April 9, 2012

Makna Kehilangan Melalui Hewan Peliharaan (The Cat Mummy - Jacqueline Wilson)

Cerita mengenai hewan peliharaan selalu bisa membuat saya menangis tersedu-sedu. Begitu juga cerita The Cat Mummy yang ditulis oleh Jacqueline Wilson ini.

Verity memiliki seekor kucing tua bernama Mabel. Mabel sangat malas, lamban, dan membosankan. Tetapi, ia selalu setia mendengarkan cerita Verity. Termasuk cerita mengenai ibu Verity yang telah meninggal dunia ketika Verity lahir. Hanya kepada Mabel-lah Verity bisa mengungkapkan segala hal tentang ibu yang tidak pernah dikenalnya itu.

Verity tidak mungkin menceritakan tentang ibunya kepada Gran, Grandad, dan Daddy, karena hal itu terlalu menyedihkan. Mereka juga selalu bersedih dan menangis jika bercerita tentang ibu Verity. Hanya kepada Mabel-lah Verity bisa bercerita mengenai semuanya. Meskipun Mabel pemalas, suka buang air sembarangan, dan tidak lincah, Verity sangat sayang kepada Mabel. Hingga suatu hari Verity menyesal karena telah memarahi Mabel yang muntah sembarangan hingga Verity menginjak muntahannya itu. Mabel tidak pulang lagi saat itu, dan Verity harus menerima kenyataan dan menyadari arti kehilangan yang sesungguhnya untuk pertama kalinya....

Sepanjang membaca cerita ini, mata saya berkaca-kaca, bahkan menangis. Saya memang lemah sekali terhadap cerita-cerita semacam ini. Ingatan saya berlari-larian ke kucing-kucing yang dulu pernah saya pelihara. Kucing-kucing yang sebagian besar saya temukan di jalan, dan ada juga beberapa yang secara turun temurun tinggal di rumah saya. Hingga hampir dua tahun yang lalu, selalu ada kucing di rumah saya. Kucing terakhir saya hilang entah kemana ketika anak-anaknya mati satu per satu, gara-gara ada anak-anak kecil yang memisahkan mereka dari ibunya. Anak-anak itu, yang masih terlalu kecil, tidak bisa hidup sendiri, sementara ibu mereka sudah nggak mau menyusui lagi karena anak-anak itu sudah terkontaminasi bau manusia. Manusia yang tidak dikenalnya. Akibatnya, mereka mati satu per satu, karena saya nggak mungkin memberikan susu ke mereka yang benar-benar masih merah itu... Nggak lama setelah anak-anaknya mati, si induk ikut menghilang dan tidak ketahuan rimbanya hingga sekarang ini... (TTT^TTT)

Kucing jantan saya juga menghilang dan nggak pulang-pulang ketika saya tinggal pergi belajar di negeri orang selama setahun. Mbah saya sampai berkomentar, kalau kucing ini tahu saya sudah nggak ada di rumah, makanya dia pergi. Sementara itu, saya berpendapat bahwa dia mungkin mencari saya, tapi nggak menemukan saya. Soalnya, meskipun dianggap sebagai makhluk pemalas yang tidak sesetia anjing, ada juga kucing yang berjalan sampai lima tahun untuk bertemu lagi dengan majikannya! Mungkin saja si mpus saya juga begitu... T___T

Lalu yang terakhir adalah kucing yang saya temukan sekitar sebulan yang lalu. Kucing kecil yang lucu yang saya temukan meringkuk kedinginan di jalan menuju rumah saya. Saya membawanya pulang dan merawatnya. Saya juga menyuapinya dengan susu, karena ia masih belum bisa menjilat sendiri dari mangkuk. Ia juga pilek saat itu, bersin-bersin terus. Sayangnya, kebersamaan saya dan dia hanya bertahan selama 3 hari. Dia menghilang. Tanpa jejak. Bentoku sayang tidak ada dimana-mana. Satu hal yang patut saya syukuri adalah saya nggak perlu melihat tubuhnya yang terbujur kaku. Meskipun saya bisa saja menganggap dia hilang, tapi kucing sekecil dia tidak mungkin bisa bertahan hidup kalau tidak ada orang yang merawatnya... Oh, Bento....

Kehilangan hewan peliharaan itu memang sesuatu yang menyakitkan. Rasanya sedih sekali kalau hewan yang biasa ada di samping kita tiba-tiba sudah tak bernyawa lagi. Ini juga yang ingin disampaikan Jacqueline Wilson dalam bukunya. Kehilangan, khususnya bagi anak-anak bukanlah hal yang mudah. Ya, bagi orang dewasa juga tidak mudah sih, tapi kita sudah memahami konsep kematian itu. Sementara bagi mereka, itu bukanlah sesuatu hal yang mudah dijelaskan. Tugas orang dewasa, khususnya orangtua sangatlah dibutuhkan untuk menjelaskan hal itu. Karena kalau tidak, anak-anak yang kehilangan hewan peliharaannya akan merasa trauma dan tidak ingin memelihara binatang lagi seumur hidupnya. Padahal, menurut saya ada hal-hal penting yang hanya bisa dipelajari melalui merawat hewan peliharaan. Kalau saya punya anak nanti, saya akan memelihara hewan-hewan peliharaan agar mereka bisa belajar cara merawat binatang dan menyayangi mereka. Jadi, anak-anak saya akan tumbuh menjadi anak lembut dan penuh kasih sayang. Tapi, itu masih nanti.... ;)



Judul: The Cat Mummy
Penulis: Jacqueline Wilson
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Diniarty Pandia
Cetakan: Kedua September 2005
Jumlah halaman: 152

ISBN: 9792206310

No comments:

Post a Comment

April 9, 2012

Makna Kehilangan Melalui Hewan Peliharaan (The Cat Mummy - Jacqueline Wilson)

Cerita mengenai hewan peliharaan selalu bisa membuat saya menangis tersedu-sedu. Begitu juga cerita The Cat Mummy yang ditulis oleh Jacqueline Wilson ini.

Verity memiliki seekor kucing tua bernama Mabel. Mabel sangat malas, lamban, dan membosankan. Tetapi, ia selalu setia mendengarkan cerita Verity. Termasuk cerita mengenai ibu Verity yang telah meninggal dunia ketika Verity lahir. Hanya kepada Mabel-lah Verity bisa mengungkapkan segala hal tentang ibu yang tidak pernah dikenalnya itu.

Verity tidak mungkin menceritakan tentang ibunya kepada Gran, Grandad, dan Daddy, karena hal itu terlalu menyedihkan. Mereka juga selalu bersedih dan menangis jika bercerita tentang ibu Verity. Hanya kepada Mabel-lah Verity bisa bercerita mengenai semuanya. Meskipun Mabel pemalas, suka buang air sembarangan, dan tidak lincah, Verity sangat sayang kepada Mabel. Hingga suatu hari Verity menyesal karena telah memarahi Mabel yang muntah sembarangan hingga Verity menginjak muntahannya itu. Mabel tidak pulang lagi saat itu, dan Verity harus menerima kenyataan dan menyadari arti kehilangan yang sesungguhnya untuk pertama kalinya....

Sepanjang membaca cerita ini, mata saya berkaca-kaca, bahkan menangis. Saya memang lemah sekali terhadap cerita-cerita semacam ini. Ingatan saya berlari-larian ke kucing-kucing yang dulu pernah saya pelihara. Kucing-kucing yang sebagian besar saya temukan di jalan, dan ada juga beberapa yang secara turun temurun tinggal di rumah saya. Hingga hampir dua tahun yang lalu, selalu ada kucing di rumah saya. Kucing terakhir saya hilang entah kemana ketika anak-anaknya mati satu per satu, gara-gara ada anak-anak kecil yang memisahkan mereka dari ibunya. Anak-anak itu, yang masih terlalu kecil, tidak bisa hidup sendiri, sementara ibu mereka sudah nggak mau menyusui lagi karena anak-anak itu sudah terkontaminasi bau manusia. Manusia yang tidak dikenalnya. Akibatnya, mereka mati satu per satu, karena saya nggak mungkin memberikan susu ke mereka yang benar-benar masih merah itu... Nggak lama setelah anak-anaknya mati, si induk ikut menghilang dan tidak ketahuan rimbanya hingga sekarang ini... (TTT^TTT)

Kucing jantan saya juga menghilang dan nggak pulang-pulang ketika saya tinggal pergi belajar di negeri orang selama setahun. Mbah saya sampai berkomentar, kalau kucing ini tahu saya sudah nggak ada di rumah, makanya dia pergi. Sementara itu, saya berpendapat bahwa dia mungkin mencari saya, tapi nggak menemukan saya. Soalnya, meskipun dianggap sebagai makhluk pemalas yang tidak sesetia anjing, ada juga kucing yang berjalan sampai lima tahun untuk bertemu lagi dengan majikannya! Mungkin saja si mpus saya juga begitu... T___T

Lalu yang terakhir adalah kucing yang saya temukan sekitar sebulan yang lalu. Kucing kecil yang lucu yang saya temukan meringkuk kedinginan di jalan menuju rumah saya. Saya membawanya pulang dan merawatnya. Saya juga menyuapinya dengan susu, karena ia masih belum bisa menjilat sendiri dari mangkuk. Ia juga pilek saat itu, bersin-bersin terus. Sayangnya, kebersamaan saya dan dia hanya bertahan selama 3 hari. Dia menghilang. Tanpa jejak. Bentoku sayang tidak ada dimana-mana. Satu hal yang patut saya syukuri adalah saya nggak perlu melihat tubuhnya yang terbujur kaku. Meskipun saya bisa saja menganggap dia hilang, tapi kucing sekecil dia tidak mungkin bisa bertahan hidup kalau tidak ada orang yang merawatnya... Oh, Bento....

Kehilangan hewan peliharaan itu memang sesuatu yang menyakitkan. Rasanya sedih sekali kalau hewan yang biasa ada di samping kita tiba-tiba sudah tak bernyawa lagi. Ini juga yang ingin disampaikan Jacqueline Wilson dalam bukunya. Kehilangan, khususnya bagi anak-anak bukanlah hal yang mudah. Ya, bagi orang dewasa juga tidak mudah sih, tapi kita sudah memahami konsep kematian itu. Sementara bagi mereka, itu bukanlah sesuatu hal yang mudah dijelaskan. Tugas orang dewasa, khususnya orangtua sangatlah dibutuhkan untuk menjelaskan hal itu. Karena kalau tidak, anak-anak yang kehilangan hewan peliharaannya akan merasa trauma dan tidak ingin memelihara binatang lagi seumur hidupnya. Padahal, menurut saya ada hal-hal penting yang hanya bisa dipelajari melalui merawat hewan peliharaan. Kalau saya punya anak nanti, saya akan memelihara hewan-hewan peliharaan agar mereka bisa belajar cara merawat binatang dan menyayangi mereka. Jadi, anak-anak saya akan tumbuh menjadi anak lembut dan penuh kasih sayang. Tapi, itu masih nanti.... ;)



Judul: The Cat Mummy
Penulis: Jacqueline Wilson
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Diniarty Pandia
Cetakan: Kedua September 2005
Jumlah halaman: 152

ISBN: 9792206310

No comments:

Post a Comment