January 12, 2013

Kitchen: Dalam Satu Waktu Hanya Ada Satu Pertemuan


Kitchen by Banana Yoshimoto
My rating: 4 of 5 stars

Orang Jepang memiliki peribahasa yang sangat saya suka: Ichigo ichie yang ditulis dengan kanji 「一期一会」. Jika diartikan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia, artinya adalah "dalam satu kali kesempatan, hanya ada satu kali pertemuan". Bisa juga diartikan sebagai "kesempatan yang hanya datang sekali seumur hidup" ataupun "pertemuan yang hanya sekali seumur hidup".

Pertemuan. Kesempatan.

Berapa banyak pertemuan yang kita alami dalam sehari? Bertemu dengan orang baru, situasi baru, tempat baru, dan lain sebagainya. Setiap pertemuan biasanya meninggalkan kesan yang berbeda-beda. Ada yang membuat bahagia, membuat jengkel, membuat sedih, terharu, dsb. Namun, persamaan dari pertemuan itu terkadang hanya satu: ia tak akan terjadi lagi untuk kedua kalinya.

Untuk itu, kita harus memanfaatkan setiap pertemuan, setiap kesempatan yang dianugerahkan kepada kita, dengan semaksimal mungkin, agar kita tak perlu menyesal di kemudian hari nanti.

Begitupun bagi Mikage Sakurai. Pertemuannya dengan keluarga Tanabe adalah satu kesempatan penting dalam seumur hidupnya. Keluarga itu tidak hanya mampu mengatasi kesedihannya, karena ditinggalkan oleh neneknya, keluarga satu-satunya, tetapi juga mengubah kehidupannya secara keseluruhan. Di rumah keluarga Tanabe inilah Mikage menjadi 'anak asuh' Eriko dan seperti seorang 'kakak' bagi Yuichi.

Eriko adalah sosok yang 'wanita' yang menyenangkan. Ia adalah sosok yang dulu dikenal sebagai ayah oleh Yuichi, lalu kini dikenal sebagai seorang ibu. Bagi Yuichi, ia adalah ayah sekaligus ibu. Ataupun ibu sekaligus ayah. Ia membesarkan Yuichi seorang diri setelah istrinya meninggal. Ya. Eriko adalah seorang transseksual, atau dalam bahasa Jepang populernya dikenal dengan nama "Nyuuhaafu" sebuah adaptasi dari bahasa Inggris (tebak apa hayo?), "New Half".

Eriko digambarkan sebagai seorang wanita yang menarik. Memiliki kecantikan tidak hanya dari luar tetapi juga dari dalam. Ia juga seorang pribadi yang hangat, dan menerima Mikage dengan tangan terbuka di rumah mereka. Ia menganggap Mikage sebagai putrinya sendiri dan sangat menyayangi gadis itu.

Sementara itu, Yuichi sang putra, adalah orang yang berjasa membawa Mikage ke rumah mereka. Mikage, yang kini benar-benar sebatang kara di dunia, menemukan tempat bernaung kembali setelah ditinggal mati oleh nenek yang membesarkannya, setelah kedua orang tuanya meninggal dunia.

Yuichi ini orangnya pendiam dan selalu menyembunyikan perasaannya. Yah, tipikal cowok Jepang yang cool dan sulit untuk mengungkapkan perasaannya lah. Tapi ia memiliki poin lebih, yaitu ia adalah seorang lelaki baik hati yang sangat menghormati wanita.

Sekarang, mari kita berkenalan dengan Mikage. Ia adalah seorang gadis yatim piatu yang tinggal berdua dengan neneknya. Orang tua Mikage sudah meninggal ketika ia masih kecil. Jadi, neneknya adalah satu-satunya sosok orang tua, keluarga, dan orang terdekat bagi Mikage. Mikage ini gadis yang unik. Ia mendapatkan ketentraman jika berada di dapur. Bahkan, ketika neneknya meninggal, dapur adalah satu-satunya tempat dimana Mikage bisa tertidur.

Ketika pindah ke keluarga Tanabe, Mikage pun langsung jatuh cinta pada dapur keluarga ini. Memasak untuk keluarga itu menjadi salah satu terapi bagi Mikage untuk melupakan kesedihannya, karena kematian neneknya. Tentu saja selain sikap hangat keluarga itu yang membuat Mikage merasa betah dan diinginkan di rumah itu.

Meskipun masa-masa di rumah keluarga Tanabe, di musim panas itu, sangat menyenangkan dan menimbulkan kesan mendalam bagi Mikage, pada akhirnya saat-saat itupun harus berakhir juga. Bagaimanapun juga, Mikage tak mungkin selamanya tinggal di sana. Setelah musim panas itu berakhir, Mikage pun keluar dari rumah keluarga Tanabe, hingga ia mendengar kabar itu dari Yuichi.

Eriko meninggal.

Ia dibunuh oleh salah seorang pelanggan klub (oh iya, Eriko ini punya klub gay) yang sakit hati karena tahu Eriko ini seorang lelaki. Yuichi, yang begitu shock dengan kematian orang terpenting dalam hidupnya ini, tak sanggup mengabarkan kematian ibu (ayah)nya itu kepada Mikage hingga beberapa bulan setelahnya (sepertinya sih musim gugur, meskipun ada kebiasaan bagi orang Jepang untuk nggak menyebutkan waktu secara spesifik, cukup pakai kata-kata tertentu yang sudah lebih dari cukup untuk buat orang Jepang tahu musim apa yang dimaksud penulis). Berita dari Yuichi itu bagai petir di siang bolong bagi Mikage. Ia pun sangat kehilangan Eriko, karena baginya, Eriko sudah menyerupai sosok seorang ibu, yang tak pernah dimilikinya.

Kematian Eriko melukai hati keduanya, membuat mereka terhempas ke dasar jurang kenestapaan. Tapi, kematian itu pula yang mempertemukan mereka kembali.

From the bottom of my heart, I wanted to give up; I wanted to give up on living. There was no denying that tomorrow would come, and the day after tomorrow, and so next week, too. I never thought it would be this hard, but I would go on living in the midst of a gloomy depression, and that made me feel sick to the depths of my soul. In spite of the tempest raging within me, I walked the night path calmly.


Kata-kata di atas adalah curahan hati Mikage, setelah tahu kalau Eriko meninggal. Bagi Mikage, kematian Eriko adalah tamparan keras kedua dalam hidupnya, setelah neneknya meninggal. Meskipun ia merasakan kehilangan yang teramat sangat, ia sadar bahwa yang hancur lebur sekarang ini adalah Yuichi. Yuichi-lah yang paling kehilangan Eriko. Ialah yang harus bergulat dengan kenyataan bahwa orang terpenting dalam hidupnya tidak ada lagi di sampingnya.

Lalu, sanggupkah Mikage menyelamatkan Yuichi dari depresi berat yang dialaminya? Sanggupkah mereka berdua mengatasi kehilangan ini? Ataukah Mikage akan kehilangan satu orang penting lagi dalam hidupnya?

Semuanya akan terjawab kalau Anda membaca novel pendek dari Banana Yoshimoto, yang dilengkapi dengan kutipan-kutipan keren ini (yang sebagian besar keluar dari mulut Eriko yang bijaksana itu)....

"Life can be so hard," I said, moved.
"Yes. But if a person hasn't ever experienced true despair, she grows old never knowing how to evaluate where she is in life; never understanding what joy really is. I'm grateful for it."


"....If I try to say what it is now, it's very simple: I realized that the world did not exist for my benefit. It followed that the ratio of pleasant and unpleasant things around me would not change. It wasn't up to me. It was clear that the best thing to do was to adopt a sort of muddled cheerfulness. So I became a woman, and here I am."

Selain kisah Mikage dan Yuichi dalam "Kitchen", Banana Yoshimoto juga menampilkan kisah kedua, "Moonlight Shadow" yang juga masih bertemakan kehilangan seseorang yang dicintai, juga tentang pertemuan si tokoh utama dengan seseorang yang mengubah kehidupannya.

Berbeda dengan "Kitchen", "Moonlight Shadow" adalah cerita yang penuh dengan perasaan cinta yang meletup-letup. Hhmm.. Maksudnya, perasaan si tokoh utama, Satsuki, di cerita kedua ini disampaikan dengan lebih gamblang dan tidak implisit. Misalnya saja tentang perasaan cinta Satsuki pada Hitoshi, pacarnya yang meninggal dunia. Pun perasaan adik Hitoshi yang kehilangan kakak dan pacarnya (pacar Hitoshi, Yumiko, meninggal juga bareng sang kakak), disampaikan secara jelas di novel ini. Berbeda dengan Yuichi yang berusaha untuk tampak tegar dan tidak menampakkan kehilangannya, Hitoshi tanpa segan-segan mengenakan seragam Yumiko (tentu aja rok dong ya..) dan mengakui ke Satsuki bahwa ia menangis setelah memimpikan Yumiko. Satu hal yang sangat jarang terjadi bagi seorang lelaki Jepang tentunya.

Meskipun banyak yang bilang cerita kedua ini tidak sebagus yang pertama, tapi saya menikmatinya. Saya menikmati kedua kisah ini yang dituturkan dengan sangat apik oleh Banana Yoshimoto. Tapi saya menikmati versi bahasa Inggrisnya, bukan Indonesianya. Soalnya, jujur saja saya nggak bisa menikmati versi bahasa Indonesianya, karena penerjemahan yang kurang baik dan kurang lancar menurut saya.

Jadi, sekitar beberapa tahun yang lalu saya menemukan buku versi bahasa Indonesia novel ini di salah satu toko buku, dengan harga yang sangat miring. Tanpa ragu, saya langsung ambil dan bawa ke kasir. Tadinya niat mau bawa bukunya Murakami Haruki juga, tapi setelah melihat penerjemahnya dan dugaan kuat bahwa buku itu bukan diterjemahkan langsung dari bahasa Jepang (bukan Norwegian Wood yang jelas), saya pun mengurungkan niat saya untuk bawa buku yang satu lagi itu ke kasir juga, meskipun harganya sangat miring.

Jujur saja, saya nggak bisa menikmati versi bahasa Indonesianya. Buat saya, yang mengerti bahasa Jepang, percakapan-percakapan yang diterjemahkan dalam buku itu terasa terlalu harfiah dan tak lancar untuk dibaca. Entah kenapa, saya punya dugaan kuat kalau novel ini diterjemahkan dari bahasa Inggris (sama kayak novel Murakami yang nggak jadi saya beli), karena kalau nggak salah di bagian copyright buku, tertulis seperti itu (sayang buku saya udah saya hibahkan, jadi nggak bisa ngecek lagi deh). Mungkin, orang lain tidak merasakan bedanya, tapi saya sangat merasakan ketidaknyamanan saat membaca versi Indonesianya. Entah kenapa, saya nggak merasakan kesan Jepang di dalam novel terjemahannya. Semuanya terasa datar dan saya nggak bisa menangkap maknanya. Bahkan hingga kini, saya nggak bisa ingat cerita apa yang ada di buku versi Indonesia itu, hingga saya benar-benar membaca "Kitchen" dalam nuansa yang baru, setelah saya menemukan versi bahasa Inggrisnya.

"Inilah yang aku cari," seru saya dalam hati setelah menyelesaikan buku ini. Memang seperti inilah yang saya harapkan dari buku yang sudah begitu dikenal banyak orang, dan menerima banyak penghargaan ini. Dan, saya pun menamatkan buku ini dengan perasaan puas, sambil berpikir, "Sekalian aja apa abis ini baca versi Jepangnya juga? Biar lengkap." :DD

View all my reviews

3 comments:

  1. Aw, jadi itu kenapa banyak buku terjemahan jepang yg terasa datar.. = karena diterjemahan dari bhs inggris, bukan bahasa aslinya.

    I see..

    Anyway, aku uda lama juga pengen baca buku ini tapi kayanya nyari yg bhs inggris aja ya biar lebih dapet pesan dan nuansanya

    ReplyDelete
  2. Iya, kalau menurutku sih banyak yang dari bahasa Inggris terjemahannya. Makanya aku pilih2 banget kalo mau beli buku terjemahan boso jepun.

    Tadinya aku mau nawarin ebooknya, tapi kayaknya dirimu sedang puasa nerima buku dari orang2 ya, ky? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beli buku ini yang diterjemahin ke Bahasa Indonesia dimana?

      Delete

January 12, 2013

Kitchen: Dalam Satu Waktu Hanya Ada Satu Pertemuan


Kitchen by Banana Yoshimoto
My rating: 4 of 5 stars

Orang Jepang memiliki peribahasa yang sangat saya suka: Ichigo ichie yang ditulis dengan kanji 「一期一会」. Jika diartikan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia, artinya adalah "dalam satu kali kesempatan, hanya ada satu kali pertemuan". Bisa juga diartikan sebagai "kesempatan yang hanya datang sekali seumur hidup" ataupun "pertemuan yang hanya sekali seumur hidup".

Pertemuan. Kesempatan.

Berapa banyak pertemuan yang kita alami dalam sehari? Bertemu dengan orang baru, situasi baru, tempat baru, dan lain sebagainya. Setiap pertemuan biasanya meninggalkan kesan yang berbeda-beda. Ada yang membuat bahagia, membuat jengkel, membuat sedih, terharu, dsb. Namun, persamaan dari pertemuan itu terkadang hanya satu: ia tak akan terjadi lagi untuk kedua kalinya.

Untuk itu, kita harus memanfaatkan setiap pertemuan, setiap kesempatan yang dianugerahkan kepada kita, dengan semaksimal mungkin, agar kita tak perlu menyesal di kemudian hari nanti.

Begitupun bagi Mikage Sakurai. Pertemuannya dengan keluarga Tanabe adalah satu kesempatan penting dalam seumur hidupnya. Keluarga itu tidak hanya mampu mengatasi kesedihannya, karena ditinggalkan oleh neneknya, keluarga satu-satunya, tetapi juga mengubah kehidupannya secara keseluruhan. Di rumah keluarga Tanabe inilah Mikage menjadi 'anak asuh' Eriko dan seperti seorang 'kakak' bagi Yuichi.

Eriko adalah sosok yang 'wanita' yang menyenangkan. Ia adalah sosok yang dulu dikenal sebagai ayah oleh Yuichi, lalu kini dikenal sebagai seorang ibu. Bagi Yuichi, ia adalah ayah sekaligus ibu. Ataupun ibu sekaligus ayah. Ia membesarkan Yuichi seorang diri setelah istrinya meninggal. Ya. Eriko adalah seorang transseksual, atau dalam bahasa Jepang populernya dikenal dengan nama "Nyuuhaafu" sebuah adaptasi dari bahasa Inggris (tebak apa hayo?), "New Half".

Eriko digambarkan sebagai seorang wanita yang menarik. Memiliki kecantikan tidak hanya dari luar tetapi juga dari dalam. Ia juga seorang pribadi yang hangat, dan menerima Mikage dengan tangan terbuka di rumah mereka. Ia menganggap Mikage sebagai putrinya sendiri dan sangat menyayangi gadis itu.

Sementara itu, Yuichi sang putra, adalah orang yang berjasa membawa Mikage ke rumah mereka. Mikage, yang kini benar-benar sebatang kara di dunia, menemukan tempat bernaung kembali setelah ditinggal mati oleh nenek yang membesarkannya, setelah kedua orang tuanya meninggal dunia.

Yuichi ini orangnya pendiam dan selalu menyembunyikan perasaannya. Yah, tipikal cowok Jepang yang cool dan sulit untuk mengungkapkan perasaannya lah. Tapi ia memiliki poin lebih, yaitu ia adalah seorang lelaki baik hati yang sangat menghormati wanita.

Sekarang, mari kita berkenalan dengan Mikage. Ia adalah seorang gadis yatim piatu yang tinggal berdua dengan neneknya. Orang tua Mikage sudah meninggal ketika ia masih kecil. Jadi, neneknya adalah satu-satunya sosok orang tua, keluarga, dan orang terdekat bagi Mikage. Mikage ini gadis yang unik. Ia mendapatkan ketentraman jika berada di dapur. Bahkan, ketika neneknya meninggal, dapur adalah satu-satunya tempat dimana Mikage bisa tertidur.

Ketika pindah ke keluarga Tanabe, Mikage pun langsung jatuh cinta pada dapur keluarga ini. Memasak untuk keluarga itu menjadi salah satu terapi bagi Mikage untuk melupakan kesedihannya, karena kematian neneknya. Tentu saja selain sikap hangat keluarga itu yang membuat Mikage merasa betah dan diinginkan di rumah itu.

Meskipun masa-masa di rumah keluarga Tanabe, di musim panas itu, sangat menyenangkan dan menimbulkan kesan mendalam bagi Mikage, pada akhirnya saat-saat itupun harus berakhir juga. Bagaimanapun juga, Mikage tak mungkin selamanya tinggal di sana. Setelah musim panas itu berakhir, Mikage pun keluar dari rumah keluarga Tanabe, hingga ia mendengar kabar itu dari Yuichi.

Eriko meninggal.

Ia dibunuh oleh salah seorang pelanggan klub (oh iya, Eriko ini punya klub gay) yang sakit hati karena tahu Eriko ini seorang lelaki. Yuichi, yang begitu shock dengan kematian orang terpenting dalam hidupnya ini, tak sanggup mengabarkan kematian ibu (ayah)nya itu kepada Mikage hingga beberapa bulan setelahnya (sepertinya sih musim gugur, meskipun ada kebiasaan bagi orang Jepang untuk nggak menyebutkan waktu secara spesifik, cukup pakai kata-kata tertentu yang sudah lebih dari cukup untuk buat orang Jepang tahu musim apa yang dimaksud penulis). Berita dari Yuichi itu bagai petir di siang bolong bagi Mikage. Ia pun sangat kehilangan Eriko, karena baginya, Eriko sudah menyerupai sosok seorang ibu, yang tak pernah dimilikinya.

Kematian Eriko melukai hati keduanya, membuat mereka terhempas ke dasar jurang kenestapaan. Tapi, kematian itu pula yang mempertemukan mereka kembali.

From the bottom of my heart, I wanted to give up; I wanted to give up on living. There was no denying that tomorrow would come, and the day after tomorrow, and so next week, too. I never thought it would be this hard, but I would go on living in the midst of a gloomy depression, and that made me feel sick to the depths of my soul. In spite of the tempest raging within me, I walked the night path calmly.


Kata-kata di atas adalah curahan hati Mikage, setelah tahu kalau Eriko meninggal. Bagi Mikage, kematian Eriko adalah tamparan keras kedua dalam hidupnya, setelah neneknya meninggal. Meskipun ia merasakan kehilangan yang teramat sangat, ia sadar bahwa yang hancur lebur sekarang ini adalah Yuichi. Yuichi-lah yang paling kehilangan Eriko. Ialah yang harus bergulat dengan kenyataan bahwa orang terpenting dalam hidupnya tidak ada lagi di sampingnya.

Lalu, sanggupkah Mikage menyelamatkan Yuichi dari depresi berat yang dialaminya? Sanggupkah mereka berdua mengatasi kehilangan ini? Ataukah Mikage akan kehilangan satu orang penting lagi dalam hidupnya?

Semuanya akan terjawab kalau Anda membaca novel pendek dari Banana Yoshimoto, yang dilengkapi dengan kutipan-kutipan keren ini (yang sebagian besar keluar dari mulut Eriko yang bijaksana itu)....

"Life can be so hard," I said, moved.
"Yes. But if a person hasn't ever experienced true despair, she grows old never knowing how to evaluate where she is in life; never understanding what joy really is. I'm grateful for it."


"....If I try to say what it is now, it's very simple: I realized that the world did not exist for my benefit. It followed that the ratio of pleasant and unpleasant things around me would not change. It wasn't up to me. It was clear that the best thing to do was to adopt a sort of muddled cheerfulness. So I became a woman, and here I am."

Selain kisah Mikage dan Yuichi dalam "Kitchen", Banana Yoshimoto juga menampilkan kisah kedua, "Moonlight Shadow" yang juga masih bertemakan kehilangan seseorang yang dicintai, juga tentang pertemuan si tokoh utama dengan seseorang yang mengubah kehidupannya.

Berbeda dengan "Kitchen", "Moonlight Shadow" adalah cerita yang penuh dengan perasaan cinta yang meletup-letup. Hhmm.. Maksudnya, perasaan si tokoh utama, Satsuki, di cerita kedua ini disampaikan dengan lebih gamblang dan tidak implisit. Misalnya saja tentang perasaan cinta Satsuki pada Hitoshi, pacarnya yang meninggal dunia. Pun perasaan adik Hitoshi yang kehilangan kakak dan pacarnya (pacar Hitoshi, Yumiko, meninggal juga bareng sang kakak), disampaikan secara jelas di novel ini. Berbeda dengan Yuichi yang berusaha untuk tampak tegar dan tidak menampakkan kehilangannya, Hitoshi tanpa segan-segan mengenakan seragam Yumiko (tentu aja rok dong ya..) dan mengakui ke Satsuki bahwa ia menangis setelah memimpikan Yumiko. Satu hal yang sangat jarang terjadi bagi seorang lelaki Jepang tentunya.

Meskipun banyak yang bilang cerita kedua ini tidak sebagus yang pertama, tapi saya menikmatinya. Saya menikmati kedua kisah ini yang dituturkan dengan sangat apik oleh Banana Yoshimoto. Tapi saya menikmati versi bahasa Inggrisnya, bukan Indonesianya. Soalnya, jujur saja saya nggak bisa menikmati versi bahasa Indonesianya, karena penerjemahan yang kurang baik dan kurang lancar menurut saya.

Jadi, sekitar beberapa tahun yang lalu saya menemukan buku versi bahasa Indonesia novel ini di salah satu toko buku, dengan harga yang sangat miring. Tanpa ragu, saya langsung ambil dan bawa ke kasir. Tadinya niat mau bawa bukunya Murakami Haruki juga, tapi setelah melihat penerjemahnya dan dugaan kuat bahwa buku itu bukan diterjemahkan langsung dari bahasa Jepang (bukan Norwegian Wood yang jelas), saya pun mengurungkan niat saya untuk bawa buku yang satu lagi itu ke kasir juga, meskipun harganya sangat miring.

Jujur saja, saya nggak bisa menikmati versi bahasa Indonesianya. Buat saya, yang mengerti bahasa Jepang, percakapan-percakapan yang diterjemahkan dalam buku itu terasa terlalu harfiah dan tak lancar untuk dibaca. Entah kenapa, saya punya dugaan kuat kalau novel ini diterjemahkan dari bahasa Inggris (sama kayak novel Murakami yang nggak jadi saya beli), karena kalau nggak salah di bagian copyright buku, tertulis seperti itu (sayang buku saya udah saya hibahkan, jadi nggak bisa ngecek lagi deh). Mungkin, orang lain tidak merasakan bedanya, tapi saya sangat merasakan ketidaknyamanan saat membaca versi Indonesianya. Entah kenapa, saya nggak merasakan kesan Jepang di dalam novel terjemahannya. Semuanya terasa datar dan saya nggak bisa menangkap maknanya. Bahkan hingga kini, saya nggak bisa ingat cerita apa yang ada di buku versi Indonesia itu, hingga saya benar-benar membaca "Kitchen" dalam nuansa yang baru, setelah saya menemukan versi bahasa Inggrisnya.

"Inilah yang aku cari," seru saya dalam hati setelah menyelesaikan buku ini. Memang seperti inilah yang saya harapkan dari buku yang sudah begitu dikenal banyak orang, dan menerima banyak penghargaan ini. Dan, saya pun menamatkan buku ini dengan perasaan puas, sambil berpikir, "Sekalian aja apa abis ini baca versi Jepangnya juga? Biar lengkap." :DD

View all my reviews

3 comments:

  1. Aw, jadi itu kenapa banyak buku terjemahan jepang yg terasa datar.. = karena diterjemahan dari bhs inggris, bukan bahasa aslinya.

    I see..

    Anyway, aku uda lama juga pengen baca buku ini tapi kayanya nyari yg bhs inggris aja ya biar lebih dapet pesan dan nuansanya

    ReplyDelete
  2. Iya, kalau menurutku sih banyak yang dari bahasa Inggris terjemahannya. Makanya aku pilih2 banget kalo mau beli buku terjemahan boso jepun.

    Tadinya aku mau nawarin ebooknya, tapi kayaknya dirimu sedang puasa nerima buku dari orang2 ya, ky? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beli buku ini yang diterjemahin ke Bahasa Indonesia dimana?

      Delete