January 30, 2013

Danny dan Ayah Terbaik di Seluruh Dunia


Danny the Champion of the World by Roald Dahl
My rating: 4 of 5 stars

Danny adalah seorang anak laki-laki yang tidak punya ibu. Ibunya meninggal ketika Danny masih bayi. Danny hanya punya ayah, dan mereka berdua tinggal di sebuah karavan tua yang dulu digunakan oleh kaum gipsi. Meskipun nggak punya ibu dan hidup mereka pas-pasan, Danny nggak sekalipun merasa kekurangan. Kenapa? Karena ia memiliki ayah terhebat di seluruh dunia... (*^^*)

Ayah Danny adalah seorang montir. Ia punya sebuah bengkel kecil di dekat karavannya. Meskipun kecil, tapi ia adalah montir yang sangat hebat. Ia juga sangat bertanggung jawab dan sayang banget sama Danny. Sekalipun sibuk menghidupi keluarga kecilnya, ayah Danny nggak pernah mengeluh dan selalu memperhatikan putra semata wayangnya. Satu hal yang buat saya kagum, ayah Danny tak pernah absen mendongeng setiap malam untuk anak terkasihnya itu. Lovely! 。◕‿◕。

Tinggal hanya berdua dengan ayah yang seorang montir membuat Danny pun ahli mengutak-atik kendaraan. Satu hal (lagi) yang saya kagum dari ayahnya Danny, dia tampaknya begitu yakin dengan pendiriannya dan masa depan anaknya. Jadi, sebenarnya si Danny ini harusnya udah sekolah kalo umurnya sudah 5 tahun. Tapi si ayah berdiskusi dengan si anak (seakan si Danny udah 15 tahun dan bukan 5 tahun) dan bilang kalau Danny boleh sekolah kalau dia sudah berusia 7 tahun. Bukan... Ayahnya Danny bukannya gila dan nggak mementingkan pendidikan. Dia mau anaknya jadi pandai, tapi dia juga tahu kalau Danny mencintai pekerjaan di bengkel itu. Dan sejak usia sangat muda, ayah Danny sudah mengajarkan anaknya untuk menjadi ahli mesin terhebat di dunia.

Ada lagi yang bikin saya kagum sama ayahnya Danny (dari tadi nambah mulu daftarnya xp #gakapok), dia itu senang bikin hidup anaknya menjadi petualangan seru. Misalnya aja nih ya, dia bikinin anaknya sebuah 'mobil-mobilan' yang bisa dikendarai Danny! Lalu mereka main layangan berdua. Habis itu bikin balon udara sendiri. Aduuhh.. Bahagia banget si Danny punya ayah seperti itu... #mupeng

Walaupun tampak sempurna. Ayah Danny bukannya tanpa cela. Ia memiliki rahasia yang dalam dan kelaamm.. Ternyata. Ayahnya Danny. Adalah. Raksasa. Dia raksasa yang suka ambil mimpi dari anak-anak kecil! Sounds familiar? Wajar aja, soalnya raksasa ini pernah muncul di cerita opa Dahl lainnya. Itu lo, si BFG alias Big Friendly Giant a.k.a Raksasa Besar yang Baik.

Jadi, ayah Danny suka pergi malam-malam buat datang ke rumah-rumah yang ada anak kecilnya. Dia menangkap mimpi anak-anak. Mimpi indah dan mimpi buruk mereka. Ia lalu menghancurkan mimpi buruk, dan mengolah mimpi indah mereka menjadi mimpi yang menakjubkan. Fabulous!

Dan...

Ya, saya berbohong. Ayah Danny bukan raksasa dan dia nggak suka ngambil mimpi anak-anak... xp #ngumpetdibalikBFGasli

Tapi ayah Danny emang suka kelayapan malam-malam. Hhmm... Sebenarnya itu pertama kalinya ayah Danny keluar malam-malam, dan kebetulan Danny terbangun lalu tahu kalau ayahnya nggak ada. Padahal biasanya Danny nggak pernah terbangun malam-malam begitu. Mungkin memang meskipun matanya terlelap, tapi hatinya masih bisa merasakan kali ya... #tsaahh

Jadi, di malam itu, ketika ayah Danny tiba-tiba pergi ke luar rumah malam-malam, Danny jadi tahu rahasia terdalam ayahnya. Ayah Danny itu... Ternyata... Suka... Berburuu!!!

Bukan berburu biasa, tapi melakukan perburuan liar. Sangar. Gahar. #dikemplangsampeLondon Maksudnya, dia itu berburu hewan yang bukan miliknya. Hewan-hewan yang dia buru adalah ayam pegar atau burung pegar (sejenis ayam besar, yang rada-rada mirip kalkun) milik tuan tanah setempat, Mr. Hazell.

Mr. Hazell ini orang yang sangat menyebalkan. Dia pernah memperlakukan Danny dengan kasar ketika ingin mengisi bensin, yang bikin ayah Danny naik pitam dan mengusir si tua bangka itu. Esoknya, datanglah sekompi (lebaayy xp) petugas yang menanyakan kesanggupan ayah Danny merawat anak sekecil itu.

Buat saya, kisah perburuannya sih nggak terlalu menarik. Saya lebih suka dengan hubungan antara ayah dan anak ini, yang menurut saya "so sweetttt!!!" (*≧ω≦)ノ (langsung kena diabetes)

You see, the real reason I didn’t want anyone else to come back and play with me was because I had such a good time being alone with my father.


Terlihat sekali bagaimana Danny begitu mengagumi ayahnya. Sementara sang ayah, memuja putra lelakinya itu. Hubungan kasih sayang di antara mereka tampak begitu nyata, sehingga saya berpikir "Oh, Danny.. What a lucky boy you are..." Nggak semua orang beruntung punya ayah seperti ayahnya Danny. Bahkan opa Dahl sendiri kehilangan ayahnya di saat masih begitu muda.

Ah ya, saya juga suka sekali dengan tokoh-tokoh pendukung di kisah ini. Sejauh ini, tokoh-tokoh di dalam kisah inilah yang paling banyak orang-orang menyenangkannya, di luar tokoh utama Danny dan ayahnya. Misalnya saja si dokter tua yang sangat baik, lalu Sergeant Samways yang ngomongnya aneh (kata-kata yang ada huruf 'h', 'h'-nya justru ilang, tapi yang nggak ada 'h' justru ditambahin 'h', yang bikin saya lumayan bingung xD), kepala sekolahnya Danny, dll.

Ngomong-ngomong, kenapa saya mencatut-catut nama BFG, soalnya di cerita ini BFG memang muncul. Tokoh-tokoh dari masa lalu Opa Dahl juga muncul di sini. Misalnya si guru yg suka mukul muridnya pakai tongkat. Ditambah lagi si guru ini ternyata namanya ada "Captain"-nya pula, yang sama dengan gurunya Opa Dahl dulu.

He had been a captain in the army during the war against Hitler and that was why he still called himself Captain Lancaster instead of just plain Mister. My father said it was an idiotic thing to do. There were millions of people still alive, he said, who had fought in that war, but most of them wanted to forget the whole beastly thing, especially those crummy military titles. Captain Lancaster was a violent man, and we were all terrified of him.


Kelihatan sekali cara menyindir opa melalui kutipan di atas. Selain itu, tampaknya dia juga nggak suka acara berburu-berburu untuk kesenangan, yang suka dilakukan oleh orang-orang Inggris jaman dulu (langsung inget Downton Abbey X)). Baginya, hal itu sangat buruk, hingga perbuatan ayah Danny (yang mungkin bisa digolongkan sebagai pencurian), masih lebih mulia buat opa.

Terlepas dari itu semua, buat saya cerita ini patut dibaca oleh anak-anak di atas usia 7 tahun, tapi tentunya dengan bimbingan orang tua. Lebih bagus lagi jika dibacakan oleh ayah kepada anak lelakinya. Pasti ikatan di antara mereka akan semakin erat... :)

Ditambah lagi dengan pesan dari Opa Dahl di akhir cerita yang menurut saya sangat menohok setiap orang tua...

A MESSAGE

to Children Who Have Read This Book

When you grow up

and have children of your own

do please remember something important

a stodgy parent is no fun at all

What a child wants

and deserves

is a parent who is

SPARKY


Dan.... setiap ayah pasti sangat bangga dan bahagia jika buah hati mereka berujar seperti ini di hadapannya, dan tidak diragukan lagi, ia akan menjadi "Champion of the World"...

What I have been trying so hard to tell you all along is simply that my father, without the slightest doubt, was the most marvellous and exciting father any boy ever had.
Review ini saya ikutkan dalam event FYE di blog Bacaan Bzee. Buku ini memenangkan penghargaan


Lalu, karena ada namanya juga... Maka tampaknya buku ini pun masuk ke challenge saya berikutnya, yaitu...


Satu lagi, karena saya bacanya dalam bahasa Inggris.. :DD


P.S. Wahahaa.. Menang banyak nih satu post kena tiga challenge sekaligus.. Sering-sering aja begini xDD


View all my reviews

The Casual Vacancy: Bersyukurlah tak Ada Hantu Barry Fairbrother di Sekitar Kita


The Casual Vacancy by J.K. Rowling
My rating: 4 of 5 stars

Apa jadinya jika orang-orang paling menyebalkan di dunia berkumpul dalam satu tempat? Saya curiga, tempat itu akan bernama Pagford. Sebuah kota kecil di Inggris, yang menjadi tempat baru dari novel terbaru J.K. Rowling, "The Casual Vacancy".

Dan, izinkan saya memperkenalkan orang-orang di novel ini, satu per satu...

Barry Fairbrother
Tokoh yang 'dibunuh' Rowling di kesempatan pertama. Melalui tokoh-tokoh lainnya, kita jadi tahu kalau Barry ini adalah sosok lelaki menyenangkan yang dicintai banyak orang. Ia adalah seseorang yang from zero to hero, jadi dia tahu persis bagaimana rasanya berada di bawah, ketika dunia tidak menginginkanmu, dan di atas, ketika dunia menjadi sahabatmu. Ia dengan gigih memperjuangkan Fields, tempat yang menjadi persengketaan di Pagford yang juga jadi tempat tumbuh Barry ketika kecil dulu. Fields memiliki sejarah yang rumit, yang membuatnya dibenci sebagian orang Pagford (terutama yang tua-tua bangka xp), dan ingin melepaskan tempat itu.

Barry meninggal dunia karena aneurisme atau pecahnya pembuluh darah di otak. Sebelum meninggal--di hari peringatan ulang tahun pernikahannya--ia menderita sakit kepala luar biasa, hingga tergolek lemah tak berdaya di parkiran sebuah restoran bersama istrinya.

Mary Fairbrother
Istri Barry yang tidak sepenuhnya mendukung kegiatan politik suaminya, yang dengan gigih memperjuangkan Fields. Setelah Barry meninggal, Mary bahkan membenci segala sesuatu yang ada di Fields, termasuk Krystal Weedon, seorang anak SMA yang menjadi ikon Fields. Menurut Mary, Barry terlalu terobsesi pada dua hal itu: Fields dan Krsytal.

Di mata saya, Mary adalah sosok istri yang angkuh dan tidak kooperatif. Dia juga lemah. Ya, memang semua orang pasti akan jadi lemah kalo suaminya meninggal sih, tapi come on! U're not the only widow in this whole wild world! Apalagi, sikap Mary yang membenci Fields dan Krystal itu, bikin saya makin antipati sama dia...

Terri ini lemah. Meskipun dia nggak mau Robbie diambil, tapi perjuangannya dia itu nggak terlalu besar. Begitu tetangganya, Obbo, menawarinya obat terlarang, Terri akan langsung menyambarnya, dan melupakan janjinya pada Krystal, yang membuat anaknya itu berang.

Colin Wall
Wakil kepala sekolah SMA Winterdown, tempat Krystal dan anak-anak lainnya di buku ini bersekolah. Dia dijuluki Cubby oleh semua anak di sekolah itu, termasuk oleh anak lelakinya. Colin menganggap dirinya sebagai sahabat terbaik Barry, dan orang yang paling bersedih atas kematiannya. Ia juga merasa bertanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan Barry di anggota dewan, hingga berniat untuk mencalonkan diri.

Menurut saya, dia ini sosok lelaki yang polos dan naif. Orang yang pantas dikasihani, karena hal-hal yang di luar kendalinya membuatnya bertindak seperti itu. Sampai akhir saya masih dibuat bingung dengan perasaannya terhadap anak lelakinya, Fats.

Dia adalah korban ketiga dari "Hantu Barry Fairbrother".

Tessa Wall
Istri Colin yang selalu berada di tengah-tengah dan menjadi perantara. Ia menjadi perantara atas hubungan anak dan suaminya yang sangat buruk. Ia juga jadi perantara antara Mary (yang nggak terlalu suka sama Colin) dan suaminya. Jadi perantara juga di sekolah karena statusnya sebagai guru BP. Dia seolah hidup untuk orang lain. Memperhatikan orang lain, tapi tak ada seorangpun yang memperhatikannya. Di akhir cerita, saya suka dengan sikap tegas dan tanpa ampunnya pada anaknya.

Fats Wall
Fats sebenarnya bukan nama aslinya. Namanya Stuart. Dia adalah anak lelaki satu-satunya dari keluarga Wall yang sangat kurang ajar. Jujur, dialah sosok yang paling saya benci di novel ini. Fats, Stuart, atau Arf, senang mengolok-ngolok orang lain. Sasaran favoritnya adalah Sukhvinder Jawanda, yang dibombardirnya dengan kata-kata kasar dan menyakitkan. Benar-benar anak tak tahu sopan santun, yang sangat sangat sangat menyebalkan.

Fats membenci ayahnya, dan nggak segan-segan menghina ayahnya itu di depan teman-temannya. Sebagai bahan lelucon. Dia adalah remaja labil yang selalu ingin bertindak secara autentik, agar orang-orang mengingatnya. Sepertinya Fats menganggap dirinya paling menderita sedunia, karena memiliki ayah seperti Colin. Dia nggak sadar, kalau ayahnya jauh-jauh lebih baik dari ayah sahabatnya sendiri, Andrew Price.

Satu lagi, Fats menjalin hubungan dengan Krystal. Bukan hubungan yang serius, karena sepertinya Fats hanya memanfaatkan Krystal karena fisiknya yang indah.

Andrew Price
Sahabat Fats Wall, seorang anak lelaki yang serba biasa. Tampangnya biasa, otaknya juga biasa-biasa aja. Tapi, ia punya seorang ayah yang luar biasa. Ayahnya gemar memukuli dan menyalahkan semua anggota keluarganya atas perbuatan yang bahkan nggak mereka lakukan. Perbuatan yang dilakukan Andrew di kemudian hari membuat perubahan besar bagi keluarganya.

Simon Price
Tokoh paling menyebalkan selanjutnya di novel ini. Sebenarnya, peringkat dia dengan Fats mungkin sama kali, ya... Simon ini lelaki pemarah yang ringan tangan, alias nggak segan-segan menghajar seluruh anggota keluarganya yang terdiri atas istri dan kedua anak lelakinya. Panggilan yang disematkannya kepada anak-anaknya benar-benar menjijikan. Ia memanggil Andrew si Muka Piza karena wajah Andrew yang penuh jerawat, dan anak bungsunya Pauline (nama aslinya Paul) karena anaknya itu bersikap seperti anak perempuan yang penakut karena sangat takut padanya.

Simon adalah korban pertama dari "Hantu Barry Fairbrother", yang sangat pantas diterimanya, karena dia adalah lelaki kotor, busuk, dan menjijikan. Tanpa tahu malu dia turut mencalonkan diri sebagai pengganti Barry, karena menganggap dia akan bisa dapat uang banyak dari sana.

Ruth Price
Ibu Andrew yang penakut dan tunduk di bawah suaminya. Ruth benar-benar bukan sosok ibu yang baik, karena dia nggak bisa melindungi anak-anaknya di depan kekejaman suaminya. Terkadang, ia justru membela dirinya sendiri, yang membuat kemarahan Simon semakin menjadi-jadi. Andrew yang awalnya menaruh simpati padanya, justru berbalik menjadi muak padanya.

Gaia Bawden
Si cantik jelita yang baru pindah ke Pagford dari London. Gaia benci Pagford dan mulai membenci ibunya, yang karena cintanya pada Gavin, membuat ia harus terdampar di kota kecil itu. Meskipun pada awalnya ia tidak serius berteman dengan Sukhvinder Jawanda, akhirnya ia jadi sahabat Sukhvinder juga. Andrew tergila-gila padanya.

Kay Bawden
Ibu Gaia, yang bekerja sebagai petugas sosial. Dia sempat mengurus keluarga Weedon, ketika petugas yang harusnya mengurus keluarga itu sedang cuti. Kay adalah sosok yang penuh percaya diri dan sedikit angkuh. Dia membesarkan putrinya seorang diri di London, sebelum pindah ke Pagford karena jatuh cinta pada Gavin. Tepatkah keputusannya itu? Apalagi ternyata Gavin tampaknya tidak terlalu serius dengannya...

Gavin Hughes
Si cowok mencla mencle yang bikin saya pengen nendang dia sampai dasar Sungai Orr. Gavin nggak nyangka Kay sampai rela pindah ke Pagford demi dirinya, padahal dia nggak secinta itu sama Kay. Kenyataannya, dia justru memanfaatkan Kay atas hidupnya yang kesepian dan nggak punya orang yang mencintainya... Sikapnya yang benar-benar nggak punya pendirian itu bener-bener bikin saya kesel dan pengen gantung dia di atas puun toge berdaun jarang.. -_____-

Parminder Jawanda
Parminder adalah sosok wanita yang keras dan kaku. Ia seorang dokter dan juga ibu dari Sukhvinder. Ia duduk bersama Barry di dewan kota Pagford, dan turut berjuang bersama lelaki itu dalam mempertahankan Fields. Setelah Barry tiada, apa lagi yang tersisa darinya untuk mempertahankan bagian kota yang bahkan nggak punya hubungan dengannya itu?

Parminder adalah korban kedua dari "Hantu Barry Fairbrother".

Sukhvinder Jawanda
Putri Parminder yang menjadi sasaran bullying dari Fats. Dia tidak pandai seperti ibu dan ayahnya yang seorang dokter, yang membuatnya semakin terpuruk dan rendah diri. Apalagi, ibunya selalu menuntutnya dan kerap mengatainya pemalas, tanpa menanyakan lebih dalam lagi perasaan anaknya itu. Menurut saya, sosok Sukhvinder adalah sosok yang paling mengalami perkembangan dan kematangan dari awal hingga akhir cerita.

Howard Mollison
Salah seorang anggota dewan yang juga sebagai orang yang dituakan di Pagford. Dia dan kroco-kroconya menentang Fields masuk ke wilayah Pagford, yang menjadikannya musuh politik Barry. Kenapa sih Fields sebegitu ditentangnya? Soalnya, orang-orang asli Pagford itu narsis luar biasa atas keindahan kota kecil mereka, dan nggak rela kalo Fields yang kotor dan berisi orang-orang yang disebut sebagai 'sampah masyarakat' jadi bagian dari kota kecil yang cantik itu...

Dialah korban terakhir "Hantu Barry Fairbrother", yang memang pantas dia terima, meskipun isinya cukup mengejutkan saya. Oh iya, Howard itu tipe om-om hidung belang yang seneng liat gadis muda.

Shirley Molllison
Istri Howard yang saya benci. Bagi saya dia munafik dan delusional. Dia memainkan perannya sebagai seorang istri yang sempurna dan luar biasa di hadapan umum, meskipun sebenarnya satu-satunya yang dia pikirkan hanyalah kedudukan di masyarakat. Tipikal ibu-ibu tukang gosip menyebalkan, yang selalu melihat orang lain dari sisi buruknya saja...

Miles Mollison
Anak Howard, seorang pengacara sukses yang begitu dibanggakan oleh sang ayah dan bunda. Miles ini lumayan gila hormat menurut saya. Hhmm.. Lebih tepatnya gila pangkat kali ya? Yah, pokoknya dia pengen meraih puncak gemilang cahaya di kota kecil itu. Ketika Barry meninggal, dia menganggap inilah saatnya dia untuk tampil dan menggantikan sosok Barry, yang dipuja banyak orang.

Samantha Mollison
Istri Miles. Tante-tante seksi yang doyan brondong. Dia merasa muak dengan kehidupannya, dan terutama.. sama orang tua Miles. Dia punya obsesi tersendiri dalam hidupnya, yang sayangnya nggak terwujud karena suaminya terlalu gencar mengejar karir dan prestise.

Terri Weedon
Ibu Krystal yang pecandu narkoba. Ia punya empat anak, dari lelaki yang berbeda-beda. Dua anak pertamanya diambil darinya karena ia dinilai tidak sanggup untuk merawat mereka. Sedangkan Krystal 'selamat', berkat nenek Terri, Nana Cath, yang merwat Krystal. Anak bungsunya, Robbie, yang terancam akan diasuh oleh negara jika ia tidak juga berubah. Untungnya, Krystal dengan telaten mengasuh Robbie (meskipun nggak selalu dengan kata-kata manis), yang membuat para petugas sosial masih membiarkan Robbie bersamanya.

Krystal Weedon
Si gadis kontroversial yang dicap sebagai cewek nakal di novel ini. Lahir dan besar di Fields, dari seorang ibu pecandu narkoba, yang rela memberikan segala-galanya demi barang laknat itu. Krystal bukan seorang gadis yang pandai. Dia kasar (pernah meninju salah seorang putri Miles Mollison sampai giginya rontok), blak-blakan, dan impulsif. Satu hal yang dibanggakan Krystal adalah, ketika ia memenangkan pertandingan dayung, dengan Barry sebagai pelatihnya. Krystal adalah salah satu alasan kuat yang digunakan Barry, untuk tetap mempertahankan Fields.

Sekarang saya tahu kenapa banyak orang bersimpati pada sosok yang satu ini. Krystal yang kuat dan tegar memang pantas untuk dijadikan tokoh favorit. Meskipun dia dianggap nggak memiliki moral (menurut saya, standar moralnya Krystal aja yang mungkin memang beda, sama kayak Lisbeth Salander), tapi dia tidak seperti orang Pagford lainnya yang munafik dan selalu memakai topeng. Menurut saya, Krsytal adalah sosok yang paling jujur di novel ini, yang membuat hati saya terenyuh...

Krystal terobsesi pada adiknya, Robbie, dan kakak perempuan yang tidak pernah dilihatnya...

Saya menutup "The Casual Vacancy" dengan perasaan puas. Puass. Sejak awal membaca, saya memang sudah mengingatkan diri saya untuk tidak membandingkannya dengan Harry Potter, karena mereka benar-benar dua hal yang berbeda. Tidak adil rasanya jika dua novel dari genre yang berbeda (dengan kesamaan 'hanya' di penulisnya), lalu dibanding-bandingkan. Rasanya seperti membandingkan dua orang anak yang memilih jalur yang berbeda (misalnya yang satu jadi dokter terus yang satunya jadi wartawan). Meski mereka tetap hebat di bidangnya masing-masing, orang-orang menganggap anak yang satu lebih sukses dan lebih hebat hanya karena status mereka. Dan, hey! Itu sama saja dengan membandingkan antara Percy dengan Fred dan George! Tidak. Itu sangat sangat tidak adil.

Jadi, menurut saya novel terbaru J.K. Rowling inipun tetap hebat dan membuktikan bahwa dia benar-benar penulis yang mampu menulis genre apapun. Terjemahannya pun sangat enak dibaca, meski memang bagian percakapan keluarga Weedon yang nggak berpendidikan terkadang terdengar janggal di telinga saya.

Tak salah jika saya memberikan 4 dari 5 bintang untuk novel luar biasa ini. Tiga bintang untuk J.K. Rowling yang dengan cerdasnya mampu menangkap sisi buruk dan busuk dari masyarakat ini. Dia membuktikan bahwa penulis memang sosok yang peka dan mampu melihat kejanggalan dari masyarakat. Meskipun sebenarnya saya agak kecewa sedikit, karena berharap intrik politiknya bakal lebih seru. Tapi sepertinya Rowling lebih senang melakukan pendekatan psikologis melalui isi kepala tokoh-tokohnya. Oh iya, satu bintang lagi saya berikan untuk Krystal dan Robbie Weedon yang.... :') #isisendiri

Jika di awal saya mengatakan bahwa Pagford adalah kumpulan orang-orang paling menyebalkan di dunia dijadikan satu, maka sesungguhnya bisa jadi lingkungan kita pun merupakan gambaran dari Pagford juga. Tetangga kita yang terlihat baik hati dan dikagumi, bisa jadi sebenarnya adalah orang yang tamak dan tidak bersikap adil kepada keluarganya. Anak jelek dan murung yang setiap hari kita temui, bisa jadi mengalami kekerasan di rumahnya. Wanita yang giat memperjuangkan hak orang lain itu, bisa jadi hanya mengejar popularitas dan prestise belaka....

Atau jangan-jangan, justru kita sendiri yang memiliki kebusukan dalam hati kita.... Jika ya, maka kita harus bersyukur karena tidak ada "Hantu-hantu" lain yang menguak hal itu, dan membuat orang-orang tau betapa buruknya diri kita....

January 28, 2013

Harry Potter dan Batu Bertuah


Harry Potter and The Sorcerer Stone - Harry Potter dan Batu Bertuah by J.K. Rowling
My rating: 4 of 5 stars

Perkenalan saya dengan Harry Potter bisa dibilang agak terlambat. Ketika saya duduk di bangku SMP, buku Harry Potter sebenarnya sudah cukup booming, tapi saya ogah baca. Ya, soalnya saya ini rada-rada ga mainstream orangnya. Waktu teman-teman saya tergila-gila dengan segala hal yang berbau Hollywood, saya dan beberapa orang teman malah maniak komik dan anime Jepang. Waktu teman-teman saya heboh soal Meteor Garden dan betapa gantengnya EFSE, saya cuma mendengus dan ga ada minat buat nonton sama sekali. Eh, ga nyambung ya? Yah, pokoknya saya baru kenalan sama Harry ketika SMA, itupun secara nggak sengaja...

Jadi, ketika saya duduk di bangku SMA itu, kalau nggak salah Harry Potter sudah sampai buku ke-4, dan buku kelimanya akan segera terbit. Tapi, saya belum baca sama sekali dan sejujurnya nggak minat buat baca itu. Sampai suatu ketika..., saya pergi ke rumah salah seorang teman saya. Di sana, saya melihat buku Harry Potter teronggok manis di mejanya, seakan memanggil-manggil saya untuk baca. Saya pikir, nggak ada salahnya, karena saya suka baca dan... Yah, i'll give it a try...

Jadilah saya membawa pulang buku itu, bersama buku pertama Lord of the Rings yang juga punya teman saya. Iya, saya ini emang tukang minjem, soalnya keluarga saya itu biasa-biasa aja, uang jajan saya juga biasa-biasa aja, jadi biarpun nabung, agak lama juga kalo mau ngoleksi itu buku Harry Potter. Yang saya beli ketika SMA itu kebanyakan novel-novel Islami yang diterbitkan oleh FLP ataupun komik-komik, yang (saat itu) masih cukup terjangkau kantong. Soalnya, saya cuma bisa beli novel kalo abis dari rumah mbah, dan dikasih uang jajan sama mereka. Hohohoo.. Lagian juga, kayaknya ortu saya rada nggak mendukung hobi baca saya. Terutama ibu saya, yang menyamakan semua buku sebagai komik, meskipun yang saya baca itu adalah novel...

Makanya, saya suka iri sama anak-anak yang ortunya hobi baca dan memfasilitasi mereka. Bersyukurlah kalian kalo punya ortu kayak gitu. Soalnya di rumah, saya doang yang gila baca. Hhmm.. Bapak saya juga sih, lumayan. Dan bisa dibilang, berkat majalah Bobo yang dibelikan bapak untuk saya setiap minggulah saya jadi doyan baca. Tapi tetep sih, cuman saya yang paling doyan baca di antara keluarga-keluarga saya. Ya, seenggaknya nanti kalau saya punya anak, dia nggak perlu mengalami nasib seperti saya, karena saya akan memfasilitasinya. Bahkan mungkin, nanti kami malah berantem karena sama-sama nggak mau ngalah baca buku yang sama lagi.. Hahaha

Okay, balik ke Harry Potter. Saya menikmati membaca buku yang saya pinjam dari teman saya itu. Meskipun, ehem, ternyata urutan baca saya salah...! Iya, salah. Saya bacanya yang kedua dulu, "Harry Potter dan Kamar Rahasia", bukannya "Harry Potter dan Batu Bertuah". DOARR!! Soalnya, bukunya kan mirip tuh sampul depannya (buku ke-1 sampe ke-3 kan emang sama semua warna sampulnya), dan saya nggak ngeh kalo ternyata ada angka penunjuk serinya di bagian samping buku. Dodol banget ya? Tapi, biarlah... Soalnya, ternyata saya bisa menikmati buku kedua dengan baik, dan bikin saya penasaran sama Harry, terus pinjem buku pertamanya deh.

Lalu, sekitar sepuluh tahun kemudian, saya kembali baca buku pertama Harry ini. Hhmm.. Sebenarnya kayaknya sih gak tepat sepuluh tahun, karena ini mungkin udah ketiga atau keempat kalinya saya baca buku pertama Harry Potter ini. Membaca kembali Harry Potter di kala saya sudah menyandang status sebagai orang dewasa, tentu saja rasanya berbeda dengan dulu, ketika saya masih remaja dan imut-imut. #ehem

Dulu, ketika saya baca buku ini, saya menerima mentah-mentah apa yang disodorkan oleh J.K. Rowling kepada saya. Gimana awalnya Harry dibawa ke Privet Drive, Hagrid yang ujung-ujug dateng ke gubuk di tepi pantai buat ngasih surat penerimaan Hogwarts sambil ngerayain ulang tahun Harry di antara keluarga Dursley yang menyebalkan (bagian favorit saya), perjumpaan pertama Harry dengan Professor Quirrell (yang dengan polosnya saya nggak menduga ada apa-apa disana), lalu pertemuan dengan Ron dan Hermione, perjalanan di Hogwart Express, ketemu Malfoy dan dedengkot-dedengkotnya, dan segala petualangan seru selama di Hogwarts, terutama bagaimana dengan pandainya Rowling menggiring pembaca agar berpikir bahwa Snape is the bad one. Oh, poor Snape...

Ya, Rowling memang dengan begitu cerdasnya telah menggiring pembacanya untuk mengikuti 'peraturan'-nya. Dan, tentu saja kita hanya bisa menerimanya. Yaiyalah.. Kalo nggak, tutup aja bukunya! Lempaarr!! #ganyante

Bukan berarti saya nggak suka digiring-giring opininya sama si JK Rowling, karena emang suka-suka dia juga bukunya mau diapain. Cuma, ketika saya baca ulang, sekarang saya jadi semakin sadar kalo dia memang benar-benar seorang penulis yang cerdas. Brilian.

Seperti yang kita ketahui bersama, buku pertama ini adalah awal dari segalanya. Awal dari dunia ajaib yang diciptakan Rowling dengan begitu luar biasanya. Di buku pertama ini, kita diajak untuk mengenal Harry Potter, si anak lelaki yang bertahan hidup, seorang anak yatim piatu yang harus tinggal dengan bibi, paman, dan sepupu lelakinya yang menyebalkan (Yah, semuanya menyebalkan..). Akhirnya, Harry tahu kalau dia penyihir, dan dimulailah tahun pertamanya di Hogwarts, sekolah sihir yang bagi saya tampak seperti sekolah paling menyenangkan di seluruh dunia.

Ya, Rowling memang patut diacungi jempol, karena ia sangat berhasil menciptakan sebuah dunia fantasi yang ajaib dan baru, dan membuat setiap pembacanya mampu tersedot ke dalamnya. Kekuatan deskripsi Rowling juga sangat luar biasa, karena dia bisa bikin saya turut ngerasa nyobain kacang segala rasa Bertie Bott's (rasa kotoran telinga! yucks!), merasa seolah bersama Ron dan Hermione nonton pertandingan Quidditch (dan bergidik ngeri waktu Harry hampir jatuh dari sapunya) yang heboh itu, ikutan ngeces dan ngiler luar biasa pas acara makan-makan Hogwarts, dan ikutan ngeri ketika mereka kena detensi dan harus masuk ke Hutan Terlarang.

Satu hal yang bikin saya tersadar (dan jadi agak sebel juga) setelah baca ulang adalah saya ngerasa si Harry ini kok sotoy dan kepo banget ya? Soalnya dia ngotot banget gitu mau lawan Voldemort sendirian. Padahal, tahu dunia sihir aja baru kemaren, sihirnya juga ga jago-jago amat (ya dibandinginnya sama Hermione, jelaslaahh... xp), masih bocah pun, ngapain sih pake repot-repot sok berani gitu mau lawan si Voldie?

Tapi mungkin memang itu yang harus terjadi. Tanpa disadari Harry, bisa jadi memang sudah terjalin ikatan yang begitu erat antara dia dan Voldie, yang bikin Harry ngerasa dia harus berhadapan langsung, face to face, sama si makhluk ga punya idung itu. Apalagi memang Harry-lah orang yang paling sial, kalau si Voldie kembali bangkit. Dia (yang nggak punya apa-apa) harus kehilangan dunia yang baru dik enalnya, dunia tempat dia seharusnya berada, dan kembali pada keluarga (kalo emang bisa dibilang keluarga) Dursley yang menyebalkan itu.

Oh iya, setelah saya baca seri Chrestomanci-nya Diana Wynne Jones, saya jadi kepikiran... Apa jangan-jangan si Voldemort ini semacam enchanter yang kalau namanya disebut, dia bisa langsung dateng ke tempat itu? Kalau iya, itu jadi menegaskan kenapa orang-orang pada takut nyebut nama aslinya, dan hanya berani nyebut dia dengan "Kau tahu siapa"...

4/5 bintang untuk "Harry Potter dan Batu Bertuah", yang kisahnya, serta terjemahannya, benar-benar luar biasa dan sanggup membius saya. Menurut saya, buku ini cocok untuk dibaca siapa saja, baik anak-anak ataupun orang dewasa. Kalau anak-anak, mungkin cocok dibaca dari usia 7 tahun-an kali ya...

P.S. Saya jadi ingat, kalau dulu saya pernah baca, bahwa JK Rowling sempat nyesel karena judul bukunya diubah jadi "Harry Potter and the Sorcerer's Stone" buat versi Amerikanya. Katanya, kalo saat itu dia udah punya posisi tawar yang kuat, dia pasti nggak akan mau ngubah kata "Philosopher's Stone" jadi "Sorcerer's Stone", karena maknanya yang memang berbeda (meskipun saya nggak terlalu ngerti bedanya dimana... xp).

P.S.2. Review ini dalam rangka event Hotter Potter Event di blog surgabukuku.


Sekaligus di FM1s di Bacaan Bzee, karena buku ini adalah salah satu buku kontroversial ketika pertama kali terbit, tapi setelahnya dapat sederetan penghargaan yang bisa dilihat sendiri di situs Goodreads, karena benar-benar buanyaakkk...


Dan satu lagi, di "What's in a Name Reading Challenge" di blog Ren's Little Corner.


Sekali bikin post, tiga challenge terlampaui.. :D

January 21, 2013

New Authors Reading Challenge 2013


Semoga ini jadi challenge terakhir saya tahun ini (dari kemaren ngomongya gitu, tapi akhirnya nambah lagi.. nambah lagi.. -,-). Dan... challenge itu adalah...


Challenge yang satu ini kembali diadakan oleh Ren, di Ren’s Little Corner. Disini, saya ditantang untuk membaca buku-buku karya pengarang yang belum pernah saya baca sebelumnya. Kebetulan di antara buku-buku yang jadi timbunan saya, banyak juga karya pengarang-pengarang yang baru bagi saya. Ditambah lagi, challenge-nya boleh digabung sama yang lainnya. Jadi, kenapa kacang (wai nut)? Xp
Tertarik untuk ikutan? Simak dulu rule-nya...
1. Durasi challenge adalah setahun. Mulai dari 1 Januari - 31 Desember 2013.
2. Buku yang dibaca, adalah buku fiksi. Yang tidak termasuk dalam kategori buku untuk challenge ini : komik, graphic novel, kumcer (anthology), novella (cerita pendek), dan buku non fiksi.

Note : Untuk mengetahui apakah buku yang dibaca termasuk full novel, jumlah halaman untuk buku yang dibaca harus lebih dari 200 halaman 

3. Buku yang dibaca harus dari pengarang yang benar - benar baru untuk para peserta. Tidak ada batasan buku diterbitkan tahun berapapun.
Sebagai contohnya seperti ini :
Kamu ingin membaca buku Lords of The Ring karya J.R.R. Tolkien untuk challenge ini. Jika sebelumnya kamu tidak pernah baca karya Tolkien, maka beliau adalah pengarang yang baru untukmu.
Sebaliknya jika pada tahun kemaren kamu sudah baca buku karangan Dee Lestari, dan tahun ini kamu membaca karya terbaru dia yang rilis 2013, maka bukunya tidak masuk dalam kategori.
4. Boleh membaca baik edisi terjemahan atau edisi dalam bahasa asli (bahasa Inggris, Jepang, etc)
5. Tidak boleh re-read (baca ulang)
6. Jika buku yang kamu baca adalah bagian dari serial, yang masuk dalam challenge ini hanya buku pertama dari seri itu.
Contohnya : J.R.Ward adalah pengarang baru bagi kamu, dan kamu memutuskan untuk membaca buku pertama serial Black Dagger Brotherhood. Hanya buku pertama saja yang terhitung baru, buku selanjutnya tidak dimasukan. Jadi, satu pengarang, hanya boleh satu judul buku saja.
7. Boleh digabung dengan reading challenge dari blog - blog lain.
8. Khusus untuk blogger, buat master post tentang event ini di blognya. Khusus bagi mereka yang tidak punya blog (hanya ada akun Goodreads, Tumblr, Google plus, atau Facebook) silakan menuliskan pilihan levelnya di kolom komentar di blog ini.
9. Level untuk challenge ini adalah :
- Easy : 10 - 12 buku
- Middle : 12 - 20 buku
- Hard : 20 - 40 buku
- Maniac : > 40 buku

Naik level dibolehkan, jika peserta mengambil level Easy, Middle dan Hard.

10. Buku yang sudah selesai dibaca harus direview. Karena saya tidak tahu pengarang siapa saja yang tergolong baru untuk peserta, maka saya hanya bisa mengeceknya di review yang peserta tulis :). Review boleh bebas dimana saja (blog atau Goodreads)
11. Tidak perlu membuat list buku apa saja yang dibaca. Jika membuat list, diperbolehkan untuk mengganti judul buku jika dirasa kurang sesuai. 
12. Khusus untuk blogger,  posting button untuk event reading challenge ini di side blog kamu dengan mengkopi html buttonnya di bawah ini :

13.  Jika sudah menentukan level, daftarkan link kalian di linky di bawah ini. Berikut ini saya berikan petunjuk untuk beberapa akun dalam mendaftarkan linknya :
- Blogger : Ketikkan link post blog kalian di kolom url
- Goodreads : Buat shelf khusus challenge ini (untuk nama shelf bebas), lalu ketik link shelf nya di kolom url
- Tumblr : Buat post khusus untuk challenge ini, dan ketik link Tumblr kalian di kolom url
- Facebook : Buat notes khusus untuk challenge ini, dan ketik link notesnya di kolom url

14. Pendaftaran akan dibuka mulai dari sekarang. Dan saya membebaskan partisipan untuk mendaftar kapan saja. Tapi lebih baik kalau mendaftar segera, supaya ga ketinggalan ikut kuis yang saya adakan tiap bulan.
15. Untuk peserta, wajib mencantumkan email yang bisa dihubungi di kolom komentar di bawah ini. Karena nantinya akan saya pakai untuk mengirimkan update challenge :)
16. Tiap bulan akan ada post update reading challenge, dan peserta wajib mendaftarkan link reviewnya di daftar linky yang ada di blog ini.

Whew, banyak juga ya? Tapi, yang paling bikin saya tergoda itu giveaway-nya... Manteb banget, gaann!! >v<  Yang mau lengkapnya, silakan baca sendiri di post aslinya, ya....
Meskipun giveaway-nya benar-benar tempting, tapi saya nggak mau langsung ambil level paling tinggi. Buat saya, cukup middle saja dulu, mengingat saya ini seorang moody reader. Jadi, daripada nggak terpenuhi, mendingan pelan-pelan aja.. Hehehe...
 

January 17, 2013

Oh, the Places You'll Go


Oh, the Places You'll Go! by Dr. Seuss
My rating: 4 of 5 stars

You have brains in your head.
You have feet in your shoes.
You can steer yourself
any direction you choose.
You're on your own. And you know what you know.
And YOU are the guy who'll decide where to go.

Sebuah buku anak yang benar-benar 'berat'. Saya sendiri sampai harus membacanya dua kali untuk memahami makna dan alur cerita yang disampaikan oleh Dr. Seuss. Benar-benar bukan bacaan ringan buat saya, karena ketika pertama kali membaca, pikiran saya agak mengawang-awang, jadi saya nggak begitu ngerti apa maknanya.

Buku ini sebenarnya bisa dinikmati secara sederhana sih, tapi mungkin karena saya bukan anak-anak, dan terbiasa untuk harus benar-benar mengerti satu hal tertentu, jadi rasanya bacaan ini cukup berat buat saya.

Dr. Seuss menggunakan medium seorang anak lelaki yang melakukan perjalanan. Perjalanan yang dilaluinya tidak mudah, tapi ia sudah dibekali kepandaian oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, jadi ia menggunakan segenap kemampuannya itu untuk menyelesaikan perjalanannya, menuju tempat yang ditujunya.

Sepertinya Dr. Seuss ingin menganalogikan perjalanan yang dilalui oleh si anak dengan siklus hidup manusia. Sejak lahir, kita diberi bekal yang sama oleh Tuhan: tubuh yang sehat dan juga pikiran yang tajam (kecuali orang-orang tertentu yang memang telah ditakdirkan untuk tidak seperti itu). Tapi kenapa hanya sedikit orang yang berhasil mencapai puncak kesuksesan (yang digambarkan oleh Dr. Seuss dengan 'memindahkan gunung' disini)?

Jawabannya, mungkin saja ada yang salah dengan diri kita ketika dalam perjalanan itu.

Bisa jadi kita tidak menggunakan pikiran kita dengan maksimal untuk membuat kita keluar dari masalah itu.

And when you're in a Slump,
you're not in for much fun.
Un-slumping yourself

is not easily done.

Atau mungkin kita terlalu takut untuk mencoba sesuatu hal yang baru dan menjalani tantangan yang ada dalam hidup kita?
You will come to a place where the streets are not marked.
Some windows are lighted. But mostly they're darked.
A place you could sprain both your elbow and chin!
Do you dare to stay out? Do you dare to go in?

How much can you lose? How much can you win?
Atau mungkin ketika terpuruk kita terlalu lama meratapi nasib, terlalu lama berkutat dalam kebingungan, hingga kita berlari tanpa arah?

You can get so confused
that you'll start in to race
down long wiggled roads at a break-necking pace
and grind on for miles across weirdish wild space,

headed, I fear, toward a most useless place.

Dan tanpa disadari, kita hanya terdiam termangu, dan menunggu. Menunggu orang lain untuk membantu kita, menunggu keajaiban datang dan membereskannya dalam satu ayunan tongkat sihir, menunggu kesempatan datang tanpa mencoba untuk mencarinya...

Menunggu...

Tanpa kita sadar bahwa itu adalah tempat yang paling buruk bagi umat manusia.

...I fear, toward a most useless place.

The Waiting Place.

...for people just waiting.
Waiting for a train to go
or a bus to come, or a plane to go
or the mail to come, or the rain to go
or the phone to ring, or the snow to snow
or waiting around for a Yes or No
or waiting for their hair to grow.
Everyone is just waiting.

Waiting for the fish to bite
or waiting for wind to fly a kite
or waiting around for Friday night
or waiting, perhaps, for their Uncle Jake
or a pot to boil, or a Better Break
or a string of pearls, or a pair of pants
or a wig with curls, or Another Chance.

Everyone is just waiting.
Sungguh, saya ingin mengutip seluruh isi buku dan menampilkannya disini. Di dalam perjalanan si anak lelaki yang terlihat sederhana, sebenarnya tersimpan makna yang begitu besar di dalamnya.

Oh, the places you'll go! There is fun to be done!
There are points to be scored. There are games to be won.
And the magical things you can do with that ball
will make you the winning-est winner of all.
Fame! You'll be famous as famous can be,
with the whole wide world watching you win on TV

Melalui buku ini, Dr. Seuss ingin mengajarkan pada anak-anak, bahwa dalam kehidupan, pasti ada saatnya kita berada di atas, dan ada saatnya kita berada di bawah. Itu adalah suatu kepastian. Kesulitan akan hadir seiring dengan kemudahan. Jika ada satu jalan yang tertutup, maka kita bisa mencoba jalan lainnya.

Tak ada orang yang akan sukses selamanya. Begitupun--seharusnya--tak ada orang yang menderita selamanya. Selama kita memanfaatkan sebaik mungkin, segenap indra yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita...

I'm afraid that some times
you'll play lonely games too.
Games you can't win
'cause you'll play against you.


Dan jika kita berhasil melaluinya, maka kita akan tiba di sana. Di tempat yang menjadi tujuan kita... Dan mengangkat gunung pun bukanlah lagi hal yang mustahil bagi kita... :)

Gambar dari sini

You'll get mixed up, of course,
as you already know.
You'll get mixed up
with many strange birds as you go.
So be sure when you step.
Step with care and great tact
and remember that Life's
a Great Balancing Act.
Just never forget to be dexterous and deft.
And never mix up your right foot with your left

And will you succeed?
Yes! You will, indeed!
(98 and 3/4 percent guaranteed.)
KID, YOU'LL MOVE MOUNTAINS!

Review ini saya ikutkan dalam Fun Months 1 dari reading challenge Fun Year With Children Literature yang diadakan oleh Bzee di Bacaan Bzee. Menurut saya, buku ini cocok dibaca untuk anak-anak usia 5-9 tahun kali ya? Yang jelas, orang tua harus pandai-pandai menjelaskan buku ini kepada anak-anaknya, agar mereka lebih paham maknanya, sehingga buku ini tidak hanya menjadi buku cerita bergambar belaka...




View all my reviews

January 14, 2013

Mark Spark in the Dark


Mark Spark In The Dark by Jacqueline Wilson
My rating: 4 of 5 stars

Akhirnya buku JW yang satu ini nggak ada cerita tentang anak yang ibunya meninggal terus ayahnya punya pacar baru, atau pengen punya istri baru, atau kenalan sama cewek yang akan jadi pengganti istrinya (soalnya, tiga buku JW yang saya baca, temanya begitu semua sih). Ilustrasinya pun berbeda, karena yang menggambar bukan Nick Sharrat, tetapi Bethan Matthews. Hhmm.. Kalo saya sih sepertinya lebih suka gambarnya Nick Sharrat, soalnya lebih ada ciri khasnya, dibanding gambarnya Bethan yang menurut saya (maaf) agak mainstream gambarnya.

Dari segi cerita, kisah Mark Spark ini sangat sederhana dan tidak menyajikan konflik yang terlalu berat. Buku ini berkisah tentang seorang anak lelaki bernama Mark, yang dibagi dalam dua bagian.

Di bagian pertama, pembaca diajak berkenalan dengan sosok Mark, anak lelaki yang ingin selalu bicara dengan suara keras, karena ia memiliki Great Gran (nenek buyutnya berarti ya?) yang kini sudah tidak bisa melihat, dan agak tuli. Jadi, Mark harus bicara dengan suara keras kepada neneknya itu. Setiap pulang sekolah, Mark pasti pergi ke rumah Great Gran, karena kedua orang tua Mark bekerja. Selain suka ngomong dengan suara keras. Mark ini juga anak yang aktif dan cerewet, sampai-sampai gurunya harus menyuruh Mark diam, karena dia kebanyakan bicara. Hahaa

Disini diceritakan kalau Mark ingin sekali punya anjing, tapi itu nggak mungkin karena nggak ada yang bisa merawat anjing itu di rumahnya. Soalnya, kedua orang tua Mark kan bekerja. Eh tapi, ternyata sekolah Mark akan menyewa seekor anjing khusus untuk membantu orang tuna netra! Mark pun turut berusaha keras untuk mengumpulkan uang dengan anak-anak sekelasnya, agar bisa mendapatkan anjing itu. Meskipun sebenarnya belum tentu juga sih anjing itu akan diberikan kepada nenek Mark, karena neneknya sudah sangattt tua. Tapi, usaha dan kesungguhan hati Mark disini cukup membuat saya terharu. Apalagi, terlihat kebaikan hati Mark disini, yang ingin membuat semua orang bahagia.

Misalnya, ketika Mark bingung akan menjual apa untuk memperoleh dana, nenek Mark menawarkan diri untuk membuat kaus kaki rajutan. Lho, tapi nenek Mark kan buta? Iya. Oleh karena itu, kaus kakinya warnanya beda-beda. Besarnya juga. Tapi Mark tetap bilang ke neneknya, kalau itu kaus kaki yang bagus... :')

Terus, ketika kaus kaki itu dijual, ternyata nggak ada yang mau beli. Jadi, Mark merelakan uang jajannya untuk membeli kaus kaki neneknya itu, sehingga ia nggak bisa beli cokelat. Dan ternyata, bukan hanya dagangan Mark yang nggak laku. Dagangan Louise, sahabat Mark, juga nggak laku. Akhirnya, Mark menggunakan uang jajan terakhirnya untuk membeli dagangan Louise, dan menghadiahkannya untuk neneknya! :') What a generous, kind hearted boy he is...

Sementara itu, kisah kedua bercerita tentang ketakutan terbesar Mark. Meskipun Mark ini orang yang dikenal paling pemberani di sekolah, ternyata Mark punya sebuah rahasia kecil. Dia takuuutt banget sama gelap. Kalau tidur, lampu kecil di kamarnya tetap dibiarkan menyala. Ibu Mark juga membiarkan lorong tetap terang, kalau-kalau Mark pengen pipis malam-malam.

Mungkin masalahnya terdengar sepele, tapi ketakutan Mark itu bikin dia nggak bisa berkemah bersama sahabat-sahabatnya! Jadi, di hari ulang tahunnya, Louise berencana untuk membuat acara berkemah di halaman rumahnya. Kalo kemah kan berarti di luar ruangan. Kalo di luar ruangan, berarti gelap dong... Kalo gelap, berarti Mark nggak bisa ikut dong.. Soalnya, kalo Louise dan Jason tahu Mark takut gelap, dia bakal diketawain sama mereka dong? Padahal Mark nggak takut sama cacing besar yang kotor dan menjijikan, tapi masa takut sama gelap sih? Terus, gimana doongg??

Jawabannya, ada di bukunya.. :)

Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, kisah di buku JW yang ini sederhana baik dari alur maupun konfliknya. Konflik yang dialami Mark adalah konflik yang biasa ada di anak seumuran dia. Bacaan yang benar-benar ringan dengan tema yang biasa. Tapi saya suka, karena tergambar jelas kepolosan dan kebaikan hati khas anak-anak di cerita ini. Jadi, menurut saya cerita ini cocok untuk dibaca oleh anak-anak usia berapapun, karena kisahnya yang sederhana dan dekat dengan kehidupan anak-anak, serta banyaknya pesan yang baik untuk diketahui anak-anak.

4 bintang saya berikan untuk buku Jacqueline Wilson yang satu ini, setelah saya cukup dibuat kecewa dengan buku JW yang saya baca sebelum ini... :)

Oh iya, review ini juga masuk ke dalam event FYE, meskipun nggak masuk kriteria Fun Months 1.



View all my reviews

January 13, 2013

Thidwick, si Rusa Berhati Baik


Thidwick the Big-Hearted Moose by Dr. Seuss
My rating: 4 of 5 stars

Di sebuah danau bernama Winna Bango di utara, hiduplah sekawanan rusa besar (yang dikenal dengan nama moose) yang sedang asyik mengunyah moose-moss. Di antara kawanan rusa itu, ada seekor yang bernama Thidwick. Ia adalah rusa yang memiliki hati paling baik dari semuanya.

Suatu hari, ada seekor serangga bernama Bingle Bug yang meminta kepada Thidwick, agar ia diizinkan untuk bertengger di tanduknya, karena ia sangat lelah. Thidwick yang baik hati mengizinkannya. Serangga itu pun bahagia. Lalu, seekor laba-laba bernama Tree Spider yang melihat Bingle Bug sedang bersantai di rumah barunya, meminta izin untuk turut tinggal disana. Si serangga dengan santainya mengajak si laba-laba untuk turut tinggal disana, karena tanduk Thidwick sangaatt besaarr...

Kemudian, datanglah Zinn-a-zu, seekor burung yang melihat serangga dan laba-laba sudah membuat sarang di tanduk Thidwick. Ia meminta izin untuk turut tinggal disana, dan hey! lagi-lagi si serangga menyebalkan itu mengizinkannya untuk tinggal. Benar-benar kurang ajar. Thidwick sempat keberatan, karena si burung membangun sarang dari rambutnya!! Tapi, ia tak sanggup mengusir mereka, karena ia terlalu baik hati.

Kebaikan hati Thidwick ternyata justru menyulitkannya, karena keesokan harinya, si burung menyebalkan itu memmbawa istrinya (yang baru dikawininya semalam) beserta paman sang istri untuk tinggal disana!! Si paman, Woodpecker, mulai mematuki tanduk Thidwick hingga membuatnya terguncang-guncang! Sampai-sammpai teman-teman Thidwick menyuruhnya untuk mengusir binatang-binatang pengganggu itu dari tanduknya. Namun, Thidwick yang baik hati tak sampai hati mengusir mereka..., hingga akhirnya ia ditinggalkan oleh kawanannya dan harus hidup sendirian di tengah-tengah keramaian... :'(

Dan.. Tentu saja penderitaan Thidwick belum berhenti sampai di situ. Si tupai dan keluarganya ikut tinggal di tanduk Thidwick, di lubang-lubang yang telah dibuat oleh Woodpecker. Bahkan, hingga seekor kura-kura pun turut tinggal disana!!

Thidwick yang malang...

Apa yang kau lakukan jika jadi dirinya? Ia ingin sekali mengusir mereka semua, dan pergi menyusul kawanannya. Apalagi, musim dingin segera datang, dan makanan di danau itu akan segera habis. Ia harus segera pergi atau ia akan mati kelaparan... Sendirian pula...

Thidwick pun berniat untuk melintasi danau Winna Bango itu. Namun, tebak apa yang terjadi? Para binatang yang tinggal di tanduk Thidwick menolak untuk pindah dari tempat itu!!! Mereka tak ingin tinggal jauh-jauh dari danau. Lalu, diadakanlah pemungutan suara yang sudah pasti Thidwick kalah.... Benar-benar nggak adil!! ヽ(≧Д≦)ノ

Kemalangan Thidwick masih berlanjut. Ia dikejar oleh pemburu! Karena ditinggalkan oleh kawanannya, ditambah beban bawaan yang berat (dengan binatang-binatang tak tahu diri di tanduknya, belum ditambah beruang, lebah, tikus, dan entah binatang apa lagi yang menyusul kemudian), Thidwick tak sanggup berlari cepat... Para pemburu telah mengepungnya dari berbagai penjuru...

Then finally the had him!

Because of those pests, he had run out of luck,
Because of those guests on his horns, he was stuck!

He gasped! He felt faint! And the whole world grew fuzzy!
Thidwick was finishhed, completely...


Bagaimana nasib Thidwick selanjutnya? Sanggupkah ia lolos dari kejaran para pemburu itu? Ataukah kepala serta tanduknya akan berakhir di dinding sebagai pajangan?

Endingnya tidak terduga dan bikin saya senang. Meskipun tak semuanya berakhir secara bahagia, tapi saya puas dengan endingnya. Memang ya, kebaikan itu sering disalahgunakan. Saya sebenarnya sempat sebal dengan sikap Thidwick yang terlalu nerimo itu. Nggak tegas. Tapi sepertinya, saya pun seringkali bersikap seperti itu. Thidwick ada juga di dalam diri saya, yang merasa segan ataupun sungkan melakukan sesuatu yang sebenarnya adalah hak saya. Hanya karena mereka lebih ngotot, bukan berarti mereka benar. Itu jugalah yang dialami Thidwick.

Buku Dr. Seuss yang satu ini benar-benar membuat saya puas. Saya rasa, anak-anak dari usia balita hingga SD dapat menikmati cerita ini. Pesan moralnya cukup kuat dan patut diajarkan kepada anak-anak agar mereka tidak bersikap seenaknya, menghargai orang lain, dan tahu apa hak serta kewajiban mereka...


Review ini saya ikutkan dalam event Fun Month 1, di Bacaan Bzee dalam kategori klasik.


View all my reviews

Fairy Tale?? Oh yeaahh!!!


The Stinky Cheese Man: And Other Fairly Stupid TalesThe Stinky Cheese Man: And Other Fairly Stupid Tales by Jon Scieszka
My rating: 5 of 5 stars

Bacaan ringan pengocok perut di pagi hari. "The Stinky Cheese Man: And Other Fairly Stupid Tales" adalah cerita-cerita parodi dari fairy tales terkenal yang ada dan sudah pernah Anda dengar. Dan, kali ini saya kembali mengalami kesulitan dalam membuat review buku ini, karena saya sangat suka bukunya, yang konyol dan penuh humor.

Dari awal buku saja saya sudah dibuat terbahak-bahak dengan narasi-narasi nggak penting dari si penulis. Dimulai dari si "Little Red Hen" yang dengan hebohnya bercerita tentang gandumnya dan ngotot minta sama si Jack (narator cerita), agar dia masuk ke dalam cerita. Setelah perdebatan nggak penting itu, lalu masuk deh ke "Title Page" (What?! Jadi, ceritanya belum dimulai?? xD) yang bentuknya seperti ini.

description
Gambar dari sini


LOL banget kan?

Lalu, akhirnya masuk juga ke cerita pertama, Chicken Licken yang bersama teman-temannya, Ducky Lucky, Goosey Loosey, Cocky Locky mau bertemu presiden, karena si Chicken menemukan fakta bahwa "The sky is falling!!" (nyanyi "Skyfall"-nya Adele). Di tengah jalan, mereka bertemu dengan Foxy Loxy dan diganggu oleh Jack si narator yang mengingatkan mereka satu hal penting, bahwa...

Dia lupa nyantumin daftar isi!!!

Double LOL!!!

Setelah perut saya dikocok-kocok oleh dua cerita nggak penting itu, akhirnya masuklah ke cerita sesungguhnya, yaitu "The Princess and the Bowling Ball". Buat yang sudah baca ceritanya H.C. Andersen, kalian pasti tahu kalau Om Andersen punya cerita yang judulnya "The Princess and the Pea" yang ceritanya tentang seorang pangeran yang sedang mencari istri. Setelah mencari ke segenap penjuru bumi, sang ibunda akhirnya menemukan istri yang cocok untuk pangeran. Kenapa cocok?? Karena si Princess ini mampu merasakan sebongkah kacang yang ada di bawah tumpukan tumpukan tumpukan kasur tempat tidurnya si Princess!! Ouch! How i hate those story! -___-

Versi yang diceritakan Jon Sciezska di buku ini jauh lebih baik. Jadi, ibunda dan ayahanda pangeran berusaha mencari putri yang cocok untuk dinikahi anaknya. Metode mereka masih sama, yaitu si putri disuruh bermalam di istana, tidur di atas tumpukan ratusan kasur, yang di dasarnya ditaruh sebutir kacang. Ya, tentu aja nggak ada yang bisa ngerasain itu kacang sebiji doang di atas tumpukan kasur yang tebel!

Now this went on for three years. And of course nobody ever felt the pea under one hundred mattresses. The one day the Prince met the girl of his dreams. He decided he better do something about it. He decided he better do something about it. That night, before the Princess went to bed, the Prince slipped his bowling ball under the one hundred mattresses.


description
Gambarnya dari sini


What a tricky prince! xDD Tapi, kalo saya jadi si pangeran, saya juga desperet kali, kalo harus nyari istri yang sesuai dengan kriteria absurd ayahanda dan ibunda semacam itu. Jadi, saya suka banget sama si pangeran yang cerdas ini!! :DD

Dan, cerita ini pun ditutup dengan...

And everyone lived happily, though maybe not completely honestly, ever after. The End.


Tapi, jangan khawatir. Ceritanya nggak berakhir di pangeran yang menemukan pujaan hatinya itu kok. Masih ada cerita-cerita lainnya yang bener-bener lucu. Seperti kisah "The Really Ugly Duckling" yang dengan pedenya berpikir bahwa ketika dewasa dia akan bermetamorfosis menjadi seekor angsa yang menawan, atau cerita "Little Red Running Shorts" yang selalu pake celana lari warna merah dan larinya jauh jauh lebih cepat dari si serigala (ROFL), ditambah dengan cerita "Jack's Bean Problem" yang nggak bisa ngelanjutin cerita karena si raksasanya (yang selalu pake huruf kapital kalo ngomong) ngambek! yang bener-bener bikin perut saya sakit.

Lalu, ada juga cerita tentang Rumplestiltskin yang nyasar ke rumah Cinderella dan nawarin gadis itu benang jerami yang bisa dipintal jadi emas (yang ditolak dengan sopan oleh Cinderella karena dia hanya butuh gaun!! xDD). Selanjutnya ada cerita "The Tortoise and the Hair" yang becerita tentang perlombaan antara si kura-kura dan kelinci. Lah, terus kenapa judulnya "The Hair"?? Baca aja sendiri ya sodara-sodara...

Dan, saya nggak bisa berhenti ingin menceritakan buku ini. Jadi, seperti kata Jack si narator, mending kita sudahi saja ripiu nggak jelas saya, sebelum saya ngasih spoiler ke kalian semua.

Lima bintang untuk buku yang telah menggaet banyak penghargaan ini, mulai dari Caldecott Honor (1993), Texas Bluebonnet Award (1995), Buckeye Children's Book Award for K-2 (1995), sampai Flicker Tale Children's Book Award (1994). Jadi, buku ini masuk kategori Fun Months 1, di reading challenge ini.



Melihat cerita yang nyeleneh dan humor-humor yang aneh (nggak aneh-aneh banget sih, biar cocok aja sama rimanya xp), menurut saya cerita ini cocok untuk dibaca anak-anak di atas usia 8 tahun. Lebih baik lagi jika mereka sudah baca versi awalnya terlebih dahulu, jadi ketawanya pasti bisa lebih kenceng!! xD

Yang jelas, buku ini bisa dinikmati juga oleh orang dewasa, karena humornya yang lucu dan buku ini nggak perlu dibaca pake mikir. Cukup nikmati gaya bertutur sang penulis lewat Jack, dan biarkan diri kalian terbawa dalam negeri dongeng yang kalo tokohnya begini semua jadi sama sekali nggak indah ini.. (*≧▽≦)ノシ))

P.S. Umm.. Sebenernya ripiu saya udah beres, tapi biar si Little Red Hen berhenti ngoceh, saya mau bilang kalo cerita dia juga bagus meskipun agak jayus
ヽ(´ー`)

View all my reviews

January 30, 2013

Danny dan Ayah Terbaik di Seluruh Dunia


Danny the Champion of the World by Roald Dahl
My rating: 4 of 5 stars

Danny adalah seorang anak laki-laki yang tidak punya ibu. Ibunya meninggal ketika Danny masih bayi. Danny hanya punya ayah, dan mereka berdua tinggal di sebuah karavan tua yang dulu digunakan oleh kaum gipsi. Meskipun nggak punya ibu dan hidup mereka pas-pasan, Danny nggak sekalipun merasa kekurangan. Kenapa? Karena ia memiliki ayah terhebat di seluruh dunia... (*^^*)

Ayah Danny adalah seorang montir. Ia punya sebuah bengkel kecil di dekat karavannya. Meskipun kecil, tapi ia adalah montir yang sangat hebat. Ia juga sangat bertanggung jawab dan sayang banget sama Danny. Sekalipun sibuk menghidupi keluarga kecilnya, ayah Danny nggak pernah mengeluh dan selalu memperhatikan putra semata wayangnya. Satu hal yang buat saya kagum, ayah Danny tak pernah absen mendongeng setiap malam untuk anak terkasihnya itu. Lovely! 。◕‿◕。

Tinggal hanya berdua dengan ayah yang seorang montir membuat Danny pun ahli mengutak-atik kendaraan. Satu hal (lagi) yang saya kagum dari ayahnya Danny, dia tampaknya begitu yakin dengan pendiriannya dan masa depan anaknya. Jadi, sebenarnya si Danny ini harusnya udah sekolah kalo umurnya sudah 5 tahun. Tapi si ayah berdiskusi dengan si anak (seakan si Danny udah 15 tahun dan bukan 5 tahun) dan bilang kalau Danny boleh sekolah kalau dia sudah berusia 7 tahun. Bukan... Ayahnya Danny bukannya gila dan nggak mementingkan pendidikan. Dia mau anaknya jadi pandai, tapi dia juga tahu kalau Danny mencintai pekerjaan di bengkel itu. Dan sejak usia sangat muda, ayah Danny sudah mengajarkan anaknya untuk menjadi ahli mesin terhebat di dunia.

Ada lagi yang bikin saya kagum sama ayahnya Danny (dari tadi nambah mulu daftarnya xp #gakapok), dia itu senang bikin hidup anaknya menjadi petualangan seru. Misalnya aja nih ya, dia bikinin anaknya sebuah 'mobil-mobilan' yang bisa dikendarai Danny! Lalu mereka main layangan berdua. Habis itu bikin balon udara sendiri. Aduuhh.. Bahagia banget si Danny punya ayah seperti itu... #mupeng

Walaupun tampak sempurna. Ayah Danny bukannya tanpa cela. Ia memiliki rahasia yang dalam dan kelaamm.. Ternyata. Ayahnya Danny. Adalah. Raksasa. Dia raksasa yang suka ambil mimpi dari anak-anak kecil! Sounds familiar? Wajar aja, soalnya raksasa ini pernah muncul di cerita opa Dahl lainnya. Itu lo, si BFG alias Big Friendly Giant a.k.a Raksasa Besar yang Baik.

Jadi, ayah Danny suka pergi malam-malam buat datang ke rumah-rumah yang ada anak kecilnya. Dia menangkap mimpi anak-anak. Mimpi indah dan mimpi buruk mereka. Ia lalu menghancurkan mimpi buruk, dan mengolah mimpi indah mereka menjadi mimpi yang menakjubkan. Fabulous!

Dan...

Ya, saya berbohong. Ayah Danny bukan raksasa dan dia nggak suka ngambil mimpi anak-anak... xp #ngumpetdibalikBFGasli

Tapi ayah Danny emang suka kelayapan malam-malam. Hhmm... Sebenarnya itu pertama kalinya ayah Danny keluar malam-malam, dan kebetulan Danny terbangun lalu tahu kalau ayahnya nggak ada. Padahal biasanya Danny nggak pernah terbangun malam-malam begitu. Mungkin memang meskipun matanya terlelap, tapi hatinya masih bisa merasakan kali ya... #tsaahh

Jadi, di malam itu, ketika ayah Danny tiba-tiba pergi ke luar rumah malam-malam, Danny jadi tahu rahasia terdalam ayahnya. Ayah Danny itu... Ternyata... Suka... Berburuu!!!

Bukan berburu biasa, tapi melakukan perburuan liar. Sangar. Gahar. #dikemplangsampeLondon Maksudnya, dia itu berburu hewan yang bukan miliknya. Hewan-hewan yang dia buru adalah ayam pegar atau burung pegar (sejenis ayam besar, yang rada-rada mirip kalkun) milik tuan tanah setempat, Mr. Hazell.

Mr. Hazell ini orang yang sangat menyebalkan. Dia pernah memperlakukan Danny dengan kasar ketika ingin mengisi bensin, yang bikin ayah Danny naik pitam dan mengusir si tua bangka itu. Esoknya, datanglah sekompi (lebaayy xp) petugas yang menanyakan kesanggupan ayah Danny merawat anak sekecil itu.

Buat saya, kisah perburuannya sih nggak terlalu menarik. Saya lebih suka dengan hubungan antara ayah dan anak ini, yang menurut saya "so sweetttt!!!" (*≧ω≦)ノ (langsung kena diabetes)

You see, the real reason I didn’t want anyone else to come back and play with me was because I had such a good time being alone with my father.


Terlihat sekali bagaimana Danny begitu mengagumi ayahnya. Sementara sang ayah, memuja putra lelakinya itu. Hubungan kasih sayang di antara mereka tampak begitu nyata, sehingga saya berpikir "Oh, Danny.. What a lucky boy you are..." Nggak semua orang beruntung punya ayah seperti ayahnya Danny. Bahkan opa Dahl sendiri kehilangan ayahnya di saat masih begitu muda.

Ah ya, saya juga suka sekali dengan tokoh-tokoh pendukung di kisah ini. Sejauh ini, tokoh-tokoh di dalam kisah inilah yang paling banyak orang-orang menyenangkannya, di luar tokoh utama Danny dan ayahnya. Misalnya saja si dokter tua yang sangat baik, lalu Sergeant Samways yang ngomongnya aneh (kata-kata yang ada huruf 'h', 'h'-nya justru ilang, tapi yang nggak ada 'h' justru ditambahin 'h', yang bikin saya lumayan bingung xD), kepala sekolahnya Danny, dll.

Ngomong-ngomong, kenapa saya mencatut-catut nama BFG, soalnya di cerita ini BFG memang muncul. Tokoh-tokoh dari masa lalu Opa Dahl juga muncul di sini. Misalnya si guru yg suka mukul muridnya pakai tongkat. Ditambah lagi si guru ini ternyata namanya ada "Captain"-nya pula, yang sama dengan gurunya Opa Dahl dulu.

He had been a captain in the army during the war against Hitler and that was why he still called himself Captain Lancaster instead of just plain Mister. My father said it was an idiotic thing to do. There were millions of people still alive, he said, who had fought in that war, but most of them wanted to forget the whole beastly thing, especially those crummy military titles. Captain Lancaster was a violent man, and we were all terrified of him.


Kelihatan sekali cara menyindir opa melalui kutipan di atas. Selain itu, tampaknya dia juga nggak suka acara berburu-berburu untuk kesenangan, yang suka dilakukan oleh orang-orang Inggris jaman dulu (langsung inget Downton Abbey X)). Baginya, hal itu sangat buruk, hingga perbuatan ayah Danny (yang mungkin bisa digolongkan sebagai pencurian), masih lebih mulia buat opa.

Terlepas dari itu semua, buat saya cerita ini patut dibaca oleh anak-anak di atas usia 7 tahun, tapi tentunya dengan bimbingan orang tua. Lebih bagus lagi jika dibacakan oleh ayah kepada anak lelakinya. Pasti ikatan di antara mereka akan semakin erat... :)

Ditambah lagi dengan pesan dari Opa Dahl di akhir cerita yang menurut saya sangat menohok setiap orang tua...

A MESSAGE

to Children Who Have Read This Book

When you grow up

and have children of your own

do please remember something important

a stodgy parent is no fun at all

What a child wants

and deserves

is a parent who is

SPARKY


Dan.... setiap ayah pasti sangat bangga dan bahagia jika buah hati mereka berujar seperti ini di hadapannya, dan tidak diragukan lagi, ia akan menjadi "Champion of the World"...

What I have been trying so hard to tell you all along is simply that my father, without the slightest doubt, was the most marvellous and exciting father any boy ever had.
Review ini saya ikutkan dalam event FYE di blog Bacaan Bzee. Buku ini memenangkan penghargaan


Lalu, karena ada namanya juga... Maka tampaknya buku ini pun masuk ke challenge saya berikutnya, yaitu...


Satu lagi, karena saya bacanya dalam bahasa Inggris.. :DD


P.S. Wahahaa.. Menang banyak nih satu post kena tiga challenge sekaligus.. Sering-sering aja begini xDD


View all my reviews

The Casual Vacancy: Bersyukurlah tak Ada Hantu Barry Fairbrother di Sekitar Kita


The Casual Vacancy by J.K. Rowling
My rating: 4 of 5 stars

Apa jadinya jika orang-orang paling menyebalkan di dunia berkumpul dalam satu tempat? Saya curiga, tempat itu akan bernama Pagford. Sebuah kota kecil di Inggris, yang menjadi tempat baru dari novel terbaru J.K. Rowling, "The Casual Vacancy".

Dan, izinkan saya memperkenalkan orang-orang di novel ini, satu per satu...

Barry Fairbrother
Tokoh yang 'dibunuh' Rowling di kesempatan pertama. Melalui tokoh-tokoh lainnya, kita jadi tahu kalau Barry ini adalah sosok lelaki menyenangkan yang dicintai banyak orang. Ia adalah seseorang yang from zero to hero, jadi dia tahu persis bagaimana rasanya berada di bawah, ketika dunia tidak menginginkanmu, dan di atas, ketika dunia menjadi sahabatmu. Ia dengan gigih memperjuangkan Fields, tempat yang menjadi persengketaan di Pagford yang juga jadi tempat tumbuh Barry ketika kecil dulu. Fields memiliki sejarah yang rumit, yang membuatnya dibenci sebagian orang Pagford (terutama yang tua-tua bangka xp), dan ingin melepaskan tempat itu.

Barry meninggal dunia karena aneurisme atau pecahnya pembuluh darah di otak. Sebelum meninggal--di hari peringatan ulang tahun pernikahannya--ia menderita sakit kepala luar biasa, hingga tergolek lemah tak berdaya di parkiran sebuah restoran bersama istrinya.

Mary Fairbrother
Istri Barry yang tidak sepenuhnya mendukung kegiatan politik suaminya, yang dengan gigih memperjuangkan Fields. Setelah Barry meninggal, Mary bahkan membenci segala sesuatu yang ada di Fields, termasuk Krystal Weedon, seorang anak SMA yang menjadi ikon Fields. Menurut Mary, Barry terlalu terobsesi pada dua hal itu: Fields dan Krsytal.

Di mata saya, Mary adalah sosok istri yang angkuh dan tidak kooperatif. Dia juga lemah. Ya, memang semua orang pasti akan jadi lemah kalo suaminya meninggal sih, tapi come on! U're not the only widow in this whole wild world! Apalagi, sikap Mary yang membenci Fields dan Krystal itu, bikin saya makin antipati sama dia...

Terri ini lemah. Meskipun dia nggak mau Robbie diambil, tapi perjuangannya dia itu nggak terlalu besar. Begitu tetangganya, Obbo, menawarinya obat terlarang, Terri akan langsung menyambarnya, dan melupakan janjinya pada Krystal, yang membuat anaknya itu berang.

Colin Wall
Wakil kepala sekolah SMA Winterdown, tempat Krystal dan anak-anak lainnya di buku ini bersekolah. Dia dijuluki Cubby oleh semua anak di sekolah itu, termasuk oleh anak lelakinya. Colin menganggap dirinya sebagai sahabat terbaik Barry, dan orang yang paling bersedih atas kematiannya. Ia juga merasa bertanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan Barry di anggota dewan, hingga berniat untuk mencalonkan diri.

Menurut saya, dia ini sosok lelaki yang polos dan naif. Orang yang pantas dikasihani, karena hal-hal yang di luar kendalinya membuatnya bertindak seperti itu. Sampai akhir saya masih dibuat bingung dengan perasaannya terhadap anak lelakinya, Fats.

Dia adalah korban ketiga dari "Hantu Barry Fairbrother".

Tessa Wall
Istri Colin yang selalu berada di tengah-tengah dan menjadi perantara. Ia menjadi perantara atas hubungan anak dan suaminya yang sangat buruk. Ia juga jadi perantara antara Mary (yang nggak terlalu suka sama Colin) dan suaminya. Jadi perantara juga di sekolah karena statusnya sebagai guru BP. Dia seolah hidup untuk orang lain. Memperhatikan orang lain, tapi tak ada seorangpun yang memperhatikannya. Di akhir cerita, saya suka dengan sikap tegas dan tanpa ampunnya pada anaknya.

Fats Wall
Fats sebenarnya bukan nama aslinya. Namanya Stuart. Dia adalah anak lelaki satu-satunya dari keluarga Wall yang sangat kurang ajar. Jujur, dialah sosok yang paling saya benci di novel ini. Fats, Stuart, atau Arf, senang mengolok-ngolok orang lain. Sasaran favoritnya adalah Sukhvinder Jawanda, yang dibombardirnya dengan kata-kata kasar dan menyakitkan. Benar-benar anak tak tahu sopan santun, yang sangat sangat sangat menyebalkan.

Fats membenci ayahnya, dan nggak segan-segan menghina ayahnya itu di depan teman-temannya. Sebagai bahan lelucon. Dia adalah remaja labil yang selalu ingin bertindak secara autentik, agar orang-orang mengingatnya. Sepertinya Fats menganggap dirinya paling menderita sedunia, karena memiliki ayah seperti Colin. Dia nggak sadar, kalau ayahnya jauh-jauh lebih baik dari ayah sahabatnya sendiri, Andrew Price.

Satu lagi, Fats menjalin hubungan dengan Krystal. Bukan hubungan yang serius, karena sepertinya Fats hanya memanfaatkan Krystal karena fisiknya yang indah.

Andrew Price
Sahabat Fats Wall, seorang anak lelaki yang serba biasa. Tampangnya biasa, otaknya juga biasa-biasa aja. Tapi, ia punya seorang ayah yang luar biasa. Ayahnya gemar memukuli dan menyalahkan semua anggota keluarganya atas perbuatan yang bahkan nggak mereka lakukan. Perbuatan yang dilakukan Andrew di kemudian hari membuat perubahan besar bagi keluarganya.

Simon Price
Tokoh paling menyebalkan selanjutnya di novel ini. Sebenarnya, peringkat dia dengan Fats mungkin sama kali, ya... Simon ini lelaki pemarah yang ringan tangan, alias nggak segan-segan menghajar seluruh anggota keluarganya yang terdiri atas istri dan kedua anak lelakinya. Panggilan yang disematkannya kepada anak-anaknya benar-benar menjijikan. Ia memanggil Andrew si Muka Piza karena wajah Andrew yang penuh jerawat, dan anak bungsunya Pauline (nama aslinya Paul) karena anaknya itu bersikap seperti anak perempuan yang penakut karena sangat takut padanya.

Simon adalah korban pertama dari "Hantu Barry Fairbrother", yang sangat pantas diterimanya, karena dia adalah lelaki kotor, busuk, dan menjijikan. Tanpa tahu malu dia turut mencalonkan diri sebagai pengganti Barry, karena menganggap dia akan bisa dapat uang banyak dari sana.

Ruth Price
Ibu Andrew yang penakut dan tunduk di bawah suaminya. Ruth benar-benar bukan sosok ibu yang baik, karena dia nggak bisa melindungi anak-anaknya di depan kekejaman suaminya. Terkadang, ia justru membela dirinya sendiri, yang membuat kemarahan Simon semakin menjadi-jadi. Andrew yang awalnya menaruh simpati padanya, justru berbalik menjadi muak padanya.

Gaia Bawden
Si cantik jelita yang baru pindah ke Pagford dari London. Gaia benci Pagford dan mulai membenci ibunya, yang karena cintanya pada Gavin, membuat ia harus terdampar di kota kecil itu. Meskipun pada awalnya ia tidak serius berteman dengan Sukhvinder Jawanda, akhirnya ia jadi sahabat Sukhvinder juga. Andrew tergila-gila padanya.

Kay Bawden
Ibu Gaia, yang bekerja sebagai petugas sosial. Dia sempat mengurus keluarga Weedon, ketika petugas yang harusnya mengurus keluarga itu sedang cuti. Kay adalah sosok yang penuh percaya diri dan sedikit angkuh. Dia membesarkan putrinya seorang diri di London, sebelum pindah ke Pagford karena jatuh cinta pada Gavin. Tepatkah keputusannya itu? Apalagi ternyata Gavin tampaknya tidak terlalu serius dengannya...

Gavin Hughes
Si cowok mencla mencle yang bikin saya pengen nendang dia sampai dasar Sungai Orr. Gavin nggak nyangka Kay sampai rela pindah ke Pagford demi dirinya, padahal dia nggak secinta itu sama Kay. Kenyataannya, dia justru memanfaatkan Kay atas hidupnya yang kesepian dan nggak punya orang yang mencintainya... Sikapnya yang benar-benar nggak punya pendirian itu bener-bener bikin saya kesel dan pengen gantung dia di atas puun toge berdaun jarang.. -_____-

Parminder Jawanda
Parminder adalah sosok wanita yang keras dan kaku. Ia seorang dokter dan juga ibu dari Sukhvinder. Ia duduk bersama Barry di dewan kota Pagford, dan turut berjuang bersama lelaki itu dalam mempertahankan Fields. Setelah Barry tiada, apa lagi yang tersisa darinya untuk mempertahankan bagian kota yang bahkan nggak punya hubungan dengannya itu?

Parminder adalah korban kedua dari "Hantu Barry Fairbrother".

Sukhvinder Jawanda
Putri Parminder yang menjadi sasaran bullying dari Fats. Dia tidak pandai seperti ibu dan ayahnya yang seorang dokter, yang membuatnya semakin terpuruk dan rendah diri. Apalagi, ibunya selalu menuntutnya dan kerap mengatainya pemalas, tanpa menanyakan lebih dalam lagi perasaan anaknya itu. Menurut saya, sosok Sukhvinder adalah sosok yang paling mengalami perkembangan dan kematangan dari awal hingga akhir cerita.

Howard Mollison
Salah seorang anggota dewan yang juga sebagai orang yang dituakan di Pagford. Dia dan kroco-kroconya menentang Fields masuk ke wilayah Pagford, yang menjadikannya musuh politik Barry. Kenapa sih Fields sebegitu ditentangnya? Soalnya, orang-orang asli Pagford itu narsis luar biasa atas keindahan kota kecil mereka, dan nggak rela kalo Fields yang kotor dan berisi orang-orang yang disebut sebagai 'sampah masyarakat' jadi bagian dari kota kecil yang cantik itu...

Dialah korban terakhir "Hantu Barry Fairbrother", yang memang pantas dia terima, meskipun isinya cukup mengejutkan saya. Oh iya, Howard itu tipe om-om hidung belang yang seneng liat gadis muda.

Shirley Molllison
Istri Howard yang saya benci. Bagi saya dia munafik dan delusional. Dia memainkan perannya sebagai seorang istri yang sempurna dan luar biasa di hadapan umum, meskipun sebenarnya satu-satunya yang dia pikirkan hanyalah kedudukan di masyarakat. Tipikal ibu-ibu tukang gosip menyebalkan, yang selalu melihat orang lain dari sisi buruknya saja...

Miles Mollison
Anak Howard, seorang pengacara sukses yang begitu dibanggakan oleh sang ayah dan bunda. Miles ini lumayan gila hormat menurut saya. Hhmm.. Lebih tepatnya gila pangkat kali ya? Yah, pokoknya dia pengen meraih puncak gemilang cahaya di kota kecil itu. Ketika Barry meninggal, dia menganggap inilah saatnya dia untuk tampil dan menggantikan sosok Barry, yang dipuja banyak orang.

Samantha Mollison
Istri Miles. Tante-tante seksi yang doyan brondong. Dia merasa muak dengan kehidupannya, dan terutama.. sama orang tua Miles. Dia punya obsesi tersendiri dalam hidupnya, yang sayangnya nggak terwujud karena suaminya terlalu gencar mengejar karir dan prestise.

Terri Weedon
Ibu Krystal yang pecandu narkoba. Ia punya empat anak, dari lelaki yang berbeda-beda. Dua anak pertamanya diambil darinya karena ia dinilai tidak sanggup untuk merawat mereka. Sedangkan Krystal 'selamat', berkat nenek Terri, Nana Cath, yang merwat Krystal. Anak bungsunya, Robbie, yang terancam akan diasuh oleh negara jika ia tidak juga berubah. Untungnya, Krystal dengan telaten mengasuh Robbie (meskipun nggak selalu dengan kata-kata manis), yang membuat para petugas sosial masih membiarkan Robbie bersamanya.

Krystal Weedon
Si gadis kontroversial yang dicap sebagai cewek nakal di novel ini. Lahir dan besar di Fields, dari seorang ibu pecandu narkoba, yang rela memberikan segala-galanya demi barang laknat itu. Krystal bukan seorang gadis yang pandai. Dia kasar (pernah meninju salah seorang putri Miles Mollison sampai giginya rontok), blak-blakan, dan impulsif. Satu hal yang dibanggakan Krystal adalah, ketika ia memenangkan pertandingan dayung, dengan Barry sebagai pelatihnya. Krystal adalah salah satu alasan kuat yang digunakan Barry, untuk tetap mempertahankan Fields.

Sekarang saya tahu kenapa banyak orang bersimpati pada sosok yang satu ini. Krystal yang kuat dan tegar memang pantas untuk dijadikan tokoh favorit. Meskipun dia dianggap nggak memiliki moral (menurut saya, standar moralnya Krystal aja yang mungkin memang beda, sama kayak Lisbeth Salander), tapi dia tidak seperti orang Pagford lainnya yang munafik dan selalu memakai topeng. Menurut saya, Krsytal adalah sosok yang paling jujur di novel ini, yang membuat hati saya terenyuh...

Krystal terobsesi pada adiknya, Robbie, dan kakak perempuan yang tidak pernah dilihatnya...

Saya menutup "The Casual Vacancy" dengan perasaan puas. Puass. Sejak awal membaca, saya memang sudah mengingatkan diri saya untuk tidak membandingkannya dengan Harry Potter, karena mereka benar-benar dua hal yang berbeda. Tidak adil rasanya jika dua novel dari genre yang berbeda (dengan kesamaan 'hanya' di penulisnya), lalu dibanding-bandingkan. Rasanya seperti membandingkan dua orang anak yang memilih jalur yang berbeda (misalnya yang satu jadi dokter terus yang satunya jadi wartawan). Meski mereka tetap hebat di bidangnya masing-masing, orang-orang menganggap anak yang satu lebih sukses dan lebih hebat hanya karena status mereka. Dan, hey! Itu sama saja dengan membandingkan antara Percy dengan Fred dan George! Tidak. Itu sangat sangat tidak adil.

Jadi, menurut saya novel terbaru J.K. Rowling inipun tetap hebat dan membuktikan bahwa dia benar-benar penulis yang mampu menulis genre apapun. Terjemahannya pun sangat enak dibaca, meski memang bagian percakapan keluarga Weedon yang nggak berpendidikan terkadang terdengar janggal di telinga saya.

Tak salah jika saya memberikan 4 dari 5 bintang untuk novel luar biasa ini. Tiga bintang untuk J.K. Rowling yang dengan cerdasnya mampu menangkap sisi buruk dan busuk dari masyarakat ini. Dia membuktikan bahwa penulis memang sosok yang peka dan mampu melihat kejanggalan dari masyarakat. Meskipun sebenarnya saya agak kecewa sedikit, karena berharap intrik politiknya bakal lebih seru. Tapi sepertinya Rowling lebih senang melakukan pendekatan psikologis melalui isi kepala tokoh-tokohnya. Oh iya, satu bintang lagi saya berikan untuk Krystal dan Robbie Weedon yang.... :') #isisendiri

Jika di awal saya mengatakan bahwa Pagford adalah kumpulan orang-orang paling menyebalkan di dunia dijadikan satu, maka sesungguhnya bisa jadi lingkungan kita pun merupakan gambaran dari Pagford juga. Tetangga kita yang terlihat baik hati dan dikagumi, bisa jadi sebenarnya adalah orang yang tamak dan tidak bersikap adil kepada keluarganya. Anak jelek dan murung yang setiap hari kita temui, bisa jadi mengalami kekerasan di rumahnya. Wanita yang giat memperjuangkan hak orang lain itu, bisa jadi hanya mengejar popularitas dan prestise belaka....

Atau jangan-jangan, justru kita sendiri yang memiliki kebusukan dalam hati kita.... Jika ya, maka kita harus bersyukur karena tidak ada "Hantu-hantu" lain yang menguak hal itu, dan membuat orang-orang tau betapa buruknya diri kita....

January 28, 2013

Harry Potter dan Batu Bertuah


Harry Potter and The Sorcerer Stone - Harry Potter dan Batu Bertuah by J.K. Rowling
My rating: 4 of 5 stars

Perkenalan saya dengan Harry Potter bisa dibilang agak terlambat. Ketika saya duduk di bangku SMP, buku Harry Potter sebenarnya sudah cukup booming, tapi saya ogah baca. Ya, soalnya saya ini rada-rada ga mainstream orangnya. Waktu teman-teman saya tergila-gila dengan segala hal yang berbau Hollywood, saya dan beberapa orang teman malah maniak komik dan anime Jepang. Waktu teman-teman saya heboh soal Meteor Garden dan betapa gantengnya EFSE, saya cuma mendengus dan ga ada minat buat nonton sama sekali. Eh, ga nyambung ya? Yah, pokoknya saya baru kenalan sama Harry ketika SMA, itupun secara nggak sengaja...

Jadi, ketika saya duduk di bangku SMA itu, kalau nggak salah Harry Potter sudah sampai buku ke-4, dan buku kelimanya akan segera terbit. Tapi, saya belum baca sama sekali dan sejujurnya nggak minat buat baca itu. Sampai suatu ketika..., saya pergi ke rumah salah seorang teman saya. Di sana, saya melihat buku Harry Potter teronggok manis di mejanya, seakan memanggil-manggil saya untuk baca. Saya pikir, nggak ada salahnya, karena saya suka baca dan... Yah, i'll give it a try...

Jadilah saya membawa pulang buku itu, bersama buku pertama Lord of the Rings yang juga punya teman saya. Iya, saya ini emang tukang minjem, soalnya keluarga saya itu biasa-biasa aja, uang jajan saya juga biasa-biasa aja, jadi biarpun nabung, agak lama juga kalo mau ngoleksi itu buku Harry Potter. Yang saya beli ketika SMA itu kebanyakan novel-novel Islami yang diterbitkan oleh FLP ataupun komik-komik, yang (saat itu) masih cukup terjangkau kantong. Soalnya, saya cuma bisa beli novel kalo abis dari rumah mbah, dan dikasih uang jajan sama mereka. Hohohoo.. Lagian juga, kayaknya ortu saya rada nggak mendukung hobi baca saya. Terutama ibu saya, yang menyamakan semua buku sebagai komik, meskipun yang saya baca itu adalah novel...

Makanya, saya suka iri sama anak-anak yang ortunya hobi baca dan memfasilitasi mereka. Bersyukurlah kalian kalo punya ortu kayak gitu. Soalnya di rumah, saya doang yang gila baca. Hhmm.. Bapak saya juga sih, lumayan. Dan bisa dibilang, berkat majalah Bobo yang dibelikan bapak untuk saya setiap minggulah saya jadi doyan baca. Tapi tetep sih, cuman saya yang paling doyan baca di antara keluarga-keluarga saya. Ya, seenggaknya nanti kalau saya punya anak, dia nggak perlu mengalami nasib seperti saya, karena saya akan memfasilitasinya. Bahkan mungkin, nanti kami malah berantem karena sama-sama nggak mau ngalah baca buku yang sama lagi.. Hahaha

Okay, balik ke Harry Potter. Saya menikmati membaca buku yang saya pinjam dari teman saya itu. Meskipun, ehem, ternyata urutan baca saya salah...! Iya, salah. Saya bacanya yang kedua dulu, "Harry Potter dan Kamar Rahasia", bukannya "Harry Potter dan Batu Bertuah". DOARR!! Soalnya, bukunya kan mirip tuh sampul depannya (buku ke-1 sampe ke-3 kan emang sama semua warna sampulnya), dan saya nggak ngeh kalo ternyata ada angka penunjuk serinya di bagian samping buku. Dodol banget ya? Tapi, biarlah... Soalnya, ternyata saya bisa menikmati buku kedua dengan baik, dan bikin saya penasaran sama Harry, terus pinjem buku pertamanya deh.

Lalu, sekitar sepuluh tahun kemudian, saya kembali baca buku pertama Harry ini. Hhmm.. Sebenarnya kayaknya sih gak tepat sepuluh tahun, karena ini mungkin udah ketiga atau keempat kalinya saya baca buku pertama Harry Potter ini. Membaca kembali Harry Potter di kala saya sudah menyandang status sebagai orang dewasa, tentu saja rasanya berbeda dengan dulu, ketika saya masih remaja dan imut-imut. #ehem

Dulu, ketika saya baca buku ini, saya menerima mentah-mentah apa yang disodorkan oleh J.K. Rowling kepada saya. Gimana awalnya Harry dibawa ke Privet Drive, Hagrid yang ujung-ujug dateng ke gubuk di tepi pantai buat ngasih surat penerimaan Hogwarts sambil ngerayain ulang tahun Harry di antara keluarga Dursley yang menyebalkan (bagian favorit saya), perjumpaan pertama Harry dengan Professor Quirrell (yang dengan polosnya saya nggak menduga ada apa-apa disana), lalu pertemuan dengan Ron dan Hermione, perjalanan di Hogwart Express, ketemu Malfoy dan dedengkot-dedengkotnya, dan segala petualangan seru selama di Hogwarts, terutama bagaimana dengan pandainya Rowling menggiring pembaca agar berpikir bahwa Snape is the bad one. Oh, poor Snape...

Ya, Rowling memang dengan begitu cerdasnya telah menggiring pembacanya untuk mengikuti 'peraturan'-nya. Dan, tentu saja kita hanya bisa menerimanya. Yaiyalah.. Kalo nggak, tutup aja bukunya! Lempaarr!! #ganyante

Bukan berarti saya nggak suka digiring-giring opininya sama si JK Rowling, karena emang suka-suka dia juga bukunya mau diapain. Cuma, ketika saya baca ulang, sekarang saya jadi semakin sadar kalo dia memang benar-benar seorang penulis yang cerdas. Brilian.

Seperti yang kita ketahui bersama, buku pertama ini adalah awal dari segalanya. Awal dari dunia ajaib yang diciptakan Rowling dengan begitu luar biasanya. Di buku pertama ini, kita diajak untuk mengenal Harry Potter, si anak lelaki yang bertahan hidup, seorang anak yatim piatu yang harus tinggal dengan bibi, paman, dan sepupu lelakinya yang menyebalkan (Yah, semuanya menyebalkan..). Akhirnya, Harry tahu kalau dia penyihir, dan dimulailah tahun pertamanya di Hogwarts, sekolah sihir yang bagi saya tampak seperti sekolah paling menyenangkan di seluruh dunia.

Ya, Rowling memang patut diacungi jempol, karena ia sangat berhasil menciptakan sebuah dunia fantasi yang ajaib dan baru, dan membuat setiap pembacanya mampu tersedot ke dalamnya. Kekuatan deskripsi Rowling juga sangat luar biasa, karena dia bisa bikin saya turut ngerasa nyobain kacang segala rasa Bertie Bott's (rasa kotoran telinga! yucks!), merasa seolah bersama Ron dan Hermione nonton pertandingan Quidditch (dan bergidik ngeri waktu Harry hampir jatuh dari sapunya) yang heboh itu, ikutan ngeces dan ngiler luar biasa pas acara makan-makan Hogwarts, dan ikutan ngeri ketika mereka kena detensi dan harus masuk ke Hutan Terlarang.

Satu hal yang bikin saya tersadar (dan jadi agak sebel juga) setelah baca ulang adalah saya ngerasa si Harry ini kok sotoy dan kepo banget ya? Soalnya dia ngotot banget gitu mau lawan Voldemort sendirian. Padahal, tahu dunia sihir aja baru kemaren, sihirnya juga ga jago-jago amat (ya dibandinginnya sama Hermione, jelaslaahh... xp), masih bocah pun, ngapain sih pake repot-repot sok berani gitu mau lawan si Voldie?

Tapi mungkin memang itu yang harus terjadi. Tanpa disadari Harry, bisa jadi memang sudah terjalin ikatan yang begitu erat antara dia dan Voldie, yang bikin Harry ngerasa dia harus berhadapan langsung, face to face, sama si makhluk ga punya idung itu. Apalagi memang Harry-lah orang yang paling sial, kalau si Voldie kembali bangkit. Dia (yang nggak punya apa-apa) harus kehilangan dunia yang baru dik enalnya, dunia tempat dia seharusnya berada, dan kembali pada keluarga (kalo emang bisa dibilang keluarga) Dursley yang menyebalkan itu.

Oh iya, setelah saya baca seri Chrestomanci-nya Diana Wynne Jones, saya jadi kepikiran... Apa jangan-jangan si Voldemort ini semacam enchanter yang kalau namanya disebut, dia bisa langsung dateng ke tempat itu? Kalau iya, itu jadi menegaskan kenapa orang-orang pada takut nyebut nama aslinya, dan hanya berani nyebut dia dengan "Kau tahu siapa"...

4/5 bintang untuk "Harry Potter dan Batu Bertuah", yang kisahnya, serta terjemahannya, benar-benar luar biasa dan sanggup membius saya. Menurut saya, buku ini cocok untuk dibaca siapa saja, baik anak-anak ataupun orang dewasa. Kalau anak-anak, mungkin cocok dibaca dari usia 7 tahun-an kali ya...

P.S. Saya jadi ingat, kalau dulu saya pernah baca, bahwa JK Rowling sempat nyesel karena judul bukunya diubah jadi "Harry Potter and the Sorcerer's Stone" buat versi Amerikanya. Katanya, kalo saat itu dia udah punya posisi tawar yang kuat, dia pasti nggak akan mau ngubah kata "Philosopher's Stone" jadi "Sorcerer's Stone", karena maknanya yang memang berbeda (meskipun saya nggak terlalu ngerti bedanya dimana... xp).

P.S.2. Review ini dalam rangka event Hotter Potter Event di blog surgabukuku.


Sekaligus di FM1s di Bacaan Bzee, karena buku ini adalah salah satu buku kontroversial ketika pertama kali terbit, tapi setelahnya dapat sederetan penghargaan yang bisa dilihat sendiri di situs Goodreads, karena benar-benar buanyaakkk...


Dan satu lagi, di "What's in a Name Reading Challenge" di blog Ren's Little Corner.


Sekali bikin post, tiga challenge terlampaui.. :D

January 21, 2013

New Authors Reading Challenge 2013


Semoga ini jadi challenge terakhir saya tahun ini (dari kemaren ngomongya gitu, tapi akhirnya nambah lagi.. nambah lagi.. -,-). Dan... challenge itu adalah...


Challenge yang satu ini kembali diadakan oleh Ren, di Ren’s Little Corner. Disini, saya ditantang untuk membaca buku-buku karya pengarang yang belum pernah saya baca sebelumnya. Kebetulan di antara buku-buku yang jadi timbunan saya, banyak juga karya pengarang-pengarang yang baru bagi saya. Ditambah lagi, challenge-nya boleh digabung sama yang lainnya. Jadi, kenapa kacang (wai nut)? Xp
Tertarik untuk ikutan? Simak dulu rule-nya...
1. Durasi challenge adalah setahun. Mulai dari 1 Januari - 31 Desember 2013.
2. Buku yang dibaca, adalah buku fiksi. Yang tidak termasuk dalam kategori buku untuk challenge ini : komik, graphic novel, kumcer (anthology), novella (cerita pendek), dan buku non fiksi.

Note : Untuk mengetahui apakah buku yang dibaca termasuk full novel, jumlah halaman untuk buku yang dibaca harus lebih dari 200 halaman 

3. Buku yang dibaca harus dari pengarang yang benar - benar baru untuk para peserta. Tidak ada batasan buku diterbitkan tahun berapapun.
Sebagai contohnya seperti ini :
Kamu ingin membaca buku Lords of The Ring karya J.R.R. Tolkien untuk challenge ini. Jika sebelumnya kamu tidak pernah baca karya Tolkien, maka beliau adalah pengarang yang baru untukmu.
Sebaliknya jika pada tahun kemaren kamu sudah baca buku karangan Dee Lestari, dan tahun ini kamu membaca karya terbaru dia yang rilis 2013, maka bukunya tidak masuk dalam kategori.
4. Boleh membaca baik edisi terjemahan atau edisi dalam bahasa asli (bahasa Inggris, Jepang, etc)
5. Tidak boleh re-read (baca ulang)
6. Jika buku yang kamu baca adalah bagian dari serial, yang masuk dalam challenge ini hanya buku pertama dari seri itu.
Contohnya : J.R.Ward adalah pengarang baru bagi kamu, dan kamu memutuskan untuk membaca buku pertama serial Black Dagger Brotherhood. Hanya buku pertama saja yang terhitung baru, buku selanjutnya tidak dimasukan. Jadi, satu pengarang, hanya boleh satu judul buku saja.
7. Boleh digabung dengan reading challenge dari blog - blog lain.
8. Khusus untuk blogger, buat master post tentang event ini di blognya. Khusus bagi mereka yang tidak punya blog (hanya ada akun Goodreads, Tumblr, Google plus, atau Facebook) silakan menuliskan pilihan levelnya di kolom komentar di blog ini.
9. Level untuk challenge ini adalah :
- Easy : 10 - 12 buku
- Middle : 12 - 20 buku
- Hard : 20 - 40 buku
- Maniac : > 40 buku

Naik level dibolehkan, jika peserta mengambil level Easy, Middle dan Hard.

10. Buku yang sudah selesai dibaca harus direview. Karena saya tidak tahu pengarang siapa saja yang tergolong baru untuk peserta, maka saya hanya bisa mengeceknya di review yang peserta tulis :). Review boleh bebas dimana saja (blog atau Goodreads)
11. Tidak perlu membuat list buku apa saja yang dibaca. Jika membuat list, diperbolehkan untuk mengganti judul buku jika dirasa kurang sesuai. 
12. Khusus untuk blogger,  posting button untuk event reading challenge ini di side blog kamu dengan mengkopi html buttonnya di bawah ini :

13.  Jika sudah menentukan level, daftarkan link kalian di linky di bawah ini. Berikut ini saya berikan petunjuk untuk beberapa akun dalam mendaftarkan linknya :
- Blogger : Ketikkan link post blog kalian di kolom url
- Goodreads : Buat shelf khusus challenge ini (untuk nama shelf bebas), lalu ketik link shelf nya di kolom url
- Tumblr : Buat post khusus untuk challenge ini, dan ketik link Tumblr kalian di kolom url
- Facebook : Buat notes khusus untuk challenge ini, dan ketik link notesnya di kolom url

14. Pendaftaran akan dibuka mulai dari sekarang. Dan saya membebaskan partisipan untuk mendaftar kapan saja. Tapi lebih baik kalau mendaftar segera, supaya ga ketinggalan ikut kuis yang saya adakan tiap bulan.
15. Untuk peserta, wajib mencantumkan email yang bisa dihubungi di kolom komentar di bawah ini. Karena nantinya akan saya pakai untuk mengirimkan update challenge :)
16. Tiap bulan akan ada post update reading challenge, dan peserta wajib mendaftarkan link reviewnya di daftar linky yang ada di blog ini.

Whew, banyak juga ya? Tapi, yang paling bikin saya tergoda itu giveaway-nya... Manteb banget, gaann!! >v<  Yang mau lengkapnya, silakan baca sendiri di post aslinya, ya....
Meskipun giveaway-nya benar-benar tempting, tapi saya nggak mau langsung ambil level paling tinggi. Buat saya, cukup middle saja dulu, mengingat saya ini seorang moody reader. Jadi, daripada nggak terpenuhi, mendingan pelan-pelan aja.. Hehehe...
 

January 17, 2013

Oh, the Places You'll Go


Oh, the Places You'll Go! by Dr. Seuss
My rating: 4 of 5 stars

You have brains in your head.
You have feet in your shoes.
You can steer yourself
any direction you choose.
You're on your own. And you know what you know.
And YOU are the guy who'll decide where to go.

Sebuah buku anak yang benar-benar 'berat'. Saya sendiri sampai harus membacanya dua kali untuk memahami makna dan alur cerita yang disampaikan oleh Dr. Seuss. Benar-benar bukan bacaan ringan buat saya, karena ketika pertama kali membaca, pikiran saya agak mengawang-awang, jadi saya nggak begitu ngerti apa maknanya.

Buku ini sebenarnya bisa dinikmati secara sederhana sih, tapi mungkin karena saya bukan anak-anak, dan terbiasa untuk harus benar-benar mengerti satu hal tertentu, jadi rasanya bacaan ini cukup berat buat saya.

Dr. Seuss menggunakan medium seorang anak lelaki yang melakukan perjalanan. Perjalanan yang dilaluinya tidak mudah, tapi ia sudah dibekali kepandaian oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, jadi ia menggunakan segenap kemampuannya itu untuk menyelesaikan perjalanannya, menuju tempat yang ditujunya.

Sepertinya Dr. Seuss ingin menganalogikan perjalanan yang dilalui oleh si anak dengan siklus hidup manusia. Sejak lahir, kita diberi bekal yang sama oleh Tuhan: tubuh yang sehat dan juga pikiran yang tajam (kecuali orang-orang tertentu yang memang telah ditakdirkan untuk tidak seperti itu). Tapi kenapa hanya sedikit orang yang berhasil mencapai puncak kesuksesan (yang digambarkan oleh Dr. Seuss dengan 'memindahkan gunung' disini)?

Jawabannya, mungkin saja ada yang salah dengan diri kita ketika dalam perjalanan itu.

Bisa jadi kita tidak menggunakan pikiran kita dengan maksimal untuk membuat kita keluar dari masalah itu.

And when you're in a Slump,
you're not in for much fun.
Un-slumping yourself

is not easily done.

Atau mungkin kita terlalu takut untuk mencoba sesuatu hal yang baru dan menjalani tantangan yang ada dalam hidup kita?
You will come to a place where the streets are not marked.
Some windows are lighted. But mostly they're darked.
A place you could sprain both your elbow and chin!
Do you dare to stay out? Do you dare to go in?

How much can you lose? How much can you win?
Atau mungkin ketika terpuruk kita terlalu lama meratapi nasib, terlalu lama berkutat dalam kebingungan, hingga kita berlari tanpa arah?

You can get so confused
that you'll start in to race
down long wiggled roads at a break-necking pace
and grind on for miles across weirdish wild space,

headed, I fear, toward a most useless place.

Dan tanpa disadari, kita hanya terdiam termangu, dan menunggu. Menunggu orang lain untuk membantu kita, menunggu keajaiban datang dan membereskannya dalam satu ayunan tongkat sihir, menunggu kesempatan datang tanpa mencoba untuk mencarinya...

Menunggu...

Tanpa kita sadar bahwa itu adalah tempat yang paling buruk bagi umat manusia.

...I fear, toward a most useless place.

The Waiting Place.

...for people just waiting.
Waiting for a train to go
or a bus to come, or a plane to go
or the mail to come, or the rain to go
or the phone to ring, or the snow to snow
or waiting around for a Yes or No
or waiting for their hair to grow.
Everyone is just waiting.

Waiting for the fish to bite
or waiting for wind to fly a kite
or waiting around for Friday night
or waiting, perhaps, for their Uncle Jake
or a pot to boil, or a Better Break
or a string of pearls, or a pair of pants
or a wig with curls, or Another Chance.

Everyone is just waiting.
Sungguh, saya ingin mengutip seluruh isi buku dan menampilkannya disini. Di dalam perjalanan si anak lelaki yang terlihat sederhana, sebenarnya tersimpan makna yang begitu besar di dalamnya.

Oh, the places you'll go! There is fun to be done!
There are points to be scored. There are games to be won.
And the magical things you can do with that ball
will make you the winning-est winner of all.
Fame! You'll be famous as famous can be,
with the whole wide world watching you win on TV

Melalui buku ini, Dr. Seuss ingin mengajarkan pada anak-anak, bahwa dalam kehidupan, pasti ada saatnya kita berada di atas, dan ada saatnya kita berada di bawah. Itu adalah suatu kepastian. Kesulitan akan hadir seiring dengan kemudahan. Jika ada satu jalan yang tertutup, maka kita bisa mencoba jalan lainnya.

Tak ada orang yang akan sukses selamanya. Begitupun--seharusnya--tak ada orang yang menderita selamanya. Selama kita memanfaatkan sebaik mungkin, segenap indra yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita...

I'm afraid that some times
you'll play lonely games too.
Games you can't win
'cause you'll play against you.


Dan jika kita berhasil melaluinya, maka kita akan tiba di sana. Di tempat yang menjadi tujuan kita... Dan mengangkat gunung pun bukanlah lagi hal yang mustahil bagi kita... :)

Gambar dari sini

You'll get mixed up, of course,
as you already know.
You'll get mixed up
with many strange birds as you go.
So be sure when you step.
Step with care and great tact
and remember that Life's
a Great Balancing Act.
Just never forget to be dexterous and deft.
And never mix up your right foot with your left

And will you succeed?
Yes! You will, indeed!
(98 and 3/4 percent guaranteed.)
KID, YOU'LL MOVE MOUNTAINS!

Review ini saya ikutkan dalam Fun Months 1 dari reading challenge Fun Year With Children Literature yang diadakan oleh Bzee di Bacaan Bzee. Menurut saya, buku ini cocok dibaca untuk anak-anak usia 5-9 tahun kali ya? Yang jelas, orang tua harus pandai-pandai menjelaskan buku ini kepada anak-anaknya, agar mereka lebih paham maknanya, sehingga buku ini tidak hanya menjadi buku cerita bergambar belaka...




View all my reviews

January 14, 2013

Mark Spark in the Dark


Mark Spark In The Dark by Jacqueline Wilson
My rating: 4 of 5 stars

Akhirnya buku JW yang satu ini nggak ada cerita tentang anak yang ibunya meninggal terus ayahnya punya pacar baru, atau pengen punya istri baru, atau kenalan sama cewek yang akan jadi pengganti istrinya (soalnya, tiga buku JW yang saya baca, temanya begitu semua sih). Ilustrasinya pun berbeda, karena yang menggambar bukan Nick Sharrat, tetapi Bethan Matthews. Hhmm.. Kalo saya sih sepertinya lebih suka gambarnya Nick Sharrat, soalnya lebih ada ciri khasnya, dibanding gambarnya Bethan yang menurut saya (maaf) agak mainstream gambarnya.

Dari segi cerita, kisah Mark Spark ini sangat sederhana dan tidak menyajikan konflik yang terlalu berat. Buku ini berkisah tentang seorang anak lelaki bernama Mark, yang dibagi dalam dua bagian.

Di bagian pertama, pembaca diajak berkenalan dengan sosok Mark, anak lelaki yang ingin selalu bicara dengan suara keras, karena ia memiliki Great Gran (nenek buyutnya berarti ya?) yang kini sudah tidak bisa melihat, dan agak tuli. Jadi, Mark harus bicara dengan suara keras kepada neneknya itu. Setiap pulang sekolah, Mark pasti pergi ke rumah Great Gran, karena kedua orang tua Mark bekerja. Selain suka ngomong dengan suara keras. Mark ini juga anak yang aktif dan cerewet, sampai-sampai gurunya harus menyuruh Mark diam, karena dia kebanyakan bicara. Hahaa

Disini diceritakan kalau Mark ingin sekali punya anjing, tapi itu nggak mungkin karena nggak ada yang bisa merawat anjing itu di rumahnya. Soalnya, kedua orang tua Mark kan bekerja. Eh tapi, ternyata sekolah Mark akan menyewa seekor anjing khusus untuk membantu orang tuna netra! Mark pun turut berusaha keras untuk mengumpulkan uang dengan anak-anak sekelasnya, agar bisa mendapatkan anjing itu. Meskipun sebenarnya belum tentu juga sih anjing itu akan diberikan kepada nenek Mark, karena neneknya sudah sangattt tua. Tapi, usaha dan kesungguhan hati Mark disini cukup membuat saya terharu. Apalagi, terlihat kebaikan hati Mark disini, yang ingin membuat semua orang bahagia.

Misalnya, ketika Mark bingung akan menjual apa untuk memperoleh dana, nenek Mark menawarkan diri untuk membuat kaus kaki rajutan. Lho, tapi nenek Mark kan buta? Iya. Oleh karena itu, kaus kakinya warnanya beda-beda. Besarnya juga. Tapi Mark tetap bilang ke neneknya, kalau itu kaus kaki yang bagus... :')

Terus, ketika kaus kaki itu dijual, ternyata nggak ada yang mau beli. Jadi, Mark merelakan uang jajannya untuk membeli kaus kaki neneknya itu, sehingga ia nggak bisa beli cokelat. Dan ternyata, bukan hanya dagangan Mark yang nggak laku. Dagangan Louise, sahabat Mark, juga nggak laku. Akhirnya, Mark menggunakan uang jajan terakhirnya untuk membeli dagangan Louise, dan menghadiahkannya untuk neneknya! :') What a generous, kind hearted boy he is...

Sementara itu, kisah kedua bercerita tentang ketakutan terbesar Mark. Meskipun Mark ini orang yang dikenal paling pemberani di sekolah, ternyata Mark punya sebuah rahasia kecil. Dia takuuutt banget sama gelap. Kalau tidur, lampu kecil di kamarnya tetap dibiarkan menyala. Ibu Mark juga membiarkan lorong tetap terang, kalau-kalau Mark pengen pipis malam-malam.

Mungkin masalahnya terdengar sepele, tapi ketakutan Mark itu bikin dia nggak bisa berkemah bersama sahabat-sahabatnya! Jadi, di hari ulang tahunnya, Louise berencana untuk membuat acara berkemah di halaman rumahnya. Kalo kemah kan berarti di luar ruangan. Kalo di luar ruangan, berarti gelap dong... Kalo gelap, berarti Mark nggak bisa ikut dong.. Soalnya, kalo Louise dan Jason tahu Mark takut gelap, dia bakal diketawain sama mereka dong? Padahal Mark nggak takut sama cacing besar yang kotor dan menjijikan, tapi masa takut sama gelap sih? Terus, gimana doongg??

Jawabannya, ada di bukunya.. :)

Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, kisah di buku JW yang ini sederhana baik dari alur maupun konfliknya. Konflik yang dialami Mark adalah konflik yang biasa ada di anak seumuran dia. Bacaan yang benar-benar ringan dengan tema yang biasa. Tapi saya suka, karena tergambar jelas kepolosan dan kebaikan hati khas anak-anak di cerita ini. Jadi, menurut saya cerita ini cocok untuk dibaca oleh anak-anak usia berapapun, karena kisahnya yang sederhana dan dekat dengan kehidupan anak-anak, serta banyaknya pesan yang baik untuk diketahui anak-anak.

4 bintang saya berikan untuk buku Jacqueline Wilson yang satu ini, setelah saya cukup dibuat kecewa dengan buku JW yang saya baca sebelum ini... :)

Oh iya, review ini juga masuk ke dalam event FYE, meskipun nggak masuk kriteria Fun Months 1.



View all my reviews

January 13, 2013

Thidwick, si Rusa Berhati Baik


Thidwick the Big-Hearted Moose by Dr. Seuss
My rating: 4 of 5 stars

Di sebuah danau bernama Winna Bango di utara, hiduplah sekawanan rusa besar (yang dikenal dengan nama moose) yang sedang asyik mengunyah moose-moss. Di antara kawanan rusa itu, ada seekor yang bernama Thidwick. Ia adalah rusa yang memiliki hati paling baik dari semuanya.

Suatu hari, ada seekor serangga bernama Bingle Bug yang meminta kepada Thidwick, agar ia diizinkan untuk bertengger di tanduknya, karena ia sangat lelah. Thidwick yang baik hati mengizinkannya. Serangga itu pun bahagia. Lalu, seekor laba-laba bernama Tree Spider yang melihat Bingle Bug sedang bersantai di rumah barunya, meminta izin untuk turut tinggal disana. Si serangga dengan santainya mengajak si laba-laba untuk turut tinggal disana, karena tanduk Thidwick sangaatt besaarr...

Kemudian, datanglah Zinn-a-zu, seekor burung yang melihat serangga dan laba-laba sudah membuat sarang di tanduk Thidwick. Ia meminta izin untuk turut tinggal disana, dan hey! lagi-lagi si serangga menyebalkan itu mengizinkannya untuk tinggal. Benar-benar kurang ajar. Thidwick sempat keberatan, karena si burung membangun sarang dari rambutnya!! Tapi, ia tak sanggup mengusir mereka, karena ia terlalu baik hati.

Kebaikan hati Thidwick ternyata justru menyulitkannya, karena keesokan harinya, si burung menyebalkan itu memmbawa istrinya (yang baru dikawininya semalam) beserta paman sang istri untuk tinggal disana!! Si paman, Woodpecker, mulai mematuki tanduk Thidwick hingga membuatnya terguncang-guncang! Sampai-sammpai teman-teman Thidwick menyuruhnya untuk mengusir binatang-binatang pengganggu itu dari tanduknya. Namun, Thidwick yang baik hati tak sampai hati mengusir mereka..., hingga akhirnya ia ditinggalkan oleh kawanannya dan harus hidup sendirian di tengah-tengah keramaian... :'(

Dan.. Tentu saja penderitaan Thidwick belum berhenti sampai di situ. Si tupai dan keluarganya ikut tinggal di tanduk Thidwick, di lubang-lubang yang telah dibuat oleh Woodpecker. Bahkan, hingga seekor kura-kura pun turut tinggal disana!!

Thidwick yang malang...

Apa yang kau lakukan jika jadi dirinya? Ia ingin sekali mengusir mereka semua, dan pergi menyusul kawanannya. Apalagi, musim dingin segera datang, dan makanan di danau itu akan segera habis. Ia harus segera pergi atau ia akan mati kelaparan... Sendirian pula...

Thidwick pun berniat untuk melintasi danau Winna Bango itu. Namun, tebak apa yang terjadi? Para binatang yang tinggal di tanduk Thidwick menolak untuk pindah dari tempat itu!!! Mereka tak ingin tinggal jauh-jauh dari danau. Lalu, diadakanlah pemungutan suara yang sudah pasti Thidwick kalah.... Benar-benar nggak adil!! ヽ(≧Д≦)ノ

Kemalangan Thidwick masih berlanjut. Ia dikejar oleh pemburu! Karena ditinggalkan oleh kawanannya, ditambah beban bawaan yang berat (dengan binatang-binatang tak tahu diri di tanduknya, belum ditambah beruang, lebah, tikus, dan entah binatang apa lagi yang menyusul kemudian), Thidwick tak sanggup berlari cepat... Para pemburu telah mengepungnya dari berbagai penjuru...

Then finally the had him!

Because of those pests, he had run out of luck,
Because of those guests on his horns, he was stuck!

He gasped! He felt faint! And the whole world grew fuzzy!
Thidwick was finishhed, completely...


Bagaimana nasib Thidwick selanjutnya? Sanggupkah ia lolos dari kejaran para pemburu itu? Ataukah kepala serta tanduknya akan berakhir di dinding sebagai pajangan?

Endingnya tidak terduga dan bikin saya senang. Meskipun tak semuanya berakhir secara bahagia, tapi saya puas dengan endingnya. Memang ya, kebaikan itu sering disalahgunakan. Saya sebenarnya sempat sebal dengan sikap Thidwick yang terlalu nerimo itu. Nggak tegas. Tapi sepertinya, saya pun seringkali bersikap seperti itu. Thidwick ada juga di dalam diri saya, yang merasa segan ataupun sungkan melakukan sesuatu yang sebenarnya adalah hak saya. Hanya karena mereka lebih ngotot, bukan berarti mereka benar. Itu jugalah yang dialami Thidwick.

Buku Dr. Seuss yang satu ini benar-benar membuat saya puas. Saya rasa, anak-anak dari usia balita hingga SD dapat menikmati cerita ini. Pesan moralnya cukup kuat dan patut diajarkan kepada anak-anak agar mereka tidak bersikap seenaknya, menghargai orang lain, dan tahu apa hak serta kewajiban mereka...


Review ini saya ikutkan dalam event Fun Month 1, di Bacaan Bzee dalam kategori klasik.


View all my reviews

Fairy Tale?? Oh yeaahh!!!


The Stinky Cheese Man: And Other Fairly Stupid TalesThe Stinky Cheese Man: And Other Fairly Stupid Tales by Jon Scieszka
My rating: 5 of 5 stars

Bacaan ringan pengocok perut di pagi hari. "The Stinky Cheese Man: And Other Fairly Stupid Tales" adalah cerita-cerita parodi dari fairy tales terkenal yang ada dan sudah pernah Anda dengar. Dan, kali ini saya kembali mengalami kesulitan dalam membuat review buku ini, karena saya sangat suka bukunya, yang konyol dan penuh humor.

Dari awal buku saja saya sudah dibuat terbahak-bahak dengan narasi-narasi nggak penting dari si penulis. Dimulai dari si "Little Red Hen" yang dengan hebohnya bercerita tentang gandumnya dan ngotot minta sama si Jack (narator cerita), agar dia masuk ke dalam cerita. Setelah perdebatan nggak penting itu, lalu masuk deh ke "Title Page" (What?! Jadi, ceritanya belum dimulai?? xD) yang bentuknya seperti ini.

description
Gambar dari sini


LOL banget kan?

Lalu, akhirnya masuk juga ke cerita pertama, Chicken Licken yang bersama teman-temannya, Ducky Lucky, Goosey Loosey, Cocky Locky mau bertemu presiden, karena si Chicken menemukan fakta bahwa "The sky is falling!!" (nyanyi "Skyfall"-nya Adele). Di tengah jalan, mereka bertemu dengan Foxy Loxy dan diganggu oleh Jack si narator yang mengingatkan mereka satu hal penting, bahwa...

Dia lupa nyantumin daftar isi!!!

Double LOL!!!

Setelah perut saya dikocok-kocok oleh dua cerita nggak penting itu, akhirnya masuklah ke cerita sesungguhnya, yaitu "The Princess and the Bowling Ball". Buat yang sudah baca ceritanya H.C. Andersen, kalian pasti tahu kalau Om Andersen punya cerita yang judulnya "The Princess and the Pea" yang ceritanya tentang seorang pangeran yang sedang mencari istri. Setelah mencari ke segenap penjuru bumi, sang ibunda akhirnya menemukan istri yang cocok untuk pangeran. Kenapa cocok?? Karena si Princess ini mampu merasakan sebongkah kacang yang ada di bawah tumpukan tumpukan tumpukan kasur tempat tidurnya si Princess!! Ouch! How i hate those story! -___-

Versi yang diceritakan Jon Sciezska di buku ini jauh lebih baik. Jadi, ibunda dan ayahanda pangeran berusaha mencari putri yang cocok untuk dinikahi anaknya. Metode mereka masih sama, yaitu si putri disuruh bermalam di istana, tidur di atas tumpukan ratusan kasur, yang di dasarnya ditaruh sebutir kacang. Ya, tentu aja nggak ada yang bisa ngerasain itu kacang sebiji doang di atas tumpukan kasur yang tebel!

Now this went on for three years. And of course nobody ever felt the pea under one hundred mattresses. The one day the Prince met the girl of his dreams. He decided he better do something about it. He decided he better do something about it. That night, before the Princess went to bed, the Prince slipped his bowling ball under the one hundred mattresses.


description
Gambarnya dari sini


What a tricky prince! xDD Tapi, kalo saya jadi si pangeran, saya juga desperet kali, kalo harus nyari istri yang sesuai dengan kriteria absurd ayahanda dan ibunda semacam itu. Jadi, saya suka banget sama si pangeran yang cerdas ini!! :DD

Dan, cerita ini pun ditutup dengan...

And everyone lived happily, though maybe not completely honestly, ever after. The End.


Tapi, jangan khawatir. Ceritanya nggak berakhir di pangeran yang menemukan pujaan hatinya itu kok. Masih ada cerita-cerita lainnya yang bener-bener lucu. Seperti kisah "The Really Ugly Duckling" yang dengan pedenya berpikir bahwa ketika dewasa dia akan bermetamorfosis menjadi seekor angsa yang menawan, atau cerita "Little Red Running Shorts" yang selalu pake celana lari warna merah dan larinya jauh jauh lebih cepat dari si serigala (ROFL), ditambah dengan cerita "Jack's Bean Problem" yang nggak bisa ngelanjutin cerita karena si raksasanya (yang selalu pake huruf kapital kalo ngomong) ngambek! yang bener-bener bikin perut saya sakit.

Lalu, ada juga cerita tentang Rumplestiltskin yang nyasar ke rumah Cinderella dan nawarin gadis itu benang jerami yang bisa dipintal jadi emas (yang ditolak dengan sopan oleh Cinderella karena dia hanya butuh gaun!! xDD). Selanjutnya ada cerita "The Tortoise and the Hair" yang becerita tentang perlombaan antara si kura-kura dan kelinci. Lah, terus kenapa judulnya "The Hair"?? Baca aja sendiri ya sodara-sodara...

Dan, saya nggak bisa berhenti ingin menceritakan buku ini. Jadi, seperti kata Jack si narator, mending kita sudahi saja ripiu nggak jelas saya, sebelum saya ngasih spoiler ke kalian semua.

Lima bintang untuk buku yang telah menggaet banyak penghargaan ini, mulai dari Caldecott Honor (1993), Texas Bluebonnet Award (1995), Buckeye Children's Book Award for K-2 (1995), sampai Flicker Tale Children's Book Award (1994). Jadi, buku ini masuk kategori Fun Months 1, di reading challenge ini.



Melihat cerita yang nyeleneh dan humor-humor yang aneh (nggak aneh-aneh banget sih, biar cocok aja sama rimanya xp), menurut saya cerita ini cocok untuk dibaca anak-anak di atas usia 8 tahun. Lebih baik lagi jika mereka sudah baca versi awalnya terlebih dahulu, jadi ketawanya pasti bisa lebih kenceng!! xD

Yang jelas, buku ini bisa dinikmati juga oleh orang dewasa, karena humornya yang lucu dan buku ini nggak perlu dibaca pake mikir. Cukup nikmati gaya bertutur sang penulis lewat Jack, dan biarkan diri kalian terbawa dalam negeri dongeng yang kalo tokohnya begini semua jadi sama sekali nggak indah ini.. (*≧▽≦)ノシ))

P.S. Umm.. Sebenernya ripiu saya udah beres, tapi biar si Little Red Hen berhenti ngoceh, saya mau bilang kalo cerita dia juga bagus meskipun agak jayus
ヽ(´ー`)

View all my reviews