March 4, 2012

The Giraffe and The Pelly and Me


Oleh-oleh dari KGF (Kompas Gramedia Fair) 2012 adalah saya membeli buku-buku Roald Dahl yang diskon 40%! Yeay. Meski belum memiliki karya komplitnya, karena yang satu set mahal banget, tapi saya bersyukur bisa punya beberapa.

Cerita sedikit dulu tentang KGF ini. Saya ke KGF 2012 sepulang kerja bersama seorang teman saya. Sampe sana sudah jam 7 kurang. Alhamdulillah sepi banget karena baru hari kedua. Malam Jum'at pun... (So what gituh? xp). Kami segera hunting buku, dan saya 'hanya' membeli buku Roald Dahl saja beserta dua karya klasik horor. Hhhmm... Hari ini (minggu) saya pengen kesana lagi deh. Sempet nggak yahh??

Sip! Selesai curhatnya. Sekarang saya mau cerita tentang buku ini. Bukunya tipis, hanya 80 halaman sahaja. Ilustrasinya cukup banyak, karena memang ini buku anak-anak. Ceritanya pun ringan dan mudah dimengerti. Masih diselimuti oleh imajinasi khas Roald Dahl.


The Giraffe and The Pelly and Me bercerita tentang Jerapah, Pelikan, dan tokoh Aku. Tapi ada satu karakter lagi yang 'lupa' dimasukkan ke judul, si Monyet. Mereka bertiga adalah tiga sekawan hewan-hewan yang membuka sebuah perusahaan bernama, Perusahaan Pembersih Jendela Tanpa Tangga. Kebayang nggak sih, binatang-binatang yang harusnya masuk ke kebun binatang ini malah jadi tukang bersih-bersih? Tapi, memang begitulah adanya...

Ketiga hewan ini baru saja pindah ke kota tempat Billy tinggal. Mereka membeli sebuah gedung bertingkat tiga yang dulunya adalah toko permen bernama The Grubber, dan menjadikan gedung itu sebagai markas mereka. Billy sendiri sering pergi ke The Grubber, dan sering membayangkan bagaimana toko itu dulu, ketika masih menjadi sebuah toko permen. Ketika sedang mengamati toko itulah (yang dulu terpasang papan "Dijual" kini sudah berganti menjadi "Kejual"), Billy berkenalan dengan Jerapah, Pelly, dan Monyet.

Singkatnya, Aku menjadi "manajer" mereka. Billy membantu ketiga hewan itu pergi ke rumah Duke of Hampshire, karena mereka mendapat pekerjaan untuk membersihkan 677 jendela yang ada di istana itu. Mereka pun bergegas pergi ke sana dengan menunggang si Jerapah.

Setibanya di tempat itu, mereka mulai membersihkan kaca, dengan si Jerapah yang menjadi tangganya. Si Pelikan menjadi embernya, dan si Monyetlah yang menjadi tukang bersih-bersihnya. Sebelumnya, mereka sempat membantu Duke mengambilkan ceri-ceri yang besar yang tidak bisa diambil oleh tukang kebun. Billy masuk ke dalam mulut pelikan lalu memetikkan ceri untuk sang Duke yang sudah tua dan galak itu.

Dengan kerjasama tim yang baik, seluruh kaca di Hampshire House berhasil dibersihkan. Bahkan kaca-kaca di lantai teratas rumah itu yang tidak pernah bisa dibersihkan oleh orang-orang selama empat puluh tahun.

Ketika membersihkan kaca itu, mereka menemukan seorang pencuri bersenjata sedang beraksi di salah satu ruangan yang diketahui adalah milik Duchess. Sang pencuri mengambil perhiasan-perhiasan berharga itu, dan hendak kabur ketika tiga sekawan itu memergokinya. Mereka pun terlibat petualangan menangkap si pencuri yang unik dan sangat imajinatif. Setelah sang pencuri tertangkap, mereka pun mendapatkan hadiah yang sangat mereka inginkan dari Duke of Hampshire sendiri.

Ceritanya cukup menarik, meskipun biasa-biasa saja. Imajinasi Roald Dahl masih luar biasa, tetapi ada beberapa yang tidak terlalu saya sukai. Hhhmm... Saya bingung sendiri jadinya... Lumayanlah untuk dibaca ketika senggang dan nggak mau mikir pusing-pusing. Apalagi, di akhir cerita muncul permen-permen Willy Wonka yang aneh-aneh dan lezat-lezat itu. Sampai-sampai saya bermimpi memakan Wangdoodle Raksasa dari Australia, permen lezat yang di setiap bungkusnya berisi stroberi besar dan matang tersembunyi dibalik lapisan coklat yang renyah! Yummy... Saya jadi kangen stroberi yang besar dan manis itu. Nggak seperti stroberi di Indonesia yang kecil-kecil dan asamnya bukan main, di luar negeri, stroberinya besar-besar dan manis meskipun masih sedikit asam.

Oh, yang bikin agak mengganjal sebenarnya terjemahannya. Mungkin karena disini banyak sekali istilah-istilah yang sulit diterjemahkan ke bahasa Indonesia, maka digukanlah kata-kata aslinya. Tapi, kalau anak kecil baca sendiri tanpa bimbingan orangtua, dia pasti bingung sekali tuh. Yeah, itulah gunanya orangtua ya. Membimbing anaknya...

Jadi, masih ada tiga buku Roald Dahl hasil inspeksi malam jum'at yang belum saya selesaikan. Siap dibaca minggu ini atau minggu berikutnya atau bulan berikutnya atau.... XP


Oleh-oleh dari KGF (Kompas Gramedia Fair) 2012 adalah saya membeli buku-buku Roald Dahl yang diskon 40%! Yeay. Meski belum memiliki karya komplitnya, karena yang satu set mahal banget, tapi saya bersyukur bisa punya beberapa.

Cerita sedikit dulu tentang KGF ini. Saya ke KGF 2012 sepulang kerja bersama seorang teman saya. Sampe sana sudah jam 7 kurang. Alhamdulillah sepi banget karena baru hari kedua. Malam Jum'at pun... (So what gituh? xp). Kami segera hunting buku, dan saya 'hanya' membeli buku Roald Dahl saja beserta dua karya klasik horor. Hhhmm... Hari ini (minggu) saya pengen kesana lagi deh. Sempet nggak yahh??

Sip! Selesai curhatnya. Sekarang saya mau cerita tentang buku ini. Bukunya tipis, hanya 80 halaman sahaja. Ilustrasinya cukup banyak, karena memang ini buku anak-anak. Ceritanya pun ringan dan mudah dimengerti. Masih diselimuti oleh imajinasi khas Roald Dahl.

The Giraffe and The Pelly and Me bercerita tentang Jerapah, Pelikan, dan tokoh Aku. Tapi ada satu karakter lagi yang 'lupa' dimasukkan ke judul, si Monyet. Mereka bertiga adalah tiga sekawan hewan-hewan yang membuka sebuah perusahaan bernama, Perusahaan Pembersih Jendela Tanpa Tangga. Kebayang nggak sih, binatang-binatang yang harusnya masuk ke kebun binatang ini malah jadi tukang bersih-bersih? Tapi, memang begitulah adanya...

Ketiga hewan ini baru saja pindah ke kota tempat Billy tinggal. Mereka membeli sebuah gedung bertingkat tiga yang dulunya adalah toko permen bernama The Grubber, dan menjadikan gedung itu sebagai markas mereka. Billy sendiri sering pergi ke The Grubber, dan sering membayangkan bagaimana toko itu dulu, ketika masih menjadi sebuah toko permen. Ketika sedang mengamati toko itulah (yang dulu terpasang papan "Dijual" kini sudah berganti menjadi "Kejual"), Billy berkenalan dengan Jerapah, Pelly, dan Monyet.

Singkatnya, Aku menjadi "manajer" mereka. Billy membantu ketiga hewan itu pergi ke rumah Duke of Hampshire, karena mereka mendapat pekerjaan untuk membersihkan 677 jendela yang ada di istana itu. Mereka pun bergegas pergi ke sana dengan menunggang si Jerapah.

Setibanya di tempat itu, mereka mulai membersihkan kaca, dengan si Jerapah yang menjadi tangganya. Si Pelikan menjadi embernya, dan si Monyetlah yang menjadi tukang bersih-bersihnya. Sebelumnya, mereka sempat membantu Duke mengambilkan ceri-ceri yang besar yang tidak bisa diambil oleh tukang kebun. Billy masuk ke dalam mulut pelikan lalu memetikkan ceri untuk sang Duke yang sudah tua dan galak itu.

Dengan kerjasama tim yang baik, seluruh kaca di Hampshire House berhasil dibersihkan. Bahkan kaca-kaca di lantai teratas rumah itu yang tidak pernah bisa dibersihkan oleh orang-orang selama empat puluh tahun.

Ketika membersihkan kaca itu, mereka menemukan seorang pencuri bersenjata sedang beraksi di salah satu ruangan yang diketahui adalah milik Duchess. Sang pencuri mengambil perhiasan-perhiasan berharga itu, dan hendak kabur ketika tiga sekawan itu memergokinya. Mereka pun terlibat petualangan menangkap si pencuri yang unik dan sangat imajinatif. Setelah sang pencuri tertangkap, mereka pun mendapatkan hadiah yang sangat mereka inginkan dari Duke of Hampshire sendiri.

Ceritanya cukup menarik, meskipun biasa-biasa saja. Imajinasi Roald Dahl masih luar biasa, tetapi ada beberapa yang tidak terlalu saya sukai. Hhhmm... Saya bingung sendiri jadinya... Lumayanlah untuk dibaca ketika senggang dan nggak mau mikir pusing-pusing. Apalagi, di akhir cerita muncul permen-permen Willy Wonka yang aneh-aneh dan lezat-lezat itu. Sampai-sampai saya bermimpi memakan Wangdoodle Raksasa dari Australia, permen lezat yang di setiap bungkusnya berisi stroberi besar dan matang tersembunyi dibalik lapisan coklat yang renyah! Yummy... Saya jadi kangen stroberi yang besar dan manis itu. Nggak seperti stroberi di Indonesia yang kecil-kecil dan asamnya bukan main, di luar negeri, stroberinya besar-besar dan manis meskipun masih sedikit asam.

Oh, yang bikin agak mengganjal sebenarnya terjemahannya. Mungkin karena disini banyak sekali istilah-istilah yang sulit diterjemahkan ke bahasa Indonesia, maka digukanlah kata-kata aslinya. Tapi, kalau anak kecil baca sendiri tanpa bimbingan orangtua, dia pasti bingung sekali tuh. Yeah, itulah gunanya orangtua ya. Membimbing anaknya...

Jadi, masih ada tiga buku Roald Dahl hasil inspeksi malam jum'at yang belum saya selesaikan. Siap dibaca minggu ini atau minggu berikutnya atau bulan berikutnya atau.... XP