January 13, 2012

Pangeran Kecilku


Review tentang The Little Prince ini saya ikutkan dalam lomba ini dan pertama kali saya unggah di blog saya pada 6 Desember 2011
All grown-ups were children first... But few of them remember it...

To Leon Werth
When He Was a Little Boy



Kalimat di atas adalah untaian kata yang didedikasikan Antoine De Saint-Exupéry, pengarang The Little Prince, untuk sahabatnya Leon Werth. Ya, buku yang akan saya kupas kali ini adalah The Little Prince, sebuah novel yang bercerita tentang bagaimana menjadi orang yang dewasa, bukan menjadi orang dewasa. Bingung dengan perbedaannya? Oke, saya akan menjelaskan, tapi menurut pendapat saya aja ya... Orang yang dewasa adalah orang yang mampu berpikir dan bertindak secara dewasa,  meskipun secara usia mungkin dia lebih muda dari saya atau anda sekalian. Sedangkan orang dewasa adalah orang-orang yang bilangan umurnya sudah tidak bisa dihitung dengan jari-jari anda,  bahkan perlu dikalikan satu setengah, dua, ataupun tiga. Terkadang orang dewasa menganggap diri  mereka dewasa, bijaksana, dan tau segala-galanya. Padahal sesungguhnya, mereka tidak mengerti sama sekali. Hal inilah yang ingin disampaikan Antoine De Saint-Exupery dalam novel kecilnya,  yang mengajarkan banyak kebijaksanaan dan kedewasaan melalui tokohnya yang sama sekali belum menginjak usia dewasa.

Tokoh utama dalam cerita ini tentu saja adalah The Little Prince, sang Pangeran Kecil, yang bertemu dengan tokoh Aku di tengah Gurun Sahara ketika Aku, yang adalah seorang pilot, terdampar di sana seorang diri. Persahabatan yang unik pun mulai terbangun di antara mereka, karena Pangeran Kecil yang baru pertama kali bertemu dengan Aku, bisa memahami apa yang disampaikan oleh Aku.

Aku adalah seseorang yang menyimpan kekecewaan kepada orang dewasa. Sebenarnya, Aku bercita-cita ingin menjadi pelukis, namun orang dewasa meruntuhkan impiannya, karena mereka tidak mengerti gambar seekor gajah yang dimakan oleh ular boa (yang terlihat seperti gambar topi), yang digambar oleh Aku ketika ia masih kecil. Orang dewasa malah menyuruh Aku untuk belajar ilmu pengetahuan yang pasti, seperti Geografi, Aritmatika, Sejarah, dll. Akibatnya, karir sebagai pelukis yang bahkan belum dibangun oleh Aku runtuh. Ia pun akhirnya memilih untuk menjadi seorang pilot.

Uniknya, ketika Aku bertemu dengan Pangeran Kecil, sang pangeran langsung memahami gambar topi yang digambar oleh Aku. Padahal sebelumnya tak ada seorang pun yang mengerti gambar tersebut kecuali jika Aku menjelaskannya. Itu juga yang menyebabkan Aku tidak memiliki sahabat, karena tidak ada yang mengerti jalan pikiran Aku, yang tidak seperti orang dewasa pada umumnya. Momen kecil di atas telah membuka jalan bagi persahabatan antara Pangeran Kecil dan Aku.

Pangeran Kecil bukanlah makhluk dari bumi. Ia datang dari sebuah planet yang jauh, bernama Asteroid B-612, yang besarnya bahkan tak lebih besar dari sebuah rumah. Dia tinggal sendirian di planet kecil itu, sebelum ia mengembara di jagad raya yang luas dan akhirnya tiba di bumi dan bertemu dengan Aku. Dalam novel ini, Aku berkata bahwa ia merasa perlu menyebutkan nama asteroid tempat asal Pangeran Kecil, karena orang dewasa tidak akan percaya bahwa Pangeran Kecil adalah nyata jika tidak ada bukti yang seringkali mereka sebut dengan bukti ilmiah...

...Grown-ups like numbers. When you tell them about a new friend, they never ask questions about what really matters. They never ask: "What does his voice sound like?" "What games does he like best?" "Does he collect butterflies?" They ask: "How old is he?" "How many brothers does he have?" "How much does he weigh?" "How much money does his father make?" Only then they think they know him. If you tell grown-ups, "I saw a beautiful red brick house, with geraniums at the windows and doves on the roof...," they won't be able to imagine such a house. You have to tell them, "I saw a house worth a hundred thousand francs." Then they exclaim, "What a pretty house!" (Chapter 4, hal. 20-21)

Pangeran Kecil singgah di berbagai planet unik, sebelum akhirnya tiba di Planet Bumi. Semua planet yang ia singgahi dihuni oleh orang dewasa yang aneh. Mulai dari raja yang menganggap bahwa tata surya berada di bawah kuasanya, pemabuk yang minum-minum untuk melupakan bahwa dia malu karena dia adalah seorang pemabuk, geografer yang mencatat perjalan setiap orang yang datang ke planetnya tetapi tidak pernah pergi kemana-mana sepanjang hidupnya, dll. hingga akhirnya ia tiba di planet bumi, yang tentu saja lebih buruk dari semua planet-planet itu! Kenapa? Karena bumi memiliki banyak raja, pemabuk, geografer, dan berbagai profesi aneh lainnya yang dijalani oleh orang dewasa. Daan.. jika dijumlahkan menjadi hampir 2 milyar orang dewasa!!

Perjalanan Pangeran Kecil di bumi adalahperjalanan terpanjangnya. Ia bertemu dengan berbagai macam hal, dan mempelajari banyak hal juga. Ketika ia bertemu dengan Aku, ia sudah menyadari apa yang ia harus lakukan, dan memutuskan untuk melakukan hal itu. Tokoh Aku sendiri akhirnya mengalami perubahan besar dalam hidupnya akibat pertemuannya dengan sahabat ajaibnya ini. Apakah "hal itu" yang sudah diputuskan oleh Pangeran Kecil? Bagaimana akhirnya Aku menjalani hidupnya? Dan bagaimanakah kelanjutan persahabatan antara Aku dan Pangeran Kecil?

Saya sarankan anda untuk membacanya sendiri saja ya, karena endingnya begitu menyentuh dan membuat saya menitikkan air mata. Selain itu, saya juga jadi jatuh cinta sejatuh-jatuhnya oleh sosok Pangeran Kecil ini. Dia begitu polos, baik hati, tidak sombong, cinta tanah air, dan peduli pada sesama (Saya nggak bohong lho.. Baca saja sendiri kalau nggak percaya ;p *promosi). Ia adalah sosok kearifan dan kebijaksanaan dari seorang anak kecil yang polos, kritis, dan selalu ingin tahu. Ia hidup secara sederhana, dan kesederhanaannya itulah yang menjadi kunci kebahagiaannya, meskipun sebagai manusia yang perasaannya begitu lembut, ia juga pernah merasa sedih dan kesepian.

Kecintaan saya terhadap Pangeran Kecil semakin bertambah setelah melihat ilustrasi-ilustrasi indah yang digambarkan oleh Saint-Exupéry. Ilustrasi-ilustrasi itu sangat sederhana, tanpa menggunakan warna-warna kompleks, tetapi begitu indah dan juga mengharukan (apalagi kalau sudah baca sampai selesai.. *promosi lagi). Ilustrasi itu juga membuat sosok Pangeran Kecil menjadi begitu nyata, seolah-olah saya bisa melihatnya di antara bintang-bintang ataupun bunga-bunga.

Saya sangat suka dengan gaya Saint-Exupéry menyisipkan sindiran-sindiran mengenai sikap orang dewasa yang menganggap diri mereka bijaksana, terhormat, dan pandai padahal sebenarnya tidak. Mereka menilai segala sesuatu dari "bungkus"nya dan dari nilainya, bukan dari esensi atau manfaatnya. Sebagai contoh, planet yang dihuni oleh Pangeran Kecil ditemukan oleh seorang ilmuwan Turki yang pada masa itu masih menggunakan pakaian tradisional Turki (seperti di Aladdin itu). Ia tidak dihargai oleh orang Eropa ketika mempresentasikan temuannya di hadapan mereka. Tetapi beberapa tahun kemudian, setelah Bapak Demokrasi Turki mewajibkan rakyat Turki untuk memakai pakaian ala Barat, hasil temuan ilmuwan Turki ini akhirnya dihargai oleh para ilmuwan Eropa lainnya.

“GOOD MORNING,” said the little prince.
“Good morning,” said the salesclerk. This was a salesclerk who sold pills invented to quench thirst. Swallow one a week and you no longer feel any need to drink.
“Why do you sell these pills?”
“They save so much time,” the clerk said. “Experts have calculated that you can save fifty-three minutes a week.”
“And what do you do with those fifty-three minutes?”
“Whatever you like.”
“If i had fifty-three minutes to spend as I liked,” the little prince said to himself, “I’d walk very slowly toward a water fountain...”
(Chapter 23, hal. 95)

Oh iya, di buku ini ada cerita antara Pangeran Kecil dengan pohon baobab, yang membuat saya jadi teringat dengan pohon-pohon seharga 2 milyar dan katanya diimpor langsung dari Afrika, yang ditanam di sekitar rektorat dan perpustakaan baru UI. Pohon yang katanya bermanfaat dari akar, batang, dan daunnya itu (sama seperti pohon kelapa), ternyata adalah pohon "jahat" dan "tidak berguna" bagi Asteroid B-612, kampung halaman Pangeran kecil saya. Pohon itu bisa menghancurkan planet kecil Pangeran Kecil hingga berkeping-keping... Pantas saja saya merasa familiar dengan pohon-pohon itu... Hahaha

Pangeran Kecil dan Pohon Baobabsnya

Novel The Little Prince ditulis oleh Antoine De Saint-Exupéry, seorang pria berkebangsaan Prancis yang uniknya juga seorang pilot di Angkatan Udara Prancis. Di translator note yang terdapat di buku saya, pada 1943 novel ini diterbitkan untuk pertama kalinya di New York, dan setahun setelahnya Saint-Exupéry meninggal dunia dalam misi ketika Perang Dunia II. Ia meninggal dunia di tanggal 31 Juli 1944 (Sama dengan tanggal lahirnya Harry Potter dan JK. Rowling, dan dua hari setelah hari lahir saya.. ;p) di Afrika. Terima kasih banyak karena sudah menulis novel seindah ini Om Saint-Exupéry...

Bagi saya, novel The Little Prince menyimpan banyak kenangan. Buku ini sendiri saya beli di Jepang, ketika saya ikut pertukaran pelajar selama setahun di negara itu. Sahabat-sahabat saya (yang berkebangsaan Hongkong), suka sekali dengan novel ini. Mereka sangat merekomendasikan saya untuk membaca novel ini. Ketika saya dan sahabat saya itu "ngebolang" ke suatu tempat bernama Hakone (berada di kaki gunung Fuji), kami pergi ke sebuah museum yang didedikasikan untuk "The Little Prince"! Tempat itu sangat indah, dan sekarang saya menyesal karena dulu saya belum jatuh cinta pada Pangeran Kecil ini. Alhamdulillah, buku yang saya beli ini bukan yang berbahasa Jepang, karena saya pasti pusing membacanya (meskipun saya bisa berbahasa Jepang dan membaca Kanji)... ;p

Buku yang saya beli ini masuk ke dalam koleksi "Kodansha English Library", yang diterbitkan oleh Kodansha, salah satu perusahaan penerbitan besar di Jepang. Sebenarnya sih buku ini ditujukan untuk orang Jepang yang ingin belajar bahasa Inggris melalui cerita, tapi tidak ada salahnya bagi saya untuk membaca buku ini, yang mungil dan bisa dimasukkan ke dalam saku. Saya ingat sekali waktu itu saya sedang "mengembara" di Kinokuniya Shinjuku, mencari buku latihan untuk Japanese Language Proficiency Test, dan akhirnya saya menemukan sosoknya. Rupanya kami memang berjodoh... Meskipun yaa harga buku ini sangat mahal, untuk kantong mahasiswa kere seperti saya. Harganya 800 yen yang setara dengan dua kali makan (bisa 3x malah kalau dihemat-hemat...). Tapi saya nggak menyesal, karena beneran worthed bangeett!! ;)

Novel "The Little Prince" terbitan Kodansha. Ada unsur bulat-bulatnya...

Karenanya, membeli buku ini adalah salah satu keputusan tercerdas saya (yang saat itu bukannya beli buku untuk skripsi, tapi malah beli novel) karena saya jadi bisa berkenalan Pangeran Kecil yang jauh lebih mempesona dibandingkan pangeran-pangeran di cerita-cerita. Tapi sayangnya, membaca novel ini hampir dua tahun setelah membelinya adalah salah satu hal terbodoh yang saya lakukan...  Tapi tak apa, yang penting saya sudah baca. Dan saya sudah  jatuh cinta pada Pangeran Kecil saya ini. Dan, jika anda ingin tahu bagaimana sosok pangeran kecil yang saya cintai ini secara lebih objektif, saya sarankan anda untuk membacanya sendiri... (promotion detected lagi), karena saya sedang dimabuk cinta, jadi anda pasti mendengar yang baik-baiknya saja dari saya... xD

Sayang sekali novel ini tidak terkenal di Indonesia. Padahal saya rasa, orang dewasa dan orang-orang yang akan jadi dewasa (berarti semuanya dong..) di negeri ini perlu sekali untuk membacanya. Agar mereka yang sudah dewasa tidak lupa perasaan-perasaan indah ketika mereka masih kanak-kanak, dan yang menjelang dewasa menghargai perasaan mereka saat ini sebagai bekal ketika dewasa nanti... Seperti kata-kata yang dituliskan oleh Saint-Exupéry untuk sahabatnya...

"Semua orang dewasa awalnya adalah anak-anak.. Tetapi, hanya sebagian dari mereka yang mengingatnya..."


"People where you live," the little prince said, "grow five thousand roses in one garden... yet they don't find what they're looking for..."
"They don't find it," I answered.
"And yet what they're looking for could be found in a single rose, or a little water..."
"Of course," I answered.
And the little prince added, "But eyes are blind. You have to look with the heart."
(Chapter 25, hal.99)

Saya nggak sengaja menemukan momiji di bagian terakhir novel ini. Jadi makin terharu... T^T Saya pasti ke tempat itu kalau nanti ke Gurun Sahara...

PS.. Novel ini saya sertakan dalam “2011 End of Year Book Contest” yang diadakan di http://sinopsisuntukmu.blogspot.com/2011/11/annual-contest-2011-end-of-year-book.html . Alasannya karena memenuhi dua kriteria, yaitu ada huruf P di judul buku, dan ada unsur bulat-bulatnya di  bagian halaman depannya...



No comments:

Post a Comment

January 13, 2012

Pangeran Kecilku


Review tentang The Little Prince ini saya ikutkan dalam lomba ini dan pertama kali saya unggah di blog saya pada 6 Desember 2011
All grown-ups were children first... But few of them remember it...

To Leon Werth
When He Was a Little Boy



Kalimat di atas adalah untaian kata yang didedikasikan Antoine De Saint-Exupéry, pengarang The Little Prince, untuk sahabatnya Leon Werth. Ya, buku yang akan saya kupas kali ini adalah The Little Prince, sebuah novel yang bercerita tentang bagaimana menjadi orang yang dewasa, bukan menjadi orang dewasa. Bingung dengan perbedaannya? Oke, saya akan menjelaskan, tapi menurut pendapat saya aja ya... Orang yang dewasa adalah orang yang mampu berpikir dan bertindak secara dewasa,  meskipun secara usia mungkin dia lebih muda dari saya atau anda sekalian. Sedangkan orang dewasa adalah orang-orang yang bilangan umurnya sudah tidak bisa dihitung dengan jari-jari anda,  bahkan perlu dikalikan satu setengah, dua, ataupun tiga. Terkadang orang dewasa menganggap diri  mereka dewasa, bijaksana, dan tau segala-galanya. Padahal sesungguhnya, mereka tidak mengerti sama sekali. Hal inilah yang ingin disampaikan Antoine De Saint-Exupery dalam novel kecilnya,  yang mengajarkan banyak kebijaksanaan dan kedewasaan melalui tokohnya yang sama sekali belum menginjak usia dewasa.

Tokoh utama dalam cerita ini tentu saja adalah The Little Prince, sang Pangeran Kecil, yang bertemu dengan tokoh Aku di tengah Gurun Sahara ketika Aku, yang adalah seorang pilot, terdampar di sana seorang diri. Persahabatan yang unik pun mulai terbangun di antara mereka, karena Pangeran Kecil yang baru pertama kali bertemu dengan Aku, bisa memahami apa yang disampaikan oleh Aku.

Aku adalah seseorang yang menyimpan kekecewaan kepada orang dewasa. Sebenarnya, Aku bercita-cita ingin menjadi pelukis, namun orang dewasa meruntuhkan impiannya, karena mereka tidak mengerti gambar seekor gajah yang dimakan oleh ular boa (yang terlihat seperti gambar topi), yang digambar oleh Aku ketika ia masih kecil. Orang dewasa malah menyuruh Aku untuk belajar ilmu pengetahuan yang pasti, seperti Geografi, Aritmatika, Sejarah, dll. Akibatnya, karir sebagai pelukis yang bahkan belum dibangun oleh Aku runtuh. Ia pun akhirnya memilih untuk menjadi seorang pilot.

Uniknya, ketika Aku bertemu dengan Pangeran Kecil, sang pangeran langsung memahami gambar topi yang digambar oleh Aku. Padahal sebelumnya tak ada seorang pun yang mengerti gambar tersebut kecuali jika Aku menjelaskannya. Itu juga yang menyebabkan Aku tidak memiliki sahabat, karena tidak ada yang mengerti jalan pikiran Aku, yang tidak seperti orang dewasa pada umumnya. Momen kecil di atas telah membuka jalan bagi persahabatan antara Pangeran Kecil dan Aku.

Pangeran Kecil bukanlah makhluk dari bumi. Ia datang dari sebuah planet yang jauh, bernama Asteroid B-612, yang besarnya bahkan tak lebih besar dari sebuah rumah. Dia tinggal sendirian di planet kecil itu, sebelum ia mengembara di jagad raya yang luas dan akhirnya tiba di bumi dan bertemu dengan Aku. Dalam novel ini, Aku berkata bahwa ia merasa perlu menyebutkan nama asteroid tempat asal Pangeran Kecil, karena orang dewasa tidak akan percaya bahwa Pangeran Kecil adalah nyata jika tidak ada bukti yang seringkali mereka sebut dengan bukti ilmiah...

...Grown-ups like numbers. When you tell them about a new friend, they never ask questions about what really matters. They never ask: "What does his voice sound like?" "What games does he like best?" "Does he collect butterflies?" They ask: "How old is he?" "How many brothers does he have?" "How much does he weigh?" "How much money does his father make?" Only then they think they know him. If you tell grown-ups, "I saw a beautiful red brick house, with geraniums at the windows and doves on the roof...," they won't be able to imagine such a house. You have to tell them, "I saw a house worth a hundred thousand francs." Then they exclaim, "What a pretty house!" (Chapter 4, hal. 20-21)

Pangeran Kecil singgah di berbagai planet unik, sebelum akhirnya tiba di Planet Bumi. Semua planet yang ia singgahi dihuni oleh orang dewasa yang aneh. Mulai dari raja yang menganggap bahwa tata surya berada di bawah kuasanya, pemabuk yang minum-minum untuk melupakan bahwa dia malu karena dia adalah seorang pemabuk, geografer yang mencatat perjalan setiap orang yang datang ke planetnya tetapi tidak pernah pergi kemana-mana sepanjang hidupnya, dll. hingga akhirnya ia tiba di planet bumi, yang tentu saja lebih buruk dari semua planet-planet itu! Kenapa? Karena bumi memiliki banyak raja, pemabuk, geografer, dan berbagai profesi aneh lainnya yang dijalani oleh orang dewasa. Daan.. jika dijumlahkan menjadi hampir 2 milyar orang dewasa!!

Perjalanan Pangeran Kecil di bumi adalahperjalanan terpanjangnya. Ia bertemu dengan berbagai macam hal, dan mempelajari banyak hal juga. Ketika ia bertemu dengan Aku, ia sudah menyadari apa yang ia harus lakukan, dan memutuskan untuk melakukan hal itu. Tokoh Aku sendiri akhirnya mengalami perubahan besar dalam hidupnya akibat pertemuannya dengan sahabat ajaibnya ini. Apakah "hal itu" yang sudah diputuskan oleh Pangeran Kecil? Bagaimana akhirnya Aku menjalani hidupnya? Dan bagaimanakah kelanjutan persahabatan antara Aku dan Pangeran Kecil?

Saya sarankan anda untuk membacanya sendiri saja ya, karena endingnya begitu menyentuh dan membuat saya menitikkan air mata. Selain itu, saya juga jadi jatuh cinta sejatuh-jatuhnya oleh sosok Pangeran Kecil ini. Dia begitu polos, baik hati, tidak sombong, cinta tanah air, dan peduli pada sesama (Saya nggak bohong lho.. Baca saja sendiri kalau nggak percaya ;p *promosi). Ia adalah sosok kearifan dan kebijaksanaan dari seorang anak kecil yang polos, kritis, dan selalu ingin tahu. Ia hidup secara sederhana, dan kesederhanaannya itulah yang menjadi kunci kebahagiaannya, meskipun sebagai manusia yang perasaannya begitu lembut, ia juga pernah merasa sedih dan kesepian.

Kecintaan saya terhadap Pangeran Kecil semakin bertambah setelah melihat ilustrasi-ilustrasi indah yang digambarkan oleh Saint-Exupéry. Ilustrasi-ilustrasi itu sangat sederhana, tanpa menggunakan warna-warna kompleks, tetapi begitu indah dan juga mengharukan (apalagi kalau sudah baca sampai selesai.. *promosi lagi). Ilustrasi itu juga membuat sosok Pangeran Kecil menjadi begitu nyata, seolah-olah saya bisa melihatnya di antara bintang-bintang ataupun bunga-bunga.

Saya sangat suka dengan gaya Saint-Exupéry menyisipkan sindiran-sindiran mengenai sikap orang dewasa yang menganggap diri mereka bijaksana, terhormat, dan pandai padahal sebenarnya tidak. Mereka menilai segala sesuatu dari "bungkus"nya dan dari nilainya, bukan dari esensi atau manfaatnya. Sebagai contoh, planet yang dihuni oleh Pangeran Kecil ditemukan oleh seorang ilmuwan Turki yang pada masa itu masih menggunakan pakaian tradisional Turki (seperti di Aladdin itu). Ia tidak dihargai oleh orang Eropa ketika mempresentasikan temuannya di hadapan mereka. Tetapi beberapa tahun kemudian, setelah Bapak Demokrasi Turki mewajibkan rakyat Turki untuk memakai pakaian ala Barat, hasil temuan ilmuwan Turki ini akhirnya dihargai oleh para ilmuwan Eropa lainnya.

“GOOD MORNING,” said the little prince.
“Good morning,” said the salesclerk. This was a salesclerk who sold pills invented to quench thirst. Swallow one a week and you no longer feel any need to drink.
“Why do you sell these pills?”
“They save so much time,” the clerk said. “Experts have calculated that you can save fifty-three minutes a week.”
“And what do you do with those fifty-three minutes?”
“Whatever you like.”
“If i had fifty-three minutes to spend as I liked,” the little prince said to himself, “I’d walk very slowly toward a water fountain...”
(Chapter 23, hal. 95)

Oh iya, di buku ini ada cerita antara Pangeran Kecil dengan pohon baobab, yang membuat saya jadi teringat dengan pohon-pohon seharga 2 milyar dan katanya diimpor langsung dari Afrika, yang ditanam di sekitar rektorat dan perpustakaan baru UI. Pohon yang katanya bermanfaat dari akar, batang, dan daunnya itu (sama seperti pohon kelapa), ternyata adalah pohon "jahat" dan "tidak berguna" bagi Asteroid B-612, kampung halaman Pangeran kecil saya. Pohon itu bisa menghancurkan planet kecil Pangeran Kecil hingga berkeping-keping... Pantas saja saya merasa familiar dengan pohon-pohon itu... Hahaha

Pangeran Kecil dan Pohon Baobabsnya

Novel The Little Prince ditulis oleh Antoine De Saint-Exupéry, seorang pria berkebangsaan Prancis yang uniknya juga seorang pilot di Angkatan Udara Prancis. Di translator note yang terdapat di buku saya, pada 1943 novel ini diterbitkan untuk pertama kalinya di New York, dan setahun setelahnya Saint-Exupéry meninggal dunia dalam misi ketika Perang Dunia II. Ia meninggal dunia di tanggal 31 Juli 1944 (Sama dengan tanggal lahirnya Harry Potter dan JK. Rowling, dan dua hari setelah hari lahir saya.. ;p) di Afrika. Terima kasih banyak karena sudah menulis novel seindah ini Om Saint-Exupéry...

Bagi saya, novel The Little Prince menyimpan banyak kenangan. Buku ini sendiri saya beli di Jepang, ketika saya ikut pertukaran pelajar selama setahun di negara itu. Sahabat-sahabat saya (yang berkebangsaan Hongkong), suka sekali dengan novel ini. Mereka sangat merekomendasikan saya untuk membaca novel ini. Ketika saya dan sahabat saya itu "ngebolang" ke suatu tempat bernama Hakone (berada di kaki gunung Fuji), kami pergi ke sebuah museum yang didedikasikan untuk "The Little Prince"! Tempat itu sangat indah, dan sekarang saya menyesal karena dulu saya belum jatuh cinta pada Pangeran Kecil ini. Alhamdulillah, buku yang saya beli ini bukan yang berbahasa Jepang, karena saya pasti pusing membacanya (meskipun saya bisa berbahasa Jepang dan membaca Kanji)... ;p

Buku yang saya beli ini masuk ke dalam koleksi "Kodansha English Library", yang diterbitkan oleh Kodansha, salah satu perusahaan penerbitan besar di Jepang. Sebenarnya sih buku ini ditujukan untuk orang Jepang yang ingin belajar bahasa Inggris melalui cerita, tapi tidak ada salahnya bagi saya untuk membaca buku ini, yang mungil dan bisa dimasukkan ke dalam saku. Saya ingat sekali waktu itu saya sedang "mengembara" di Kinokuniya Shinjuku, mencari buku latihan untuk Japanese Language Proficiency Test, dan akhirnya saya menemukan sosoknya. Rupanya kami memang berjodoh... Meskipun yaa harga buku ini sangat mahal, untuk kantong mahasiswa kere seperti saya. Harganya 800 yen yang setara dengan dua kali makan (bisa 3x malah kalau dihemat-hemat...). Tapi saya nggak menyesal, karena beneran worthed bangeett!! ;)

Novel "The Little Prince" terbitan Kodansha. Ada unsur bulat-bulatnya...

Karenanya, membeli buku ini adalah salah satu keputusan tercerdas saya (yang saat itu bukannya beli buku untuk skripsi, tapi malah beli novel) karena saya jadi bisa berkenalan Pangeran Kecil yang jauh lebih mempesona dibandingkan pangeran-pangeran di cerita-cerita. Tapi sayangnya, membaca novel ini hampir dua tahun setelah membelinya adalah salah satu hal terbodoh yang saya lakukan...  Tapi tak apa, yang penting saya sudah baca. Dan saya sudah  jatuh cinta pada Pangeran Kecil saya ini. Dan, jika anda ingin tahu bagaimana sosok pangeran kecil yang saya cintai ini secara lebih objektif, saya sarankan anda untuk membacanya sendiri... (promotion detected lagi), karena saya sedang dimabuk cinta, jadi anda pasti mendengar yang baik-baiknya saja dari saya... xD

Sayang sekali novel ini tidak terkenal di Indonesia. Padahal saya rasa, orang dewasa dan orang-orang yang akan jadi dewasa (berarti semuanya dong..) di negeri ini perlu sekali untuk membacanya. Agar mereka yang sudah dewasa tidak lupa perasaan-perasaan indah ketika mereka masih kanak-kanak, dan yang menjelang dewasa menghargai perasaan mereka saat ini sebagai bekal ketika dewasa nanti... Seperti kata-kata yang dituliskan oleh Saint-Exupéry untuk sahabatnya...

"Semua orang dewasa awalnya adalah anak-anak.. Tetapi, hanya sebagian dari mereka yang mengingatnya..."


"People where you live," the little prince said, "grow five thousand roses in one garden... yet they don't find what they're looking for..."
"They don't find it," I answered.
"And yet what they're looking for could be found in a single rose, or a little water..."
"Of course," I answered.
And the little prince added, "But eyes are blind. You have to look with the heart."
(Chapter 25, hal.99)

Saya nggak sengaja menemukan momiji di bagian terakhir novel ini. Jadi makin terharu... T^T Saya pasti ke tempat itu kalau nanti ke Gurun Sahara...

PS.. Novel ini saya sertakan dalam “2011 End of Year Book Contest” yang diadakan di http://sinopsisuntukmu.blogspot.com/2011/11/annual-contest-2011-end-of-year-book.html . Alasannya karena memenuhi dua kriteria, yaitu ada huruf P di judul buku, dan ada unsur bulat-bulatnya di  bagian halaman depannya...



No comments:

Post a Comment