January 14, 2013

Mark Spark in the Dark


Mark Spark In The Dark by Jacqueline Wilson
My rating: 4 of 5 stars

Akhirnya buku JW yang satu ini nggak ada cerita tentang anak yang ibunya meninggal terus ayahnya punya pacar baru, atau pengen punya istri baru, atau kenalan sama cewek yang akan jadi pengganti istrinya (soalnya, tiga buku JW yang saya baca, temanya begitu semua sih). Ilustrasinya pun berbeda, karena yang menggambar bukan Nick Sharrat, tetapi Bethan Matthews. Hhmm.. Kalo saya sih sepertinya lebih suka gambarnya Nick Sharrat, soalnya lebih ada ciri khasnya, dibanding gambarnya Bethan yang menurut saya (maaf) agak mainstream gambarnya.

Dari segi cerita, kisah Mark Spark ini sangat sederhana dan tidak menyajikan konflik yang terlalu berat. Buku ini berkisah tentang seorang anak lelaki bernama Mark, yang dibagi dalam dua bagian.

Di bagian pertama, pembaca diajak berkenalan dengan sosok Mark, anak lelaki yang ingin selalu bicara dengan suara keras, karena ia memiliki Great Gran (nenek buyutnya berarti ya?) yang kini sudah tidak bisa melihat, dan agak tuli. Jadi, Mark harus bicara dengan suara keras kepada neneknya itu. Setiap pulang sekolah, Mark pasti pergi ke rumah Great Gran, karena kedua orang tua Mark bekerja. Selain suka ngomong dengan suara keras. Mark ini juga anak yang aktif dan cerewet, sampai-sampai gurunya harus menyuruh Mark diam, karena dia kebanyakan bicara. Hahaa

Disini diceritakan kalau Mark ingin sekali punya anjing, tapi itu nggak mungkin karena nggak ada yang bisa merawat anjing itu di rumahnya. Soalnya, kedua orang tua Mark kan bekerja. Eh tapi, ternyata sekolah Mark akan menyewa seekor anjing khusus untuk membantu orang tuna netra! Mark pun turut berusaha keras untuk mengumpulkan uang dengan anak-anak sekelasnya, agar bisa mendapatkan anjing itu. Meskipun sebenarnya belum tentu juga sih anjing itu akan diberikan kepada nenek Mark, karena neneknya sudah sangattt tua. Tapi, usaha dan kesungguhan hati Mark disini cukup membuat saya terharu. Apalagi, terlihat kebaikan hati Mark disini, yang ingin membuat semua orang bahagia.

Misalnya, ketika Mark bingung akan menjual apa untuk memperoleh dana, nenek Mark menawarkan diri untuk membuat kaus kaki rajutan. Lho, tapi nenek Mark kan buta? Iya. Oleh karena itu, kaus kakinya warnanya beda-beda. Besarnya juga. Tapi Mark tetap bilang ke neneknya, kalau itu kaus kaki yang bagus... :')

Terus, ketika kaus kaki itu dijual, ternyata nggak ada yang mau beli. Jadi, Mark merelakan uang jajannya untuk membeli kaus kaki neneknya itu, sehingga ia nggak bisa beli cokelat. Dan ternyata, bukan hanya dagangan Mark yang nggak laku. Dagangan Louise, sahabat Mark, juga nggak laku. Akhirnya, Mark menggunakan uang jajan terakhirnya untuk membeli dagangan Louise, dan menghadiahkannya untuk neneknya! :') What a generous, kind hearted boy he is...

Sementara itu, kisah kedua bercerita tentang ketakutan terbesar Mark. Meskipun Mark ini orang yang dikenal paling pemberani di sekolah, ternyata Mark punya sebuah rahasia kecil. Dia takuuutt banget sama gelap. Kalau tidur, lampu kecil di kamarnya tetap dibiarkan menyala. Ibu Mark juga membiarkan lorong tetap terang, kalau-kalau Mark pengen pipis malam-malam.

Mungkin masalahnya terdengar sepele, tapi ketakutan Mark itu bikin dia nggak bisa berkemah bersama sahabat-sahabatnya! Jadi, di hari ulang tahunnya, Louise berencana untuk membuat acara berkemah di halaman rumahnya. Kalo kemah kan berarti di luar ruangan. Kalo di luar ruangan, berarti gelap dong... Kalo gelap, berarti Mark nggak bisa ikut dong.. Soalnya, kalo Louise dan Jason tahu Mark takut gelap, dia bakal diketawain sama mereka dong? Padahal Mark nggak takut sama cacing besar yang kotor dan menjijikan, tapi masa takut sama gelap sih? Terus, gimana doongg??

Jawabannya, ada di bukunya.. :)

Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, kisah di buku JW yang ini sederhana baik dari alur maupun konfliknya. Konflik yang dialami Mark adalah konflik yang biasa ada di anak seumuran dia. Bacaan yang benar-benar ringan dengan tema yang biasa. Tapi saya suka, karena tergambar jelas kepolosan dan kebaikan hati khas anak-anak di cerita ini. Jadi, menurut saya cerita ini cocok untuk dibaca oleh anak-anak usia berapapun, karena kisahnya yang sederhana dan dekat dengan kehidupan anak-anak, serta banyaknya pesan yang baik untuk diketahui anak-anak.

4 bintang saya berikan untuk buku Jacqueline Wilson yang satu ini, setelah saya cukup dibuat kecewa dengan buku JW yang saya baca sebelum ini... :)

Oh iya, review ini juga masuk ke dalam event FYE, meskipun nggak masuk kriteria Fun Months 1.



View all my reviews

4 comments:

  1. Wah mba, lagi mood ngereview yaa? Dalam 2 hari uda berapa review yg di update!!

    ReplyDelete
  2. Hehehe.. Soalnya buku anak-anak Ky... Dan nggak terlalu tebel juga. Jadi gampang deh review-nya >v< #sombong

    ReplyDelete
  3. Bagus ya kisahnya Mark ini :) Aku belum pernah baca JW, hehe

    ReplyDelete
  4. Aku sih suka Bzee.. Soalnya kisahnya sederhana banget :)

    ReplyDelete

January 14, 2013

Mark Spark in the Dark


Mark Spark In The Dark by Jacqueline Wilson
My rating: 4 of 5 stars

Akhirnya buku JW yang satu ini nggak ada cerita tentang anak yang ibunya meninggal terus ayahnya punya pacar baru, atau pengen punya istri baru, atau kenalan sama cewek yang akan jadi pengganti istrinya (soalnya, tiga buku JW yang saya baca, temanya begitu semua sih). Ilustrasinya pun berbeda, karena yang menggambar bukan Nick Sharrat, tetapi Bethan Matthews. Hhmm.. Kalo saya sih sepertinya lebih suka gambarnya Nick Sharrat, soalnya lebih ada ciri khasnya, dibanding gambarnya Bethan yang menurut saya (maaf) agak mainstream gambarnya.

Dari segi cerita, kisah Mark Spark ini sangat sederhana dan tidak menyajikan konflik yang terlalu berat. Buku ini berkisah tentang seorang anak lelaki bernama Mark, yang dibagi dalam dua bagian.

Di bagian pertama, pembaca diajak berkenalan dengan sosok Mark, anak lelaki yang ingin selalu bicara dengan suara keras, karena ia memiliki Great Gran (nenek buyutnya berarti ya?) yang kini sudah tidak bisa melihat, dan agak tuli. Jadi, Mark harus bicara dengan suara keras kepada neneknya itu. Setiap pulang sekolah, Mark pasti pergi ke rumah Great Gran, karena kedua orang tua Mark bekerja. Selain suka ngomong dengan suara keras. Mark ini juga anak yang aktif dan cerewet, sampai-sampai gurunya harus menyuruh Mark diam, karena dia kebanyakan bicara. Hahaa

Disini diceritakan kalau Mark ingin sekali punya anjing, tapi itu nggak mungkin karena nggak ada yang bisa merawat anjing itu di rumahnya. Soalnya, kedua orang tua Mark kan bekerja. Eh tapi, ternyata sekolah Mark akan menyewa seekor anjing khusus untuk membantu orang tuna netra! Mark pun turut berusaha keras untuk mengumpulkan uang dengan anak-anak sekelasnya, agar bisa mendapatkan anjing itu. Meskipun sebenarnya belum tentu juga sih anjing itu akan diberikan kepada nenek Mark, karena neneknya sudah sangattt tua. Tapi, usaha dan kesungguhan hati Mark disini cukup membuat saya terharu. Apalagi, terlihat kebaikan hati Mark disini, yang ingin membuat semua orang bahagia.

Misalnya, ketika Mark bingung akan menjual apa untuk memperoleh dana, nenek Mark menawarkan diri untuk membuat kaus kaki rajutan. Lho, tapi nenek Mark kan buta? Iya. Oleh karena itu, kaus kakinya warnanya beda-beda. Besarnya juga. Tapi Mark tetap bilang ke neneknya, kalau itu kaus kaki yang bagus... :')

Terus, ketika kaus kaki itu dijual, ternyata nggak ada yang mau beli. Jadi, Mark merelakan uang jajannya untuk membeli kaus kaki neneknya itu, sehingga ia nggak bisa beli cokelat. Dan ternyata, bukan hanya dagangan Mark yang nggak laku. Dagangan Louise, sahabat Mark, juga nggak laku. Akhirnya, Mark menggunakan uang jajan terakhirnya untuk membeli dagangan Louise, dan menghadiahkannya untuk neneknya! :') What a generous, kind hearted boy he is...

Sementara itu, kisah kedua bercerita tentang ketakutan terbesar Mark. Meskipun Mark ini orang yang dikenal paling pemberani di sekolah, ternyata Mark punya sebuah rahasia kecil. Dia takuuutt banget sama gelap. Kalau tidur, lampu kecil di kamarnya tetap dibiarkan menyala. Ibu Mark juga membiarkan lorong tetap terang, kalau-kalau Mark pengen pipis malam-malam.

Mungkin masalahnya terdengar sepele, tapi ketakutan Mark itu bikin dia nggak bisa berkemah bersama sahabat-sahabatnya! Jadi, di hari ulang tahunnya, Louise berencana untuk membuat acara berkemah di halaman rumahnya. Kalo kemah kan berarti di luar ruangan. Kalo di luar ruangan, berarti gelap dong... Kalo gelap, berarti Mark nggak bisa ikut dong.. Soalnya, kalo Louise dan Jason tahu Mark takut gelap, dia bakal diketawain sama mereka dong? Padahal Mark nggak takut sama cacing besar yang kotor dan menjijikan, tapi masa takut sama gelap sih? Terus, gimana doongg??

Jawabannya, ada di bukunya.. :)

Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, kisah di buku JW yang ini sederhana baik dari alur maupun konfliknya. Konflik yang dialami Mark adalah konflik yang biasa ada di anak seumuran dia. Bacaan yang benar-benar ringan dengan tema yang biasa. Tapi saya suka, karena tergambar jelas kepolosan dan kebaikan hati khas anak-anak di cerita ini. Jadi, menurut saya cerita ini cocok untuk dibaca oleh anak-anak usia berapapun, karena kisahnya yang sederhana dan dekat dengan kehidupan anak-anak, serta banyaknya pesan yang baik untuk diketahui anak-anak.

4 bintang saya berikan untuk buku Jacqueline Wilson yang satu ini, setelah saya cukup dibuat kecewa dengan buku JW yang saya baca sebelum ini... :)

Oh iya, review ini juga masuk ke dalam event FYE, meskipun nggak masuk kriteria Fun Months 1.



View all my reviews

4 comments:

  1. Wah mba, lagi mood ngereview yaa? Dalam 2 hari uda berapa review yg di update!!

    ReplyDelete
  2. Hehehe.. Soalnya buku anak-anak Ky... Dan nggak terlalu tebel juga. Jadi gampang deh review-nya >v< #sombong

    ReplyDelete
  3. Bagus ya kisahnya Mark ini :) Aku belum pernah baca JW, hehe

    ReplyDelete
  4. Aku sih suka Bzee.. Soalnya kisahnya sederhana banget :)

    ReplyDelete