The Girl With The Dragon Tattoo

Postingan awal di Multiply pada 7 Januari 2011

"Setiap saat ada perempuan hilang. Tak seorang pun yang mencari mereka."
Buku yang akan saya review kali ini adalah sebuah novel thriller-misteri berjudul "The Girl With The Dragon Tattoo" karya Stieg Larrson. Buku ini adalah seri pertama dari tiga seri petualangan Mikael Blomkvist dan Lisbeth Salander, dua tokoh utama dari seri ini. Novel yang sangat kelam, mengungkap sisi-sisi buruk manusia, dan kekerasan yang dialami oleh perempuan-perempuan di Eropa, khususnya Swedia.

Novel yang sudah sangat terkenal dan dapat banyak penghargaan ini ditulis oleh penulis Swedia, Stieg Larrson, yang meninggal dunia tak lama setelah ia menyerahkan naskah trilogi Blomkvist dan Salander ini. Hhhmm, novel misteri yang ditulis oleh penulis yang sudah meninggal dunia tampaknya menjadi daya tarik yang melingkupi novel trilogi ini. Kabarnya, Larrson meninggal karena serangan jantung.

Seri pertama novel ini dibuka dengan cerita Henrik Vanger yang menerima bunga kering setiap tahun, di hari ulang tahunnya. Pengirim bunga itu masih misteri, dan Henrik curiga pengirim bunga itu sengaja mengirim bunga setiap tahunnya untuk membuatnya gila. Kenapa begitu? Karena bunga kering adalah hadiah yang selalu dikirimkan Harriet Vanger kepada pamannya itu setiap tahun.  Sayangnya, Harriet menghilang secara tiba-tiba (dan dipercaya telah dibunuh) hampir empat puluh tahun yang lalu! Henrik percaya, pembunuh Harriet dan orang yang ingin membuat dia gila adalah salah satu dari keluarganya sendiri, keluarga Vanger yang terhormat dan memiliki kerajaan bisnis di Swedia, yang juga memiliki masa lalu hitam dan kelam.

Henrik meminta tolong seorang jurnalis keuangan senior, Mikael Blomkvist, untuk menguak misteri hilangnya Harriet. Blomkvist adalah penulis sekaligus pemilik sebuah majalah bernama Millenium, yang baru saja selesai menjalani persidangan karena dituduh mecemari nama baik seorang pengusaha besar Swedia, Hans-Erik Wennerström. Blomkvist membeberkan kecurangan-kecurangan Wennerström dalam bisnisnya, tapi sayangnya itu menjadi bumerang bagi dirinya, karena ia ditipu oleh seseorang yang memberikan data-data Wennerström kepada dia. Blomkvist bersahabat baik dengan Erika Berger, pemilik lain majalah Millenium yang juga menjadi kekasih tak resminya, meskipun Erika sudah menikah.

Henrik berhasil meyakinkan Blomkvist untuk menerima pekerjaan itu, yang awalnya tak memiliki minat sedikitpun. Henrik menutupi kenyataan sebenarnya penugasan Blomkvist sebagai penulis biografi dirinya, karena ia tak mau keluarganya tahu tujuan Blomkvist sebenarnya ada di sana. Hilangnya Harriet memang telah menjadi obsesi sendiri bagi Henrik. Ia menghabiskan sisa hidupnya, bahkan pensiun dini dari perusahaannya, untuk mencari misteri dibalik hilangnya Harriet, keponakan yang sudah dianggap seperti anak kandungnya sendiri.

Blomkvist mendapatkan waktu satu tahun dari Henrik untuk menyelesaikan misteri itu, sekaligus untuk menulis biografi dirinya. Henrik meminta Blomkvist untuk pindah ke Hedeby selama pekerjaan itu berlangsung. Hedeby sendiri adalah sebuah pulau milik keluarga Vanger yang ditinggali oleh sebagian besar keluarga Vanger itu sendiri. Silsilah keluarganya agak rumit, jadi saya kira saya tak akan membahasnya secara detail di sini. Setelah Henrik pensiun dini, perusahaan dipimpin oleh Martin, keponakan Henrik yang juga kakak kandung Harriet. Sebenarnya, kalau dihitung-hitung, Martin dan Harriet adalah cucu Henrik, karena bukan ayah Martin-Harriet yang merupakan saudara kandung Henrik, tetapi kakek Martin-Harrietlah yang merupakan kakak kandung Henrik. Ayah Martin dan Harriet sendiri bernama Gottfried, yang meninggal dunia  karena jatuh ke danau ketika mabuk berat, setahun sebelum Harriet menghilang di tahun 1966.

Penyelidikan Blomkvist sempat mengalami jalan buntu, hingga akhirnya di suatu hari, Blomkvist menyadari bahwa ada sesuatu yang mengerikan dari keluarga Vanger. Melalui buku harian Harriet, Blomkvist sedikit demi sedikit mengungkap misteri mengerikan itu. Keluarga Vanger diduga bertanggung jawab atas beberapa pembunuhan terhadap wanita-wanita di seluruh Swedia selama tahun 1950an sampai 1960an. Pembunuhan berantai itu dilakukan dengan sangat keji, dan perempuan-perempuan yang dibunuh diperkosa dan disiksa secara fisik terlebih dahulu.

Lisbeth Salander mulai membantu penyelidikan Blomkvist di tengah cerita, meskipun ia sendiri sudah muncul dari awal cerita. Salander adalah seorang perempuan muda berusia 24 tahun yang dianggap asosial dan ber-IQ rendah oleh orang-orang. Selain dianggap sebagai orang yang sangat bodoh, pakaiannya juga sangat nyentrik, pakaian serba hitam, tindikan dimana-mana, tattoo dimana-mana, selalu merokok, pernah terlibat penyalahgunaan narkotika, dsb. Salander adalah orang yang tidak bisa bergaul dengan orang lain. Ia hidup sendirian di apartemennya, meskipun dalam novel pertama ini ia diceritakan memiliki ibu -yang tidak mengenalinya-, yang tinggal di panti jompo. Masa lalu Salander benar-benar dilingkupi oleh misteri, tidak seperti masa lalu Blomkvist yang sudah dibeberkan sejak awal cerita.

Meskipun ia dicap bodoh, ber-IQ rendah, dan berbagai hal buruk lainnya, Salander adalah seorang hacker yang sangat hebat. Ia juga memiliki ingatan fotografis dan bekerja sebagai detektif di Milton Security. Ia hanya menunjukkan kepandaiannya itu kepada beberapa orang (saya rasa ini berkaitan erat dengan masa lalunya yang masih misteri), dan jika di depan orang lain ia akan berlagak seperti orang yang keterbelakangan mental. Begitu juga di hadapan pengacara sekaligus walinya, Nils Bjurman. Bjurman adalah wali baru Salander setelah walinya yang dulu, yang disayangi Salander dengan caranya sendiri, terkena stroke. Bjurman menjadi mimpi buruk bagi Salander, karena ia mengambil alih keuangan Salander, dan menganggap Salander sebagai objek bukan sebagai manusia. Parahnya lagi, Bjurman melakukan tindakan pelecehan seksual yang berujung terhadap pemerkosaan Salander. Salander yang impulsif awalnya merencanakan untuk membunuh Bjurman, tetapi akhirnya ia melakukan pembalasan dendamnya sendiri kepada walinya itu, yang benar-benar seru dan membuat Bjurman tunduk pada Salander.

Blomkvist dan Salander berjuang untuk menemukan rahasia dibalik pembunuhan Harriet dan akhirnya menemukan pembunuh berantai itu yang selama puluhan tahun melancarkan aksinya di balik tembok besar Vanger. Seorang pembunuh sadis yang tidak segan-segan menganiaya binatang bahkan mencoba untuk membunuh Blomkvist...

Lalu, siapakah yang bertanggung jawab atas hilangnya Harriet? Siapakah pembunuh berantai sadis yang bersembunyi di dalam keluarga Vanger dan apa hubungan dia dengan hilangnya Harriet? Bagaimanakah hubungan antara Blomkvist-Salander dan Blomkvist-Erika? Lalu bagaimanakah cara Blomkvist membalikkan keadaan majalah Millenium yang sedang berada di ujung tanduk sekaligus membalaskan dendamnya kepada Wennerström yang telah dengan telak menipunya? Semuanya bisa anda baca sendiri di novel ini...

Novel ini sangat seru, meski di awal agak-agak membosankan. Tetapi begitu Blomkvist memutuskan  merasauntuk menerima pekerjaan dari Henrik dan pindah ke Hedeby, saya tak bisa melepaskan mata saya dari novel ini. Misteri yang terungkap satu per satu, pembunuhan dan perkosaan sadis terhadap perempuan-perempuan sejak tahun 1940-an, misteri pembunuhan dan hilangnya Harriet, konspirasi yang dialami oleh Blomkvist hingga ia harus dipenjara, semuanya menjadi satu kesatuan yang begitu menarik. Saya sendiri jadi penasaran dengan sekuelnya, yang disebut-sebut jauh lebih seru dibanding seri pertamanya. Setelah gajian nanti, saya harus beli pokoknya! ;)

Di buku ini tertulis tentang beberapa fakta tentang ancaman kekerasan fisik maupun seksual yang dialami oleh perempuan Swedia. Di antaranya, 18% perempuan Swedia ternyata pernah mendapat ancaman setidaknya dari seorang pria. Sedangkan 46% perempuan pernah mengalami kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki. Fakta-fakta itu sangat mengerikan tentu saja, karena sebagai orang Indonesia yang tinggal di Asia, pandangan saya tentang Eropa adalah sebuah negara yang beradab, dengan orang-orang yang berpendidikan tinggi. Seorang teman saya yang tinggal di Eropa pernah memberitahu saya, bahwa tingkat perkosaan di Eropa itu sangat tinggi, lebih tinggi dari Asia ataupun Afrika. Bahkan ibukota Norwegia, Oslo, adalah kota dengan tingkat pemerkosaan tertinggi di Eropa. Tapi, ini semua data yang dipaparkan teman saya, lho. Setelah saya cek sendiri di internet, ternyata hasilnya adalah Prancis (sebagai negara). Tapi data itu adalah data 2009. Bagi yang ingin tahu detailnya, bisa cek disini. Sedangkan data dari wikipedia, negara di Eropa yang tingkat pemerkosaannya tertinggi adalah di Swedia. Datanya bisa dilihat disini.

Aneh sekali bukan? Eropa adalah negara yang menjunjung tinggi kebebasan. Bukan hanya bebas berkreasi dan bebas mengeluarkan pendapat saja, mereka juga bebas mau pakai baju atau tidak. Kalau mereka bisa dengan mudahnya berhubungan seksual dengan lawan jenis, seperti yang sama-sama kita ketahui tentang kultur mereka, lantas mengapa tingkat pemerkosaan di negara itu justru tinggi? Di TGWTDT ini, banyak sekali tindakan psikopat yang ditampilkan. Pembunuhan-pembunuhan yang mengerikan, dan jelas-jelas pelakunya sakit jiwa. Mungkinkah karena begitu bebasnya hidup mereka, jadi mereka mendambakan fantasi seksual yang lain dari yang lain, seperti yang ditunjukkan di novel ini? Ataukah karena jiwa mereka begitu kosongnya, hingga mencari "kesenangan" dengan cara yang berbeda? Saya sendiri tak tahu jawabannya... Yang jelas, novel TGWTDT ini menggambarkan perilaku menyimpang seksual  yang banyak dialami oleh orang Eropa.

Setelah selesai membaca novel ini, jujur saja saya tidak menemukan keterkaitan antara isi novel dengan judul. TGWTDT merujuk kepada Lisbeth Salander, tokoh utama wanita di novel ini. Tapi sebenarnya, tato naga itu sendiri bukan merupakan sesuatu hal yang krusial bagi jalannya novel ini. Setelah diulik-ulik, ternyata judul asli novel ini memang bukan The Girl With The Dragon Tattoo, tetapi "Män som hatar kvinnor" yang berarti "Men Who Hate Women". Kalau yang terakhir ini memang benar-benar menggambarkan isi novel. Lisbeth pun pernah mengungkapkan kata-kata ini di salah satu dialognya dengan Blomkvist. Tapi mungkin, sebagai media publikasi, judul ini kurang menjual. Saya sendiri melihat, judul "The Girl With The Dragon Tattoo" lebih memiliki nilai jual yang tinggi. Tapi tak masalah, novel ini adalah novel yang bagus dan menarik untuk dibaca bagi orang-orang yang suka serial detektif misteri.

Judul buku : The Girl With The Dragon Tattoo
Judul asli   : Män som hatar kvinnor (Men Who Hate Women)
Penerbit    : Qanita
ISBN        : 9786028579001
Jumlah Halaman : 783
Cetakan   : Kedua, Desember 2009
Harga      : Rp 79.500,-







FILM THE GIRL WITH THE DRAGON TATTOO


Setelah selesai membaca novelnya, saya langsung nonton filmnya. Yang saya tonton ini versi asli Swedianya, dengan aktor dan aktris Swedia. Untungnya film yang saya dapat dari teman saya ini sudah di-dubbing ke bahasa Inggris, jadi saya bisa paham jalan ceritanya. Tapi sebenarnya, saya ingin menonton dengan versi asli bahasa Swedianya, karena pasti feel-nya akan beda.

Film yang berdurasi 2,5 jam ini tentunya memiliki banyak perbedaan dengan novelnya. Seperti Blomkvist yang lebih mudah menerima tawaran Henrik Vanger, atau hubungan antara Erika dan Blomkvist yang tidak digambarkan terlalu intim di filmnya. Selain itu, masa lalu Salander diungkapkan lebih banyak di film ini, yang bahkan tak ada di novelnya. Jujur saja, itu membuat saya makin penasaran untuk membeli dua sekuel lanjutan dari novel ini.

Saya sendiri tidak merasa begitu terganggu dengan adaptasi yang dilakukan dari novel ke filmnya. Waktu 2,5 jam tentunya terlalu sedikit untuk mengungkapkan apa yang terjadi di novel setebal lebih dari 700 halaman ini. Keluarga Vanger yang bejibun jumlahnya itu pun tidak ditampilkan semuanya, tapi hanya beberapa saja yang dianggap berkaitan erat dengan hilangnya Harriet. Oh iya, di film ini hubungan antara Blomkvist dan Salander jadi terlihat lebih dekat dari sisi romantisme, tidak seperti di novelnya.

Saya lupa, ternyata ada satu hal yang agak menganggu dari film ini. Di filmnya, Mikael Blomkvist (diperankan oleh Michael Nyqvist), jadi terlihat lebih teledor dan Salander (Noomi Rapace) jadi lebih pintar, bahkan dari Blomkvist sendiri. Sedangkan di novelnya, Blomkvist jauh lebih pintar daripada Salander. Ia juga sangat berhati-hati atas setiap tindakannya. Selain itu, pemeran Blomkvistnya kurang ganteng... *ups. Padahal saya mengimajinasikan wajahnya akan setampan om Tom Hanks yang jadi Robert Langdon di The Da Vinci Code atau di Angel and Demon. Hahaha.. Dandan Lisbeth Salander udah oke banget, tapi sepertinya sifatnya lebih buruk yang di novel deh. Oh iya, si Lisbeth Salander di film ini tidak terlihat seperti gadis usia 24 tahun, karena memang pemerannya usianya sudah 32 tahun. Yang menarik, ternyata dua orang pemeran utama film ini main di film Hollywood tahun 2011 kemarin. Michael Nyqvist (itu kenapa isinya konsonan semua ya?? O.o) main di Mission Impossible bareng Om Tom Cruise, dan Noomi Rapace main di Sherlock Holmes bareng sama Om Robert Downey, Jr. Dan itu si Noomi Rapace tampak seperti orang yang berbeda di Sherlock Holmes (saya hanya lihat gambarnya di IMDB). Dia pasti harus mengurangi berat badannya untuk berperan sebagai Salander, yang digambarkan kurus ceking. Tapi sayangnya, saya belum nonton kedua film itu. Hahaha... Btw, Harrietnya cantik banget di versi Swedish ini... Tapi saya nggak tau deh dengan versi Hollywoodnya. Hehehe

Versi Hollywood film ini sendiri sudah tayang di US sana Desember kemarin. Dilihat dari casting pemain-pemainnya, tampaknya cukup menjanjikan (baca: cakep-cakep ;p). Tapi, melihat konten film ini, tampaknya TGWTDT tidak akan masuk ke Indonesia, mengingat banyaknya unsur kekerasan, belum lagi pembunuhan sadis, dan pemerkosaan. Jadi ya, mungkin saya harus bermain ke Stasiun Pasar Minggu atau Glodok untuk membeli DVD-nya... ;)

Comments

  1. review ini sangat bagus. mbak boleh saya minta filmnya yang the girl with dragon tatto yang versi swedia karena saya sudah mencari tapi tidak ada?

    mohon dibals :)

    ReplyDelete

Post a Comment