March 28, 2012

Di Dalam Keabadian Keluarga Tuck

“... Kami ini, keluarga Tuck, polos saja seperti garam, Kami tidak layak mendapatkan anugerahkalau ini memang anugerah. Dan sebaliknya, aku juga tidak melihat kenapa kami harus dikutuk, kalau ini memang kutukan. Tetap sajatidak ada gunanya memikirkan kenapa semuanya terjadi seperti itu. Itulah yang terjadi, dan mengeluh tidak akan mengubah apa-apa." [Mae Tuck, Hal. 68]

Keluarga Tuck diberi anugerah, atau kutukan, untuk bisa hidup selamanya. Semuana bermula dari perjalanan mereka ke tempat yang baru untuk memulai kehidupan yang lebih baik. Di sebuah hutan yang hijau dan lebat, di mana di jantungnya ada sebuah pohon zaitun yang sangat rimbun, keluarga Tuck beristirahat sejenak untuk melepas lelah dan meminum air yang memancar tak jauh dari pohon itu. Tanpa disangka, air itu memberikan hadiah atau musibah bagi mereka. Mereka bisa hidup selamanya. Tidak bertambah tua. Tidak bisa terluka. Tidak bisa mati.





Angus Tuck, sang kepala keluarga, tidak menganggap hidup dalam keabadian sebagai sebuah anugerah. Ia bahkan rela melakukan apa saja untuk bisa kembali ke kehidupan normalnya. Untuk kembali ke dalam roda kehidupan, dan bukan sebagai orang yang berada di luar itu. Ia bahkan akan menerima kematian dengan suka cita, jika itu akan membawanya kembali ke dalam roda itu. Mae, sang istri, juga berpikir sama seperti suaminya. Tetapi, pembawaannya yang santai membuatnya bisa lebih menikmati hidup abadinya itu.

 “... Tetapi perahu ini, sekarang dia tertahan. Kalau kita tidak turun, ia akan berada di sini selamanya, berusaha untuk membebaskan diri, tapi tertahan. Dan begitulah kami, keluarga Tuck, Winnie. Kami tertahan sehingga kami tidak bisa melanjutkan. Kami bukan lagi bagian dari roda itu. Kami sudah jatuh, Winnie. Ditinggalkan. Dan di seluruh tempat di sekeliling kami, semuanya bergerak dan tumbuh dan berubah. Misalnya saja kau. Hari ini seorang anak, tapi suatu hari kau akan jadi wanita dewasa. Dan setelah itu, kau bergerak untuk memberi ruang bagi anak-anak yang baru.” [Angus Tuck, hal. 78-79]

Hidup dalam keabadian membuat keluarga ini harus secara rutin pindah dari tempat tinggal mereka, agar tidak ada seorang pun yang mengetahui rahasia mereka. Keluarga ini telah berkali-kali pindah, hingga akhirnya mereka kini menetap di sebuah tempat yang sunyi di pinggir danau yang tenang dan indah sampai batas waktu yang belum ditentukan. Kedua anak lelaki mereka, Miles dan Jesse, hidup terpisah dari mereka. Miles dan Jesse mengembara ke berbagai kota, dan mencoba menghabiskan waktu mereka yang abadi. Setiap sepuluh tahun sekali di awal musim panas, Miles dan Jesse akan bertemu di mata air keabadian, lalu ibu mereka akan menjemput untuk kemudian pulang bersama-sama, dan menikmati musim panas sebagai sebuah keluarga yang utuh.

Miles berusia 22 tahun, dan selamanya akan berusia seperti itu. Keabadian telah memberikan luka mendalam bagi dirinya, karena membuatnya harus terpisah dari orang-orang yang dicintainya. Tetapi, tak ada yang bisa ia lakukan selain menjalani hidup abadi seperti keluarganya. Tidak seperti Miles, Jesse  si bungsu yang selamanya akan tetap berusia 17 tahun tidak terlalu ambil pusing dengan keabadian yang dialami olehnya. Ia adalah seorang pemuda yang ceria dan bisa menikmati hidupnya seperti yang ia inginkan. Baginya, keabadian bukanlah masalah yang terlalu besar, terutama setelah ia bertemu dengan Winnie Foster.

Winnie adalah seorang gadis kecil berusia 11 tahun, anak semata wayang dari pemilik rumah besar di Treegap. Keluarganya kaya raya dan memiliki hutan rimbun tempat mata air keabadian berada. Ia tidak terlalu menyukai rumahnya, yang penuh dengan aturan. Beberapa kali ia memutuskan untuk kabur dari rumah, meskipun tidak pernah ia lakukan. Kekayaan dan keangkuhan keluarganya juga membuatnya tidak memiliki seorang pun teman, selain seekor kodok yang sering ia ajak bicara.

Di suatu pagi, Winnie akhirnya memutuskan untuk kabur dari rumahnya. Meksipun kabur yang ia maksudkan hanyalah pergi sejenak ke hutan miliknya, lalu kembali ke rumah sebelum semua orang tahu. Tetapi, siapa sangka kalau di sana ia bertemu dengan seorang pemuda yang sangat tampan sedang berdiri di tengah hutan miliknya dan meminum air dari mata air yang terletak di jantung hutan itu. Winnie tak pernah menyangka kalau pertemuannya dengan Jesse akan membawanya kepada seluruh anggota keluarga Tuck yang ajaib. Pertemuan itu juga mengubah hidupnya selamanya, juga cara pandangnya terhadap hidup.

Akankah Winnie memilih hidup di dalam keabadian seperti yang ditawarkan oleh Jesse, yang jelas-jelas menaruh perhatian padanya, bahkan melamarnya untuk menjadi pengantinnya jika Winnie sudah berusia 17 tahun nanti? Siapkah Winnie melepas segala yang ia miliki dan ikut “keluar dari roda” seperti yang dialami oleh keluarga Tuck? Bagaimana respon keluarga Winnie yang mengira anaknya diculik karena tidak kembali seharian itu? Apakah kehadiran Winnie yang mengetahui seluruh rahasia keluarga Tuck akan membawa keluarga itu kepada keberuntungan atau justru kesialan, karena mereka telah hidup dengan tenang selama 80 tahun lebih tanpa ada seorang pun yang mengetahui rahasia mereka?

Natalie Babbitt menyampaikan kisah sebuah keluarga yang berada di dalam keabadian ini dengan sangat apik dan menarik. Jauh sebelum cerita-cerita mengenai keabadian menjadi sebuah tren di masyarakat, Natalie Babbitt telah menyampaikan kisah mengenai keabadian. Ia menyampaikan keabadian dari kacamata keluarga Tuck, sebagai “penderita”, yang menganggap keabadian itu bukanlah sebuah anugerah. Awalnya, saya pikir Tuck Everlasting masuk ke dalam kisah klasik, karena latarnya yang mengambil akhir abad 18. Tetapi melihat tahun terbitnya yang masih di tahun 70-an, saya jadi merasa ragu untuk memasukkannya ke dalam genre klasik. Mungkin nanti, 30-50 tahun lagi. Tetapi, saya rasa bukan sekarang.

Tuck Everlasting adalah salah satu buku favorit sayayang buat saya baca berulang-ulangyang perkenalan dengannya berawal dari film berjudul sama yang saya tonton ketika SMA dulu. Film “Tuck Everlasting” agak berbeda dari bukunya. Perbedaan yang paling mencolok adalah usia Winnie, yang lebih dewasa di versi filmnya. Soalnya, versi film tampangnya memang ingin menargetkan ke remaja-remaja dengan menjual kisah romantis klasik antara dua insan manusia yang berbeda. Tidak seperti bukunya, yang ternyata adalah buku anak-anak.

Jujur saja, saya sendiri sempat kaget ketika membaca kisahnya, karena ekspektasi saya  buku ini tidak berbeda dengan filmnya. Soalnya, ketika membeli buku ini pun, saya sebenarnya ingin membaca lebih jauh kisah cinta Winnie dan Jesse itu. Tetapi, ternyata saya salah sodara-sodara! Pantas saja sampul depannya adalah seorang anak kecil, bukan gadis remaja. Kalo gitu sih wajar banget nggak ada cinta-cintaan. Anak zaman itu kan masih mengikuti alam dan tidak dewasa sebelum waktunya kayak anak-anak sekarang. Eh, tapi anak zaman dulu kan nikahnya justru cepet-cepet ya? ;p

Meskipun demikian, kisah ini toh tetap menjadi kisah favorit saya. Jalan cerita yang tidak datar, dialog-dialog yang penuh makna, dan ending yang tidak mudah ditebak menjadi salah satu daya tarik kisah ini. Saya juga suka dengan seluruh anggota keluarga Tuck yang diberi “anugerah” keabadian ini. Untung saja mereka adalah orang-orang baik yang justru tidak mengambil keuntungan dari keabadian yang mereka alami. Coba kalau nggak? Bisa hancur deh dunia persilatan.. xp

Kisah ini juga mengingatkan saya akan lirik lagu, “If I Ain’t Got You”nya Alicia Keys. Di bagian yang berbunyi:
“Some people search for a fountain, promises forever young...”

Keabadian dan awet muda mungkin menjadi impian bagi beberapa orang. Misalnya Dorian Gray, di “The Picture of Dorian Gray”, yang bahkan rela menjual tubuh dan jiwanya kepada iblis untuk bisa hidup muda selama-lamanya. Tetapi, benarkah kehidupan abadi akan membawa kebahagiaan? Ketika kita sendirilah yang mengalaminya, masihkan kita akan berpikir seperti itu? Lahir, tumbuh, hidup, lalu mati adalah fitrah setiap manusia. Ketika hal tersebut tidak terjadi, masih bisakah kita disebut hidup?

“... Tetapi kematian adalah bagian dari roda itu, persis di samping kelahiran. Kau tidak bisa memilih bagian yang tidak kau sukai dan menyisakan yang lainnya. Menjadi bagian dari semuanya adalah sebuah anugerah. Tetapi semua itu melewati kami semua, keluarga Tuck. Hidup adalah pekerjaan yang berat, tetapi di sisi lain, hidup seperti kami juga sia-sia. Ini tidak masuk akal. Kalau aku tahu caranya untuk kembali ke dalam roda itu, aku akan melakukannya dalam satu menit. Kau tidak bisa hidup jika kau tidak bisa mati. Jadi kau tidak bisa bilang kalau kami punya kehidupan. Kami hanya ada, kami hanya hadir, seperti batu-batu yang ada di sisi jalan.” [Angus Tuck, hal. 80]

Jadi....

“Bagaimana jika kau bisa hidup selamanya?”


Judul buku : Tuck Everlasting
Penulis : Natalie Babbitt
Tahun Terbit : 1975
Penerjemah : Mutia Dharma
Penerbit : Atria
Cetakan : I, Oktober 2010
ISBN : 98-979-024-458-0

No comments:

Post a Comment

March 28, 2012

Di Dalam Keabadian Keluarga Tuck

“... Kami ini, keluarga Tuck, polos saja seperti garam, Kami tidak layak mendapatkan anugerahkalau ini memang anugerah. Dan sebaliknya, aku juga tidak melihat kenapa kami harus dikutuk, kalau ini memang kutukan. Tetap sajatidak ada gunanya memikirkan kenapa semuanya terjadi seperti itu. Itulah yang terjadi, dan mengeluh tidak akan mengubah apa-apa." [Mae Tuck, Hal. 68]

Keluarga Tuck diberi anugerah, atau kutukan, untuk bisa hidup selamanya. Semuana bermula dari perjalanan mereka ke tempat yang baru untuk memulai kehidupan yang lebih baik. Di sebuah hutan yang hijau dan lebat, di mana di jantungnya ada sebuah pohon zaitun yang sangat rimbun, keluarga Tuck beristirahat sejenak untuk melepas lelah dan meminum air yang memancar tak jauh dari pohon itu. Tanpa disangka, air itu memberikan hadiah atau musibah bagi mereka. Mereka bisa hidup selamanya. Tidak bertambah tua. Tidak bisa terluka. Tidak bisa mati.





Angus Tuck, sang kepala keluarga, tidak menganggap hidup dalam keabadian sebagai sebuah anugerah. Ia bahkan rela melakukan apa saja untuk bisa kembali ke kehidupan normalnya. Untuk kembali ke dalam roda kehidupan, dan bukan sebagai orang yang berada di luar itu. Ia bahkan akan menerima kematian dengan suka cita, jika itu akan membawanya kembali ke dalam roda itu. Mae, sang istri, juga berpikir sama seperti suaminya. Tetapi, pembawaannya yang santai membuatnya bisa lebih menikmati hidup abadinya itu.

 “... Tetapi perahu ini, sekarang dia tertahan. Kalau kita tidak turun, ia akan berada di sini selamanya, berusaha untuk membebaskan diri, tapi tertahan. Dan begitulah kami, keluarga Tuck, Winnie. Kami tertahan sehingga kami tidak bisa melanjutkan. Kami bukan lagi bagian dari roda itu. Kami sudah jatuh, Winnie. Ditinggalkan. Dan di seluruh tempat di sekeliling kami, semuanya bergerak dan tumbuh dan berubah. Misalnya saja kau. Hari ini seorang anak, tapi suatu hari kau akan jadi wanita dewasa. Dan setelah itu, kau bergerak untuk memberi ruang bagi anak-anak yang baru.” [Angus Tuck, hal. 78-79]

Hidup dalam keabadian membuat keluarga ini harus secara rutin pindah dari tempat tinggal mereka, agar tidak ada seorang pun yang mengetahui rahasia mereka. Keluarga ini telah berkali-kali pindah, hingga akhirnya mereka kini menetap di sebuah tempat yang sunyi di pinggir danau yang tenang dan indah sampai batas waktu yang belum ditentukan. Kedua anak lelaki mereka, Miles dan Jesse, hidup terpisah dari mereka. Miles dan Jesse mengembara ke berbagai kota, dan mencoba menghabiskan waktu mereka yang abadi. Setiap sepuluh tahun sekali di awal musim panas, Miles dan Jesse akan bertemu di mata air keabadian, lalu ibu mereka akan menjemput untuk kemudian pulang bersama-sama, dan menikmati musim panas sebagai sebuah keluarga yang utuh.

Miles berusia 22 tahun, dan selamanya akan berusia seperti itu. Keabadian telah memberikan luka mendalam bagi dirinya, karena membuatnya harus terpisah dari orang-orang yang dicintainya. Tetapi, tak ada yang bisa ia lakukan selain menjalani hidup abadi seperti keluarganya. Tidak seperti Miles, Jesse  si bungsu yang selamanya akan tetap berusia 17 tahun tidak terlalu ambil pusing dengan keabadian yang dialami olehnya. Ia adalah seorang pemuda yang ceria dan bisa menikmati hidupnya seperti yang ia inginkan. Baginya, keabadian bukanlah masalah yang terlalu besar, terutama setelah ia bertemu dengan Winnie Foster.

Winnie adalah seorang gadis kecil berusia 11 tahun, anak semata wayang dari pemilik rumah besar di Treegap. Keluarganya kaya raya dan memiliki hutan rimbun tempat mata air keabadian berada. Ia tidak terlalu menyukai rumahnya, yang penuh dengan aturan. Beberapa kali ia memutuskan untuk kabur dari rumah, meskipun tidak pernah ia lakukan. Kekayaan dan keangkuhan keluarganya juga membuatnya tidak memiliki seorang pun teman, selain seekor kodok yang sering ia ajak bicara.

Di suatu pagi, Winnie akhirnya memutuskan untuk kabur dari rumahnya. Meksipun kabur yang ia maksudkan hanyalah pergi sejenak ke hutan miliknya, lalu kembali ke rumah sebelum semua orang tahu. Tetapi, siapa sangka kalau di sana ia bertemu dengan seorang pemuda yang sangat tampan sedang berdiri di tengah hutan miliknya dan meminum air dari mata air yang terletak di jantung hutan itu. Winnie tak pernah menyangka kalau pertemuannya dengan Jesse akan membawanya kepada seluruh anggota keluarga Tuck yang ajaib. Pertemuan itu juga mengubah hidupnya selamanya, juga cara pandangnya terhadap hidup.

Akankah Winnie memilih hidup di dalam keabadian seperti yang ditawarkan oleh Jesse, yang jelas-jelas menaruh perhatian padanya, bahkan melamarnya untuk menjadi pengantinnya jika Winnie sudah berusia 17 tahun nanti? Siapkah Winnie melepas segala yang ia miliki dan ikut “keluar dari roda” seperti yang dialami oleh keluarga Tuck? Bagaimana respon keluarga Winnie yang mengira anaknya diculik karena tidak kembali seharian itu? Apakah kehadiran Winnie yang mengetahui seluruh rahasia keluarga Tuck akan membawa keluarga itu kepada keberuntungan atau justru kesialan, karena mereka telah hidup dengan tenang selama 80 tahun lebih tanpa ada seorang pun yang mengetahui rahasia mereka?

Natalie Babbitt menyampaikan kisah sebuah keluarga yang berada di dalam keabadian ini dengan sangat apik dan menarik. Jauh sebelum cerita-cerita mengenai keabadian menjadi sebuah tren di masyarakat, Natalie Babbitt telah menyampaikan kisah mengenai keabadian. Ia menyampaikan keabadian dari kacamata keluarga Tuck, sebagai “penderita”, yang menganggap keabadian itu bukanlah sebuah anugerah. Awalnya, saya pikir Tuck Everlasting masuk ke dalam kisah klasik, karena latarnya yang mengambil akhir abad 18. Tetapi melihat tahun terbitnya yang masih di tahun 70-an, saya jadi merasa ragu untuk memasukkannya ke dalam genre klasik. Mungkin nanti, 30-50 tahun lagi. Tetapi, saya rasa bukan sekarang.

Tuck Everlasting adalah salah satu buku favorit sayayang buat saya baca berulang-ulangyang perkenalan dengannya berawal dari film berjudul sama yang saya tonton ketika SMA dulu. Film “Tuck Everlasting” agak berbeda dari bukunya. Perbedaan yang paling mencolok adalah usia Winnie, yang lebih dewasa di versi filmnya. Soalnya, versi film tampangnya memang ingin menargetkan ke remaja-remaja dengan menjual kisah romantis klasik antara dua insan manusia yang berbeda. Tidak seperti bukunya, yang ternyata adalah buku anak-anak.

Jujur saja, saya sendiri sempat kaget ketika membaca kisahnya, karena ekspektasi saya  buku ini tidak berbeda dengan filmnya. Soalnya, ketika membeli buku ini pun, saya sebenarnya ingin membaca lebih jauh kisah cinta Winnie dan Jesse itu. Tetapi, ternyata saya salah sodara-sodara! Pantas saja sampul depannya adalah seorang anak kecil, bukan gadis remaja. Kalo gitu sih wajar banget nggak ada cinta-cintaan. Anak zaman itu kan masih mengikuti alam dan tidak dewasa sebelum waktunya kayak anak-anak sekarang. Eh, tapi anak zaman dulu kan nikahnya justru cepet-cepet ya? ;p

Meskipun demikian, kisah ini toh tetap menjadi kisah favorit saya. Jalan cerita yang tidak datar, dialog-dialog yang penuh makna, dan ending yang tidak mudah ditebak menjadi salah satu daya tarik kisah ini. Saya juga suka dengan seluruh anggota keluarga Tuck yang diberi “anugerah” keabadian ini. Untung saja mereka adalah orang-orang baik yang justru tidak mengambil keuntungan dari keabadian yang mereka alami. Coba kalau nggak? Bisa hancur deh dunia persilatan.. xp

Kisah ini juga mengingatkan saya akan lirik lagu, “If I Ain’t Got You”nya Alicia Keys. Di bagian yang berbunyi:
“Some people search for a fountain, promises forever young...”

Keabadian dan awet muda mungkin menjadi impian bagi beberapa orang. Misalnya Dorian Gray, di “The Picture of Dorian Gray”, yang bahkan rela menjual tubuh dan jiwanya kepada iblis untuk bisa hidup muda selama-lamanya. Tetapi, benarkah kehidupan abadi akan membawa kebahagiaan? Ketika kita sendirilah yang mengalaminya, masihkan kita akan berpikir seperti itu? Lahir, tumbuh, hidup, lalu mati adalah fitrah setiap manusia. Ketika hal tersebut tidak terjadi, masih bisakah kita disebut hidup?

“... Tetapi kematian adalah bagian dari roda itu, persis di samping kelahiran. Kau tidak bisa memilih bagian yang tidak kau sukai dan menyisakan yang lainnya. Menjadi bagian dari semuanya adalah sebuah anugerah. Tetapi semua itu melewati kami semua, keluarga Tuck. Hidup adalah pekerjaan yang berat, tetapi di sisi lain, hidup seperti kami juga sia-sia. Ini tidak masuk akal. Kalau aku tahu caranya untuk kembali ke dalam roda itu, aku akan melakukannya dalam satu menit. Kau tidak bisa hidup jika kau tidak bisa mati. Jadi kau tidak bisa bilang kalau kami punya kehidupan. Kami hanya ada, kami hanya hadir, seperti batu-batu yang ada di sisi jalan.” [Angus Tuck, hal. 80]

Jadi....

“Bagaimana jika kau bisa hidup selamanya?”


Judul buku : Tuck Everlasting
Penulis : Natalie Babbitt
Tahun Terbit : 1975
Penerjemah : Mutia Dharma
Penerbit : Atria
Cetakan : I, Oktober 2010
ISBN : 98-979-024-458-0