January 13, 2013

Thidwick, si Rusa Berhati Baik


Thidwick the Big-Hearted Moose by Dr. Seuss
My rating: 4 of 5 stars

Di sebuah danau bernama Winna Bango di utara, hiduplah sekawanan rusa besar (yang dikenal dengan nama moose) yang sedang asyik mengunyah moose-moss. Di antara kawanan rusa itu, ada seekor yang bernama Thidwick. Ia adalah rusa yang memiliki hati paling baik dari semuanya.

Suatu hari, ada seekor serangga bernama Bingle Bug yang meminta kepada Thidwick, agar ia diizinkan untuk bertengger di tanduknya, karena ia sangat lelah. Thidwick yang baik hati mengizinkannya. Serangga itu pun bahagia. Lalu, seekor laba-laba bernama Tree Spider yang melihat Bingle Bug sedang bersantai di rumah barunya, meminta izin untuk turut tinggal disana. Si serangga dengan santainya mengajak si laba-laba untuk turut tinggal disana, karena tanduk Thidwick sangaatt besaarr...

Kemudian, datanglah Zinn-a-zu, seekor burung yang melihat serangga dan laba-laba sudah membuat sarang di tanduk Thidwick. Ia meminta izin untuk turut tinggal disana, dan hey! lagi-lagi si serangga menyebalkan itu mengizinkannya untuk tinggal. Benar-benar kurang ajar. Thidwick sempat keberatan, karena si burung membangun sarang dari rambutnya!! Tapi, ia tak sanggup mengusir mereka, karena ia terlalu baik hati.

Kebaikan hati Thidwick ternyata justru menyulitkannya, karena keesokan harinya, si burung menyebalkan itu memmbawa istrinya (yang baru dikawininya semalam) beserta paman sang istri untuk tinggal disana!! Si paman, Woodpecker, mulai mematuki tanduk Thidwick hingga membuatnya terguncang-guncang! Sampai-sammpai teman-teman Thidwick menyuruhnya untuk mengusir binatang-binatang pengganggu itu dari tanduknya. Namun, Thidwick yang baik hati tak sampai hati mengusir mereka..., hingga akhirnya ia ditinggalkan oleh kawanannya dan harus hidup sendirian di tengah-tengah keramaian... :'(

Dan.. Tentu saja penderitaan Thidwick belum berhenti sampai di situ. Si tupai dan keluarganya ikut tinggal di tanduk Thidwick, di lubang-lubang yang telah dibuat oleh Woodpecker. Bahkan, hingga seekor kura-kura pun turut tinggal disana!!

Thidwick yang malang...

Apa yang kau lakukan jika jadi dirinya? Ia ingin sekali mengusir mereka semua, dan pergi menyusul kawanannya. Apalagi, musim dingin segera datang, dan makanan di danau itu akan segera habis. Ia harus segera pergi atau ia akan mati kelaparan... Sendirian pula...

Thidwick pun berniat untuk melintasi danau Winna Bango itu. Namun, tebak apa yang terjadi? Para binatang yang tinggal di tanduk Thidwick menolak untuk pindah dari tempat itu!!! Mereka tak ingin tinggal jauh-jauh dari danau. Lalu, diadakanlah pemungutan suara yang sudah pasti Thidwick kalah.... Benar-benar nggak adil!! ヽ(≧Д≦)ノ

Kemalangan Thidwick masih berlanjut. Ia dikejar oleh pemburu! Karena ditinggalkan oleh kawanannya, ditambah beban bawaan yang berat (dengan binatang-binatang tak tahu diri di tanduknya, belum ditambah beruang, lebah, tikus, dan entah binatang apa lagi yang menyusul kemudian), Thidwick tak sanggup berlari cepat... Para pemburu telah mengepungnya dari berbagai penjuru...

Then finally the had him!

Because of those pests, he had run out of luck,
Because of those guests on his horns, he was stuck!

He gasped! He felt faint! And the whole world grew fuzzy!
Thidwick was finishhed, completely...


Bagaimana nasib Thidwick selanjutnya? Sanggupkah ia lolos dari kejaran para pemburu itu? Ataukah kepala serta tanduknya akan berakhir di dinding sebagai pajangan?

Endingnya tidak terduga dan bikin saya senang. Meskipun tak semuanya berakhir secara bahagia, tapi saya puas dengan endingnya. Memang ya, kebaikan itu sering disalahgunakan. Saya sebenarnya sempat sebal dengan sikap Thidwick yang terlalu nerimo itu. Nggak tegas. Tapi sepertinya, saya pun seringkali bersikap seperti itu. Thidwick ada juga di dalam diri saya, yang merasa segan ataupun sungkan melakukan sesuatu yang sebenarnya adalah hak saya. Hanya karena mereka lebih ngotot, bukan berarti mereka benar. Itu jugalah yang dialami Thidwick.

Buku Dr. Seuss yang satu ini benar-benar membuat saya puas. Saya rasa, anak-anak dari usia balita hingga SD dapat menikmati cerita ini. Pesan moralnya cukup kuat dan patut diajarkan kepada anak-anak agar mereka tidak bersikap seenaknya, menghargai orang lain, dan tahu apa hak serta kewajiban mereka...


Review ini saya ikutkan dalam event Fun Month 1, di Bacaan Bzee dalam kategori klasik.


View all my reviews

3 comments:

  1. Mmm Nice....good for children :)

    ReplyDelete
  2. @bzee: Iya, si Thidwick ini sabar banget... :')

    ReplyDelete

January 13, 2013

Thidwick, si Rusa Berhati Baik


Thidwick the Big-Hearted Moose by Dr. Seuss
My rating: 4 of 5 stars

Di sebuah danau bernama Winna Bango di utara, hiduplah sekawanan rusa besar (yang dikenal dengan nama moose) yang sedang asyik mengunyah moose-moss. Di antara kawanan rusa itu, ada seekor yang bernama Thidwick. Ia adalah rusa yang memiliki hati paling baik dari semuanya.

Suatu hari, ada seekor serangga bernama Bingle Bug yang meminta kepada Thidwick, agar ia diizinkan untuk bertengger di tanduknya, karena ia sangat lelah. Thidwick yang baik hati mengizinkannya. Serangga itu pun bahagia. Lalu, seekor laba-laba bernama Tree Spider yang melihat Bingle Bug sedang bersantai di rumah barunya, meminta izin untuk turut tinggal disana. Si serangga dengan santainya mengajak si laba-laba untuk turut tinggal disana, karena tanduk Thidwick sangaatt besaarr...

Kemudian, datanglah Zinn-a-zu, seekor burung yang melihat serangga dan laba-laba sudah membuat sarang di tanduk Thidwick. Ia meminta izin untuk turut tinggal disana, dan hey! lagi-lagi si serangga menyebalkan itu mengizinkannya untuk tinggal. Benar-benar kurang ajar. Thidwick sempat keberatan, karena si burung membangun sarang dari rambutnya!! Tapi, ia tak sanggup mengusir mereka, karena ia terlalu baik hati.

Kebaikan hati Thidwick ternyata justru menyulitkannya, karena keesokan harinya, si burung menyebalkan itu memmbawa istrinya (yang baru dikawininya semalam) beserta paman sang istri untuk tinggal disana!! Si paman, Woodpecker, mulai mematuki tanduk Thidwick hingga membuatnya terguncang-guncang! Sampai-sammpai teman-teman Thidwick menyuruhnya untuk mengusir binatang-binatang pengganggu itu dari tanduknya. Namun, Thidwick yang baik hati tak sampai hati mengusir mereka..., hingga akhirnya ia ditinggalkan oleh kawanannya dan harus hidup sendirian di tengah-tengah keramaian... :'(

Dan.. Tentu saja penderitaan Thidwick belum berhenti sampai di situ. Si tupai dan keluarganya ikut tinggal di tanduk Thidwick, di lubang-lubang yang telah dibuat oleh Woodpecker. Bahkan, hingga seekor kura-kura pun turut tinggal disana!!

Thidwick yang malang...

Apa yang kau lakukan jika jadi dirinya? Ia ingin sekali mengusir mereka semua, dan pergi menyusul kawanannya. Apalagi, musim dingin segera datang, dan makanan di danau itu akan segera habis. Ia harus segera pergi atau ia akan mati kelaparan... Sendirian pula...

Thidwick pun berniat untuk melintasi danau Winna Bango itu. Namun, tebak apa yang terjadi? Para binatang yang tinggal di tanduk Thidwick menolak untuk pindah dari tempat itu!!! Mereka tak ingin tinggal jauh-jauh dari danau. Lalu, diadakanlah pemungutan suara yang sudah pasti Thidwick kalah.... Benar-benar nggak adil!! ヽ(≧Д≦)ノ

Kemalangan Thidwick masih berlanjut. Ia dikejar oleh pemburu! Karena ditinggalkan oleh kawanannya, ditambah beban bawaan yang berat (dengan binatang-binatang tak tahu diri di tanduknya, belum ditambah beruang, lebah, tikus, dan entah binatang apa lagi yang menyusul kemudian), Thidwick tak sanggup berlari cepat... Para pemburu telah mengepungnya dari berbagai penjuru...

Then finally the had him!

Because of those pests, he had run out of luck,
Because of those guests on his horns, he was stuck!

He gasped! He felt faint! And the whole world grew fuzzy!
Thidwick was finishhed, completely...


Bagaimana nasib Thidwick selanjutnya? Sanggupkah ia lolos dari kejaran para pemburu itu? Ataukah kepala serta tanduknya akan berakhir di dinding sebagai pajangan?

Endingnya tidak terduga dan bikin saya senang. Meskipun tak semuanya berakhir secara bahagia, tapi saya puas dengan endingnya. Memang ya, kebaikan itu sering disalahgunakan. Saya sebenarnya sempat sebal dengan sikap Thidwick yang terlalu nerimo itu. Nggak tegas. Tapi sepertinya, saya pun seringkali bersikap seperti itu. Thidwick ada juga di dalam diri saya, yang merasa segan ataupun sungkan melakukan sesuatu yang sebenarnya adalah hak saya. Hanya karena mereka lebih ngotot, bukan berarti mereka benar. Itu jugalah yang dialami Thidwick.

Buku Dr. Seuss yang satu ini benar-benar membuat saya puas. Saya rasa, anak-anak dari usia balita hingga SD dapat menikmati cerita ini. Pesan moralnya cukup kuat dan patut diajarkan kepada anak-anak agar mereka tidak bersikap seenaknya, menghargai orang lain, dan tahu apa hak serta kewajiban mereka...


Review ini saya ikutkan dalam event Fun Month 1, di Bacaan Bzee dalam kategori klasik.


View all my reviews

3 comments:

  1. Mmm Nice....good for children :)

    ReplyDelete
  2. @bzee: Iya, si Thidwick ini sabar banget... :')

    ReplyDelete