March 14, 2012

Juffrouw Minoes si Gadis Kucing

"Saya juga mau dong punya kontributor berita kucing-kucing lucu. Terus jadi wartawan terkenaaalll...!!! >w<"

Begitulah yang ada di benak saya setelah membaca "Minoes". Sebuah cerita yang penuh dengan kucing... kucing... dan kucing! Mulai dari Kucing Pom Bensin, Kucing Deodoran, Kucing Hotel, Kucing Balai Kota, dan kucing-kucing lainnya. Tentu saja penuh dengan kucing, karena tokoh utama kita kali ini "dulunya" adalah seekor kucing! Hhhmm... Seperti apakah ceritanya? Mari simak review saya di bawah ini.

Minoes adalah "seekor" manusia yang terjebak di atas pohon setelah seekor anjing bernama Mars mengejarnya. Minoes tidak bisa turun, layaknya seekor kucing yang terperangkap. Ya, dia dulunya memang seekor kucing. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba dia terperangkap di dalam tubuh manusia. Karena diusir oleh keluarganya, Minoes pun terpaksa pergi dari rumah dan hidup di jalanan hingga mendapatkan tempat tinggal.

Adapun orang yang berbaik hati menurunkan Minoes dari pohon adalah seorang (kali ini bukan seekor ;p) lelaki muda yang sangat pemalu bernama Tibbe yang bekerja sebagai wartawan. Padahal wartawan kan harus berani berkomunikasi dengan orang banyak ya? Tapi si Tibbe ini beneran pemalu. Saking pemalunya, semua berita yang ditulis hanya mengenai kucing saja. Bosnya tentu tidak senang dengan hal ini, karena meskipun tulisannya bagus, berita tentang kucing yang beranak lima tentunya tidak menyenangkan untuk diterbitkan di surat kabar bukan? Akibatnya, Tibbe terancam akan dipecat jika ia menulis berita tentang kucing lagi.

Setelah menolong Minoes, Tibbe yang ketika itu sedang bersama dengan Meneer Smit bergegas pulang. Tibbe menyewa sebuah loteng bersama seekor kucingnya, Fluf. Tibbe adalah seorang lelaki yang lembut dan baik hati. Kebaikan hatinya sudah menyebar di seluruh kota, khususnya di kalangan para kucing di kota itu. Jangan salah, kucing-kucing ini memiliki jaringan yang sangat luas. Dan mereka juga senang bergosip. Itu sebabnya, tidak mungkin ada satupun berita di kota yang terlewatkan dari telinga-telinga mereka. Sayangnya, tentu saja Tibbe tidak mengerti bahasa kucing. Ya, sungguh sayang sekali...

Minoes pergi menemui tantenya, Tante Moortje, yang tentunya adalah seekor kucing. Tante Moortje sudah mengetahui kemalangan yang menimpa ponakannya itu. Seluruh kucing di kota tahu, meskipun Minoes tidak tinggal di sana. Tante Moortje menyuruh Minoes untuk bertemu si Burik, kucing liar di kota yang memiliki pengetahuan sangat luas. Ia hidup bebas dari satu tempat ke tempat lain. Anaknya pun banyak dan tinggal di seluruh penjuru kota, karena itu ia memiliki banyak akses kemana-mana.

Berkat rekomendasi dari Simon, kucing siam bermata juling, Minoes memutuskan untuk pergi ke rumah Tibbe. Tidak dengan cara manusia normal yang masuk melalui pintu tentunya, karena Tibbe menemukan Minoes di dapurnya sedang menggerogoti tulang ikan bekas makan malamnya!

Pertemuan yang luar biasa itu membuat Tibbe sangat terkejut. Apalagi saat itu Minoes dalam keadaan basah kuyup karena kehujanan. Minoes datang ke rumah Tibbe dengan harapan lelaki itu dapat memberikan pekerjaan padanya. Suatu hal yang mustahil! Karena keadaan Tibbe sendiri pun sedang berada di ujung tanduk.

Minoes bercerita tentang dirinya, tentang masa lalunya yang adalah seekor kucing. Tibbe tentunya tidak percaya dan menganggap itu semua adalah bualan gadis itu belaka. Meskipun ketika melihat Minoes, ia langsung melihat bahwa gadis itu "terlalu kucing" untuk seorang manusia. Minoes masuk ke rumahnya melalui atap, Minoes mengorek-ngorek tempat sampah untuk mengambil tulang ikan, Minoes menjilat bersih jarinya setelah makan, Minoes mendengkur seperti kucing, Minoes menyorongkan kepalanya ke arah Tibbe seolah minta dibelai, dan yang paling penting, Minoes bisa bercakap-cakap dengan kucing!!

Tibbe tentu saja menganggap gadis itu sudah gila. Bagaimana mungkin seorang manusia bisa bercakap-cakap dengan kucing. Tetapi Minoes benar-benar bisa. Ia telah bercakap-cakap dengan Fluf dan tahu di mana letak permen peppermint Tibbe yang tidak bisa ia temukan. Dan Minoes menyelamatkan hidup Tibbe, dengan membawa berita!

Berita yang dibawakan Minoes tidak ada hubungannya sama sekali dengan kucing yang tinggal di kota itu. Minoes memberitahu Tibbe bahwa Meneer Smit, seorang warga senior di kota itu yang juga sangat dihormati, sangat sedih karena tidak ada seorang pun yang ingat bahwa sebentar lagi ia akan merayakan dua puluh lima tahun ia genap mengajar sebagai guru senior di kota itu. Sebuah berita fantastis, yang mampu menyelamatkan Tibbe dari pemecatan!

Akhirnya, Minoes tinggal di rumah Tibbe. Ia tidur di kotak kardus bekas kaleng sarden yang dibeli oleh Tibbe. Meskipun awalnya Tibbe tidak berniat untuk menampung Minoes, karena ia sudah punya seekor kucing juga, tetapi Tibbe yang baik hati akhirnya tidak tega dan mengizinkan Minoes tinggal di sana. Lagipula, berkat Minoes Tibbe dapat menulis berbagai berita baru yang menarik dan membuatnya menjadi wartawan terbaik di kota itu. Jaringan Minoes yang luas membuat terbentuknya "Kantor Berita Kucing" yang secara rutin menyuplai berita kepada Tibbe.
Tibbe menjadi orang pertama yang mengetahui berbagai berita di kota. Bahkan yang paling rahasia sekalipun. Hal itu membuat Tibbe mendapat pujian dari bosnya, dan membuatnya sedikit demi sedikit mampu mengurangi sifat pemalunya.

Sementara itu, Minoes tetap mencari cara untuk kembali ke wujud kucingnya. Ia menemui Burik dan berharap kucing itu dapat membantunya. Seperti yang saya bilang sebelumnya, si Burik adalah kucing liar yang tahu berbagai banyak hal di kota itu. Ia sangat jorok, lusuh, kotor, dan kerjaannya adalah beranak sepanjang waktu ;D. Meskipun pengetahuannya banyak, ternyata Burik tidak tahu solusi atas permasalahan Minoes, tetapi ia optimis Minoes akan kembali menjadi kucing karena nyanyian kucingnya masih tetap indah! xD

Seiring berjalannya waktu, Minoes semakin dikenal di kota. Ia bersahabat dengan seorang gadis kecil bernama Bibi, yang hampir ia cakar ketika pertama kali bertemu karena Bibi membawa tikus! Ia juga berkenalan dengan induk semang Tibbe, seorang perempuan paruh baya menyebalkan tukang gosip bernama Meuvrow Van Dam. Minoes mendesis ketika bertemu wanita itu, karena ia memakai mantel yang terbuat dari bulu kucing!! Dari semua orang yang ia kenal, Minoes paling senang dengan Harrie si tukang ikan, dan sering tanpa sadar membelai-belaikan kepalanya ke siku lelaki itu! xDD

Kejadian yang paling lucu di cerita ini adalah ketika Tibbe menyuruh Minoes untuk menemui dokter ahli jiwa. Tibbe menganggap kelakuan Minoes yang "terlalu kucing" sangatlah tidak wajar, karenanya ia perlu berkonsultasi dengan dokter. Sesi konsultasi itu sangat lucu, bikin saya terpingkal-pingkal sendiri. Berikut cuplikannya...
"Apakah Minoes nama belakang Anda? Atau nama depan?"
"Itu nama panggilan saya," jawab Minoes.
"Dan apa nama belakang Anda?"
.... "Saya rasa, saya tidak memiliki nama belakang."
"Siapa nama ayah Anda?"
"Si Merah dari Seberang."
Cerita Juffrouw Minoes mengenai orangtuanya:
...."Mari kita awali dari awal. Coba ceritkan tentang orangtua Anda. Apa pekerjaan ayah Anda?"
"Ia berkeliaran," kata Minoes. "Saya tidak pernah mengenalnya. Saya tidak bisa menceritakan apa pun tentang dirinya."
"Dan ibu Anda?"
"Ibu saya abu-abu belang."
"Maaf?" Dokter memandangi Minoes melalui bagian atas kacamatanya.
"Ia abu-abu belang. Ia sudah tiada. Terlindas."
"Meninggal," gumam dokter tersebut dan ia menulis; Ibu Meninggal.
"Bukan meninggal, terlindas," Minoes mengoreksi.
"Mengerikan sekali," kata Dokter.
"Ya, ia tidak melihat jalanan karena silau terkena sinar lampu depan truk trailer, tapi kejadiannya sudah lama sekali."
Tentang saudara-saudara Minoes
"Saudara laki-laki atau saudara perempuan?"
"Kami lima bersaudara."
"Dan Anda yang tertua?"
"Kami berlima seumur."
"Jadi kembar lima? Jarang terjadi."
"Tidak juga," kata Minoes. "Sering kok. Tiga saudara saya diberikan kepada orang lain ketika kami berusia enam minggu. Tinggal saya dan saudara perempuan saya. Menurut si ibu, kami berdualah yang paling lucu."

Dan masih banyak lagi sesi konsultasi aneh antara si dokter dan Minoes. Nggak nyambung banget antara persepsi keduanya. Bikin saya tertawa terbahak-bahak sendirian... xDD

Lanjut ke cerita. Suatu hari, terjadi kejadian tragis yang menimpa si Burik. Ia dipukul dengan botol anggur yang masih penuh isinya, hingga kakinya terluka parah! Burik hendak mencuri ikan salmon di rumah Meneer Ellemeet ketika aksinya ketahuan oleh penghuni rumah itu. Meneer Ellemeet mengambil botol anggur yang masih penuh dan memukulnya dengan keras ke kaki Burik. Burik kabur terpincang-pincang dari rumah itu, tapi Meneer Ellemeet melepaskan anjing herdernya, Mars, yang dua kali membuat Minoes harus naik ke atas pohon. Burik yang pemberani berhasil mencakar hidung anjing itu sebelum kabur ke sebuah karavan tua, tempat ia dan anak-anaknya yang baru lahir tinggal.

Di lain tempat di kota itu, terjadi juga sebuah peristiwa mengejutkan. Kios ikan si tukang ikan ditabrak oleh mobil tak dikenal hingga ia harus dirawat di rumah sakit! Kucing-kucing tentunya tahu siapa pelakunya. Dia adalah Meneer Ellemeet, yang dikenal oleh warga kota sebagai seorang pengusaha dermawan dan berbudi luhur. Ia juga menjadi ketua perkumpulan penyayang binatang. Siapa sangka orang seperti dia justru membuat seekor kucing tua menjadi pincang dan seorang lelaki penjual ikan masuk rumah sakit?

Tibbe tahu bahwa kucing-kucing ini tidaklah berbohong. Tetapi ia tidak bisa menulis berita itu, karena kucing tidak bisa menjadi saksi. Sementara saksi yang ada tidak bersedia mengungkapkan kebenaran karena Meneer Ellemeet menyuap mereka. Hingga suatu hari, keenam ekor anak si Burik dibuang ke dalam tong sampah oleh Meneer Ellemeet yang dimintai tolong oleh Meuvrow Van Dam karena keenam ekor anak kucing kotor tidur di atas selimut usang yang bahkan sudah ia buang itu. Keenam ekor anak Burik hampir saja mati jika Minoes tidak bergegas menolong mereka. Kali ini, Tibbe benar-benar sudah tidak bisa menahan dirinya, hingga akhirnya ia menulis berita tentang kelakuan Meneer Ellemeet yang jauh dari kenyataan yang dilihat oleh orang-orang di kota itu.

Berita Tibbe itu ternyata justru menjatuhkan dirinya. Tidak ada seorang pun yang percaya berita yang ia tulis, karena ia memang tidak memiliki saksi manusia. Ia bahkan dicerca oleh orang-orang karena memfitnah seorang warga kota yang tidak memiliki cela itu. Tibbe juga harus menerima ketika bosnya memecatnya, karena Tibbe menolak untuk menulis berita baik tentang Meneer Ellemeet dan meminta maaf kepadanya. Keadaan bahkan bertambah buruk ketika induk semang Tibbe mengusirnya karena ia sangat terganggu dengan para kucing yang senang sekali mengadakan rapat di atap rumahnya.

Dapatkah Tibbe mengembalikan reputasi dirinya yang sudah tercoreng itu? Mampukah ia membuktikan kepada semua orang bahwa Meneer Ellemeet adalah seorang lelaki berdarah dingin yang tidak segan-segan melakukan kekerasan kepada hewan dan membawanya ke penjara karena menabrak si tukang ikan? Dan, apakah Minoes akan kembali menjadi kucing, setelah kakak perempuannya menemui dirinya dan tahu bagaimana cara mengembalikan dirinya menjadi kucing seperti sedia kala? Ataukah Minoes yang sudah semakin "berkemanusiaan" akan memilih menjadi manusia selamanya?

Anda harus baca sendiri untuk tahu jawabannya. Kisah ini ringan tapi maknanya sangat mendalam. Cocok sebagai buku anak-anak, karena bisa mengajari mereka untuk mencintai binatang. Satu hal yang selalu saya sadari ketika membaca buku yang berkisah tentang hewan dan manusia adalah, bahwa manusia itu seringkali jauh lebih jahat daripada hewan manapun. Seperti kelakuan Meuvrow Van Dame yang tidak sudi selimut tuanya yang sudah ia buang menjadi tempat bernaung nyawa-nyawa kecil tak berdosa itu. Atau sifat si Meneer Ellemeet yang oportunis dan bermuka dua, yang hanya mementingkan kepentingan dan reputasinya sendiri, hingga menghalalkan berbagai macam cara untuk mencapainya.

Yang jelas sih, saya iri sekali sama Tibbe, yang memiliki kucing-kucing itu sebagai informannya. Soalnya, saya juga pencari berita. Dan alangkah senangnya jika saya mendapatkan berita-berita terbaru melalui kucing-kucing lucu di sekitar saya. Tapi, saya tidak mau dapat berita dari si Kucing Sekolah yang meskipun pinter karena doyan belajar, tapi beritanya nggak up to date semua. Pernah suatu hari ia membawa berita yang ia anggap sangat penting kepada Minoes, "Jepang menyerang Pearl Harbour"! xDD

Buku ini adalah buku yang secara spontan saya beli karena melihat cover dan ceritanya. Awalnya saya nggak berharap banyak, tapi ternyata bukunya bagus sekali. Salut dengan Meuvrow Annie M.G. Schmidt, yang ternyata adalah maestro penulis anak-anak dari Belanda. Buku ini ternyata sudah difilmkan juga lho. Dengan judul Miss Minoes (Undercover Kitty).

Judul Buku : Minoes
Penulis : Annie M.G. Schmidt
Ilustrasi : Carl Hollander
Penerjemah : R. Indira Ismail
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Juli 2007
Jumlah Halaman : 200
ISBN : 978-979-22-3077-2


No comments:

Post a Comment

March 14, 2012

Juffrouw Minoes si Gadis Kucing

"Saya juga mau dong punya kontributor berita kucing-kucing lucu. Terus jadi wartawan terkenaaalll...!!! >w<"

Begitulah yang ada di benak saya setelah membaca "Minoes". Sebuah cerita yang penuh dengan kucing... kucing... dan kucing! Mulai dari Kucing Pom Bensin, Kucing Deodoran, Kucing Hotel, Kucing Balai Kota, dan kucing-kucing lainnya. Tentu saja penuh dengan kucing, karena tokoh utama kita kali ini "dulunya" adalah seekor kucing! Hhhmm... Seperti apakah ceritanya? Mari simak review saya di bawah ini.

Minoes adalah "seekor" manusia yang terjebak di atas pohon setelah seekor anjing bernama Mars mengejarnya. Minoes tidak bisa turun, layaknya seekor kucing yang terperangkap. Ya, dia dulunya memang seekor kucing. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba dia terperangkap di dalam tubuh manusia. Karena diusir oleh keluarganya, Minoes pun terpaksa pergi dari rumah dan hidup di jalanan hingga mendapatkan tempat tinggal.

Adapun orang yang berbaik hati menurunkan Minoes dari pohon adalah seorang (kali ini bukan seekor ;p) lelaki muda yang sangat pemalu bernama Tibbe yang bekerja sebagai wartawan. Padahal wartawan kan harus berani berkomunikasi dengan orang banyak ya? Tapi si Tibbe ini beneran pemalu. Saking pemalunya, semua berita yang ditulis hanya mengenai kucing saja. Bosnya tentu tidak senang dengan hal ini, karena meskipun tulisannya bagus, berita tentang kucing yang beranak lima tentunya tidak menyenangkan untuk diterbitkan di surat kabar bukan? Akibatnya, Tibbe terancam akan dipecat jika ia menulis berita tentang kucing lagi.

Setelah menolong Minoes, Tibbe yang ketika itu sedang bersama dengan Meneer Smit bergegas pulang. Tibbe menyewa sebuah loteng bersama seekor kucingnya, Fluf. Tibbe adalah seorang lelaki yang lembut dan baik hati. Kebaikan hatinya sudah menyebar di seluruh kota, khususnya di kalangan para kucing di kota itu. Jangan salah, kucing-kucing ini memiliki jaringan yang sangat luas. Dan mereka juga senang bergosip. Itu sebabnya, tidak mungkin ada satupun berita di kota yang terlewatkan dari telinga-telinga mereka. Sayangnya, tentu saja Tibbe tidak mengerti bahasa kucing. Ya, sungguh sayang sekali...

Minoes pergi menemui tantenya, Tante Moortje, yang tentunya adalah seekor kucing. Tante Moortje sudah mengetahui kemalangan yang menimpa ponakannya itu. Seluruh kucing di kota tahu, meskipun Minoes tidak tinggal di sana. Tante Moortje menyuruh Minoes untuk bertemu si Burik, kucing liar di kota yang memiliki pengetahuan sangat luas. Ia hidup bebas dari satu tempat ke tempat lain. Anaknya pun banyak dan tinggal di seluruh penjuru kota, karena itu ia memiliki banyak akses kemana-mana.

Berkat rekomendasi dari Simon, kucing siam bermata juling, Minoes memutuskan untuk pergi ke rumah Tibbe. Tidak dengan cara manusia normal yang masuk melalui pintu tentunya, karena Tibbe menemukan Minoes di dapurnya sedang menggerogoti tulang ikan bekas makan malamnya!

Pertemuan yang luar biasa itu membuat Tibbe sangat terkejut. Apalagi saat itu Minoes dalam keadaan basah kuyup karena kehujanan. Minoes datang ke rumah Tibbe dengan harapan lelaki itu dapat memberikan pekerjaan padanya. Suatu hal yang mustahil! Karena keadaan Tibbe sendiri pun sedang berada di ujung tanduk.

Minoes bercerita tentang dirinya, tentang masa lalunya yang adalah seekor kucing. Tibbe tentunya tidak percaya dan menganggap itu semua adalah bualan gadis itu belaka. Meskipun ketika melihat Minoes, ia langsung melihat bahwa gadis itu "terlalu kucing" untuk seorang manusia. Minoes masuk ke rumahnya melalui atap, Minoes mengorek-ngorek tempat sampah untuk mengambil tulang ikan, Minoes menjilat bersih jarinya setelah makan, Minoes mendengkur seperti kucing, Minoes menyorongkan kepalanya ke arah Tibbe seolah minta dibelai, dan yang paling penting, Minoes bisa bercakap-cakap dengan kucing!!

Tibbe tentu saja menganggap gadis itu sudah gila. Bagaimana mungkin seorang manusia bisa bercakap-cakap dengan kucing. Tetapi Minoes benar-benar bisa. Ia telah bercakap-cakap dengan Fluf dan tahu di mana letak permen peppermint Tibbe yang tidak bisa ia temukan. Dan Minoes menyelamatkan hidup Tibbe, dengan membawa berita!

Berita yang dibawakan Minoes tidak ada hubungannya sama sekali dengan kucing yang tinggal di kota itu. Minoes memberitahu Tibbe bahwa Meneer Smit, seorang warga senior di kota itu yang juga sangat dihormati, sangat sedih karena tidak ada seorang pun yang ingat bahwa sebentar lagi ia akan merayakan dua puluh lima tahun ia genap mengajar sebagai guru senior di kota itu. Sebuah berita fantastis, yang mampu menyelamatkan Tibbe dari pemecatan!

Akhirnya, Minoes tinggal di rumah Tibbe. Ia tidur di kotak kardus bekas kaleng sarden yang dibeli oleh Tibbe. Meskipun awalnya Tibbe tidak berniat untuk menampung Minoes, karena ia sudah punya seekor kucing juga, tetapi Tibbe yang baik hati akhirnya tidak tega dan mengizinkan Minoes tinggal di sana. Lagipula, berkat Minoes Tibbe dapat menulis berbagai berita baru yang menarik dan membuatnya menjadi wartawan terbaik di kota itu. Jaringan Minoes yang luas membuat terbentuknya "Kantor Berita Kucing" yang secara rutin menyuplai berita kepada Tibbe.
Tibbe menjadi orang pertama yang mengetahui berbagai berita di kota. Bahkan yang paling rahasia sekalipun. Hal itu membuat Tibbe mendapat pujian dari bosnya, dan membuatnya sedikit demi sedikit mampu mengurangi sifat pemalunya.

Sementara itu, Minoes tetap mencari cara untuk kembali ke wujud kucingnya. Ia menemui Burik dan berharap kucing itu dapat membantunya. Seperti yang saya bilang sebelumnya, si Burik adalah kucing liar yang tahu berbagai banyak hal di kota itu. Ia sangat jorok, lusuh, kotor, dan kerjaannya adalah beranak sepanjang waktu ;D. Meskipun pengetahuannya banyak, ternyata Burik tidak tahu solusi atas permasalahan Minoes, tetapi ia optimis Minoes akan kembali menjadi kucing karena nyanyian kucingnya masih tetap indah! xD

Seiring berjalannya waktu, Minoes semakin dikenal di kota. Ia bersahabat dengan seorang gadis kecil bernama Bibi, yang hampir ia cakar ketika pertama kali bertemu karena Bibi membawa tikus! Ia juga berkenalan dengan induk semang Tibbe, seorang perempuan paruh baya menyebalkan tukang gosip bernama Meuvrow Van Dam. Minoes mendesis ketika bertemu wanita itu, karena ia memakai mantel yang terbuat dari bulu kucing!! Dari semua orang yang ia kenal, Minoes paling senang dengan Harrie si tukang ikan, dan sering tanpa sadar membelai-belaikan kepalanya ke siku lelaki itu! xDD

Kejadian yang paling lucu di cerita ini adalah ketika Tibbe menyuruh Minoes untuk menemui dokter ahli jiwa. Tibbe menganggap kelakuan Minoes yang "terlalu kucing" sangatlah tidak wajar, karenanya ia perlu berkonsultasi dengan dokter. Sesi konsultasi itu sangat lucu, bikin saya terpingkal-pingkal sendiri. Berikut cuplikannya...
"Apakah Minoes nama belakang Anda? Atau nama depan?"
"Itu nama panggilan saya," jawab Minoes.
"Dan apa nama belakang Anda?"
.... "Saya rasa, saya tidak memiliki nama belakang."
"Siapa nama ayah Anda?"
"Si Merah dari Seberang."
Cerita Juffrouw Minoes mengenai orangtuanya:
...."Mari kita awali dari awal. Coba ceritkan tentang orangtua Anda. Apa pekerjaan ayah Anda?"
"Ia berkeliaran," kata Minoes. "Saya tidak pernah mengenalnya. Saya tidak bisa menceritakan apa pun tentang dirinya."
"Dan ibu Anda?"
"Ibu saya abu-abu belang."
"Maaf?" Dokter memandangi Minoes melalui bagian atas kacamatanya.
"Ia abu-abu belang. Ia sudah tiada. Terlindas."
"Meninggal," gumam dokter tersebut dan ia menulis; Ibu Meninggal.
"Bukan meninggal, terlindas," Minoes mengoreksi.
"Mengerikan sekali," kata Dokter.
"Ya, ia tidak melihat jalanan karena silau terkena sinar lampu depan truk trailer, tapi kejadiannya sudah lama sekali."
Tentang saudara-saudara Minoes
"Saudara laki-laki atau saudara perempuan?"
"Kami lima bersaudara."
"Dan Anda yang tertua?"
"Kami berlima seumur."
"Jadi kembar lima? Jarang terjadi."
"Tidak juga," kata Minoes. "Sering kok. Tiga saudara saya diberikan kepada orang lain ketika kami berusia enam minggu. Tinggal saya dan saudara perempuan saya. Menurut si ibu, kami berdualah yang paling lucu."

Dan masih banyak lagi sesi konsultasi aneh antara si dokter dan Minoes. Nggak nyambung banget antara persepsi keduanya. Bikin saya tertawa terbahak-bahak sendirian... xDD

Lanjut ke cerita. Suatu hari, terjadi kejadian tragis yang menimpa si Burik. Ia dipukul dengan botol anggur yang masih penuh isinya, hingga kakinya terluka parah! Burik hendak mencuri ikan salmon di rumah Meneer Ellemeet ketika aksinya ketahuan oleh penghuni rumah itu. Meneer Ellemeet mengambil botol anggur yang masih penuh dan memukulnya dengan keras ke kaki Burik. Burik kabur terpincang-pincang dari rumah itu, tapi Meneer Ellemeet melepaskan anjing herdernya, Mars, yang dua kali membuat Minoes harus naik ke atas pohon. Burik yang pemberani berhasil mencakar hidung anjing itu sebelum kabur ke sebuah karavan tua, tempat ia dan anak-anaknya yang baru lahir tinggal.

Di lain tempat di kota itu, terjadi juga sebuah peristiwa mengejutkan. Kios ikan si tukang ikan ditabrak oleh mobil tak dikenal hingga ia harus dirawat di rumah sakit! Kucing-kucing tentunya tahu siapa pelakunya. Dia adalah Meneer Ellemeet, yang dikenal oleh warga kota sebagai seorang pengusaha dermawan dan berbudi luhur. Ia juga menjadi ketua perkumpulan penyayang binatang. Siapa sangka orang seperti dia justru membuat seekor kucing tua menjadi pincang dan seorang lelaki penjual ikan masuk rumah sakit?

Tibbe tahu bahwa kucing-kucing ini tidaklah berbohong. Tetapi ia tidak bisa menulis berita itu, karena kucing tidak bisa menjadi saksi. Sementara saksi yang ada tidak bersedia mengungkapkan kebenaran karena Meneer Ellemeet menyuap mereka. Hingga suatu hari, keenam ekor anak si Burik dibuang ke dalam tong sampah oleh Meneer Ellemeet yang dimintai tolong oleh Meuvrow Van Dam karena keenam ekor anak kucing kotor tidur di atas selimut usang yang bahkan sudah ia buang itu. Keenam ekor anak Burik hampir saja mati jika Minoes tidak bergegas menolong mereka. Kali ini, Tibbe benar-benar sudah tidak bisa menahan dirinya, hingga akhirnya ia menulis berita tentang kelakuan Meneer Ellemeet yang jauh dari kenyataan yang dilihat oleh orang-orang di kota itu.

Berita Tibbe itu ternyata justru menjatuhkan dirinya. Tidak ada seorang pun yang percaya berita yang ia tulis, karena ia memang tidak memiliki saksi manusia. Ia bahkan dicerca oleh orang-orang karena memfitnah seorang warga kota yang tidak memiliki cela itu. Tibbe juga harus menerima ketika bosnya memecatnya, karena Tibbe menolak untuk menulis berita baik tentang Meneer Ellemeet dan meminta maaf kepadanya. Keadaan bahkan bertambah buruk ketika induk semang Tibbe mengusirnya karena ia sangat terganggu dengan para kucing yang senang sekali mengadakan rapat di atap rumahnya.

Dapatkah Tibbe mengembalikan reputasi dirinya yang sudah tercoreng itu? Mampukah ia membuktikan kepada semua orang bahwa Meneer Ellemeet adalah seorang lelaki berdarah dingin yang tidak segan-segan melakukan kekerasan kepada hewan dan membawanya ke penjara karena menabrak si tukang ikan? Dan, apakah Minoes akan kembali menjadi kucing, setelah kakak perempuannya menemui dirinya dan tahu bagaimana cara mengembalikan dirinya menjadi kucing seperti sedia kala? Ataukah Minoes yang sudah semakin "berkemanusiaan" akan memilih menjadi manusia selamanya?

Anda harus baca sendiri untuk tahu jawabannya. Kisah ini ringan tapi maknanya sangat mendalam. Cocok sebagai buku anak-anak, karena bisa mengajari mereka untuk mencintai binatang. Satu hal yang selalu saya sadari ketika membaca buku yang berkisah tentang hewan dan manusia adalah, bahwa manusia itu seringkali jauh lebih jahat daripada hewan manapun. Seperti kelakuan Meuvrow Van Dame yang tidak sudi selimut tuanya yang sudah ia buang menjadi tempat bernaung nyawa-nyawa kecil tak berdosa itu. Atau sifat si Meneer Ellemeet yang oportunis dan bermuka dua, yang hanya mementingkan kepentingan dan reputasinya sendiri, hingga menghalalkan berbagai macam cara untuk mencapainya.

Yang jelas sih, saya iri sekali sama Tibbe, yang memiliki kucing-kucing itu sebagai informannya. Soalnya, saya juga pencari berita. Dan alangkah senangnya jika saya mendapatkan berita-berita terbaru melalui kucing-kucing lucu di sekitar saya. Tapi, saya tidak mau dapat berita dari si Kucing Sekolah yang meskipun pinter karena doyan belajar, tapi beritanya nggak up to date semua. Pernah suatu hari ia membawa berita yang ia anggap sangat penting kepada Minoes, "Jepang menyerang Pearl Harbour"! xDD

Buku ini adalah buku yang secara spontan saya beli karena melihat cover dan ceritanya. Awalnya saya nggak berharap banyak, tapi ternyata bukunya bagus sekali. Salut dengan Meuvrow Annie M.G. Schmidt, yang ternyata adalah maestro penulis anak-anak dari Belanda. Buku ini ternyata sudah difilmkan juga lho. Dengan judul Miss Minoes (Undercover Kitty).

Judul Buku : Minoes
Penulis : Annie M.G. Schmidt
Ilustrasi : Carl Hollander
Penerjemah : R. Indira Ismail
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Juli 2007
Jumlah Halaman : 200
ISBN : 978-979-22-3077-2


No comments:

Post a Comment