March 12, 2012

Penemuan Hugo Cabret



"... Kamu tahu, tidak pernah ada bagian yang berlebih dalam sebuah mesin. Jumlah dan jenis setiap bagiannya tepat seperti yang mereka butuhkan. Jadi kupikir, jika seluruh dunia ini adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu. Dan itu berarti, kamu berada di sini juga untuk tujuan tertentu." (Hal. 388)

Hugo Cabret adalah seorang anak yatim piatu berusia 12 tahun yang tinggal di stasiun kereta api Paris bersama pamannya, Claude. Paman Claude yang pemabuk bekerja sebagai perawat jam-jam yang ada di stasiun. Tugasnya adalah memutar tuas-tuas dan memastikan semua jam yang ada di stasiun Paris berjalan dengan semestinya.

Paman Claude tinggal di sebuah apartemen di balik dinding stasiun, yang memang diperuntukkan bagi para perawat jam. Tidak ada yang tahu kalau ia membawa Hugo ke sana. Keberadaan Hugo seperti hantu, yang bersembunyi di balik stasiun dan membantu pamannya memastikan semua jam yang ada di stasiun berjalan dengan semestinya. Hugo yang awalnya hanya membantu pekerjaan pamannya mulai mengambil alih semua tugas itu, setelah pamannya yang pemabuk mulai jarang pulang. Hingga pada suatu hari, Paman Claude benar-benar tidak pulang lagi dan meninggalkan Hugo sendirian hidup di balik dinding stasiun Paris, tanpa ada seorang pun yang menyadari keberadaannya...
Keluarga Hugo adalah keturunan horologis, yang berarti pembuat jam. Ayah Hugo dulunya adalah pembuat jam, sedangkan paman Hugo adalah perawat jam. Hal itu membuat Hugo sangat akrab dengan mesin-mesin kecil yang ada di dalam jam. Jadi, tidak heran meskipun usianya masih sangat muda, Hugo sudah mahir membetulkan jam dan berbagai mekanik lainnya.
Hugo
Hugo mulai tinggal dengan Paman Claude setelah ayah Hugo meninggal dunia. Ayah Hugo memiliki sebuah toko jam dan ia bekerja paruh waktu di sebuah museum tua untuk memperbaiki jam-jam di sana.

Suatu hari, ayah Hugo menemukan sebuah automaton. Automaton (bentuk jamaknya automata) adalah sejenis patung berisi mesin-mesin kecil yang rumit dan bisa bergerak sendiri. Mirip dengan kotak musik, tetapi jauh lebih rumit. Ada yang berbentuk burung yang bisa bernyanyi di kandang, ada juga yang bisa berakrobat di palang besi. Tetapi, automata yang ditemukan oleh ayah Hugo ini jauh lebih menarik daripada automata biasa. Automata yang berbentuk seperti boneka manusia ini memegang pena dan duduk di atas meja. Ayah Hugo merasakan bahwa automata ini memiliki sebuah pesan tersendiri yang menunggu untuk dipecahkan. Sayangnya, saat itu kondisi automata ini begitu buruk. Mesinnya rusak dan banyak yang karatan, sehingga mustahil baginya untuk bisa menuliskan pesan tersembunyi itu di atas kertas.

Keberadaan automata itu menimbulkan obsesi baru tersendiri bagi Hugo dan ayahnya. Di sela-sela kesibukan sang ayah di tokonya dan di museum, ayah Hugo memperbaiki mesin yang seringkali digunakan oleh pesulap untuk membuat para penontonnya kagum itu. Ayah Hugo membuat sebuah catatan sendiri yang berisi perkembangan pekerjaannya. Buku catatan itu dilengkapi dengan detail gambar automata dengan mesin-mesinnya. Ayah Hugo kerap pulang malam demi bisa mengungkap misteri di balik automata itu. Hingga di suatu hari, seorang satpam yang lupa bahwa ayah Hugo masih berada di museum mengunci museum itu dan meninggalkan ayah Hugo sendirian. Tragisnya, malam itu terjadi kebakaran di museum yang meluluhlantakkan seluruh bangunan tersebut berikut ayah Hugo yang terkunci di dalamnya...

Kini, Hugo tinggal sebatang kara di balik dinding-dinding tebal stasiun Paris. Keberadaannya tidak boleh diketahui siapapun, karena jika Polisi Stasiun tahu kalau ia tinggal sendirian di sana, Hugo akan dimasukkan ke panti asuhan. Yang lebih gawat lagi, bisa jadi Hugo akan masuk ke dalam penjara, karena setelah pamannya tidak pernah pulang lagi ke apartemen mereka, Hugo selalu mencuri susu ataupun roti untuk menghidupi dirinya. Supaya Polisi Stasiun tidak curiga kalau paman Hugo sudah tidak ada, Hugolah yang mengambil alih tugas pamannya itu merawat jam di stasiun setiap harinya. Ia juga mengambil cek gaji pamannya dan menyimpannya. Sayangnya, ia tidak tahu bagaimana cara menguangkannya, sehingga ia tetap mencuri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.


Automata yang menjadi obsesi Hugo dan ayahnya kini tersimpan di dalam ruangan apartemen paman Hugo yang kini menjadi tempat tinggalnya. Ia mengambil automata yang kini rusaknya menjadi semakin parah dari reruntuhan museum di malam ketika ia bermaksud untuk kabur dari pamannya. Tujuan hidup Hugo kini tercurah pada automata itu. Itu juga salah satu sebab lainnya kenapa keberadaannya tidak boleh diketahui oleh orang lain. Jika ia sampai ketahuan, automata itu akan diambil darinya dan ia tidak akan pernah bisa tahu pesan apa yang tersembunyi di dalamnya. Akibatnya, kini Hugo tidak hanya mencuri roti atau susu saja ;D, tetapi juga mainan-mainan yang memiliki mesin, yang dijual oleh lelaki tua berwajah muram yang membuka kios di stasiun.

Lelaki muram pemilik toko mainan, Papa Georges
Lelaki tua itu bernama Papa Georges. Ia menjual berbagai macam mainan yang di dalamnya terdapat mesin-mesin kecil yang berguna bagi suku cadang automata Hugo. Ada seorang gadis kecil bernama Isabelle yang juga kerapkali datang ke toko Papa Georges. Suatu hari, setelah Isabelle pergi dari toko itu, Hugo kembali melancarkan aksinya, mencuri sebuah tikus mainan yang dapat bergerak ketika tuasnya diputar. Sialnya, ternyata kali ini Papa Georges tahu aksi Hugo itu. Ia menangkap Hugo dan menyuruh Hugo untuk mengembalikan semua mainan yang dicurinya. Ketika itulah Papa Georges menemukan buku catatan milik ayah Hugo yang berisi gambar-gambar automata.

Hugo marah dan menuntut agar buku catatan, yang merupakan satu-satunya peninggalan ayahnya itu bisa dikembalikan padanya. Tetapi, apa yang digumamkan oleh Papa Georges sangat misterius. Ia berujar...

"Hantu..."

Papa Georges menolak untuk mengembalikan buku catatan itu kepada Hugo, karena Hugo sendiri pun tidak berterus terang mengenai buku catatan itu. Ia tidak mau mengaku bahwa buku catatan itu adalah milik ayahnya, hingga Papa Georges mengira bahwa buku itu dicuri Hugo dari orang lain. Tetapi, kenapa Papa Georges begitu tertarik dengan gambar yang ada di buku itu, dan merampasnya dari Hugo? Bahkan Papa Georges mengatakan Hugo bahwa buku catatan itu sudah dibakar dan ia menunjukkan abu pembakarannya. Berita itu membuat Hugo merasa dunianya runtuh seketika karena sekarang ia merasa sudah tidak punya alasan lagi untuk hidup.

Selama ini, Hugo hidup dengan optimisme bahwa ia akan bisa membetulkan automata yang dulu sangat dicintai ayahnya itu. Ia yakin bahwa sebelum meninggal, ayahnya sempat membetulkan automata itu, dan ia meninggalkan sebuah pesan untuk Hugo. Tanpa buku catatan ayahnya, mustahil Hugo bisa membetulkan automata itu, karena buku catatan itu berisi panduan perkembangan perbaikan automata yang sudah dilakukan ayah Hugo.

Isabelle
Di tengah-tengah keputusasaannya itu, Isabelle, gadis kecil seumuran Hugo yang ternyata adalah anak asuh Papa Georges mengatakan bahwa buku catatannya belum dibakar. Tetapi, Isabelle belum tahu tempat Papa Georges menyembunyikannya. Ia berjanji kepada Hugo untuk mengembalikan buku itu kepadanya, yang dibalas Hugo dengan ketus bahwa Isabelle tidak boleh melihat apa isinya.

Sementara itu Papa Georges mengajukan sebuah tawaran kepada Hugo, setelah ia melihat bakat Hugo terhadap mesin-mesin. Papa Georges akan mempekerjakan Hugo sebagai asistennya di toko mainan itu, dan ia harus bekerja hingga jangka waktu yang ditentukan oleh Papa Georges. Setelah itu, Papa Georges mungkin akan mengembalikan buku catatan ayah Hugo, jika memang ia belum membakarnya. Waktu pun berlalu tanpa ada tanda-tanda dari Isabelle bahwa ia sudah menemukan buku catatan penting itu.

Benarkah bahwa Papa Georges belum membakar buku catatan itu?  Kenapa Papa Georges tampaknya sangat membenci gambar automata yang dibuat oleh Ayah Hugo? Apakah Papa Georges tahu "pesan rahasia" yang tersembunyi di balik automata itu dan tahu siapa pembuat automata itu? Lalu, sanggupkah Hugo memperbaiki automata dan mengungkap pesan rahasia dari ayah Hugo untuk dirinya tanpa bantuan buku catatan itu?

Semua misteri itu dapat anda temukan sendiri dari setiap lembar kisah "The Invention of Hugo Cabret" yang ditulis dan dilukis oleh Brian Selznick ini. Dilukis? Ya. Karena dari total 533 halaman buku ini, 50%-nya adalah berupa ilustrasi indah yang digambar sendiri oleh sang penulis. Bahkan, Brian Selznick mengungkapkan buku ini sebagai

"not exactly a novel, not quite a picture book, not really a graphic novel, or a flip book or a movie, but a combination of all these things."

Ilustrasinya betul-betul indah dan kaya akan detail. Pantesan, ketika saya beli buku yang tebal ini saya heran sekali karena banyak lembar-lembar hitam yang terlihat, sama kayak beli komik gitu loh. Ternyata memang karena ilustrasinya banyak sekali, hingga 284 halaman!

Di awal cerita saja, saya sudah "menyantap" gambar-gambar indah yang dibuat oleh Brian Selznick ini, yang menceritakan adegan awal ketika Hugo menyelinap ke dalam dinding stasiun, bersembunyi di balik jam-jam besar, dan mengintai kios mainan Papa Georges sebelum melancarkan aksinya. Tanpa kata-kata sama sekali. Hanya gambar hitam putih sebanyak 42 halaman yang mengungkapkan semua situasinya.