December 28, 2012

The Girl Who Played With Fire

The Girl Who Played with Fire by Stieg Larsson
My rating: 5 of 5 stars

Well, sebenarnya saya sudah menamatkan buku kedua trilogi Millenium ini dari beberapa bulan yang lalu (Mei tepatnya.. Lama amat ya boo.. Baru dibikin ripiunya desember). Namun entah kenapa waktu itu mood saya buat nulis ripiu lagi nggak ada. Jadilah ini buku terbengkalai tanpa saya ripiu.

Nah, karena saya mau menamatkan seri ini dengan membaca buku ketiganya, jadi saya akan mengerahkan segenap kemampuan saya untuk membuat ripiu dari buku kedua Trilogi Salander dan Blomkvist, "The Girl Who Played With Fire".

Di buku kedua ini, seluruh dunia seakan berkonspirasi untuk melawan Lisbeth Salander, sang heroin kita yang terjebak dalam suatu sistem kekuasaan yang bersatu padu untuk menghancurkan dirinya.

Kejadiannya bermula ketika Salander dituduh membunuh sepasang kekasih yang sedang melakukan penelitian mengenai sex trafficking. Mereka memang bukan sepasang pria dan wanita biasa, karena Dag Svensson adalah seorang wartawan yang memiliki data lengkap tentang permasalahan traficking di Swedia, dan ia sedang bekerja di kantor Millenium bersama Mikael Blomkvist untuk mengungkapkan hal itu. Sementara sang pacar, Mia Johansson, sedang menyelesaikan tesisnya yang berjudul "From Russia with Love", yang mengambil tema serupa, yaitu mengenai para pelacur yang dibawa dari negara-negara Eropa Timur, tapi tidak sedikit yang berakhir hanya tinggal nama saja. Tak perlu diherankan lagi bahwa karya pasangan Svensson-Johansson ini akan memberi tamparan keras bagi Swedia, termasuk juga para anggota pemerintahan dan kepolisian yang mungkin terseret ke dalamnya. Penelitian mereka sangat berisiko, dan nyawa merekalah taruhannya...

Dan.. Benar saja. Kedua pasangan ini ditemukan tewas dengan peluru bersarang di kepala mereka. Senjata pelaku yang tertinggal di TKP menunjukkan bahwa Salander-lah pembunuhnya. Tak lama setelah itu, ditemukan lagi sesosok mayat di sebuah apartemen, yang ternyata adalah wali Salander, Nils Bjurman. Ia pun dibunuh dengan senjata yang sama dengan pasangan Svensson-Johannson. Dengan semua bukti yang ada itu, wajar saja jika semua orang percaya bahwa Salander-lah pelakunya.


Apalagi jika mereka melihat masa lalu Salander yang tidaklah bersih. Selain pernah memukuli temannya yang di sekolah dulu, Salander juga pernah tinggal di tempat penampungan semacam rumah sakit jiwa, karena kondisi kejiwaannya yang dianggap labil setelah ia "bermain-main dengan api". Oh iya, Salander juga dianggap sebagai perempuan idiot yang nggak bisa ngapa-ngapain.

Jadilah ia, yang sebelumnya keberadaannya bagaikan buih di tengah-tengah masyarakat Swedia, kini justru menjadi sorotan. Mereka menyebutnya sebagai seorang psikopat, orang idiot yang berbahaya, lesbian pemuja setan (karena ia pacaran sama seorang wanita bernama "Mimmi" di buku kedua ini). Nggak ada lagi kan tersangka yang lebih oke ketimbang Salander dengan segala reputasinya?

Oh iya, pada bingung kenapa Salander "jadian" sama Mimmi dan bukan dengan Blomkvist? Yah.. Itu semua karena Salander "terlempar" ke bumi setelah mengetahui kenyataan di buku pertama. Bagi seorang wanita anti sosial seperti Salander, "pengkhianatan" yang dilakukan Blomkvist itu sangat menyakitinya. Ia memutuskan untuk menghilang dari hidup lelaki itu, untuk selamanya. Ia tidak peduli meskipun Blomkvist menghubunginya, dan ingin bertemu dengannya. Bagi Salander, Blomkvist telah mati.

Blomkvist sendiri bingung setengah mati kenapa Salander menjauhinya, dan berusaha untuk menghubungi gadis unik itu. Semua hasilnya nihil, tentu saja. Hingga akhirnya mereka dipertemukan kembali dengan cara yang sangat tidak menyenangkan ini: Salander jadi "most wanted person" di seluruh Swedia, dan (mungkin) hanya Blomkvist yang bisa menyelamatkannya.

Buku kedua ini jauh lebih menegangkan dari buku pertama. Penjahat-penjahatnya meringkuk di dalam kegelapan, menunggu saat yang tepat untuk muncul dan menyergap tokoh-tokohnya. Yang paling tegang itu ketika Mimmi diculik oleh seorang lelaki besar berbadan steroid yang ingin tahu keberadaan Salander. Uuuhhh!! Benar-benar mengerikaannn!!! >o<

Selain menegangkan, buku ini pun penuh dengan kejutan-kejutan yang bikin sakit jantung (lebay). Di buku ini, masa lalu Salander yang kelam terkuak sedikit demi sedikit. Yah, tokoh pahlawan wanita kita ini memang berbeda dari yang pernah Anda kenal sebelumnya. Sulit untuk tidak mencintai dan bersimpati dengan Salander. Kehidupan telah menempanya begitu keras sehingga ia menjadi sosok Lisbeth Salander seperti yang sekarang ini.

Stieg Larrson memang seorang jenius. Ia mampu mengambil tema sosial dengan gamblang sehingga "menampar" setiap orang yang membacanya. Sistem sosial yang bobrok dan hanya terlihat bagus di luar. Orang-orang yang suka cari muka dan status tinggi di masyarakat. Orang-orang yang dianggap buangan padahal sebenarnya memiliki nilai lebih tinggi daripada seluruh orang yang ada di situ. Dan lain sebagainya....

Saya suka dengan perubahan sikap Salander yang terlihat lebih dewasa dan lebih "ramah" untuk kadar seorang Salander. Sikap penuh kasih sayangnya yang ditujukan pada mantan walinya, Holger Palmgren. Pada Mimmi, "pacar" Salander yang jelas-jelas seorang lesbian, sementara Salander sendiri masih berusaha mencari jati dirinya yang sebenarnya.

Di sini juga orang-orang yang kenal dengan Salander diuji kepercayaannya. Salander hanya memiliki sedikit sekali teman, dan banyak sekali musuh. Dan hanya sedikit juga yang tahu bagaimana kepribadian Salander yang sesungguhnya. Apakah orang-orang yang dekat dan berarti bagi Salander itu harus direbut kembali darinya? Apakah ia harus menghabiskan hidupnya sebagai seorang buronan psikopat yang telah menghabisi tiga nyawa penduduk sipil di Swedia? Lalu, siapa sebenarnya Zala, yang muncul bagaikan kabut di buku ini dan menyebarkan teror bahkan bagi orang-orang terjahat di seluruh Swedia? Dan sanggupkah Blomkvist menyelamatkan Salander dan memperoleh lagi kepercayaan dari gadis itu?

Saya juga udah nonton film keduanya yang versi Swedia itu. Meskipun nggak bisa menangkap seluruh makna di novelnya (yaeyalaahh), tapi lumayanlah.... Saya jadi bisa memvisualisasikan Zala dan cowok raksasa steroid yang mengerikan itu. Aduh, cara dia matahin leher orang tuh kayak lagi motekin sayap ayam aja deh -____- ngerii...!!

Lima bintang untuk buku "The Girl Who Played With Fire" ini, yang mengajarkan kita bahwa sesungguhnya konspirasi adalah sesuatu hal yang biasa terjadi. Demi menyelamatkan banyak orang (atau yang mereka pikir begitu), nggak ada salahnya untuk mengorbankan satu dua nyawa yang nggak berarti (yang lagi-lagi mereka anggap begitu). Buka mata lebar-lebar. Melihat lebih banyak. Mendengar lebih sering. Gunakan segenap panca indera dan hati kalian. Dan kalian pun pasti akan tahu, di mana kebenaran itu berada.... 

Update buat baca bareng BBI
Buku ini saya jadikan proyek baca bareng BBI bulan Desember yang bertemakan LGBT. TGWPWF emang ga pure LGBT sih, tapi om Larrson menyoroti kaum LGBT juga disini, melalui sosok sang tokoh utama, Lisbeth Salander. Di buku kedua ini khususnya, Salander mulai menjalin hubungan khusus dengan Mimmi, seorang cewek yang memang mengaku bahwa dirinya lesbian. Kalo Salander sendiri sih apa aja oke deh kayaknya, tapi kayaknya kecenderungannya emang lebih ke cowok sih...

Oh iya, di buku kedua ini Salander juga dijuluki lesbian pemuja setan, setelah dia dituduh membunuh tiga orang yang menjadi awal mulanya konflik di TGWPWF ini. Sosok Salander sendiri menurut saya rada-rada transgender gitu. Soalnya, meskipun cewek tapi tampilan dia itu kayak cowok banget. Bukan sekadar tomboi, tapi dia memang nggak suka kalau dia diremehkan karena jenis kelaminnya itu, sehingga ia menolak untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang wanita, yang mungkin identik dengan kata "lemah", "mudah diatur", "penurut", "objek", dsb.

Om Larrson memang banyak banget menyoroti orang-orang dari jenis yang berbeda melalui bukunya ini. Tapi, fokusnya tetap satu: perempuan. Berbagai jenis perempuan ada di sini. Perempuan-perempuan cerdas yang menjadi pemimpin (tidak hanya bagi diri mereka sendiri), perempuan-perempuan mandiri, perempuan-perempuan lemah yang harus tunduk pada kekuasaan lelaki, perempuan-perempuan pemberontak, perempuan-perempuan pemberani, perempuan-perempuan yang harus menerima takdir mereka dan tak mampu mengubahnya. Ya, ini adalah kisah tentang perempuan. Tentang seorang perempuan yang membenci lelaki yang membenci perempuan...
 
View all my reviews

14 comments:

  1. Aku uda nonton 3 film swedianya tapi yg kuinget cuma film ke-2 dan ke-3 doang. Kekeke~ *kapan mau abcanya kik, woii*

    Tapi di film ada Zala ga yaa *lupa*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti ada Ky.. Soalnya dia orang puenting.. Heehhee
      Di film kedua versi Swedia sih ada. Aku belom nonton ketiganya, sengaja mau nonton abis beres baca bukunya nanti. Hehehee

      Delete
  2. aku gak bisa suka si lisbeth dari buku pertama, makanya masih mandeg nih belum namatin serial ini...kayaknya perkembangan karakternya di buku kedua/ketiga lebih menarik ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di buku pertama karakternya emang rada-rada nyebelin sih ya.. Kelewatan cuek, diajak ngomong diem aja, brutal, kompulsif juga, udah gitu seenaknya maen masuk ke komputer orang, nyuri data, dsb. Tapi pas masuk di buku kedua, dia mulai menunjukkan sedikit sikap kemanusiaan. Apalagi masa lalunya mulai terkuak sedikit demi sedikit. Kalau aku sih, jadi suka banget sama Salander, Mbak... ^^

      Delete
  3. Salander bukan lesbian sih sebenarnya, lebih tepat kalau disbut biseksual. Dia jadian sama si Mimmi karena temannya itu perhatian sama dia di saat dia dikhianati oleh Mikail :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyak, betul. Dia emang bukan lesbian sejati kayak si Mimmi. Dia saat itu butuh orang yang deket dan bisa memberikan perhatian, terutama abis digituin sama si Blomkvist. Isshhh... -____- #masihssebelsamablomkvist

      Delete
  4. masih ga rela Lisbeth ga jadian ama Blomkvist :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih... Soalnya Om Larrsonnya meninggal, jadi ga lanjut deh ceritanya :'( Padahal katanya bakalan ada 10 seri. Huhuuu...

      Lisbeth boleh jadian sama Blomkvist, asal Blomkvistnya harus ngerasain sakit hati dulu... Hihihiii

      Delete
  5. wah aku lagi baca buku pertamanya, jadi pengen cepat2 nuntasin nih buat marathon ke buku-2nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo-ayo dibaca... Aku udah khatam nih sampe buku terakhir.. Hehehee

      Delete
  6. waaahh..aku skip dulu baca reviewnya, blom baca soalnya, takut nemu spoiler
    *ninja*

    Rencana mau baca buku pertamanya tahun depan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. Okay. Tak apa :D

      Selamat membaca tahun depan~

      Delete
  7. *skip skip skip
    maapkeuun, soalnya aku maish nunggu buku ini dataang. eh tapi aku penasaran gitu sih sama si salander.. huwooo >_<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihii... Ayo dibaca lanjutannya Mbak Alvina... xD

      Delete

December 28, 2012

The Girl Who Played With Fire

The Girl Who Played with Fire by Stieg Larsson
My rating: 5 of 5 stars

Well, sebenarnya saya sudah menamatkan buku kedua trilogi Millenium ini dari beberapa bulan yang lalu (Mei tepatnya.. Lama amat ya boo.. Baru dibikin ripiunya desember). Namun entah kenapa waktu itu mood saya buat nulis ripiu lagi nggak ada. Jadilah ini buku terbengkalai tanpa saya ripiu.

Nah, karena saya mau menamatkan seri ini dengan membaca buku ketiganya, jadi saya akan mengerahkan segenap kemampuan saya untuk membuat ripiu dari buku kedua Trilogi Salander dan Blomkvist, "The Girl Who Played With Fire".

Di buku kedua ini, seluruh dunia seakan berkonspirasi untuk melawan Lisbeth Salander, sang heroin kita yang terjebak dalam suatu sistem kekuasaan yang bersatu padu untuk menghancurkan dirinya.

Kejadiannya bermula ketika Salander dituduh membunuh sepasang kekasih yang sedang melakukan penelitian mengenai sex trafficking. Mereka memang bukan sepasang pria dan wanita biasa, karena Dag Svensson adalah seorang wartawan yang memiliki data lengkap tentang permasalahan traficking di Swedia, dan ia sedang bekerja di kantor Millenium bersama Mikael Blomkvist untuk mengungkapkan hal itu. Sementara sang pacar, Mia Johansson, sedang menyelesaikan tesisnya yang berjudul "From Russia with Love", yang mengambil tema serupa, yaitu mengenai para pelacur yang dibawa dari negara-negara Eropa Timur, tapi tidak sedikit yang berakhir hanya tinggal nama saja. Tak perlu diherankan lagi bahwa karya pasangan Svensson-Johansson ini akan memberi tamparan keras bagi Swedia, termasuk juga para anggota pemerintahan dan kepolisian yang mungkin terseret ke dalamnya. Penelitian mereka sangat berisiko, dan nyawa merekalah taruhannya...

Dan.. Benar saja. Kedua pasangan ini ditemukan tewas dengan peluru bersarang di kepala mereka. Senjata pelaku yang tertinggal di TKP menunjukkan bahwa Salander-lah pembunuhnya. Tak lama setelah itu, ditemukan lagi sesosok mayat di sebuah apartemen, yang ternyata adalah wali Salander, Nils Bjurman. Ia pun dibunuh dengan senjata yang sama dengan pasangan Svensson-Johannson. Dengan semua bukti yang ada itu, wajar saja jika semua orang percaya bahwa Salander-lah pelakunya.


Apalagi jika mereka melihat masa lalu Salander yang tidaklah bersih. Selain pernah memukuli temannya yang di sekolah dulu, Salander juga pernah tinggal di tempat penampungan semacam rumah sakit jiwa, karena kondisi kejiwaannya yang dianggap labil setelah ia "bermain-main dengan api". Oh iya, Salander juga dianggap sebagai perempuan idiot yang nggak bisa ngapa-ngapain.

Jadilah ia, yang sebelumnya keberadaannya bagaikan buih di tengah-tengah masyarakat Swedia, kini justru menjadi sorotan. Mereka menyebutnya sebagai seorang psikopat, orang idiot yang berbahaya, lesbian pemuja setan (karena ia pacaran sama seorang wanita bernama "Mimmi" di buku kedua ini). Nggak ada lagi kan tersangka yang lebih oke ketimbang Salander dengan segala reputasinya?

Oh iya, pada bingung kenapa Salander "jadian" sama Mimmi dan bukan dengan Blomkvist? Yah.. Itu semua karena Salander "terlempar" ke bumi setelah mengetahui kenyataan di buku pertama. Bagi seorang wanita anti sosial seperti Salander, "pengkhianatan" yang dilakukan Blomkvist itu sangat menyakitinya. Ia memutuskan untuk menghilang dari hidup lelaki itu, untuk selamanya. Ia tidak peduli meskipun Blomkvist menghubunginya, dan ingin bertemu dengannya. Bagi Salander, Blomkvist telah mati.

Blomkvist sendiri bingung setengah mati kenapa Salander menjauhinya, dan berusaha untuk menghubungi gadis unik itu. Semua hasilnya nihil, tentu saja. Hingga akhirnya mereka dipertemukan kembali dengan cara yang sangat tidak menyenangkan ini: Salander jadi "most wanted person" di seluruh Swedia, dan (mungkin) hanya Blomkvist yang bisa menyelamatkannya.

Buku kedua ini jauh lebih menegangkan dari buku pertama. Penjahat-penjahatnya meringkuk di dalam kegelapan, menunggu saat yang tepat untuk muncul dan menyergap tokoh-tokohnya. Yang paling tegang itu ketika Mimmi diculik oleh seorang lelaki besar berbadan steroid yang ingin tahu keberadaan Salander. Uuuhhh!! Benar-benar mengerikaannn!!! >o<

Selain menegangkan, buku ini pun penuh dengan kejutan-kejutan yang bikin sakit jantung (lebay). Di buku ini, masa lalu Salander yang kelam terkuak sedikit demi sedikit. Yah, tokoh pahlawan wanita kita ini memang berbeda dari yang pernah Anda kenal sebelumnya. Sulit untuk tidak mencintai dan bersimpati dengan Salander. Kehidupan telah menempanya begitu keras sehingga ia menjadi sosok Lisbeth Salander seperti yang sekarang ini.

Stieg Larrson memang seorang jenius. Ia mampu mengambil tema sosial dengan gamblang sehingga "menampar" setiap orang yang membacanya. Sistem sosial yang bobrok dan hanya terlihat bagus di luar. Orang-orang yang suka cari muka dan status tinggi di masyarakat. Orang-orang yang dianggap buangan padahal sebenarnya memiliki nilai lebih tinggi daripada seluruh orang yang ada di situ. Dan lain sebagainya....

Saya suka dengan perubahan sikap Salander yang terlihat lebih dewasa dan lebih "ramah" untuk kadar seorang Salander. Sikap penuh kasih sayangnya yang ditujukan pada mantan walinya, Holger Palmgren. Pada Mimmi, "pacar" Salander yang jelas-jelas seorang lesbian, sementara Salander sendiri masih berusaha mencari jati dirinya yang sebenarnya.

Di sini juga orang-orang yang kenal dengan Salander diuji kepercayaannya. Salander hanya memiliki sedikit sekali teman, dan banyak sekali musuh. Dan hanya sedikit juga yang tahu bagaimana kepribadian Salander yang sesungguhnya. Apakah orang-orang yang dekat dan berarti bagi Salander itu harus direbut kembali darinya? Apakah ia harus menghabiskan hidupnya sebagai seorang buronan psikopat yang telah menghabisi tiga nyawa penduduk sipil di Swedia? Lalu, siapa sebenarnya Zala, yang muncul bagaikan kabut di buku ini dan menyebarkan teror bahkan bagi orang-orang terjahat di seluruh Swedia? Dan sanggupkah Blomkvist menyelamatkan Salander dan memperoleh lagi kepercayaan dari gadis itu?

Saya juga udah nonton film keduanya yang versi Swedia itu. Meskipun nggak bisa menangkap seluruh makna di novelnya (yaeyalaahh), tapi lumayanlah.... Saya jadi bisa memvisualisasikan Zala dan cowok raksasa steroid yang mengerikan itu. Aduh, cara dia matahin leher orang tuh kayak lagi motekin sayap ayam aja deh -____- ngerii...!!

Lima bintang untuk buku "The Girl Who Played With Fire" ini, yang mengajarkan kita bahwa sesungguhnya konspirasi adalah sesuatu hal yang biasa terjadi. Demi menyelamatkan banyak orang (atau yang mereka pikir begitu), nggak ada salahnya untuk mengorbankan satu dua nyawa yang nggak berarti (yang lagi-lagi mereka anggap begitu). Buka mata lebar-lebar. Melihat lebih banyak. Mendengar lebih sering. Gunakan segenap panca indera dan hati kalian. Dan kalian pun pasti akan tahu, di mana kebenaran itu berada.... 

Update buat baca bareng BBI
Buku ini saya jadikan proyek baca bareng BBI bulan Desember yang bertemakan LGBT. TGWPWF emang ga pure LGBT sih, tapi om Larrson menyoroti kaum LGBT juga disini, melalui sosok sang tokoh utama, Lisbeth Salander. Di buku kedua ini khususnya, Salander mulai menjalin hubungan khusus dengan Mimmi, seorang cewek yang memang mengaku bahwa dirinya lesbian. Kalo Salander sendiri sih apa aja oke deh kayaknya, tapi kayaknya kecenderungannya emang lebih ke cowok sih...

Oh iya, di buku kedua ini Salander juga dijuluki lesbian pemuja setan, setelah dia dituduh membunuh tiga orang yang menjadi awal mulanya konflik di TGWPWF ini. Sosok Salander sendiri menurut saya rada-rada transgender gitu. Soalnya, meskipun cewek tapi tampilan dia itu kayak cowok banget. Bukan sekadar tomboi, tapi dia memang nggak suka kalau dia diremehkan karena jenis kelaminnya itu, sehingga ia menolak untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang wanita, yang mungkin identik dengan kata "lemah", "mudah diatur", "penurut", "objek", dsb.

Om Larrson memang banyak banget menyoroti orang-orang dari jenis yang berbeda melalui bukunya ini. Tapi, fokusnya tetap satu: perempuan. Berbagai jenis perempuan ada di sini. Perempuan-perempuan cerdas yang menjadi pemimpin (tidak hanya bagi diri mereka sendiri), perempuan-perempuan mandiri, perempuan-perempuan lemah yang harus tunduk pada kekuasaan lelaki, perempuan-perempuan pemberontak, perempuan-perempuan pemberani, perempuan-perempuan yang harus menerima takdir mereka dan tak mampu mengubahnya. Ya, ini adalah kisah tentang perempuan. Tentang seorang perempuan yang membenci lelaki yang membenci perempuan...
 
View all my reviews

14 comments:

  1. Aku uda nonton 3 film swedianya tapi yg kuinget cuma film ke-2 dan ke-3 doang. Kekeke~ *kapan mau abcanya kik, woii*

    Tapi di film ada Zala ga yaa *lupa*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti ada Ky.. Soalnya dia orang puenting.. Heehhee
      Di film kedua versi Swedia sih ada. Aku belom nonton ketiganya, sengaja mau nonton abis beres baca bukunya nanti. Hehehee

      Delete
  2. aku gak bisa suka si lisbeth dari buku pertama, makanya masih mandeg nih belum namatin serial ini...kayaknya perkembangan karakternya di buku kedua/ketiga lebih menarik ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di buku pertama karakternya emang rada-rada nyebelin sih ya.. Kelewatan cuek, diajak ngomong diem aja, brutal, kompulsif juga, udah gitu seenaknya maen masuk ke komputer orang, nyuri data, dsb. Tapi pas masuk di buku kedua, dia mulai menunjukkan sedikit sikap kemanusiaan. Apalagi masa lalunya mulai terkuak sedikit demi sedikit. Kalau aku sih, jadi suka banget sama Salander, Mbak... ^^

      Delete
  3. Salander bukan lesbian sih sebenarnya, lebih tepat kalau disbut biseksual. Dia jadian sama si Mimmi karena temannya itu perhatian sama dia di saat dia dikhianati oleh Mikail :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyak, betul. Dia emang bukan lesbian sejati kayak si Mimmi. Dia saat itu butuh orang yang deket dan bisa memberikan perhatian, terutama abis digituin sama si Blomkvist. Isshhh... -____- #masihssebelsamablomkvist

      Delete
  4. masih ga rela Lisbeth ga jadian ama Blomkvist :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih... Soalnya Om Larrsonnya meninggal, jadi ga lanjut deh ceritanya :'( Padahal katanya bakalan ada 10 seri. Huhuuu...

      Lisbeth boleh jadian sama Blomkvist, asal Blomkvistnya harus ngerasain sakit hati dulu... Hihihiii

      Delete
  5. wah aku lagi baca buku pertamanya, jadi pengen cepat2 nuntasin nih buat marathon ke buku-2nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo-ayo dibaca... Aku udah khatam nih sampe buku terakhir.. Hehehee

      Delete
  6. waaahh..aku skip dulu baca reviewnya, blom baca soalnya, takut nemu spoiler
    *ninja*

    Rencana mau baca buku pertamanya tahun depan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. Okay. Tak apa :D

      Selamat membaca tahun depan~

      Delete
  7. *skip skip skip
    maapkeuun, soalnya aku maish nunggu buku ini dataang. eh tapi aku penasaran gitu sih sama si salander.. huwooo >_<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihii... Ayo dibaca lanjutannya Mbak Alvina... xD

      Delete