April 24, 2012

Ainun Habibie : Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat

Cerita tentang mantan ibu negara RI ini memang tidak banyak didengar. Mungkin karena ketika suami beliau, B.J. Habibie menjabat sebagai Presiden ke-3 RI, saya masih kecil. Mungkin juga karena saya ini orang yang tidak peka dengan hal-hal yang berbau politik. Tetapi, ternyata tidak seperti itu. Ibu Ainun memang tidak menyengajakan dirinya untuk ikut tenar dibalik nama besar suaminya.

Kita mungkin sering melihat, orang-orang yang mengekor di balik nama besar dan ketenaran pasangannya. Entah itu suaminya, istrinya, ataupun orangtuanya. Dengan bangganya orang-orang ini merasa diri mereka juga “besar” dan patut disegani, meskipun ketenaran itu bukan milik mereka. Tidak demikian dengan ibu Ainun. Baginya, nama besar suaminya adalah hal yang dicapai oleh suaminya sendiri, dan dia cukup berada di belakang layar dan mendukungnya, tanpa perlu ikut campur segala urusan pekerjaannya.


Salah satu falsafah hidup yang dipegang erat oleh Ibu Ainun adalah, “The Big You and The Small I”. Baginya, dalam satu rumah tangga tidak boleh ada dua pemimpin. Cukuplah suami yang menjalankan tugasnya sebagai pemimpin rumah tangga, pencari nafkah, dsb. Ia, sebagai seorang istri akan mengambil peranan sebagai pengurus biduk rumah tangga, pendidik anak-anak, dan penyokong suaminya sepenuhnya. Terdengar biasa saja? Berarti Anda harus membaca buku ini untuk mengenal lebih jauh sosok wanita luar biasa ini.

Tapi baiklah, saya akan beri sedikit bocorannya. Ibu Ainun ini adalah seorang yang sangat pintar. Setelah lulus SMA, beliau berkuliah di FK-UI Jakarta, sementara Habibie melanjutkan kuliah di Jerman. Ketika dipersunting Habibie, beliau sedang bekerja sebagai asisten dokter. Tetapi, karena harus ikut suami ke Jerman, Ibu Ainun melepaskan profesinya. Di Jerman, jangan kira mereka hidup makmur dan sejahtera. Gaji Pak Habibie ketika itu sangatlah kecil untuk ukuran keluarga yang baru mereka bina. Mereka hidup pas-pasan, karena sebagian besar penghasilan Pak Habibie ditabung untuk masa depan. Apalagi, Pak Habibie perlu mengasuransikan Ibu Ainun yang sedang hamil. Dan asuransi untuk perempuan hamil ternyata tidaklah murah, karena harus mempertimbangkan banyak hal.

Akhirnya, mereka pun pindah dari Aachen menuju pinggiran kota, dimana harga rumah jauh lebih murah. Tapi, bukan berarti kehidupan mereka jadi lebih baik, karena rumah baru mereka letaknya sangat jauh dari tempat Pak Habibie beraktivitas, dan tidak ada teman yang dikenal Ibu Ainun di kota itu. Selain itu, tidak jarang Pak Habibie harus jalan kaki menuju tempat kerjanya, yang berjarak 15 km! Karena ketinggalan bus (yang kalau tidak salah hanya ada sehari dua kali) atau karena harus berhemat. Bahkan, sepatu pak Habibie sampai berlubang karena terlalu sering dipakai berjalan. Ketika musim dingin menjelang, barulah Ibu Ainun menambal lubang di sepatu Pak Habibie, agar beliatu tidak kedinginan di musim itu.

Ketika itu, Ibu Ainun sebenarnya bisa saja bekerja untuk membantu penghasilan keluarga. Ia adalah seorang dokter, dan sangat ahli di bidangnya. Dan memang, beliau akhirnya memutuskan untuk bekerja, tetapi beliau akhirnya berhenti karena merasa hasil yang beliau dapat dari mencari nafkah, tidaklah sebanding dengan pengorbanan yang harus diberikannya. Terutama dalam hal pengasuhan anak-anak.

Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin bagi saya untuk bekerja pada waktu itu. Namun, saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan risiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak? Seimbangkah orangtua kehilangan anak dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu. (Ainun Habibie, Tahun-tahun Pertama. Hal 128)

Masih banyak rangkuman cerita mengenai ibu negara yang satu ini, di buku Ainun Habibie : Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat, yang penulisannya dilakukan oleh Pak A. Makmur Makka, orang dekat B.J. Habibie yang dulu pernah menjadi Pemimpin Redaksi Republika. Pak Makka mengumpulkan kisah mengenai Ibu Ainun yang diambilnya dari orang-orang terdekatnya, dan mengumpulkannya dalam buku ini. Kebetulan saya datang ketika launching bukunya dan Alhamdulillah mendapatkan tanda tangan beliau di buku saya. Launching buku ini ternyata memang sengaja diambil momen pas ketika hari Kartini, karena masih banyak sekali wanita-wanita hebat di Indonesia yang tidak terekspos ceritanya, salah satunya Ibu Ainun ini, yang membuat saya berdecak kagum ketika membaca bukunya.

Buku ini juga membuat saya banjir air mata, terutama di bagian yang menceritakan detik-detik terakhir ibu Ainun akan berpindah ke dimensi lain (bahasa yang digunakan oleh Pak Habibie untuk istri tercintanya). Perasaan cinta dan kehilangan suami dan keluarga beliau yang begitu nyata dan mengharukan. Bukan macam sinetron yang terlalu berlebihan mengeskpos kesedihan manusia, tapi sebuah kisah manusiawi tentang orang-orang yang mencintai beliau dan merasa kehilangan karenanya. Saya ingat, pernah ada yang bilang ke saya, bahwa kualitas seorang manusia itu baru terlihat benar-benar ketika dia meninggal. Ada orang yang tidak tenar dan tidak dikenal di dunia. Tetapi, ketika orang tersebut meninggal, banyak orang yang mengantar kepergiannya, turut mendoakannya, merasa kehilangannya (dan bukannya merasa bersyukur karenanya), dan banyak orang yang terinspirasi atas sosoknya...

Ada sedikit hal yang ingin saya ungkapkan, mengenai Pak Habibie yang tidak berkaitan dengan bukunya. Kita sama-sama tahu bahwa beliau adalah Presiden RI ke-3 yang naik setelah Pak Harto turun tahun 1998 lalu. Di masa pemerintahan beliau yang hanya 17 bulan itu, beliau menuai banyak kecaman karena lepasnya Timor Timur dari NKRI. Banyak yang menghujat beliau karena provinsi termuda itu lepas. Bahkan, kalau tidak salah Laporan Pertanggungjawaban beliau tidak diterima karena itu. Padahal, meskipun Timtim lepas dari Indonesia, Pak Habibie berhasil memangkas nilai tukar dolar terhadap rupiah yang ketika itu katanya mencapai level 17 ribu ke angka 9 ribu!! Sebuah prestasi yang menurut saya hanya bisa dilakukan oleh beliau yang sayangnya tidak diingat oleh orang-orang di negeri ini. Tapi, apa yang beliau dapatkan? Hujatan dan makian hanya karena provinsi termuda yang selalu bergolak itu lebih senang keluar ketimbang jadi bagian NKRI.

Sungguh, baru kini saya merasakan betapa bodohnya orang Indonesia ketika itu. Tidak hanya kehilangan provinsi termuda, tetapi kita juga kehilangan seorang aset bangsa yang tidak ada duanya. Apalah artinya kehilangan Timtim jika kita masih memiliki seorang Habibie, yang saya yakin adalah orang yang tepat untuk mengatasi krisis Indonesia saat itu. Tetapi, kita kehilangan dua-duanya, dan Indonesia tidaklah menjadi lebih baik setelahnya... Bangsa ini memang memiliki PR besar untuk bisa menghargai orang lain. Memang mudah melihat kesalahan orang lain, tapi apakah lantas kesalahan itu membuat segala kebaikannya menghilang? Apalagi jika kesalahan yang dilakukan bukanlah murni karena kekhilafan orang itu, melainkan karena keadaan yang memang tidak mendukung, dan kemampuan untuk mengambil keputusan dengan cepat, tepat, dan terbaik untuk semuanya dibutuhkan. Saat itu juga.

Judul buku : Ainun Habibie, Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat
Penulis : A. Makmur Makka, dkk.
Penerbit : Edelweiss
Cetakan: I, Maret 2012
ISBN : 9786028672504

12 comments :

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Hyaaa.. Salah tulis tadi, maaf.. Tika dah baca buku yang ditulis sama Pak Habibie nya? Judulnya Habibie dan Ainun.. Aku baca kata pengantar dari Pak Habibinya aja udah termehek2 hehe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhuaa.. Yg itu aku malah belum baca, Mbak. Masuk daftar dulu, deh. Belum punya keleluasaan uang utk beli. Hiks...

      Aku baca yg ini aja udah mewek2, gimana yg itu ya? Buku yang membuktikan dalamnya cinta beliau ke Ibu Ainun, yang jadi terapinya beliau agar ga masuk ke "Black Hole". Hhuaaa.... :'(

      Bener-bener pasangan yang romantis banget, yaa....

      Delete
  3. sedih,. :'(
    tp bisa jd inspirasi .

    ReplyDelete
  4. Betul... :'(

    Jadi nge-fans sm Bu Ainun...

    ReplyDelete
  5. @ayu humairah: Terima kasih, ya.. ^^

    ReplyDelete
  6. semoga ini menjadi resensi sekrippsi yang baik, Amien.

    ReplyDelete
  7. Silakan kalau memang bermanfaat :)
    Asal jangan lupa dicantumkan sumbernya saja ya.. ^^

    ReplyDelete
  8. semoga wanita2 di indonesia dapat terinspirasi dari kisah ibu aenun.... best for bu aenun habibie....best woman from indonesia....

    ReplyDelete
  9. Setuju...kalo TImor timur sekarang masih ada.. entah berapa istri tentara lagi yang jadi menjanda... berapa ratus bahkan ribu lagi anak tentara yang menjadi yatim...Timor timur memang seharusnya dari dulu lepas dari NKRI karena masih banyak tantangan di depan sana yang perlu dihadapi bangsa kita tidak hanya terpaku pada satu masalah saja...

    ReplyDelete