Jepang mengaku kalah dan mereka terpaksa menerima keputusan dari para pemenang perang, bahwa Jepang sudah tidak boleh memiliki militer lagi.

Sebagai generasi yang tidak merasakan perang, mungkin sulit bagi saya dan Anda untuk membayangkan betapa mengerikannya peristiwa yang terjadi ketika itu. Namun, bukan berarti kita tidak perlu mengingat dan mengetahui apa yang terjadi ketika itu. Udara kemerdekaan yang kita hirup sekarang ini berasal dari perjuangan kakek dan nenek kita, atau mungkin kakek dan nenek buyut kita, yang rela mengorbankan diri mereka demi masa depan yang lebih baik untuk generasi berikutnya.

Sepertinya, ini pertama kalinya saya membaca manga tentang Hiroshima setelah perang. Kouno-sensei dengan begitu piawai mengacak-ngacak hati pembaca, melalui tokoh-tokohnya. Ilustrasinya, meskipun minimalis, tapi begitu indah. Warna-warna lembut yang digunakan Kouno-sensei untuk cover-nya benar-benar juara. Saya suka sekali. Begitu juga ilustrasi berwarna di dalamnya.


Ichiban hoshi ni inoru
Sore ga watashi no kuse ni nari
Yuugure ni miageru sora
Kokoro ippai anata sagasu

Kanashimi ni mo yorokobi ni mo
Omou ano egao
Anata no basho kara watashi ga
Mietara kitto itsuka
Aeru to shinji ikite yuku

Aitakute.. aitakute...
Kimi e no omoi nada sou sou

Memohon kepada bintang
Kini telah menjadi salah satu kebiasaanku
Aku mencarimu dengan sepenuh hati
Di antara langit di sore itu

Di saat sedih ataupun bahagia
Aku selalu teringat senyummu
Jika dari tempatmu kau bisa melihatku
Maka suatu hari nanti
Aku percaya kita pasti bisa bertemu

Rindu... Aku merindukanmu...
Perasaan ini.. Mengalir bersama air mataku..

Judul Buku: Yuunagi no Machi, Sakura no Kuni
Artinya: Town of Evening Calm, Country of Cherry Blossom
Penulis: Kouno Fumiyo
Tahun: 2004 



P.S. Buku ini saya ikutkan dalam Annual Contest: 2012 End of Year Book Contest di blognya Okeyzz. Oh iya, buku ini ada unsur kuning-kuningnya di cover dan ada huruf "A" di judulnya. Jadi, masuk kriteria lah ya.. :)

5 comments:

  1. Mengharukan.. apalagi itu yg foto bekas hitam di tangga bank T.T

    Btw, ini manga.. apa maksudnya model novel graphis gitu yaa?

    Mba Tika, jangan lupa di sertakan banner 2012 End of Year Vook Contest di post ini yaaa, sblm tgl 25 Des :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini manga, Ky...

      Oh iyak! Di postnya harus dipasang banner juga ya? Aku pikir di blognya aja.. xDD

      Sip-sip. Ini dipasang... ^^;

      Delete
  2. belum pernah baca manga..
    reviewnya bagus :)
    saya jd tertarik pengen baca..

    ReplyDelete
  3. Hai, selamat ya menang di 2012 End of Year Book Contest ^^

    Mau ikutan giveaway buku juga gak di blog-ku? Silakan tengok bila bersedia ya. Di http://argalitha.blogspot.com/2013/01/januari-giveaway.html

    Terima kasih :)

    Arga Litha

    ReplyDelete
  4. @Nathalia: Terima kasih.. ^^ Wah, kalo belum pernah baca manga, mungkin melalui manga ini kesempatan kamu buat mencicipi komik2 karya penulis Jepang.. :D

    @Arga Litha: Terima kasih sudah mampir ya.. ^^

    ReplyDelete