January 28, 2013

Harry Potter dan Batu Bertuah


Harry Potter and The Sorcerer Stone - Harry Potter dan Batu Bertuah by J.K. Rowling
My rating: 4 of 5 stars

Perkenalan saya dengan Harry Potter bisa dibilang agak terlambat. Ketika saya duduk di bangku SMP, buku Harry Potter sebenarnya sudah cukup booming, tapi saya ogah baca. Ya, soalnya saya ini rada-rada ga mainstream orangnya. Waktu teman-teman saya tergila-gila dengan segala hal yang berbau Hollywood, saya dan beberapa orang teman malah maniak komik dan anime Jepang. Waktu teman-teman saya heboh soal Meteor Garden dan betapa gantengnya EFSE, saya cuma mendengus dan ga ada minat buat nonton sama sekali. Eh, ga nyambung ya? Yah, pokoknya saya baru kenalan sama Harry ketika SMA, itupun secara nggak sengaja...

Jadi, ketika saya duduk di bangku SMA itu, kalau nggak salah Harry Potter sudah sampai buku ke-4, dan buku kelimanya akan segera terbit. Tapi, saya belum baca sama sekali dan sejujurnya nggak minat buat baca itu. Sampai suatu ketika..., saya pergi ke rumah salah seorang teman saya. Di sana, saya melihat buku Harry Potter teronggok manis di mejanya, seakan memanggil-manggil saya untuk baca. Saya pikir, nggak ada salahnya, karena saya suka baca dan... Yah, i'll give it a try...

Jadilah saya membawa pulang buku itu, bersama buku pertama Lord of the Rings yang juga punya teman saya. Iya, saya ini emang tukang minjem, soalnya keluarga saya itu biasa-biasa aja, uang jajan saya juga biasa-biasa aja, jadi biarpun nabung, agak lama juga kalo mau ngoleksi itu buku Harry Potter. Yang saya beli ketika SMA itu kebanyakan novel-novel Islami yang diterbitkan oleh FLP ataupun komik-komik, yang (saat itu) masih cukup terjangkau kantong. Soalnya, saya cuma bisa beli novel kalo abis dari rumah mbah, dan dikasih uang jajan sama mereka. Hohohoo.. Lagian juga, kayaknya ortu saya rada nggak mendukung hobi baca saya. Terutama ibu saya, yang menyamakan semua buku sebagai komik, meskipun yang saya baca itu adalah novel...

Makanya, saya suka iri sama anak-anak yang ortunya hobi baca dan memfasilitasi mereka. Bersyukurlah kalian kalo punya ortu kayak gitu. Soalnya di rumah, saya doang yang gila baca. Hhmm.. Bapak saya juga sih, lumayan. Dan bisa dibilang, berkat majalah Bobo yang dibelikan bapak untuk saya setiap minggulah saya jadi doyan baca. Tapi tetep sih, cuman saya yang paling doyan baca di antara keluarga-keluarga saya. Ya, seenggaknya nanti kalau saya punya anak, dia nggak perlu mengalami nasib seperti saya, karena saya akan memfasilitasinya. Bahkan mungkin, nanti kami malah berantem karena sama-sama nggak mau ngalah baca buku yang sama lagi.. Hahaha

Okay, balik ke Harry Potter. Saya menikmati membaca buku yang saya pinjam dari teman saya itu. Meskipun, ehem, ternyata urutan baca saya salah...! Iya, salah. Saya bacanya yang kedua dulu, "Harry Potter dan Kamar Rahasia", bukannya "Harry Potter dan Batu Bertuah". DOARR!! Soalnya, bukunya kan mirip tuh sampul depannya (buku ke-1 sampe ke-3 kan emang sama semua warna sampulnya), dan saya nggak ngeh kalo ternyata ada angka penunjuk serinya di bagian samping buku. Dodol banget ya? Tapi, biarlah... Soalnya, ternyata saya bisa menikmati buku kedua dengan baik, dan bikin saya penasaran sama Harry, terus pinjem buku pertamanya deh.

Lalu, sekitar sepuluh tahun kemudian, saya kembali baca buku pertama Harry ini. Hhmm.. Sebenarnya kayaknya sih gak tepat sepuluh tahun, karena ini mungkin udah ketiga atau keempat kalinya saya baca buku pertama Harry Potter ini. Membaca kembali Harry Potter di kala saya sudah menyandang status sebagai orang dewasa, tentu saja rasanya berbeda dengan dulu, ketika saya masih remaja dan imut-imut. #ehem

Dulu, ketika saya baca buku ini, saya menerima mentah-mentah apa yang disodorkan oleh J.K. Rowling kepada saya. Gimana awalnya Harry dibawa ke Privet Drive, Hagrid yang ujung-ujug dateng ke gubuk di tepi pantai buat ngasih surat penerimaan Hogwarts sambil ngerayain ulang tahun Harry di antara keluarga Dursley yang menyebalkan (bagian favorit saya), perjumpaan pertama Harry dengan Professor Quirrell (yang dengan polosnya saya nggak menduga ada apa-apa disana), lalu pertemuan dengan Ron dan Hermione, perjalanan di Hogwart Express, ketemu Malfoy dan dedengkot-dedengkotnya, dan segala petualangan seru selama di Hogwarts, terutama bagaimana dengan pandainya Rowling menggiring pembaca agar berpikir bahwa Snape is the bad one. Oh, poor Snape...

Ya, Rowling memang dengan begitu cerdasnya telah menggiring pembacanya untuk mengikuti 'peraturan'-nya. Dan, tentu saja kita hanya bisa menerimanya. Yaiyalah.. Kalo nggak, tutup aja bukunya! Lempaarr!! #ganyante

Bukan berarti saya nggak suka digiring-giring opininya sama si JK Rowling, karena emang suka-suka dia juga bukunya mau diapain. Cuma, ketika saya baca ulang, sekarang saya jadi semakin sadar kalo dia memang benar-benar seorang penulis yang cerdas. Brilian.

Seperti yang kita ketahui bersama, buku pertama ini adalah awal dari segalanya. Awal dari dunia ajaib yang diciptakan Rowling dengan begitu luar biasanya. Di buku pertama ini, kita diajak untuk mengenal Harry Potter, si anak lelaki yang bertahan hidup, seorang anak yatim piatu yang harus tinggal dengan bibi, paman, dan sepupu lelakinya yang menyebalkan (Yah, semuanya menyebalkan..). Akhirnya, Harry tahu kalau dia penyihir, dan dimulailah tahun pertamanya di Hogwarts, sekolah sihir yang bagi saya tampak seperti sekolah paling menyenangkan di seluruh dunia.

Ya, Rowling memang patut diacungi jempol, karena ia sangat berhasil menciptakan sebuah dunia fantasi yang ajaib dan baru, dan membuat setiap pembacanya mampu tersedot ke dalamnya. Kekuatan deskripsi Rowling juga sangat luar biasa, karena dia bisa bikin saya turut ngerasa nyobain kacang segala rasa Bertie Bott's (rasa kotoran telinga! yucks!), merasa seolah bersama Ron dan Hermione nonton pertandingan Quidditch (dan bergidik ngeri waktu Harry hampir jatuh dari sapunya) yang heboh itu, ikutan ngeces dan ngiler luar biasa pas acara makan-makan Hogwarts, dan ikutan ngeri ketika mereka kena detensi dan harus masuk ke Hutan Terlarang.

Satu hal yang bikin saya tersadar (dan jadi agak sebel juga) setelah baca ulang adalah saya ngerasa si Harry ini kok sotoy dan kepo banget ya? Soalnya dia ngotot banget gitu mau lawan Voldemort sendirian. Padahal, tahu dunia sihir aja baru kemaren, sihirnya juga ga jago-jago amat (ya dibandinginnya sama Hermione, jelaslaahh... xp), masih bocah pun, ngapain sih pake repot-repot sok berani gitu mau lawan si Voldie?

Tapi mungkin memang itu yang harus terjadi. Tanpa disadari Harry, bisa jadi memang sudah terjalin ikatan yang begitu erat antara dia dan Voldie, yang bikin Harry ngerasa dia harus berhadapan langsung, face to face, sama si makhluk ga punya idung itu. Apalagi memang Harry-lah orang yang paling sial, kalau si Voldie kembali bangkit. Dia (yang nggak punya apa-apa) harus kehilangan dunia yang baru dik enalnya, dunia tempat dia seharusnya berada, dan kembali pada keluarga (kalo emang bisa dibilang keluarga) Dursley yang menyebalkan itu.

Oh iya, setelah saya baca seri Chrestomanci-nya Diana Wynne Jones, saya jadi kepikiran... Apa jangan-jangan si Voldemort ini semacam enchanter yang kalau namanya disebut, dia bisa langsung dateng ke tempat itu? Kalau iya, itu jadi menegaskan kenapa orang-orang pada takut nyebut nama aslinya, dan hanya berani nyebut dia dengan "Kau tahu siapa"...

4/5 bintang untuk "Harry Potter dan Batu Bertuah", yang kisahnya, serta terjemahannya, benar-benar luar biasa dan sanggup membius saya. Menurut saya, buku ini cocok untuk dibaca siapa saja, baik anak-anak ataupun orang dewasa. Kalau anak-anak, mungkin cocok dibaca dari usia 7 tahun-an kali ya...

P.S. Saya jadi ingat, kalau dulu saya pernah baca, bahwa JK Rowling sempat nyesel karena judul bukunya diubah jadi "Harry Potter and the Sorcerer's Stone" buat versi Amerikanya. Katanya, kalo saat itu dia udah punya posisi tawar yang kuat, dia pasti nggak akan mau ngubah kata "Philosopher's Stone" jadi "Sorcerer's Stone", karena maknanya yang memang berbeda (meskipun saya nggak terlalu ngerti bedanya dimana... xp).

P.S.2. Review ini dalam rangka event Hotter Potter Event di blog surgabukuku.


Sekaligus di FM1s di Bacaan Bzee, karena buku ini adalah salah satu buku kontroversial ketika pertama kali terbit, tapi setelahnya dapat sederetan penghargaan yang bisa dilihat sendiri di situs Goodreads, karena benar-benar buanyaakkk...


Dan satu lagi, di "What's in a Name Reading Challenge" di blog Ren's Little Corner.


Sekali bikin post, tiga challenge terlampaui.. :D

3 comments:

  1. ah, kalo aku 1 post hanya terjangkau 2 challenge. hihihihihi...
    nice review... :)

    ReplyDelete
  2. Hohoho.. Mungkin aku kebanyakan ikut challenge kali yaa.. :p

    ReplyDelete
  3. Eh sama dong....aku juga pertama baca HP mulai buku yang kedua dulu. Dan setuju banget soal si Harry sotoy dan kepo, bhuahahahaha! Aku ngerasa JKR agak over dalam mendefinisikan keberanian (atau kenekatan) si Harry, makanya kalo ditanya tokoh favorit aku gak pernah jawab Harry, tokoh2 lainnya masih banyak yang lebih "membumi" :P

    ReplyDelete

January 28, 2013

Harry Potter dan Batu Bertuah


Harry Potter and The Sorcerer Stone - Harry Potter dan Batu Bertuah by J.K. Rowling
My rating: 4 of 5 stars

Perkenalan saya dengan Harry Potter bisa dibilang agak terlambat. Ketika saya duduk di bangku SMP, buku Harry Potter sebenarnya sudah cukup booming, tapi saya ogah baca. Ya, soalnya saya ini rada-rada ga mainstream orangnya. Waktu teman-teman saya tergila-gila dengan segala hal yang berbau Hollywood, saya dan beberapa orang teman malah maniak komik dan anime Jepang. Waktu teman-teman saya heboh soal Meteor Garden dan betapa gantengnya EFSE, saya cuma mendengus dan ga ada minat buat nonton sama sekali. Eh, ga nyambung ya? Yah, pokoknya saya baru kenalan sama Harry ketika SMA, itupun secara nggak sengaja...

Jadi, ketika saya duduk di bangku SMA itu, kalau nggak salah Harry Potter sudah sampai buku ke-4, dan buku kelimanya akan segera terbit. Tapi, saya belum baca sama sekali dan sejujurnya nggak minat buat baca itu. Sampai suatu ketika..., saya pergi ke rumah salah seorang teman saya. Di sana, saya melihat buku Harry Potter teronggok manis di mejanya, seakan memanggil-manggil saya untuk baca. Saya pikir, nggak ada salahnya, karena saya suka baca dan... Yah, i'll give it a try...

Jadilah saya membawa pulang buku itu, bersama buku pertama Lord of the Rings yang juga punya teman saya. Iya, saya ini emang tukang minjem, soalnya keluarga saya itu biasa-biasa aja, uang jajan saya juga biasa-biasa aja, jadi biarpun nabung, agak lama juga kalo mau ngoleksi itu buku Harry Potter. Yang saya beli ketika SMA itu kebanyakan novel-novel Islami yang diterbitkan oleh FLP ataupun komik-komik, yang (saat itu) masih cukup terjangkau kantong. Soalnya, saya cuma bisa beli novel kalo abis dari rumah mbah, dan dikasih uang jajan sama mereka. Hohohoo.. Lagian juga, kayaknya ortu saya rada nggak mendukung hobi baca saya. Terutama ibu saya, yang menyamakan semua buku sebagai komik, meskipun yang saya baca itu adalah novel...

Makanya, saya suka iri sama anak-anak yang ortunya hobi baca dan memfasilitasi mereka. Bersyukurlah kalian kalo punya ortu kayak gitu. Soalnya di rumah, saya doang yang gila baca. Hhmm.. Bapak saya juga sih, lumayan. Dan bisa dibilang, berkat majalah Bobo yang dibelikan bapak untuk saya setiap minggulah saya jadi doyan baca. Tapi tetep sih, cuman saya yang paling doyan baca di antara keluarga-keluarga saya. Ya, seenggaknya nanti kalau saya punya anak, dia nggak perlu mengalami nasib seperti saya, karena saya akan memfasilitasinya. Bahkan mungkin, nanti kami malah berantem karena sama-sama nggak mau ngalah baca buku yang sama lagi.. Hahaha

Okay, balik ke Harry Potter. Saya menikmati membaca buku yang saya pinjam dari teman saya itu. Meskipun, ehem, ternyata urutan baca saya salah...! Iya, salah. Saya bacanya yang kedua dulu, "Harry Potter dan Kamar Rahasia", bukannya "Harry Potter dan Batu Bertuah". DOARR!! Soalnya, bukunya kan mirip tuh sampul depannya (buku ke-1 sampe ke-3 kan emang sama semua warna sampulnya), dan saya nggak ngeh kalo ternyata ada angka penunjuk serinya di bagian samping buku. Dodol banget ya? Tapi, biarlah... Soalnya, ternyata saya bisa menikmati buku kedua dengan baik, dan bikin saya penasaran sama Harry, terus pinjem buku pertamanya deh.

Lalu, sekitar sepuluh tahun kemudian, saya kembali baca buku pertama Harry ini. Hhmm.. Sebenarnya kayaknya sih gak tepat sepuluh tahun, karena ini mungkin udah ketiga atau keempat kalinya saya baca buku pertama Harry Potter ini. Membaca kembali Harry Potter di kala saya sudah menyandang status sebagai orang dewasa, tentu saja rasanya berbeda dengan dulu, ketika saya masih remaja dan imut-imut. #ehem

Dulu, ketika saya baca buku ini, saya menerima mentah-mentah apa yang disodorkan oleh J.K. Rowling kepada saya. Gimana awalnya Harry dibawa ke Privet Drive, Hagrid yang ujung-ujug dateng ke gubuk di tepi pantai buat ngasih surat penerimaan Hogwarts sambil ngerayain ulang tahun Harry di antara keluarga Dursley yang menyebalkan (bagian favorit saya), perjumpaan pertama Harry dengan Professor Quirrell (yang dengan polosnya saya nggak menduga ada apa-apa disana), lalu pertemuan dengan Ron dan Hermione, perjalanan di Hogwart Express, ketemu Malfoy dan dedengkot-dedengkotnya, dan segala petualangan seru selama di Hogwarts, terutama bagaimana dengan pandainya Rowling menggiring pembaca agar berpikir bahwa Snape is the bad one. Oh, poor Snape...

Ya, Rowling memang dengan begitu cerdasnya telah menggiring pembacanya untuk mengikuti 'peraturan'-nya. Dan, tentu saja kita hanya bisa menerimanya. Yaiyalah.. Kalo nggak, tutup aja bukunya! Lempaarr!! #ganyante

Bukan berarti saya nggak suka digiring-giring opininya sama si JK Rowling, karena emang suka-suka dia juga bukunya mau diapain. Cuma, ketika saya baca ulang, sekarang saya jadi semakin sadar kalo dia memang benar-benar seorang penulis yang cerdas. Brilian.

Seperti yang kita ketahui bersama, buku pertama ini adalah awal dari segalanya. Awal dari dunia ajaib yang diciptakan Rowling dengan begitu luar biasanya. Di buku pertama ini, kita diajak untuk mengenal Harry Potter, si anak lelaki yang bertahan hidup, seorang anak yatim piatu yang harus tinggal dengan bibi, paman, dan sepupu lelakinya yang menyebalkan (Yah, semuanya menyebalkan..). Akhirnya, Harry tahu kalau dia penyihir, dan dimulailah tahun pertamanya di Hogwarts, sekolah sihir yang bagi saya tampak seperti sekolah paling menyenangkan di seluruh dunia.

Ya, Rowling memang patut diacungi jempol, karena ia sangat berhasil menciptakan sebuah dunia fantasi yang ajaib dan baru, dan membuat setiap pembacanya mampu tersedot ke dalamnya. Kekuatan deskripsi Rowling juga sangat luar biasa, karena dia bisa bikin saya turut ngerasa nyobain kacang segala rasa Bertie Bott's (rasa kotoran telinga! yucks!), merasa seolah bersama Ron dan Hermione nonton pertandingan Quidditch (dan bergidik ngeri waktu Harry hampir jatuh dari sapunya) yang heboh itu, ikutan ngeces dan ngiler luar biasa pas acara makan-makan Hogwarts, dan ikutan ngeri ketika mereka kena detensi dan harus masuk ke Hutan Terlarang.

Satu hal yang bikin saya tersadar (dan jadi agak sebel juga) setelah baca ulang adalah saya ngerasa si Harry ini kok sotoy dan kepo banget ya? Soalnya dia ngotot banget gitu mau lawan Voldemort sendirian. Padahal, tahu dunia sihir aja baru kemaren, sihirnya juga ga jago-jago amat (ya dibandinginnya sama Hermione, jelaslaahh... xp), masih bocah pun, ngapain sih pake repot-repot sok berani gitu mau lawan si Voldie?

Tapi mungkin memang itu yang harus terjadi. Tanpa disadari Harry, bisa jadi memang sudah terjalin ikatan yang begitu erat antara dia dan Voldie, yang bikin Harry ngerasa dia harus berhadapan langsung, face to face, sama si makhluk ga punya idung itu. Apalagi memang Harry-lah orang yang paling sial, kalau si Voldie kembali bangkit. Dia (yang nggak punya apa-apa) harus kehilangan dunia yang baru dik enalnya, dunia tempat dia seharusnya berada, dan kembali pada keluarga (kalo emang bisa dibilang keluarga) Dursley yang menyebalkan itu.

Oh iya, setelah saya baca seri Chrestomanci-nya Diana Wynne Jones, saya jadi kepikiran... Apa jangan-jangan si Voldemort ini semacam enchanter yang kalau namanya disebut, dia bisa langsung dateng ke tempat itu? Kalau iya, itu jadi menegaskan kenapa orang-orang pada takut nyebut nama aslinya, dan hanya berani nyebut dia dengan "Kau tahu siapa"...

4/5 bintang untuk "Harry Potter dan Batu Bertuah", yang kisahnya, serta terjemahannya, benar-benar luar biasa dan sanggup membius saya. Menurut saya, buku ini cocok untuk dibaca siapa saja, baik anak-anak ataupun orang dewasa. Kalau anak-anak, mungkin cocok dibaca dari usia 7 tahun-an kali ya...

P.S. Saya jadi ingat, kalau dulu saya pernah baca, bahwa JK Rowling sempat nyesel karena judul bukunya diubah jadi "Harry Potter and the Sorcerer's Stone" buat versi Amerikanya. Katanya, kalo saat itu dia udah punya posisi tawar yang kuat, dia pasti nggak akan mau ngubah kata "Philosopher's Stone" jadi "Sorcerer's Stone", karena maknanya yang memang berbeda (meskipun saya nggak terlalu ngerti bedanya dimana... xp).

P.S.2. Review ini dalam rangka event Hotter Potter Event di blog surgabukuku.


Sekaligus di FM1s di Bacaan Bzee, karena buku ini adalah salah satu buku kontroversial ketika pertama kali terbit, tapi setelahnya dapat sederetan penghargaan yang bisa dilihat sendiri di situs Goodreads, karena benar-benar buanyaakkk...


Dan satu lagi, di "What's in a Name Reading Challenge" di blog Ren's Little Corner.


Sekali bikin post, tiga challenge terlampaui.. :D

3 comments:

  1. ah, kalo aku 1 post hanya terjangkau 2 challenge. hihihihihi...
    nice review... :)

    ReplyDelete
  2. Hohoho.. Mungkin aku kebanyakan ikut challenge kali yaa.. :p

    ReplyDelete
  3. Eh sama dong....aku juga pertama baca HP mulai buku yang kedua dulu. Dan setuju banget soal si Harry sotoy dan kepo, bhuahahahaha! Aku ngerasa JKR agak over dalam mendefinisikan keberanian (atau kenekatan) si Harry, makanya kalo ditanya tokoh favorit aku gak pernah jawab Harry, tokoh2 lainnya masih banyak yang lebih "membumi" :P

    ReplyDelete